Selasa, 30 Desember 2014

Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, khusyuk yang benar adalah kekhusyukan iman. Menurutnya, kekhusyukan iman ialah kekhusyukan (ketundukan) hati kepada Allah ta'ala, dengan cara mengagungkan-Nya, takut, dan malu kepada-Nya. Lalu, hati pasrah kepada-Nya, dalam bentuk kepasrahan yang disertai rasa takut, malu, mengakui nikmat-nikmat-Nya, dan kesalahan-kesalahan dirinya. Jika itu tercapai, hati pasti khusyuk (tunduk), lalu organ tubuh ikut khusyuk." [Ar-Ruh, Ibnul Qayyim, hal 232]

Khusyuk ialah merasakan keagungan Allah ta'ala dan kekuasaan-Nya saat Anda berdiri di depan-Nya. Juga mengakui seluruh nikmat yang Dia berikan dan tidak dapat terhitung, karena saking banyaknya. Juga ingat kelalaian Anda mengelola seabrek nikmat ini.

Sikap seperti ini membuat Anda malu dan hati tunduk kepada-Nya secara perlahan. Hati berada di puncak ketundukan saat seseorang ingat maksiat-maksiat yang pernah ia lakukan, ingat kelalaian dirinya terhadap rahmat dan kasih sayang Allah ta'ala kepadanya. Saat itu, hati menjadi khusyuk dan organ tubuh selalu sadar.

Sedang khusyuk palsu, maka itulah khusyuk kemunafikan menurut Ibnul Qayyim rahimahullah. Ia berkata, "Organ tubuh terlihat mengerjakan hal-hal yang dipaksakan dan hati tidak khusyuk. Salah seorang shahabat berkata, 'Aku berlindung kepada Allah dari khusyuk kemunafikan.' Ditanyakan kepada shahabat itu, 'Apa itu khusyuk kemunafikan?' Shahabat itu menjawab, 'Tubuh terlihat khusyuk, tapi hati tidak khusyuk'." [Ar-Ruh, Ibnul Qayyim, hal 232]

Khusyuk Semu

Banyak orang menduga khusyuk itu menundukkan kepala, atau jalan pelan-pelan, atau merendahkan suara. Mereka lupa kalau khusyuk itu di hati. Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu melihat seorang membungkuk saat shalat, lalu Umar bin Khaththab berkata, "Pak, angkat lehermu! Khusyuk itu bukan di leher, namun di hati." [Madarijus Salikin, jilid 1, hal. 521]

Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu ahli ibadah sejati, seperti dikatakan 'Aisyah radhiyallahu 'anha ketika melihat sejumlah pemuda berjalan perlahan-lahan. Kata 'Aisyah kepada sahabat pemuda-pemuda itu, "Siapa pemuda-pemuda tersebut?" Sahabat pemuda itu menjawab, "mereka ahli ibadah." 'Aisyah berkata, "Jika Umar bin Khaththab berjalan maka cepat, jika berkata maka suaranya keras menggelegar, jika memukul maka menyakitkan, dan jika makan maka sampai kenyang. Ia ahli ibadah sejati." [Madarijus Salikin, I/521]
Kendati demikian, Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu tidak membungkuk atau berjalan perlahan. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, "Umar bin Khaththab membaca satu ayat, lalu tak sadarkan diri. Ia berada di rumahnya berhari-hari dan dikunjungi karena dikira sakit." [Az-Zuhdu, Imam Ahmad, hal 119, Wahatu Al-Iman, Abdul Hamid Al-Bilali]

0 komentar:

Posting Komentar

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts