Minggu, 12 Juni 2016

BERAPAKAH JARAK YANG TIDAK BOLEH KITA LALUI DI DEPAN ORANG YANG SEDANG SHALAT..?

“Jarak yang tidak boleh dilalui di depan orang yang sedang shalat, apabila orang yang shalat itu memiliki sutroh (pembatas di depannya), maka diharamkan bagi siapapun untuk berjalan di antara orang yang shalat itu dengan sutrohnya.
Apabila dia tidak ada sutrohnya, tapi ada alas tempat shalatnya, seperti sajadah yang dia pakai untuk shalat di atasnya, maka sajadah tersebut harus dihormati, dan tidak boleh bagi siapapun untuk melewati alas tempat shalatnya itu.
Apabila tidak ada alas tempat shalatnya, maka jarak yang diharamkan adalah antara kaki dan tempat sujudnya, maka tidak ada yang boleh berjalan antara dia dan tempat sujudnya itu”.
[Oleh: Sy Al-Utsaimin -rohimahulloh- dalam Majmu’ Fatawa 13/241].
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى
---🍃🌼🍃---

TIGA HAL PENYEBAB MURKA ALLAH 

قال سفيان الثوري رحمه الله
: احذر سخط الله في ثلاث: » احذر أن تقصر فيما أمرك، » احذر أن يراك وأنت لا ترضى بما قسم لك، » احذر أن تطلب شيئاً من الدنيا فلا تجده ان تسخط على ربك. . »
Sufyan Ats-Tsauri (seorang ulama tabi’in) rahimahullah berkata: “Waspadalah engkau terhadap (datangnya) kemurkaan Allah dalam tiga perkara (yaitu):
1. Waspadalah engkau dari melalaikan perintah-perintah-Nya kepadamu.
2. Waspadalah engkau dari merasa tidak ridho (dan tidak puas) dengan rezeki yang Dia berikan kepadamu, sedangkan Dia selalu melihatmu.
3. Waspadalah engkau dari (sikap ambisi) mengejar harta benda dunia, lalu tatkala engkau tidak mendapatkannya, engkau merasa benci dan marah terhadap Robbmu (Allah Ta’ala).”
(Sumber: Siyar A’laam An-Nubala’, karya imam Adz-Dzahabi VII/244) .
Ustadz Muhammad Wasitho, MA حفظه الله تعالى .
•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•

Via Path Muslimah Shalihaat
Walaupun para ulama belum mewajibkan pada anak-anak yang belum mukallaf (balig) untuk menunaikan puasa. 
Namun, hal ini tidaklah menutup upaya dari para pendidik dan orang tua untuk melatih anak berpuasa. Ini sebagaimana telah dilakukan oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membiasakan melatih anak-anak mereka berpuasa. Itu tergambar dari hadits Rubayyi’ bintu al-Mu’awwidz radhiyallahu ‘anha sebagaimana telah disampaikan pada artikel terdahulu.
Perhatian Islam terhadap anak-anak, dalam hal berpuasa ini, ditunjukkan pula melalui pembahasan khusus dalam Kitab Shahih Al-Bukhari. Al-Bukhari menyebutkan secara khusus terkait puasa anak-anak dengan menyebutkan dalam salah satu bab-nya dengan judul ‘Shiyamu Ash-Shibyan’ (Puasa Anak-anak). Kepedulian ini semestinya bisa memberi dorongan tersendiri bagi para orang tua atau pendidik untuk menghasung anak-anaknya berpuasa.
Ada beberapa faidah yang bisa dipetik melalui upaya melatih anak berpuasa. Diantaranya :
Pertama, menanamkan pada anak keikhlasan dan merasa diawasi oleh Allah Ta’ala. Puasa akan melatih diri anak untuk jujur terhadap dirinya sendiri.
Kedua, menanamkan sikap sabar dengan keadaan yang menimpanya. Saat berpuasa, sang anak tentu merasakan lapar dan dahaga. Saat seperti itulah dirinya dilatih untuk menahan diri (bersabar) agar tidak berbuka. Puasa mengkondisikan dirinya untuk bersikap sabar.
Ketiga, menanamkan nilai-nilai kebaikan. Seseorang yang tengah berpuasa dituntut untuk banyak beramal salih. Mulai dari menjaga lisan untuk tak berucap yang tidak baik hingga menyempurnakan ibadah lainnya, seperti shalat, membaca Alquran, sedekah dan sebagainya. Keadaan bulan Ramadhan sangat membuka peluang bagi anak-anak untuk bisa beramal salih.
Keempat, menumbuhkan jiwa kesetiakawanan (solidaritas) dan kesetaraan.
Kelima, menanamkan jiwa untuk bermurah hati, suka berderma. Sebagaimana dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat Ramadhan, beliau begitu sangat pemurah. Demikian diantara faidah melatih anak berpuasa. 
Wallahu a’lam.
Sumber: http://salafy.or.id/blog/2013/07/08/melatih-anak-berpuasa/

Senin, 06 Juni 2016

Sebagian mubaligh atau penceramah menjelaskan bahwa diantara hikmah berpuasa ialah melatih diri menjadi orang miskin. Ada pula yang mengatakan bahwa dengan berpuasa anda sedikit mencicipi rasa derita yang di alami oleh orang miskin.
Sekilas ucapan di atas sungguh rasional, namun tatkala anda renungkan lebih mendalam ucapan di atas kurang sejalan dengan ayat berikut:
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ)
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al Baqarah 183)
Dengan jelas alasan berpuasa ialah agar anda menjadi orang yang bertaqwa, bukan agar anda menjadi orang miskin atau minimal memiliki kesiapan mental menjadi orang miskin.
Tentu dua hal ini sangatlah berbeda jauh, karena anda pasti tahu bahwa untuk menjadi orang yang bertaqwa tidaklah harus menjadi miskin terlebih dahulu. Kalaupun anda adalah orang kaya paling kaya, anda memiliki peluang besar menjadi orang yang bertakwa, sama besarnya dengan orang yang miskin.
Faktanya, betapa banyak orang miskin kafir, fasik dan sesat, sebaliknya betapa banyak orang kaya raya yang bertakwa, salah satunya ialah anda wahai saudaraku yang sedang membaca tulisan ini, bukankah demikian?
Saudaraku, sadarilah sejatinya taqwa ialah kemampuan anda mengendalikan hawa nafsu anda, sehingga hawa nafsu anda senantiasa tunduk dan patuh kepada aturan syari’at agama. Bukan hanya tunduk dan patuh, bahkan anda berhasil menjadikan hawa nafsu anda bagian dari ibadah anda. Sebagaimana ketika berpuasa, anda menuruti nafsu makan dan minum karena menjalankan perintah dan mengharapkan pahala, bukan hanya sekedar melampiaskan selera belaka.
ANda menyantap hidangan buka puasa dan makan sahur, karena menjalankan perintah dan keteladanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:
لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْإِفْطَارَ وَأَخَّرُوا السُّحُورَ
“Ummatku akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan makan sahurnya.” (Ahmad dan lainnya)
Sebagaimana pula anda menghentikan nafsu anda dalam rangka menjalankan perintah, sebagaimana tergambar pada firman Allah berikut ini:
)أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ اللّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ
الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ(
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam” (Al Baqarah 187)
Kemampuan untuk senantiasa menundukkan hawa nafsu alias mengendalikan hawa nafsu semacam inilah hakikat dari ketakwaan.
Orang yang bertaqwa adalah orang yang benar-benar berhasil menundukkan hawa nafsunya, sehingga tiada yang ia inginkan atau cintai kecuali yang Allah dan Rasul-Nya cintai. Dan tiada yang ia benci kecuali sesuatu yang Allah Ta’ala dan Rasul-Nya benci. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من نفسه وولده وأهله والناس أجمعين
“Tidaklah engkau dianggap beriman hingga diriku lebih ia cintai dibanding dirinya, anak keturunannya, keluarganya dan seluruh manusia.” (Muttafaqun ‘alaih)
Jadi ndak perlu berlatih kelaparan atau mencicipi hidup dalam kemiskinan. Silahkan anda menjadi orang kaya, namun berlatihlah mengendalikan hawa nafsu anda, agar tiada mendorong anda untuk berbuat maksiat, bahkan sebaliknya terus mengobarkan semangat dalam diri anda untuk terus mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala Sang Penciptanya.
Karena itu sangat ironis bila selama bulan puasa; di siang hari anda berjuang mengendalikan hawa nafsu, namun ketika malam telah tiba anda kembali mengumbar hawa nafsu anda seakan anda kehilangan kekang atau kendali. Bila demikian ini sikap anda, maka dapat dipastikan anda gagal mengilhami nilai-nilai taqwa yang bertujuan menghantarkan anda menjadi orang yang benar-benar bertaqwa.
Selamat berpuasa, semoga Allah memudahkan anda untuk mengendalikan hawa nafsu anda. 
Diambil dari tulisan Ustādz DR. Muhammad Arifin Badri, MA حفظه الله تعالى

Artikel Terbaru

Popular Posts