Selasa, 30 September 2014

Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi’ bin Muhammad al-Bazar berkata, “Ketika itu aku tinggal di samping kota Makkah- sebuah kota yang semoga selalu dalam penjagaan Allah subhanahu wata’ala-. Suatu hari aku sangat lapar, sementara aku tidak mendapatkan makanan yang dapat mengganjal rasa laparku.

Tanpa aku duga aku menemukan sebuah bungkusan berbalut kain sutra diikat kaos kaki dari kain sutra pula. Maka tanpa pikir panjang bungkusan itu aku pungut lalu aku bawa ke rumah dan kubuka. Ternyata berisi seuntai kalung mutiara yang seumur hidup aku belum pernah melihatnya.

Setelah itu, aku keluar rumah. Aku mendengar seorang kakek sedang mencari sebuah bungkusan yang hilang. Dia menjajikan hadiah sebesar 500 dinar. Kakek itu berkata, ‘Barangsiapa menemukan bungkusan berisi kalung mutiara, maka uang 500 dinar ini akan aku berikan sebagai imbalan kepada penemunya.’

Aku berkata pada diriku sendiri, ‘Aku sangat butuh, aku sangat lapar, aku bisa mengambil kalung ini dan memanfaatkannya.’ Tapi aku akan mengembalikannya.

Aku berkata pada kakek itu, ‘Marilah kita ke rumah.’ Akupun membawanya ke rumahku. Setibanya di rumah, sang kakek menyebutkan ciri-ciri bungkusan yang hilang, diikat kaos kaki, jenis mutiara, jumlah dan benang yang digunakan untuk mengikat mutiara tersebut.

Kemudian aku serahkan bungkusan tadi kepada kakek tersebut. Diapun memberikan kepadaku 500 dinar sebagai imbalan. Namun aku menolak, aku berkata, ‘Sudah menjadi kewajibanku untuk mengembalikan temuan ini kepada pemiliknya dengan tanpa mengambil upah.’

Sang kakek berkata, ‘Kamu harus menerima uang ini.’ Dia terus menerus memaksaku untuk mengambil upah tersebut. Aku tidak mau menerimanya lalu dia pergi meninggalkan aku.

Adapun cerita mengenai diriku selanjutnya bahwasanya aku lalu meninggalkan Makkah dengan menumpang sebuah perahu. Tanpa aku duga perahu tersebut oleng. Orang-orang pun bercerai-berai berikut seluruh hartanya. Namun aku selamat dari musibah ini berpegangan salah satu papan perahu tersebut.

Beberapa hari aku berada di tengah lautan tanpa arah. Tiba-tiba aku terdampar di sebuah pulau yang berpenduduk. Aku menuju masjid untuk membaca al-Qur’an. Di kampung itu tidak ada seorangpun yang bisa membaca al-Qur’an. Kemudian mereka mendatangiku untuk meminta mengajari mereka membaca al-Qur’an. Dari taklimku ini aku bisa mengumpulkan sejumlah uang.

Suatu hari, aku menemukan beberapa lembar al-Qur’an di dalam masjid. Lembaran itu aku pungut. Orang-orangpun bertanya, ‘Apakah kamu bisa menulis?’ Aku jawab, ‘Ya’. Kemudian mereka memintaku untuk mengajari tulis menulis termasuk pada anak-anak dan remaja mereka.

Sejak itu aku mengajari mereka, akupun bisa mengumpulkan sejumlah uang. Suatu hari masyarakat kampung ini berkata kepadaku, ‘Kami mempunyai seorang gadis yatim sangat kaya, bagaimana jika kamu menyuntingnya?’ Aku menolak tawaran mereka. Mereka tetap memaksaku untuk menikahi gadis tersebut. Akhirnya aku terima tawaran mereka.

Setelah diadakan walimah dan isteriku ada di hadapanku, aku mendapati kalung yang dulu pernah kulihat, melingkar di lehernya. Mataku tak berkedip melihat kalung tersebut.

Orang-orang yang melihatku mengajukan protes, ‘Wahai ustadz, engkau telah menghancurkan hati gadis yatim ini, sebab engkau hanya menatap kalungnya bukan wajahnya!.’

Lalu aku ceritakan kisah kalung tersebut, orang-orang pun meneriakkan tahlil dan takbir hingga terdengar oleh seluruh penduduk pulau tersebut.

Aku menanyakan kepada mereka, ‘Ada apa?’

Mereka menjawab, ‘Kakek yang mengambil kalung darimu itu adalah ayah gadis ini. Kala itu kakek tersebut berkata, ‘Seumur hidupku, aku tidak pernah bertemu dengan seorang pemuda muslim yang baik seperti dia!’ Sang kakek hanya mampu memanjatkan do’a, ‘Ya Allah, pertemukanlah aku dengan pemuda itu agar aku dapat menikahkannya dengan anak gadisku.’ Sekarang do’a itu telah dikabulkan Allah.

Selanjutnya, aku tinggal bersama isteriku beberapa tahun, aku dikaruniai dua anak laki-laki. Kemudian isteriku meninggal dunia dia mewariskan kalung tersebut untukku dan untuk kedua anakku. Tanpa aku duga, dua anak laki-lakiku pun meninggal dunia. Maka tinggalah aku sebatang kara dan menjadi pemilik kalung isteriku. Kemudian kalung tersebut aku jual dengan harga 100 ribu dinar. Hartaku yang bisa kalian lihat sekarang ini adalah sisa-sisa harta itu.”

(Dzail Thabaqatul Hanafiah, 1-196)

[Dari buku “99 Kisah Orang Shalih” karya Muhammad bin Hamid Abdul Wahab. Penerbit Darul Haq, Jakarta. Cetakan VII, Dzulqa’dah 1432 H / Oktober 2011 M
Via >> http://hikmahsalaf.blogspot.com/2014/01/kejujuran-seorang-yang-menemukan-barang.html]

Sabtu, 27 September 2014

Seorang lelaki di Saudi memiliki tetangga yang tak pernah sholat dan berpuasa. Suatu hari, dia bermimpi kedatangan lelaki.
Dalam mimpinya itu, lelaki tadi memintanya agar mengajak tetangganya yang tak pernah shalat untuk umrah.
Ia dikejutkan oleh mimpinya namun ia tak hiraukan.
Anehnya mimpi yang sama terulang.
Akhirnya ia mendatangi seorang syaikh untuk bertanya tentang mimpi tsb.
Syaikh berujar bahwa jika mimpi terulang lagi, ia mesti merealisasikan mimpinya itu.
Dan benar saja, ia bermimpi lagi.
Lantas ia mengunjungi tetangganya untuk menawarkannya umrah
bersama.
"Ayo umrah bersamaku."
"Bagaimana aku akan umrah sementara aku tak pernah sholat."
"Tenang saja. Aku akan mengajarkanmu sholat."
Ia pun mengajarkannya kemudian lelaki itu mengerjakan sholat.
"Baik, aku sudah siap.
Mari berangkat.
Tapi, bagaimana aku umrah sementara aku tak tahu caranya."
"Nanti di mobil kuajari."
Keduanya dgn senang hati berangkat untuk umrah dengan
menggunakan mobil. Setelah tiba, mereka melakukan tuntunan yang disyariatkan.
Selesailah prosesi.
Keduanya akan kembali pulang.
"Sebelum balik, adakah engkau ingin melakukan sebuah amal yang engkau anggap penting?"
Tanyanya kepada tetangganya.
"Iya. Aku ingin shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim."
Sang tetangga pun sholat dan terjadilah hal yang menakjubkan.
Ia meninggal dalam keadaan bersujud.
Lelaki yang membawanya kaget dan tersentak.
Bagaimana mungkin lelaki yang hadir dalam mimpinya dan diajak umrah meninggal seolah-olah dia adalah wasilah kematiannya.
Akhirnya, jenazah dibawa pulang ke rumah istrinya.
Ia bertanya dalam hati, bagaimana mungkin lelaki yang tak pernah shalat dan puasa meninggal saat umrah dalam keadaan sujud husnul khatimah?
Ia berpikir pastilah ada amal spesial dan rahasia yang dilakukannya.
Kepada istri lelaki tadi, ia bertanya tentang ini.
"Kami memiliki tetangga seorang wanita tua renta.
Suamiku begitu menyayanginya.
Suamiku selalu membuat sendiri sarapan, makan siang dan makan malam lalu mengantarkannya kepada wanita tua itu.
Wanita itu kerapkali mendoakan husnul khatimah untuk suamiku."
Ujar sang istri

❖❖

❝Kisah di atas kami terjemahkan dari akun seorang ikhwah (Mesir).❞

Kami teringat nasehat syaikh Rajihi di kelas:
"Usahakan ya ikhwan," kata syaikh, "kalian mesti memiliki amal rahasia yang hanya Allah dan engkau saja yang tahu.
Ini akan membantu kalian mengarungi dunia dan negeri akherat."
Pemuda dalam kisah di atas memiliki amal rahasia yaitu memberi makan wanita tua yang merupakan tetangganya.
Ia pun berteman dengan orang shalih yang merupakan wasilah menuju husnul khatimahnya.
"Sungguh," tutur syaikh Sami di hadapan kami,
"banyaklah berteman dengan orang-orang sholeh, penghafal alquran, dan lainnya."

☞ Shared by akh @abuhasan di grup WA Annashihah Bontang

Sabtu, 20 September 2014

Bismillāh.
Alhamdullillāh.
Wash shalātu was salāmu 'alā rasûlilāh..

❦ ❖ Kaidah ushuulul fiqh menyebutkan,

ليس كل حق ينبغى ان يقال

❝Laisa kullu haqqin yanbaghi an yuqoola❞

[tidak setiap yang benar layak untuk disampaikan].

Kaidah lain menyebutkan,

لكل مقال مقام ولكل مقام مقال

❝ likulli maqaalin maqaamun wa likulli maqaamin maqaal. ❞

[Setiap ucapan ada konteks kapan bisa disampaikan dan setiap konteks membutuhkan ucapan yg sesuai dengannya].

❧ ❖ Sebagian ulama as salaf menegaskan, "

من كثر كلامه كثر كذبه ومن كثر كذبه كثرت ذنوبه فالنار اولى به

❝ man katsuro kalaamuhu katsuro kadzibuhu, wa man katsuro kadzibuhu katsurot dzunuubuhu wa man katsurot dzunuubuhu fan naar awlaa bihi. ❞

[orang yg banyak bicara akan banyak kebohongannya.
Orang yg banyak bohong akan banyak dosanya. Dan orang yg banyak dosanya lebih pantas di Neraka].

➢➣ Maka yg bisa diucapkan dengan sedikit kata, tak perlu diungkapkan dg banyak kata. Yg bisa dipahami tanpa dijelaskan dibiarkan tanpa penjelasan.
Yg cukup dijelaskan sedikit tak perlu dipanjanglebarkan.

➤➤ Kalau tidak yakin bicara lebih baik dari diam, maka diam adalah emas dan mutiara...

Bārakallāhu fîkum ajma'īn...

➬Ustadz Abu Umar Basyier حفظه الله تعالى

Artikel Terbaru

Popular Posts