Rabu, 05 April 2017

Ibnu 'Aqil ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ berkata :
‏( ﺃﻧﺎ ﺃﻗﺼﺮ ﺑﻐﺎﻳﺔ ﺟﻬﺪﻱ ﺃﻭﻗﺎﺕ ﺃﻛﻠﻲ ، ﺣﺘﻰ ﺃﺧﺘﺎﺭ ﺳﻒ ﺍﻟﻜﻌﻚ ﻭﺗﺤﺴﻴﺔ ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﺒﺰ ، ﻷﺟﻞ ﻣﺎﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﻣﻦ ﺗﻔﺎﻭﺕ ﺍﻟﻤﻀﻎ ، ﺗﻮﻓﺮﺍ ﻋﻠﻰ ﻣﻄﺎﻟﻌﺔ ، ﺃﻭ ﺗﺴﻄﻴﺮ ﻓﺎﺋﺪﺓ ﻟﻢ ﺃﺩﺭﻛﻬﺎ ﻓﻴﻪ ‏) ‏( ﺫﻳﻞ ﻃﺒﻘﺎﺕ ﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ ‏) ‏( 1 / 145 ‏)
"Saya sampai menyingkat waktu makanku, sampai saya memilih kue yang bisa dicelup air agar mempercepat kunyahan hingga lumayan untuk mempelajari pelajaran atau menulis faidah yang aku tidak bisa lakukan pada saat makan"
Dari generasi tabi'in Amir bin Qois ada yang menawari ngobrlol -ngobrol yang tidak jelas dia menjawab ;
ﺃﻣﺴﻚ ﺍﻟﺸﻤﺲ
"Hentikan dulu matahari"
Gambaran pentingnya memperhatikan waktu seperti ini :
ﻓﻠﻮ ﺿَﻴَّﻌﺖَ ﺃﻟﻒ ﺳﻨﺔ ﻓﻴﻤﺎ ﻻ ﻳﻌﻨﻲ ، ﺛﻢ ﺗﺒﺖ ﻭﺛﺒﺘﺖ ﻟﻚ ﺍﻟﺴﻌﺎﺩﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻤﺤﺔ ﺍﻷﺧﻴﺮﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻤﺮ ، ﺑﻘﻴﺖ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﺃﺑﺪ ﺍﻵﺑﺎﺩ ، ﻓﻌﻠﻤﺖ ﺃﻥ ﺃﺷﺮﻑ ﺍﻷﺷﻴﺎﺀ ﺣﻴﺎﺗﻚ ﻓﻲ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﻠﻤﺤﺔ ،
"Andaikan kau sia-siakan waktumu 1.000 tahun dengan sesuatu yang tidak berguna lalu setelah itu kamu bertaubat maka sungguh kamu memperoleh ketetapan kebahagiaan dalam hitungan waktu sekejab di akhir usia, hingga engkau dikekalkan saat masuk surga. Dan engkau baru tahu bahwa sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu adalah waktu yang sekilas kamu manfaatkan tersebut.
Sebagaimana di antara para penyihir Fir'aun. Selama ratusan tahun hidup dalam kekafiran dan kemusyrikan. Namun setelah kalah beradu kehebatan dengan Musa mereka sadar dan sujud tersungkur bertaubat penuh keikhlasan. Maka Allah mengampuni mereka. Maka perhatikanlah betapa bermanfaatnya waktu yang digunakan oleh para tukang sihir Fir'aun itu. Dan itulah waktu terbaik bagi mereka dibandingkan dengan ratusan tahun dari usia mereka.
ﻓﻜﺎﻥ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﻣﻦ ﺟﻤﻠﺔ ﺃﺻﻮﻝ ﺍﻟﻨﻌﻢ ، ﻓﻠﺬﻟﻚ ﺃﻗﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻪ ، ﻭﻧﺒﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻭﺍﻟﻨﻬﺎﺭ ﻓﺮﺻﺔ ﻳﻀﻴﻌﻬﺎ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ !
"Zaman (waktu) merupakan bagian dari pokok2 kenikmatan. Oleh karena itu Allah bersumpah dengannya. Dan Allah memperingatkan bahwa malam dan siang adalah kesempatan yang selalu disia²kan oleh manusia"
Imam Syafi'i ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ berkata :
" ﺻﺤﺒﺖُ ﺍﻟﺼﻮﻓﻴﺔ ﻓﻤﺎ ﺍﻧﺘﻔﻌﺖُ ﻣﻨﻬﻢ ﺇﻻَّ ﺑﻜﻠﻤﺘﻴﻦ ، ﺳﻤﻌﺘﻬﻢ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ : ﺍﻟﻮﻗﺖُ ﺳﻴﻒٌ ، ﻓﺈﻥ ﻗﻄﻌﺘﻪ ﻭﺇﻻَّ ﻗﻄﻌﻚ ، ﻭﻧﻔﺴُﻚ ﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﺸﻐﻠﻬﺎ ﺑﺎﻟﺤﻖِّ ﺷﻐﻠﺘﻚ ﺑﺎﻟﺒﺎﻃﻞ " .
(ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ ﺍﻟﻜﺎﻓﻲ ﻟﻤﻦ ﺳﺄﻝ ﻋﻦ ﺍﻟﺪﻭﺍﺀ ﺍﻟﺸﺎﻓﻲ ص. ٩٨)
"Aku bergaul dengan orang sufi dan tidak ada yang kuperoleh manfaat darinya seln hanya dua kata : 'waktu itu bagaikan pedang. Jika kamu tidak menggunakannya untuk memotong niscaya dia akan memotongmu. Dan dirimu jika tidak kau sibukkan dengan kebenaran niscaya akan sibuk denga kebatilan"
Mu'adz bin Jabal ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ berkata :
ﻟﻴﺲ ﺗﺤﺴّﺮ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﻨّﺔ ﺇﻟّﺎ ﻋﻠﻰ ﺳﺎﻋﺔ ﻣﺮّﺕ ﺑﻬﻢ ﻟﻢ ﻳﺬﻛﺮﻭﺍ ﺍﻟﻠﻪ - ﻋﺰّ ﻭﺟﻞّ - ﻓﻴﻬﺎ (.ﺍﻟﻮﺍﺑﻞ ﺍﻟﺼﻴﺐ 59 ‏) .
"Tidaklah penduduk surga menyesali sebuah penyesalan melainkan penyesalan lewatnya waktu atas mereka, namun dia tidak berdzikir kepada Allah pada waktu itu"
Mu'adz bin Jabal ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ berkata :
ﺇﻥّ ﻛﻞّ ﻣﺠﻠﺲ ﻻ ﻳﺬﻛﺮ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﻓﻴﻪ ﺭﺑّﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﺣﺴﺮﺓ ﻭﺗﺮﺓ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ‏) ‏« ﺍﻟﻮﺍﺑﻞ ﺍﻟﺼﻴﺐ ‏» ‏( 59 ‏) .
"Sesungguhnya suatu majlis yang seseorang tidak dzikir kepada Allah di dalamnya maka dia termasuk pada kerugian dan penyesalan kelak di hari kiyamat"
Imam Fakhrurozi ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ berkata :
‏( ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺇﻧﻨﻲ ﺃﺗﺄﺳﻒ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﻮﺍﺕ ﻋﻦ ﺍﻻﺷﺘﻐﺎﻝ ﺑﺎﻟﻌﻠﻢ ﻓﻲ ﻭﻗﺖ ﺍﻷﻛﻞ ، ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻭﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﻋﺰﻳﺰ ‏) (ﻋﻴﻮﻥ ﺍﻷﻧﺒﺎﺀ ﻓﻲ ﻃﺒﻘﺎﺕ ﺍﻷﻃﺒﺎﺀ ‏ 1 / 462 ‏)
"Demi Allah, sungguh aku sangat menyayangkan akan tersia2kannya waktu ketika waktu makan karena terluput dari sibuk dalam mencari ilmu. Sungguh zaman/waktu itu berharga"
AdDhohak ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ berkata tentang firman Allah ta'ala :
ﺇﻧﻤﺎ ﻧﻌﺪ ﻟﻬﻢ ﻋﺪﺍ { ‏[ ﻣﺮﻳﻢ : 84 ‏] ؛ ﻗﺎﻝ : ﺍﻷﻧﻔﺎﺱ . (ﺍﻟﻤﺠﺎﻟﺴﺔ ﻭﺟﻮﺍﻫﺮ ﺍﻟﻌﻠﻢ 3 / 445 ‏)
"Dan Kami kelak memperhitungkan bagi mereka dengan sebenar-benarnya, yaitu : nafas-nafas."
Para ulama' zaman dahulu, detik pun diperhitungkan :
ﻛَﺎﻥَ ﺩَﺍﻭُﺩُ ﺍﻟﻄَّﺎﺋِﻲُّ ﻳَﺸْﺮَﺏُ ﺍﻟْﻔَﺘِﻴﺖَ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺄْﻛُﻞُ ﺍﻟْﺨُﺒْﺰَ ، ﻓَﻘِﻴﻞَ ﻟَﻪُ ﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚَ ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺑَﻴْﻦَ ﻣَﻀْﻎِ ﺍﻟْﺨُﺒْﺰِ ﻭَﺷُﺮْﺏِ ﺍﻟْﻔَﺘِﻴﺖِ ﻗِﺮَﺍﺀَﺓُ ﺧَﻤْﺴِﻴﻦَ ﺁﻳَﺔً (ﺍﻟﻤﺠﺎﻟﺴﺔ ﻭﺟﻮﺍﻫﺮ ﺍﻟﻌﻠﻢ 1 / 346 ‏)
"Dawud at-Thoi meminum bubur dan tidak memakan kue. Ketika ditanya kenapa demikian, beliau menjawab : Karena di antara mengunyah kue dan meminum campuran bisa (dimanfaatkan) membaca 50 ayat"
Ibnul Qayyim ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ berkata :
ﺇﺿﺎﻋﺔ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﺃﺷﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻮﺕ. ﻷﻥ ﺇﺿﺎﻋﺔ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﺗﻘﻄﻌﻚ ﻋﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﺪﺍﺭ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﻭﺍﻟﻤﻮﺕ ﻳﻘﻄﻌﻚ ﻋﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﺃﻫﻠﻬﺎ
(ﺍﻟﻔﻮﺍﺋﺪ / ﺹ 44)
"Menyia-nyiakan waktu lebih parah daripada kematian. Sebab menelantarkan waktu memutusmu dari Allah dan negeri akhirat sementara kematian memisahkanmudari dunia dan penduduknya"
Imam Hasan al-Bashri ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ sampai belum sempat mencuci baju, karena tersibukkan dengan ilmu.
ﻟﻢ ﻻ ﺗﻐﺴﻞ ﻗﻤﻴﺼﻚ؟
ﻗﺎﻝ : ﺍﻷﻣﺮ ﺃﺳﺮﻉ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ! (ﺍﻟﻤﺠﺎﻟﺴﺔ ﻭﺟﻮﺍﻫﺮ ﺍﻟﻌﻠﻢ 2 / 310)
"Imam Hasan al-Bashri pernah ditanya : mengapa kok belum anda cuci bajumu? Beliau menjawab : perkara lebih cepat dari itu"
ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻌﻼّﻣﺔ ﺍﻟﻨّﺤﻮﻱ ﻣﺤﻤّﺪ ﺑﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮٍ ﺍﻟﺨﻴّﺎﻁ ﺍﻟﺒﻐﺪﺍﺩﻱ ، ﻳﺪﺭﺱُ ﺟﻤﻴﻊ ﺃﻭﻗﺎﺗﻪ ، ﺣﺘّﻰ ﻓﻲ ﺍﻟﻄّﺮﻳﻖ ، ﻭﻛﺎﻥ ﺭُﺑَّﻤﺎ ﺳَﻘَﻂَ ﻓﻲ ﺟُﺮﻑٍ ﺃﻭ ﺧَﺒَﻄَﺘْﻪُ ﺩَﺍﺑّﺔٌ ! (ﺍﻟﻤﺸﻮﻕ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﻃﻠﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ ‏( ﺹ 62 ‏)
"Ahli Nahwu al-'allamah Muhammad bin Ahmad Abu Bakr al-Baghdadi belajar hampir di seluruh waktunya, hingga di jalan-jalan. Bahkan karena terus belajar sampai terjatuh ke dalam lobang atau ketabrak kuda"
*Sibuk dengan kebaikan*
Jika seseorang tidak tersibukkan dengan kebaikan, pasti akan terjatuh pada perkara yang sia-sia
Imam Asy Syafi’i juga berkata ;
“Kemudian orang sufi menyebutkan perkataan lain:
ﻭﻧﻔﺴﻚ ﺇﻥ ﺃﺷﻐﻠﺘﻬﺎ ﺑﺎﻟﺤﻖ ﻭﺇﻻ ﺍﺷﺘﻐﻠﺘﻚ ﺑﺎﻟﺒﺎﻃﻞ
"Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik (haq), pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil) .” [Jawabul Kafi, 109, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)
Waktu Berlalu Begitu Cepatnya
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Waktu manusia adalah umurnya yang sebenarnya. Waktu tersebut adalah waktu yang dimanfaatkan untuk mendapatkan kehidupan yang abadi, penuh kenikmatan dan terbebas dari kesempitan dan adzab yang pedih. Ketahuilah bahwa berlalunya waktu lebih cepat dari berjalannya awan (mendung). Barangsiapa yang waktunya hanya untuk ketaatan dan beribadah pada Allah, maka itulah waktu dan umurnya yang sebenarnya. Selain itu tidak dinilai sebagai kehidupannya, namun hanya teranggap seperti kehidupan binatang ternak.”
Kematian Lebih Layak Bagi Orang yang Menyia-nyiakan Waktu
Ibnul Qayyim ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ mengatakan :
“Jika waktu hanya dihabiskan untuk hal-hal yang membuat lalai, untuk sekedar menghamburkan syahwat (hawa nafsu), berangan-angan yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan (baca: kesia-siaan), maka sungguh kematian lebih layak bagi dirinya.” [ Al Jawabul Kafi, 109]
Janganlah Sia-siakan Waktumu
Dari Abdullah bin Abdil Malik, beliau berkata,
“Kami suatu saat berjalan bersama ayah kami di atas tandunya. Lalu dia berkata pada kami, ‘Bertasbihlah sampai di pohon itu.’ Lalu kami pun bertasbih sampai di pohon yang dia tunjuk. Kemudian nampak lagi pohon lain, lalu dia berkata pada kami, ‘Bertakbirlah sampai di pohon itu.’ Lalu kami pun bertakbir. Inilah yang biasa diajarkan oleh ayah kami.” [Az Zuhud li Ahmad bin Hambal, 3/321, Asy Syamilah]
Semoga bermanfaat. Amiin
Fawaaid Ustadz Abul-Hasan Bontang
Murajaah : abul-mundzir rianthoby 

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel Terbaru

Popular Posts