Rabu, 30 Desember 2015


Yang ada dari merayakan tahun baru adalah meniru gaya dan perayaan orang kafir. Karena perayaan semisal itu bukanlah perayaan Islam dan tidak kita temukan di masa wahyu itu turun. Para sahabat tak pernah merayakannya. Para tabi’in tak pernah merayakannnya. Para ulama madzhab pun tak pernah menganjurkannya. Perayaan tersebut yang ada hanyalah meniru perayaan orang kafir.

Sejarah Perayaan Tahun Baru

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh pada tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus. (Sumber: Wikipedia)

Larangan Meniru Perayaan Orang Kafir

Kalau sudah dibuktikan kalau perayaan itu hanyalah tradisi orang kafir, lalu kita dilarang tasyabbuh (meniru) tradisi mereka, maka merayakannya pun tak perlu.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ » . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ « وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ »

“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?” (HR. Bukhari no. 7319)

Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ ». قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ « فَمَنْ ».

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669)

An Nawawi -rahimahullah- ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziro’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal kekufuran. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.”(Syarh Shahih Muslim, 16: 220)

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

“Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Ibnu Taimiyah dalam kitab lainnya berkata, “Sesungguhnya tasyabbuh (meniru gaya) orang kafir secara lahiriyah mewariskan kecintaan dan kesetiaan dalam batin. Begitu pula kecintaan dalam batin mewariskan tasyabbuh secara lahiriyah. Hal ini sudah terbukti secara inderawi atau eksperimen. Sampai-sampai jika ada dua orang yang dulunya berasal dari kampung yang sama, kemudian bertemu lagi di negeri asing, pasti ada kecintaan, kesetiaan dan saling berkasih sayang. Walau dulu di negerinya sendiri tidak saling kenal atau saling terpisah.” (Iqtidha’ Ash Shirothil Mustaqim, 1: 549).

Apakah masih mau terus tasyabbuh atau meniru-niru gaya orang kafir? Kapan umat Islam punya jati diri? Kapan umat Islam mau menyatakan dirinya berbeda.

Semoga bisa berpikir, hanyalah Allah yang memberi taufik dan hidayah.


Selesai disusun di Hotel Ilyas Center di kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 

6 Rabi’ul Awwal 1436 H

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel: www.Rumaysho.com
“Mengapa kita tidak boleh merayakan tahun baru Masehi ?! Seluruh dunia pun serempak merayakan, 
Kenapa kita tidak...! Inikan hari kebahagiaan seluruh umat manusia dengan bergantinya tahun yang baru, kenapa kita sia-siakan momen tersebut?!”. 

Ungkapan di atas tidak jarang kita dengar dari saudara saudari kita pra/di malam tahun baru. Seolah-olah mengisyaratkan bentuk ke-tidak setujuan mereka ketika dilarang dari merayakan malam tahun baru.

Sebagai seorang muslim sepatutnya memahami terlebih dahulu perkara yang sangat dasar terkait dengan perayaan malam tahun baru, sehingga agar tidak terbawa perasaan untuk menentangnya. 

Dalam hal ini hendaknya kita melihat dua sisi penting terkait perayaan malam tahun baru:

1. Dari sisi asal-muasal perayaan malam tahun baru Masehi

Saudaraku kaum Muslimin, ketika kita melihat sejarah umat Islam silam ternyata kita tidak mendapati nukilan sejarah ataupun riwayat tentang adanya perayaan malam tahun baru Masehi. Bahkan bangsa-bangsa selain Islamlah yang mengawali diadakannya perayaan tersebut. 

Bangsa Romawi kuno, merayakan pesta tahun baru dengan memberikan potongan dahan pohon suci, dimaksudkan adalah untuk menghormati Dewa Janus yang mereka anggap sebagai Dewa pintu dan semua permulaan hidup.

Kemudian Bangsa Yunani, mereka merayakan tahun baru dengan menebarkan buah delima (yang diyakini sebagai lambang kesuburan dan kesuksesan) di pintu-pintu rumah, kantor dan yang lainnya sebagai simbol doa untuk mendapatkan kemakmuran sepanjang tahun.

Dari sinilah kita mengetahui bahwa merayakan malam tahun baru Masehi bukan berasal dari Islam sedikit pun.

2. Dari sisi bentuk perayaan malam tahun baru

Tidak elak bagi kita dari fakta kaum Muslimin yang memeriahkan malam tahun baru dengan berbagai macam bentuk dan model dari mulai meniupkan terompet, membunyikan petasan atau kembang api sampai kepada kemaksiatan yang sangat parah hanya untuk melambangkan kesenangan sesaat di malam tahun baru.

Belum lagi ditambah dengan adanya keyakinan-keyakinan tertentu yang tidak benar, dan rahasia di balik perayaan malam tahun baru, bagi bangsa-bangsa lain yang erat kaitannya dengan agama dan kepercayaan mereka. 

- Bangsa Romawi kuno, sebagaimana yang telah kita sebutkan di atas bahwa pesta tahun baru yang mereka rayakan dengan memberikan potongan dahan pohon suci, dimaksudkan adalah untuk menghormati Dewa Janus yang mereka anggap sebagai Dewa pintu dan semua permulaan hidup (yang digambarkan bermuka dua, satu menghadap ke depan dan satu menghadap ke belakang).  
- Bangsa Yunani, mereka merayakan tahun baru dengan menebarkan buah delima -yang di yakini sebagai lambang kesuburan dan kesuksesan- di pintu-pintu rumah, kantor dan yang lainnya sebagai simbol doa untuk mendapatkan kemakmuran sepanjang tahun.

- Orang-orang Brazil, merayakan tahun baru dengan menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai, sebagai tanda penghormatan terhadap Dewa Lemanja yang mereka yakini sebagai dewa laut dalam legenda mereka.

- Adapun umat Kristen, mereka menjadikan perayaan ini sebagai perayaan suci dari agama mereka dan menjadikannya satu paket yang tidak bisa di pisahkan dengan hari Natal. Karena tahun baru Masehi di kaitkan dengan lahirnya Yesus kristus menurut versi mereka.

Sikap Seorang Muslim di Malam Tahun Baru Masehi  

Setelah kita mengetahui perkara di atas, maka sikap apa yang harus diambil oleh setiap muslim ketika ada perayaan malam tahun baru...??

Sikap yang benar adalah menjauh dari berbagai macam bentuk perayaan tersebut, tidak ikut serta memeriahkannya baik secara fisik maupun secara materi, karena perayaan ini hukumnya adalah haram di lakukan oleh umat Islam, dengan dalil sebagai berikut:

(1) Perayaan malam tahun baru adalah ibadah orang kafir dan bukan berasal dari Islam.

(2) Memeriahkan pesta malam tahun baru merupakan bentuk penyerupaan terhadap orang kafir. 
Nabi ﷺ bersabda:

“Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” [HR. Ahmad dan Abu Dawud]

(3) Perayaan malam tahun baru penuh dengan kemaksiatan, sebagaimana yang telah dipaparkan.

(4) Perayaan malam tahun baru adalah perkara baru yang tidak di contohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam dan para generasi terbaik umatnya.

(5) Mengikuti hari raya mereka termasuk bentuk loyalitas dan menampakkan rasa cinta kepada mereka. Padahal Allah melarang kita untuk menjadikan mereka sebagai kekasih (memberikan loyalitas) dan menampakkan cinta kasih kepada mereka. Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (rahasia), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu..” [lihat QS. al-Mumtahanah: 1]

(6) Hari raya merupakan bagian dari agama dan doktrin keyakinan, bukan semata perkara dunia dan hiburan. 

Ketika Nabi ﷺ datang di kota Madinah, penduduk kota tersebut merayakan dua hari raya, Nairuz dan Mihrajan. Beliau pernah bersabda di hadapan penduduk Madinah:

“Saya mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari raya, yang kalian jadikan sebagai waktu untuk bermain. Padahal Allah telah menggantikan dua hari raya terbaik untuk kalian; idul fitri dan idul adha.” [HR. Abu Dawud]

Perayaan Nairuz dan Mihrajan yang dirayakan oleh penduduk Madinah, isinya hanya bermain-main dan makan-makan. Sama sekali tidak ada unsur ritual sebagaimana yang dilakukan oleh orang Majusi. Namun mengingat dua hari tersebut adalah perayaan orang kafir, Nabi shallallahu ‘alahi wasallam melarangnya. Sebagai gantinya, Allah memberikan dua hari raya terbaik: Idul Fitri dan Idul Adha.

Oleh karenanya, turut bergembira dengan perayaan orang kafir, meskipun hanya bermain-main, tanpa mengikuti ritual keagamaannya, termasuk perbuatan yang terlarang, karena termasuk turut menyukseskan acara mereka. 

Allahu a’lam bis showab..

Oleh: ✍ Ustādz Hermawan, Lc  حفظه الله تعالى

 Group WA Suara Al-Iman 

Sumber Berita: atturots.or.id


Simak pula pembahasan seputar Tahun Baru  http://www.annashihah.org/2015/12/tahun-baru-perayaan-orang-kafir-yang.html


Selasa, 29 Desember 2015

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan tentang Islam, termasuk di dalamnya masalah adab. Seorang penuntut ilmu harus menghiasi dirinya dengan adab dan akhlak mulia. Dia harus mengamalkan ilmunya dengan menerapkan akhlak yang mulia, baik terhadap dirinya maupun kepada orang lain. 

📝 Berikut diantara adab-adab yang selayaknya diperhatikan ketika seseorang menuntut ilmu syar’i,
1. Mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu
Seseorang tidak akan mendapat ilmu yang bermanfaat jika ia tidak ikhlas karena Allah. 
Orang yang menuntut ilmu bukan karena mengharap wajah Allah termasuk orang yang pertama kali dipanaskan api neraka untuknya. Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang menuntut ilmu syar’i yang semestinya ia lakukan untuk mencari wajah Allah dengan ikhlas, namun ia tidak melakukannya melainkan untuk mencari keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mendapat harumnya aroma surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)

2. Rajin berdoa kepada Allah Ta’ala, memohon ilmu yang bermanfaat
Hendaknya setiap penuntut ilmu senantiasa memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah Ta’ala dan memohon pertolongan kepadaNya dalam mencari ilmu serta selalu merasa butuh kepadaNya.
Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kita untuk selalu memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah Ta’ala dan berlindung kepadaNya dari ilmu yang tidak bermanfaat.

3. Bersungguh-sungguh dalam belajar dan selalu merasa haus ilmu
Dalam menuntut ilmu syar’i diperlukan kesungguhan. Tidak layak para penuntut ilmu bermalas-malasan dalam mencarinya. Kita akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dengan izin Allah apabila kita bersungguh-sungguh dalam menuntutnya. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam barsabda, “ Dua orang yang rakus yang tidak pernah kenyang: yaitu (1) orang yang rakus terhdap ilmu dan tidak pernah kenyang dengannya dan (2) orang yang rakus terhadap dunia dan tidak pernah kenyang dengannya.” (HR. Al-Baihaqi)

4. Menjauhkan diri dari dosa dan maksiat dengan bertaqwa kepada Allah Ta’ala
Seseorang terhalang dari ilmu yang bermanfaat disebabkan banyak melakukan dosa dan maksiat. Sesungguhnya dosa dan maksiat dapat menghalangi ilmu yang bermanfaat, bahkan dapat mematikan hati, merusak kehidupan dan mendatangkan siksa Allah Ta’ala. 

5. Tidak boleh sombong dan tidak boleh malu dalam menuntut ilmu
Sombong dan malu menyebabkan pelakunya tidak akan mendapatkan ilmu selama kedua sifat itu masih ada dalam dirinya. 

Imam Mujahid mengatakan,
 لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْىٍ وَلاَ مُسْتَكْبِرٌ 
 “Dua orang yang tidak belajar ilmu: orang pemalu dan orang yang sombong” (HR. Bukhari secara muallaq) 

6. Mendengarkan baik-baik pelajaran yang disampaikan ustadz, syaikh atau guru 
Allah Ta’ala berfirman, “… sebab itu sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-hambaKu, (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan merekalah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Az-Zumar: 17-18)

7. Diam ketika pelajaran disampaikan 
Ketika belajar dan mengkaji ilmu syar’i tidak boleh berbicara yang tidak bermanfaat, tanpa ada keperluan, dan tidak ada hubungannya dengan ilmu syar’i yang disampaikan, tidak boleh ngobrol. Allah Ta’ala berfirman, “dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raaf: 204)

8. Berusaha memahami ilmu syar’i yang disampaikan 
Kiat memahami pelajaran yang disampaikan: mencari tempat duduk yang tepat di hadapan guru, memperhatikan penjelasan guru dan bacaan murid yang berpengalaman. Bersungguh-sungguh untuk mengikat (mencatat) faedah-faedah pelajaran, tidak banyak bertanya saat pelajaran disampaikan, mengulang pelajaran setelah kajian selesai dan bersungguh-sungguh mengamalkan ilmu yang telah dipelajari. 

9. Menghafalkan ilmu syar’i yang disampaikan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah memberikan cahaya kepada wajah orang yang mendengar perkataanku, kemudian ia memahaminya, menghafalkannya, dan menyampaikannya. Banyak orang yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faham daripadanya…” (HR. At-Tirmidzi). 

Dalam hadits tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Allah Ta’ala agar Dia memberikan cahaya pada wajah orang-orang yang mendengar, memahami, menghafal, dan mengamalkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka kita pun diperintahkan untuk menghafal pelajaran-pelajaran yang bersumber dari Al-Quran dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

10. Mengikat ilmu atau pelajaran dengan tulisan
Ketika belajar, seorang penuntut ilmu harus mencatat pelajaran dan poin-poin penting agar ilmu yang disampaikannya tidak hilang dan terus tertancap dalam ingatannya setiap kali ia mengulangi pelajarannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ikatlah ilmu dengan tulisan” (HR. Ibnu ‘Abdil Barr)

11. Mengamalkan ilmu syar’i yang telah dipelajari
Menuntut ilmu syar’i bukanlah tujuan akhir, tetapi sebagai pengantar kepada tujuan yang agung, yaitu adanya rasa takut kepada Allah, merasa diawasi oleh-Nya, taqwa kepada-Nya, dan mengamalkan tuntutan dari ilmu tersebut. Dengan demikian, barang siapa saja yang menuntut ilmu bukan untuk diamalkan, niscaya ia diharamkan dari keberkahan ilmu, kemuliaan, dan ganjaran pahalanya yang besar. 
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, kemudian ia melupakan dirinya (tidak mengamalkan ilmunya) adalah seperti lampu (lilin) yang menerangi manusia, namun membakar dirinya sendiri.” (HR Ath-Thabrani) 

🔋 Tematik BISA 
Referensi: Disarikan dari berbagai sumber..

Kamis, 10 Desember 2015

Meskipun secara umum para lelaki memiliki kelebihan dalam memandang dan cara berfikir dengan melihat lebih jauh ke depan, akan tetapi harus diakui bahwasanya para wanita dalam beberapa hal –terutama yang berkaitan dengan urusan rumah tangga dan anak-anak-, maka para wanita lebih tajam dan lebih detail pandangan dan pengamatannya.
Dalam hal urusan pengaturan perabot rumah tangga, persiapan sekolah anak-anak, dan hal-hal lain dalam rumah, maka wanita lebih jeli dan detail. Berbeda dengan para lelaki yang hanya bisa menilai secara global dan tidak detail. Karenanya para lelaki kurang bisa mengamati perubahan-perubahan detail yang terjadi di rumah, akan tetapi para lelaki bisa menilai dengan penilaian global bahwa kondisi rumah baik atau tidak. Adapun perubahan posisi pot bunga misalnya, atau pergantian taplak meja atau seprai kasur, atau perapian rambut anak-anak, atau tas baru milik anak-anak, sering kali para lelaki (para suami) tidak tanggap.
Demikian pula jika sang istri baru saja merapikan rambutnya, atau baru saja memakai perhiasan yang baru, atau bedak yang baru lalu ia bertanya kepada sang suami, “Sayangku adakah sesuatu yang baru yang kau lihat hari ini??”. Sesungguhnya pertanyaan ini adalah pertanyaan yang mudah dan sepele akan tetapi ternyata sangat berat untuk dijawab oleh seorang suami yang pandangannya tidak detail dan jeli dalam urusan seperti ini.
Bahkan bisa jadi sang istri memakai kembali kalung yang dulu pernah dibelikan oleh sang suami sebagai hadiah karena ada kondisi istimewa tertentu, lalu tatkala sang istri bertanya, “Sayang lihat sesuatu yang baru atau yang aneh nggak pada diriku?”. Terkadang suami menjadi bingung untuk menjawab pertanyaan ini??, apa yang aneh..??, apa yang baru…??.
Pertanyaan-pertanyaan beruntun yang terkadang sangat menyedihkan sang istri karena menunjukkan suami yang tidak tanggap dan tidak nyambung-nyambung…
Terkadang sang istri bertanya, “Suamiku, apakah ada perubahan pada wajahku?”.
Maksud sang istri –setelah memakai pembersih muka atau pembersih kulit selama sebulan- tentunya ada perubahan ke arah lebih cantik, akan tetapi sang suami tatkala ditanya demikian menjadi sangat bingung. Karena suami merasakan sama sekali tidak ada perubahan, karena setiap hari ia melihat wajah sang istri…, terlebih lagi sebagaimana telah lalu pandangan suami dalam hal-hal rumah tangga hanyalah pandangan global dan tidak detail.
Demikian juga tatkala sang istri melakukan program diet selama sebulan lantas setelah sebulan ia bertanya kepada suaminya, “Wahai cintaku, tidakkah engkau melihat perubahan pada tubuhku?”
Sang suamipun bingung, dalam hatinya berkata, “Memang ada perubahan apa…?”
Karenanya wahai para istri, ingatlah firman Allah
وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأنْثَى
“Laki-laki tidaklah seperti perempuan” (QS Ali Imroon : 3)
Jikalau Allah memberikan pandangan tajam bagi lelaki dalam hal pekerjaan dan rencana masa depan akan tetapi ternyata pandangan lelaki tidaklah tajam dan detail dalam pengurusan dan pengaturan dalam rumah. Allah menjadikan wanita lebih jeli dan detail dalam hal-hal rumah tangga.
Bayangkan jika seandainya Allah menjadikan seorang suami pandangannya detail dan jeli dalam perubahan kondisi dalam rumah, tentu sang suami akan menjadi seorang wanita yang cerewet, bahkan bisa jadi lebih cerewet dari pada seorang wanita !!!
Karenanya …MAAFKANLAH SUAMIMU…wahai para istri…, maafkanlah dia yang terkadang tidak bisa romantis kepadamu tatkala engkau sedang ingin beromantis dengannya…
Ustādz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Sumber: BBG Al Ilmu

Sabtu, 05 Desember 2015

❓PERTANYAAN :
➖Kenapa kaum shufi lebih berpegang dengan dzikir menyebut lafal nama Allâh saja tanpa menyebut sifat² Allâh?
➖Kenapa kaum muslimin tidak mengerjakan dzikir dengan hanya menyebut lafal Allâh saja, namun mereka berdzikir kepada Allah dengan menyebut kalimat tauhid dan sifat² Allâh?
➖Kaum sufi beranggapan bahwa nama Allâh itu sendiri sudah memiliki nilai paling besar, sedangkan kaum muslimin berpendapat bahwa kalimat Lâ ilâha illallâh lah yang memiliki nilai terbesar.

💬 Al-Imam 'Abdul 'Aziz bin Bâz rahimahullâhu menjawab :
🔹Banyak ayat yang mulia dan hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang shahih menunjukkan bahwa ucapan paling baik adalah kalimat tauhid, yaitu Lâ ilâha illallâh.

 🔹Sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam :
الإيمان بضع وسبعون شعبة، فأفضلها قول لا إله إلا الله 
 "Iman itu memiliki cabang lebih dari tujuh puluh, yang paling utama adalah ucapan Lâ Ilâha illallâh."

🔹Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam juga bersabda :
 أحب الكلام إلى الله أربع؛ سبحان الله، ولا إله إلا الله، والله أكبر 
"Perkataan yang paling dicintai oleh Allâh itu ada empat : subhânallâhi, alhamdulillâh, Lâ ilâha illallâh dan Allâhu Akbar."

🔹Allâh sendiri telah menyebutkan kalimat ini di pelbagai tempat di dalam kitab-Nya yang mulia. 🔸Diantaranya adalah firman-Nya Subhânahu :
 شهد الله أنه لا إله إلا الله   
 "Allâh mempersaksikan bahwa tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Dia."
🔸Dan firman-Nya Azza wa Jalla :
 فاعلم أنه لا إله إلا الله واستغفر لذنبك 
 "Ketahuilah, bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allâh, dan mohon ampunlah atas dosamu."

🔹Yang disyariatkan bagi seluruh kaum muslimin adalah berdzikir kepada allah dengan lafal : Lâ Ilâha illallâh, dan ditambah dengan lafal : Subhânallâhi, alhamdulillâh, Allâhu Akbar, dan Lâ haula wa lâ quwwata ill billâh. 

🔹Semuanya ini termasuk perkataan yang baik dan disyariatkan. 

🔹Adapun dzikir nya kaum shufi yang menyebut "Allâh Allâh", atau "Huwa Huwa", maka ini termasuk bid'ah dan tidak boleh mengerjakannya.

🔹Karena tidak dinukil dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak pula dari para sahabat Nabi radhiyallâhu' anhum, sehingga amal tsb adalah bid'ah berdasarkan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam :
 من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد 
Barangsiapa yang beramal (dalam ibadah) dengan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tsb tertolak. 
 🔸Juga sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :
 من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد 
 Barangsiapa yang mengada²kan sesuatu di dalam urusan kami ini (ibadah) yang tidak ada tuntutannya maka tertolak. (Muttafaq' alaihi) 
 🔸Arti dari sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam : فهو رد yaitu مردود (tertolak), karena itu tdk boleh mengamalkannya dan tidak akan diterima.

🔹Tidaklah diperkenankan bagi orang Islam utk beribadah dengan syariat yang tidak Allâh syariatkan, dg dasar hadits sebelumnya. Dan juga yang semakna adalah firman Allâh Subhanahu yang mengingkari kaum musyrikin :
 أم لهم شركاء شرعوا لهم من الدين ما لم يأذن به الله 
 "Apakah mereka memiliki sekutu² yang membuatkan syariat agama bagi mereka yang tidak diizinkan oleh Allâh." 

🔹Semoga Allâh memberikan taufik-Nya bagi kita semua kepada perkara yang diridhai. Wassalâmu 'alaikum warohmatullâhi wabarokâtuh. 

 📚 Majmû' Fatâwâ Ibnu Bâz VIII/480 
✏️___ @abinyasalma 
#⃣ Channel al-Wasathiyah wal I'tidâl (https://telegram.me/abusalmamuhammad)

Rabu, 18 November 2015

MENJAWAB GAMBARAN BURUK DAN NEGATIF TERHADAP ISLAM oleh orang-orang kafir, yaitu ISLAM mereka IDENTIKKAN DENGAN TERORISME DAN KEKEJAMAN

Asy-Syaikh al-‘Allamah Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah

Tanya : "Islam sekarang identik dengan terorisme dan kekejaman. Bukankah ini akibat dari perbuatan sebagian dari kaum muslimin sendiri, sehingga memberikan gambaran buruk terhadap Islam. Bagaimanakah cara mengatasi ini?"

Jawab :
“Orang-orang kafir sejak dulu terus memerangi Islam dan memberinya sifat-sifat yang paling jelek, agar orang lari meninggalkan Islam.

{‏يُرِيدُونَ أَن يُطْفِؤُواْ نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلاَّ أَن يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ‏}‏ ‏[‏التوبة‏:‏ 32‏.‏‏]

"Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka. Namun Allah tidak mau kecuali menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir membencinya." (at-Taubah : 32)

Diantaranya, orang-orang kafir memberikan sifat kepada Islam sebagai agama terorisme dan kekejaman.
Mereka lupa, bahwa teror, kekejaman, pembunuhan terhadap sipil, penindasan tanpa alasan yang haq, dan semua sifat tercela itu JUSTRU ADA PADA AGAMA KAFIR dan MERUPAKAN SIFAT ORANG KAFIR.

Adapun sebagian orang Islam, muncul darinya beberapa tindakan yang salah – karena faktor kebodohan (tentang agama) atau karena maksud-maksud yang jelek – maka itu semua tidak bisa dinisbatkan kepada Islam. Karena Islam MELARANG itu semua.

Jalan keluar dari tuduhan jelek terhadap Islam adalah dengan cara dijelaskan bahwa perbuatan orang-orang tersebut bukan dari Islam. Itu hanya tindakan pribadi. Setiap muslim bisa saja salah, tidak ada yang makshum (terjamin dari kesalahan) kecuali Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=105480

•••••••••••••••
Majmu'ah Manhajul Anbiya

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Senin, 16 November 2015

Jika kamu sedang sedih, apapun sebabnya, tentu tak ingin kamu simpan sendiri. Orang yang paling kamu cari adalah yang paling dekat denganmu. Kenapa? Karena yang terdekat adalah yang terfaham terhadap dirimu. Kamu berharap ia memberimu udzur atas kesedihanmu. Orang asing tak memahami. Tapi apa kamu yakin, bahwa orang terdekatmu itu selalu faham 100% maksudmu?

Ternyata tidak selalu.

Begitulah manusia. Iya, begitulah manusia. Tidak semua hal terfahami oleh manusia. Kadang hal mudah sulit difahami. Kadang hal sulit mudah difahami.

Jika kamu tahu bahwa manusia begitu, maka ke mana kamu pergi? Kepada Allah al-Aliim al-Khabiir kamu kembali. Kembalikan pada-Nya. Ceritakan itu pada Allah. Jika itu karena salahmu, akuilah itu salahmu. Jikapun kamu tak mau mengaku, kamu tahu Allah tahu segala detail salahmu. Tiada lagi celah menghindar. Jika itu bukan salahmu, maka ceritakan pada Allah.

Bahkan, ceritakan pada Allah meski kamu tak punya lagi kata yang tersisa...

Mungkin karena terlalu sedih atau memalukan...
Mungkin karena memang kamu tak pandai merangkai kata...

Kekasihmu kadang kecewa kamu tak pandai merangkai kata, tetapi Allah Ta'ala senang dengan taubat hamba-Nya; padahal yang dilakukan hamba bukan cerita, bukan berkisah, bukan bertutur kata, melainkan menangis menangis menangis semata. Melainkan menumpahkan kejujuran kata lewat air mata. Tumpah semua. Di depan Rabbnya bersimpuh. Mengakui itu semua.

Ceritakan pada Allah meski yang bisa kamu berikan hanyalah air mata.

Kadang, tetesan air mata lebih punya makna dibandingkan sekadar kata.

Allah Maha Tahu...jumlatan wa tafshila, global dan terperinci, segala proposalmu. Dia Maha Tahu bait-bait di qalbumu. Kamu ingin apa, Dia Tahu. Kamu benci apa, Dia Tahu. Kamu bersungguh atau berpura-pura, Dia Tahu. Tapi Dia ingin agar kamu bersegera mengangkat tangan berhadapan dengan wajah bernodamu itu. Dia ingin kamu menulis proposal permohonan pada-Nya melalui lisan maupun tangisan. Dia ingin kamu membuktikan cintamu pada-Nya setelah Dia selalu membuktikan bahwa Dia selalu peduli padamu. Dia selalu memperhatikanmu. Dia menyembuhkanmu saat sakitmu. Dia memberikan pelangimu kembali setelah hujanmu.

Jika kamu jujur, dan tak satu pun makhluk mempercayaimu, maka al-Khaliq tahu kejujuranmu. Jikapun Allah al-Qahhar sudah memutuskan keindahan masa depan untukmu kelak, maka tak satu pun bisa atau bermandat menghalangi keputusannya, meskipun seluruh makhluk bersepakat menghalangi.

Karena sebenarnya cinta-Nya yang harus kamu kejar, bukan cinta selain-Nya. Maka katakan cintamu pada-Nya jika memang jujur, dan takutlah jika kamu bohong. Makhluk bisa saling membohongi satu sama lain. Namun makhluk tak bisa membohongi Khaliqnya. Barangsiapa berbohong kepada-Nya, ia sedang membohongi dirinya sendiri.

Ceritakan pada Allah meski baru bisa setitik air mata...
~Hasan Al-Jaizy
________________________
📲 Daftar broadcast Status Nasehat:
BBM: 59711A00
Whatsapp: 085743549664
[cara daftar, ketik: Nama Lengkap-Kota-SN]
Line: http://line.me/ti/p/%40ncm5434c
Telegram: https://telegram.me/statusnasehat
----------------------------------------
♻ Silahkan disebarluaskan

Kamis, 12 November 2015

Allah Ta'âlâ berfirman :
أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ
"Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah PETUNJUK mereka" (QS al-An'âm : 90)

🌷 Syaikh Ibnu Ustaimin rahimahullâhu berkata :
«قال: (بهداهُم) ولم يقل (بهم)
 لأن العبرة بـالمنهج لا بـالأشخاص!.

Allah mengatakan بهداهم (ikutilah petunjuk mereka) bukan mengatakan بهم (ikutilah mereka), karena yang menjadi Ibrah/acuan adalah MANHAJ bukanlah PERSON/INDIVIDU. 

 فلا تتعصّب لداعيةٍ ولا لمصلحٍ إن حادَ عن الحقّ، فإن الحقّ ليس بكثرة الرجال وإنما بموافقة الكتاب والسنة» 

Krn itu janganlah anda fanatik dg seorang da'i atau org yg baik apabila ia melenceng dari kebenaran. Karena KEBENARAN itu bukanlah dengan BANYAKNYA ORANG, namun (kebenaran itu) adalah dengan MENCOCOKI KITABULLAH DAN SUNNAH RASULULLAH. 

 📚 asy-Syarhul Mumti' IV/379 
📎 http://katef.net/?p=3175 -----------------------
✏️ @abinyasalma 
#⃣ Channel Telegram Al-Wasathiyah wal I'tidâl
 📎 Join : https://telegram.me/abusalmamuhammad

Minggu, 18 Oktober 2015

Istiqomah dalam menjalankan agama hingga akhir hayat merupakan dambaan kita semua. Hanya saja istiqomah bukanlah sesuatu yang mudah. Tidak seperti menelan ludah atau memotong lidi hingga patah.

Oleh karena itu Allah 'azza wa jalla dan Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan beberapa keutamaan istiqomah, agar kita termotivasi untuk dapat mengamalkannya.

Berikut di antara keutamaan tersebut:

★ Tidak merasa ketakutan
★ Tidak bersedih hati
★ Kekal di dalam surga (QS. al-Ahqaf: 13-14)
★ Kabar gembira di dunia dan akhirat
★ Di dalam surga mendapatkan apa yang dahulu diinginkan ketika di dunia (QS. Fushshilat: 30-31)
★ Mendapatkan kehidupan yang baik lagi penuh kebahagiaan (QS. an-Nahl: 97)
★ Mendapatkan keamanan di dunia dan akhirat (QS. al-An'am: 82)
★ Mendapatkan kecintaan dari Allah (HR. al-Bukhari)
★ Kelapangan dan keberkahan pada rezeki (QS. al-Jin: 16 & al-A'rof: 96)
★ Dihapuskannya dosa-dosa dan dilipatgandakannya pahala (QS. ath-Thalaq: 5)
★ Husnul khotimah insya Allah.

Semoga Allah memberikan taufik dan kemudahan bagi kita untuk dapat istiqomah dalam menjalankan syariat-Nya. Aamiin.


✅ Bagian Indonesia
🏠 ICC DAMMAM KSA
📱 +966556288679
==================
📅 [ 05/01/1437 H]

IBU

IBU....

Siapapun yang masih memiliki Ibu,
maka kejarlah baktimu disisa waktunya.
Agar tak ada sesal bila suatu hari nanti engkau mengetuk pagi,
namun tak kau dapati tempat untuk mengucap kata "Ibu".
Semua yang pergi mungkin berganti.
Tapi hanya ada satu ibu, dan ia takkan pernah tergantikan.

__________
Madinah 04-01-1437 H
ACT El-Gharantaly


✍ Ustādz Aan Chandra Thalib حفظه الله تعالى
Imam Ahmad mengatakan, bahwa akhir dari waktu Isya' adalah sepertiga malam. Karena, dalam sebuah hadits tentang malaikat Jibril disebutkan, bahwa beliau pernah shalat bersama Nabi Shallallāhu Alaihi wa Sallam untuk kedua kalinya pada sepertiga malam, dimana Nabi bersabda yang artinya: "Waktu shalat Isya' adalah antara dua waktu ini." Juga dalam Hadits dari Buraidah disebutkan, bahwa Nabi mengerjakan shalat Isya' pada hari yang kedua hingga memasuki sepertiga malam.

Demikian pula dari Aisyah Radhiyallahu Anha dinyatakan, bahwa Rasulullah bersabda:
صلوا فيما بين أن  يغيب الشفق إلى  ثلث الليل 
"Kerjakanlah shalat Isya' pada waktu terbenamnya awan merah sampai sepertiga malam yang pertama." (HR. Muttafaqun 'Alayhi) 

Abu Hanifah berpendapat, bahwa pada akhir dari waktu shalat Isya' itu adalah sampai pertengahan malam. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, dimana ia bercerita:
أَخَّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةَ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ ثُمَّ صَلَّى، ثُمَّ قَالَ: قَدْ صَلَّى النَّاسُ وَنَامُوْا، أَمَّا إِنَّكُمْ فِي صَلاَةٍ مَا انْتَظَرْتُمُوْهَا
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan shalat isya sampai pertengahan malam kemudian beliau shalat, lalu berkata, “Sungguh manusia telah shalat dan mereka telah tidur, adapun kalian terhitung dalam keadaan shalat selama kalian menanti waktu pelaksanaan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 572 dan Muslim no. 1446)

Demikian juga hadits dari Abdullah bin Umar ia berkata; bahwa Nabi shallallaahu'alaihi alaihi wasallam telah bersabda:
"Waktu shalat Isya' itu sampai pertengahan malam." (HR. Abu Dawud)

Berkenaan dengan masalah ini penulis berpendapat: Diperbolehkan bagi wanita muslimah mengakhirkan shalat Isya' sampai pertengahan malam, dimana hal ini disebut sebagai waktu darurat yang hukumnya sama seperti waktu darurat dalam shalat Ashar. Jadi, diperbolehkannya melaksanakan shalat Isya' pada sepertiga malam yang pertama atau pertengahan malam dan bahkan sampai hampir memasuki waktu fajar adalah apabila benar-benar berada dalam kondisi darurat. Adapun yang afdal (lebih utama) adalah mengerjakan shalat tepat pada waktunya untuk menambah pahala dari Allah  Subhānahu wa-Ta’āla.

Sumber: Buku Fiqih Wanita edisi Lengkap - Syaikh Kamil Muhammad 'Uwaidah

Selasa, 13 Oktober 2015

Bismillahirrahmanirrahim

Sahabat fillah….

Tak terasa kita sudah berada di penghujung tahun 1436 H. Sebelum fajar di tahun esok menjelang, ada baiknya kita melihat kembali lembaran-lembaran hari yang telah kita lalui. Iya, melihat kembali masa lalu, bukan untuk terus tenggelam, tapi untuk bangkit dan menjadi manusia baru di sisa waktu yang ada.

Bergantinya siang dan malam, hari demi hari, musim demi musim, tahun demi tahun semestinya membuat kita sadar bahwa saat ini kita sedang berada dalam sebuah perjalanan. Sejak kita dilahirkan, sejak itulah pengembaran kita dimulai, lalu kita belajar untuk mengerti bahwa dunia hanyalah tempat singgah, dan setelah itu tak ada lagi kecuali dua pilihan, indahnya surga atau pedihnya neraka wal iyaadzu billah.

Muhasabah .. Mungkin itulah hal yang tepat untuk kita lakukan sebelum memasuki tahun baru 1437 H esok. Muhasabah berarti melihat kembali setiap lembaran hidup yang pernah kita lalui, apakah ada amal sholeh yang sudah kita persembahkan untuk terus kita tingkatkan ditahun yang akan datang, atau kekurangan-kekurangan yang nantinya akan kita perbaiki disaat fajar esok menjelang.

Allah azza wa jalla berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS: Al-Hasyr: 18)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Setiap hamba semestinya memiliki waktu-waktu tertentu dimana dia menyendiri di dalamnya dengan do’a, dzikir,shalat, tafakkur dan untuk melakukan muhasabah terhadap dirinya serta memperbaiki kondisi hatinya).”(Al-Majmu’ Jilid:10).

Jauh sebelum Syaikhul Islam, Imam Al-Hasan Al-Basri telah menyinggung urgensi muhasabah dalam ungkapannya yang berbunyi: "Manusia akan senantiasa dlm kebaikan selama masih ada penasehat dlm hatinya, dan muhasabah selalu menjadi obsesinya"(Mawaa'idz Hasan Al-Basri). 

Sahabat fillah mungkin bertanya, "Mengapa harus muhasabah...?"
Karena dengan muhasabah kita telah memberi peluang bagi jiwa untuk merespon berbagai perubahan dalam hidup yang selama ini kita jalani, mengajak kita untuk melihat kembali keadaan diri dengan usia yang pada hakikatnya semakin berkurang.
Melihat berarti mengevaluasi, lalu merevisinya ke arah yang lebih baik. Ini bukan pekerjaan yang mudah, ditengah banyaknya orang yang tidak mau melihat kembali rekam jejak hidupnya, apalagi berfikir untuk merubahnya.

Muhasabah juga akan mengilhami diri untuk melakukan berbagai perbaikan disaat yang lain tak peduli dengan perguliran waktu, sehingga cenderung membiarkannya mengalir sepeti air, tanpa perencanaan dan tujuan yang jelas. Padahal kita sering membaca sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang artinya: “Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang mendatangkan manfaat bagimu dan jangan merasa lemah”.

Lebih jauh Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu menegaskan hal yang semakna dalam ungkapannya yang masyhur, "Tiada hari yang lebih aku sesali selain hari dimana mataharinya tenggelam dihari itu, umurku berkurang sementara amalku tidak bertambah". Bagi orang beriman, bergantinya masa berarti bertambahnya ketakwaan dan ketaatan kepada Allah.

Sahabat….
Ditengah padatnya rutinitas kerja, luangkanlah waktu sejenak untuk bertanya pada diri, "Sudah sejauh mana kita melangkah? dan seberapa banyak bekal yang telah kita siapkan? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu kita butuh kesadaran yang mendalam. Iya, Kesadaran bahwa semua akan berakhir dan berbalas. Kesadaran, bahwa kita hanya akan mengetam apa yang kita tanam. Kesadaran, bahwa kita sedang berpacu dengan waktu. Kesadaran, bahwa kematian lebih cepat datangnya dari semua angan-angan yang kita miliki. Pertanyaan- pertanyaan itu harus segera terjawab sebelum hidup digerogoti usia hingga tak lagi bisa melakukan perubahan yang berarti.

Di dalam kitab Hilyatul auliya’ Abu Nuaim -rahimahullah- mengisahkan: Suatu hari Fudhail bin Iyadh bertemu dengan seseorang. Beliau lantas bertanya kepada orang itu: "Berapa umur anda?". "Enam puluh tahun", jawab laki-laki itu. "Kalau begitu sejak enam puluh tahun yang lalu anda sudah berjalan menuju Allah, dan perjalananmu hampir saja tiba." "Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji'ûn", ujar lelaki itu. "Apakah anda tahu maknanya?" Tanya Fudhail. Lelaki itu menjawab: "ya, saya tahu. Saya adalah hamba Allah dan hanya kepada-Nya saya akan kembali."

Fudhail lalu menasehatinya:

 ﻳﺎ ﺃﺧﻲ، ﻣﻦ ﻋﺮﻑ ﺃﻧﻪ ﻟﻠﻪ ﻋﺒﺪ، ﻭأنه ﺇﻟﻴﻪ ﺭﺍﺟﻊ، ﻓﻠﻴﻌﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻣﻮﻗﻮﻑ ﺑﻴﻦ ﻳﺪﻳﻪ، ﻓﻠﻴﻌﻠﻢ ﺍﻧﻪ ﻣﺴﺌﻮﻝ، وﻣﻦ ﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ مسئول ﻓﻠﻴﻌﺪ ﻟﻠﺴﺆﺍﻝ ﺟﻮﺍﺑﺎ 

"Wahai saudaraku... Barangsiapa yang menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah dan hanya kepada-Nya ia kembali, hendaknya dia juga menyadari bahwa dia akan berdiri di hadapan-Nya dan akan ditanya (oleh-Nya). Dan barangsiapa yang menyadari bahwa dirinya akan ditanya maka hendaknya ia mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan tersebut." Laki-laki itu pun menangis lantas bertanya kepada Fudhail: "lalu apa yang harus aku perbuat?" "Mudah", jawab Fudhail. "Apa? Semoga Allah merahmatimu." Tanya laki-laki itu lagi.

Fudhail menasehatinya lagi:

 ﺗُﺤﺴﻦ ﻓﻴﻤﺎ بقي، ﻳﻐﻔﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻚ ﻣﺎﻗﺪ ﻣﻀﻰ ﻭﻣﺎ بقي، ﻓﺈﻧﻚ ﺇﻥ ﺃﺳﺄﺕ ﻓﻴﻤﺎ بقي ﺃُﺧﺬﺕ ﺑﻤﺎ ﻣﻀﻰ ﻭﻣﺎ بقي

 "Berbuat baiklah disisa umurmu, niscaya Allah akan mengampuni apa yang telah lalu dan yang masih tersisa dari umurmu . Namun bila engkau berbuat keburukan pada apa yang masih tersisa niscaya engkau akan dihukum atas apa-apa yang telah lalu dan yang masih tersisa darimu."

Sungguh nasehat yang luar biasa.

Sahabat fillah… Anda mungkin pernah membaca kisah saat Rasulullah memegang pundak Ibnu Umar dan berkata,

”Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau pengembara.”

Ibnu Umar –radhiallahu anhuma- berkata: ”Jika engkau berada di sore hari, maka jangan menunggu pagi tiba. Dan jika engkau berada di pagi hari, maka jangan menunggu sore tiba, pergunakan masa sehatmu untuk masa sakitmu, dan kehidupanmu untuk kematianmu.”(HR. Bukhari)
Atau membaca sabda beliau yang berbunyi: “Apa urusanku dengan dunia? sungguh perumpamaanku dengan dunia laksana seorang pengembara yang berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian berlalu dan meninggalkannya”(HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah).

Atau pesan Ali –radhiallahu anhu- yang berbunyi
”Sesungguhnya dunia telah pergi berlalu dan akhirat telah datang dihadapan. Keduanya memiliki anak-anak . Maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak anak dunia, karena hari ini (hari-hari dunia) adalah hari untuk beramal dan bukan (hari) perhitungan dan esok adalah (hari) perhitungan dan bukan (hari untuk) amal.

Atau pesan Al-Hasan yang Masyhur:
“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari-hari. Jika berlalu sebagian dari harimu ,maka berlalu pula sebagian dari dirimu”. “wahai anak Adam, sesungguhnya engkau berada diatara dua kenderaan yang siap mengantarkanmu. Siang mengantarkanmu pada malam dan malam pun mengantarkanmu pada siang. Selanjutnya keduanya akan mengantarkanmu pada akhirat, maka siapakah yang lebih besar marabahayanya darimu wahai anak adam? Sungguh tali kematian telah diikatkan diatas ubun-ubun setiap kalian, sementara dunia dilipat dari belakang kalian." 

Kedua hadits dan atsar diatas pada hakikatnya sedang mengajari kita tentang logika kehidupan yang harus kita pahami lebih dalam, bahwa hidup tak ubahnya seorang musafir yang lewat kemudian mampir untuk berteduh selanjutnya pergi untuk meneruskan perjalanan. Pemaknaan yang baik terhadap logika itulah yang nantinya akan membuat hidup kita menjadi berarti atau mungkin berbalik tak ubahnya seperti mobil tua yang hanya memberi nilai pada sisi sejarah tanpa bisa mengantarkan penumpangnya pada cita-cita yang dituju. Dan itu tak boleh terjadi, sebab hidup hanya datang sekali. Gerak dan pilihan untuk terus maju dan memperbaharui diri adalah prinsip besar yang harus kita pilih sebelum semuanya terlambat. 

Semoga catatan kecil ini bermanfaat untuk kami pribadi dan pembaca sekalian. 

Baarakallahu fiikum Wallahu ta’ala a’lam _______________________

Madinah 29 Dzulhijjah 1433 H
ACT El Gharantaly.
Ditulis ulang dengan berbagai perubahan pada 30 Dzulhijjah 1436 H

Minggu, 11 Oktober 2015

Hakikat membeli barang secara kredit adalah membeli barang dengan cara berutang. Utang tidak dianjurkan dalam syariat Islam kecuali seseorang membutuhkan barang tersebut dan ia merasa mampu untuk melunasinya. Maka tidak dianjurkan seorang muslim untuk membeli barang yang merupakan kebutuhan luks secara kredit.

Jual beli kredit dibolehkan dalam Islam sebagaimana hasil keputusan Majma' Al Fiqh Al Islami (divisi fikih OKI), No. 51 (2/6) 1990 yang berbunyi,
"Boleh melebihkan harga barang yang dijual dengan tidak tunai daripada dijual tunai ... dan harganya dicicil dalam jangka waktu tertentu."
Sekalipun akad jual-beli kredit dengan harga yang lebih mahal dibandingkan harga tunai pada dasarnya dibolehkan akan tetapi ada persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi untuk keabsahannya, yang jika tidak terpenuhi akad ini menjadi tidak sah, bahkan menjadi riba dan keuntungannya menjadi harta haram.

Persyaratan tersebut adalah sebagai berikut:
  • a. Akad ini tidak dimaksudkan untuk melegalkan riba. Maka tidak boleh jual-beli 'inah. Juga tidak boleh dalam akad jual-beli kredit dipisah antara harga tunai dan margin yang diikat dengan waktu dan bunga, karena ini menyerupai riba.
  • b. Barang terlebih dahulu dimiliki penjual sebelum akad jual-beli dilangsungkan. Maka tidak boleh pihak jasa kredit melangsungkan akad jual-beli kredit motor dengan konsumennya, kemudian setelah ia melakukan akad jual-beli, memesan motor dan membelinya ke salah satu pusat penjualan motor lalu menyerahkannya kepada pembeli.
  • c. Pihak penjual kredit tidak boleh menjual barang -yang telah dibeli tapi belum diterima dan belum berada ditangannya- kepada konsumen. Maka tidak boleh pihak jasa kredit melangsungkan akad jual-beli kredit motor dengan konsumennya sebelum barang yang telah dibelinya dari dealer motor diterimanya.
  • d. Barang yang dijual bukan merupakan emas, perak, atau mata uang dengan cara kredit. Maka tidak boleh menjual emas dengan cara kredit karena ini termasuk riba ba'i.
  • e. Barang yang dijual secara kredit harus diterima pembeli tunai pada saat akad berlangsung. Maka tidak boleh transaksi jual beli kredit dilakukan hari ini dan barang diterima pada keesokan harinya. Karena ini termasuk jual beli utang dengan utang yang diharamkan.
  • f. Pada saat transaksi dibuat harga harus satu dan jelas serta besarnya angsuran dan jangka waktunya juga harus jelas.
  • g. Akad jual beli kredit harus tegas. Maka tidak boleh akad dibuat dengan cara beli sewa (leasing).
  • h. Tidak boleh membuat persyaratan kewajiban membayar denda, atau harga barang menjadi bertambah jika pembeli telat membayar angsuran. Karena ini adalah bentuk riba yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah di masa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.



dikutip dari buku Harta Haram Muamalat Kontemporer - Dr. Erwandi Tarmizi, MA.
cetakan kesembilan Januari 2015


Rabu, 07 Oktober 2015

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggir jannah (surga) bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan berkepanjangan meskipun ia dalam kebenaran (al haq), juga sebuah rumah di tengah jannah bagi siapa saja yang meninggalkan berbohong walaupun ia sedang bercanda, serta sebuah rumah di puncak jannah bagi siapa saja yang berakhlak mulia.” (HR. Abu Dawud, Dinyatakan Hasan shahih oleh Syaikh Al Albani)


Umar Bin Khattab berkata :
لا يجد عبد حقيقة الإيمان حتى يدع المراء وهو محق ويدع الكذب في المزاح وهو يرى أنه لو شاء لغلب

“Seseorang tidak akan merasakan hakikat iman sampai ia mampu meninggalkan perdebatan yang berkepanjangan meskipun ia dalam kebenaran, dan meninggalkan berbohong meskipun hanya bercanda padahal ia tahu seandainya ia mau ia pasti menang dalam percebatan itu”
(Kanzul Ummal juz 3 hal 1165)

Imam Ishaq bin Isa berkata :
المِراء والجِدال في العلم يَذهبُ بنور العلم من قلب الرجل

“Imam Malik bin Anas mengatakan : “Debat kusir dan pertengkaran dalam masalah ilmu akan menghapuskan cahaya ilmu dari hati seseorang”

Imam Ibnu Wahab berkata :
“Aku mendengar Imam Malik bin Anas mengatakan :

المراء في العلم يُقسِّي القلوب ، ويورِّث الضغن

“Perdebatan dalam ilmu akan mengeraskan hati dan menyebabkan kedengkian”
(Jaami’ al Uluum wak Hikam 11/16)

Perdebatan Yang Tercela:
Yaitu semua perdebatan dengan kebatilan, atau berdebat tentang kebenaran setelah jelasnya, atau perdebatan dalam perkara yang tidak diketahui oleh orang-orang yang berdebat, atau perdebatan dalam mutasyabih (1) dari Al-Qur’an atau perdebatan tanpa niat yang baik dan yang semisalnya.

Perdebatan Yang Terpuji:
Adapun jika perdebatan itu untuk menampakkan kebenaran dan menjelaskannya, yang dilakukan oleh seorang ‘alim dengan niat yang baik dan konsisten dengan adab-adab (syar’iy) maka perdebatan seperti inilah yang dipuji. Allah Ta’ala berfirman :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (QS. An-Nahl : 125)

Dan Allah Ta’ala berfirman :

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik”. (QS. Al-‘Ankabut : 46)

Dan Allah Ta’ala berfirman :
قَالُوا يَانُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

“Mereka berkata: “Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. (QS. Hud : 32)

📣 Facebook Badru Salam
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=442223665971083&id=100005503590633

Selasa, 06 Oktober 2015

A : Sampeyan ikut madzhab siapa, Mas ??
●B : Ah, saya orangnya netral kok, Pak. Saya tidak ikut madzhab siapa-siapa. Yang penting dalilnya shahih, pengambilan hukumnya benar, maka pendapat dari madzhab yang mana saja akan saya ikuti.

A : Lhoooo, tidak bisa begitu. Dalam beragama ini kita harus bermadzhab. Pilihlah salah satu.
●B : Oh begitu, Kalau boleh tahu, apa dalilnya dalam beragama ini kita harus bermadzhab, Pak ??

A : Yaaaa, Dalil langsung sih tidak ada. Itu hanya konsekuensi saja. Soalnya kalau kita tidak bermadzhab, kita akan kesulitan memahami Al-Qur'an dan Hadits. Kita ini kan bukan Ulama. Jadi harus meruju' pada madzhab tertentu untuk bisa mengerti ajaran-ajaran Islam.
●B : Tidak begitu kok, Pak. Saya memang tidak taklid dengan madzhab tertentu. Saya juga tidak berpegang dengan satu madzhab tertentu. Tapi BUKAN BERARTI saya memahami Al-Qur'an dan Hadits dengan pemahaman saya sendiri lho.

Saya TETAP MERUJU' pada penjelasan PARA IMAM dalam Islam. Bukan hanya 4 Imam saja, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad; tapi juga Imam-imam yang lain. Biasanya penjelasan para Imam itu sudah diintisarikan oleh para Ulama dalam kitab-kitab mereka, sehingga sangat memudahkan bagi umat Islam untuk memahami ajaran-ajaran Islam.

A : Lha memangnya kenapa to sampeyan kok tidak mau memegang satu madzhab tertentu ?? Memangnya itu salah ??????
●B : Bukan masalah salah atau tidak salahnya, Pak. Tapi masalahnya Islam ini melarang kita untuk taklid dan fanatik pada satu figur tertentu kecuali Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Sementara, kenyataan yang sering terjadi, kalau orang sudah berpegang dengan madzhab tertentu, maka dia akan taklid dan fanatik habis-habisan dengan madzhab itu. Tidak perduli meskipun ada ajaran dalam madzhab tersebut yang sebenarnya bertentangan dengan hadits Nabi yang shahih, atau bahkan tidak sesuai dengan petunjuk Al-Qur'an. 

Misalnya orang taklid sama Madzhab Syafi'i, maka akan dibela mati-matian meskipun tidak sesuai dengan petunjuk Nabi. Atau orang yang fanatik dengan madzhab Ahmad, maka dia akan kekeuh dengan madzhab Ahmad meskipun bertentangan dengan hadits yang shahih. Ini semua tentu tidak boleh. Soalnya Nabi kita kan bukan Imam madzhab ya Pak, tapi Nabi kita adalah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

A : Wah, betul juga ya. Terus, bagusnya gimana ya ??
 ●B : Alangkah baiknya kita bersikap netral. Tidak fanatik dengan madzhab ini atau itu. Kita beragama sesuai dengan dalil yang shahih. Keuntungannya, kita bisa memilih mana dari ajaran madzhab-madzhab itu yang sesuai petunjuk Kitabullah dan Sunnah Nabi.

Misalnya dalam suatu perkara madzhab Hanbali yang cocok dengan Sunnah Nabi, ya itu yang kita ambil. Atau misalnya dalam perkara lain madzhab Syafi'i yang cocok dengan hadits yang shahih, ya itulah yang kita jalani. Begitu pula dengan madzhab Hanafi atau Maliki. Jadi enak, kita tidak jumud alias monoton. Keilmuan dan wawasan kita terus berkembang karena kita memiliki ruang beragama yang luas, tidak dibatasi oleh satu ruang madzhab tertentu.

A : Masyaa Allaah, saya kok baru nyadar ya. Jadi kesimpulannya apa ya ??
●B : Kesimpulannya, orang yang taklid dengan yang tidak taklid dengan suatu madzhab memiliki kesamaan dan perbedaan.

Kesamaannya adalah, bahwa keduanya sama-sama memiliki peluang untuk mempelajari dan mengamalkan suatu madzhab.

Perbedaannya, kalau orang yang taklid, dia tidak mau tahu madzhabnya sesuai atau tidak dengan hadits Nabi. Kalau tidak madzhab itu tidak mau. Sehingga dia seolah lebih mendahulukan ajaran madzhab daripada petunjuk Nabi. Sedangkan orang yang tidak taklid, dia tetap mempelajari madzhab, tapi secara umum. Dia memilah memilih. Mana yang paling sesuai dengan hadits shahih serta kandungan Al-Qur'an, itulah yang dia pegang.

Jadi dia tetap mendahulukan petunjuk Nabi sebagai petunjuk yang pertama dan utama. Khazanah keilmuannya akan terus berkembang karena dia bisa bergerak kemana saja mempelajari madzhab ini dan itu, kemudian mencocokkannya dengan hadits-hadits yang shahih serta nilai-nilai Kitabullah.

Ini semua tentu tetap dengan bimbingan para Ulama lho, bukan dengan pemahaman kita sendiri. Makanya, inilah sebabnya mengapa kita harus belajar agama kepada para Ulama, atau kepada murid-muridnya para Ulama. Kita bisa belajar di pesantren-pesantren. Kalau tidak bisa nyantri, kita bisa hadir di kajian-kajian atau majelis ilmu yang alhamdulillah saat ini sudah banyak dimana-mana. Dari pesantren atau majelis ilmu itulah kita bisa mengetahui, ini loh hadits Nabi yang shahih, dan madzhab ini loh yang sesuai dengan hadits tersebut; sehingga inilah yang semestinya diamalkan. Begitu, Pak.

A : Subhaanallaah.. Syukron atas pencerahannya ya Mas. Saya baru mudeng sekarang.
●B : Sama-sama, Pak. Alhamdulillaah bifadhlillaah. 

[Taken anda edited from : Ust Ammi Aac ]
"""""""""""""""""
Tambahan dari Admin :
Ketahuilah saudaraku yang saya cintai dan yang saya muliakan, semoga Allahu Ta'ala membimbing serta merahmati kita semua. Bahwasanya menolak atau mengingkari 1 (satu) hadits saja dari Nabi shallallaahu'alaihi wa sallam bisa menyebabkan kita terjatuh dalam perkara kekafiran, ia dapat keluar dari Islam jika hujjah telah tegak kepadanya. Namun, jika kita menolak perkataan, ucapan, pendapat, serta ketetapan dari seseorang yang memang menyelisihi Kitabullah wa Sunnah Nabi shallallaahu'alaihi wa sallam, maka : Kita tidak berdosa, bahkan itu dibenarkan oleh sang pembuat syari'at Allah Tabaroka wa Ta'ala [Lihat surat an-Nisaa' ayat 59]

Jadi, menolak atau istilah bahasa halusnya tidak mengikuti ucapan atau pendapat imam madzhab yang kurang kuat atau tidak cocok dengan Kitabullah wa Sunnah Nabi shallallaahu'alaihi wa sallam, bukanlah berarti kita tidak menghormati dan tidak menghargainya dan seterusnya, bukan begitu. Akan tetapi, dengan kita tidak mengambil atau mengikuti ucapan, perkataan, serta pendapatnya yang tidak mencocoki dalil dari al-Qur'an dan As-Sunnah, adalah justru suatu penghormatan kepada para Imam dan para Ulamaa' tsb !!
OLEH KARENA ITU, JIKA ADA SAUDARA KITA YANG TIDAK MENISBATKAN DIRI PADA SALAH SATU MADZHAB, TIDAK MENGINGATKAN DIRI DIRI HANYA PADA SATU MADZHAB, TIDAK FANATIK PADA SALAH SATU IMAM MADZHAB, MAKA BUKAN BERARTI IA ANTI TERHADAP MADZHAB !! 

Kenapa ???
Sebab : Mereka (para Ulamaa'wink sendiri lah yang menganjurkan untuk meneliti semua ucapan, perkataan, dan pendapat yang menyelisihi al-Kitab wa Sunnah Nabi shallallaahu'alaihi wa sallam dan melarang taklid buta kepada mereka apabila telah tegak dalil kepadanya !!
Dan hal ini akan sulit dilakukan jika kita malah taqlid buta dan fanatik hanya pada salah satu Imam atau madzhab saja, karena fanatik pada salah satu madzhab saja tentu hanya akan mengikuti pendapat dari madzhab tsb, tanpa mau tahu bagaimana pendapat yang lain, bahkan terkadang tanpa mau tahu apakah pendapat yang ia ikuti dan ia bela-bela tsb cocok atau tidak dengan dalil, asalkan pendapat itu dari madzhabnya maka dianggapnya pasti benar dan diikuti begitu saja bahkan mati2an dibela.

Mari kita perhatikan para ulama kita yang justru menganjurkan kepada pengikutnya untuk mengikuti dalil (al-Qur'an dan As-Sunnah), serta melarang mengikuti perkataannya jika tidak sesuai dengan keduanya dan justru menganjurkan untuk mengikuti al-Qur'an dan As-Sunnah yang Shahiih jika memang ucapannya bersebrangan dengan dalil :

●Imam Abu Hanifah rahimahullaahu ta'ala berkata :
"Tidak halal bagi seseorang mengambil perkataan kami selama ia belum mengetahui dari mana kami mengambilnya." (I'laamul Muwaqqi'iin, III/488)
Beliau rahimahullaahu ta'ala juga berkata :
"Apabila suatu hadits itu SHAHIH, maka itulah MADZHABKU." (Iiqaazhul Himam, hal. 62)

●Imam Malik rahimahullaahu ta'ala berkata :
"Sesungguhnya aku hanya seorang manusia, terkadang aku benar dan terkadang salah. Maka lihatlah pendapatku, SETIAP PENDAPATKU YANG SESUAI DENGAN Al-Kitab (baca : al-Qur'an) dan As-Sunnah (baca : hadits) maka AMBILLAH, dan setiap yang TIDAK SESUAI dengan Al-Kitab dan As-Sunnah maka TINGGALKANLAH." (Jaami'Bayaanil'Ilmi wa Fadhlihi, I/775, no. 1435, 1436)

●Imam asy-Syafi'i rahimahullaahu ta'ala berkata :
"Setiap orang pasti terlewat dan luput darinya salah satu Sunnah (baca : hadits) Rasulullah shallallaahu'alaihi wa sallam. Apa pun pendapat yang aku katakan atau prinsip yang aku tetapkan (baca : katakan) kemudian ada hadits dari Rasulullah shallallaahu'alaihi wa sallam, yang ternyata bertentangan dengan pendapatku, maka apa yang disabdakan Rasulullah shallallaahu'alaihi wa sallam itulah yang diambil. Dan itulah yang menjadi pendapatku." (Manaaqib al-Imam asy-Syafi'i, I/475, dan I'laamul Muwaqqi'iin, IV/46 - 47) 

Beliau rahimahullaahu ta'ala juga berkata :
"Setiap yang aku ucapkan, namun ada hadits Nabi shallallaahu'alaihi wa sallam yang shahih menyelisihi pendapatku, maka hadits Nabi shallallaahu'alaihi wa sallam itulah yang lebih patut diikuti. Maka janganlah kalian taklid kepadaku." (Manaaqib al-Imam asy-Syafi'i, I/473, dan I'laamul Muwaqqi'iin, IV/45 - 46)

●Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullaahu ta'ala berkata :
"Kalian TIDAK BOLEH taklid kepadaku, tidak boleh juga taklid kepada Malik, Syafi'i, al-Auza'i, dan ats-Tsauri, tetapi ambillah darimana mereka mengambil." (I'laamul Muwaqqi'iin, III/469)

Lihatlah wahai saudaraku, begitu indah perkataan para imam-imam kita yang menyeru untuk mengikuti dalil, nash, hujjah, dan menolak semua pendapat jika menyelisihi al-Qur'an dan As-Sunnah, serta justru melarang untuk taklid buta terhadap seseorang yang dikhawatirkan akan membuatnya buta dari kebenaran. Mereka semua berkata tidaklah dengan hawa nafsunya akan tetapi mereka semua rahimahumullaahu ta'ala berkata berdasarkan ilmu dan ketakwaannya untuk mengikuti dalil. Sebab : Agama Islam tegak dengan dalil. Islaam adalah AGAMA DALIL. Hanya pada Allaah kita memohon petunjuk.

[Abdullah Khansa]
http://khansa.heck.in/ikut-madzhab-siapa.xhtml

Senin, 28 September 2015

Seorang akhwat menceritakan kenangan masa lalunya yang tak terlupakan:

“Namaku Mariani, orang-orang biasa memangilku Aryani. Ini adalah kisah perjalanan hidupku yang hingga hari ini masih belum lengkang dalam benakku. Sebuah kisah yang nyaris membuatku menyesal seumur hidup bila aku sendiri saat itu tidak berani mengambil sikap. Yah, sebuah perjalanan kisah yang sungguh aku sendiri takjub dibuatnya, sebab aku sendiri menyangka bahwa di dunia ini mungkin tak ada lagi orang seperti dia.

Tahun 2007 silam, aku dipaksa orang tuaku menikah dengan seorang pria, Kak Arfan namanya. Kak Arfan adalah seorang lelaki yang tinggal sekampung denganku, tapi dia seleting dengan kakakku saat sekolah dulu. Usia kami terpaut 4 Tahun. Yang aku tahu bahwa sejak kecilnya Kak Arfan adalah anak yang taat kepada orang tuanya dan juga rajin ibadah. Tabiatnya yang seperti itu terbawa-bawa sampai ia dewasa. Aku  merasa risih sendiri dengan Kak Arfan apabila berpapasan dijalan, sebab sopan santunya sepertinya terlalu berlebihan pada orang-orang. Geli aku menyaksikannya, yah, kampungan banget gelagatnya…,

Setiap ada acara-acara ramai di kampung pun Kak Arfan tak pernah kelihatan bergabung sama teman-teman seusianya. Yaah, pasti kalau dicek ke rumahnya pun gak ada, orang tuanya pasti menjawab “Kak Arfan di mesjid nak, menghadiri taklim”. Dan memang mudah sekali mencari Kak Arfan, sejak lulus dari Pesantren Al-Khairat Kota Gorontalo.
Kak Arfan sering menghabiskan waktunya membantu orang tuanya jualan, kadang terlihat bersama bapaknya di kebun atau di sawah. Meskipun kadang sebagian teman sebayanya menyayangkan potensi dan kelebihan-kelebihannya yang tidak tersalurkan. Secara fisik memang Kak Arfan hampir tidak sepadan dengan ukuran ekonomi keluarganya yang pas-pasan. Sebab kadang gadis-gadis kampung suka menggodanya kalau Kak Arfan dalam keadaan rapi menghadiri acara-acara di desa.

Tapi bagiku sendiri, itu adalah hal yang biasa-biasa saja, sebab aku sendiri merasa bahwa sosok Kak Arfan adalah sosok yang tidak istimewa. Apa istimewanya menghadiri taklim, kuper dan kampunga banget. Kadang hatiku sendiri bertanya, koq bisa yah, ada orang yang sekolah di kota namun begitu kembali tak ada sedikitpun ciri-ciri kekotaan melekat pada dirinya, HP gak ada. Selain bantu orang tua, pasti kerjanya ngaji, sholat, taklim dan kembali ke kerja lagi. Seolah riang lingkup hidupnya hanya monoton pada itu-itu saja, ke biosokop kek, ngumpul bareng teman-teman kek stiap malam minggunya di pertigaan kampung yang ramainya luar biasa setiap malam minggu dan malam kamisnya. Apalagi setiap malam kamis dan malam minggunya ada acara curhat kisah yang TOP banget disebuah station Radio Swasta digotontalo, kalau tidak salah ingat nama acaranya Suara Hati dan nama penyiarnya juga Satrio Herlambang.
Waktu terus bergulir dan seperti gadis-gadis modern pada umumnya yang tidak lepas dengan kata Pacaran, akupun demikian. Aku sendiri memiliki kekasih yang begitu sangat aku cintai, namanya Boby. Masa-masa indah kulewati bersama Boby. Indah kurasakan dunia remajaku saat itu. Kedua orang tua Boby sangat menyayangi aku dan sepertinya memiliki sinyal-sinyal restunya atas hubungan kami. Hingga musibah itu tiba, aku dilamar oleh seorang pria yang sudah sangat aku kenal. Yah siapa lagi kalau bukan si kuper Kak Arfan lewat pamanku. Orang tuanya Kak Arfan melamarku untuk anaknya yang kampungan itu.

Mendengar penuturan mama saat memberitahu padaku tentang lamaran itu, kurasakan dunia ini gelap, kepalaku pening…, aku berteriak sekencang-kencangnya menolak permintaan lamaran itu dengan tegas dan terbelit-belit aku sampaikan langsung pada kedua orang tuaku bahwa aku menolak lamaran keluarganya Kak Arfan. dan dengan terang-terangan pula aku sampaikan pula bahwa aku memiliki kekasih pujaan hatiku, Boby.

Mendengar semua itu ibuku shock dan jatuh tersungkur kelantai. Akupun tak menduga kalau sikapku yang egois itu akan membuat mama shock. Baru kutahu bahwa yang menyebabkan mama shok itu karena beliau sudah menerima secara resmi lamaran dari orang tuanya Kak Arfan. Hatiku sedih saat itu, kurasakan dunia begitu kelabu. Aku seperti menelan buah simalakama, seperti orang yang paranoid, tidak tahu harus ikut kata orang tua atau lari bersama kekasih hatiku Boby.

Hatiku sedih saat itu. Dengan berat hati dan penuh kesedihan aku menerima lamaran Kak Arfan untuk menjadi istrinya dan kujadikan malam terakhir perjumapaanku dengan Boby di rumahku untuk meluapkan kesedihanku. Meskipun kami saling mencintai, tapi mau tidak mau Boby harus merelakan aku menikah dengan Kak Arfan. Karena dia sendiri mengakui bahwa dia belum siap membina rumah tangga saat itu.

Tanggal 11 Agustus 2007 akhirnya pernikahanku pun digelar. Aku merasa bahwa pernikahan itu begitu menyesakkan dadaku. Air mataku tumpah di malam resepsi pernikahan itu. Di tengah senyuman orang-orang yang hadir pada acara itu, mungkin akulah yang paling tersiksa. Karena harus melepaskan masa remajaku dan menikah dengan lelaki yang tidak pernah kucintai. Dan yang paling membuatku tak bias menahan air mataku, mantan kekasihku boby hadir juga pada resepsi pernikahan tersebut. Ya Allah mengapa semua ini harus terjadi padaku ya Allah… mengapa aku yang harus jadi korban dari semua ini?
Waktu terus berputar dan malam pun semakin merayap. Hingga usailah acara
resepsi pernikahan kami. Satu per satu para undangan pamit pulang hingga sepi lah rumah kami. Saat masuk ke dalam kamar, aku tidak mendapati suamiku Kak Arfan di dalamnya. Dan sebagai seorang istri yang hanya terpaksa menikah dengannya, maka aku pun membiarkannya dan langsung membaringkan tubuhku setalah sebelumnya menghapus make-up pengantinku dan melepaskan gaun pengantinku. Aku bahkan tak perduli kemana suamiku saat itu. Karena rasa capek dan diserang kantuk, aku pun akhirnya tertidur.

Tiba-tiba di sepertiga malam, aku tersentak tatkala melihat ada sosok hitam yang berdiri disamping ranjang tidurku. Dadaku berdegup kencang. Aku hampir saja berteriak histeris, andai saja saat itu tak kudengar serua takbir terucap lirih dari sosok yang berdiri itu. Perlahan kuperhatikan dengan seksama, ternyata sosok yang berdiri di sampingku itu adalah Kak Arfan suamiku yang sedang sholat tahajud. Perlahan aku baringkan tubuhku sambil membalikkan diriku membelakanginya yang saat itu sedang sholat tahajud. Ya Allah aku lupa bahwa sekarang aku telah menjadi istrinya Kak Arfan. Tapi meskipun demikian, aku masih tak bisa menerima kehadirannya dalam hidupku. Saat itu karena masih dibawah perasan ngantuk, aku pun kembali teridur. Hingga pukul 04.00 dini hari, kudapati suamiku sedang tidur beralaskan sajadah dibawah ranjang pengantin kami.

Dadaku kembali berdetak kencang kala mendapatinya. Aku masih belum percaya kalau aku telah bersuami. Tapi ada sebuah pertanyaaan terbetik dalam benakku. Mengapa dia tidak tidur di ranjang bersamaku. Kalaupun dia belum ingin menyentuhku, paling gak dia tidur seranjang denganku itukan logikanya. Ada apa ini? ujarku perlahan dalam hati. Aku sendiri merasa bahwa mungkin malam itu Kak Arfan kecapekan sama sepertiku sehingga dia tidak mendatangiku dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami. Tapi apa peduliku dengan itu semua, toh akupun tidak menginginkannya, gumamku dalam hati.

Hari-hari terus berlalu. Kami pun mejalani aktifitas kami masing-masing, Kak
Arfan bekerja mencari rezeki dengan pekerjaannya. Sedangkan aku di rumah berusaha semaksimal mungkin untuk memahami bahwa aku telah bersuami dan memiliki kewajiban melayani suamiku. Yah minimal menyediakan makanannya, meskipun kenangan-kenangan bersama Boby belum hilang dari benakku, aku bahkan masih merindukannya.

Semula kufikir bahwa prilaku Kak Arfan yang tidak pernah menyentuhku dan menunaikan kewajibannya sebagai suami itu hanya terjadi malam pernikahan kami. Tapi ternyata yang terjadi hampir setiap malam sejak malam pengantin itu, Kak Arfan selalu tidur beralaskan permadani di bawah ranjang atau tidur di atas sofa dalam kamar kami. Dia tidak pernah menyentuhku walau hanya menjabat tanganku. Jujur segala kebutuhanku selalu dipenuhinya. Secara lahir dia selalu mafkahiku, bahkan nafkah lahir yang dia berikan lebih dari apa yang aku butuhan. Tapi soal biologis, Kak Arfan tak pernah sama sekali mengungkit- ungukitnya atau menuntutnya dariku. Bahkan yang tidak pernah kufahami, pernah secara tidak sengaja kami bertabrakan di depan pintu kamar, Kak Arfan meminta maaf seolah merasa bersalah karena telah menyetuhku.
Ada apa dengan Kak Arfan? Apakah dia lelaki normal? kenapa dia begitu dingin padaku? apakah aku kurang di matanya? atau? pendengar, jujur merasakan semua itu, membuat banyak pertanyaan berkecamuk dalam benakku. Ada apa dengan suamiku? bukankah dia adalah pria yang beragama dan tahu bahwa menafkahi istri itu secara lahir dan batin adalah kewajibannya? ada apa dengannya? padahal setiap hari dia mengisi acara-acara keagamaan di mesjid. Dia begitu santun pada orang-orang dan begitu patuh kepada kedua orangtuanya. Bahkan terhadap aku pun hampir semua kewajibannya telah dia tunaikan dengan hikmah, tidak pernah sekali pun dia bersikap kasar dan berkata-kata keras padaku. Bahkan Kak Arfan terlalu lembut bagiku.

Tapi satu yang belum dia tunaikan yaitu nafkah batinku. Aku sendiri saat mendapat perlakuan darinya setiap hari yang begitu lembutnya mulai menumbuhkan rasa cintaku padanya dan membuatku perlahan-lahan melupakan masa laluku bersama Boby. Aku bahkan mulai merindukannya tatkala dia sedang tidak dirumah. Aku bahkan selalu berusaha menyenangkan hatinya dengan melakukan apa-apa yang dia anjurkannya lewat ceramah-ceramahnya pada wanita-wanita muslimah, yakni mulai memakai busana muslimah yang syar’i.

Memang dua hari setelah pernikahan kami, Kak Arfan memberiku hadiah yang diisi dalam karton besar. Semula aku mengira bahwa hadiah itu adalah alat-alat rumah tangga. Tapi setelah kubuka, ternyata isinya lima potong jubah panjang berwarna gelap, lima buah jilbab panjang sampai selutut juga berwana gelap, lima buah kaos kaki tebal panjang berwarnah hitam dan lima pasang manset berwarna gelap pula. Jujur saat membukanya aku sedikit tersinggung, sebab yang ada dalam bayanganku bahwa inilah konsekuensi menikah dengan seorang ustadz. Aku mengira bahwa dia akan memaksa aku untuk menggunakannya. Ternyata dugaanku salah sama sekali. Sebab hadiah itu tidak pernah disentuhnya atau ditanyakannya. 

Kini aku mulai menggunakannya tanpa paksaan siapapun. Kukenakan busana itu agar diatahu bahwa aku mulai menganggapnya istimewa. Bahkan kebiasaannya sebelum tidur dalam mengajipun sudah mulai aku ikuti. Kadang ceramah-ceramahnya di mesjid sering aku ikuti dan aku praktekan di rumah.

Tapi satu yang belum bisa aku mengerti darinya. Entah mengapa hingga enam bulan pernikahan kami dia tidak pernah menyentuhku. Setiap masuk kamar pasti sebelum tidur, dia selalu mengawali dengan mengaji, lalu tidur di atas hamparan permadani dibawah ranjang hingga terjaga lagi di sepertiga malam, lalu melaksanakan sholat tahajud. Hingga suatu saat Kak Arfan jatuh sakit. Tubuhnya demam dan panasnya sangat tinggi. Aku sendiri bingung bagaimana cara menanganinya. Sebab Kak Arfan sendiri tidak pernah menyentuhku. Aku khawatir dia akan menolakku bila aku menawarkan jasa membantunya. Ya Allah..apa yang harus aku lakukan saat ini. Aku ingin sekali meringankan sakitnya, tapi apa yang harus saya lakukan ya Allah..
Malam itu aku tidur dalam kegelisahan. Aku tak bisa tidur mendengar hembusan nafasnya yang seolah sesak. Kudengar Kak Arfan pun sering mengigau kecil. Mungkin karena suhu panasnya yang tinggi sehingga ia selalu mengigau. Sementara malam begitu dingin, hujan sangat deras disetai angin yang bertiup kencang. Kasihan Kak Arfan, pasti dia sangat kedinginan saat ini. Perlahan aku bangun dari pembaringan dan menatapnya yang sedang tertidur pulas. Kupasangkan selimutnya yang sudah menjulur kekakinya. Ingin sekali aku merebahkan diriku di sampingnya atau sekedar mengompresnya. Tapi aku tak tahu bagaimana harus memulainya. Hingga akhirnya aku tak kuasa menahan keinginan hatiku untuk mendekatkan tanganku di dahinya untuk meraba suhu panas tubuhnya.

Tapi baru beberapa detik tanganku menyentuh kulit dahinya, Kak Arfan terbangun dan langsung duduk agak menjauh dariku sambil berujar ”Afwan dek, kau belum tidur? kenapa ada di bawah? nanti kau kedinginan? ayo naik lagi ke ranjangmu dan tidur lagi, nanti besok kau capek dan jatuh sakit?” pinta kak Arfan padaku. Hatiku miris saat mendengar semua itu. Dadaku sesak, mengapa Kak Arfan selalu dingin padaku. Apakah dia menganggap aku orang lain. Apakah di hatinya tak ada cinta sama sekali untukku. Tanpa kusadari air mataku menetes sambil menahan isak yang ingin sekali kulapkan dengan teriakan. Hingga akhirnya gemuruh di hatiku tak bisa kubendung juga.

Afwan kak, kenapa sikapmu selama ini padaku begitu dingin? kau bahkan tak
pernah mau menyentuhku walaupun hanya sekedar menjabat tanganku? bukankah aku ini istrimu? bukankah aku telah halal buatmu? lalu mengapa kau jadikan aku sebagai patung perhiasan kamarmu? apa artinya diriku bagimu kak? apa artinya aku bagimu kak? kalau kau tidak mencintaiku lantas mengapa kau menikahiku? mengapa kak? mengapa?
” Ujarku disela isak tangis yang tak bisa kutahan.

Tak ada reaksi apapun dari Kak Arfan menanggapi galaunya hatiku dalam tangis yang tersedu itu. Yang nampak adalah dia memperbaiki posisi duduknya dan melirik jam yang menempel di dinding kamar kami. Hingga akhirnya dia mendekatiku dan perlahan berujar padaku: 

Dek, jangan kau pernah bertanya pada kakak tentang perasaan ini padamu. Karena sesungguhnya kakak begitu sangat mencintaimu. Tetapi tanyakanlah semua itu pada dirimu sendiri. Apakah saat ini telah ada cinta di hatimu untuk kakak? kakak tahu dan kakak yakin pasti suatu saat kau akan bertanya mengapa sikap kaka selama ini begitu dingin padamu. Sebelumnya kakak minta maaf bila semuanya baru kakk kabarkan padamu malam ini. Kau mau tanyakan apa maksud kakak sebenarnya dengan semua ini?" ujar Kak Arfan dengan agak sedikit gugup.
Iya tolong jelaskan pada saya Kak, mengapa kakak begitu tega melakukan ini
pada saya? tolong jelaskan Kak?
” Ujarku menimpali tuturnya kak Arfan.
Hhhhhmmm, Dek kau tahu apa itu pelacur? dan apa pekerjaan seorang pelacur? afwan dek dalam pemahaman kakak, seorang pelacur itu adalah seorang wanita penghibur yang kerjanya melayani para lelaki hidung belang untuk mendapatkan materi tanpa peduli apakah di hatinya ada cinta untuk lelaki itu atau tidak. Bahkan seorang pelacur terkadang harus meneteskan air mata mana kala dia harus melayani nafsu lelaki yang tidak dicintainya. Bahkan dia sendiri tidak merasakan kesenangan dari apa yang sedang terjadi saat itu. kakak tidak ingin hal itu terjadi padamu dek.

Kau istriku dek, betapa bejatnya kakak ketika kakak harus memaksamu melayani kakak dengan paksaan saat malam pertama pernikahan kita. Sedangkan di hatimu tak ada cinta sama sekali buat kaka. Alangkah berdosanya kakak, bila pada saat melampiaskan birahi kakak padamu malam itu, sementara yang ada dalam benakmu bukanlah kakak tetapi ada lelaki lain. Kau tahu dek, sehari sebelum pernikahan kita digelar, kakak sempat datang ke rumahmu untuk memenuhi undangan Bapakmu. Tapi begitu kakak berada di depan pintu pagar rumahmu, kaka melihat dengan mata kepala kakak sendiri kesedihanmu yang kau lampiaskan pada kekasihmu boby. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau tidak mencintai kakak. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau hanya akan mencintainya selamanya. Saat itu kakak merasa bahwa kakak telah mermpas kebahagiaanmu.

Kakak yakin bahwa kau menerima pinangan kakak itu karena terpaksa. Kakak juga mempelajari sikapmu saat di pelaminan. Begitu sedihnya hatimu saat bersanding di pelaminan bersama kakak. Lantas haruskah kakak egois dengan mengabaikan apa yang kau rasakan saat itu. Sementara tanpa memperdulikan perasaanmu, kakak menunaikan kewajiban kakak sebagai suamimu di malam pertama. Semenatara kau sendiri akan mematung dengan deraian air mata karena terpaksa melayani kakak?

Kau istriku dek, sekali lagi kau istriku. Kau tahu, kakak sangat mencintaimu. Kakak akan menunaikan semua itu manakala di hatimu telah ada cinta untuk kakak. Agar kau tidak merasa diperkosa hak-hakmu. Agar kau bisa menikmati apa yang kita lakukan bersama. Alhamdulillah apabila hari ini kau telah mencintai kaka. Kakak juga merasa bersyukur bila kau telah melupakan mantan kekasihmu itu. Beberapa hari ini kakak perhatikan kau juga telah menggunakan busana muslimah yang syar’i. Pinta kakak padamu dek, luruskan niatmu, kalau kemarin kau mengenakan busana itu untuk menyenangkan hati kakak semata. Maka sekarang luruskan niatmu, niatkan semua itu untuk Allah ta’ala selanjutnya untuk kakak.

Mendengar semua itu, aku memeluk suamiku. Aku merasa bahwa dia adalah lelaki terbaik yang pernah kujumpai selama hidupku. Aku bahkan telah melupakan Boby. Aku merasa bahwa malam itu, aku adalah wanita yang paling bahagia di dunia. Sebab meskipun dalam keadaan sakit, untuk pertama kalinya Kak Arfan mendatangiku sebagai seorang suami. Hari-hari kami lalui dengan bahagia. Kak arfan begitu sangat kharismatik. Terkadang dia seperti seorang kakak buatku dan terkadang seperti orang tua. Darinya aku banyak belajar banyak hal. Perlahan aku mulai meluruskan niatku dengan menggunakan busana yang syar’i, semata-mata karena Allah dan untuk menyenangkan hati suamiku.

Sebulan setelah malam itu, dalam rahimku telah tumbuh benih-benih cinta kami berdua. Alhamdulillah, aku sangat bahagia bersuamikan dia. Darinya aku belajar banyak tentang agama. Hari demi hari kami lalui dengan kebahagiaan. Ternyata dia mencintaiku lebih dari apa yang aku bayangkan. Dulu aku hampir saja melakukan tindakan bodoh dengan menolak pinangannya. Aku fikir kebahagiaan itu akan berlangsung lama diantara kami, setelah lahir Abdurrahman, hasil cinta kami berdua.

Di akhir tahun 2008,  Kak Arfan mengalami kecelakaan dan usianya tidak panjang. Sebab Kak Arfan meninggal dunia sehari setelah kecelakaan tersebut. Aku sangat kehilangannya. Aku seperti kehilangan penopang hidupku. Aku kehilangan kekasihku. Aku kehilangan murobbiku, aku kehilangan suamiku. Tidak pernah terbayangkan olehku bahwa kebahagiaan bersamanya begitu singkat. Yang tidak pernah aku lupakan di akhir kehidupannya Kak Arfan, dia masih sempat menasehatkan sesuatu padaku:

Dek.. pertemuan dan perpisahan itu adalah fitrahnya kehidupan. Kalau ternyata kita berpisah besok atau lusa, kakak minta padamu Dek.., jaga Abdurrahman dengan baik. Jadikan dia sebagai mujahid yang senantiasa membela agama, senantiasa menjadi yang terbaik untuk ummat. Didik dia dengan baik Dek, jangan sia-siakan dia.

Satu permintaan kakak.., kalau suatu saat ada seorang pria yang datang melamarmu, maka pilihlah pria yang tidak hanya mencintaimu. Tetapi juga mau menerima kehadiran anak kita.

Maafkan kakak Dek.., bila selama bersamamu, ada kekurangan yang telah kakak perbuat untukmu. Senantiasalah berdoa.., kalau kita berpisah di dunia ini..Insya Allah kita akan berjumpa kembali di akhirat kelak . Kalau Allah mentakdirkan kakak yang pergi lebih dahulu meninggalkanmu, Insya Allah kakak akan senantiasa menantimu..
Demikianlah pesan terakhir Kak Arfan sebelum keesokan harinya Kak Arfan
meninggalkan dunia ini. Hatiku sangat sedih saat itu. Aku merasa sangat kehilangan. Tetapi aku berusaha mewujudkan harapan terakhirnya, mendidik dan menjaga Abdurrahman dengan baik. Selamat jalan Kak Arfan. Aku akan selalu mengenangmu dalam setiap doa-doaku, amiin. Wasallam”
NB : Kisah Nyata dari Akhwat di Gorontalo, Sulawesi Utara


http://januarpambudi.blogspot.com/2012/08/kisah-akhwat-gorontalo.html dengan sedikit perubahan oleh >> http://abul-harits.blogspot.co.id/2013/05/kenapa-kau-meninggalkanku-di-saat-ku.html

Arsip

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts