Minggu, 16 Juli 2017

Syeikh Muhammad ibn 'Abd al-Wahhab al Wassabi mendefisikan al-Bid'ah sebagai:
"Setiap keyakinan, perbuatan, atau pernyataan baru yang dibuat setelah kematian dari nabi [Shallallahu 'alaihi wa Sallam] dengan niat untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, dan tidak ditemukan di dalam Al-Qur'an maupun sunnah dan tidak dilakukan oleh para salaf [para sahabat]."

[Sharh al-Jadīd ‘Alā al-Qawl al-Mufīd Fī Adillah at-Tawhīd, (halaman: 348-389) | Ditranslate (ke bahasa Inggris) oleh Abū Ruqayyah 'Abd us-Samad]

What is Bid'ah?

Shaykh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhāb al-Wassābī defined al-Bid’ah as:
“Every belief, action, or statement newly invented after the death of the Prophet [sall Allaahu ‘alayhi wa sallam] with the intention of worship and getting closer to Allāh, and it is not indicated by any proof from the Book [i.e. the Qur’ān], and not from the Sunnah and not from the actions of the Salaf [i.e. the Sahābah].”

[Sharh al-Jadīd ‘Alā al-Qawl al-Mufīd Fī Adillah at-Tawhīd, (Page: 348-389) | Translated by Abū Ruqayyah 'Abd us-Samad]

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts