Minggu, 16 April 2017

MIMBAR DAKWAH DAHULU DAN KINI…

✏ Ustadz Aan Chandra Thalib, حفظه الله تعالى
Dahulu…Mimbar dakwah adalah tempat yang sangat terhormat. Ia hanya boleh diisi oleh orang-orang yang berilmu.
Diatasnya curahan ilmu dan hikmah mengucur deras ke hati para pendengar.
Adab yang terpancar dari seorang ulama/da’i menjadi daya tarik tersendiri bagi para jamaah.
Sehingga mereka yang datang tidak hanya pulang membawa ilmu, tapi juga membawa pancaran adab sang guru.
Contoh kongkritnya adalah majelis Imam Ahmad bin Hambal -rahimahullah-.
Diantara puluhan ribu jamaah yang hadir, hanya 500 orang yang menulis, sisanya memperhatikan bagaimana adab seorang Imam Ahmad.
Adapun saat ini….?
Sebagian mimbar dakwah berubah menjadi panggung hiburan yang lebih sering diisi oleh para pelawak berbaju Ustadz. Sedikit ilmu, kering adab.
Hasilnya adalah banjir idola dan miskin teladan.
Jamaah yang semestinya pulang membawa ilmu, justru kembali dengan kejahilan dan hati yang keras.
Kami tidak mengatakan bahwa canda dan gurauan itu haram bagi seorang da’i.
Tapi ia ibarat garam bagi makanan, bila berlebihan maka akan merusaknya.
Kecuali canda dan gurauan yang bercampur dusta. Hukumnya haram secara mutlak.
Imam Ibnu Sirin pernah berpesan: “Ilmu adalah agama, maka perhatikan dari siapa engkau mengambil agamamu”
________________
Madinah 25-01-1437 H
ACT El-Gharantaly 
[ 📖 ] BBG  al-ilmu

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel Terbaru

Popular Posts