Sabtu, 17 Juni 2017

Diharuskan untuk setiap muslim untuk mengingat kematian, karena Nabi Muhammad  (صلى الله عليه وسلم)  menyuruh untuk mengingat kematian dan lebih sering mengingat kematian; sehingga bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian tanpa menjadi lalai terhadap diri sendiri dan akhirat.

Oleh karena itu, seorang muslim harus selalu mengingat kematian. Dan dia harus berhenti melakukan dosa-dosa. Dan harus mendorong dirinya untuk taat pada Allah (عز و جل) dan mempersiapkan diri untuk kematian.

Namun, jika dirinya lalai mempersiapkan diri menghadapi kematian maka dia akan membuat jiwanya lalai (dari mengingat kematian), yang akan mengakibatkan jiwanya terus melakukan dosa dan menunda meminta pengampunan. Dan ketika dia jatuh ke dalam dosa, dia akan membuat jiwanya futur (jiwanya menjadi lemah) yang ditambah dengan tidak bersegera meminta pengampunan dan akibatnya dia akan lupa bahwa kematian sudah dekat dan lupa sisa hidupnya. Dan ketika kematian datang, dia tidak lagi dapat meminta pengampunan.

Karena apa yang disebutkan di atas, adalah kewajiban bagi umat Islam untuk mempersiapkan dirinya sendiri, tanpa lupa mengingat kematian atau kelalaiannya. Ingatlah selalu bahwa kematian bisa datang kapan saja dan kapanpun, sehingga dia akan meningkatkan diri dalam melakukan perbuatan baik dan agar dia meminta pengampunan atas dosa-dosanya.

[1] Diriwayatkan oleh Ahmad (2/292), at-Tirmidzi nr. 2307, an-Nasa'i (4/4) dan Ibn Maajiah (4258) dari riwayat Abu Hurairah (رضي الله عنه) dengan pernyataan: "Sering-seringlah mengingat penghancur kesenangan (yaitu kematian)."

Syaikh Saalih bin Fawzaan Al-Fawzaan, semoga Allah menjaganya.

Diterjemahkan oleh Salafi-Dawah.com.
Sumber: Diambil dari penjelasan Zaad al-Mustaqni` hal. 152.


Remembering death

It is desirable for the Muslim to remember death, because the Prophet (صلى الله عليه و سلم) encouraged to remember death[1] and to increase in remembering death; this so that one will prepare for it, without becoming negligent with regards to oneself and the Hereafter.

He should therefore always remember death. And he should stop himself from committing sins. And he should force his soul into obeying Allah (عز و جل) and prepare himself for death.

However, when he becomes negligent with regards to death, then he will give his soul respite, which will result in his soul continuing with committing sins and delaying asking for forgiveness. And when he falls into sins he will give his soul some slack (he becomes lax), without hasting in asking for forgiveness, and as a result of that he will forget that death is near and his days are limited. And when death comes, he is not able anymore to ask for forgiveness.

Due to what is mentioned above, it is incumbent upon the Muslim to prepare himself, without forgetting to remember death or being negligent thereof. Knowing that death can come at any moment and time, so that he will increase in performing good deeds and so that he will ask forgiveness for his sins.

[1] Narrated by Ahmad (2/292), at-Tirmidhee nr. 2307, an-Nasaa’ee (4/4) and Ibn Maajiah (4258) from the narration of Abee Hurayrah (رضي الله عنه) with the expression: “increase in the remembrance of the destroyer of pleasure (i.e. death).”

Shaykh Saalih bin Fawzaan Al-Fawzaan, may Allah preserve him

Translated by Salafi-Dawah.com.
Source: Taken from the explanation of Zaad al-Mustaqnee` p. 152.

0 komentar:

Posting Komentar

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts