Senin, 29 Desember 2014

[Bagian Pertama Dari Tiga Tulisan]
Kita semakin mendekati penghujung tahun lama dan akan masuk ke awal tahun baru masehi. Pada momen tersebut, manusia di penjuru Indonesia, bahkan di seluruh dunia beramai-ramai merayakannya. Tak ketinggalan juga sebagian besar dari kaum muslimin, baik remaja maupun orang tua. Sebagai seorang muslim, hendaknya kita tidak berkata dan berbuat melainkan dengan dasar ilmu. Sikap terbaik bagi kita adalah berilmu dahulu baru berkata dan berbuat. Maka itu, sebelum jauh melangkah mengikuti perayaan tahun baru masehi, hendaknya kita mengkaji terlebih dahulu hal-hal yang berkaitan dengan perayaan-perayaan seperti ini. Apakah Islam membolehkannya, atau sebaliknya melarangnya. Sebab, bisa saja seseorang mengerjakan sesuatu yang belum ia ketahui ilmunya, dapat menyebabkan datangnya murka dan siksa Allah ta’ala. Hanya kepada-Nya kita memohon keselamatan di dunia dan akhirat. [1]. Hari Raya Tahunan Umat Islam Hanya Dua Ketahuilah, di dalam Islam, perayaan hari raya tahunan hanya ada dua: Idul Fitri dan Idul Adha. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu ia berkata: قَدِمَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم الْمَدِيْنَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِيْنَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ: قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، وَقَدْ أَبَدَلَكُمُ الله بِهِمَا خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ النَّحْرِ وَيَوْمَ الْفِطْرِ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke kota Madinah sementara itu penduduknya memiliki dua hari di mana mereka bersenang-senang padanya di jaman jahiliyyah, lalu beliau berkata: “Aku datang kepada kalian, sementara kalian memiliki dua hari raya yang kalian bersenang-senang padanya pada masa jahiliyyah, sungguh Allah telah menggantikan kedunya dengan yang lebih baik darinya: hari raya idul adha dan idul fitri.” [Sahih riwayat Ahmad & Abu Dawud] Dalam sejarah Islam, tidak pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya merayakan hari-hari besar lain selain dua hari raya di atas. Sekiranya perayaan-perayaan seperti ini baik, tentu mereka telah mendahului kita dalam mengamalkannya. Tapi nyatanya tak satu pun dari mereka ikut-ikutan merayakannya. Dari satu sisi agama ini telah sempurna, sehingga tidak membutuhkan penambahan adanya hari raya tahunan yang ketiga. Dari sisi lainnya, bila kita melihat kepada sejarah, maka tahun masehi bukanlah miliki kaum muslimin, namun milik orang-orang kafir yang merupakan musuh-musuh Allah. Akankah kita ikut merayakan hari yang dimiliki dan dirayakan oleh musuh-musuh Allah tersebut? Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata: اِجْتَنِبُوْا أَعْدَاءَ اللهِ فِي عِيْدِهِمْ Jauhilah oleh kalian musuh-musuh Allah pada hari raya mereka. (HR. al-Baihaqi. Lihat: Fatawa Ulama al-Haram al-Makkiy hal. 113) [2]. Larangan Mengekor Ahlul Kitab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ، الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى ؟ قَالَ: فَمَنْ Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai bila mereka masuk ke liang dhob (hewan serupa biawak) niscaya kalian akan tetap mengikutinya. Kami berkata: Ya Rasulullah, (mereka) Yahudi dan Nashara? Siapa lagi, jawab beliau. (HR. al-Bukhari & Muslim) Hadis di atas benar-benar terjadi. Tidak sedikit kaum muslimin yang mengekor kebiasaan orang barat yang diharamkan di dalam Islam. Contohnya: Mengkultuskan orang tertentu hingga dipertuhankan, tidak mau menuntut ilmu, tidak mau mengamalkan ilmu yang telah di dapat, bermuamalah dengan cara riba, dan memperingati perayaan hari-hari tertentu yang tidak ada contohnya dalam Islam; seperti hari ulang tahun dan tahun baru. Tidak diragukan lagi, beberapa contoh tersebut merupakan petaka bagi kaum muslimin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka. [Sahih riwayat Ahmad & ath-Thohawi] Allah berfirman tentang Yahudi dan Nasrani: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ Tunjukanlah kepada kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai (Yahudi) dan bukan pula jalannya orang-orang yang tersesat (Nashara). (QS. al-Fatihah: 6-7) Seandainya muslim boleh merayakan, semestinya dia berduka cita bukannya bersuka cita. Sebab, begitu banyak amalan setahun lalu yang jauh dari tuntunan Syariat. Karena amalan tersebut akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah ta’ala. Adapun berpesta pora, bergembira ria, bersenang-senang, menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak ada faedahnya selain kepuasan jiwa, maka ini tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang muslim. [Bagian Kedua Dari Tiga Tulisan] Pada malam tahun baru, tidak sedikit kemungkaran dan kemaksiatan yang dikerjakan oleh manusia. Berikut di antara kerusakan, kemaksiatan dan kemungkaran yang banyak dikerjakan: [1]. Menghambur-hamburkan uang Allah ta’ala berfirman: وَلاَ تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا. إِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْا إِخْوَانَ الشَّيَاطِيْنِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُوْرًا Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. al-Isra': 26-27) Ayat di atas berisi larangan berbuat boros. Adapun gambaran pemborosan dan menghambur-hamburkan uang untuk persiapan menyambut malam tahun baru di antaranya: 1. Membelanjakan uang untuk membeli mercon/petasan dan kembang api. 2. Membeli terompet tahun baru. 3. Membeli baju baru untuk merayakan tahun baru. 4. Mengadakan perjalanan ke luar kota. 5. Membeli arak dan minuman yang memabukkan. 6. Mengadakan pesta besar-besaran. 7. Membeli "karet" untuk berzina. 8. Modifikasi knalpot motor agar memiliki suara gaduh, dll. Bayangkan, berapa miliar uang yang dihamburkan beberapa menit saja pada malam itu? Sekiranya dibagikan kepada fakir miskin, niscaya jauh lebih bermanfaat bagi mereka. Ingat, harga bensin naik, beberapa bahan pokok juga naik, bila uang yang ada digunakan untuk kebutuhan rumah tangga maka akan lebih bermanfaat dan berpahala. [2]. Menghabiskan waktu dengan begadang tanpa faedah Padahal dalam sebuah riwayat yang sahih disebutkan: عَنْ أَبِيْ بَرْزَةَ الأَسْلَمِيْ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيْثَ بَعْدَهَ Dari Abu Barzakh al-Aslami bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum Isya’ dan berbincang-bincang setelahnya. (HR. al-Bukhari & Muslim) Ulama menjabarkan bahwa kebencian berbincang-bincang setelah isya’ tersebut tatkala tidak ada manfaatnya. Namun bila ada manfaatnya maka hal itu diperbolehkan. Sebagaimana para sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in dahulu pada malam hari mereka mengulangi pelajaran (muroja’ah) yang mereka dapatkan di siang hari. Mereka menyibukkan diri siang dan malam hari dengan beribadah dan menuntut ilmu. An-Nawawi berkata di Syarah Shahih Muslim: “Sebab dibencinya pembicaraan setelah isya’ karena bisa sampai begadang, sehingga dikhawatirkan ia akan ketiduran dari salat malam dan zikir, atau dari salat subuh pada waktu yang dibolehkan, waktu pilihan atau waktu utamanya. Demikian pula begadang malam hari menimbulkan rasa letih pada siang hatinya dari melaksanakan hak-hak agama, ketaatan dan kemaslahatan dunia.” (Syarah Sahih Muslim oleh an-Nawawi) Beliau juga berkata: “Ulama juga berkata, pembicaraan setelah isya’ yang dibenci adalah pada hal-hal yang tidak ada maslahatnya. Adapun bila mengandung kemaslahatan dan kebaikan maka tidak dibenci, seperti mengulangi pelajaran, bercerita tentang orang-orang saleh, berbincang-bincang dengan tamu dan pengantin sekedar untuk menghiburnya, suami berbincang dengan istri dan anak-anaknya dengan berlemah-lembut atau karena ada suatu kebutuhan, berbincang dengan musafir dengan untuk menjaga barang dan dirinya, mendamaikan antara manusia (yang berselisih) dan memberi syafaat kepada mereka dalam kebaikan, amar makruf nahi munkar, memberi petunjuk kepada kebaikan dan semacamnya, kesemuanya ini tidak dibenci.” (Syarah Sahih Muslim oleh an-Nawawi) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ Di antara tanda kebaikan seorang muslim adalah ia meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya. (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, dll. Hadis ini sahih) Padahal ikut merayakan tahun baru bukan sekedar tidak memberi manfaat, namun jelas merupakan keburukan dan kemungkaran. [3]. Mengganggu ketenangan masyarakat Sangat banyak fenomena tahun baru yang sangat mengganggu masyarakat luas. Gambaran kebisingan dan gangguan dari A sampai Z tumpah ruah pada malam itu. Di antaranya: 1. Suara gaduh terompet 2. Suara gaduh petasan atau mercon 3. Suara bising kendaraan khususnya roda dua 4. Suara gaduh alat-alat musik 5. Suara gaduh teriakan dan canda tawa, dll. Selain itu, fenomena tersebut menimbulkan kemacetan hampir di seluruh sudut kota. Bagi anda yang masih suka ikut-ikutan merayakannya, dengarkanlah baik-baik dan renungkanlah nasihat Nabimu. Iya, nasihat Nabimu yang tidak berkata melainkan dengan dasar wahyu. Bila beliau memberi nasihat, maka tentu saja kebaikan yang sangat beliau inginkan. Dengan kata lain, beliau menginginkan kemaslahatan bagi kita selaku umatnya. Nabimu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ (Dinamakan) muslim sejati apabila kaum muslimin yang lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. (HR. Muslim) Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ، الَّذِيْ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ Demi Allah ia tidak beriman, demi Allah ia tidak beriman, demi Allah ia tidak beriman, yaitu orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguan-gangguannya. (HR. al-Bukhari) Bahkan Beliau bersabda: لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari gangguan-gangguannya. (HR. Muslim) Realita yang ada di tengah perayaan tahun baru tersebut, hampir semuanya mengganggu orang-orang yang ada di sekitarnya yang tidak terlibat dengan perayaan tersebut. 
Hanya kepada Allah semata kita memohon hidayah dan pertolongan.

[Bagian ketiga dari Tiga Tulisan]

Di antara kemungkaran dan keburukan pada malam tahun baru: [4]. Bercampurbaurnya laki-laki dan perempuan Untuk ikut meramaikan perayaan tahun baru, tak sedikit dari kalangan muda-mudi –bahkan mayoritas yang merayakannya adalah seumuran mereka- keluar rumah untuk jalan bareng dengan pacar masing-masing. Padahal jelas, budaya berpacaran bukanlah dari Islam. Begitu banyak penyelisihan terhadap agama yang dilakukan oleh mereka yang berpacaran. Bermuka dua, sok manis, setia dan manja di depan pacar, zina mata, zina telinga, zina hati, zina tangan, zina kaki, bahkan lebih dari itu begitu banyak muda-mudi sekarang berani ini melakukan perzinaan sesungguhnya. Wa na’udu billah min dzalik. [5]. Suara lagu dan alat musik (jampi-jampi setan) yang diharamkan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيْثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِيْنٌ. وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آَيَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِيْ أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيْمٍ Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya, maka berilah kabar gembira dia dengan azab yang pedih. (QS. Lukman: 6) Al-Wahidi dan mayoritas ulama tafsir menjelaskan bahwa lahwal-hadits (perkataan tidak berguna) pada ayat di atas adalah lagu. Ini merupakan penafsiran Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma. Demikian pula Mujahid dan Ikrimah rahimahumallah. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Demi Allah yang tiada sesembahan selain-Nya, maksudnya adalah lagu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ Sungguh akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, arak, dan alat-alat musik. (HR. al-Bukhari) [6]. Minum-minuman keras, ganja, rokok, dll. Coba lihat, ada yang mojok dengan membawa bungkusan yang tidak jelas, ternyata setelah dibuka isinya wiski, topi miring, dan minuman beralkohol lainnya. Lihat pula di sisi yang lain, tak sedikit yang nyimeng, nge-ganja, atau sekedar menyedot asap yang penuh dengan derita. Rokok adalah barometer terkecilnya, lantas bagaimana dengan barang perusak lainnya. Ketahuilah, baik kaum muslimin maupun orang-orang kafir, telah bersepakat bahwa rokok tidak baik untuk kesehatan. Rokok mengandung banyak zat racun, bisa menyebabkan impoten, merusak janin, dan sederet penyakit lainnya. Bahkan di setiap bungkusnya tertera peringatan tersebut. Namun anehnya, mengapa mereka yang masih merokok tidak mengindahkan peringatan tersebut? Tidak pula memperhatikan lingkungan sekitarnya yang ingin menghirup segarnya udara? Egois atau menuruti hawa nafsu, itulah jawabannya. Secerdas dan sepintar apapun dia, maka tetap para perokok adalah orang yang paling egois sedunia. Di angkot, di halte, di pasar, di toilet, di jalan umum, di masjid, di kantor, di sekolah di sawah, di pantai, di gunung, di tempat rekreasi, di taman kota, di ladang, di warteg, di warung kopi, di bengkel, di pos satpam, di perguruan tinggi, di kantin, dan di mana saja, sifat egois itu akan muncul. Perlu bukti? Bisa kita saksikan bersama, meskipun hanya sendiri, pasti ia tidak malu, pura-pura tidak tahu atau tidak mau tahu atau cuek bebek, dengan pede-nya ia mengeluarkan tengwe (linteng dewe) dan menghisapnya tanpa peduli kanan kiri. Kalau bukan egois, entah mau disebut apa sikap yang satu ini. [7]. Mengumbar nafsu syahwat Disadari atau tidak oleh para wanita bahwa pada malam itu mereka telah mempertontonkan bentuk dan lekukan tubuh kepada siapa saja yang ingin melihatnya. Berbagai macam dan jenis pakaian dikenakan pada malam itu. Berwarna-warni, berbagai macam model, dan yang pasti dengan sedikit atau banyak menampakkan aurat yang dapat menggiurkan mata lelaki yang melihatnya. Belum lagi ditambah kerasnya harum parfum dari baju mereka. Entah, berapa puluh lelaki yang berdosa oleh sebab dirinya. Berapa ratus muslim taat tidak khusyuk salat karena mengingat mereka. Semoga Allah memberi petunjuk para wanita kaum muslimin agar lebih menghargai diri, sehingga Allah pun menghargai mereka pula. Saudaraku muslimah, sudikah dirimu bila dijuluki oleh Nabimu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai calon penghuni neraka? Beliau bersabda: صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: … وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا Dua calon penghuni neraka yang belum pernah aku melihatnya: … dan (kedua) wanita yang berpakaian namun hakikatnya telanjang, berjalan dengan sombong sambil melenggak-lenggokkan pundaknya, kepada mereka seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium wanginya. (HR. Muslim) Sudikah dirimu disebut Nabimu shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai wanita pezina? Beliau bersabda: أَيُّمَا امْرَأَةٍ اِسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلىَ قَوْمٍ لِيَجِدُوْا مِنْ رِيْحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ Wanita mana saja yang memakai minyak wangi lalu melalui suatu kaum agar mereka mencium wanginya maka ia adalah wanita pezina. (hadis hasan riwayat an-Nasa’i, Abu Dawud dll.) Tanggalkan dan tinggalkanlah pakaian yang tidak menutup sempurna auratmu itu. Gantilah dengan pakaian Islami yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Agar semakin bersih hati kaum lelaki dan lebih khusyuk dalam ibadah mereka. Perhatikanlah beberapa syarat pakaian syar’i bagi wanita berikut: 1. Menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Bila mengenakan cadar maka itu lebih baik lagi. 2. Bukan berupa pakaian perhiasan. 3. Tebal dan tidak tipis transparan. 4. Longgar dan tidak sempit. 5. Tidak diberi wewangian. 6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki. 7. Tidak menyerupai pakaian wanita non muslimah. 8. Dan bukan merupakan pakaian ketenaran. Bila pakaianmu telah memenuhi persyaratan di atas, maka semoga Allah senantiasa meluapkan rahmat-Nya kepadamu. ○ KESIMPULAN 1. Dalam Islam hari raya tahunan hanya ada dua: Idul Fitri dan Idul Adha. 2. Perayaan-perayaan hari tertentu seperti ulang tahun dan tahun baru bukanlah dari Islam. 3. Perayaan tahun baru mencakup banyak kemungkaran dan kemaksiatan. 4. Larangan ikut merayakan tahun baru. Grup WA Majlis Ilmu ICC DAMMAM KSA
Bagian Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts