Jumat, 24 Oktober 2014

Ustadz DR Muhammad Arifin Badri, MA
Suatu hari di pejalanan pulang dari SOLO ke SURABAYA dengan kereta SANCAKA SORE, saya duduk di sebelah seorang nasrani.
Setelah duduk, saya segera menyapa bapak tersebut. Betapa terkejutnya dia, disapa oleh seorang laki laki berjenggot celana cingkrang.
Saya berusaha terus ngobrol dengannya, hingga akhirnya suasana pembicaraan benar benar cair dan ia mengaku bahwa ia beragama nasrani.
Pembicaraan kami berdua berlangsung sejak dari stasiun balapan solo dan baru berakhir di stasiun Gubeng surabaya.
Banyak hal yang kami bicarakan dan tentunya masalah agama dan idiologi.
Diantara yang ia sampaikan kepada saya adalah keterkejutan dirinya disapa oleh lelaki berjenggot dan celana cingkrang.
Dan sayapun menjelaskan bahwa agama islam mengajarkan ummatnya untuk berbuat baik kepada siapapun bahkan kepada hewan. Islam merestui ummatnya berbuat baik kepada orang kafir asalkan orang kafir itu tidak meremehkan atau melecehkan agama Islam, apalagi sampai memusuhinya.
Saya ramah dengan bapak semacam ini asalkan bapak tidak menyinggung keyakinan saya.
Diantara hal yang ia sampaikan kepada saya; adalah kekecewaannya kepada masyarakat Bali yang menyembah patung bahkan benda atau makhluk hina semisal ular dan lainnya. Menurutnya perilaku itu tidak masuk akal dan bertentangan dengan kodrat atau akal sehat manusia.
Mendengar ucapan tersebut, saya merasa mendapat kesempatan untuk mendakwahinya. Segera saya menimpali ucapan bapak itu dengan berkata: benar pak, karena itulah saya enggan untuk pergi ke Bali, walaupun sudah beberapa kali diundang untuk menyampaikan dakwah di sana.
Perilaku mereka benar benar tidak masuk di akal, masak tuhan berupa benda mati, makhluk yang hina seperti sapi, ular dan yang serupa. Bukankah hewan hewan seperti sapi bisa mati dan DIBUNUH?
Masukkah di akal tuhan bisa DIBUNUH oleh manusia? Lah bila tuhannya bisa dibunuh dan mati lalu siapa yang LEBIH PANTAS MENJADI TUHAN yang membunuh atau yang dibunuh?
Ucapan saya ini bertujuan MENYISIPKAN pesan kepada bapak tersebut, bahwa tuhan kok bisa mati bahkan dibunuh?
Pesan ini kembali saya tekankan ketika pembicaraan melebar hingga sampai pada tema teroris. Saya katakan kepada bapak tersebut: pak, Islam tidak mengajarkan tindak anarkis atau sembarangan membunuh orang hanya karena berbeda agama atau keyakinan.
Dahulu nabi kami Nabi Muhammad ﷺ di Madinah juga bermasyarakat dengan orang orang Yahudi.
Namun demikian saya sadar bahwa tuduhan islam mengajarkan terorisme adalah persepsi dan pendapat orang yang benci dan tidak kenal Islam, sehingga siapapun tidak mungkin bisa memaksakan mereka untuk berhenti membuat opini atau tuduhan tuduhan semacam itu.
Sejatinya bila kita pikirkan dengan baik, Kita semua harus sadar bahwa perilaku ekstrim dan anarkis seperti yang dituduhkan kepada Islam sejatinya telah terjadi sepanjang sejarah ummat manusia.
Kisah Habil dan Qabil menjadi salah satu buktinya. Bahkan tuhan yang bapak yakini yaitu Yesus, juga MENJADI KORBAN tindak anarkis. Tuhan bapak dimusuhi bahkan DIBUNUH dengan cara keji, disalib. Hingga saat ini ummat nasrani meratapi PEMBANTAIAN tuhan mereka yang dilakukan oleh ummat Yahudi.
Bila Yesus yang menurut bapak adalah TUHAN sedangkan menurut kami adalah seorang NABI saja tidak selamat dari tindak ekstrim dan anarkis, apalagi manusia biasa seperti kita ini.
Semoga pesan yang saya sisipkan dalam ingatan bapak di atas dapat membuka pintu hidayah dalam hatinya. Amiin.


Ngobrol Dengan Seorang Nasrani II
Diantara pembicaraan yang berlangsung antara saya dengan lelaki nasrani di kereta SANCAKA SORE adalah masalah Syi'ah.
Karena saya secara terencana berusaha menyusupkan pesan pesan dakwah dalam pembicaraan saya, maka nampaknya bapak tersebut ingin melakukan hal yang sama kepada saya. Karena itu dia menanyakan perihal PERPECAHAN yang terjadi di tengah tengah ummat Islam. Ada sekte AHMADIYAH dan juga ada sekte SYI'AH yang terus menimbulkan keributan di tengah tengah ummat Islam.
Mendapat pertanyaan semacam ini saya merasa dibukakan kesempatan lain untuk menitipkan pesan pada diri bapak tersebut.
Saya memulai jawaban dengan berkata: Ohh, masalah ini adalah masalah yang biasa terjadi di setiap ummat. Dan kondisi serupa terjadi pula pada ummat nasrani, ada ortodok, ada protestan dan ada pula sekte YEHUWA.
Sebagaimana ummat nasrani meyakini kesesatan sekte YEHUWA, maka demikian pula ummat islam meyakini kesesatan sekte AHMADIYAH DAN SYI'AH.
Sekte YEHUWA meyakini bahwa YESUS adalah manusia biasa, ia adalah seorang nabi bedanya menurut YEHUWA nabi isa adalah nabi terakhir, sedangkan kami UMMAT ISLAM meyakini bahwa nabi terakhir adalah NABI MUHAMMAD . YEHUWA juga meyakini bahwa Isa bukan tuhan, dan bukan pula anak tuhan. Mereka juga meyakini bahwa babi adalah haram, NYANYIAN GEREJA bukan ajaran nabi Isa, dan idiologi salib sesat karena nabi Isa 'alaihissalam tidak pernah dibunuh namun diangkat ke langit.
Sekte AHMADIYAH juga demikian halnya, mereka sesat karena meyakini bahwa mirza ghulam ahmad adalah nabi setelah nabi MUHAMMAD . Karena itu di negara asalnya, yaitu INDIA, PAKISTAN dan sekitarnya AHMADIYAH dianggap sebagai agama sendiri.
Sedangkan di negara kita ahmadiyah masih digolongkan sebagai bagian dari ummat ISLAM. inilah sejatinya yang menjadikan ummat Islam resah dan akhirnya timbul kerusuhan, karena idiologi ahmadiyah nyata nyata menyimpang dan menodai ajaran agama Islam.
Adapun SYI'AH, maka mereka juga sekte menyimpang, karena meyakini bahwa sejatinya yang berhak menjadi nabi adalah ALI BIN ABI THOLIB. Menurut mereka malaikat Jibril salah menyampaikan wahyu sehingga akhirnya nabi Muhammad  yang menjadi nabi.
Sebagaimana sekte syi'ah juga meyakini bahwa keluarga nabi dan sahabat sahabatnya telah berkhianat dan keluar dari agama Islam. Karena terlalu jauh penyimpangan idiologi Syi'ah, maka wajar bila keberadaan mereka di tengah tengah ummat Islam selalu menimbulkan keresahan.
Kalau ummat nasrani termasuk bapak meyakini bahwa sekte YEHUWA sesat karena alasan perbedaan yang sangat jauh dalam urusan idiologi maka alasan itu pula yang mendasari kami "ummat Islam" meyakini bahwa ahmadiyah dan syi'ah sesat.
Mendengar jawaban saya ini, bapak tadi segera berusaha mengalihkan pembicaraan ke tema lain. Bagi saya berganti tema pembicaraan tidak ada masalah karena menurut hemat saya, berbagai pesan telah berhasil saya sisipkan ke pikirannya. 
Semoga Allah membuka pintu hatinya untuka menerima hidayah.


Ngobrol Dengan Lelaki Nasrani III
Diantara hal yang diutarakan oleh lelaki nasrani tersebut kepada saya ialah perihal pilihannya beragama nasrani. Menurut penuturannya, ia telah berpindah pindah dari satu agama ke agama lain, dari hindu ke islam,lalu ke nasrani,ndan katanya ia hanya mendapatkan hatinya di agama nasrani.
Akunya, Selama mencoba beragama hindu dan islam ia sama tidak merasakan adanya ketenangan dalam dirinya alias jiwanya tetap merasa hampa, sehingga ia merasa mantap beragama nasrani.
Saya mendengarkan penuturannya hingga ia selesai bercerita dengan sesekali menimpalinya dengan berkata: ohhh, demikian ya pak?
Setelah ia selesai menceritakan pengalamannya berpindah pindah agama, giliran saya berkomentar.
Hal pertama yang saya ucapkan kepadanya adalah: pak, untuk urusan agama dan keyakinan bukan sekedar mantap, atau ketenangan, namun lebih pada urusan HIDAYAH alias PETUNJUK.
Karena itu sebaliknya juga banyak, betapa banyak orang nasrani yang berpindah agama ke islam dan mengaku bahwa selama pengalamannya menganut nasrani ia sama sekali tidak merasakan kedamaian dan selalu dalam kegersangan, hingga akhirnya Allah membuka pintu hatinya untuk memeluk Islam, dan akhirnya ia merasakan kedamaian.
Jadi kalau selama "mencoba" beragama islam bapak merasa tetap hampa, maka itu sejatinya Allah belum memberi hidayah atau belum membuka pintu hati bapak.
Karena bapak pasti menyadari bahwa agama kita sama sama disebut dengan agama samawi, alias berasalkan dari langit, alias bersumber dari Allah. Dengan demikian yang kuasa memberi hidayah atau membuka pintu hati adalah Allah. Berbeda dengan agama lainnya, yang berasalkan dari logika dan pengalaman pendirinya.
Diantara buktinya, dalam agama saya Islam, dan saya yakin dalam agama bapak juga sama, kita diajarkan untuk selalu berdoa memohon petunjuk alias hidayah kepada Allah. Andai urusan agama bergantung pada kenyamanan atau ketenangan semata, maka apalah artinya kita diajarkan untuk selalu berdoa memohon petunjuk kepada Allah?
Ditambah lagi, tidak merasakan ketenangan banyak faktornya, diantaranya karena bapak belum memahami seutuhnya agama yang bapak anut dengan sebenarnya. Betapa banyak orang yang beragama hanya mengenal lahirnya alias kulitnya namun belum memahaminya secara utuh, apalagi mengamalkannya secara sempurna.
Karena itu dalam Al Qur'an, kitab suci kami, ada perintah agar kita masuk alias menjalankan agama Islam secara menyeluruh.

(ادخلوا في السلم كافة)

Masuklah engkau semua ke dalam islam secara menyeluruh.
Agama saya, yaitu Islam bukan hanya mengatur urusan ibadah, namun seluruh aspek kehidupan kita juga diatur. Bahkan ayat terpanjang dalam kitab suci kami bukan yang mengatur urusan ibadah praktis, namun ayat yang berkaitan dengan aturan hutang piutang dan bagaimana tata cara membuat alat bukti.
Selanjutnya untuk menyisipkan pesan pada diri bapak itu, saya bertanya kepada bapak itu, dengan berkata: oh iya pak, bagaimana dengan agama nasrani, adakah aturan tentang perniagaan, rumah tangga, hukum pidana atau perdata?
Saya bertanya demikian, karena saya tahu bahwa dalam agama nasrani tidak ada aturan tentang aspek aspek kehidupan di atas.
Nampaknya bapak itu tidak menduga akan saya tanya demikian, sehingga ia agak terkejut' sehingga kikuk menjawab pertanyaan saya. Ia hanya menjawab: oh ya tentu saja ada. Padahal nyatanya -sebatas yang saya pelajari- tidak ada satu ayatpun dalam kitab Injil atau Taurat ( perjanjian baru atau lama) yang mengatur urusan urusan tersebut.


Ngobrol Dengan Lelaki Nasrani IV
Diantara yang saya bicarakan dengan bapak tua nasrani di kereta SANCAKA SORE selama perjalanan dari Solo menuju ke Surabaya ialah berbagai masalah tentang ekonomi.
Bapak itu memperkenalkan dirinya sebagai seorang pengusaha elevator, karena itu tema seputar perdagangan tidak luput dari pembicaraan kami berdua. Ia menyatakan bahwa pemerintah kita gagal dalam membangun perekonomian, sehingga produk dalam negri banyak yang gulung tikar hingga akhirnya kebanyak produsen kita beralih status sebagai pedagang atau agen produk luar negri alias importir saja.
Pasar kita dibanjiri oleh produk produk murahan dari negri tirai bambu dan lainnya, menggantikan produk produk bermutu yang dihasilkan oleh anak bangsa.
Mendengar penuturan bapak tadi, saya menimpalinya dengan berkata, benar pak, perekonomian kita maju pesat, padahal negara negara maju saat ini sedang limbung perekonomiannya. Akibatnya banyak perusahaan dan investor mereka yang berbondong bondong ke negri kita.
Kehadiran investor asing dan produk asing benar benar menjadi ancaman bagi kita, karena fundamental perekonomian kita rapuh. Dan menurut hemat saya ada beberapa faktor yang menjadikan kita mengalami hal ini:
1) idiologi kita rapuh, yang mengakibatkan masyarakat kita tidak loyal kepada produk negara sendiri. Alih alih loyal, masyarakat kita masih bermental bangsa terjajah, merasa bangga bila menggunakan produk luar negri dan sebaliknya risih alias kurang pede atau rendah diri bila menggunakan produk dalam negri.
2) Banyak pengusaha kita yang tergiur untuk ekspor luar negri, sedangkan pasar dalam negri belum ia optimalkan. Karena itu ketika pasar luar negri mengalami kelesuan, maka pengusaha kita banyak yang tumbang, karena di dalam belum kuat dan di luar lesu. Sedangkan pengusaha luar negri telah mencapai titik jenuh di dalam negrinya sana, baru menggarap pasar luar negri. Akibatnya mereka berpesta dengan pasar kita sedangkan kita harus tersingkir di negri sendiri.
3) Negara kita terus berupaya menstabilkan nilai tukar dolar, sedangkan negara barat tidak terlalu terbebani dengan masalah kurs nilai tukar dolar. Padahal sektor keuangan inilah sejatinya yang selama ini menjadi beban bagi perekonomian kita. Krisis ekonomi 1997-1998 menjadi buktinya. Produksi bagus, dan konsumsi masyarakat bagus namun perekonomian negara kita hancur, akibat dari rapuhnya dunia perbankan kita.
Karena itu dalam sistem ekonomi Islam, sektor keuangan, jual beli mata uang diwaspadai dan harus mengikuti persyaratan yang sangat ketat, karena berlaku padanya hukum hukum riba.
Pertukaran valuta asing dalam islam harus dilakukan secara tunai dan benar benar terjadi serah terima fisik, bukan sekedar simbolik. Dengan demikian mata uang tetap berada pada perannya yang sejati yaitu sebagai alat transaksi dan bukan sebagai obyek transasksi. Mata uang dalam sistem ekonomi islam berperan sebagai pelicin perekonomian agar dapat berputar dengan mudah, sedangkan obyek ekonomi yang sebenarnya ialah barang dan jasa.
Namun kini masyarakat kita telah menjadikan sarana ekonomi yaitu mata uang sebagai obyek ekonomi yang diperdagangkan dengan bebas. Sehingga perputaran uang melebihi kebutuhan dan melebihi perputaran barang dan jasa. Akibatnya terjadilah kekacauan ekonomi, yang kaya semakin kaya sedangkan yang kecil terus bertambah kecil.
Karena itu banyak pengusaha besar yang berlomba lomba mendirikan atau memiliki bank, guna mengumpulkan dana masyarakat. Dan bila dana masyarakat telah terkumpul di banknya, para pengusaha tersebut dapat menggunakannya untuk membeli kekayaan/aset masyarakat, yang kemudian dijual ulang kepada masyarakat, dan demikian seterusnya.
Para pengusaha kelas "paus" tersebut melalui bank-nya dapat mengumpulkan dana segar bermilyar milyar bahkan bertrilyun trilyun rupiah yang tentunya dapat mereka gunakan untuk membiayai usaha mereka. Sedangkan masyarakat yang banting tulang dan peras keringat harus merasa puas hanya dengan mendapatkan buku tabungan dan kartu ATM.
Inilah sekelumit kejamnya sistem ekonomi kapitalis yang kita jalani saat ini. Dan sistem semacam inilah yang dimaksudkan dan diperangi pada ayat berikut :

كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنكُمْ

Agar harta kekayaan itu tidak hanya berputar diantara orang orang kaya dari kalian saja. ( QS Al Hasyr: 7)
Mendengar jawaban saya ini, bapak tersebut sedikit terkejut, dan segera mengalihkan pembicaraan ke tema lainnya.


Ngobrol Dengan Seorang Nasrani V
Diantara tema pembicaraan yang saya bicarakan dengan teman duduk seorang nasrani di kereta SANCAKA SORE ialah tentang pendidikan anak.
Bapak tersebut menceritakan perihal pengalaman hidupnya yang hanya lulusan sekolah dasar, namun untuk urusan kemampuan inteligensi dan pengetahuannya tidak kalah dengan lulusan perguruan tinggi. Bahkan pada prakteknya, ketika mengerjakan proyek pengerjaan elevator, sering kali ia mampu mengerjakan dan menyelesaikan masalah masalah yang tidak dapat dilakukan oleh seorang sarjana.
Ia menuturkan bahwa dirinya memiliki keuletan, dan semangat bekerja yang tetap berkobar walau telah berkepala enam alias berumur lebih dari enam puluh tahun. Ia memulai bisnisnya dari nol, diawali dari seorang kuli yang haus akan pengalaman dan penuh dengan rasa ingin tahu.
Ia mengeluhkan pendidikan kondisi anak muda zaman sekarang yang cengeng, lemah mental namun banyak bertingkah ( sok hebat ).
Setelah sekian banyak tentang perjalanan hidupnya mencari pengalaman dan pengetahuan, dan saya hanya mendengarkan dan sesekali menimpalinya, maka tiba saatnya saya berkomentar.
Saya memulai komentar saya dengan berkata : pendidikan yang ada saat ini lebih menekankan pada pengembangan pengetahuan semata. Adapun pendidikan perilaku apalagi moral ( akhlaq ) maka benar benar jauh dari dunia pendidikan kita saat ini.
Bahkan kebanyakan orang tua saat ini tanpa sadar menjadikan anak anaknya menjadi seperti yang bapak sampaikan, malas, lemah mental dan hidup foya foya.
Banyak orang tua yang berkata kepada anaknya; nak, kamu fokus belajar saja, ndak usah ikut bekerja bersama ayah atau ibu. Ayah atau ibu lebih bangga bila engkau mendapat nilai 100 dibanding bisa masak atau menanam atau ikut menjaga toko atau mengerjakan pekerjaan ini dan itu.
Banyak orang tua beranggapan bahwa masa depan anaknya akan moncer bila anaknya selalu mendapatkan nilai 100 di sekolahnya.
Pemikiran semacam ini menurut hemat saya menyelisihi fakta, karena untuk urusan masa depan alias pekerjaan apalagi penghasilan tidak identik dengan pendidikan. Betapa banyak orang yang rendah pendidikannya atau lemah ketika sekolah, namun berkat keuletan dan semangat kerjanya yang bak baja "sukses" menjadi orang kaya raya.
Fakta membuktikan bahwa urusan rejeki adalah urusan karunia Allah, bukan urusan pendidikan. Karena itu makhluk makhluk lain seperti burung misalnya, tidak pernah menempuh pendidikan namun hidup bahagia. Bahkan burung sering kali dijadikan simbol sukses manusia; betapa banyak manusia yang merasa bahwa di antara indikator orang sukses ialah bila telah mampu memiliki beraneka ragam burung yang mampu berkicau bagus. Mungkinkah manusia kalah dengan burung?
Burung di pagi hari riang gembira, karena itu biasanya burung burung berkicau di pagi hari, dan ketika matahari telah mulai terik semua burung diam dan sibuk bekerja mencari makan. Dan bila sore hari telah tiba, maka kembali burung berkicau riang sebagai gambaran akan rasa syukur dan kepuasan dengan apa yang telah mereka dapatkan.
Setahu saya juga tidak ada burung yang membuat lumbung atau menimbun. Sebagaimana tidak ada burung yang memakan makanan burung lainnya. Yang makanannya biji bijian, maka tidak akan makan pisang, dan yang makanannya pisang tidak akan memakan madu bunga dan demikian seterusnya.
Dan bila malam hari tiba semua burung beristirahat , tidak bekerja dan tidak pula berkicau. Setahu saya hanya burung "HANTU" yang bekerja di malam hari.
Kondisi ini sangat berbeda dengan manusia, betapa banyak manusia yang bekeja lembur, siang berlanjut malam. Walau demikian tetap saja merasa belum cukup, pesimis terhadap masa depan, sehingga perlu mengikuti berbagai program asuransi, dan banyak yang menghalalkan segala macam cara untuk mengeruk penghasilan lalu menimbunnya.
Betapa banyak manusia yang menghalalkan segala macam cara untuk mengeruk pendapatan, termasuk merebut hak orang lain. Walau demikian kita masih merasa kekurangan dan dirundung kekhawatiran akan hari esok. Karena itu, nabi Muhammad ﷺ memotifasi ummat Islam dengan bersabda:

لو أنكم تتوكلون على الله حق توكله، لرزقكم كما يرزق الطير، تغدو خماصا وتروح بطانا
Jikalau kalian benar benar bertawakkal (berserah diri) kepada Allah, niscaya Allah melimpahkan rejeki kepadamu sebagaimana Allah memberikan rejeki kepada burung, yang di pagi hari keluar dari sangkarnya dalam kondisi lapar dan di sore hari pulang lagi ke sangkarnya dalam kondisi kenyang. ( Ahmad dll )
Karena itu, untuk urusan pendidikan, sepatutnya kita meluaskan arti pendidikan kita, sehingga mencakup pendidikan mental, kecerdasan pikiran alias ilmu pengetahuan dan juga kecakapan perilaku, dan tidak kalah penting mencakup pendidikan idiologi atau iman.
Dikisahkan bahwa suatu hari ada seorang wanita di depan Nabi Muhammad ﷺ memanggil putranya, dengan berkata: nak, kemarilah, aku akan memberimu sesuatu.
Mendengar panggilan wanita itu, Nabi ﷺ bertanya kepada wanita itu: apa yang hendak engkau berikan kepadanya? Wanita itu menjawab: aku hendak memberinya sebiji kurma. Rasulullah ﷺ menimpali jawaban wanita itu dengan bersabda:

أما إنك لو لم تفعلي كتبت عليك كذبة
Ketahuilah bahwa: jika engkau tidak memberinya apapun, maka ucapanmu ini telah dicatat sebagai satu kedustaan. (HR Ahmad dan lainnya)
Di negri kita, bahkan di keluarga kita, pendidikan hanya dikaitkan dengan ilmu pengetahuan semata. Adapaun moral, akhlaq, apalagi keimanan benar benar telah di abaikan. Maka itu lahirlah generasi seperti yang bapak keluhkan.
Berkaitan dengan pekerjaan, islam mengajarkan bahwa kita harus bersikap mulia dan produktif, sehingga mampu memenuhi kebutuhan sendiri dan bahkan mampu menyantuni orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ، فَيَحْطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ، فَيَتَصَدَّقَ بِهِ وَيَسْتَغْنِيَ بِهِ مِنَ النَّاسِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلًا، أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَهُ ذَلِكَ، فَإِنَّ الْيَدَ الْعُلْيَا أَفْضَلُ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

Bila Engkau pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar lalu engkau memikulnya, dan dari hasil penjualannya engkau bersedekah dan tentunya mencukupi kebutuhanmu sendiri sehingga tidak butuh kepada uluran tangan orang lain, maka itu lebih baik dari pada engkau meminta minta kepada orang lain, baik orang itu memberimu atau menolak permintaanmu. Sejatinya tangan yang berada di atas lebih baik dibanding tangan yang di bawah. Dan untuk urusan nafkah, maka mulailah dari orang yang menjadi tanggung jawabmu. ( Muttafaqun alaih)


Ngobrol Dengan Seorang Nasrani VI
Diantara yang saya obrolkan dengan lelaki nasrani di kereta SANCAKA SORE seputar banyaknya tokoh muslim yang korupsi. Banyak pejabat muslim yang nota bene adalah ahli agama, namun akhir dari karirnya mendekam di penjara karena korupsi. Demikian lelaki nasrani itu mengeluhkan sebagian dari bobroknya negri ini, akibat dari merajalelanya praktek korupsi.
Nampaknya, lelaki itu tidak lagi mampu menguasai emosinya, sehingga ia lebih lugas mengutarakan pandangannya yang negatif tehadap Islam dan ummatnya.
Mendengar serangan yang sangat menohok ini, saya berusaha untuk tetap tenang dan menguasai emosi saya, hingga lelaki itu benar-benar meluapkan isi hatinya dan selesai dari ucapannya.
Menanggapi serangan balik dari lelaki itu, saya mulai menyusun jawaban dari yang paling ringan dan simpel. Saya berkata kepadanya: pak, apa yang bapak utarakan benar adanya, saya tidak memungkiri apalagi membela diri. Namun bapak perlu menyadari bahwa apa yang bapak utarakan di atas adalah bagian dari konsekwensi bapak tinggal di negri dengan mayoritas penduduknya yang beragama Islam.
Bila bapak ingin mengetahui dan merasakan bagaimana hidup di negri yang koruptor dan penjahatnya dari ummat nasrani, maka silahkan tinggal di negri yang penduduknya didominasi oleh ummat Nasrani. Di sana bapak pasti mendapatkan bahwa kebanyakan koruptor dan penjahatnya dari ummat nasrani dan bukan dari ummat Islam.
Dari sisi lain, bapak juga harus sadar bahwa kebanyakan pejuang atau pahlawan dan orang-orang baik di negri ini juga dari umat Islam, bukan dari ummat Nasrani.
Fakta ini mengharuskan kita berpikir bijak dan adil serta jauh dari emosi pribadi yang menyebabkan kita berpikir sempit. Karena itu, menurut saya agama kita tidaklah mengajarkan ummatnya untuk berbuat jahat, hanya saja dari ummat islam sebagaimana juga ummat nasrani ada oknum oknum yang berbuat jahat.
Perilaku oknum ummat Islam bukanlah cermin apalagi mewakili agama Islam. Sebagaimana perilaku ummat nasrani belum tentu mencerminkan atau mewakili ajaran nasrani. Sebagai contohnya: sebatas yang saya ketahui, tuhan yang bapak sembah yaitu Yesus atau menurut kami adalah nabi Isa 'alaihissalam berjenggot lebat. Paling kurang demikianlah yang tergambar pada berbagai patung atau poster Yesus.
Namun demikian, saya heran mengapa ummat nasrani di berbagai belahan dunia tidak berjenggot. Kondisi ini menjadikan saya bertanya tanya: ada apa, mungkinkah ummat nasrani tidak meneladani tuhannya ataukah tuhannya yang salah dalam berpenampilan.
Dari sisi lain, bapak juga harus memahami bahwa Islam diturunkan agar menjadi pedoman hidup ummat manusia yang harus diamalkan secara sadar bukan dengan paksaan. Karena itu manusia dibekali dengan akal sehat agar dapat memahami, memikirkan dan membandingkan.
Dengan demikian ummat manusia dapat membedakan antara yang baik dari yang buruk, dan selajutnya memilih yang baik dan menjauhi yang buruk. Adapun bila masih tetap ada orang yang memilih perilaku buruk maka islam juga telah memiliki berbagai solusinya. Pencuri di potong tangannya, pembunuh dibalas dengan dibunuh, dan demikian seterusnya. Dan kelak di akhirat Allah menyiapkan siksa di neraka sebagai balasan atas amalan buruknya.
Apa yang bapak utarakan sejatinya adalah bagian dari keindahan Islam yang tidak mengenal kultus atau fanatik buta. Siapapun yang berbuat jahat maka ia harus menanggung akibat dari ulahnya. Karena itu dahulu nabi Muhammad ﷺ bersabda:

( إنما أهلك الذين قبلكم أنهم كانوا إذا سرق فيهم الشريف تركوه وإذا سرق فيهم الضعيف أقاموا عليه الحد وايم الله لو أن فاطمة بنت محمد سرقت لقطعت يدها )

Sejatinya yang menyebabkan ummat-ummat sebelum kalian mengalami kehancuran ialah sikap mereka yang pilih kasih. Bila yang mencuri adalah orang terhormat alias bangsawan maka mereka membiarkannya. Namun bila yang mencuri adalah rakyat jelata, maka menerak menegakkan hukum pidana kepadanya. Sungguh demi Allah, andai Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya. (Muttafaqun ‘alaih)
Mendengar jawaban saya ini lelaki itu berkata: benar, saat ini yang ada adalah pilih kasih dan perilaku yang berstandar ganda. Akibatnya terjadi kekacauan dan hilangnya kepastian hukum di negri ini.
Sobatku! Sejatinya masih banyak tema yang saya bicarakan dengan lelaki nasrani itu. Kami berdiskusi sejak dari stasiun Solo Balapan Hingga tiba di stasiun Gubeng, sekitar 4,5 jam lamanya. Namun karena berbagai hal, maka saya cukupkan sampai di sini saja yang perlu saya ceritakan, semoga pengalaman saya ini bermanfaat bagi antum sekalian, dan semoga Allah Ta’ala melimpahkan istiqamah dan husnul khatimah kepada kita semua, amiin.

0 komentar:

Posting Komentar

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts