Senin, 30 Maret 2015

Penyair berkata;

عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللهِ إِنْ كُنْتَ غَافِلاً ***يَأْتِيْكَ بِالأَرْزَاقِ مِنْ حَيْثُ لاَ تَدْرِي

Bertakwalah jika engkau sedang lalai...
Allah akan memberikan engkau rizki dari arah yang tidak kau sangka...

فَكَيْفَ تَخَافُ الْفَقْرَ وَاللهُ رَازِقَا **** فَقَدْ رَزَقَ الطَّيْرَ وَالْحُوْتَ فِي الْبَحْرِ

Bagaimana engkau takut kemiskinan sementara Allah maha pemberi rizki...

Allah telah memberi rizki kepada burung dan ikan di lautan....



وَمَنْ ظَنَّ أَنَّ الرِّزْقَ يَأْتِي بِقُوَّةٍ **** مَا أَكَلَ الْعُصْفُوْرُ شَيْئًا مَعَ النَّسْرِ

Barangsiapa yang menyangka bahwa rizki datang harus dengan kekuatan, 
maka tentu burung pipit (yang lemah) tidak akan makan sesuatupun jika ada burung nasar (yang kuat)

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Minggu, 29 Maret 2015

Seputar celana Panjang buat wanita


السؤال

فضيلة الشيخ  : ما الحكم في لبس البنطال للمرأة ، وهل هناك فرق في كونه واسعًا أو ضيقًا ؟

Soal:

Wahai Fadhilatusy-Syaikh, apa hukumnya celana panjang bagi seorang wanita, adakah perbedaan kebolehannya pada celana panjang yang longgar dan yang sempit?

الجواب

في بلادنا ، ليس من عادة نسائنا لبس البنطال ، والنساء يلبسن ما اعتاده نساء البلد ، فلا يجوز في هذا البلد خاصة أن تلبس المرأة البنطال ، وحتى في البلاد الأخرى ؛ لأن البنطال يُبيِّن أحجام المرأة ومفاتنها ، ولا يسترها سترًا كاملاً ؛ بل ربما يكون فتنة البنطال أشد ؛ لأنه يصورها صورة فاتنة .

فالمرأة تتجنب لبس البنطال خصوصًا في هذا البلد ؛ فإن هذا ليس من عادة بلادنا ، ومن لبس لباس شهرة هذا عليه وعيد شديد ، فمن لبست البنطال في هذا البلد فإنها لبست لباس شهرة ؛ لأن هذا خلاف ما اعتاده نساء هذا البلد . نعم .

Jawab:

Di negeri kami, bukanlah kebiasaan para wanita untuk mengenakan celana panjang.

Wanita itu mengenakan pakaian yang memang menjadi kebiasaan bagi wanita di tempatnya, maka tidak boleh bagi wanita khususnya di negeri ini untuk mengenakan celana panjang, dan juga di negeri lainnya, sebab celana panjang akan membentuk lekuk tubuh seorang wanita, sehingga tidak teranggap mentutup auratnya dengan sempurna, bahkan dengan mengenakan celana panjang itu lebih besar fitnahnya karena membentuk tubuh yang menarik perhatian.

Maka,

bagi wanita hendaknya menjauhi pakaian seperti ini, khususnya bagi wanita negeri ini, karena hal tersebut bukanlah kebiasan wanita negeri kita ini.

Barangsiapa yang mengenakan pakaian tenar seperti ini, maka baginya ancaman yang sangat keras.

Sebab bagi yang mengenakan celana panjang di negeri ini teranggap mengenakan pakaian syuhrah karena bukan pakaian yang biasa dikenakan oleh wanita di negeri ini.


السائل : ولو في البيت ؟

ولو  في البيت ؛ لأنه إذا لبسته في البيت شوي شوي وبعدين تطلع في الشارع توري الناس . نعم

Penanya:
Walaupun di rumah?


Syaikh:

Walaupun di rumah, karena jika ia kenakan di rumah maka sedikit demi sedikit akan mendorongnya untuk memperlihatkannya di jalanan (hingga) dilihat oleh manusia.


وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين


Sumber:
http://www.alfawzan.af.org.sa/node/3196

Tentang www.Alfawzan.net

Web ini adalah website resmi Syaikh Dr. Shalih bin Abdillah Al-Fawzan yang berbahasa Indonesia. Diharapkan melalui website ini kita bisa mengambil faedah dari materi beliau yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia.

Semoga bisa bermanfaat bagi kaum muslimin dimanapun mereka berada.

Grup WA
Al Fatawa Al Fauzaniyyah

Sabtu, 28 Maret 2015

Dari Sahabat Umar ibnul Khaththab Radliyallahu 'Anhu berkata:
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam bersabda:
“Islam itu ialah hendaknya engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan berhaji ke Baitullah jika engkau mendapatkan jalan kepadanya.”
(HR. Muslim).

Penjelasan dan Kandungan Hadits:

1. Rukun Islam ada lima.

2. Islam dari segi bahasa maknanya adalah patuh dan berserah diri kepada Allah.

3. Islam menurut syari’at adalah agama yang tegak diatas lima rukun sebagaimana tersebut dalam hadits dan masuk dalam Islam pula seluruh amalan lahir (yang tampak) dan meninggalkan segala yang diharamkan.

4. Agama Islam adalah agama yang Allah mengutus dengannya Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam dan Allah menutup dengannya semua agama dan menyempurnakannya untuk hamba-hambaNya dan Allah tidak menerima agama apapun selain Islam.

5. Rukun Islam yang pertama adalah mengucapkan dua kalimat syahadat.

6. Makna “La Ilaha Illallah” adalah tidak ada tuhan (sembahan) yang berhak di ibadahi selain Allah.

7. Makna “Muhammad adalah Rasulullah” yaitu: Mentaati perintahnya, membenarkan apa yang dikabarkannya dan meninggalkan segala yang dilarangnya serta tidak beribadah kepada Allah melainkan dengan cara yang telah disyariatkan.

8. Syahadat “La Ilaha Illallah” berarti ikhlas dalam beribadah dan syahadat “Muhammad adalah Rasulullah” berarti mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam. Kedua hal tersebut adalah merupakan syarat dikabulkannya amal kita oleh Allah.

9. Buah yang kita dapatkan dari dua kalimat syahadat tersebut adalah: Kita terbebas dari penghambaan kepada sesama makhluk dan kita hanya menghambakan diri kepada Allah saja, juga kita hanya mengikuti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam dan para Rasul saja.

10. Rukun Islam yang kedua adalah mendirikan shalat.

11. Yang dimaksud mendirikan shalat adalah beribadah kepada Allah dengan mengerjakan shalat yang benar dan sempurna serta tepat waktu dan cara mengerjakannya sebagaimana yang telah dicontohkan oleh RasulullahShallallahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam.

12. Buah yang kita dapatkan dari mendirikan shalat adalah: Kelapangan dada, kedamaian, ketentraman, kebahagiaan dan terhindar dari perbuatan keji dan mungkar.

13. Rukun Islam yang ketiga adalah membayar zakat.

14. Yang dimaksud membayar zakat adalah beribadah kepada Allah dengan mengeluarkan harta yang wajib dizakati sebagaimana yang telah ditentukan oleh Allah untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya.

15. Buah yang kita dapatkan dari menunaikan zakat adalah: Membersihkan jiwa kita dari akhlak tercela yaitu bakhil atau kikir dan untuk menutupi keperluan Islam dan kaum muslimin.

16. Rukun Islam yang keempat adalah puasa Ramadhan.

17. Yang dimaksud puasa Ramadhan adalah beribadah kepada Allah dengan menahan diri dari segala yang membatalkan puasa mulai terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.

18. Buah yang kita dapatkan dari puasa Ramadhan adalah: Melatih diri untuk mengendalikan hawa nafsu dengan meninggalkan segala yang disenanginya demi mencari keridlaan Allah.

19. Rukun Islam yang kelima adalah menunaikan haji ke Baitullah Al-Haram.

20. Yang dimaksud menunaikan haji adalah beribadah kepada Allah dengan pergi ke Baitullah Al-Haram Makkah untuk melaksanakan amalan-amalan manasik haji.

21. Buah yang kita dapatkan dari menunaikan haji adalah: Melatih jiwa untuk mengorbankan harta, waktu dan tenaga demi ketaatan kepada Allah. Oleh sebab itu haji adalah bagian dari jihad fi sabilillah.

[Disarikan dari kitab "Nubdzah Fil 'Aqidah Al-Islamiyyah" karya Syaikhuna Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-'Utsaimin rahimahullah dan rujukan lainnya]

Akhukum Fillah
@AbdullahHadrami

🌍📚 WA MTDHK (Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah) kota Malang 📚🌏

✍ Ust. Abdullaah Shaleh Hadrami حفظه الله تعالى
Renungan Pagi
Dulu, Aku sangat KAGUM pada orang cerdas, kaya, dan yang berhasil dalam Karir. Hidup sukses dan hebat dalam dunianya.
Sekarang, Aku memilih untuk mengganti kriteria kekagumanku. Aku kagum dengan orang yang hebat di mata Allah. Sekalipun kadang penampilannya begitu biasa dan bersahaja.
Dulu, Aku memilih MARAH ketika merasa harga diriku dijatuhkan oleh orang lain yang berlaku kasar padaku dan menyakitiku dengan kalimat-kalimat sindiran. Sekarang, Aku memilih untuk banyak bersabar & memaafkan. Karena aku yakin ada hikmah lain yang datang dari mereka ketika aku mampu untuk memaafkan dan bersabar.
Dulu, Aku memilih mengejar dunia dan menumpuk harta.
Ternyata aku sadari kebutuhanku hanyalah makan dan minum untuk hari ini. Sekarang, Aku memilih untuk bersyukur dengan apa yang ada dan memikirkan bagaimana aku bisa mengisi waktuku hari ini, dengan apa yang bisa aku lakukan dan bermanfaat untuk agama dan sesamaku.
Dulu, Aku berpikir bahwa aku bisa membahagiakan orang tua, saudara dan teman-temanku jika aku berhasil dengan duniaku. Ternyata yang membuat mereka bahagia bukan itu, melainkan ucapan, sikap, tingkah dan sapaanku kepada mereka. Sekarang
Aku memilih untuk membuat mereka bahagia dengan apa yang ada padaku.
Dulu, fokus pikiranku adalah membuat rencana-rencana dahsyat untuk duniaku.Ternyata aku menjumpai teman dan saudara-saudaraku begitu cepat menghadap kepada-NYA. Sekarang, yang menjadi fokus pikiran dan rencanaku adalah bagaimana agar hidupku dapat diridhai oleh Allah dan sesama jika suatu saat diriku dipanggil oleh-NYA.
Τak ada yang bisa memberikan jaminan bahwa aku masih bisa menghirup nafas esok hari. Jadi apabila hari ini dan esok hari aku masih hidup, itu adalah karena kehendak Allah semata.
Semoga renungan ini bermanfaat untuk kita semua.
Dari grup whatsapp
Pertanyaan:
Apa hukumnya kita menyebut seseorang yang meninggal dengan Rest In Peace.
Jawaban:
Ucapan RIP batil dan terlarang karena:
1) Jika ucapan tersebut adalah kebiasaan orang2 kafir maka hukumnya haram karena seorang muslim diharamkan menyerupai orang2 kafir. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam
bersabda:
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)
2) Kalaupun ucapan tersebut bukan kebiasaan orang2 kafir maka tetap saja tidak dibenarkan karena tidak berdasarkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan tidak pula bermakna do’a. Adapun yang disyari’atkan adalah mengucapkan istirja’ (innaa lillahi wa innaa ilaihi rooji’un) dan mendo’akan agar si mayit mendapatkan ampunan.
3) Jika makna ucapan tersebut adalah, “Beristirahatlah dalam damai” maka itu tidak benar, sebab kita tidak tahu kondisi orang yang mati itu, apakah ia dalam keadaan mendapatkan nikmat ataukah adzab kubur. Demikian pula setelah hari kebangkitannya, kita tidak tahu apakah ia termasuk penghuni surga atau neraka. Ini jika yang meninggalkan dalam keadaan muslim, kita tidak bisa mengklaim ia pasti beristirahat dengan tenang, sebab hanya Allah ta’ala yang mengetahuinya, kewajiban kita hanyalah mendo’akannya. Akan tetapi seorang muslim itu, kalaupun ia mendapatkan azab kubur dan neraka maka azabnya tidaklah kekal seperti orang-orang kafir.
4) Jika si mayit itu mati dalam keadaan kafir maka sudah pasti ia termasuk penghuni neraka, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluq.” (Al-Bayyinah: 6).
Bagaimana bisa dikatan “istirahatlah dengan damai ??
والله أعلم بالصواب
Sumber:
Berbagai tulisan mengenai perkara ini, termasuk:
http://nasihatonline.wordpress.com/
Via http://bbg-alilmu.com/archives/2934

Kamis, 26 Maret 2015


Saya ingin bertanya masalah jihad di jalan Allah. Saya adalah anak laki-laki tertua. Bapak saya telah wafat, sedangkan ibu masih ada. Saya memiliki isteri dan anak-anak. Saya telah meminta izin ibu untuk berangkat berjihad, namun dia menolaknya, apakah saya masih memiliki kewajiban jihad?


Alhamdulillah
Jihad merupakan amal yang paling utama, demikian pula halnya berbakti kepada kedua orang tua. Jika seseorang hendak pergi ke medan jihad yang syar'i, hendaknya dia meminta izin kepada kedua orang tua. Jika kedua mengizinkan, maka dia boleh berangkat, tapi jika dia tidak mengizinkan dia tidak boleh berangkat, tapi harus menemani keduanya. Karena menemani keduanya atau salah satunya termasuk salah satu bentuk jihad.
Dalil dalam masalah ini terdapat dalam riwayat Ibnu Mas'ud radhiallahu anhu, dia berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, "Amal apa yang paling Allah cintai?" Beliau menjawab, "Shalat pada waktunya." Kemudian aku bertanya lagi, "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab, "Berbakti kepada kedua orang tua," Kemudian aku bertanya lagi, "Kemudian apa lagi?" Kemudian beliau menjawab, "Jihad di jalan Allah." Rasulullah shallallahu alaihi menyampaikan kepadaku hal itu semua, dan seandainya aku meminta tambah lagi, niscaya dia akan menambahnya untukku." (Muttafaq alaih, Bukhari, 1/134, Muslim, 1/89-90)

Dari Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma, dia berkata, "Seseorang mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu dia meminta izin kepadanya untuk berjihad." Maka beliau bersabda, "Apakah kedua orang tuamu masih hidup?" Beliau berkata, "Ya." Maka beliau bersabda, "Berjihadlah terhadap keduanya." (HR. Bukhari, 4/18)

جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فاستأذنه في الجهاد ، فقال : أحي والداك ، قال : نعم ، قال : ففيهما فجاهد " ( رواه البخاري 4/18 ) ، وفي رواية : " أتى رجل فقال : يا رسول الله : إني جئت أريد الجهاد معك ، ولقد أتيت وإن والدي يبكيان ، قال : فارجع إليهما فأضحكهما كما أبكيتهما " ( رواه أحمد 2/160 وأبو داود 3/38 )

Dalam sebuah riwayat, "Seseorang datang, seraya berkata, "Wahai Rasulullah, saya datang ke sini untuk ikut berjihad bersama anda. Saya datang ke sini dalam keadaan kedua orang tua saya menangis." Maka beliau bersabda, "Kembali lagi temui kedua orang tuamu, buatlah mereka tertawa, sebagaimana engkau membuat mereka menangis." (HR. Ahmad, 2/160, Abu Daud, 3/38)

Dari Abu Said radhiallahu anhu, dia berkata,

أن رجلا هاجر إلى النبي صلى الله عليه وسلم من اليمن ، فقال : هل لك أحد باليمن ؟ فقال أبواي ، فقال : أذنا لك ؟ قال : لا ، قال : فارجع إليهما ، فاستأذنهما ، فإن أذنا لك فجاهد وإلا فبرهما ( أخرجه أحمد 3/75-76 ، وأبو داود 3/39).

"Seseorang berhijrah menemui Nabi shallallahu alaihi wa sallam dari Yaman. Maka beliau (Nabi shallallahu alaihi wa sallam) bertanya, 'Apakah engkau memiliki kerabat di Yaman?" Dia menjawab, 'Kedua orang tuaku." Maka beliau berkata, "Apakah keduanya telah mengizinkan kamu?" Beliau berkata, "Tidak." Maka Nabi shallalllahu alaihi wa sallam bersabda, "Kembalilah kepada keduanya, jika kedunya mengizinkan, maka berjihadlah, jika tidak, maka berbaktilah kepada keduanya." (HR. Amad, 3/75, 76, Abu Daudi, 3/39)

Dari Muawiyah bin Jahimah As-Salmi, sesungguhnya Jahimah mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

يا رسول الله أردت الغزو وجئتك أستشيرك ، فقال : هل لك من أم ؟ قال : نعم ، فقال : الزمها ، فإن الجنة عند رجليها . (أخرجه أحمد، 3/429 ، والنسائي، 6/11 ) .

"Wahai Rasulullah, saya ingin ikut berperang, saya datang ingin meminta masukan dari anda." Maka beliau bersabda, "Apakah engkau memiliki ibu?" Dia berkata, "Ya." Maka beliau bersabda, "Rawatlah dia, karena sesungguhnya, surga berada pada kedua kakinya." (HR. Ahmad, 3/429, Nisai, 6/11)

Dalil-dalil ini dan yang memiliki makna sama dengannya berlaku bagi siapa yang tidak memiliki wajib aini (kewajiban individu) dalam jihad. Jika dia telah memiliki kewajiban individu, maka meninggalkannya adalah maksiat dan tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka maksiat kepada Al-Khaliq (sang Pencipta). Di antara bentuk jihad yang sifatnya kewajiban individu adalah apabila seseorang sudah berada di antara dua barisan (barisan kaum muslimin dan barisan musuh) atau pemimpin telah memobilisasi rakyatnya untuk berperang.

Hanya kepada Allah kita memohon taufiq, semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad dan keluarganya serta para shahabatnya semua.
(Fatawa Lajna Daimah, 12/18)
http://islamqa.info/id/9506
Fatwa Al Lajnah Ad Daimah: Bacaan Al Quran untuk Nada Tunggu

تشغيل القرآن الكريم في وقت انتظار المكالمة

Bacaan al Qur’an untuk nada tunggu

أحيانا نضطر لقطع المكالمة الهاتفية ونطلب من المتصل الانتظار قليلاً من أجل الانشغال بمكالمة أخرى أهم قد تطول مدتها، وقد نحول الشخص المتصل على من يريد فينتظر بعض الوقت حتى يرد عليه .

Terkadang kami kebingungan untuk memutus pembicaraan via telepon dan kami meminta orang yang menghubungi kami untuk menunggu beberapa saat lamanya dikarenakan ada pembicaraan yang lebih penting dengan orang lain (telepon yang ditanyakan bisa menerima dua penelepon, pent) yang terkadang waktu menunggu tersebut cukup lama. Terkadang kami mengalihkan penelepon kepada orang yang ingin dia hubungi, akibatnya penelepon tersebut harus menunggu beberapa saat sehingga penelepon tersambung dengan orang yang dia inginkan.

وخلال فترة الانتظار المذكورة يمكن للمتكلم أن يسمتع إلى مادة مسجلة مناسبة ، ولقد رغبنا أن نملأ فترة الانتظار هذه بمادة دينية سواء مقاطع من القرآن الكريم أو من الأحاديث الشريفة . فما حكم هذا العمل ؟ مع العلم أن المكالمات قد يدخل فيها الجد والهزل حسب الأشخاص المتحدثين

Selama masa menunggu tersebut, penelepon bisa mendengarkan suara rekaman yang sesuai. Kami ingin mengisi masa jeda tersebut dengan rekaman materi keagamaan baik berupa potongan ayat al Qur’an atau kutipan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam\. Apa hukum perbuatan semisal ini? Perlu diketahui bahwa pembicaraan via telepon tersebut terkadang diselingi omongan serius atau guyonan tergantung penelepon.

الحمد لله
هذا العمل غير مشروع ، وقد يكون سببا في إهانة القرآن وعدم احترامه ، وكذلك أحاديث الرسول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Jawaban, “Perbuatan di atas tidak ada tuntunannya. Bahkan terkadang menjadi sebab penghinaan dan pelecehan terhadap al Qur’an. Demikian pula pelecehan terhadap hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وقد سئلت اللجنة الدائمة مثل هذا السؤال

Al Lajnah Ad Daimah pernah mendapatkan pertanyaan semisal.

فأجابت : القرآن كلام الله تعالى فيجب احترامه وصيانته عما لا يليق به من خلطه بهزل أو مزاح يسبق تلاوته أو يتبعها مع اتخاذه تسلية أو ملء فراغ مثل ما ذكرت ،

Jawaban Al Lajnah Ad Daimah, “Al Qur’an adalah firman Allah yang wajib dihormati dan dijaga dari hal-hal yang tidak pantas untuk al Qur’an semisal diselingi guyonan atau senda gurau sebelum terdengar pembacaan al Qur’an ataupun setelahnya disamping hal tersebut berarti menjadikan al Qur’an sekedar hiburan atau mengisi kekosongan waktu sebagaimana yang anda katakan.

بل ينبغي القصد إلى تلاوته قصداً أوليا عبادة لله وتقرباً إليه مع تدبر معانيه والاعتبار بمواعظه لا لمجرد التسلية والتفكه وملء الفراغ ، وكذلك أحاديث النبي صلى الله عليه وسلم ،

Sepatutnya niat pokok dalam membaca al Qur’an adalah beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah diiringi dengan merenungkan makna kandungan ayat yang dibaca dan mengambil pelajaran dari nasihat yang ada di dalamnya, bukan hanya dijadikan hiburan, senang-senang dan mengisi kekosongan waktu. Demikian pula niat dalam membaca atau mendengarkan pembacaan hadits Nabi.

لا يجوز خلطها بالهزل والدعابات ، بل تجب العناية بها وصيانتها عما لا يليق والقصد إليها لفهم أحكام الشرع منها والعمل بمقتضاها اهـ

Tidak boleh menyelai bacaan hadits dengan guyonan atau main-main. Wajib hukumnya memberi perhatian terhadap hadits, menjaganya dari hal-hal yang tidak pantas dan niatan ketika membaca hadits adalah untuk memahami hukum-hukum syariat dan mengamalkan isi kandungannya”.

فتاوى اللجنة الدائمة (4/57-58)

Dari Fatwa Lajnah Daimah jilid 4 hal 57-58.

Sumber: Fatwa Al Islam Sual wa Jawab no. 34494, http://islamqa.com/ar/ref/34494

Artikel www.ustadzaris.com
 Sumber: www.fb.com/sofyanruray.info
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً، لاَ يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ، فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ
“Hari Jum’at itu dua belas saat, tidak ada seorang muslim pun yang memohon sesuatu kepada Allah (pada salah satu saat) kecuali Allah akan mengabulkan permohonannya, maka carilah (waktu pengabulan itu) di akhir saat setelah Ashar.” [HR. An-Nasaai dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma, Shahihut Targhib: 703]
At-Tirmidzi rahimahullah berkata,
ورأى بعض أهل العلم من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم وغيرهم أن الساعة التي ترجى بعد العصر إلى أن تغرب الشمس
“Dan sebagian ulama, baik dari kalangan sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam maupun selain mereka berpendapat bahwa waktu yang diharapkan terkabulnya doa tersebut adalah ba’da Ashar sampai matahari terbenam.” [Shahihut Targhib, 1/171]
Penjelasan:
1) Zhahir hadits ini mutlak (umum), berdoa setelah Ashar sampai Maghrib dapat dilakukan kapan dan di mana saja.
2) Apabila dilakukan setelah sholat Ashar sambil menunggu sholat Maghrib di masjid maka ini lebih besar peluang dikabulkannya, karena orang yang menunggu sholat sama dengan orang yang sedang sholat.
3) Apabila sakit maka boleh dilakukan di rumah, lebih baik dilakukan di tempat ia melakukan sholat Ashar sambil menunggu Maghrib.
4) Seorang wanita juga dianjurkan untuk menunggu sholat Maghrib di tempat ia sholat Ashar di rumah seraya berdoa kepada Allah ta’ala.
5) Datang ke masjid lebih awal sebelum sholat Maghrib dengan maksud untuk berdoa setelah melakukan sholat tahiyyatul masjid.
[Disarikan dari Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh Ibni Baz rahimahullah, 30/270-271]
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Rabu, 25 Maret 2015

Guna melancarkan proyek penyesatannya, iblis dan keturunan berikut kroninya menebarkan banyak ranjau untuk menjerat bani Adam.

Menurut Ibnul Qayyim rahimahullaah (w. 751 H), perangkap setan ada enam jenis:

1. Kekufuran dan Kesyirikan. Inilah target utama setan, jika berhasil maka manusia akan menjadi tentara iblis dan pasukannya. Namun bila gagal, maka insan akan dijerat dengan perangkap berikutnya:

2. Bid'ah. Sebab, kata Imam ats-Tsauri rahimahullaah, "Bid'ah lebih disukai iblis dibandingkan maksiat. Karena pelaku maksiat akan bertaubat sedangkan pelaku bid'ah tidak bertaubat.1 Jika tidak berhasil maka manusia akan dijerat dengan ranjau ketiga, yaitu:

3. Dosa besar dengan berbagai macam jenisnya. Setan berusaha keras untuk menjerumuskan seorang hamba ke dalam perbuatan dosa besar. Apalagi jika ia adalah seorang panutan di masyarakat, seperti ulama misalnya. Setelah terjerumus, setan bekerjasama dengan kroni-kroninya untuk mempublikasikan kecelakaan tersebut di hadapan umat, agar mereka menjauhinya. Jika gagal, setan akan menebar ranjau keempat, yakni:

4. Dosa kecil. Seorang hamba dijadikan meremehkan dosa kecil, sehingga dilakukan berkali-kali sampai berbalik menjadi dosa besar. Kalau tidak berhasil maka setan akan memasang perangkap kelima, yaitu dengan:

5. Menyibukkan manusia dalam hal-hal yang mubah, sehingga terlalaikan dari amalan-amalan yang berpahala. Andaikan target yang diincar adalah orang yang senantiasa menjaga waktunya dan sadar akan keterbatasan masa hidupnya di dunia, maka setan akan menjerumuskan ke ranjau yang keenam, yakni:

6. Menyibukkannnya dengan amalan-amalan yang utama, namun dijadikannya lupa amalan-amalan yang lebih utama, karena keterbatasan ilmu dia. Seperti sebagian kalangan yang tersibukkan dengan dakwah kepada akhlak, sehingga lalai dari dakwah kepada tauhid. Sedemikian halusnya perangkap ini, sehingga banyak orang yang terjerumus ke dalamnya, dan mengira bahwa ia berada di jalan kebenaran.

Seorang hamba tidak akan selamat dari berbagai perangkap di atas melainkan dengan taufiq dari Allah ta'ala dan dengan terus mempelajari ilmu syar'i yang berisikan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.2

Dari keterangan di atas kita dapat memahami bahwa setan itu punya skala prioritas dalam menjerumuskan bani Adam. Kubangan favorit utama setan adalah kekufuran dan kesyirikan. Atau dengan kata lain akidahlah yang target pertama yang disasar mereka. Sebab aqidah merupakan pondasi agama seseorang. Bila rusak, maka dijamin akan rusak pula sisi-sisi lain dalam kehidupannya.

Dari sini kita mengetahui mengapa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para rasul lainnya memulai dakwah mereka terhadap akidah atau tauhid. Sebab itu merupakan pondasi dasar beragama. Bila kuat, maka bangunan di atasnya pun akan kuat. Sebaliknya bila rapuh, maka niscaya akan lebih rapuh lagi di atasnya.

Karena itulah, setan menjadikan aqidah seorang muslim sebagai target utama perusakan. Bila gagal, maka ia akan membidikkan sisi-sisi lainnya. Seperti amaliyah, akhlak atau yang lainnya.

Sumber : Majalah As-Sunnah Edisi 11/Thn XVIII/Jumadil Awwal 1436H/Maret 2015M, hal 37-38

---

1. Diriwayatkan oleh al-Lalikaa'i dalam Syarh Ushuul I'tiqaad Ahlus-Sunnah (1/149 no. 238) dan Ibn al-Jauzi dalam Talbiis Ibliis (1/110). Dan dinukil pula oleh al-Baghawi dalam Syarh as-Sunnah (1/216), al-Qurthubi dalam tafsirnya (IX/121) serta as-Suyuuthi dalam al-Amr bi al-Ittibaa' (hal. 67)
2. Bada'i al-Fawaaid (II/799-802)

Jumat, 20 Maret 2015

http://sofyanruray.info/mendapat-rezeki-dan-pahala-yang-melimpah-karena-membantu-penuntut-ilmu-agama-dan-pengajar-kebaikan/
Sahabat yang Mulia Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata,
كَانَ أَخَوَانِ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَكَانَ أَحَدُهُمَا يَأْتِى النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم وَالآخَرُ يَحْتَرِفُ فَشَكَا الْمُحْتَرِفُ أَخَاهُ إِلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ
“Dahulu ada dua orang bersaudara di masa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Salah satu dari keduanya selalu mendatangi Nabi shallallahu’alaihi wa sallam (untuk menuntut ilmu agama), dan salah satunya lagi sibuk bekerja, maka yang bekerja ini mengadukan saudaranya (yang tidak membantunya bekerja) kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, beliau pun bersabda: Bisa jadi engkau diberi rezeki karena saudaramu itu.” [HR. At-Tirmidzi dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Shahih Al-Jami’: 5084]
Beberapa Pelajaran:
1) Keberkahan membantu para penuntut ilmu agama di dunia, yaitu dilimpahkan rezeki berupa harta, kesehatan, taufiq untuk beramal shalih, pertolongan dalam segala urusan dan lain-lain. Hadits ini semisal dengan hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,
أَبْغُونِي ضُعَفَاءَكُمْ، فَإِنَّكُمْ إِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُم
“Senangkanlah aku dengan bersegera membantu orang-orang yang lemah kalian, hanyalah kalian diberikan rezeki dan ditolong karena orang-orang lemah kalian.” [HR. Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiyallahu’anhu, As-Shahihah: 779]
Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata,
أن الضعفاء سبب للنصر وسبب للرزق، فإذا حنَّ عليهم الإنسان وعطف عليهم وآتاهم مما آتاه الله عز وجل؛ كان ذلك سبباً للنصر على الأعداء، وكان سبباً للرزق
“Sungguh orang-orang yang lemah adalah sebab kemenangan dan rezeki, yaitu apabila seseorang berbelas kasih, berlemah lembut dan memberikan harta kepada mereka yang Allah ‘aaza wa jalla berikan kepadanya, maka itu adalah sebab kemenangan dari musuh dan sebab mendapat rezeki.” [Syarhu Riyadhis Shaalihin, 3/113]
2) Adapun di akhirat, orang yang membantu penuntut ilmu akan menuai pahala yang besar, karena membantu orang yang beribadah pahalanya sama dengan orang yang beribadah tersebut, terlebih membantu ibadah menuntut ilmu yang termasuk ibadah terbesar, belum lagi apabila penuntut ilmu tersebut mengamalkan ilmunya dan mengajarkannya, maka orang yang membantunya mendapat pahala yang semisal.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللهِ فَقَدْ غَزَا ، وَمَنْ خَلَفَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا
“Barangsiapa yang membantu perlengkapan orang yang berjihad di jalan Allah maka sungguh dia juga telah ikut berjihad, dan barangsiapa yang membantu keluarga seorang yang berjihad di jalan Allah dengan suatu kebaikan maka dia juga telah ikut berjihad.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Zaid bin Khalid Al-Juhaniradhiyallahu’anhu]
Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata,
ويؤخذ من هذا أن كل من أعان شخصا في طاعة الله فله مثل أجره فإذا أعنت طالب علم في شراء الكتب له أو تأمين السكن أو النفقة أو ما أشبه ذلك فإن لك أجرا أي مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيئا وهكذا أيضا لو أعنت مصليا على تسهيل مهمته في صلاته في مكانه وثيابه أو في وضوئه أو في أي شيء فإنه يكتب لك في ذلك أجر فالقاعدة العامة أن من أعان شخصا في طاعة من طاعة الله كان له مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيئا
“Pelajaran yang bisa dipetik dari hadits ini, bahwasannya setiap orang yang menolong orang lain dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah maka dia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang ditolongnya.
Jika engkau menolong seorang penuntut ilmu dalam membeli buku-buku baginya, atau menyediakan asramanya, atau memberi infak kepadanya, atau yang semisal dengannya, maka engkau akan mendapatkan pahala seperti penuntut ilmu tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.
Demikian pula jika engkau membantu seorang yang melaksanakan sholat agar mudah baginya melakukan sholat, baik tempat sholatnya, pakaiannya, air wudhunya dan apa saja yang dapat memudahkannya untuk melakukan sholat, maka engkau akan mendapatkan pahala seperti pahalanya.
Ini adalah kaidah umum; barangsiapa yang menolong orang lain untuk melakukan suatu ketaatan kepada Allah, maka dia akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang melakukan ketaatan tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.” [Syarhu Riyadhis Shalihin, 2/375]
3) Bolehnya menyibukkan diri dalam menuntut ilmu dan tidak bekerja sama sekali. Al-Qori rahimahullah berkata,
وَفِي الْحَدِيثِ دَلِيلٌ عَلَى جَوَازِ أَنْ يَتْرُكَ الْإِنْسَانُ شُغُلَ الدُّنْيَا، وَأَنْ يُقْبِلَ عَلَى الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ وَالتَّجَرُّدِ لِزَادِ الْعُقْبَى.
“Dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bolehnya seseorang meninggalkan kesibukan dunia dan berkosentrasi menuntut ilmu agama, mengamalkannya dan memusatkan diri untuk mengumpulkan bekal akhirat.” [Al-Mirqoh: 8/3328]
Hal itu karena di dalamnya mengandung kemaslahatan yang besar untuk dirinya dan umat Islam secara luas yang sangat membutuhkan pengajaran ilmu di masa yang akan datang.
Akan tetapi ini dilakukan dengan syarat apabila tidak memudaratkan dirinya dan orang lain, memudaratkan diri seperti pada akhirnya ia meminta-minta, namun jika ia bersabar dalam kekurangan tanpa meminta-minta maka itu suatu kebaikan demi meraih ilmu yang banyak.
Adapun memudaratkan orang lain seperti apabila ia memiliki tanggungan keluarga yang harus ia nafkahi maka wajib baginya untuk membagi waktu antara menuntut ilmu dan bekerja.
4) Para penuntut ilmu dan pengajar kebaikan bukan orang-orang yang suka meminta-minta dan tidak menampakkan kekurangan dunia walau dalam keadaan kekurangan dan kefakiran, namun terkadang bukan karena mereka tidak ingin atau tidak mampu untuk menggapai hidup yang berkecukupan dan kaya raya, tetapi kesibukan mereka dalam menuntut ilmu dan mengajarkannya lebih mereka utamakan sehingga menghalangi mereka untuk itu, maka merekalah yang paling pantas dibantu, bukan pengemis.
Allah ta’ala berfirman,
لِلْفُقَرَاء الَّذِينَ أُحصِرُواْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاء مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَاهُمْ لاَ يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا وَمَا تُنفِقُواْ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
“(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang-orang kaya karena mereka memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta-minta kepada manusia secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” [Al-Baqoroh: 273]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
فَهَذَا إمَّا أَنْ يَكُونَ عَاجِزًا عَنْ الْكَسْبِ أَوْ قَادِرًا عَلَيْهِ بِتَفْوِيتِ مَا هُوَ فِيهِ أَطْوَعُ لِلَّهِ مِنْ الْكَسْبِ فَفِعْلُ مَا هُوَ فِيهِ أَطْوَعُ هُوَ الْمَشْرُوعُ فِي حَقِّهِ
“Orang fakir ini bisa jadi karena ia tidak mampu bekerja, atau ia mampu namun ia harus meninggalkan suatu amalan yang lebih taat kepada Allah dari bekerja, maka melakukan amalan yang lebih taat kepada Allah disyari’atkan baginya.” [Majmu’ Al-Fatawa, 10/427]
5) Hendaklah saling tolong menolong di dalam menuntut ilmu dan mengajarkannya sesuai kemampuan masing-masing, apakah dengan ilmu, harta maupun tenaga. Allah ta’ala berfirman,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” [Al-Maidah: 2]

Kamis, 19 Maret 2015

Sobat, salah satu sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang nampaknya kini telah diabaikan oleh banyak orang ialah penggunaan daun bidara di saat wanita bersuci dari haidh atau nifas.
Padahal anjuran menggunakan daun bidara untuk mensucikan organ kewanitaan pada saat mandi bersuci dari haidh dan nifas memiliki manfaat yang sangat besar, tentunya tidak ketinggalan manfaat untuk suami tercinta.
SImak hadits berikut, agar anda mengetahui langsung anjuran nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut :
‘Aisyah mengisahkan: Suatu hari Asma’ binti Abi Bakar radhiallahu ‘anhum bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perihal tatacara mandi janabah seusai suci dari haidh. Beliau bersabda:

تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَا وَسِدْرَتَهَا فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ دَلْكًا شَدِيدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْهَا الْمَاءَ. ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتَطَهَّرُ بِهَا ». فَقَالَتْ أَسْمَاءُ وَكَيْفَ تَطَهَّرُ بِهَا فَقَالَ « سُبْحَانَ اللَّهِ تَطَهَّرِينَ بِهَا ». فَقَالَتْ عَائِشَةُ كَأَنَّهَا تُخْفِى ذَلِكَ تَتَبَّعِينَ أَثَرَ الدَّمِ. وَسَأَلَتْهُ عَنْ غُسْلِ الْجَنَابَةِ فَقَالَ « تَأْخُذُ مَاءً فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ – أَوْ تُبْلِغُ الطُّهُورَ – ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تُفِيضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ ». فَقَالَتْ عَائِشَةُ نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الأَنْصَارِ لَمْ يَكُنْ يَمْنَعُهُنَّ الْحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِى الدِّينِ.

“Hendaknya engkau mengambil air dan daun bidara, kemudian dia bersuci dan menyempurnakan mandi bersucinya. Selanjutnya, engkau menyiramkan air dari atas kepalamu lalu menggosok-gosoknya dengan kuat sehingga air membasahi seluruh kulit kepalamu. Bila telah basah seluruh kulit kepalanya, maka hendaknya engkau menyiramkan air ke seluruh badanmu. Bila telah selesai, ambillah sepotong kain atau kapas yang telah dibubuhi minyak misik (wangi), kemudian dia bersuci dengannya. Asma’ kembali bertanya : “Bagaimana caranya aku bersuci dengan kain atau kapasnya?” Beliau bersabda: “Subhanallah, bersucilah dengannya”. Aisyah memahami bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa risih untuk menjelaskan lebih detail, maka ia segera memberikan penjelasan kepada saudarinya Asma’ “Engkau mengusapkan kain/kapas itu ke area yang terkena darah haidh.” HR Imam Muslim.
Selamat mencoba, insyaAllah suami tambah lengket kayak perangko.

Ustadz DR Muhammad Arifin Badri, MA حفظه الله تعالى


Kamis, 12 Maret 2015

⛔ Kesalahan dan Kekeliruan yang Banyak Terjadi di Hari Jum'at ⛔

diantaranya kesalahan-kesalahan tersebut adalah:

 Tidak mandi jum'at ketika hendak menuju shalat jum'at.

 Melangkahi pundah-pundak manusia pada saat khutbah sedang berlangsung.

 Keyakinan sebagian orang akan wajibnya membaca surat As-Sajdah dan Al-Insan pada shalat shubuh di hari jum'at (padahal hukumnya sunnah).

 Mengucapkan shalawat dan memintakan keridhaan Allah untuk para sahabatnya dengan suara keras, dan imam sedang berkhutbah.

 Menunggu mu'adzin hingga selesai dari adzannya di hari jum'at, kemudian baru shalat tahiyatul masjid (padahal yang benar adalah mengutamakan shalat tahiyatul masjid dari pada mendengar adzan agar segera mendengar khutbah setelahnya, karena mendengar khutbah hukumnya wajib, sedangkan mendengar adzan hukumnya sunnah, maka dahulukan yg wajib dari pada yg sunnah, pent).

 Menyambung shalat jumat dengan shalat lain setelahnya tanpa memisah antara keduanya dengan ucapan atau dzikir.

 Bersiwak dan melakukan hal-hal yang sia-sia ketika imam sedang berkhutbah.

 Berbicara ketika imam sedang berkhutbah, termasuk juga ucapan salam menjawab salam, mendoakan orang yang bersin, mengingkari kemungkaran yang terjadi di dekatnya, dan yang semisalnya.

Demikian, wabillahi at-taufiiq.

Sumber: "Min Mukhalafat Ath-Thaharah wa Ash-Shalah", karya Syaikh Abdul Aziz As-Sadhan حفظه الله تعالى.
Diterjemahkan oleh: Andri Abdul Halim,  Lc. حفظه الله تعالى

 Sebarkan, mudah2an anda mendapatkan bagian dari pahalanya.

-----------------------------
♻ Silsilah nasihat ke - 39
 WA Dakwah Jalyat Unaiza_Indo

Barakallaahu fiykum

Arsip

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts