Senin, 17 Juli 2017


Shalat yang satu ini punya keutamaan yang besar, sampai-sampai ketika safar pun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus menjaganya.
‘Aisyah berkata,
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَسْرَعَ مِنْهُ إِلَى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ
“Aku tidaklah pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat sunnah yang lebih semangat dibanding dengan shalat sunnah dua raka’at sebelum Fajar” (HR. Muslim no. 724)
Adapun dalil yang menunjukkan keutamaan shalat sunnah qobliyah Shubuh adalah hadits dari ‘Aisyah di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Dua raka’at fajar (shalat sunnah qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim no. 725). Jika keutamaan shalat sunnah fajar saja demikian adanya, bagaimana lagi dengan keutamaan shalat Shubuh itu sendiri?!
Dalam lafazh lain, ‘Aisyah berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara mengenai dua raka’at ketika telah terbih fajar shubuh,
لَهُمَا أَحَبُّ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا
“Dua raka’at shalat sunnah fajar lebih kucintai daripada dunia seluruhnya” (HR. Muslim no. 725)
Sumber : https://rumaysho.com/3301-keutamaan-shalat-sunnah-sebelum-shubuh.html

Ibnul Qayyim -rohimahulloh- mengatakan:

"Hati yang kacau tidak menentu, tidak ada yang bisa memperbaikinya kecuali menghadapkan hati itu kepada Allah." [Zadul Ma’ad 2/82].

Sufyan bin Uyainah -rohimahulloh- sebelumnya telah mengatakan:

"Para ulama dahulu biasa saling menasehati satu sama lain dengan kata-kata ini:

Barangsiapa memperbaiki keadaan batinnya, niscaya Allah perbaiki keadaan lahirnya.

Barangsiapa memperbaiki hubungan dia dengan Allah, niscaya Allah akan perbaiki hubungan dia dengan manusia.

Barangsiapa beramal untuk akhiratnya, niscaya Allah akan cukupkan kehidupan dunianya."

[Kitab Ikhlash, karya Ibnu Abid Dunya].

-----

Seringkali kita merasa keadaan kita tidak terarah, tidak menentu, tidak teratur, hampa, gersang, dan seterusnya..

Jika keadaan ini menimpa kita, ingatlah bahwa itu pertanda kita sudah jauh dari Allah.. Solusinya sangat sederhana sebenarnya, hanya saja semua kembali kepada kita, mau atau tidak untuk move on.

Segeralah kembali kepada Allah, dan fokuslah dengan ibadah.. Jika ibadah kita beres, Allah akan membereskan kehidupan kita dan memberkahi waktu kita.. Karena sangat tidak mungkin Allah menelantarkan orang yang mendekat kepada-Nya dengan ikhlas dan sesuai tuntunan.

Sumber: Ad Dariny (dengan sedikit pengubahan tanpa mengubah isinya)


Hendaknya kita berhati-hati men-share foto atau video kita, keluarga kita atau anak kita di sosial media, karena penyakit 'Ain bisa terjadi melalui foto ataupun video. Meskipun tidak pasti setiap foto yang di-share terkena 'ain tetapi lebih baik kita berhati-hati, karena sosial media akan dilihat oleh banyak orang
Penyakit ‘ ain (bukan penyakit medis) adalah penyakit baik pada badan maupun jiwa yang disebabkan oleh pandangan mata orang yang dengki ataupun takjub/kagum, sehingga dimanfaatkan oleh setan dan bisa menimbulkan bahaya bagi orang yang terkena.
Ibnul Atsir rahimahullah berkata,
ﻳﻘﺎﻝ: ﺃﺻَﺎﺑَﺖ ﻓُﻼﻧﺎً ﻋﻴْﻦٌ ﺇﺫﺍ ﻧَﻈﺮ ﺇﻟﻴﻪ ﻋَﺪُﻭّ ﺃﻭ ﺣَﺴُﻮﺩ ﻓﺄﺛَّﺮﺕْ ﻓﻴﻪ ﻓﻤَﺮِﺽ ﺑِﺴَﺒﺒﻬﺎ
“Dikatakan  bahwa Fulan terkena ‘ Ain , yaitu apa bila
musuh atau orang-orang dengki memandangnya lalu
pandangan itu mempengaruhinya hingga menyebabkannya jatuh sakit” [1]
Sekilas ini terkesan mengada-ada atau sulit diterima oleh akal, akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa ‘ ain adalah nyata dan ada.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺍﻟﻌﻴﻦ ﺣﻖُُّ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺷﻲﺀ ﺳﺎﺑﻖ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﻟﺴﺒﻘﺘﻪ ﺍﻟﻌﻴﻦ
“Pengaruh ‘ain itu benar-benar ada, seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, ‘ainlah yang dapat melakukannya.” [2]
Contoh kasus:
-Foto anak yang lucu dan imut diposting di sosial media, kemudian bisa saja terkena 'ain. Anak tersebut tiba-tiba sakit, nangis terus dan tidak berhenti, padahal sudah diperiksakan ke dokter dan tidak ada penyakit
-Bisa juga gejalanya tiba-tiba tidak mau menyusui sehingga kurus kering tanpa ada sebab penyakit
Hal ini terjadi karena ada pandangan hasad kepada gambar itu atau pandangan takjub dan PENTING diketahui bahwa penyakit 'ain bisa muncul meskipun mata pelakunya tidak berniat membahayakannya (ia takjub dan kagum)
Penyakit 'ain bisa melalui gambar atau video
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,
ﻭﻧﻔﺲ ﺍﻟﻌﺎﺋﻦ ﻻ ﻳﺘﻮﻗﻒ ﺗﺄﺛﻴﺮﻫﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﺅﻳﺔ ، ﺑﻞ ﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ ﺃﻋﻤﻰ ﻓﻴﻮﺻﻒ ﻟﻪ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﻓﺘﺆﺛﺮ ﻧﻔﺴﻪ ﻓﻴﻪ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺮﻩ ، ﻭﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺎﺋﻨﻴﻦ ﻳﺆﺛﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﻴﻦ ﺑﺎﻟﻮﺻﻒ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺭﺅﻳﺔ
”Jiwa orang yang menjadi penyebab 'ain bisa saja menimbulkan penyakit 'ain tanpa harus dengan melihat. Bahkan terkadang ada orang buta, kemudian diceritakan tentang sesuatu kepadanya,  jiwanya bisa menimbulkan penyakit 'ain, meskipun dia tidak melihatnya. Ada banyak penyebab 'ain yang bisa menjadi sebab terjadinya 'ain, hanya dengan cerita saja tanpa melihat langsung.”[3]
Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan,
ﻭﺑﻬﺬﺍ ﻳﺘﺒﻴﻦ ﺃﻥ ﺍﻟﻌﺎﺋﻦ ﻗﺪ ﻳﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﺻﻮﺭﺓ ﺍﻟﺸﺨﺺ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﻘﻴﻘﺔ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻠﻔﺎﺯ ، ﻭﻗﺪ ﻳﺴﻤﻊ ﺃﻭﺻﺎﻓﻪ ﻓﻴﺼﻴﺒﻪ ﺑﻌﻴﻨﻪ ، ﻧﺴﺄﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺴﻼﻣﺔ ﻭﺍﻟﻌﺎﻓﻴﺔ
“Oleh karena itu, jelaslah bahwa penyebab 'ain bisa jadi ketika melihat gambar seseorang atau melalui televisi, atau terkadang hanya mendengar ciri-cirinya, kemudian orang itu terkena 'ain. Kita memohon keselamatan dan kesehatan kepada Allah.” [4]
Demikian semoga bermanfaat
@Di antara langit dan bumi Allah, Pesawat Citilink Jakarta-Yogyakarta
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel muslim.or.id
Catatan kaki:
[1] An-Nihayah 3/332
[2] HR. Muslim
[3] Zadul Ma’ad  4/149
[4] Fatwa Al Islam Sual wal Jawab no. 122272
muslim.or.id/28858-penyakit-ain-melalui-foto-dan-video.html
Telegram (klik): bit.ly/muslimafiyah

Saya mau bertanya mengenai hukum islam tentang suami istri bermesraan didepan umum, awal mulanya saya mengomentari suatu foto di Facebook yang memposting seorang ustadzah muda yang sering kita lihat di televisi yang bergandengan tangan dan berpelukan dengan suaminya
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Bermesraan setelah menikah memang sesuatu yang dihalalkan. Tapi kita perlu ingat, tidak semua yang halal boleh ditampakkan dan dipamerkan di depan banyak orang.
Ada beberapa pertimbangan yang akan membuat anda tidak lagi menyebarkan foto kemesraan di Medsos,
Pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan agar umatnya memiliki sifat malu. Bahkan beliau sebut, itu bagian dari konsekuensi iman.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ
Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang. Dan rasa malu salah satu cabang dari iman. (HR. Ahmad 9361, Muslim 161, dan yang lainnya).
Dan bagian dari rasa malu adalah tidak menampakkan perbuatan yang tidak selayaknya dilakukan di depan umum.
Kedua, islam juga mengajarkan agar seorang muslim menghindari khawarim al-muru’ah. Apa itu khawarim al-muru’ah? Itu adalah semua perbuatan yang bisa menjatuhkan martabat dan wibawa seseorang. Dia menjaga adab dan akhlak yang mulia.
Ibnu Sholah mengatakan,
أجمع جماهير أئمة الحديث والفقه على أنه يشترط فيمن يحتج بروايته أن يكون عدلاً ضابطاً لما يرويه .وتفصيله أن يكون : مسلماً بالغاً عاقلاً، سالماً من أسباب الفسق وخوارم المروءة
Jumhur ulama hadis dan fiqh sepakat, orang yang riwayatnya boleh dijadikan hujjah disyaratkan harus orang yang adil dan kuat hafalan (penjagaan)-nya terhadap apa yang dia riwayatkan. Dan rinciannya, dia harus muslim, baligh, berakal sehat, dan bersih dari sebab-sebab karakter fasik dan yang menjatuhkan wibawanya.
(Muqadimah Ibnu Sholah, hlm. 61).
Dan bagian dari menjaga wibawa adalah tidak menampakkan foto kemesraan di depan umum.
Syaikh Muhammad bin Ibrahim – Mufti resmi Saudi pertama – menyatakan tentang hukum mencium istri di depan umum,
بعض الناس -والعياذ بالله- من سوء المعاشرة أنه قد يباشرها بالقبلة أمام الناس ونحو ذلك ، وهذا شيء لا يجوز
Sebagian orang, bagian bentuk kurang baik dalam bergaul dengan istri, terkadang dia mencium istrinya di depan banyak orang atau semacamny. Dan ini tidak boleh. – kita berlindung kepada Allah dari dampak buruknya –.
(Fatawa wa Rasail Muhammad bin Ibrahim, 10/209).
An-Nawawi dalam kitab al-Minhaj menyebutkan beberapa perbuatan yang bisa menurunkan kehormatan dan wibawa manusia,
وقبلة زوجة وأمة بحضرة الناس، وإكثار حكايات مضحكة
Mencium istri atau budaknya di depan umum, atau banyak menyampaikan cerita yang memicu tawa pendengar. (al-Minhaj, hlm. 497).
Ketiga, gambar semacam ini bisa memicu syahwat orang lain yang melihatnya. Terutama ketika terlihat bagian badan wanita, tangannya atau wajahnya.. lelaki jahat bisa memanfaatkannya untuk tindakan yang tidak benar.
Dan memicu orang untuk berbuat maksiat, termasuk perbuatan maksiat.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
Barangsiapa yang mengajak kepada sebuah kesesatan maka dia mendapatkan dosa  seperti dosa setiap orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun. (HR. Ahmad 9160, Muslim 6980, dan yang lainnya).
Bisa jadi anda menganggap itu hal biasa, tapi orang lain menjadikannya sebagai sumber dosa.
Mencegah lebih baik dari pada mengobati…
Allahu a’lam.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits
Sumber: https://konsultasisyariah.com/28247-hukum-pamer-kemesraan-di-medsos.html
Via Fb Mini Al Baithy
[Copas&Posted By Fp Ittiba'Rasulullah ].

Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr hafizahullah menjelaskan bahwa kalau ada mushaf Al-Quran tetap lebih utama membaca Al-Qur’an lewat mushaf dibanding lewat aplikasi dalam handphone.
Beliau membawakan dalil berikut.
من سره أن يحب الله و رسوله ، فليقرأ في المصحف
“Siapa yang ingin dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka bacalah mushaf.” (Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2342. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan).
Jadi silakan pertimbangkan membaca Al-Quran lewat mushaf ataukah lewat handphone. Pahalanya bisa jadi sama, namun lebih utama menggunakan mushaf sebagaimana diperintahkan dalam hadits di atas.
Semoga bermanfaat.
_____
Sumber : https://rumaysho.com/16127-lebih-besar-pahala-baca-al-quran-lewat-mushaf-dibanding-handphone.html

Tempat Shalat Terbaik bagi Perempuan
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صَلَاةُ الْمَرْأَةِ فِي بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلَاتِهَا فِي حُجْرَتِهَا، وَصَلَاتُهَا فِي مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلَاتِهَا فِي بَيْتِهَا
“Shalat seorang perempuan di (tengah) rumahnya lebih utama baginya daripada shalatnya di ruangan (dekat tembok rumahnya), dan shalat seorang perempuan di ruang kecil khusus (di ujung rumah) lebih utama baginya daripada di (tengah) di rumahnya.”
[Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang shahih di atas syarat Muslim, sebagaimana yang dikatakan oleh An-Nawawy, Al-Albany dan Al-Wadi’iy]
_______________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms

Minggu, 16 Juli 2017

Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali rahmatullah 'alaihi (wafat 505 H) berkata :

و يعزى المسلم بقريبه الكافر

"Dan boleh seorang muslim berta'ziyah kerabatnya yang kafir". (Al-Wasith fil Madzhab hal. 362 jilid 1 cet DKI Beirut 1422H)

Al-Imam Ali bin Muhammad Al-Mawardi rahmatullah 'alaihi (wafat 450 H) berkata :
"Jika seorang muslim berta'ziyah kepada orang kafir, maka ia mengucapkan :

أخلف الله عبيك و لا نقص عددك

"Semoga Allah menggantikannya untukmu, dan semoga Allah tidak mengurangi jumlahmu".
(Al-Hawi Al-Kabir hal 66 jilid 3 cet DKI Beirut 2009 M)

Maksud dari doa seorang muslim ketika berta'ziyah ke orang kafir dengan doa "semoga Allah tidak mengurangi jumlahmu" adalah apabila kaum kafir dzimmi bertambah, maka akan banyak Jizyah (upeti) untuk kaum muslimin. Hal ini dijelaskan oleh para ulama diantaranya, Al-Imamhammad Husain bin Mas'ud Al-Baghawi rahmatullah 'alaihi (wafat 516 H) :

و إن كان الميت كافرا يقول : أخلف الله عليك و لا نقص عددك. هذا لأن في زيادة عددهم كثرة الجزية للمسلمين

"Jika yang meninggal itu adalah seorang kafir, maka yang berta'ziyah mengucapkan : {Semoga Allah menggantikannya untukmu, dan semoga Allah tidak mengurangi jumlahmu}. Hal ini dikarenakan dengan bertambahnya jumlah mereka (orang kafir), maka akan banyak Jizyah (upeti) yang akan dibayar kepada kaum muslimin."
(At-Tahdzib hal 452 jilid 2 cet DKI Beirut 1418 H)

Yahya bin Abi Khair Al-'Imrani rahmatullah 'alaihi (wafat 558 H) berkata :
و إن عزى كافرا قال:
أخلف الله عليك و لا نقص عددك. حتى تكثر الجزية

"Dan jika bertazi'yah kepada orang kafir, maka mengucapkan : Semoga Allah menggantikannya untukmu, dan semoga Allah tidak mengurangi jumlahmu. Supaya jizyah (upeti) menjadi banyak". (Al-Bayan hal 116 jilid 3 cet DKI Beirut 1423 H)

Akan tetapi semua ulama diatas tidak memperkenankan mendoakan ampunan untuk orang kafir, sebagaimana dijelaskan oleh Ad-Dimyati Al-Bakri rahimahullah :

و أما تعزية المسلم بالكافر فلا يقال : غفر لميتك، لأن الله لا يغفر الكفر

"Adapun ta'ziyahnya seorang muslim kepada orang kafir, maka tidak diperbolehkan mengucapkan : {semoga Allah mengampuni jenazah anda}, karena Allah tidak mengampuni kekafiran."
(Hasyiyah I'anatut Thalibin hal 239 jilid 2 cet Darul Hadits 1433 H)
Namun hukum ini semua menurut mereka adalah boleh BUKAN SUNNAH. Hal ini dipertegas oleh Muhammad Al-Khatib Asy-Syirbini rahimahullah (wafat 977 H) yang menuturkan :

تعزية الذمي فإنها جائزة لا مندوبة

"Menta'ziyahi kafir dzimmi (orang kafir yang berada ditengah-tengah muslimin dan mendapatkan jaminan keamanan, dan membayar jizyah kepada pemerintah muslimin) hukumnya adalah boleh, TIDAK SUNNAH". (Mughnil Muhtaj hal 55 jilid 2 cet Darul Hadits 1427 H)

Orang-orang kafir yang boleh didatangi oleh seorang muslim dalam rangka ta'ziyah ialah kafir Dzimmi saja, bukan orang kafir yang murtad atau kafir Harbi (orang kafir yang memerangi kaum muslimin).  Ar-Ramliy (wafat 1004 H) berkata :

و أما الكافر من مرتد و حربي فلا يعزى

"Adapun orang kafir dari kalangan orang kafir yang murtad dan harbi maka tidak boleh dita'ziyahi". (Nihayatul Muhtaj hal 260 jilid 2 cet DKI Beirut 1430 H)

Akan tetapi pendapat ini semua dibantah oleh Al-Imam An-Nawawi rahmatullah 'alaihi (wafat 676 H), setelah beliau menyebutkan pendapat para ulama yang membolehkan, beliau membantahnya dan beliau tegaskan :

و هو مشكل لأنه دعاء ببقاء الكافر و دوام الكفر فالمختار تركه، و الله أعلم

"Dan hal ini (pendapat bolehnya berta'ziyah ke orang kafir) adalah pendapat yang  rancu/bermasalah, sebab hal ini mengandung kandungan berdoa agar orang kafir tetap eksis dan kekafiran tetap eksis. Maka pendapat yang dipilih ialah meninggalkannya (tidak berta'ziyah kepada orang kafir. Wallahu A'lam"
(Al-Majmu' Syarhul Muhadzdzab hal 389 jilid 6 cet Darul Hadits 1431 H) Mungkin ada yang heran dengan pendapat An-Nawawi ini, karena pendapat beliau diatas menyelisihi pendapat beliau sendiri di Ar-Raudhah Ath-Thalibin. Beliau berkata :

و يجوز للمسلم أن يعزي الذمي بقريبه فيقول أخلف الله عليك و لا نقص عددك

"Dan boleh bagi seorang muslim berta'ziyah kepada kerabatnya yang kafir dzimmi, dan ia mengucpakan : Semoga Allah menggantikannya untukmu dan semoga tidak mengurangi jumlahmu".
(Ar-Raudhah Ath-Tahlibin hal 701 jilid 1 cet Maktabah Tafiqiyah-tidak disebutkan tahun cetaknya)

Maka yang benar ialah perkataan An-Nawawi rahimahullah di Al-Majmu', karena Al-Majmu' adalah kitab terakhir beliau, bahkan beliau hanya sempat menulis kitab itu sampai kitabul Buyu' bab Riba. Maka perkataan beliau di Raudhah adalah manshukh (terhapus/batal)

Inilah pendapat yang tepat dan lebih dekat kepada kebenaran karena tatkala Abu Thalib mati, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam selaku keponakannya tidak mengurus atau melayat jenazahnya. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, bahwa ketika ayah beliau meninggal, dia datang melapor kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

إِنَّ عَمَّكَ الشَّيْخَ الضَّالَّ قَدْ مَاتَ

"Sesungguhnya pamanmu, si tua yang sesat telah mati".

Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menasihatkan,

اذْهَبْ فَوَارِ أَبَاكَ

"Segera kuburkan bapakmu".
(HR. Abu Daud 3212  melalui kitab 'Aunul Ma'bud cetakan Darul Hadits)

Namun jika dipandang bahwa jika kita datang berta'ziyah kepada orang kafir, maka hal ini diharapkan akan menjadi sebab keislaman mereka (kerabat mayit kafir), maka hukumnya adalah sunnah. Syaikhul Islam Syihabuddin Abul 'Abbas Ahmad bin Hajar Al-Haitami rahmatullah 'alaihi (wafat 973 H) berkata mengenai hal ini :

قد تسن تعزية إن رجي إسلامه

"Terkadang disunnahkan berta'ziyah kepada orang kafir jika yang demikian diharapkan keislaman mereka (keluarga si mayyit)".
(Tuhfatul Muhtaj hal 324 jild 2 cet DKI Beirut 1430 H)

Wallahu A'lam

SBS Bekasi

Sumber: Abu Hanifah Jandriadi Yasin

"Kalo ngaji di musholla, di mesjid, bukan di kereta."  Sindir seseorang.

Saya terhentak kaget mendengarnya, padahal kedua orang itu membaca Al Qur'an dengan suara pelan yang tidak menganggu sekitarnya, hanya kebetulan saja mereka memang berdiri dekat orang tersebut.

Orang ini yang dari tadi ribut bersuara keras, tertawa terbahak-bahak bersama teman-temannya di kereta itu sepertinya merasa risih dengan kedua orang tadi yang membaca Al Qur'an di HP mereka.

Suara bacaan lirih Al Qur'an yang hampir-hampir tidak bisa didengar itu ternyata sanggup membuatnya gerah.

Ya, dia risih dan gerah, karena pada saat itu ia dan teman-temannya sedang saling bercanda. Ia bercanda sambil menunjukkan konten mesum yang ada di HPnya sambil berkata,

"Mending ini daripada narkoba."

"Istri gue demen juga ginian."

Tanpa malu dan bangga ia melakukan itu di depan umum.

Salut dan kagum saya kepada kedua orang tadi, mereka tak peduli,  tetap terus melanjutkan bacaan Al Qur'an mereka.

Akhirnya, topik pembicaraan gerombolan itu pun berganti, entah karena merasa risih atau bagaimana.

Sekilas saya lihat orang itu mengubah posisinya dari berdiri menjadi duduk di lantai, mungkin agar suara bacaan Al Qur'an kedua orang tadi tidak terdengar olehnya.

Ya, begitulah dampak dari kemaksiatan. Bahkan sekedar untuk mendengar Firman Allah, perkataan Tuhannya saja, ia enggan. Melihat orang lain melakukan ketaatan, ia pun benci.

Kemaksiatan yang sudah menguasai hati akan membuat seseorang membenci Al Qur'an, membenci kebaikan dan para pelaku kebaikan.

Jika tidak percaya, cobalah anda banyak bermaksiat kemudian lanjutkan dengan membaca Al Qur'an, niscaya hati anda akan sangat berat untuk memulainya. Ketika anda hendak membacanya, lidah serasa kelu untuk mengeluarkan suara, anda pun ingin segera menutup mushaf.

Jika Al Qur'an saja sudah berat untuk dibaca, maka bagaimanakah lagi seseorang itu bisa hidup bahagia?

إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu".
Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.  [Al-Muthaffifin : 13-14]

Sumber: Boris Tanesia

Syeikh Muhammad ibn 'Abd al-Wahhab al Wassabi mendefisikan al-Bid'ah sebagai:
"Setiap keyakinan, perbuatan, atau pernyataan baru yang dibuat setelah kematian dari nabi [Shallallahu 'alaihi wa Sallam] dengan niat untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, dan tidak ditemukan di dalam Al-Qur'an maupun sunnah dan tidak dilakukan oleh para salaf [para sahabat]."

[Sharh al-Jadīd ‘Alā al-Qawl al-Mufīd Fī Adillah at-Tawhīd, (halaman: 348-389) | Ditranslate (ke bahasa Inggris) oleh Abū Ruqayyah 'Abd us-Samad]

What is Bid'ah?

Shaykh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhāb al-Wassābī defined al-Bid’ah as:
“Every belief, action, or statement newly invented after the death of the Prophet [sall Allaahu ‘alayhi wa sallam] with the intention of worship and getting closer to Allāh, and it is not indicated by any proof from the Book [i.e. the Qur’ān], and not from the Sunnah and not from the actions of the Salaf [i.e. the Sahābah].”

[Sharh al-Jadīd ‘Alā al-Qawl al-Mufīd Fī Adillah at-Tawhīd, (Page: 348-389) | Translated by Abū Ruqayyah 'Abd us-Samad]

Syeikh Islam Ibn Baz [رحمهالله] berkata: "Ketika seorang wanita meninggalkan rumahnya tanpa kebutuhan, hal ini bisa menyebabkan tabarruj [keadaan dimana seorang wanita di luar rumah dengan menampilkan perhiasan atau kecantikannya] selain kemaksiatan yang lainnya (yang bisa dilakukan wanita itu saat di luar rumah)."
[Fatwa dari Ibn Baz, (1/420) | Alifta]

Imam Al-Qurtubi:
"Tabarruj adalah ketika seorang wanita mengenakan pakaian dari bahan transparan yang membentuk tubuhnya."
[Tafsir, (12/310) | Ditranslate (ke bahasa Inggris) oleh Abu Ruqayyah 'Abd us-Samad]

At-Tabarruj

Shaykh ul-Islaam Ibn Bāz [رحمه الله] said:
“When a woman leaves her house without necessity, this may lead to Tabarruj [woman’s public display of her adornment or charms] in addition to other evils.”
[Fatwas of Ibn Bāz, (1/420) | Alifta]

Imaam Al-Qurtubī:
“From the ways of tabarruj is that a woman wears two transparent garments that describe her body.”
[Tafsīr, (12/310) | Translated by Abū Ruqayyah ‘Abd us-Samad]

Kamis, 06 Juli 2017

Cinta membawa petaka..

Selalu ada hikmah dari kisahnya..

Nabi Yusuf 'alaihissalam dicintai manusia-manusia istimewa, namun cinta mereka membuat beliau sengsara.

Pertama, beliau dicintai Putri Nabi Ishaq (bibi beliau sendiri), namun cinta itu membuat beliau tertuduh sebagai seorang pencuri dan beliau harus berpisah dengan ayah dan ibunya* (silakan lihat kisah ini di bawah)

Kedua, beliau dicintai oleh seorang Nabi (ayah beliau sendiri, nabi Ya'qub alaihissalam), namun cinta itu justru membuat saudara-saudaranya iri dan hasad kepadanya, hingga menyebabkan beliau sengsara, dimasukkan ke sumur, dijual sebagai budak dan terpisah dengan ayah, ibu dan keluarga tercinta.

Ketiga, beliau dicintai wanita cantik istri penguasa, namun cinta itu justru menjebloskannya  pada gelapnya penjara.

===

*Nabi Yusuf dituduh mencuri (QS. Yusuf: 77).

Ketika saudara kandung nabi Yusuf (Bunyamin) tertangkap dan tertuduh sebagian pencuri di Mesir, maka saudara2 Yusuf berkata:

Jika dia (bunyamin) mencuri maka sesungguhnya saudara kandungnya dahulu juga pernah mencuri,.maksudnya nabi Yusuf dulu juga pernah dianggap mencuri'

Lantas kapankah nabi Yusuf pernah dituduh mencuri:

Diriwayatkan dalam kitab-kitab tafsir bahwa dahulu saudari Nabi Ya'qub, puteri Nabi Ishaq- bibi Nabi Yusuf adalah anak pertama Nabi Ishaq yang memiliki ikat pinggang (sabuk istimewa) yang merupakan warisan Nabi Ishaq, ikat pinggang itu diwariskan nabi Ishaq alaihissalam kepada putri tertuanya.

Tatkala nabi Ya'qub beroleh putra yang rupawan (Yusuf) maka sang bibi meminta kepada Nabi Ya'qub untuk mengasuh Yusuf kecil sampai pada batas usia yang disepakati bersama.

Yusuf kecilpun hidup diliputi cinta sang bibi, ....sang bibi sangat mencintai Yusuf kecil alaihissalam.

Ketika Yusuf sudah beranjak dewasa tibalah masa pengembalian Yusuf kepada ayahnya, sang ayahpun mengingatkan sang bibi agar mengembalikan si buah hati padanya sesuai batas waktunya, namun hati sang bibi sudah terlanjur cinta dan jatuh hati pada Yusuf kecil...maka Putri Ishaq ini pun membuat tipu daya agar Yusuf selalu bersamanya..

Apa tipu daya itu?

sang bibi meletakkan ikat pinggang warisan nabi Ishaq  itu pada nabi nabi Yusuf...selang beberapa waktu dia memaklumatkan ke keluarga besarnya bahwa sabuk warisan Ishaq hilang dicuri orang...

Maka semua orang berusaha mencari benda tersebut, sampai akhirnya dijumpailah benda tersebut bersama Nabi Yusuf..hingga akhirnya stempel sebagai seorang pencuri melekat pada nabi Yusuf, dan ia harus dihukum...

Maka sang bibi berkata kepada nabi Ya'qub.. bahwa sebagai hukumannya maka Yusuf harus tetap tinggal bersamanya..

Nabi Ya'qub pun bersedih atas kejadian ini... hingga beliau tak kuasa mengambil Yusuf sampai sang bibi meninggal dunia...

Lihat dalam tafsir ayat ini:

(قَالُوا إِنْ يَسْرِقْ فَقَدْ سَرَقَ أَخٌ لَهُ مِنْ قَبْلُ ۚ فَأَسَرَّهَا يُوسُفُ فِي نَفْسِهِ وَلَمْ يُبْدِهَا لَهُمْ ۚ قَالَ أَنْتُمْ شَرٌّ مَكَانًا ۖ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ)

[Surat Yusuf 77]

Kisah "pencurian" ini disarikan dari:

Abul Fida' Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-Azhim (Kairo: al-Maktabah al-Tawfiqiyyah, tt) vol. 4 hal. 279-280.

Al-Sawkany, Fath al-Qadir (al-Manshurah: dar al-Wafa', 1997) vol. 3 hal. 61.

Faedah yang bisa dipetik:

1. Tipu daya wanita itu sangat besar.

2. Terkadang orang yang menyintai
menyengsarakan orang yang dicintai manakala cinta itu bukan karena Allah

3. Barang siapa mencintai sesuatu selain Allah maka dia akan tersiksa dengannya

4. Jangan silau dengan cinta manusia karena bisa jadi itu fitnah dan bala' yang menimpa

Semoga bermanfaat

Ustādz Fadlan Fahamsyah, MA hafidzahullāh

---

Rabu, 05 Juli 2017


Di hadapan Allah anggota tubuh bersaksi. Semoga mata bersaksi banyak melihat mushaf, lisan gemar berdzikir, dan semuanya bersaksi dengan kebaikan.
___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms

Ya Allah, seorang tawanan dalam belenggu dosa berdiri di depan pintu-Mu mengharap pengampunan.

Janganlah engkau menghinakannya pada hari kebangkitan.

___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms


Zakat adalah penyuci jiwa dan harta, penuh manfaat dunia dan akhirat.
Jauhkan diri dari neraka, walau hanya dengan sedekah sepotong kurma.
___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms

Obat hati ada lima:
Baca Al-Qur`an dengan tadabbur, perut kosong, shalat malam, rendah diri saat doa sahur, dan duduk dengan orang-orang shalih.
___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms

Andaikan bidadari mengintip ke bumi, cahaya keelokannya akan menerangi langit dan bumi.
Lamarlah dia dengan cahaya puasa dan amalan shalih.
___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms

Bacalah Al-Qur`an pada hari kiamat dia akan memberi syafa'at kepada siapa yang membacanya.
Jangan jenuh untuk suatu harapan di prahara hari kiamat.
___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms

Ada saat perpisahan ruh dengan jasad, saling berpisah di padang mahsyar, dan Ramadhan.
Buatlah harapan terindah untuk saat-saat perpisahan.
___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms

Sudah siapkah baju lebaranmu? Barangkali baju itu menjadi bagian kain kafanmu.
Sungguh merugi Ramadhan berlalu sebelum dosa diampuni.
___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms

Pindahlah cinta sesuka hatimu dan carilah tempat tinggal yang menyejukkanmu.
Cinta hati seorang mukmin selalu berlabuh untuk kehidupan surga.
___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms

Tanda Lailatul Qadr terjelas saat matahari terbit pada pagi harinya tanpa cahaya silau.
Hidupkanlah ibadah pada seluruh malamnya agar engkau tidak menyesal.
___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms

Surga untuk siapa saja yang takut kepada kebesaran Allah dan menahan jiwa dari hawa nafsu.
Carilah hal tersebut dalam i'tikaf 'berdiam di masjid'.
___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms

Celakalah siapa saja yang mendapati Ramadhan, kemudian Ramadhan berlalu sebelum dosanya diampuni.
Carilah pengampunan dan Lailatul Qadr bersama akhir Ramadhan.
___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms

Shalat adalah rukun Islam kedua. Lebih agung daripada puasa.
Sungguh mengherankan seseorang berpuasa dan bertarawih tetapi tidak menjaga shalat lima waktu.
___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms

Pada Ramadhan bertebaran sebab-sebab rahmat, pengampunan, dan pembebasan dari api neraka.
Bila hari Ramadhan berlalu, mestinya jumlah dan kualitas ibadah bertambah.
___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms

Banyak keutamaan doa saat berpuasa, berbuka, sujud, dan sepertiga malam terakhir.
Jangan lupa mereka yang tertindas di berbagai belahan bumi.
___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms

Seakan tiada masalah, dosa kemudian disusul dosa.
Taukah engkau, bahwa Nabi Adam keluar dari surga hanya karena sebuah dosa?
___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms


Pada hari kiamat ada sehari yang seperti lima puluh ribu tahun.
Barangkali lama berdiri di shalat malam dan dahaga puasa bermanfaat untukmu pada hari itu.
___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms

Kadang menakjubkan, sepasang mata yang lelap tidur sepanjang malam. Sedang ada gelap-gulita di liang lahad.
Siapkanlah cahaya untuk di kubur dan hari kiamat.
___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms


Semalam kita telah merapikan kasur untuk mati kecil.
Sudahkah kita berbenah untuk mati sesungguhnya? 
Semoga Allah merahmati kita semua.
____
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms

Selasa, 04 Juli 2017



Mungkinkah mengharap kebaikan, tetapi engkau berada dalam kemarau dosa dan malas di tengah hujan rahmat? Iya mungkin, bila burung gagak telah beruban.

___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms



Pintu harapan tidak hanya untuk orang yang berbuat baik. 
Pintu ijabah terbuka bagi siapa saja yang berdoa kepada-Nya.

Sebanyak apapun dosa hamba, rahmat Allah lebih luas.
___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms


Ketahuilah bahwa Allah mengetahui segala yang ada di dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya.

Puasa adalah rahasiamu kepada Allah.
___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms


Tiada manfaat seseorang menebus diri dari siksa dengan dunia dan semua yang dicintai pada hari kiamat.

Kesempatanmu menebus diri di bulan ini.
___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms


Pada musim kebaikan, berkawanlah dengan orang-orang shalih yang cinta ketaatan.

Berhati-hatilah dari kawan jelek. Banyak penyesalan ada karena pengaruh kawan jelek.
___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms

Ada dua Jihad pada Ramadhan:
Jihad pada waktu siang dan
Jihad pada waktu malam.
Jihad ini adalah sebab pahala yang tak terhingga.
___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms


Ramadhan adalah bulan ibadah dan beramal. Bukan acara malas, foya-foya dan tidur. Jangan sampai mereka kembali dengan kemenangan, 
sedangkan engkau tanpa bekal.
______
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms

Kamis, 29 Juni 2017


Sudahkah engkau tenang dengan shalat, sejuk dengan puasa, rindu membaca Al-Qur'an, dan nyaman dalam buaian ibadah?

Hisablah dirimu sebelun engkau dihisab.

___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms


Bersiaplah menyambut tamu yang mulia majulah ke depan untuk lembaran hidup lebih bernilai.

Allah tidak mengubah keadaanmu hingga engkau sendiri yang mengubahnya.
_______
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms



Kematian adalah gelas, semua akan meneguknya. Kubur adalah pintu, semua orang akan 
memasukinya. Ramadhan adalah kesempatan, salah satu pintu surga, tidak semua orang mendapatkannya.

Ramadhan adalah kesempatan, salah satu pintu surga, tidak semua orang mendapatkannya.
___________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms

Jumat, 23 Juni 2017

"Diantara tanda-tanda Lailatul Qadr adalah pada malam itu terasa tenang dan hati-hati orang mukmin merasa senang dan tenang karenanya, dan orang-orang mukmin malam itu melakukan banyak ketaatan, dan matahari di pagi hari terbit tanpa sinar (yang terang)." - Tanda - tanda dari Lailatul Qadar - Fataawa Ramadhan - Volume 2, halaman 852, Fatwa no. 841; Fataawa ash-Syeikh Muhammad as-Shalih al-Utsaimin - Volume 1, halaman 563 (via wayofthesalaf)


The Signs of Laylatul Qadr

“From amongst the signs of Laylatul-Qadr is that it is a calm night and the believer’s heart is delighted and at peace with it, and he becomes active in doing good actions, and the sun on the following morning rises clearly without any rays.”The Signs of Laylatul-Qadar - Fataawa Ramadhaan - Volume 2, Page 852, Fatwa No. 841; Fataawa ash-Shaykh Muhammad as-Saalih al-Uthaymeen - Volume 1, Page 563 (via wayofthesalaf)

Rabu, 21 Juni 2017

Istilah Lailah al-Qadr telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris berkali-kali, dan hal ini berpotensi membuat kebingungan akan mana makna yang benar dan apa yang dimaksud dari kata "qadr" dalam ungkapan ini (lailah al-qadr). Pada bagian penjelasannya tentang surah al-Qadr, Syeikh Muhammad ibn Shalih al-'Utsaimin membawa penjelasan berikut untuk masalah ini:

وقوله تعالى: {في ليلة القدر} من العلماء من قال: القدر هو الشرف كما يقال (فلان ذو قدر عظيم، أو ذو قدر كبير) أي ذو شرف كبير، ومن العلماء من قال: المراد بالقدر التقدير، لأنه يقدر فيها ما يكون في السنة لقول الله تعالى: {إنا أنزلناه في ليلة مباركة إنا كنا منذرين. فيها يفرق كل أمر حكيم} [الدخان: 3، 4] . أي يفصل ويبين. ـ

Dalam firman Allah:

فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

... pada Lailah al-Qadr. [97: 1]

Ada beberapa ulama yang mengatakan bahwa al-qadr berarti "mulia", seperti yang dikatakan, "Maka kemuliaan yang luar biasa" atau "kemuliaan yang banyak" - yang berarti kemuliaan yang besar.

Sementara itu, ulama lain mengatakan bahwa makna al-Qadr di sini adalah "pembagian", karena pada malam ini Allah membagi-bagikan apa yang akan terjadi (takdir) untuk tahun yang akan datang, sesuai dengan firman Allah:

 إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

"Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah." [44: 3-4]

Yang berarti: takdir ditetapkan dan dinyatakan.

والصحيح أنه شامل للمعنيين، فليلة القدر لا شك أنها ذات قدر عظيم، وشرف كبير، وأنه يقدر فيها ما يكون في تلك السنة من الإحياء والإماتة والأرزاق وغير ذلك. ـ

Dan yang benar adalah bahwa kedua makna ini bisa diterapkan. Karena tidak ada keraguan bahwa Laylah al-Qadr memiliki kelebihan dan kemuliaan yang besar, dan juga malam di mana urusan tahun depan dibagi - termasuk kehidupan, kematian, ketentuan, dan masalah lainnya.

Tafsir al-Thamen li’l-‘Allaamah al’-Utsaimin 14/528


The Meaning of “Laylah al-Qadr”: Sheikh ibn ‘Uthaymeen رحمه الله

The term Laylah al-Qadr has been translated into English in a number of different ways, leading to some potential confusion as to the correct and intended  meaning of the word “qadr” in this phrase. In part of his explanation of surah al-Qadr, sheikh Muhammad ibn Saalih al-‘Uthaymeen brought the following clarification of this issue:

وقوله تعالى: {في ليلة القدر} من العلماء من قال: القدر هو الشرف كما يقال (فلان ذو قدر عظيم، أو ذو قدر كبير) أي ذو شرف كبير، ومن العلماء من قال: المراد بالقدر التقدير، لأنه يقدر فيها ما يكون في السنة لقول الله تعالى: {إنا أنزلناه في ليلة مباركة إنا كنا منذرين. فيها يفرق كل أمر حكيم} [الدخان: 3، 4] . أي يفصل ويبين. ـ

Regarding Allah’s statement:

فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

… during Laylah al-Qadr [97:1]

There are some scholars who say that al-qadr means “honor”, just as one might say, “So-and-so has tremendous qadr” or “has considerable qadr” – meaning: considerable honor.

Meanwhile, other scholars say that the meaning of al-qadr here is “apportioning”, because on this night Allah apportions out what will be for the upcoming year, according to Allah’s statement:

 إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

Indeed, We sent it down during a blessed night. Verily, We are ever warning  Every affair is firmly apportioned on that night [44:3-4]

meaning: they are determined and given expression.

والصحيح أنه شامل للمعنيين، فليلة القدر لا شك أنها ذات قدر عظيم، وشرف كبير، وأنه يقدر فيها ما يكون في تلك السنة من الإحياء والإماتة والأرزاق وغير ذلك. ـ

And what is correct is that both of these meanings can apply. For there is no doubt that Laylah al-Qadr has great merit and considerable honor, and also that it is the night during which the affairs of the upcoming year are apportioned – including life, death, provisions, and other issues.

Tafsir al-Thameen li’l-‘Allaamah al’-Uthaymeen 14/528
Imam Malik (rahimahullahu) pernah ditanya tentang seseorang yang membaca (bacaan shalat), tapi tidak seorangpun bisa mendengar bacaannya, bahkan dia sendiri pun tidak bisa mendengar bacaan shalatnya karena dia tidak menggerakkan bibirnya. Maka beliau (Imam Malik) berkata: "Ini bukan bacaan, karena bacaan itu dimana lidah bergerak (ketika membacanya)." [al-Bayan wa’l-Tahsil (1/490)]

Syeikh Ibn Utsaimin (semoga Allah merahmatinya) pernah ditanya: "Apakah wajib untuk menggerakkan lidah ketika membaca bacaan Al-Qur'an dalam shalat atau cukup membacanya di dalam hati saja?"

Beliau menjawab:

"Bacaan harus dilakukan dengan lidah. Jika seseorang membacanya di dalam hati ketika shalat, maka ini tidak cukup. Dan ini juga berlaku ketika melakukan dzikir yang lain; tidak cukup hanya dibacanya dalam hati, melainkan penting untuk menggerakan lidah dan bibirnya karena bacaan itu adalah kata-kata yang harus untuk diucapkan, dan hal itu hanya bisa dicapai dengan menggerakkan lidah dan bibir." [Majmu 'Fataawa Ibn' Utsaimin, 13/156]

Dan Allah yang lebih mengetahui.

- Via FP Salafiyah London


It Is Essential to Move The Lips When Praying or Reciting.

Imam Maalik (rahimahullah) was asked about a person who recites when praying, but no one can hear him, not even himself, and he does not move his tongue.
He said: “This is not recitation, rather recitation is that in which the tongue moves.” [al-Bayaan wa’l-Tahseel(1/490)]

Shaykh Ibn ‘Uthaymeen (may Allaah have mercy on him) was asked: Is it obligatory to move the tongue when reciting Qur’aan in prayer or is it sufficient to say it in one's heart?

 He replied: 

"Recitation must be done with the tongue. If a person recites it in his heart when he is praying, that is not sufficient. The same applies to all other adhkaar; it is not sufficient to recite them in one's heart, rather it is essential to move one's tongue and lips, because they are words to be spoken, and that can only be achieved by moving the tongue and the lips." [Majmoo’ Fataawa Ibn ‘Uthaymeen, 13/156]

And Allaah knows best.

--Via FP Salafiyah London

Senin, 19 Juni 2017

Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. حفظه الله (Alumni Univ. Islam Madinah KSA)

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin حفظهما الله bercerita:
Pada suatu malam ke 27 Ramadhan (malam yang sangat diharapkan terjadinya lailatul qadar), beliau bersama bapak serta kakek ingin pergi ke Masjid Nabawi untuk shalat malam pada malam itu, kemudian ketika keluar rumah menuju mobil, beliau mendengar suara musik yang begitu keras dinyalakan oleh anak-anak muda, kemudian beliau mendekati mobil tersebut dan mengatakan kepada mereka: 
"Wahai para pemuda, jika kalian tidak sanggup untuk mengisi malam ini dengan ibadah, maka mohon dimatikan suara yang begitu keras ini!" Akhirnya mereka mematikannya, kemudian syaikh mengatakan: 
"Hendaknya malam ini kalian memperbanyak mengucapkan
اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني
Allahumma innaka 'Afuwwun tuhibul 'afwa fa'fu 'annii (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau suka memberi ampunan, maka ampunilah aku.) 
Lalu seorang yang dekat syaikh mengatakan, "Saya belum hafal." Lalu syaikh mengulangi kedua kalinya, lalu si pemuda ini akhirnya dapat melafalkannya. 
Setelah enam tahun, Syaikh Abdurrazzaq حفظه الله ceramah di sebuah kota, kemudian setelah ceramah ada seorang pemuda yang berjenggot dan dari wajahnya terlihat ia ahli ketaatan kepada Allah, pemuda ini berkata: 
"Syaikh, ingatkah engkau kepada para pemuda yang engkau peringatkan untuk mematikan musik di malam ke 27 Ramadhan, lalu engkau mengajari mereka doa lailatul qadar, maka semenjak malam itu saya selalu membacanya dan akhirnya Allah Taala membencikan maksiat-maksiat di dalam hatiku, alhamdulillah akhirnya aku kembali ke jalan-Nya."

Wahai Saudaraku sebarkanlah doa ini di hari-hari mulia ini, semoga yang membacanya akan melihat kebaikan BAIK DI DALAM RAMADHAN ATAU DI LUAR RAMADHAN:

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

Allahumma innaka 'Afuwwun tuhibul 'afwa fa'fu 'anni
(Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau suka memberi ampunan, maka ampunilah aku).

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin Al Banjary 
Banjarmasin, Senin 24 Ramadhan

Sabtu, 17 Juni 2017

Diharuskan untuk setiap muslim untuk mengingat kematian, karena Nabi Muhammad  (صلى الله عليه وسلم)  menyuruh untuk mengingat kematian dan lebih sering mengingat kematian; sehingga bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian tanpa menjadi lalai terhadap diri sendiri dan akhirat.

Oleh karena itu, seorang muslim harus selalu mengingat kematian. Dan dia harus berhenti melakukan dosa-dosa. Dan harus mendorong dirinya untuk taat pada Allah (عز و جل) dan mempersiapkan diri untuk kematian.

Namun, jika dirinya lalai mempersiapkan diri menghadapi kematian maka dia akan membuat jiwanya lalai (dari mengingat kematian), yang akan mengakibatkan jiwanya terus melakukan dosa dan menunda meminta pengampunan. Dan ketika dia jatuh ke dalam dosa, dia akan membuat jiwanya futur (jiwanya menjadi lemah) yang ditambah dengan tidak bersegera meminta pengampunan dan akibatnya dia akan lupa bahwa kematian sudah dekat dan lupa sisa hidupnya. Dan ketika kematian datang, dia tidak lagi dapat meminta pengampunan.

Karena apa yang disebutkan di atas, adalah kewajiban bagi umat Islam untuk mempersiapkan dirinya sendiri, tanpa lupa mengingat kematian atau kelalaiannya. Ingatlah selalu bahwa kematian bisa datang kapan saja dan kapanpun, sehingga dia akan meningkatkan diri dalam melakukan perbuatan baik dan agar dia meminta pengampunan atas dosa-dosanya.

[1] Diriwayatkan oleh Ahmad (2/292), at-Tirmidzi nr. 2307, an-Nasa'i (4/4) dan Ibn Maajiah (4258) dari riwayat Abu Hurairah (رضي الله عنه) dengan pernyataan: "Sering-seringlah mengingat penghancur kesenangan (yaitu kematian)."

Syaikh Saalih bin Fawzaan Al-Fawzaan, semoga Allah menjaganya.

Diterjemahkan oleh Salafi-Dawah.com.
Sumber: Diambil dari penjelasan Zaad al-Mustaqni` hal. 152.


Remembering death

It is desirable for the Muslim to remember death, because the Prophet (صلى الله عليه و سلم) encouraged to remember death[1] and to increase in remembering death; this so that one will prepare for it, without becoming negligent with regards to oneself and the Hereafter.

He should therefore always remember death. And he should stop himself from committing sins. And he should force his soul into obeying Allah (عز و جل) and prepare himself for death.

However, when he becomes negligent with regards to death, then he will give his soul respite, which will result in his soul continuing with committing sins and delaying asking for forgiveness. And when he falls into sins he will give his soul some slack (he becomes lax), without hasting in asking for forgiveness, and as a result of that he will forget that death is near and his days are limited. And when death comes, he is not able anymore to ask for forgiveness.

Due to what is mentioned above, it is incumbent upon the Muslim to prepare himself, without forgetting to remember death or being negligent thereof. Knowing that death can come at any moment and time, so that he will increase in performing good deeds and so that he will ask forgiveness for his sins.

[1] Narrated by Ahmad (2/292), at-Tirmidhee nr. 2307, an-Nasaa’ee (4/4) and Ibn Maajiah (4258) from the narration of Abee Hurayrah (رضي الله عنه) with the expression: “increase in the remembrance of the destroyer of pleasure (i.e. death).”

Shaykh Saalih bin Fawzaan Al-Fawzaan, may Allah preserve him

Translated by Salafi-Dawah.com.
Source: Taken from the explanation of Zaad al-Mustaqnee` p. 152.

Syeikh kita Muhammad al-Amin Ash-Shinqiti yang meninggal pada tanggal 17/12/1393H rahimahullah hanya mencukupi kebutuhan dirinya di dunia dengan kadar yang sedikit sekali, dan dahulu (ketika ia masih hidup) aku mengenalnya dan dia tidak bisa membedakan nilai mata uang (dalam jenis mata uang yang sama). Dia rahimahullahu pernah sekali berkata kepadaku: "Aku berasal dari negaraku (Shinqit [Mauritania]) bersama dengan harta (ilmu) yang jarang dimiliki oleh orang lain, dan itu adalah kepuasan untukku, jika aku menginginkan status yang tinggi (di dunia), aku pasti tahu cara mencapainya, tapi aku lebih memilih untuk tidak menukar kehidupan akhirat dengan dunia, dan aku tidak mengajarkan ilmu untuk mencapai keinginan duniawi."

Syeikh Bakr Abu Zayd

Sumber: Adab dari Menuntut Ilmu. Diterjemahkan oleh Abu ‘Abdillah Murad ibn Hilmi Ash-Shuweikh, dan dipublikasikan oleh Al-Hidaayah.


The Zuhd of Shaykh Muhammad al-Ameen ash-Shinqeetee

Our Shaykh Muhammad al-Ameen ash-Shinqeetee who died on 17/12/1393H, rahimahullah, took very little from this worldly life, and I used to see him and he could not differentiate between the values of different [notes within the same] currency, and he once said to me: “I came from my country (Shinqeet [Mauritania]) and with me is a treasure that is seldom found in the possession of anyone, and it is contentment, and if I wanted high status, I would have known the way to achieve it, but I chose not to exchange this worldly life for the hereafter, and I do not give my knowledge to attain worldly desires.”

Shaykh Bakr Abu Zayd

Source: The Etiquette of Seeking Knowledge. Translated by Abu ‘Abdillah Murad ibn Hilmi Ash-Shuweikh, and published by Al-Hidaayah.

Kamis, 01 Juni 2017

Apa hukum berenang bagi orang yang berpuasa? 
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjawab: Orang yang berpuasa tidak mengapa berenang. Ia boleh berenang dengan gaya apapun, juga boleh menyelam. Namun ia harus berhati-hati agar tidak meminum air dan tidak masuk ke kerongkongannya sebisa mungkin. Dan berenang ini menyenangkan orang yang berpuasa dan membuatnya terkucur banyak air. Dan sarana apa saja yang membuat ketaatan kepada Allah itu menyenangkan maka itu tidak terlarang. Karena ini termasuk salah satu sarana yang meringankan dan memudahkan ibadah seorang hamba. 
 Allah Tabaaraka Wa Ta’ala berfirman di akhir ayat puasa:
 يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ 
 “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS. Al Baqarah: 185) 
Dan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: 
 إن هذا الدين يسر، ولن يشاد الدين أحد إلا غلبه. 
Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidaklah seseorang berlebih-lebihan dalam urusan agama melainkan agama akan mengalahkannya” (HR. Al Bukhari) 
Selengkapnya: 
https://muslimah.or.id/3939-bolehkah-berenang-ketika-puasa.html 
*** Kunjungi juga https://kangaswad.wordpress.com 

Sabtu, 27 Mei 2017

Menjelang bulan Ramadhan, sebagian kaum Muslimin banyak yang kurang semangat menyambutnya. Karena mereka menganggap bahwa ibadah puasa adalah beban berat dan kesulitan. Padahal nyatanya ibadah puasa itu adalah ibadah yang agung dan luar biasa. Andaikan mereka mengetahui betapa agung dan luar biasanya ibadah puasa, niscaya mereka akan menyambut Ramadhan dengan suka cita.

Puasa Ramadhan Adalah Salah Satu Rukun Islam

Puasa Ramadhan hukumnya wajib berdasarkan firman Allah Ta’ala,
يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم الصّيَام كما كُتب على الذين من قبلكم لعلّكم تتّقون
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kalian bertaqwa” (QS. Al Baqarah: 183).
Dan juga karena puasa ramadhan adalah salah dari rukun Islam yang lima. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
بُنِي الإسلامُ على خمسٍ : شَهادةِ أن لا إلهَ إلا اللهُ وأنَّ محمدًا رسولُ اللهِ ، وإقامِ الصلاةِ ، وإيتاءِ الزكاةِ ، والحجِّ ، وصومِ رمضانَ
Islam dibangun di atas lima rukun: syahadat laa ilaaha illallah muhammadur rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, haji dan puasa Ramadhan” (HR. Bukhari no. 8, 4515 – Muslim no. 16).

Puasa Adalah Ibadah yang Tidak Ada Tandingannya

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda kepada Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu’anhu,
عليك بالهجرةِ فإنَّه لا مثلَ لها ، عليك بالصَّومِ فإنَّه لا مثلَ له ، عليك بالسُّجودِ ، فإنَّك لا تسجُدُ للهِ سجدةً إلا رفعك اللهُ بها درجةً ، وحطَّ عنك بها خطيئةً
“Hendaknya engkau hijrah, karena ia ibadah yang tidak ada tandingannya, hendaknya engkau berpuasa karena puasa itu ibadah yang tidak ada tandingannya, hendaknya engkau bersujud karena tidaklah engkau sujud sekali melainkan Allah tinggikan derajatmu satu derajat dan menghapus satu dosamu” (HR. An Nasa-i no. 2220. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa-i).

Allah Ta’ala Menyandarkan Puasa kepada Diri-Nya

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
يقولُ اللهُ عزَّ وجلَّ كلُّ عمَلِ ابنِ آدمَ له إلا الصيامَ فهو لِي وأنا أجزِي بِهِ
Allah ‘azza wa jalla berfirman: setiap amalan manusia itu bagi dirinya, kecuali puasa. Karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalas pahalanya” (HR. Bukhari no. 1904 , Muslim no. 1151).

Puasa Menggabungkan Tiga Jenis Kesabaran

Sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah, sabar dalam menjauhi hal yang dilarang Allah dan sabar terhadap takdir Allah. Dan semua ini ada dalam ibadah puasa. Padahal pahala kesabaran itu tidak terbatas. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar itu diganjar pahala oleh Allah tanpa batasan” (QS. Az Zumar: 10).

Puasa Akan Memberikan Syafaat Di Hari Kiamat

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
الصِّيامُ والقرآنُ يشفعان للعبدِ يومَ القيامةِ يقولُ الصِّيامُ أيْ ربِّ منعتُه الطَّعامَ والشَّهوةَ فشفِّعني فيه ويقولُ القرآنُ منعتُه النَّومَ باللَّيلِ فشفِّعني فيه قال فيشفعان
“Puasa dan Al-Qur’an, keduanya akan memberi syafaat kelak di hari kiamat. Puasa berkata: ‘Ya Rabb, aku menahannya makan dan menyalurkan syahwatnya, maka izinkanlah aku memberi syafaat padanya’. Al Qur’an berkata: ‘Ya Rabb, aku menahannya dari tidur di malam hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat padanya’. Allah berfirman: ‘jika demikian berilah ia syafa’at’” (HR. Ahmad 10/118. Ahmad Syakir dalam Ta’liq-nya terhadap Musnad Ahmad menyatakan bahwa sanadnya shahih).

Orang Yang Berpuasa Akan Diganjar dengan Ampunan dan Pahala Yang Besar

Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS. Al Ahzab: 35).

Puasa Adalah Perisai dari Api Neraka

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
الصيامُ جُنَّةٌ
“Puasa adalah perisai” (HR. Bukhari no. 1894 , Muslim no. 1151).

Puasa Adalah Sebab Masuk Ke Dalam Surga

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
في الجنة ثمانيةُ أبْوابٍ ، فيها بابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ ، لا يدخلُهُ إلا الصَّائِمُونَ
“Di surga ada delapan pintu, di antaranya ada pintu yang dinamakan Ar Rayyan. Tidak ada yang bisa memasukinya kecuali orang-orang yang berpuasa” (HR. Bukhari no. 3257).

Bau Mulut Orang yang Berpuasa Wangi Di Sisi Allah, dan Ia Mendapatkan Dua Kebahagiaan

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
والذي نفسُ محمدٍ بيدهِ لَخَلوفِ فمِ الصائمِ أطيبُ عندَ اللهِ من ريحِِ المسكِ ,للصائمِ فَرْحتانِ يفرَحْهُما إذا أَفطرَ فَرِحَ ، وإذا لقي ربَّه فَرِحَ بصومِهِ
Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah itu lebih wangi daripada misik. Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan. Kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika ia bertemu Rabb-Nya” (HR. Bukhari no. 1904, Muslim no. 1151).

Arsip

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts