Kamis, 08 Januari 2015

Dikisahkan ada seorang guru aqidah yang setiap hari mengajarkan kalimat لا إله إلا الله dan maknanya.
Pada suatu hari ada seorang muridnya yang membawa seekor burung beo dan menghadiahkan burung tersebut kepadanya. Sang guru sangat senang, karena salah satu hobinya adalah memelihara burung dan kucing.
Di hari-hari berikutnya, sang guru selalu membawa beo tersebut bersamanya ketika mengajar. Sampai akhirnya lama kelamaan burung tersebut belajar menirukan lafadh tauhid yang dia ajarkan.
Sehingga setelah itu ia senantiasa mengulang-ulang lafadh tersebut siang-malam. Namun, pada suatu hari para murid mendapati guru mereka sedih dan murung.
Mereka bertanya, “Wahai guru kami, apa yang menyebabkan engkau bersedih?”
“Burung beoku mati karena diterkam oleh kucing.”
“Apakah karena hal tersebut yang membuat engkau bersedih? Jika engkau mau kami akan menghadiahkan untukmu burung beo yang lain.”
Sang guru menjawab,
“Sebenarnya bukan kematian burung itu yang membuatku bersedih. Namun yang membuatku bersedih adalah karena pada saat-saat terakhir menjelang kematiannya, ketika kucing menyerang burung itu hanya bisa berteriak-teriak saja sampai ajalnya tiba.
Padahal dia sebelumnya selalu mengucapkan kalimat tauhid. Ini semua karena dia hanya mengucapkan kalimat tersebut dari lisannya tanpa memahaminya dalam hati.
Aku takut kejadian ini akan menimpa kita. Kita sering mengucapkan kalimat tauhid dan mengulang-ulangnya siang malam melalui lisan kita. Namun ketika ajal menjemput justru kita hanya bisa berteriak-teriak dan tidak mengingat kalimat ini. Karena kalimat tersebut belum masuk ke hati kita.”
Mendengarkan hal itu para murid pun menangis semua tanpa kecuali.
Via *)Tajun Nashr MasyhudMahasiswa LIPIA Jakarta Fakultas Syariah

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts