Minggu, 16 Juli 2017

Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali rahmatullah 'alaihi (wafat 505 H) berkata :

و يعزى المسلم بقريبه الكافر

"Dan boleh seorang muslim berta'ziyah kerabatnya yang kafir". (Al-Wasith fil Madzhab hal. 362 jilid 1 cet DKI Beirut 1422H)

Al-Imam Ali bin Muhammad Al-Mawardi rahmatullah 'alaihi (wafat 450 H) berkata :
"Jika seorang muslim berta'ziyah kepada orang kafir, maka ia mengucapkan :

أخلف الله عبيك و لا نقص عددك

"Semoga Allah menggantikannya untukmu, dan semoga Allah tidak mengurangi jumlahmu".
(Al-Hawi Al-Kabir hal 66 jilid 3 cet DKI Beirut 2009 M)

Maksud dari doa seorang muslim ketika berta'ziyah ke orang kafir dengan doa "semoga Allah tidak mengurangi jumlahmu" adalah apabila kaum kafir dzimmi bertambah, maka akan banyak Jizyah (upeti) untuk kaum muslimin. Hal ini dijelaskan oleh para ulama diantaranya, Al-Imamhammad Husain bin Mas'ud Al-Baghawi rahmatullah 'alaihi (wafat 516 H) :

و إن كان الميت كافرا يقول : أخلف الله عليك و لا نقص عددك. هذا لأن في زيادة عددهم كثرة الجزية للمسلمين

"Jika yang meninggal itu adalah seorang kafir, maka yang berta'ziyah mengucapkan : {Semoga Allah menggantikannya untukmu, dan semoga Allah tidak mengurangi jumlahmu}. Hal ini dikarenakan dengan bertambahnya jumlah mereka (orang kafir), maka akan banyak Jizyah (upeti) yang akan dibayar kepada kaum muslimin."
(At-Tahdzib hal 452 jilid 2 cet DKI Beirut 1418 H)

Yahya bin Abi Khair Al-'Imrani rahmatullah 'alaihi (wafat 558 H) berkata :
و إن عزى كافرا قال:
أخلف الله عليك و لا نقص عددك. حتى تكثر الجزية

"Dan jika bertazi'yah kepada orang kafir, maka mengucapkan : Semoga Allah menggantikannya untukmu, dan semoga Allah tidak mengurangi jumlahmu. Supaya jizyah (upeti) menjadi banyak". (Al-Bayan hal 116 jilid 3 cet DKI Beirut 1423 H)

Akan tetapi semua ulama diatas tidak memperkenankan mendoakan ampunan untuk orang kafir, sebagaimana dijelaskan oleh Ad-Dimyati Al-Bakri rahimahullah :

و أما تعزية المسلم بالكافر فلا يقال : غفر لميتك، لأن الله لا يغفر الكفر

"Adapun ta'ziyahnya seorang muslim kepada orang kafir, maka tidak diperbolehkan mengucapkan : {semoga Allah mengampuni jenazah anda}, karena Allah tidak mengampuni kekafiran."
(Hasyiyah I'anatut Thalibin hal 239 jilid 2 cet Darul Hadits 1433 H)
Namun hukum ini semua menurut mereka adalah boleh BUKAN SUNNAH. Hal ini dipertegas oleh Muhammad Al-Khatib Asy-Syirbini rahimahullah (wafat 977 H) yang menuturkan :

تعزية الذمي فإنها جائزة لا مندوبة

"Menta'ziyahi kafir dzimmi (orang kafir yang berada ditengah-tengah muslimin dan mendapatkan jaminan keamanan, dan membayar jizyah kepada pemerintah muslimin) hukumnya adalah boleh, TIDAK SUNNAH". (Mughnil Muhtaj hal 55 jilid 2 cet Darul Hadits 1427 H)

Orang-orang kafir yang boleh didatangi oleh seorang muslim dalam rangka ta'ziyah ialah kafir Dzimmi saja, bukan orang kafir yang murtad atau kafir Harbi (orang kafir yang memerangi kaum muslimin).  Ar-Ramliy (wafat 1004 H) berkata :

و أما الكافر من مرتد و حربي فلا يعزى

"Adapun orang kafir dari kalangan orang kafir yang murtad dan harbi maka tidak boleh dita'ziyahi". (Nihayatul Muhtaj hal 260 jilid 2 cet DKI Beirut 1430 H)

Akan tetapi pendapat ini semua dibantah oleh Al-Imam An-Nawawi rahmatullah 'alaihi (wafat 676 H), setelah beliau menyebutkan pendapat para ulama yang membolehkan, beliau membantahnya dan beliau tegaskan :

و هو مشكل لأنه دعاء ببقاء الكافر و دوام الكفر فالمختار تركه، و الله أعلم

"Dan hal ini (pendapat bolehnya berta'ziyah ke orang kafir) adalah pendapat yang  rancu/bermasalah, sebab hal ini mengandung kandungan berdoa agar orang kafir tetap eksis dan kekafiran tetap eksis. Maka pendapat yang dipilih ialah meninggalkannya (tidak berta'ziyah kepada orang kafir. Wallahu A'lam"
(Al-Majmu' Syarhul Muhadzdzab hal 389 jilid 6 cet Darul Hadits 1431 H) Mungkin ada yang heran dengan pendapat An-Nawawi ini, karena pendapat beliau diatas menyelisihi pendapat beliau sendiri di Ar-Raudhah Ath-Thalibin. Beliau berkata :

و يجوز للمسلم أن يعزي الذمي بقريبه فيقول أخلف الله عليك و لا نقص عددك

"Dan boleh bagi seorang muslim berta'ziyah kepada kerabatnya yang kafir dzimmi, dan ia mengucpakan : Semoga Allah menggantikannya untukmu dan semoga tidak mengurangi jumlahmu".
(Ar-Raudhah Ath-Tahlibin hal 701 jilid 1 cet Maktabah Tafiqiyah-tidak disebutkan tahun cetaknya)

Maka yang benar ialah perkataan An-Nawawi rahimahullah di Al-Majmu', karena Al-Majmu' adalah kitab terakhir beliau, bahkan beliau hanya sempat menulis kitab itu sampai kitabul Buyu' bab Riba. Maka perkataan beliau di Raudhah adalah manshukh (terhapus/batal)

Inilah pendapat yang tepat dan lebih dekat kepada kebenaran karena tatkala Abu Thalib mati, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam selaku keponakannya tidak mengurus atau melayat jenazahnya. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, bahwa ketika ayah beliau meninggal, dia datang melapor kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

إِنَّ عَمَّكَ الشَّيْخَ الضَّالَّ قَدْ مَاتَ

"Sesungguhnya pamanmu, si tua yang sesat telah mati".

Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menasihatkan,

اذْهَبْ فَوَارِ أَبَاكَ

"Segera kuburkan bapakmu".
(HR. Abu Daud 3212  melalui kitab 'Aunul Ma'bud cetakan Darul Hadits)

Namun jika dipandang bahwa jika kita datang berta'ziyah kepada orang kafir, maka hal ini diharapkan akan menjadi sebab keislaman mereka (kerabat mayit kafir), maka hukumnya adalah sunnah. Syaikhul Islam Syihabuddin Abul 'Abbas Ahmad bin Hajar Al-Haitami rahmatullah 'alaihi (wafat 973 H) berkata mengenai hal ini :

قد تسن تعزية إن رجي إسلامه

"Terkadang disunnahkan berta'ziyah kepada orang kafir jika yang demikian diharapkan keislaman mereka (keluarga si mayyit)".
(Tuhfatul Muhtaj hal 324 jild 2 cet DKI Beirut 1430 H)

Wallahu A'lam

SBS Bekasi

Sumber: Abu Hanifah Jandriadi Yasin

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts