Minggu, 18 Oktober 2015

Istiqomah dalam menjalankan agama hingga akhir hayat merupakan dambaan kita semua. Hanya saja istiqomah bukanlah sesuatu yang mudah. Tidak seperti menelan ludah atau memotong lidi hingga patah.

Oleh karena itu Allah 'azza wa jalla dan Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan beberapa keutamaan istiqomah, agar kita termotivasi untuk dapat mengamalkannya.

Berikut di antara keutamaan tersebut:

★ Tidak merasa ketakutan
★ Tidak bersedih hati
★ Kekal di dalam surga (QS. al-Ahqaf: 13-14)
★ Kabar gembira di dunia dan akhirat
★ Di dalam surga mendapatkan apa yang dahulu diinginkan ketika di dunia (QS. Fushshilat: 30-31)
★ Mendapatkan kehidupan yang baik lagi penuh kebahagiaan (QS. an-Nahl: 97)
★ Mendapatkan keamanan di dunia dan akhirat (QS. al-An'am: 82)
★ Mendapatkan kecintaan dari Allah (HR. al-Bukhari)
★ Kelapangan dan keberkahan pada rezeki (QS. al-Jin: 16 & al-A'rof: 96)
★ Dihapuskannya dosa-dosa dan dilipatgandakannya pahala (QS. ath-Thalaq: 5)
★ Husnul khotimah insya Allah.

Semoga Allah memberikan taufik dan kemudahan bagi kita untuk dapat istiqomah dalam menjalankan syariat-Nya. Aamiin.


✅ Bagian Indonesia
🏠 ICC DAMMAM KSA
📱 +966556288679
==================
📅 [ 05/01/1437 H]

IBU

IBU....

Siapapun yang masih memiliki Ibu,
maka kejarlah baktimu disisa waktunya.
Agar tak ada sesal bila suatu hari nanti engkau mengetuk pagi,
namun tak kau dapati tempat untuk mengucap kata "Ibu".
Semua yang pergi mungkin berganti.
Tapi hanya ada satu ibu, dan ia takkan pernah tergantikan.

__________
Madinah 04-01-1437 H
ACT El-Gharantaly


✍ Ustādz Aan Chandra Thalib حفظه الله تعالى
Imam Ahmad mengatakan, bahwa akhir dari waktu Isya' adalah sepertiga malam. Karena, dalam sebuah hadits tentang malaikat Jibril disebutkan, bahwa beliau pernah shalat bersama Nabi Shallallāhu Alaihi wa Sallam untuk kedua kalinya pada sepertiga malam, dimana Nabi bersabda yang artinya: "Waktu shalat Isya' adalah antara dua waktu ini." Juga dalam Hadits dari Buraidah disebutkan, bahwa Nabi mengerjakan shalat Isya' pada hari yang kedua hingga memasuki sepertiga malam.

Demikian pula dari Aisyah Radhiyallahu Anha dinyatakan, bahwa Rasulullah bersabda:
صلوا فيما بين أن  يغيب الشفق إلى  ثلث الليل 
"Kerjakanlah shalat Isya' pada waktu terbenamnya awan merah sampai sepertiga malam yang pertama." (HR. Muttafaqun 'Alayhi) 

Abu Hanifah berpendapat, bahwa pada akhir dari waktu shalat Isya' itu adalah sampai pertengahan malam. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, dimana ia bercerita:
أَخَّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةَ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ ثُمَّ صَلَّى، ثُمَّ قَالَ: قَدْ صَلَّى النَّاسُ وَنَامُوْا، أَمَّا إِنَّكُمْ فِي صَلاَةٍ مَا انْتَظَرْتُمُوْهَا
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan shalat isya sampai pertengahan malam kemudian beliau shalat, lalu berkata, “Sungguh manusia telah shalat dan mereka telah tidur, adapun kalian terhitung dalam keadaan shalat selama kalian menanti waktu pelaksanaan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 572 dan Muslim no. 1446)

Demikian juga hadits dari Abdullah bin Umar ia berkata; bahwa Nabi shallallaahu'alaihi alaihi wasallam telah bersabda:
"Waktu shalat Isya' itu sampai pertengahan malam." (HR. Abu Dawud)

Berkenaan dengan masalah ini penulis berpendapat: Diperbolehkan bagi wanita muslimah mengakhirkan shalat Isya' sampai pertengahan malam, dimana hal ini disebut sebagai waktu darurat yang hukumnya sama seperti waktu darurat dalam shalat Ashar. Jadi, diperbolehkannya melaksanakan shalat Isya' pada sepertiga malam yang pertama atau pertengahan malam dan bahkan sampai hampir memasuki waktu fajar adalah apabila benar-benar berada dalam kondisi darurat. Adapun yang afdal (lebih utama) adalah mengerjakan shalat tepat pada waktunya untuk menambah pahala dari Allah  Subhānahu wa-Ta’āla.

Sumber: Buku Fiqih Wanita edisi Lengkap - Syaikh Kamil Muhammad 'Uwaidah

Selasa, 13 Oktober 2015

Bismillahirrahmanirrahim

Sahabat fillah….

Tak terasa kita sudah berada di penghujung tahun 1436 H. Sebelum fajar di tahun esok menjelang, ada baiknya kita melihat kembali lembaran-lembaran hari yang telah kita lalui. Iya, melihat kembali masa lalu, bukan untuk terus tenggelam, tapi untuk bangkit dan menjadi manusia baru di sisa waktu yang ada.

Bergantinya siang dan malam, hari demi hari, musim demi musim, tahun demi tahun semestinya membuat kita sadar bahwa saat ini kita sedang berada dalam sebuah perjalanan. Sejak kita dilahirkan, sejak itulah pengembaran kita dimulai, lalu kita belajar untuk mengerti bahwa dunia hanyalah tempat singgah, dan setelah itu tak ada lagi kecuali dua pilihan, indahnya surga atau pedihnya neraka wal iyaadzu billah.

Muhasabah .. Mungkin itulah hal yang tepat untuk kita lakukan sebelum memasuki tahun baru 1437 H esok. Muhasabah berarti melihat kembali setiap lembaran hidup yang pernah kita lalui, apakah ada amal sholeh yang sudah kita persembahkan untuk terus kita tingkatkan ditahun yang akan datang, atau kekurangan-kekurangan yang nantinya akan kita perbaiki disaat fajar esok menjelang.

Allah azza wa jalla berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS: Al-Hasyr: 18)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Setiap hamba semestinya memiliki waktu-waktu tertentu dimana dia menyendiri di dalamnya dengan do’a, dzikir,shalat, tafakkur dan untuk melakukan muhasabah terhadap dirinya serta memperbaiki kondisi hatinya).”(Al-Majmu’ Jilid:10).

Jauh sebelum Syaikhul Islam, Imam Al-Hasan Al-Basri telah menyinggung urgensi muhasabah dalam ungkapannya yang berbunyi: "Manusia akan senantiasa dlm kebaikan selama masih ada penasehat dlm hatinya, dan muhasabah selalu menjadi obsesinya"(Mawaa'idz Hasan Al-Basri). 

Sahabat fillah mungkin bertanya, "Mengapa harus muhasabah...?"
Karena dengan muhasabah kita telah memberi peluang bagi jiwa untuk merespon berbagai perubahan dalam hidup yang selama ini kita jalani, mengajak kita untuk melihat kembali keadaan diri dengan usia yang pada hakikatnya semakin berkurang.
Melihat berarti mengevaluasi, lalu merevisinya ke arah yang lebih baik. Ini bukan pekerjaan yang mudah, ditengah banyaknya orang yang tidak mau melihat kembali rekam jejak hidupnya, apalagi berfikir untuk merubahnya.

Muhasabah juga akan mengilhami diri untuk melakukan berbagai perbaikan disaat yang lain tak peduli dengan perguliran waktu, sehingga cenderung membiarkannya mengalir sepeti air, tanpa perencanaan dan tujuan yang jelas. Padahal kita sering membaca sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang artinya: “Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang mendatangkan manfaat bagimu dan jangan merasa lemah”.

Lebih jauh Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu menegaskan hal yang semakna dalam ungkapannya yang masyhur, "Tiada hari yang lebih aku sesali selain hari dimana mataharinya tenggelam dihari itu, umurku berkurang sementara amalku tidak bertambah". Bagi orang beriman, bergantinya masa berarti bertambahnya ketakwaan dan ketaatan kepada Allah.

Sahabat….
Ditengah padatnya rutinitas kerja, luangkanlah waktu sejenak untuk bertanya pada diri, "Sudah sejauh mana kita melangkah? dan seberapa banyak bekal yang telah kita siapkan? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu kita butuh kesadaran yang mendalam. Iya, Kesadaran bahwa semua akan berakhir dan berbalas. Kesadaran, bahwa kita hanya akan mengetam apa yang kita tanam. Kesadaran, bahwa kita sedang berpacu dengan waktu. Kesadaran, bahwa kematian lebih cepat datangnya dari semua angan-angan yang kita miliki. Pertanyaan- pertanyaan itu harus segera terjawab sebelum hidup digerogoti usia hingga tak lagi bisa melakukan perubahan yang berarti.

Di dalam kitab Hilyatul auliya’ Abu Nuaim -rahimahullah- mengisahkan: Suatu hari Fudhail bin Iyadh bertemu dengan seseorang. Beliau lantas bertanya kepada orang itu: "Berapa umur anda?". "Enam puluh tahun", jawab laki-laki itu. "Kalau begitu sejak enam puluh tahun yang lalu anda sudah berjalan menuju Allah, dan perjalananmu hampir saja tiba." "Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji'ûn", ujar lelaki itu. "Apakah anda tahu maknanya?" Tanya Fudhail. Lelaki itu menjawab: "ya, saya tahu. Saya adalah hamba Allah dan hanya kepada-Nya saya akan kembali."

Fudhail lalu menasehatinya:

 ﻳﺎ ﺃﺧﻲ، ﻣﻦ ﻋﺮﻑ ﺃﻧﻪ ﻟﻠﻪ ﻋﺒﺪ، ﻭأنه ﺇﻟﻴﻪ ﺭﺍﺟﻊ، ﻓﻠﻴﻌﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻣﻮﻗﻮﻑ ﺑﻴﻦ ﻳﺪﻳﻪ، ﻓﻠﻴﻌﻠﻢ ﺍﻧﻪ ﻣﺴﺌﻮﻝ، وﻣﻦ ﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ مسئول ﻓﻠﻴﻌﺪ ﻟﻠﺴﺆﺍﻝ ﺟﻮﺍﺑﺎ 

"Wahai saudaraku... Barangsiapa yang menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah dan hanya kepada-Nya ia kembali, hendaknya dia juga menyadari bahwa dia akan berdiri di hadapan-Nya dan akan ditanya (oleh-Nya). Dan barangsiapa yang menyadari bahwa dirinya akan ditanya maka hendaknya ia mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan tersebut." Laki-laki itu pun menangis lantas bertanya kepada Fudhail: "lalu apa yang harus aku perbuat?" "Mudah", jawab Fudhail. "Apa? Semoga Allah merahmatimu." Tanya laki-laki itu lagi.

Fudhail menasehatinya lagi:

 ﺗُﺤﺴﻦ ﻓﻴﻤﺎ بقي، ﻳﻐﻔﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻚ ﻣﺎﻗﺪ ﻣﻀﻰ ﻭﻣﺎ بقي، ﻓﺈﻧﻚ ﺇﻥ ﺃﺳﺄﺕ ﻓﻴﻤﺎ بقي ﺃُﺧﺬﺕ ﺑﻤﺎ ﻣﻀﻰ ﻭﻣﺎ بقي

 "Berbuat baiklah disisa umurmu, niscaya Allah akan mengampuni apa yang telah lalu dan yang masih tersisa dari umurmu . Namun bila engkau berbuat keburukan pada apa yang masih tersisa niscaya engkau akan dihukum atas apa-apa yang telah lalu dan yang masih tersisa darimu."

Sungguh nasehat yang luar biasa.

Sahabat fillah… Anda mungkin pernah membaca kisah saat Rasulullah memegang pundak Ibnu Umar dan berkata,

”Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau pengembara.”

Ibnu Umar –radhiallahu anhuma- berkata: ”Jika engkau berada di sore hari, maka jangan menunggu pagi tiba. Dan jika engkau berada di pagi hari, maka jangan menunggu sore tiba, pergunakan masa sehatmu untuk masa sakitmu, dan kehidupanmu untuk kematianmu.”(HR. Bukhari)
Atau membaca sabda beliau yang berbunyi: “Apa urusanku dengan dunia? sungguh perumpamaanku dengan dunia laksana seorang pengembara yang berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian berlalu dan meninggalkannya”(HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah).

Atau pesan Ali –radhiallahu anhu- yang berbunyi
”Sesungguhnya dunia telah pergi berlalu dan akhirat telah datang dihadapan. Keduanya memiliki anak-anak . Maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak anak dunia, karena hari ini (hari-hari dunia) adalah hari untuk beramal dan bukan (hari) perhitungan dan esok adalah (hari) perhitungan dan bukan (hari untuk) amal.

Atau pesan Al-Hasan yang Masyhur:
“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari-hari. Jika berlalu sebagian dari harimu ,maka berlalu pula sebagian dari dirimu”. “wahai anak Adam, sesungguhnya engkau berada diatara dua kenderaan yang siap mengantarkanmu. Siang mengantarkanmu pada malam dan malam pun mengantarkanmu pada siang. Selanjutnya keduanya akan mengantarkanmu pada akhirat, maka siapakah yang lebih besar marabahayanya darimu wahai anak adam? Sungguh tali kematian telah diikatkan diatas ubun-ubun setiap kalian, sementara dunia dilipat dari belakang kalian." 

Kedua hadits dan atsar diatas pada hakikatnya sedang mengajari kita tentang logika kehidupan yang harus kita pahami lebih dalam, bahwa hidup tak ubahnya seorang musafir yang lewat kemudian mampir untuk berteduh selanjutnya pergi untuk meneruskan perjalanan. Pemaknaan yang baik terhadap logika itulah yang nantinya akan membuat hidup kita menjadi berarti atau mungkin berbalik tak ubahnya seperti mobil tua yang hanya memberi nilai pada sisi sejarah tanpa bisa mengantarkan penumpangnya pada cita-cita yang dituju. Dan itu tak boleh terjadi, sebab hidup hanya datang sekali. Gerak dan pilihan untuk terus maju dan memperbaharui diri adalah prinsip besar yang harus kita pilih sebelum semuanya terlambat. 

Semoga catatan kecil ini bermanfaat untuk kami pribadi dan pembaca sekalian. 

Baarakallahu fiikum Wallahu ta’ala a’lam _______________________

Madinah 29 Dzulhijjah 1433 H
ACT El Gharantaly.
Ditulis ulang dengan berbagai perubahan pada 30 Dzulhijjah 1436 H

Minggu, 11 Oktober 2015

Hakikat membeli barang secara kredit adalah membeli barang dengan cara berutang. Utang tidak dianjurkan dalam syariat Islam kecuali seseorang membutuhkan barang tersebut dan ia merasa mampu untuk melunasinya. Maka tidak dianjurkan seorang muslim untuk membeli barang yang merupakan kebutuhan luks secara kredit.

Jual beli kredit dibolehkan dalam Islam sebagaimana hasil keputusan Majma' Al Fiqh Al Islami (divisi fikih OKI), No. 51 (2/6) 1990 yang berbunyi,
"Boleh melebihkan harga barang yang dijual dengan tidak tunai daripada dijual tunai ... dan harganya dicicil dalam jangka waktu tertentu."
Sekalipun akad jual-beli kredit dengan harga yang lebih mahal dibandingkan harga tunai pada dasarnya dibolehkan akan tetapi ada persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi untuk keabsahannya, yang jika tidak terpenuhi akad ini menjadi tidak sah, bahkan menjadi riba dan keuntungannya menjadi harta haram.

Persyaratan tersebut adalah sebagai berikut:
  • a. Akad ini tidak dimaksudkan untuk melegalkan riba. Maka tidak boleh jual-beli 'inah. Juga tidak boleh dalam akad jual-beli kredit dipisah antara harga tunai dan margin yang diikat dengan waktu dan bunga, karena ini menyerupai riba.
  • b. Barang terlebih dahulu dimiliki penjual sebelum akad jual-beli dilangsungkan. Maka tidak boleh pihak jasa kredit melangsungkan akad jual-beli kredit motor dengan konsumennya, kemudian setelah ia melakukan akad jual-beli, memesan motor dan membelinya ke salah satu pusat penjualan motor lalu menyerahkannya kepada pembeli.
  • c. Pihak penjual kredit tidak boleh menjual barang -yang telah dibeli tapi belum diterima dan belum berada ditangannya- kepada konsumen. Maka tidak boleh pihak jasa kredit melangsungkan akad jual-beli kredit motor dengan konsumennya sebelum barang yang telah dibelinya dari dealer motor diterimanya.
  • d. Barang yang dijual bukan merupakan emas, perak, atau mata uang dengan cara kredit. Maka tidak boleh menjual emas dengan cara kredit karena ini termasuk riba ba'i.
  • e. Barang yang dijual secara kredit harus diterima pembeli tunai pada saat akad berlangsung. Maka tidak boleh transaksi jual beli kredit dilakukan hari ini dan barang diterima pada keesokan harinya. Karena ini termasuk jual beli utang dengan utang yang diharamkan.
  • f. Pada saat transaksi dibuat harga harus satu dan jelas serta besarnya angsuran dan jangka waktunya juga harus jelas.
  • g. Akad jual beli kredit harus tegas. Maka tidak boleh akad dibuat dengan cara beli sewa (leasing).
  • h. Tidak boleh membuat persyaratan kewajiban membayar denda, atau harga barang menjadi bertambah jika pembeli telat membayar angsuran. Karena ini adalah bentuk riba yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah di masa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.



dikutip dari buku Harta Haram Muamalat Kontemporer - Dr. Erwandi Tarmizi, MA.
cetakan kesembilan Januari 2015


Rabu, 07 Oktober 2015

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggir jannah (surga) bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan berkepanjangan meskipun ia dalam kebenaran (al haq), juga sebuah rumah di tengah jannah bagi siapa saja yang meninggalkan berbohong walaupun ia sedang bercanda, serta sebuah rumah di puncak jannah bagi siapa saja yang berakhlak mulia.” (HR. Abu Dawud, Dinyatakan Hasan shahih oleh Syaikh Al Albani)


Umar Bin Khattab berkata :
لا يجد عبد حقيقة الإيمان حتى يدع المراء وهو محق ويدع الكذب في المزاح وهو يرى أنه لو شاء لغلب

“Seseorang tidak akan merasakan hakikat iman sampai ia mampu meninggalkan perdebatan yang berkepanjangan meskipun ia dalam kebenaran, dan meninggalkan berbohong meskipun hanya bercanda padahal ia tahu seandainya ia mau ia pasti menang dalam percebatan itu”
(Kanzul Ummal juz 3 hal 1165)

Imam Ishaq bin Isa berkata :
المِراء والجِدال في العلم يَذهبُ بنور العلم من قلب الرجل

“Imam Malik bin Anas mengatakan : “Debat kusir dan pertengkaran dalam masalah ilmu akan menghapuskan cahaya ilmu dari hati seseorang”

Imam Ibnu Wahab berkata :
“Aku mendengar Imam Malik bin Anas mengatakan :

المراء في العلم يُقسِّي القلوب ، ويورِّث الضغن

“Perdebatan dalam ilmu akan mengeraskan hati dan menyebabkan kedengkian”
(Jaami’ al Uluum wak Hikam 11/16)

Perdebatan Yang Tercela:
Yaitu semua perdebatan dengan kebatilan, atau berdebat tentang kebenaran setelah jelasnya, atau perdebatan dalam perkara yang tidak diketahui oleh orang-orang yang berdebat, atau perdebatan dalam mutasyabih (1) dari Al-Qur’an atau perdebatan tanpa niat yang baik dan yang semisalnya.

Perdebatan Yang Terpuji:
Adapun jika perdebatan itu untuk menampakkan kebenaran dan menjelaskannya, yang dilakukan oleh seorang ‘alim dengan niat yang baik dan konsisten dengan adab-adab (syar’iy) maka perdebatan seperti inilah yang dipuji. Allah Ta’ala berfirman :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (QS. An-Nahl : 125)

Dan Allah Ta’ala berfirman :

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik”. (QS. Al-‘Ankabut : 46)

Dan Allah Ta’ala berfirman :
قَالُوا يَانُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

“Mereka berkata: “Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. (QS. Hud : 32)

📣 Facebook Badru Salam
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=442223665971083&id=100005503590633

Selasa, 06 Oktober 2015

A : Sampeyan ikut madzhab siapa, Mas ??
●B : Ah, saya orangnya netral kok, Pak. Saya tidak ikut madzhab siapa-siapa. Yang penting dalilnya shahih, pengambilan hukumnya benar, maka pendapat dari madzhab yang mana saja akan saya ikuti.

A : Lhoooo, tidak bisa begitu. Dalam beragama ini kita harus bermadzhab. Pilihlah salah satu.
●B : Oh begitu, Kalau boleh tahu, apa dalilnya dalam beragama ini kita harus bermadzhab, Pak ??

A : Yaaaa, Dalil langsung sih tidak ada. Itu hanya konsekuensi saja. Soalnya kalau kita tidak bermadzhab, kita akan kesulitan memahami Al-Qur'an dan Hadits. Kita ini kan bukan Ulama. Jadi harus meruju' pada madzhab tertentu untuk bisa mengerti ajaran-ajaran Islam.
●B : Tidak begitu kok, Pak. Saya memang tidak taklid dengan madzhab tertentu. Saya juga tidak berpegang dengan satu madzhab tertentu. Tapi BUKAN BERARTI saya memahami Al-Qur'an dan Hadits dengan pemahaman saya sendiri lho.

Saya TETAP MERUJU' pada penjelasan PARA IMAM dalam Islam. Bukan hanya 4 Imam saja, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad; tapi juga Imam-imam yang lain. Biasanya penjelasan para Imam itu sudah diintisarikan oleh para Ulama dalam kitab-kitab mereka, sehingga sangat memudahkan bagi umat Islam untuk memahami ajaran-ajaran Islam.

A : Lha memangnya kenapa to sampeyan kok tidak mau memegang satu madzhab tertentu ?? Memangnya itu salah ??????
●B : Bukan masalah salah atau tidak salahnya, Pak. Tapi masalahnya Islam ini melarang kita untuk taklid dan fanatik pada satu figur tertentu kecuali Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Sementara, kenyataan yang sering terjadi, kalau orang sudah berpegang dengan madzhab tertentu, maka dia akan taklid dan fanatik habis-habisan dengan madzhab itu. Tidak perduli meskipun ada ajaran dalam madzhab tersebut yang sebenarnya bertentangan dengan hadits Nabi yang shahih, atau bahkan tidak sesuai dengan petunjuk Al-Qur'an. 

Misalnya orang taklid sama Madzhab Syafi'i, maka akan dibela mati-matian meskipun tidak sesuai dengan petunjuk Nabi. Atau orang yang fanatik dengan madzhab Ahmad, maka dia akan kekeuh dengan madzhab Ahmad meskipun bertentangan dengan hadits yang shahih. Ini semua tentu tidak boleh. Soalnya Nabi kita kan bukan Imam madzhab ya Pak, tapi Nabi kita adalah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

A : Wah, betul juga ya. Terus, bagusnya gimana ya ??
 ●B : Alangkah baiknya kita bersikap netral. Tidak fanatik dengan madzhab ini atau itu. Kita beragama sesuai dengan dalil yang shahih. Keuntungannya, kita bisa memilih mana dari ajaran madzhab-madzhab itu yang sesuai petunjuk Kitabullah dan Sunnah Nabi.

Misalnya dalam suatu perkara madzhab Hanbali yang cocok dengan Sunnah Nabi, ya itu yang kita ambil. Atau misalnya dalam perkara lain madzhab Syafi'i yang cocok dengan hadits yang shahih, ya itulah yang kita jalani. Begitu pula dengan madzhab Hanafi atau Maliki. Jadi enak, kita tidak jumud alias monoton. Keilmuan dan wawasan kita terus berkembang karena kita memiliki ruang beragama yang luas, tidak dibatasi oleh satu ruang madzhab tertentu.

A : Masyaa Allaah, saya kok baru nyadar ya. Jadi kesimpulannya apa ya ??
●B : Kesimpulannya, orang yang taklid dengan yang tidak taklid dengan suatu madzhab memiliki kesamaan dan perbedaan.

Kesamaannya adalah, bahwa keduanya sama-sama memiliki peluang untuk mempelajari dan mengamalkan suatu madzhab.

Perbedaannya, kalau orang yang taklid, dia tidak mau tahu madzhabnya sesuai atau tidak dengan hadits Nabi. Kalau tidak madzhab itu tidak mau. Sehingga dia seolah lebih mendahulukan ajaran madzhab daripada petunjuk Nabi. Sedangkan orang yang tidak taklid, dia tetap mempelajari madzhab, tapi secara umum. Dia memilah memilih. Mana yang paling sesuai dengan hadits shahih serta kandungan Al-Qur'an, itulah yang dia pegang.

Jadi dia tetap mendahulukan petunjuk Nabi sebagai petunjuk yang pertama dan utama. Khazanah keilmuannya akan terus berkembang karena dia bisa bergerak kemana saja mempelajari madzhab ini dan itu, kemudian mencocokkannya dengan hadits-hadits yang shahih serta nilai-nilai Kitabullah.

Ini semua tentu tetap dengan bimbingan para Ulama lho, bukan dengan pemahaman kita sendiri. Makanya, inilah sebabnya mengapa kita harus belajar agama kepada para Ulama, atau kepada murid-muridnya para Ulama. Kita bisa belajar di pesantren-pesantren. Kalau tidak bisa nyantri, kita bisa hadir di kajian-kajian atau majelis ilmu yang alhamdulillah saat ini sudah banyak dimana-mana. Dari pesantren atau majelis ilmu itulah kita bisa mengetahui, ini loh hadits Nabi yang shahih, dan madzhab ini loh yang sesuai dengan hadits tersebut; sehingga inilah yang semestinya diamalkan. Begitu, Pak.

A : Subhaanallaah.. Syukron atas pencerahannya ya Mas. Saya baru mudeng sekarang.
●B : Sama-sama, Pak. Alhamdulillaah bifadhlillaah. 

[Taken anda edited from : Ust Ammi Aac ]
"""""""""""""""""
Tambahan dari Admin :
Ketahuilah saudaraku yang saya cintai dan yang saya muliakan, semoga Allahu Ta'ala membimbing serta merahmati kita semua. Bahwasanya menolak atau mengingkari 1 (satu) hadits saja dari Nabi shallallaahu'alaihi wa sallam bisa menyebabkan kita terjatuh dalam perkara kekafiran, ia dapat keluar dari Islam jika hujjah telah tegak kepadanya. Namun, jika kita menolak perkataan, ucapan, pendapat, serta ketetapan dari seseorang yang memang menyelisihi Kitabullah wa Sunnah Nabi shallallaahu'alaihi wa sallam, maka : Kita tidak berdosa, bahkan itu dibenarkan oleh sang pembuat syari'at Allah Tabaroka wa Ta'ala [Lihat surat an-Nisaa' ayat 59]

Jadi, menolak atau istilah bahasa halusnya tidak mengikuti ucapan atau pendapat imam madzhab yang kurang kuat atau tidak cocok dengan Kitabullah wa Sunnah Nabi shallallaahu'alaihi wa sallam, bukanlah berarti kita tidak menghormati dan tidak menghargainya dan seterusnya, bukan begitu. Akan tetapi, dengan kita tidak mengambil atau mengikuti ucapan, perkataan, serta pendapatnya yang tidak mencocoki dalil dari al-Qur'an dan As-Sunnah, adalah justru suatu penghormatan kepada para Imam dan para Ulamaa' tsb !!
OLEH KARENA ITU, JIKA ADA SAUDARA KITA YANG TIDAK MENISBATKAN DIRI PADA SALAH SATU MADZHAB, TIDAK MENGINGATKAN DIRI DIRI HANYA PADA SATU MADZHAB, TIDAK FANATIK PADA SALAH SATU IMAM MADZHAB, MAKA BUKAN BERARTI IA ANTI TERHADAP MADZHAB !! 

Kenapa ???
Sebab : Mereka (para Ulamaa'wink sendiri lah yang menganjurkan untuk meneliti semua ucapan, perkataan, dan pendapat yang menyelisihi al-Kitab wa Sunnah Nabi shallallaahu'alaihi wa sallam dan melarang taklid buta kepada mereka apabila telah tegak dalil kepadanya !!
Dan hal ini akan sulit dilakukan jika kita malah taqlid buta dan fanatik hanya pada salah satu Imam atau madzhab saja, karena fanatik pada salah satu madzhab saja tentu hanya akan mengikuti pendapat dari madzhab tsb, tanpa mau tahu bagaimana pendapat yang lain, bahkan terkadang tanpa mau tahu apakah pendapat yang ia ikuti dan ia bela-bela tsb cocok atau tidak dengan dalil, asalkan pendapat itu dari madzhabnya maka dianggapnya pasti benar dan diikuti begitu saja bahkan mati2an dibela.

Mari kita perhatikan para ulama kita yang justru menganjurkan kepada pengikutnya untuk mengikuti dalil (al-Qur'an dan As-Sunnah), serta melarang mengikuti perkataannya jika tidak sesuai dengan keduanya dan justru menganjurkan untuk mengikuti al-Qur'an dan As-Sunnah yang Shahiih jika memang ucapannya bersebrangan dengan dalil :

●Imam Abu Hanifah rahimahullaahu ta'ala berkata :
"Tidak halal bagi seseorang mengambil perkataan kami selama ia belum mengetahui dari mana kami mengambilnya." (I'laamul Muwaqqi'iin, III/488)
Beliau rahimahullaahu ta'ala juga berkata :
"Apabila suatu hadits itu SHAHIH, maka itulah MADZHABKU." (Iiqaazhul Himam, hal. 62)

●Imam Malik rahimahullaahu ta'ala berkata :
"Sesungguhnya aku hanya seorang manusia, terkadang aku benar dan terkadang salah. Maka lihatlah pendapatku, SETIAP PENDAPATKU YANG SESUAI DENGAN Al-Kitab (baca : al-Qur'an) dan As-Sunnah (baca : hadits) maka AMBILLAH, dan setiap yang TIDAK SESUAI dengan Al-Kitab dan As-Sunnah maka TINGGALKANLAH." (Jaami'Bayaanil'Ilmi wa Fadhlihi, I/775, no. 1435, 1436)

●Imam asy-Syafi'i rahimahullaahu ta'ala berkata :
"Setiap orang pasti terlewat dan luput darinya salah satu Sunnah (baca : hadits) Rasulullah shallallaahu'alaihi wa sallam. Apa pun pendapat yang aku katakan atau prinsip yang aku tetapkan (baca : katakan) kemudian ada hadits dari Rasulullah shallallaahu'alaihi wa sallam, yang ternyata bertentangan dengan pendapatku, maka apa yang disabdakan Rasulullah shallallaahu'alaihi wa sallam itulah yang diambil. Dan itulah yang menjadi pendapatku." (Manaaqib al-Imam asy-Syafi'i, I/475, dan I'laamul Muwaqqi'iin, IV/46 - 47) 

Beliau rahimahullaahu ta'ala juga berkata :
"Setiap yang aku ucapkan, namun ada hadits Nabi shallallaahu'alaihi wa sallam yang shahih menyelisihi pendapatku, maka hadits Nabi shallallaahu'alaihi wa sallam itulah yang lebih patut diikuti. Maka janganlah kalian taklid kepadaku." (Manaaqib al-Imam asy-Syafi'i, I/473, dan I'laamul Muwaqqi'iin, IV/45 - 46)

●Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullaahu ta'ala berkata :
"Kalian TIDAK BOLEH taklid kepadaku, tidak boleh juga taklid kepada Malik, Syafi'i, al-Auza'i, dan ats-Tsauri, tetapi ambillah darimana mereka mengambil." (I'laamul Muwaqqi'iin, III/469)

Lihatlah wahai saudaraku, begitu indah perkataan para imam-imam kita yang menyeru untuk mengikuti dalil, nash, hujjah, dan menolak semua pendapat jika menyelisihi al-Qur'an dan As-Sunnah, serta justru melarang untuk taklid buta terhadap seseorang yang dikhawatirkan akan membuatnya buta dari kebenaran. Mereka semua berkata tidaklah dengan hawa nafsunya akan tetapi mereka semua rahimahumullaahu ta'ala berkata berdasarkan ilmu dan ketakwaannya untuk mengikuti dalil. Sebab : Agama Islam tegak dengan dalil. Islaam adalah AGAMA DALIL. Hanya pada Allaah kita memohon petunjuk.

[Abdullah Khansa]
http://khansa.heck.in/ikut-madzhab-siapa.xhtml

Artikel Terbaru

Popular Posts