Minggu, 11 Oktober 2015

Hakikat membeli barang secara kredit adalah membeli barang dengan cara berutang. Utang tidak dianjurkan dalam syariat Islam kecuali seseorang membutuhkan barang tersebut dan ia merasa mampu untuk melunasinya. Maka tidak dianjurkan seorang muslim untuk membeli barang yang merupakan kebutuhan luks secara kredit.

Jual beli kredit dibolehkan dalam Islam sebagaimana hasil keputusan Majma' Al Fiqh Al Islami (divisi fikih OKI), No. 51 (2/6) 1990 yang berbunyi,
"Boleh melebihkan harga barang yang dijual dengan tidak tunai daripada dijual tunai ... dan harganya dicicil dalam jangka waktu tertentu."
Sekalipun akad jual-beli kredit dengan harga yang lebih mahal dibandingkan harga tunai pada dasarnya dibolehkan akan tetapi ada persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi untuk keabsahannya, yang jika tidak terpenuhi akad ini menjadi tidak sah, bahkan menjadi riba dan keuntungannya menjadi harta haram.

Persyaratan tersebut adalah sebagai berikut:
  • a. Akad ini tidak dimaksudkan untuk melegalkan riba. Maka tidak boleh jual-beli 'inah. Juga tidak boleh dalam akad jual-beli kredit dipisah antara harga tunai dan margin yang diikat dengan waktu dan bunga, karena ini menyerupai riba.
  • b. Barang terlebih dahulu dimiliki penjual sebelum akad jual-beli dilangsungkan. Maka tidak boleh pihak jasa kredit melangsungkan akad jual-beli kredit motor dengan konsumennya, kemudian setelah ia melakukan akad jual-beli, memesan motor dan membelinya ke salah satu pusat penjualan motor lalu menyerahkannya kepada pembeli.
  • c. Pihak penjual kredit tidak boleh menjual barang -yang telah dibeli tapi belum diterima dan belum berada ditangannya- kepada konsumen. Maka tidak boleh pihak jasa kredit melangsungkan akad jual-beli kredit motor dengan konsumennya sebelum barang yang telah dibelinya dari dealer motor diterimanya.
  • d. Barang yang dijual bukan merupakan emas, perak, atau mata uang dengan cara kredit. Maka tidak boleh menjual emas dengan cara kredit karena ini termasuk riba ba'i.
  • e. Barang yang dijual secara kredit harus diterima pembeli tunai pada saat akad berlangsung. Maka tidak boleh transaksi jual beli kredit dilakukan hari ini dan barang diterima pada keesokan harinya. Karena ini termasuk jual beli utang dengan utang yang diharamkan.
  • f. Pada saat transaksi dibuat harga harus satu dan jelas serta besarnya angsuran dan jangka waktunya juga harus jelas.
  • g. Akad jual beli kredit harus tegas. Maka tidak boleh akad dibuat dengan cara beli sewa (leasing).
  • h. Tidak boleh membuat persyaratan kewajiban membayar denda, atau harga barang menjadi bertambah jika pembeli telat membayar angsuran. Karena ini adalah bentuk riba yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah di masa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.



dikutip dari buku Harta Haram Muamalat Kontemporer - Dr. Erwandi Tarmizi, MA.
cetakan kesembilan Januari 2015


0 komentar:

Posting Komentar

Artikel Terbaru

Popular Posts