Selasa, 30 Juni 2015

๐Ÿ”ด KESALAHAN PERTAMA:

Mengangkat kedua tangan ketika melihat hilal Ramadhan atau memasuki awal bulan dan mengkhususkan doa tertentu, yaitu dengan berdoa:

ู‡ู„ ู‡ู„ุงู„ูƒ ุดู‡ุฑ ู…ุจุงุฑูƒ ุนู„ูŠู†ุง ูˆุนู„ูŠูƒ

 "Telah terbit hilalmu, bulan yang penuh berkah, semoga keberkahan kepada kami dan kepadamu".

Adapun yang dibenarkan adalah berdoa dengan doa yang ma'tsur yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika beliau melihat hilal, baik pada bulan Ramadhan ataupun bulan-bulan lainnya, yaitu dengan mengucapkan:

ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฃَู‡ِู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู†َุง ุจِุงْู„ุฃَู…ْู†ِ ูˆَุงْู„ุฅِูŠْู…َุงู†ِ، ูˆَุงู„ุณَّู„ุงَู…َุฉِ ูˆَุงْู„ุฅِุณْู„ุงَู…ِ، ูˆَุงู„ุชَّูˆْูِูŠْู‚ِ ู„ِู…َุง ุชُุญِุจُّ ูˆَุชَุฑْุถَู‰، ุฑَุจُّู†َุง ูˆَุฑَุจُّูƒَ ุงู„ู„ู‡

“Ya Allah, terbitkanlah (dan tampakkanlah) hilal kepada kami, dengan membawa
keberkahan, keimanan, keselamatan dan keislaman, serta taufiq dan petunjuk kepada apa yang Engkau cintai dan ridhai, Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ad-Darimi. Syaikh Syu'aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan karena
memiliki penguat dari hadits lainnya).

Ibnu Quddamah rahimahullah berkata: "Disukai (mustahab) bagi orang yang melihat hilal untuk mengucapkan apa yang di riwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu anhuma tersebut, lalu beliau rahimahullah menyebutkan hadits tersebut".

Diterjemahkan dari kitab "30 Mukhalafah Yaqa'u Fiiha Ba'dhush Shaa'imiin" karya Syaikh DR. Abdul Aziz bin Dawud Al-Faeez ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰

Catatan:
Doa tersebut hanya di ucapkan bagi yang melihat hilal di awal bulan, baik bulan Ramadhan ataupun lainnya, adapun yang tidak melihat hilal maka tidak disyariatkan membacanya, sebagaimana hal itu di jelaskan oleh Dr. Sa’id Al-Qahthani dalam syarh Hisnul Muslim, hlm. 262.

๐Ÿ”ด KESALAHAN KEDUA:

Tidak berniat sejak malam hari untuk berpuasa Ramadhan atau sebelum terbitnya fajar (waktu subuh)

Dan yang benar adalah hendaknya berniat untuk berpuasa Ramadhan di malam hari sebelum terbitnya fajar, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

ู…ู† ู„ู… ูŠُุจَูŠِّุชِ ุงู„ุตูŠุงู…َ ู…ู† ุงู„ู„ูŠู„ ูู„ุง ุตูŠุงู…َ ู„ู‡

“Barangsiapa yang belum berniat puasa di malam hari (sebelum subuh) maka tidak sah puasanya.” (HR. An Nasa’i dan dishahihkan Al Albani)

Ibnu Quddamah rahimahullah berkata: "Dan wajib (hukumnya) menentukan niat untuk setiap puasa wajib".

๐Ÿ”ด KESALAHAN KETIGA:

Melafadzkan niat puasa, hal ini tidaklah ada asalnya (dalilnya)

๐Ÿ’Ž Dan yang benar adalah berniat puasa di dalam hati, dan tidak melafadzkannya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

ุฅِู†َّู…َุง ุงู„ุฃَุนْู…َุงู„ُ ุจِุงู„ู†ِّูŠَّุงุชِ....

"Sesungguhnya amal-amal itu adalah tergantung dari niatnya..."

๐Ÿ’งIbnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata: "Dan niat itu adalah maksud dan keinginan hati, dan tidak wajib untuk melafadzkan apa yang ada di dalam hatinya tersebut sesuatupun dari ibadah-ibadah".

๐Ÿ’งIbnu Quddamah rahimahullah berkata ketika menjelaskan "Cara Berniat", bahwa makna niat adalah keinginan atau tujuan, yaitu keyakinan hati untuk melakukan sesuatu dan berazzam untuk mengerjakannya tanpa ragu, maka kapan terbersit dalam hati di malam hari dari bulan Ramadhan bahwa dia besok akan puasa, maka berarti dia telah niat (puasa Ramadhan).

๐Ÿ“š Diterjemahkan dari kitab "30 Mukhalafah Yaqa'u Fiiha Ba'dhush Shaa'imiin" karya Syaikh DR. Abdul Aziz bin Dawud Al-Faeez ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰

๐Ÿ“‹ Catatan:
____________
Siapapun ulama sepakat dengan hal ini. Niat adalah amal hati, dan bukan amal lisan.

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan: “Niat dalam semua ibadah yang dinilai adalah hati, dan tidak cukup dengan ucapan lisan sementara hatinya tidak sadar. Dan tidak disyaratkan dilafalkan,…” (Raudhah at-Thalibin, 1:84)

Dalam buku yang sama, beliau juga menegaskan: “Tidak sah puasa kecuali dengan niat, dan tempatnya adalah hati. Dan tidak disyaratkan harus diucapkan, tanpa ada perselisihan ulama…” (Raudhah at-Thalibin, 1:268)

Dalam I’anatut Thalibin –salah satu buku rujukan bagi syafiiyah di Indonesia–, Imam Abu Bakr ad-Dimyathi As-Syafii juga menegaskan: “Sesungguhnya niat itu di hati bukan dengan diucapkan. Memaksakan diri dengan mengucapkan niat, termasuk perbuatan yang tidak butuh dilakukan.” (I’anatut Thalibin, 1:65).

๐Ÿ”– Tentu saja keterangan para ulama dalam hal ini sangat banyak. Semoga 3 keterangan dari ulama syafiiyah di atas, bisa mewakili. Mengingat niat tempatnya di hati, maka memindahkan niat ini di lisan berarti memindahkan amal ibadah bukan pada tempatnya. Dan tentu saja, ini bukan cara yang benar dalam beribadah.
(Lihat catatan ini selengkapnya di: http://www.konsultasisyariah.com/cara-niat-puasa-ramadhan-yang-benar/ )

----------------------

๐Ÿ”ด KESALAHAN KEEMPAT:

Ketika telah datang waktu ifthar (berbuka) dan adzan maghrib sudah dikumandangkan, sebagian kaum muslimin masih tetap saja terus menerus berdoa hingga selesainya adzan, ini adalah kesalahan dan menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Dan yang benar dan sesuai petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah menyegerakan berbuka apabila matahari telah terbenam (waktu berbuka telah tiba) , sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

ู„َุง ูŠَุฒَุงู„ُ ุงู„ู†َّุงุณُ ุจِุฎَูŠْุฑٍ ู…َุง ุนَุฌَّู„ُูˆุง ุงู„ْูِุทْุฑ
َ
"Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata menjelaskan hadits tersebut: dalam hadits tersebut terdapat anjuran untuk menyegerakannya (maksudnya berbuka) setelah jelas dan yakin matahari telah terbenam.

Dan makna hadits diatasa adalah: "Senantiasa urusan ummat ini akan teratur dan mereka dalam kebaikan selama mereka menjaga sunnah ini (menyegerakan berbuka) dan apabila mengakhirkannya maka hal itu merupakan tanda adanya kerusakan yang terjadi padanya".


๐Ÿ”ด KESALAHAN KELIMA:

Berdoa ketika berbuka dengan doa yang sanad haditsnya lemah (tidak shahih), seperti:

"Bismillahi Allahumma Laka Shumna wa ala Rizqika Aftharna, Allahumma Taqabbal Minna Innaka Antas Samiul ‘Alim.” (artinya: Bismillah, Ya Allah, untukMu aku berpuasa dan atas rezeki dariMu kami berbuka. Ya Allah... Terimalah amal-amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui). Dst...

Adapun yang BENAR adalah bahwa hendaknya seorang muslim mencari yang benar dan shahih, yang ketika ia mengamalkannya akan mendapatkan pahala darinya,  yaitu dengan membaca doa yang ma'tsur:

ุฐَู‡َุจَ ุงู„ุธَّู…َู€ุฃُ، ูˆุงุจْู€ู€ุชَู„َّุชِ ุงู„ุนُุฑُูˆู‚ُ، ูˆุซَู€ู€ุจَุชَ ุงู„ุฃَุฌْุฑُ ุฅِู† ุดَุงุกَ ุงู„ู„ู‡ُ

Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu wa Tsabata-l Ajru, Insyaa Allah

“Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insya Allah.” (HR. Abu Dawud, Ad-Daruquthni, Al-Baihaqi, dan Hadits ini di nilai hasan oleh Al-Albani, disebutkan dalam Shahihul Jami).

๐Ÿ“š Diterjemahkan dari kitab "30 Mukhalafah Yaqa'u Fiiha Ba'dhush Shaa'imiin" karya Syaikh DR. Abdul Aziz bin Dawud Al-Faeez ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰

_________
CATATAN:
Doa ini di baca setelah berbuka, sebagaimana hal itu di jelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah,  sehingga urutan yang tepat ketika berbuka adalah:

1. Membaca "basmalah" sebelum berbuka baik makan kurma atau minum atau lainnya
2. Mulai berbuka
3. Membaca doa berbuka: Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu…dst.
( lihat catatan ini selengkapnya di: http://goo.gl/1UyIwn )

Demikian, wabillahi at-taufiiq
at-taufiiq

 Andri Abdul Halim, Lc ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰
ุชุนุงู„ู‰

-----------------------
♻ Silsilah Nasihat Edisi Ramdahan
๐Ÿ“ Broadcast WA Dakwah Jalyat Unaiza_Indo

0 komentar:

Posting Komentar

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts