Rabu, 28 Januari 2015

Kematian ibarat badai yang menyerang daratan sedikit demi sedikit, lalu besar-besaran. Orang berakal ialah orang yang tidak hidup dalam ilusi ala anak nabi Nuh 'alaihissalam. Ia kira dirinya selamat dari badai dengan berlindung di puncak gunung. Kematian juga seperti itu. Siapa tidak siap menghadapinya, ia ditelan dan ditenggelamkan kematian sebelum sempat berpikir untuk bersiap-siap.

Ibnu Al-Jauzi rahimahullāh berkata, "Badai kematian telah datang. Karena itu, naiklah ke perahu ketaqwaan." [Al-Luthfu Al-Wa'dzi, hal 21]

Perahu tersebut bukan perahu hiasan dan wisata. Namun perahu penyelamat dari badai yang akan membanjiri bumi. Itulah badai yang membuat orang zuhud, Said bin  As-Saib, ketakutan. Dikisahkan, air matanya tidak pernah kering, Air matanya senantiasa mengucur sepanjang tahun, Jika shalat, ia menangis. Jika thawaf, ia menangis. Jika duduk membaca Al-Qur'an, ia menangis. Dan, jika anda temui di jalan, ia menangis.

Kendati demikian, jika ditanya, "Bagaimanakah kabar anda pagi ini?" Ia menjawab, "Pagi ini, aku sedang menunggu kematian tanpa persiapan maksimal." [Shifatu Ash-Shafwah, ll/273]

[Waahatu Al-Iman, Pesan-Pesan Spiritual Penjernih Hati]

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts