Senin, 16 Juni 2014

Hadits ke enam dari kitab Arba'in Nawawi

«عَنْ أَبِي عَبْدِ الله النُّعمَان بْنُ بَشِير رَضِيَ الله عَنهُمَا قال: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآله وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَد اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى، يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ، أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى، أَلاَ إِنَّ حِمَى اللَّهِ فِي أَرْضِهِ مَحَارِمُهُ، أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً: إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ» . رواه البخاري ومسلم.
Abu Abdillah Nu'man bin Basyir radhiyallaahu 'anhuma berkata, " Aku mendengar Rasulullaah ﷺ bersabda, 'Sesungguhnya yang halal itu telah jelas dan yang haram pun telah jelas pula. Dan diantara keduanya ada perkara yang syubhat (samar-samar), kebanyakan manusia tidak mengetahui (hukum)nya. Barangsiapa yang menghindari perkara-perkara syubhat, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang jatuh ke dalam perkara yang syubhat maka ia telah jatuh ke dalam perkara yang haram. Seperti penggembala yang berada di dekat pagar larangan (milik orang) dan dikhawatirkan akan masuk ia akan masuk ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki tanah larangan (undang-undang), ingatlah bahwa larangan Allah adalah apa yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh tubuhnya dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

SYARAH HADITS

Di dalam hadits ini dibagi hukum menjadi tiga bagian. Ada perkara-perkara yang jelas-jelas diperbolehkan. Ada perkara-perkara yang jelas-jelas dilarang. Dan ada perkara-perkara yang syubhat (samar), yakni tidak jelas halal dan haramnya.

Segala sesuatu dibagi menjadi tiga:

1) Jelas-jelas dperbolehkan. Seperti makan yang baik-baik, buah-buahan, binatang ternak, menikah,berpakaian yang tidak diharamkan, makan roti, berbicara, berjalan, jual beli, dan lain-lain.
2) Jelas-jelas dilarang. Seperti : makan bangkai, darah, daging babi, menikah dengan perempuan yang haram untuk dinikahi, riba, judi, mencuri, mengadu domba, minum khomr, zina, memakai sutera dan emas untuk laki-laki, dan lain-lain.
3) Syubhat, yakni tidak jelas boleh atau tidaknya. Karena itu, banyak orang yang tidak mengetahuinya. Adapun Ulama bisa mengetahui melalui berbagai dalil dari Al-Qur'an dan Sunnah, maupun melalui Qiyas. Jika tidak ada nash dan juga tidak ada ijma' maka dilakukan ijtihad.

Meskipun demikian jalan terbaik adalah meninggalkan perkara syubhat. Seperti: tidak bermuamalah dengan orang yang hartanya bercampur dengan riba. Adapun perkara-perkara yang diragukan akibat bisikan syaitan, bukanlah perkara syubhat yang perlu ditinggalkan. Misalnya, tidak mau menikah di suatu negeri khawatir yang menjadi istrinya adalah adiknya sendiri yang sudah lama tidak bertemu. Atau tidak mau menggunakan air di tengah tempat terbuka, karena dikhawatirkan mengandung benda najis.

Sesungguhnya Allah ta'ala menurunkan Al-Qur'an kepada Rasul-Nya dan menjelaskan di dalamnya untuk umat tentang halal dan haram yang mereka butuhkan, seperti difirmankan oleh Allah (yang artinya) :
"...Dan kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur'an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu..." (Lihat QS An-Nahl : 89)
Mujahid dan lain-lain berkata, "Maksudnya, menjelaskan hal-hal yang diperintahkan kepada kalian dan hal-hal yang dilarang kepada kalian." (Tafsir ath-Thabari, VII/633-634)

Nabi ﷺ tidaklah meninggal dunia sehingga beliau menjelaskan kepada umat Islam apa-apa yang dihalalkan dan yang diharamkan oleh Allah kepada mereka. 
Beliau bersabda, (yg artinya) : Aku tinggalkan kalian di atas sesuatu yang putih bersih dimana malamnya seperti siangnya dan tidaklah berpaling darinya melainkan orang yang binasa." (Hadits hasan diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah, Al-Lalika-i)

Tentang halal dan haram ada sebagiannya yang lebih jelas dari yang lainnya. Masalah yang paling jelas dijelaskan oleh Rasulullaah ﷺ adalah masalah tauhid (mentauhidkan Allah, beribadah hanya kepada Allah saja, tidak kepada yang lainnya, mengikuti sunnah Rasulullaah  ﷺ dan para shahabatnya, mengikuti dan ittiba' kepada manhaj mereka). Begitu juga yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya jelas. Allah dan Rasul-Nya mengharamkan berbuat syirik, menyekutukan Allah dengan sesuatu, berdo'a, meminta, istighatsah kepada selain Allah. Allah dan Rasul-Nya mengharamkan murtad, bid'ah, mengikuti hawa nafsu, merusak kehormatan orang dan lain-lain.

Perkara-perkara yang sudah jelas halal dan haramnya dan diketahui oleh umat Islam, maka tidak ada udzur bagi seseorang atas ketidaktahuannya tentang itu bila ia hidup (tinggal) di tengah-tengah kaum Muslimin

Bersambung in-syaa Allaah...

(Disalin dengan ringkas dari "Syarah Arbain An-Nawawi", Ust Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka Imam Asy-Syafi'i)

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts