Minggu, 18 Oktober 2015

Imam Ahmad mengatakan, bahwa akhir dari waktu Isya' adalah sepertiga malam. Karena, dalam sebuah hadits tentang malaikat Jibril disebutkan, bahwa beliau pernah shalat bersama Nabi Shallallāhu Alaihi wa Sallam untuk kedua kalinya pada sepertiga malam, dimana Nabi bersabda yang artinya: "Waktu shalat Isya' adalah antara dua waktu ini." Juga dalam Hadits dari Buraidah disebutkan, bahwa Nabi mengerjakan shalat Isya' pada hari yang kedua hingga memasuki sepertiga malam.

Demikian pula dari Aisyah Radhiyallahu Anha dinyatakan, bahwa Rasulullah bersabda:
صلوا فيما بين أن  يغيب الشفق إلى  ثلث الليل 
"Kerjakanlah shalat Isya' pada waktu terbenamnya awan merah sampai sepertiga malam yang pertama." (HR. Muttafaqun 'Alayhi) 

Abu Hanifah berpendapat, bahwa pada akhir dari waktu shalat Isya' itu adalah sampai pertengahan malam. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, dimana ia bercerita:
أَخَّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةَ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ ثُمَّ صَلَّى، ثُمَّ قَالَ: قَدْ صَلَّى النَّاسُ وَنَامُوْا، أَمَّا إِنَّكُمْ فِي صَلاَةٍ مَا انْتَظَرْتُمُوْهَا
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan shalat isya sampai pertengahan malam kemudian beliau shalat, lalu berkata, “Sungguh manusia telah shalat dan mereka telah tidur, adapun kalian terhitung dalam keadaan shalat selama kalian menanti waktu pelaksanaan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 572 dan Muslim no. 1446)

Demikian juga hadits dari Abdullah bin Umar ia berkata; bahwa Nabi shallallaahu'alaihi alaihi wasallam telah bersabda:
"Waktu shalat Isya' itu sampai pertengahan malam." (HR. Abu Dawud)

Berkenaan dengan masalah ini penulis berpendapat: Diperbolehkan bagi wanita muslimah mengakhirkan shalat Isya' sampai pertengahan malam, dimana hal ini disebut sebagai waktu darurat yang hukumnya sama seperti waktu darurat dalam shalat Ashar. Jadi, diperbolehkannya melaksanakan shalat Isya' pada sepertiga malam yang pertama atau pertengahan malam dan bahkan sampai hampir memasuki waktu fajar adalah apabila benar-benar berada dalam kondisi darurat. Adapun yang afdal (lebih utama) adalah mengerjakan shalat tepat pada waktunya untuk menambah pahala dari Allah  Subhānahu wa-Ta’āla.

Sumber: Buku Fiqih Wanita edisi Lengkap - Syaikh Kamil Muhammad 'Uwaidah

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel Terbaru

Popular Posts