Kamis, 29 Juni 2017


Sudahkah engkau tenang dengan shalat, sejuk dengan puasa, rindu membaca Al-Qur'an, dan nyaman dalam buaian ibadah?

Hisablah dirimu sebelun engkau dihisab.

___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms


Bersiaplah menyambut tamu yang mulia majulah ke depan untuk lembaran hidup lebih bernilai.

Allah tidak mengubah keadaanmu hingga engkau sendiri yang mengubahnya.
_______
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms



Kematian adalah gelas, semua akan meneguknya. Kubur adalah pintu, semua orang akan 
memasukinya. Ramadhan adalah kesempatan, salah satu pintu surga, tidak semua orang mendapatkannya.

Ramadhan adalah kesempatan, salah satu pintu surga, tidak semua orang mendapatkannya.
___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms

Jumat, 23 Juni 2017

"Diantara tanda-tanda Lailatul Qadr adalah pada malam itu terasa tenang dan hati-hati orang mukmin merasa senang dan tenang karenanya, dan orang-orang mukmin malam itu melakukan banyak ketaatan, dan matahari di pagi hari terbit tanpa sinar (yang terang)." - Tanda - tanda dari Lailatul Qadar - Fataawa Ramadhan - Volume 2, halaman 852, Fatwa no. 841; Fataawa ash-Syeikh Muhammad as-Shalih al-Utsaimin - Volume 1, halaman 563 (via wayofthesalaf)


The Signs of Laylatul Qadr

“From amongst the signs of Laylatul-Qadr is that it is a calm night and the believer’s heart is delighted and at peace with it, and he becomes active in doing good actions, and the sun on the following morning rises clearly without any rays.”The Signs of Laylatul-Qadar - Fataawa Ramadhaan - Volume 2, Page 852, Fatwa No. 841; Fataawa ash-Shaykh Muhammad as-Saalih al-Uthaymeen - Volume 1, Page 563 (via wayofthesalaf)

Rabu, 21 Juni 2017

Istilah Lailah al-Qadr telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris berkali-kali, dan hal ini berpotensi membuat kebingungan akan mana makna yang benar dan apa yang dimaksud dari kata "qadr" dalam ungkapan ini (lailah al-qadr). Pada bagian penjelasannya tentang surah al-Qadr, Syeikh Muhammad ibn Shalih al-'Utsaimin membawa penjelasan berikut untuk masalah ini:

وقوله تعالى: {في ليلة القدر} من العلماء من قال: القدر هو الشرف كما يقال (فلان ذو قدر عظيم، أو ذو قدر كبير) أي ذو شرف كبير، ومن العلماء من قال: المراد بالقدر التقدير، لأنه يقدر فيها ما يكون في السنة لقول الله تعالى: {إنا أنزلناه في ليلة مباركة إنا كنا منذرين. فيها يفرق كل أمر حكيم} [الدخان: 3، 4] . أي يفصل ويبين. ـ

Dalam firman Allah:

فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

... pada Lailah al-Qadr. [97: 1]

Ada beberapa ulama yang mengatakan bahwa al-qadr berarti "mulia", seperti yang dikatakan, "Maka kemuliaan yang luar biasa" atau "kemuliaan yang banyak" - yang berarti kemuliaan yang besar.

Sementara itu, ulama lain mengatakan bahwa makna al-Qadr di sini adalah "pembagian", karena pada malam ini Allah membagi-bagikan apa yang akan terjadi (takdir) untuk tahun yang akan datang, sesuai dengan firman Allah:

 إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

"Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah." [44: 3-4]

Yang berarti: takdir ditetapkan dan dinyatakan.

والصحيح أنه شامل للمعنيين، فليلة القدر لا شك أنها ذات قدر عظيم، وشرف كبير، وأنه يقدر فيها ما يكون في تلك السنة من الإحياء والإماتة والأرزاق وغير ذلك. ـ

Dan yang benar adalah bahwa kedua makna ini bisa diterapkan. Karena tidak ada keraguan bahwa Laylah al-Qadr memiliki kelebihan dan kemuliaan yang besar, dan juga malam di mana urusan tahun depan dibagi - termasuk kehidupan, kematian, ketentuan, dan masalah lainnya.

Tafsir al-Thamen li’l-‘Allaamah al’-Utsaimin 14/528


The Meaning of “Laylah al-Qadr”: Sheikh ibn ‘Uthaymeen رحمه الله

The term Laylah al-Qadr has been translated into English in a number of different ways, leading to some potential confusion as to the correct and intended  meaning of the word “qadr” in this phrase. In part of his explanation of surah al-Qadr, sheikh Muhammad ibn Saalih al-‘Uthaymeen brought the following clarification of this issue:

وقوله تعالى: {في ليلة القدر} من العلماء من قال: القدر هو الشرف كما يقال (فلان ذو قدر عظيم، أو ذو قدر كبير) أي ذو شرف كبير، ومن العلماء من قال: المراد بالقدر التقدير، لأنه يقدر فيها ما يكون في السنة لقول الله تعالى: {إنا أنزلناه في ليلة مباركة إنا كنا منذرين. فيها يفرق كل أمر حكيم} [الدخان: 3، 4] . أي يفصل ويبين. ـ

Regarding Allah’s statement:

فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

… during Laylah al-Qadr [97:1]

There are some scholars who say that al-qadr means “honor”, just as one might say, “So-and-so has tremendous qadr” or “has considerable qadr” – meaning: considerable honor.

Meanwhile, other scholars say that the meaning of al-qadr here is “apportioning”, because on this night Allah apportions out what will be for the upcoming year, according to Allah’s statement:

 إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

Indeed, We sent it down during a blessed night. Verily, We are ever warning  Every affair is firmly apportioned on that night [44:3-4]

meaning: they are determined and given expression.

والصحيح أنه شامل للمعنيين، فليلة القدر لا شك أنها ذات قدر عظيم، وشرف كبير، وأنه يقدر فيها ما يكون في تلك السنة من الإحياء والإماتة والأرزاق وغير ذلك. ـ

And what is correct is that both of these meanings can apply. For there is no doubt that Laylah al-Qadr has great merit and considerable honor, and also that it is the night during which the affairs of the upcoming year are apportioned – including life, death, provisions, and other issues.

Tafsir al-Thameen li’l-‘Allaamah al’-Uthaymeen 14/528
Imam Malik (rahimahullahu) pernah ditanya tentang seseorang yang membaca (bacaan shalat), tapi tidak seorangpun bisa mendengar bacaannya, bahkan dia sendiri pun tidak bisa mendengar bacaan shalatnya karena dia tidak menggerakkan bibirnya. Maka beliau (Imam Malik) berkata: "Ini bukan bacaan, karena bacaan itu dimana lidah bergerak (ketika membacanya)." [al-Bayan wa’l-Tahsil (1/490)]

Syeikh Ibn Utsaimin (semoga Allah merahmatinya) pernah ditanya: "Apakah wajib untuk menggerakkan lidah ketika membaca bacaan Al-Qur'an dalam shalat atau cukup membacanya di dalam hati saja?"

Beliau menjawab:

"Bacaan harus dilakukan dengan lidah. Jika seseorang membacanya di dalam hati ketika shalat, maka ini tidak cukup. Dan ini juga berlaku ketika melakukan dzikir yang lain; tidak cukup hanya dibacanya dalam hati, melainkan penting untuk menggerakan lidah dan bibirnya karena bacaan itu adalah kata-kata yang harus untuk diucapkan, dan hal itu hanya bisa dicapai dengan menggerakkan lidah dan bibir." [Majmu 'Fataawa Ibn' Utsaimin, 13/156]

Dan Allah yang lebih mengetahui.

- Via FP Salafiyah London


It Is Essential to Move The Lips When Praying or Reciting.

Imam Maalik (rahimahullah) was asked about a person who recites when praying, but no one can hear him, not even himself, and he does not move his tongue.
He said: “This is not recitation, rather recitation is that in which the tongue moves.” [al-Bayaan wa’l-Tahseel(1/490)]

Shaykh Ibn ‘Uthaymeen (may Allaah have mercy on him) was asked: Is it obligatory to move the tongue when reciting Qur’aan in prayer or is it sufficient to say it in one's heart?

 He replied: 

"Recitation must be done with the tongue. If a person recites it in his heart when he is praying, that is not sufficient. The same applies to all other adhkaar; it is not sufficient to recite them in one's heart, rather it is essential to move one's tongue and lips, because they are words to be spoken, and that can only be achieved by moving the tongue and the lips." [Majmoo’ Fataawa Ibn ‘Uthaymeen, 13/156]

And Allaah knows best.

--Via FP Salafiyah London

Senin, 19 Juni 2017

Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. حفظه الله (Alumni Univ. Islam Madinah KSA)

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin حفظهما الله bercerita:
Pada suatu malam ke 27 Ramadhan (malam yang sangat diharapkan terjadinya lailatul qadar), beliau bersama bapak serta kakek ingin pergi ke Masjid Nabawi untuk shalat malam pada malam itu, kemudian ketika keluar rumah menuju mobil, beliau mendengar suara musik yang begitu keras dinyalakan oleh anak-anak muda, kemudian beliau mendekati mobil tersebut dan mengatakan kepada mereka: 
"Wahai para pemuda, jika kalian tidak sanggup untuk mengisi malam ini dengan ibadah, maka mohon dimatikan suara yang begitu keras ini!" Akhirnya mereka mematikannya, kemudian syaikh mengatakan: 
"Hendaknya malam ini kalian memperbanyak mengucapkan
اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني
Allahumma innaka 'Afuwwun tuhibul 'afwa fa'fu 'annii (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau suka memberi ampunan, maka ampunilah aku.) 
Lalu seorang yang dekat syaikh mengatakan, "Saya belum hafal." Lalu syaikh mengulangi kedua kalinya, lalu si pemuda ini akhirnya dapat melafalkannya. 
Setelah enam tahun, Syaikh Abdurrazzaq حفظه الله ceramah di sebuah kota, kemudian setelah ceramah ada seorang pemuda yang berjenggot dan dari wajahnya terlihat ia ahli ketaatan kepada Allah, pemuda ini berkata: 
"Syaikh, ingatkah engkau kepada para pemuda yang engkau peringatkan untuk mematikan musik di malam ke 27 Ramadhan, lalu engkau mengajari mereka doa lailatul qadar, maka semenjak malam itu saya selalu membacanya dan akhirnya Allah Taala membencikan maksiat-maksiat di dalam hatiku, alhamdulillah akhirnya aku kembali ke jalan-Nya."

Wahai Saudaraku sebarkanlah doa ini di hari-hari mulia ini, semoga yang membacanya akan melihat kebaikan BAIK DI DALAM RAMADHAN ATAU DI LUAR RAMADHAN:

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

Allahumma innaka 'Afuwwun tuhibul 'afwa fa'fu 'anni
(Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau suka memberi ampunan, maka ampunilah aku).

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin Al Banjary 
Banjarmasin, Senin 24 Ramadhan

Sabtu, 17 Juni 2017

Diharuskan untuk setiap muslim untuk mengingat kematian, karena Nabi Muhammad  (صلى الله عليه وسلم)  menyuruh untuk mengingat kematian dan lebih sering mengingat kematian; sehingga bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian tanpa menjadi lalai terhadap diri sendiri dan akhirat.

Oleh karena itu, seorang muslim harus selalu mengingat kematian. Dan dia harus berhenti melakukan dosa-dosa. Dan harus mendorong dirinya untuk taat pada Allah (عز و جل) dan mempersiapkan diri untuk kematian.

Namun, jika dirinya lalai mempersiapkan diri menghadapi kematian maka dia akan membuat jiwanya lalai (dari mengingat kematian), yang akan mengakibatkan jiwanya terus melakukan dosa dan menunda meminta pengampunan. Dan ketika dia jatuh ke dalam dosa, dia akan membuat jiwanya futur (jiwanya menjadi lemah) yang ditambah dengan tidak bersegera meminta pengampunan dan akibatnya dia akan lupa bahwa kematian sudah dekat dan lupa sisa hidupnya. Dan ketika kematian datang, dia tidak lagi dapat meminta pengampunan.

Karena apa yang disebutkan di atas, adalah kewajiban bagi umat Islam untuk mempersiapkan dirinya sendiri, tanpa lupa mengingat kematian atau kelalaiannya. Ingatlah selalu bahwa kematian bisa datang kapan saja dan kapanpun, sehingga dia akan meningkatkan diri dalam melakukan perbuatan baik dan agar dia meminta pengampunan atas dosa-dosanya.

[1] Diriwayatkan oleh Ahmad (2/292), at-Tirmidzi nr. 2307, an-Nasa'i (4/4) dan Ibn Maajiah (4258) dari riwayat Abu Hurairah (رضي الله عنه) dengan pernyataan: "Sering-seringlah mengingat penghancur kesenangan (yaitu kematian)."

Syaikh Saalih bin Fawzaan Al-Fawzaan, semoga Allah menjaganya.

Diterjemahkan oleh Salafi-Dawah.com.
Sumber: Diambil dari penjelasan Zaad al-Mustaqni` hal. 152.


Remembering death

It is desirable for the Muslim to remember death, because the Prophet (صلى الله عليه و سلم) encouraged to remember death[1] and to increase in remembering death; this so that one will prepare for it, without becoming negligent with regards to oneself and the Hereafter.

He should therefore always remember death. And he should stop himself from committing sins. And he should force his soul into obeying Allah (عز و جل) and prepare himself for death.

However, when he becomes negligent with regards to death, then he will give his soul respite, which will result in his soul continuing with committing sins and delaying asking for forgiveness. And when he falls into sins he will give his soul some slack (he becomes lax), without hasting in asking for forgiveness, and as a result of that he will forget that death is near and his days are limited. And when death comes, he is not able anymore to ask for forgiveness.

Due to what is mentioned above, it is incumbent upon the Muslim to prepare himself, without forgetting to remember death or being negligent thereof. Knowing that death can come at any moment and time, so that he will increase in performing good deeds and so that he will ask forgiveness for his sins.

[1] Narrated by Ahmad (2/292), at-Tirmidhee nr. 2307, an-Nasaa’ee (4/4) and Ibn Maajiah (4258) from the narration of Abee Hurayrah (رضي الله عنه) with the expression: “increase in the remembrance of the destroyer of pleasure (i.e. death).”

Shaykh Saalih bin Fawzaan Al-Fawzaan, may Allah preserve him

Translated by Salafi-Dawah.com.
Source: Taken from the explanation of Zaad al-Mustaqnee` p. 152.

Syeikh kita Muhammad al-Amin Ash-Shinqiti yang meninggal pada tanggal 17/12/1393H rahimahullah hanya mencukupi kebutuhan dirinya di dunia dengan kadar yang sedikit sekali, dan dahulu (ketika ia masih hidup) aku mengenalnya dan dia tidak bisa membedakan nilai mata uang (dalam jenis mata uang yang sama). Dia rahimahullahu pernah sekali berkata kepadaku: "Aku berasal dari negaraku (Shinqit [Mauritania]) bersama dengan harta (ilmu) yang jarang dimiliki oleh orang lain, dan itu adalah kepuasan untukku, jika aku menginginkan status yang tinggi (di dunia), aku pasti tahu cara mencapainya, tapi aku lebih memilih untuk tidak menukar kehidupan akhirat dengan dunia, dan aku tidak mengajarkan ilmu untuk mencapai keinginan duniawi."

Syeikh Bakr Abu Zayd

Sumber: Adab dari Menuntut Ilmu. Diterjemahkan oleh Abu ‘Abdillah Murad ibn Hilmi Ash-Shuweikh, dan dipublikasikan oleh Al-Hidaayah.


The Zuhd of Shaykh Muhammad al-Ameen ash-Shinqeetee

Our Shaykh Muhammad al-Ameen ash-Shinqeetee who died on 17/12/1393H, rahimahullah, took very little from this worldly life, and I used to see him and he could not differentiate between the values of different [notes within the same] currency, and he once said to me: “I came from my country (Shinqeet [Mauritania]) and with me is a treasure that is seldom found in the possession of anyone, and it is contentment, and if I wanted high status, I would have known the way to achieve it, but I chose not to exchange this worldly life for the hereafter, and I do not give my knowledge to attain worldly desires.”

Shaykh Bakr Abu Zayd

Source: The Etiquette of Seeking Knowledge. Translated by Abu ‘Abdillah Murad ibn Hilmi Ash-Shuweikh, and published by Al-Hidaayah.

Kamis, 01 Juni 2017

Apa hukum berenang bagi orang yang berpuasa? 
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjawab: Orang yang berpuasa tidak mengapa berenang. Ia boleh berenang dengan gaya apapun, juga boleh menyelam. Namun ia harus berhati-hati agar tidak meminum air dan tidak masuk ke kerongkongannya sebisa mungkin. Dan berenang ini menyenangkan orang yang berpuasa dan membuatnya terkucur banyak air. Dan sarana apa saja yang membuat ketaatan kepada Allah itu menyenangkan maka itu tidak terlarang. Karena ini termasuk salah satu sarana yang meringankan dan memudahkan ibadah seorang hamba. 
 Allah Tabaaraka Wa Ta’ala berfirman di akhir ayat puasa:
 يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ 
 “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS. Al Baqarah: 185) 
Dan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: 
 إن هذا الدين يسر، ولن يشاد الدين أحد إلا غلبه. 
Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidaklah seseorang berlebih-lebihan dalam urusan agama melainkan agama akan mengalahkannya” (HR. Al Bukhari) 
Selengkapnya: 
https://muslimah.or.id/3939-bolehkah-berenang-ketika-puasa.html 
*** Kunjungi juga https://kangaswad.wordpress.com 

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts