Rabu, 30 Desember 2015

“Mengapa kita tidak boleh merayakan tahun baru Masehi ?! Seluruh dunia pun serempak merayakan, 
Kenapa kita tidak...! Inikan hari kebahagiaan seluruh umat manusia dengan bergantinya tahun yang baru, kenapa kita sia-siakan momen tersebut?!”. 

Ungkapan di atas tidak jarang kita dengar dari saudara saudari kita pra/di malam tahun baru. Seolah-olah mengisyaratkan bentuk ke-tidak setujuan mereka ketika dilarang dari merayakan malam tahun baru.

Sebagai seorang muslim sepatutnya memahami terlebih dahulu perkara yang sangat dasar terkait dengan perayaan malam tahun baru, sehingga agar tidak terbawa perasaan untuk menentangnya. 

Dalam hal ini hendaknya kita melihat dua sisi penting terkait perayaan malam tahun baru:

1. Dari sisi asal-muasal perayaan malam tahun baru Masehi

Saudaraku kaum Muslimin, ketika kita melihat sejarah umat Islam silam ternyata kita tidak mendapati nukilan sejarah ataupun riwayat tentang adanya perayaan malam tahun baru Masehi. Bahkan bangsa-bangsa selain Islamlah yang mengawali diadakannya perayaan tersebut. 

Bangsa Romawi kuno, merayakan pesta tahun baru dengan memberikan potongan dahan pohon suci, dimaksudkan adalah untuk menghormati Dewa Janus yang mereka anggap sebagai Dewa pintu dan semua permulaan hidup.

Kemudian Bangsa Yunani, mereka merayakan tahun baru dengan menebarkan buah delima (yang diyakini sebagai lambang kesuburan dan kesuksesan) di pintu-pintu rumah, kantor dan yang lainnya sebagai simbol doa untuk mendapatkan kemakmuran sepanjang tahun.

Dari sinilah kita mengetahui bahwa merayakan malam tahun baru Masehi bukan berasal dari Islam sedikit pun.

2. Dari sisi bentuk perayaan malam tahun baru

Tidak elak bagi kita dari fakta kaum Muslimin yang memeriahkan malam tahun baru dengan berbagai macam bentuk dan model dari mulai meniupkan terompet, membunyikan petasan atau kembang api sampai kepada kemaksiatan yang sangat parah hanya untuk melambangkan kesenangan sesaat di malam tahun baru.

Belum lagi ditambah dengan adanya keyakinan-keyakinan tertentu yang tidak benar, dan rahasia di balik perayaan malam tahun baru, bagi bangsa-bangsa lain yang erat kaitannya dengan agama dan kepercayaan mereka. 

- Bangsa Romawi kuno, sebagaimana yang telah kita sebutkan di atas bahwa pesta tahun baru yang mereka rayakan dengan memberikan potongan dahan pohon suci, dimaksudkan adalah untuk menghormati Dewa Janus yang mereka anggap sebagai Dewa pintu dan semua permulaan hidup (yang digambarkan bermuka dua, satu menghadap ke depan dan satu menghadap ke belakang).  
- Bangsa Yunani, mereka merayakan tahun baru dengan menebarkan buah delima -yang di yakini sebagai lambang kesuburan dan kesuksesan- di pintu-pintu rumah, kantor dan yang lainnya sebagai simbol doa untuk mendapatkan kemakmuran sepanjang tahun.

- Orang-orang Brazil, merayakan tahun baru dengan menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai, sebagai tanda penghormatan terhadap Dewa Lemanja yang mereka yakini sebagai dewa laut dalam legenda mereka.

- Adapun umat Kristen, mereka menjadikan perayaan ini sebagai perayaan suci dari agama mereka dan menjadikannya satu paket yang tidak bisa di pisahkan dengan hari Natal. Karena tahun baru Masehi di kaitkan dengan lahirnya Yesus kristus menurut versi mereka.

Sikap Seorang Muslim di Malam Tahun Baru Masehi  

Setelah kita mengetahui perkara di atas, maka sikap apa yang harus diambil oleh setiap muslim ketika ada perayaan malam tahun baru...??

Sikap yang benar adalah menjauh dari berbagai macam bentuk perayaan tersebut, tidak ikut serta memeriahkannya baik secara fisik maupun secara materi, karena perayaan ini hukumnya adalah haram di lakukan oleh umat Islam, dengan dalil sebagai berikut:

(1) Perayaan malam tahun baru adalah ibadah orang kafir dan bukan berasal dari Islam.

(2) Memeriahkan pesta malam tahun baru merupakan bentuk penyerupaan terhadap orang kafir. 
Nabi ﷺ bersabda:

“Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” [HR. Ahmad dan Abu Dawud]

(3) Perayaan malam tahun baru penuh dengan kemaksiatan, sebagaimana yang telah dipaparkan.

(4) Perayaan malam tahun baru adalah perkara baru yang tidak di contohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam dan para generasi terbaik umatnya.

(5) Mengikuti hari raya mereka termasuk bentuk loyalitas dan menampakkan rasa cinta kepada mereka. Padahal Allah melarang kita untuk menjadikan mereka sebagai kekasih (memberikan loyalitas) dan menampakkan cinta kasih kepada mereka. Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (rahasia), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu..” [lihat QS. al-Mumtahanah: 1]

(6) Hari raya merupakan bagian dari agama dan doktrin keyakinan, bukan semata perkara dunia dan hiburan. 

Ketika Nabi ﷺ datang di kota Madinah, penduduk kota tersebut merayakan dua hari raya, Nairuz dan Mihrajan. Beliau pernah bersabda di hadapan penduduk Madinah:

“Saya mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari raya, yang kalian jadikan sebagai waktu untuk bermain. Padahal Allah telah menggantikan dua hari raya terbaik untuk kalian; idul fitri dan idul adha.” [HR. Abu Dawud]

Perayaan Nairuz dan Mihrajan yang dirayakan oleh penduduk Madinah, isinya hanya bermain-main dan makan-makan. Sama sekali tidak ada unsur ritual sebagaimana yang dilakukan oleh orang Majusi. Namun mengingat dua hari tersebut adalah perayaan orang kafir, Nabi shallallahu ‘alahi wasallam melarangnya. Sebagai gantinya, Allah memberikan dua hari raya terbaik: Idul Fitri dan Idul Adha.

Oleh karenanya, turut bergembira dengan perayaan orang kafir, meskipun hanya bermain-main, tanpa mengikuti ritual keagamaannya, termasuk perbuatan yang terlarang, karena termasuk turut menyukseskan acara mereka. 

Allahu a’lam bis showab..

Oleh: ✍ Ustādz Hermawan, Lc  حفظه الله تعالى

 Group WA Suara Al-Iman 

Sumber Berita: atturots.or.id


Simak pula pembahasan seputar Tahun Baru  http://www.annashihah.org/2015/12/tahun-baru-perayaan-orang-kafir-yang.html


0 komentar:

Posting Komentar

Artikel Terbaru

Popular Posts