Minggu, 18 Januari 2015

Tersebutlah, di suatu masa, seorang murid dengan gurunya sedang berjalan-jalan di suatu tanah yang lapang. Tidak lama kemudian, lekatlah pandangan murid itu pada sebuah sepatu yang tergeletak di lapangan itu. Keduanya pun tahu jika itu adalah sepatu milik seorang petani faqir yang bekerja tidak jauh dari sana.
Murid itu pun berkata pada gurunya,”Wahai guru, marilah kita bermain-main sejenak. Kita sembunyikan sepatu si faqir ini, agar nanti dia kebingungan mencari sepatunya”
Gurunya pun menjawab,”Wahai anakku, hendaknya kita tidak bermain-main dengan perasaan si faqir ini. Akan tetapi aku memiliki ide lebih bagus agar kita bisa sama sama terhibur. Bagaimana jika engkau meletakkan sedikit uang ke dalam sepatunya, lantas kita bersembunyi di balik pohon sambil melihat reaksinya? Toh engkau orang yang kaya.”
Murid itu pun setuju, lantas dia segera meletakkan sebagian uangnya ke dalam sepatu faqir itu, dan dia segera bersembunyi di balik pohon bersama sang guru. Tak lama kemudian, si faqir ini pulang dari pekerjaannya dan segera saja memakai sepatu.
Ketika memakai sepatu, si faqir ini merasakan keanehan di sepatunya. Setelah dilihat, dia terkejut karena menemukan beberapa uang di dalam sepatunya. Dia tercengang dan berkali-kali mengecek dan memastikan bahwa dia tidak sedang bermimpi.
Setelah dia yakin bahwa itu nyata, dia pun mencari-cari apakah di sekelilingnya ada orang. Ternyata dia pun tidak menemui siapapun. Kemudian dia memasukkan uangnya ke dalam kantong. Bertekuk lututlah dia, memandang ke langit, menangis, seraya berucap, “Yaa Rabbiy, sungguh engkau telah mengetahui bahwa istriku sakit, dan anakku kelaparan karena tidak ada makanan di rumah. Sungguh engkau telah menyelamatkanku dan anakku dari kehancuran” Dia berkata sambil terus memandang ke langit dan menangis.
Sang murid yang melihat dari balik pohon itu terhenyak melihat apa yang terjadi pada si faqir itu. Tak terasa matanya telah dipenuhi oleh air mata. Lantas gurunya pun berkata, “Tidakkah engkau merasa terhibur sekarang? Daripada engkau melaksanakan idemu yang pertama (yakni menyembunyikan sepatu si fakir).
Sang murid pun menjawab,”Sungguh, sekarang barulah terasa olehku makna dari bersedekah, dan aku ingat akan firmanNya
وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا
Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya” (Al Muzammil : 20)
“Ya Allah, jadikanlah kami menjadi golongan yang suka memberi, dan janganlah engkau haramkan atas kami kenikmatan bersedekah..”
Semoga bermanfaat.
Barakallaahu fiikum
Dikutip dari fanspage syaikh mahir al-Mu’aiqily
Via Akh Zuhroni Ali Fikri

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts