Selasa, 15 Juli 2014

TANGGAPAN TERHADAP PERNYATAAN SANG PROF QURAISH SHIHAB


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bapak Quraish Shihab berkata,

Tidak benar, saya ulangi, Tidak benar bahwa Nabi Muhammad sudah dapat jaminan surga. Surga itu hak prerogatif Allah.

Tanggapan:

Diantara kenikmatan surga yang telah Allah ta’ala janjikan untuk Nabi kita Muhammad ﷺ adalah Al-Kautsar, yaitu sebuah sungai yang sangat indah di surga.

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar.” [QS. Al-Kautsar: 1]

Sahabat yang mulia Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata,

لَمَّا عُرِجَ بِالنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم إِلَى السَّمَاءِ قَالَ أَتَيْتُ عَلَى نَهَرٍ حَافَتَاهُ قِبَابُ اللُّؤْلُؤِ مُجَوَّفًا فَقُلْتُ مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ قَالَ هَذَا الْكَوْثَر

“Tatkala Nabi Muhammad ﷺ dimi’rojkan ke langit beliau bersabda: Aku mendatangi sebuah sungai yang terdapat pada dua tepinya kemah-kemah yang terbuat dari mutiara yang memiliki rongga, maka aku berkata: Apa ini wahai Jibril? Jibril berkata: Inilah Al-Kautsar.” [HR. Al-Bukhari]

Dalam hadits riwayat At-Tirmidzi:

عَنْ أَنَسٍ ( إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ) أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ هُوَ نَهْرٌ فِى الْجَنَّةِ قَالَ فَقَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم رَأَيْتُ نَهْرًا فِى الْجَنَّةِ حَافَتَاهُ قِبَابُ اللُّؤْلُؤِ قُلْتُ مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ قَالَ هَذَا الْكَوْثَرُ الَّذِى قَدْ أَعْطَاكَهُ اللَّهُ

“Dari Anas radhiyallahu’anhu (tentang firman Allah):

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar.” Bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: Al-Kautsar adalah sungai di surga.

Anas berkata: Lalu Nabi ﷺ bersabda: Aku melihat sebuah sungai di surga di dua tepinya terdapat kemah-kemah mutiara, maka aku berkata: Apa ini wahai Jibril? Jibril berkata: Inilah Al-Kautsar yang telah Allah berikan kepadamu.” [HR. At-Tirmidzi, Shahih At-Tirmidzi: 2675]

Ayat dan hadits yang kami sebutkan di atas hanyalah sebagian kecil dari dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menerangkan tentang kenikmatan yang telah dijanjikan oleh Allah ta’ala kepada beliau, maka apabila Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam belum mendapat jaminan masuk surga, apakah berarti janji Allah itu belum dijamin kebenarannya?!

Sungguh, seorang mukmin pasti meyakini, Allah ta’ala tidak mungkin menyalahi janjinya, oleh karena itu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pasti masuk surga untuk menikmati segala kenikmatan yang telah Allah ta’ala janjikan, bahkan beliau lah orang pertama yang akan masuk surga, bagaimana bisa dikatakan bahwa tidak ada jaminan untuk beliau masuk surga?!

Rasulullah ﷺ bersabda,

آتِى بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتَفْتِحُ فَيَقُولُ الْخَازِنُ مَنْ أَنْتَ فَأَقُولُ مُحَمَّدٌ. فَيَقُولُ بِكَ أُمِرْتُ لاَ أَفْتَحُ لأَحَدٍ قَبْلَكَ

Aku akan mendatangi pintu surga di hari kiamat, maka aku meminta untuk dibukakan, lalu penjaga surga berkata: Siapa engkau? Aku berkata: Aku adalah Muhammad. Maka ia berkata: Untuk engkaulah aku diperintahkan agar tidak membuka pintu surga bagi siapapun sebelum engkau.” [HR. Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu'anhu]

Dan saya sangat yakin, seorang muslim yang paling awam sekalipun pasti meyakini bahwa Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam sudah pasti dan sudah dijamin masuk surga, sebagaimana kaum muslimin seluruhnya sepakat bahwa beliau adalah manusia terbaik dan paling dicintai Allah ta’ala, maka sangat aneh jika seorang yang dianggap ahli tafsir namun berani menafikkan jaminan surga untuk Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam.

Sebagaimana kaum muslimin seluruhnya sepakat bahwa Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam dengan izin Allah akan memberikan syafa’at untuk sebagian umatnya agar masuk surga, maka bagaimana mungkin apabila beliau sendiri belum dijamin masuk surga?!

Demikian pula kaum muslimin bersepakat bahwa ada 10 orang sahabat yang sudah dijamin masuk surga, bagaimana bisa Nabi mereka justru tidak mendapat jaminan masuk surga?!


MENGOREKSI CARA BERDALIL PROF. QURAISH SHIHAB (TANGGAPAN THD PROF. QURAISH SHIHAB)

Bapak Quraish Shihab berkata,

“Kenapa saya katakan begitu, pernah ada seorang sahabat nabi dikenal orang baik, trus teman-temanya di sekitarnya berkata: Bahagialah engkau akan mendapatkan surga. Nabi dengar: Siapa yang bilang begitu tadi?

Nabi berkata: “Tidak seorang pun yang masuk surga karena amal” Kamu berkata dia baik amalannya, dia dijamin surga. Surga hak prerogatif Tuhan. Trus ditanya: Kamu pun tidak wahai Nabi Muhammad: Saya pun tidak, kecuali kalau Allah menganugerahkan rahmat kepada saya. Jadi kita berkata, dalam konteks surga dan neraka tidak ada yang dijamin Tuhan.”

Tanggapan:

Diantara kelemahan Prof. Quraish Shihab yang sangat mendasar dalam menyampaikan hadits adalah menyampaikannya hanya dengan maknanya saja, dan bisa jadi dua hadits yang berbeda digabungkannya menjadi satu dan bercampur baur dengan ucapannya, dan tanpa menyebutkan referensi kitab-kitab hadits, tidak pula sahabat yang meriwayatkan.

Dan kami mengira hadits yang dimaksudkan di atas adalah dua hadits yang berbeda, yaitu:

Pertama: Hadits Ummul ‘Alaa Al-Anshoriyah radhiyallahu’anha, beliau berkata ketika meninggalnya sahabat yang mulia Abus Saaib ‘Utsman bin Maz’un radhiyallahu’anhu:

رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْكَ أَبَا السَّائِبِ فَشَهَادَتِي عَلَيْكَ لَقَدْ أَكْرَمَكَ اللَّهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَمَا يُدْرِيكِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَكْرَمَهُ فَقُلْتُ بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ فَمَنْ يُكْرِمُهُ اللَّهُ فَقَالَ أَمَّا هُوَ فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِينُ وَاللَّهِ إِنِّي لأَرْجُو لَهُ الْخَيْرَ وَاللَّهِ مَا أَدْرِي – وَأَنَا رَسُولُ اللهِ – مَا يُفْعَلُ بِي قَالَتْ فَوَاللَّهِ لاَ أُزَكِّي أَحَدًا بَعْدَهُ أَبَدًا.

“Rahmat Allah atasmu wahai Abus Saaib (‘Utsman bin Mazh’un). Aku bersaksi bahwa Allah sungguh telah memuliakanmu.” Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ”Apa yang telah membuat engkau mengetahui bahwa Allah telah memuliakannya?” Aku mengatakan, ”Demi bapakmu (ini bukan untuk bersumpah, Pen), lalu siapa yang dimuliakan Allah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Adapun Abus Saaib maka telah datang kematiannya, demi Allah sungguh aku mengharapkan kebaikan baginya. Dan demi Allah aku tidak tahu –padahal aku adalah Rasulullah- apa yang akan Allah lakukan pada diriku.” Kemudian Ummul ‘Alaa’ mengatakan, “Maka demi Allah, setelah itu aku tidak pernah lagi memastikan seseorang (telah dimuliakan oleh Allah).” [HR Bukhari]

Perhatian: Tentang ucapan Rasulullah ﷺ dalam hadits di atas,

وَاللَّهِ مَا أَدْرِي وَأَنَا رَسُولُ اللَّهِ مَا يُفْعَلُ بِي

“Dan demi Allah aku tidak tahu –padahal aku adalah Rasulullah- apa yang akan Allah lakukan pada diriku.”

Maka ucapan beliau tersebut sebelum turun firman Allah ta’ala yang mengabarkan bahwa dosa-dosa beliau semuanya telah diampuni. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا لِّيَغْفِرَ لَكَ اللهُ مَاتَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَاتَأَخَّرَ

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada kamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang.” [Al-Fath:1-2]

Apakah mungkin setelah dosa seseorang diampuni semuanya oleh Allah ta’ala lalu kemudian ia belum dijamin masuk surga?!

Dan terdapat beberapa hadits yang semakna dengan hadits Ummul ‘Alaa’ Al-Anshoriyah di atas, diantaranya adalah yang disebutkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih beliau pada bab, Tidak Boleh Mengatakan Fulan Syahid:

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِهِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُكْلَمُ فِي سَبِيلِه

“Abu Hurairah berkata, dari Nabi ﷺ: Allah yang lebih mengetahui siapa yang berjihad di jalan-Nya, Allah yang lebih tahu siapa yang terluka di jalan-Nya.” [HR. Al-Bukhari]

Hadits di atas menunjukkan bahwa tidak boleh memastikan seseorang itu mati syahid walau ia meninggal di medan jihad, karena kita tidak mengetahui keadaannya yang sesungguhnya di sisi Allah. Maka demikian pula, lebih tidak boleh lagi memastikan seseorang masuk surga walau kita melihat amalannya baik, karena belum tentu diterima di sisi Allah, sebab kita tidak tahu niat orang tersebut ketika beramal.

Namun larangan memastikan seseorang mati syahid dan masuk surga ini hanya berlaku bagi mereka yang belum dipastikan syahid atau masuk surga, adapun yang sudah dipastikan dan sudah dijamin masuk surga maka wajib bagi kita untuk meyakini bahwa ia pasti dan terjamin masuk surga.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَيَشْهَدُونَ بِالْجَنَّةِ لِمَنْ شَهِدَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْجَنَّةِ كَالْعَشَرَةِ وَكَثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ وَغَيْرِهِمْ مِنْ الصَّحَابَةِ

“Dan mereka (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) mempersaksikan (memastikan) akan masuk surga, orang orang yang dipersaksikan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam akan masuk surga, seperti 10 sahabat, Tsabit bin Qois bin Syammas, dan selain mereka dari kalangan para sahabat.” [Matan Al-Aqidah Al-Washitiyah]

Hal itu karena wajib membenarkan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, sebagaimana dalam hadits Sa’id bin Zaid radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda,

عَشْرَةٌ فِى الْجَنَّةِ النَّبِىُّ فِى الْجَنَّةِ وَأَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدُ بْنُ مَالِكٍ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى الْجَنَّةِ وَلَوْ شِئْتَ لَسَمَّيْتُ الْعَاشِرَ. قَالَ فَقَالُوا مَنْ هُوَ فَسَكَتَ قَالَ فَقَالُوا مَنْ هُوَ فَقَالَ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ

“Sepuluh orang di surga, Nabi (Muhammad) di surga, Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair bin Al-‘Awwam di surga, Sa’ad bin Malik di surga, Abdur Rahman bin ‘Auf di surga.” (Sa’id bin Zaid) berkata, “Kalau engkau mau aku akan sebutkan yang kesepuluh.” Mereka berkata, “Siapakah dia?” Maka beliau diam. Mereka berkata lagi, “Siapakah dia?” Beliau berkata, “Dia adalah Sa’id bin Zaid.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dan ini adalah lafaz Abu Daud, Lihat Ash-Shahihah: 1435]

Dalam lafaz At-Tirmidzi:

وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ

“… Abu Ubaidah (di surga) dan Sa’ad bin Abi Waqqash di surga.” [HR. At-Tirmidzi dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu’anhu, Shahih At-Tirmidzi: 2947]

Perhatian: Dalam lafaz Abu Daud di atas sangat jelas disebutkan, “Nabi (Muhammad) di surga.” Semoga kita termasuk orang-orang yang membenarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam dan tidak mendustakannya.

Adapun tentang sahabat yang mulia Tsabin bin Qois bin Syammas, Rasulullah ﷺ telah bersabda tentang beliau,

بَلْ هُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Bahkan ia termasuk penghuni surga.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan inimlafaz Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu]

Jadi, pendalilan Prof. Quraish Shihab dengan hadits yang disebutkannya untuk menafikan jaminan surga bagi Rasulullah ﷺ dan seluruh sahabat adalah tidak tepat, karena terdapat banyak sekali dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad dan sebagian sahabat telah dijamin masuk surga.

Dan telah dimaklumi bahwa untuk mengambil satu kesimpulan dari dalil hendaklah mengumpulkan terlebih dahulu seluruh dalil yang terkait, bukan mengambil sebagian dalil dan membuang yang lainnya. Oleh karena itu dalam ilmu tafsir juga dikenal adanya nash-nash yang umum dan khusus, yang muthlaq dan muqoyyad, yang naasikh dan mansukh.


Kedua: Hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda,

لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ قَالُوا ، وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ : لاَ ، وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ

“Tidak seorang pun yang amalannya dapat memasukkannya ke surga.” Para sahabat bertanya, “Apakah tidak juga engkau wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Tidak pula aku kecuali aku senantiasa dicurahkan oleh Allah keutamaan dan rahmat.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Dalam lafaz hadits Aisyah radhiyallahu’anha:

وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِمَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ

“Tidak pula aku kecuali aku senantiasa dicurahkan oleh Allah ampunan dan rahmat.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan ini lafaz Al-Bukhari]

Inilah hadits kedua yang dijadikan dalil oleh Prof. Quraish Shihab untuk mendukung pendapatnya bahwa Nabi Muhammad ﷺ belum dijamin surga.

Tanggapan:

Pertama: Hadits yang mulia ini tidak sedikitpun menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam belum dijamin masuk surga, tetapi menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pun masuk surga bukan karena amalan beliau, namun karena keutamaan, ampunan dan rahmat Allah ta’ala. Mari kita lihat penjelasan para ulama pensyarah hadits ini dan hadits lain yang menafsirkan hadits ini.

Al-Kirmani rahimahullah berkata,

إذا كان كل الناس لا يدخلون الجنة الا برحمة الله فوجه تخصيص رسول الله صلى الله عليه و سلم بالذكر أنه إذا كان مقطوعا له بأنه يدخل الجنة ثم لا يدخلها الا برحمة الله فغيره يكون في ذلك بطريق

“Apabila semua manusia tidak dapat masuk surga kecuali dengan rahmat Allah maka sisi pengkhususan disebutkannya “Rasulullah ﷺ dalam hadits ini adalah, apabila beliau sendiri telah dipastikan masuk surga, namun tidaklah beliau memasukinya kecuali dengan rahmat Allah, maka selain beliau dalam hal ini tentunya yang lebih pantas (untuk masuk surga dengan rahmat Allah, bukan dengan amalannya, karena sedikitnya amalan siapa pun selain beliau, Pen).” [Fathul Bari, 11/297]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

قلت وسبق إلى تقرير هذا المعنى الرافعي في أماليه فقال لما كان أجر النبي صلى الله عليه و سلم في الطاعة أعظم وعمله في العبادة أقوم قيل له ولا أنت أي لا ينجيك عملك مع عظم قدره فقال لا الا برحمة الله وقد ورد جواب هذا السؤال بعينه من لفظ النبي صلى الله عليه و سلم عند مسلم من حديث جابر بلفظ لا يدخل أحدا منكم عمله الجنة ولا يجيره من النار ولا انا الا برحمة من الله تعالى

“Aku katakan: Ar-Rafi’i dalam kitab Al-Amaali-nya telah mendahului untuk menegaskan makna seperti yang dikatakan oleh Al-Kirmani di atas. Ar-Rafi’i berkata,

“Ketika pahala Nabi ﷺ dalam melakukan ketaatan itu lebih besar dan amalan beliau dalam ibadah lebih lurus, maka dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah tidak juga engkau yang tidak dapat diselamatkan oleh amalanmu padahal ia sangat besar?” Maka beliau menjawab, “Tidak juga aku, kecuali dengan rahmat dari Allah.” Dan terdapat dalam hadits dengan lafaz lain dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sebagai jawaban terhadap pertanyaan tersebut, yang disebutkan dalam riwayat Muslim dari hadits Jabir radhiyallahu’anhu dengan lafaz:

لاَ يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَلاَ يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ وَلاَ أَنَا إِلاَّ بِرَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ تعالى

“Tidaklah seorang pun yang amalannya dapat memasukkannya ke dalam surga dan melindunginya dari neraka, tidak pula aku, kecuali dengan rahmat dari Allah ta’ala.” (HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma)” [Fathul Bari, 11/297]

Maka jelaslah, yang dimaksud oleh Rasulullah ﷺ adalah penjelasan bahwa amalan seseorang tidak akan memasukkannya ke dalam surga, tapi rahmat Allah kepadanya itulah yang memasukkannya ke surga, termasuk penjelasan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pun masuk surga karena rahmat Allah, dan bukan untuk menjelaskan bahwa beliau belum dirahmati dan diampuni.

Kedua: Kalaulah betul hadits ini menunjukkan bahwa ketika Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam bersabda demikian, beliau belum diampuni dan dirahmati, maka terdapat banyak dalil lain yang menunjukkan setelah itu beliau sudah diampuni dan dirahmati.

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا لِّيَغْفِرَ لَكَ اللهُ مَاتَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَاتَأَخَّرَ

"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada kamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang." [Al-Fath: 1-2]

Dalam hadits syafa’at yang panjang, manusia pada akhirnya mendatangi Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam seraya mengatakan,

يَا مُحَمَّدُ أَنْتَ رَسُولُ اللهِ وَخَاتَمُ الأَنْبِيَاءِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلاَ تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ

“Wahai Nabi Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan penutup para Nabi, dan sungguh Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang, mintakanlah syafa’at untuk kami kepada Rabbmu, tidakkah engkau melihat keadaan kami.” [HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu’anhu berkata,

قَامَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم حَتَّى تَوَرَّمَتْ قَدَمَاهُ فَقِيلَ لَهُ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

“Rasulullah ﷺ melakukan sholat (tahajjud) sampai pecah-pecah kedua kakinya, maka dikatakan kepada beliau: Bukankah Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang? Beliau bersabda: Tidakkah aku menjadi seorang hamba yang selalu bersyukur?” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Maka seorang Nabi yang sudah diampuni dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang, sudah pasti telah dirahmati oleh Allah ta’ala. 


Allah ta’ala berfirman,

وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا

Sekiranya tidaklah karena keutamaan Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu dapat bersih selama-lamanya.” [An-Nur: 21]

Al-‘Allamah Al-Mufassir As-Sa’di rahimahullah berkata,

ما زكى أحد بالتطهر من الذنوب والسيئات والنماء بفعل الحسنات، فإن الزكاء يتضمن الطهارة والنماء، ولكن فضله ورحمته أوجبا أن يتزكى منكم من تزكى

“Tidak seorang pun dapat membersihkan diri dari dosa-dosa dan kejelekan-kejelekan, serta meningkat dengan melakukan kebaikan-kebaikan, karena sesungguhnya membersihkan diri itu mencakup mensucikan dan meningkatkan, akan tetapi dengan keutamaan Allah dan rahmat-Nya mengharuskan diantara kalian ada yang mensucikan diri.” [Taisirul Kariimir Rahman fi Tafsiri Kalaamil Mannan, hal. 563]

Bahkan rahmat tersebut senantiasa tergambarkan dalam kehidupan beliau. Allah ta’ala berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” [Ali Imron: 159]

Al-‘Allamah Al-Mufassir As-Sa’di rahimahullah berkata,

أي: برحمة الله لك ولأصحابك، منَّ الله عليك أن ألنت لهم جانبك، وخفضت لهم جناحك، وترققت عليهم، وحسنت لهم خلقك، فاجتمعوا عليك وأحبوك، وامتثلوا أمرك

“Maknanya, dengan rahmat Allah untukmu dan untuk sahabat-sahabatmu, Allah menganugerahkan untukmu kelembutan dalam bergaul dengan mereka, engkau merendahkan sayapmu (tidak sombong) bagi mereka, engkau bersikap halus terhadap mereka dan engkau berakhlak baik kepada mereka, maka mereka bersatu denganmu, mencintaimu dan mentaati perintahmu.” [Taisirul Kariimir Rahman fi Tafsiri Kalaamil Mannan, hal. 154]

Ketiga: Apabila pendapat batil bahwa Rasulullah ﷺ belum dijamin surga tersebut diterima maka konsekuensinya akan bertentangan antara hadits tersebut dengan hadits-hadits bahkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang sangat banyak sekali yang telah mengabarkan jaminan surga dari Allah untuk Nabi Muhammad ﷺ, dan tidak mungkin terjadi selamanya pertentangan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, tapi pemahaman kitalah yang salah.

Allah ta’ala berfirman,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” [An-Nisa: 82]

Dan Allah ta’ala berfirman,

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” [An-Najm: 3-4]

Bersambung insya Allah ta’ala…

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم


sofyanruray.info

0 komentar:

Posting Komentar

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts