Minggu, 29 Juni 2014

☞ Berikut ini beberapa bimbingan sunnah saat makan sahur.

1. Anjuran makan sahur

Nabi ﷺ bersabda :

تسحروا فإن في السحور بركة .

"Makan sahurlah kalian, karena pada makan sahur itu ada keberkahan". (Muttafaq alaih)

Beliau ﷺ juga pernah bersabda:

السحور كله بركة فلا تدعوه ولو أن يجرع أحدكم جرعة من ماء فإن الله عز وجل وملائكته يصلون على المتسحرين .

"Sahur itu semuanya barokah, maka jangan kalian tinggalkan walaupun hanya dengan meneguk air saja. Karena Allah & Rasul-Nya senantiasa bershalawat untuk orang-orang yang makan sahur"
(Shahih At-Targhib: 1070)

Dalam hadits yang lain beliau  ﷺ berpesan,

إنها بركة أعطاكم الله إياها فلا تدعوه .

"Dia (makan sahur) merupakan satu keberkahan yang Allah anugerahkan pada kalian. Maka jangan kalian meninggalkannya" (An-Nasai)

Dulu beliau ﷺ mengajak orang-orang untuk makan sahur dengan menyeru,

هلموا إلى الغذاء المبارك

"Ayo menyantap makanan penuh berkah"
(An-Nasai)

2. Sahur dengan kurma

Nabi  ﷺ bersabda:
نعم سحور المؤمن التمر .

"Kurma adalah sebaik-baik makanan sahur (Shahih At-Tharghib": 1072)

3. Waktu terbaik untuk makan sahur

“Umatku senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka & mengakhirkan sahur.” (Musnad Ahmad: 5/172)

Faidah Makan Sahur

Al-Hafidz Ibnu Hajar -rahimahullah- berkata:

Keberkahan yang ada pada makan sahur dapat ditinjau dari beberapa aspek:

➊ Meneladani Rasulullah ﷺ
➋ Menyelisihi Ahlul kitab
➌ Menguatkan badan orang yang berpuasa dalam melaksanakan ibadah
➍ Menambah semangat agar semakin rajin beribadah
➎ Mencegah perilaku buruk yang dapat timbul akibat rasa lapar
➏ Dapat menjadi sebab dalam bershadaqah kepada orang yang membutuhkan makanan sahur, juga menjadi kesempatan untuk mengajaknya makan berjamaah
➐ Menjadi sebab bagi kita untuk dzikir & doa pada waktu terkabulkannya doa,
➑ Dengan Makan sahur seseorang mndapat ksempatan untuk meniatkan puasanya bila belum meniatkannya dimalam hari.
(Al-Fath: 1/140)

02 Ramadhan 1434H
✒Ust Aan Chandra Thalib حفظه الله تعالى

Sabtu, 28 Juni 2014

Ketahuilah bahwa dalam puasa itu ada bagian tertentu yang tidak ada dalam ibadah yang lain, yaitu pengaitannya kepada Allah Ta'ala, yang telah berfirman dalam hadits Qudsiy,

"Puasa itu untuk-Ku dan Aku memberi balasan dengannya." (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim)

Pengaitan ini sudah cukup sebagai bukti tentang kemuliaan puasa, sebagaimana kemuliaan Baitullaah (Ka'bah) yang dikaitkan kepada-Nya, dalam firman-Nya :

"Dan sucikanlah Rumah-Ku." (Lihat QS Al-Hajj: 26)

Kelebihan puasa bisa dilihat dalam dua makna berikut:

1. Karena puasa termasuk amal yang tersembunyi dan amal batin yang tidak bisa dilihat orang lain, sehingga tidak mudah disusupi riya'.

2. Sebagaimana cara untuk menundukkan musuh Allah. Karena sarana yang dipergunakan musuh adalah syahwat. Syahwat bisa menjadi kuat karena makanan dan minuman. Selagi lahan syahwat tetap subur, maka setan bisa bebas berkeliaran di tempat gembalaan yang subur itu. Tapi jika syahwat ditinggalkan, maka jalan ke sana juga menjadi sempit.
Dalam masalah puasa banyak terdapat riwayat yang menunjukkan keutamaannya, dan riwayat-riwayat ini cukup banyak terkenal serta bertebaran di berbagai kitab.
(Mukhtashar Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah)

Wallaahul Muwaffiq


Ust Aan Chandra Thalib حفظه الله تعالى

Umat Islam di Indonesia pada umumnya akan berhenti makan dan minum bila masuk waktu imsak. Kira-kira antara 10-15 menit sebelum masuknya waktu subuh. Alasannya untuk berjaga-jaga.

Benarkah anggapan ini.?

Di dalam Al-Qur'an Allah ﷻ berfirman :

 " …Makan dan minumlah hingga jelas bagi mu antara benang putih dan benang hitam iaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam..."
(Lihat QS Al-Baqarah ayat 187)

Yang dimaksud dengan benang hitam ialah gelapnya malam. Adapun benang putih adalah cahaya siang. (lihat Shahih Muslim. 1053)

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim terdapat riwayat dari Qasim dari 'Aisyah bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda yang artinya;

“Jangan sampai Adzan Bilal menghalangi kalian makan sahur, karena ia mengumandangkan adzan pada malam hari. Makan dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan, karena ia tidak mengumandangkan adzan melainkan bila fajar telah terbit"

Dalam hadits yang lain beliau menegaskan lagi, "

إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلاَ يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِىَ حَاجَتَهُ مِنْهُ

"Jika salah seorang di antara kalian mendengar azan sedangkan sendok terakhir masih ada di tangannya, maka janganlah dia meletakkan sendok tersebut hingga dia selesai menunaikan hajatnya".

Jadi.. berdasarkan dalil-dalil diatas dapat disimpulkan bahwa:

1. Waktu imsak yang berkisar antara 10-15 menit menjelang shubuh tidak disyariatkan

2. Waktu imsak yang benar adalah saat adzan shubuh yang kedua dikumandangkan.

3. Disunnahkan untuk mengumandangkan adzan 2 kali pada waktu subuh.

والله أعلم بالصواب
_________________
ACT El-Gharantaly
GTLO, 01-09-1435 H

Grup WA Bersemilah Ramadhan
Oleh: Ustadz Badrusalam, Lc hafidzahullaah

Rasulullah  ﷺ  bersabda: "Barangsiapa mentaatiku berarti telah mentaati Allah, barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah, barangsiapa menaati pemimpin umatku berarti telah menaatiku, dan barang siapa menentang pemimpin umatku berarti telah menentangku." (HR. Bukhari Muslim)

Imam Ibnu Abil Izz berkata, "Dalil-dalil dari al Qur'an, sunnah & ijma' salaf menunjukkan bahwa seorang penguasa, imam shalat, hakim, komandan perang & petugas zakat itu wajib ditaati semua keputusannya yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat ijtihadi. Penguasa tidak berkewajiban untuk mentaati rakyat dalam masaalah-masaalah ijtihadiyah. Bahkan kewajiban rakyat adalah mentaati penguasa dan meninggalkan pendapatnya demi pendapat yang dipilih penguasa. Karena sesungguhnya manfaat persatuan dan kesatuan dan bahaya perpecahan dan perbedaan itu lebih penting daripada ngotot dalam masalah-masalah ijtihadiyah". (Syarh Thahawiah hal 376).

Wahai saudaraku..
Bersatulah dan jangan berpecah belah..
Ikutilah pemerintah dalam hal ini dan itu lebih selamat bagimu..

Sungguh..
Rabb-mu menyuruhmu untuk ta'at kepada pemerintah muslim, selama dlm perkara yang ma'ruf..
Di dalamnya hikmah persatuan adalah lebih utama..
Yg jika seandainya pemerintah salah dalam hal ini; maka dosanya untuk mereka..
Sedangkan engkau lebih selamat karena mengikuti perintah Rabb-mu..
Itulah hujjahmu kelak ketika berdiri dihadapan-Nya..

Rasulmu ﷺ bersabda:
"Dengar dan taatlah (kpd penguasa). Karena yang jadi tanggungan kalian adalah apa yg wajib bagi kalian, dan yang jadi tanggungan mereka adalah yang wajib bagi mereka" (HR. Muslim 1846)

"Sholatlah kalian bersama imam, jika sholat imam itu benar, kalian mendapat pahala. Jika sholat imam itu salah, kalian tetap mendapat pahala dan sang imam yg menanggung kesalahnnya." (HR. Bukhari no. 662)

Sedangkan..
Jika engkau ikut Ormas yg menyelisihi pemerintah ; kemudian ternyata mereka salah dalam perhitungannya..
Apa jawabmu kelak?
Sungguh tanggung jawab itu benar-benar akan ada sepenuhnya di pundakmu..

والله أعلم بالصواب

Dari grup WA Bersemilah Ramadhan,
Ust Aan Chandra Thalib hafidzahullaah..
Ust Badrusalam, Lc hafidzahullaah

Kata orang, "Imsak itu untuk kehati-hatian saja agar tidak bersahur ketika fajar menyingsing.."

Apa betul alasan itu?

Coba perhatikan hadits ini:

Nabi  ﷺ bersabda :

إذا سمعتم النداء والكأس على يد أحدكم فلا يضعه حتى يقضيه منه

"Apabila kalian mendengar adzan, sementara gelas berada di tangan, maka janganlah ia meletakkannya sampai menyelesaikan hajatnya."

Hadits ini membatalkan imsak sampai ke akar-akarnya..

Perhatikan juga kaidah berikut:

الأصل بقاء ما كان على ما كان

"Pada asalnya tetap pada keadaan sebelumnya."

Pada asalnya malam masih ada sampai jelas masuknya waktu fajar, bila ada yang makan sahur dengan dugaan waktu sahur masih ada ternyata fajar sudah masuk maka puasanya sah berdasarkan kaidah itu..

Kaidah ini juga membatalkan imsak..

Al Hafidz ibnu Hajar rahimahullahu berkata :
Termasuk bid'ah yang mungkar yang terjadi di zaman ini, mematikan lampu-lampu sebagai tanda haramnya makan dan minum bagi orang yang ingin berpuasa dengan alasan kehati-hatian dalam ibadah.. (Fathul Baari 4/199).

Tampak jelas bahwa imsak bukan sunnah..

Semoga bermanfaat

أَسْعَدَ اللّهُ اَيَّامَكُمْ

Semoga Allah Ta'alaa menjadikan hari-harimu penuh dengan kebahagiaan.

Selamat menunaikan ibadah puasa..

~合    人      ~
    噩(_)会会噩
    噩同噩画[]][ []噩
‎​

Kamis, 26 Juni 2014

Ust Aan Chandra Thalib hafidzahullaah

Syaikh Muhammad bin Muhammad Mukhtar As-Syinqity, hafidzahullah, ditanya:

"Wahai syaikh.. Dengan amalan apa anda menasehati saya untuk menyongsong datangnya musim ketaatan...?

Syaikh menjawab:

"Sebaik-baik amalan yang dilakukan dalam menyongsong datangnya musim ketaatan adalah memperbanyak istighfar. Sebab dosa akan menghalangi seseorang dari taufiq Allah ﷻ  (untuk melakukan ketaatan)."

Tidaklah hati seorang hamba selalu beristigfar melainkan akan disucikan.

  ☞ Bila ia lemah, maka akan dikuatkan

 ☞ Bila ia sakit, maka akan disembuhkan

 ☞ Bila ia diuji, maka ujian itu akan diangkat darinya.

 ☞ Bila ia kalut, maka akan diberi petunjuk

 ☞ Dan bila ia galau, maka akan diberi ketenangan.

Istigfar merupakan benteng pengaman yang tersisa bagi kita (dari adzab Allah) sepeninggal Rasulullah ﷺ .

Ibnu katsir, rahimahullah, berkata:

"Barangsiapa yang menghiasi dirinya dengan amalan ini, yaitu memperbanyak istighfar, maka Allah akan mempermudah rezekinya, memudahkan urusannya dan menjaga kekuatan jiwa dan raganya"

Maka apa lagi yang kau tunggu...?

(Perbanyaklah istighfar ...)

Ibnul Qayyim, rahimahullah, mengatakan:

"Bila engkau ingin berdo'a dan waktu begitu sempit, sementara dadamu dipenuhi oleh kebutuhan (hajat) yang begitu banyak, maka jadikan seluruh isi do'amu berupa permohonan agar Allah ﷻ memaafkanmu. Karena bila Dia memaafkanmu, maka semua keperluanmu akan dipenuhi oleh-Nya tanpa engkau memintanya."

Yaa Allah ... Sesungguhnya engkau Maha pemaaf, mencintai kemaafan, maka ampunilah Aku (*)

NB:
Lafadz do'a diatas:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

"Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu 'anni"

Diterjemahkan oleh: ACT El-Gharantaly.

Barakallaahu fiikum

Rabu, 18 Juni 2014

Nikmat Allah itu ada tiga: 

- nikmat yang didapati si hamba dan ia menyadarinya

- nikmat yang dinanti dan diharapkan kedatangannya

- dan nikmat yang didapat si hamba tapi ia tidak menyadarinya. 

Apabila Allah ingin menambah nikmat-Nya kepada si hamba, Dia perkenalkan pada hamba-Nya nikmat-Nya yang pertama. Kemudian dijadikan si hamba ini mensyukurinya sehingga dengan syukur ini terikatlah nikmat tadi dan tidak pergi. Karena nikmat itu pergi dengan sebab kemaksiatan dan bertahan dengan sebab mensyukurinya. 

Kemudian Allah membimbingnya untuk mengerjakan amalan yang mengundang datangnya nikmat yang kedua, yaitu nikmat yang ia nantikan kedatangannya. Dan Allah tunjuki padanya jalan-jalan yang menghalangi datangnya nikmat ini sehingga ia pun menjauhinya. Sehingga datanglah nikmat kedua ini kepadanya dengan sempurna. Kemudian Allah memperkenalkan kepadanya nikmat-nikmat yang sebelumnya tidak disadari olehnya.

Via 

Abu Nawas berkata:

يَا رَبِّ إِنْ عَظُمَتْ ذُنُوْبيَ ، كَثْرَةً ، ** فَلََقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ عَفْوَكَ أَعْظَمُ
Wahai Tuhanku, meskipun dosaku terlalu banyak…
maka sungguh aku mengetahui bahwasannya ampunanMu lebih banyak (dari banyaknya dosaku)

إِنْ كَانَ لاَ يَرْجُوْكَ إِلاَّ مُحْسِنٌ ، ** فَبِمَنْ يَلُوْذُ ، وَيَسْتَجِيْرُ المُجْرِمُ
Kalau seandainya hanya orang baik yang bisa berharap kepadaMu…
lantas kepada siapakah pelaku keburukan bersandar dan berlindung?

أَدْعُوْكَ رَبِّ ، كَمَا أَمَرْتَ ، تَضَرُّعاً ، ** فَإِذَا رَدَدْتَ يَدِي ، فَمَنْ ذَا يَرْحَمُ

Akau berdoa kepadamu wahai Tuhanku dengan penuh tunduk sebagaimana engkau perintahkan…
lantas jika Engkau tolak tanganku maka siapakah yang bisa merahmatiku?


مَا لِي إِلَيْكَ وَسِيْلَةٌ إِلاَّ الرَّجَا ، ** وَجَمِيْلُ عَفْوِكَ ثُمَّ أَنِّيَ مُسْلِمُ

Tidak ada yang bisa menyampaikanku kepadaMu kecuali hanya pengharapan…
dan indahnya ampunanMu kemudian aku hanyalah pasrah kepadaMu.

FB Ust Firanda Andirja, MA

Selasa, 17 Juni 2014

Abu Darda radhiyallahu anhu pernah ditanya:
Siapakah orang yang paling mulia?
Beliau menjawab:
Mereka itu adalah orang-orang yang mau memaafkan padahal mereka mampu (membalas).
Maka berilah maaf niscaya Allah Ta'ala akan memuliakan kalian
[Nihayatul Arb fi Fununil Adab (6/ 58)]
______________________________________
سئل أبو الدرداء :
مَن أعزُّ الناس ؟
فقال رضي الله عنه :
الذين يعفون إذا قدروا.
فاعفوا.. يعزكم الله تعالى.
[ نهاية الأرب في فنون الأدب (6/58) ]
___________________
Salemba 16-08-1435 H

FB Ust Aan Chandra Thalib
Padang taubatMu…..
Luas menghampar
Bangunkan insan yang terlelap
Dibuai mimpi semu dunia
Demi merengkuh aneka nikmat
Ramadhan datang
Menyapa jiwa dahaga
Menggugah nurani angkara
Sekedar berbagi dan perduli nasib du’afa
Nan menghiba dan menebas-nebas rasa
Ramadhan……,siapa mengingkari!
Hadirmu menyemai mimpi
Berlipatnya pahala dan ampunan berkali-kali
Juga arena
Berlombanya hamba-hamba beriman
Untuk mendapat berkah dan karuniaNya
Kelak… diakhir kehidupan fana
Saudaraku…….
Lelah raga hanya nuansa
Prosesi perjalanan iman
Tak lama, bila beristiqomah
Kan berganti indahnya kemenangan
Disanalah puncak kebahagiaan
Ada takbir berkumandang
Ada syukur penuh makna
Ya Allah….
Betapa namaMu diagungkan
Berjuta insan ……satukan rasa
Euforia sejatiMu menggelegar
Melumat berita-berita besar
Setahun goreskan luka
Ramadhan ya ramadhan….
Hilang rindu dikala datang
Meski hanya sebulan pulang
Sedih bila pisah menjelang
Sebab……
Belumlah tentu kami berumur panjang

Achmad Ridwan
FP MajalahQiblati
Betapa indahnya bila rakyat dan penguasa satu cita, satu karsa, dan satu rasa. Sama-sama masing2 mengemban tanggung jawabnya dalam rangka menjalankan perintah Allah Ta'ala. Sama2 mengemban amanah bukan untuk motivasi duniawi namun untuk menjalankan tugas ilahi agar duniawi menjadi tenteram, sebagai sarana mencapai ukhrawi nan abadi.
Namun realita yang ada sekarang hampir -kalau tidak dikatakan sama sekali- tdk ada hubungan yang ideal antara rakyat dan penguasa.
Ketidak adanya motor penggerak berupa faktor keimananlah yang acap kali menjadikan hubungan diantara kedua belah pihak carut marut. Terkadang di pihak pemerintah mereka memenuhi hak rakyat jika ada keinginan terselubung dari keuntungan duniawi. Di sisi lain rakyat taat kepada pemimpinnya hanya karena semata pemerintah memiliki sistem ketahanan yang kuat. Siapa yang menentang akan ditindak tegas. Sehingga ketaatan rakyat bukan dilandasi karena faktor keimanan. Inilah ketimpangan yang mendasar tudak adanya hubungan yang harmonis karena lemahnya faktor keimanan yang bersemayam pada kedua belah pihak.
Dalam rangka mewujudkan ragam hubungan yang ideal dan indah antara rakyat dan penguasa, syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah menjelaskan beberapa kondisi Antara rakyat dan penguasa, antara lain:
1. Faktor kekuatan iman dan kekuatan kekuasaan, dalam kondisi yang sama kokohnya adalah kondisi sempurna terwujudnya sebuah idealisme hubungan yang baik.
2. Faktor kekuatan iman dan kekuatan kekuasaan, dalam kondisi amat lemah. Ini merupakan kondisi paling buruk dan paling berbahaya dalam kelangsungan hidup berbangsa dan bertanah air, penguasa maupun rakyat. Sebab, hal demikian adalah faktor timbulnya kerusakan, kekacauan, serta dekadensi akhlaq dan moral.
3. Faktor kekuatan iman dalam kondisi tidak ada (lemah), namun kekuasaan memiliki kekuatan. Ini merupakan kondisi yang baik dibanding faktor kedua. Sebab jika masih ada kekuatan ini akan menjadi proteksi dari segala kejelekan yang timbul dari faktor lemahnya iman. Sebaliknya, jika kekuatan kekuasaan lemah, maka tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi berupa perilaku buruk umat dan kondisi-kondisi chaos.
4. Foktor kondisi keimanan dalam level yang cukup kokoh, namun kekuasaan tidak cukup kuat (lemah), maka secara lahiriyah hubungan masyarakat akan menjadi baik, dari pada kondisi kedua, namun lebih rendah dari kondisi ketiga, namun dalam konteks hubungan hamba dengan Rabb nya lebih baik dari kondisi yang ketiga. (Lihat penjelasananya dalam syarah Tsalatsatul Ushul, karya syaikh Ibnu Utsaimin, hal: 154-155).
Mencermati relaita di atas hendaknya kita merenungkan bersama. Bukankah jika tidak bisa meraih yang paling sempurna di antara 4 kondisi di atas, kita tidak ingin memilih yang paling buruk? Karena itu di sinilah pentingnya tonggak pembinaan keagamaan yang baik agar terciptanya kondisi negeri yang baik.
Meskipun keadaan kekuasaan lemah, bila masyarakat memiliki iman, mereka akan bahu membahu menciptakan stabilitas keamanan negara. Lebih bagus lagi jika ditunjang dengan kekuasaan yang kuat, serta SDM masyarakat unggul mengacu pada perpaduan kolaborasi IMTAQ dan IPTEK. Dakwah pun akan ikut bersinergi menyeimbangkan keadaan. 

Wallahul muwaffiq.

FB Ust Abu Ya'la Hizbul Majid
Sobat, mungkin anda sering mendengar petuah bijak : di zaman sekarang, tontonan menjadi tuntunan dan sebaliknya tuntunan menjadi tontonan.
Perilaku para pemain senetron, dagelan, bintang film, penyanyi pemain sandiwara oleh banyak orang telah banyak dijadikan sebagai tuntunan sehingga diteladani.
Sedangkan, Al Qur'an dan As Sunnah kini telah diasingkan atau dicampakkan, sehingga hanya berfungsi sebagai tontonan. Karena itu, masyarakat lebih pandai dan bersemangat untuk mengkreasikan ayat-ayat Al Qur'an dan hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Keislaman seseorang hanya diukur dari kreasi seni kaligrafi atau yang serupa yang terpajang di rumah seseorang. Adapun amalan dan keimanan telah jauh jauh hari diabaikan.
Banyak orang hanya puas dengan sebutan dan nama, adapun hakekat dan prakteknya maka telah lama dilupakan.
Sobat! Momentum hadirnya bulan Ramadhan ini sepatutnya menjadi kilas balik bagi kita semua untuk berubah ke arah yang lebih baik. Isi lebih penting dibanding nama dan sebutan. Tidakkah saudara ingat,bagaimana dahulu nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dituduh sebagai orang gila, tuang sihir dan penyair. Namun demikian, beliau tidak menghiraukan tuduhan itu, beliau lebih mementingkan pembuktian dengan akhlak beliau yang mulia.
Karena itu, ketahuilah bahwa sampaipun puasa Ramadhan yang sesaat lagi tiba, bisa jadi hanya namanya yang kita dapat, adapun hakikat dan maknanya benar-benar terluput dari genggaman kita. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع
Bisa jadi orang yang berpuasa, tiada mendapatkan manfaat dari puasanya selain rasa lapar. 
(HR Bukhari)

FP DR Muhammad Arifin Badri, MA
Ust Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA hafidzahullaah
Allah  telah mengutamakan sebagian waktu (jaman) di atas sebagian lainnya, sebagaimana Dia mengutamakan sebagian manusia di atas sebagian lainnya dan sebagian tempat di atas tempat lainnya.
Allah  berfirman:
{وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ}
Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka” (QS al-Qashash:68).
Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata: “(Ayat ini menjelaskan) menyeluruhnya ciptaan Allah bagi seluruh makhluk-Nya, berlakunya kehendak-Nya bagi semua ciptaan-Nya, dan kemahaesaan-Nya dalam memilih dan mengistimewakan apa (yang dikehendaki-Nya), baik itu manusia, waktu (jaman) maupun tempat”[1].
Termasuk dalam hal ini adalah bulan Ramadhan yang Allah  utamakan dan istimewakan dibanding bulan-bulan lainnya, sehingga dipilih-Nya sebagai waktu dilaksanakannya kewajiban berpuasa yang merupakan salah satu rukun Islam.
Sungguh Allah  memuliakan bulan yang penuh berkah ini dan menjadikannya sebagai salah satu musim besar untuk menggapai kemuliaan di akhirat kelak, yang merupakan kesempatan bagi hamba-hamba Allah  yang bertakwa untuk berlomba-lomba dalam melaksanakan ketaatan dan mendekatkan diri kepada-Nya[2].
Bagaimana seorang muslim menyambut bulan Ramadhan?
Bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan dan keberkahan, padanya dilipatgandakan amal-amal kebaikan, disyariatkan amal-amal ibadah yang agung, di buka pintu-pintu surga dan di tutup pintu-pintu neraka[3].
Oleh karena itu, bulan ini merupakan kesempatan berharga yang ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang beriman kepada Allah  dan ingin meraih ridha-Nya.
Dan karena agungnya keutamaan bulan suci ini, Rasulullah  selalu menyampaikan kabar gembira kepada para sahabat  akan kedatangan bulan yang penuh berkah ini[4].
Sahabat yang mulia, Abu Hurairah  berkata: Rasulullah  bersabda, menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya: “Telah datang bulan Ramadhan yang penuh keberkahan, Allah mewajibkan kalian berpuasa padanya, pintu-pintu surga di buka pada bulan itu, pintu-pintu neraka di tutup, dan para setan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam (kemuliaan/lailatul qadr) yang lebih baik dari seribu bulan, barngsiapa yang terhalangi (untuk mendapatkan) kebaikan malam itu maka sungguh dia telah dihalangi (dari keutamaan yang agung)”[5].
Imam Ibnu Rajab, ketika mengomentari hadits ini, beliau berkata: “Bagaimana mungkin orang yang beriman tidak gembira dengan dibukanya pintu-pintu surga? Bagaimana mungkin orang yang pernah berbuat dosa (dan ingin bertobat serta kembali kepada Allah ) tidak gembira dengan ditutupnya pintu-pintu neraka? Dan bagaimana mungkin orang yang berakal tidak gembira ketika para setan dibelenggu?”[6].
Dulunya, para ulama salaf jauh-jauh hari sebelum datangnya bulan Ramadhan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah  agar mereka mencapai bulan yang mulia ini, karena mencapai bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh Alah . Mu’alla bin al-Fadhl berkata: “Dulunya (para salaf) berdoa kepada Allah  (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan (berikutnya) agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang mereka (kerjakan)”[7].
Maka hendaknya keluarga muslim mengambil teladan dari para ulama salaf dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan, dengan bersungguh-sungguh berdoa dan mempersiapkan diri untuk mendulang pahala kebaikan, pengampunan serta keridhaan dari Allah , agar di akhirat kelak mereka akan merasakan kebahagiaan dan kegembiraan besar ketika bertemu Allah  dan mendapatkan ganjaran yang sempurna dari amal kebaikan mereka. Rasulullah  bersabda: “Orang yang berpuasa akan merasakan dua kegembiraan (besar): kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika dia bertemu Allah”[8].
Tentu saja persiapan diri yang di maksud di sini bukanlah dengan memborong berbagai macam makanan dan minuman lezat di pasar untuk persiapan makan sahur dan balas dendam ketika berbuka puasa. Juga bukan dengan mengikuti berbagai program acara Televisi yang lebih banyak merusak dan melalaikan manusia dari mengingat Allah  dari pada manfaat yang diharapkan, itupun kalau ada manfaatnya.
Tapi persiapan yang dimaksud di sini adalah mempersiapkan diri lahir dan batin untuk melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah agung lainnya di bulan Ramadhan dengan sebaik-sebaiknya, yaitu dengan hati yang ikhlas dan praktek ibadah yang sesuai dengan petunjuk dan sunnah Rasulullah . Karena balasan kebaikan/keutamaan dari semua amal shaleh yang dikerjakan manusia, sempurna atau tidaknya, tergantung dari sempurna atau kurangnya keikhlasannya dan jauh atau dekatnya praktek amal tersebut dari petunjuk Nabi[9].
Hal ini diisyaratkan dalam sabda Rasulullah : “Sungguh seorang hamba benar-benar melaksanakan shalat, tapi tidak dituliskan baginya dari (pahala kebaikan) shalat tersebut kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, atau seperduanya”[10].
Juga dalam hadits lain tentang puasa, Rasulullah  bersabda: “Terkadang orang yang berpuasa tidak mendapatkan bagian dari puasanya kecuali lapar dan dahaga”[11].
Meraih takwa dan kesucian jiwa dengan puasa Ramadhan
Hikmah dan tujuan utama diwajibkannya puasa adalah untuk mencapai takwa kepada Allah [12], yang hakikatnya adalah kesucian jiwa dan kebersihan hati[13]. Maka bulan Ramadhan merupakan kesempatan berharga bagi keluarga muslim untuk berbenah diri guna meraih takwa kepada Allah .
Allah  berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ}
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (QS al-Baqarah:183).
Imam Ibnu Katsir berkata: “Dalam ayat ini Allah  berfirman kepada orang-orang yang beriman dan memerintahkan mereka untuk (melaksanakan ibadah) puasa, yang berarti menahan (diri) dari makan, minum dan hubungan suami-istri dengan niat ikhlas karena Allah  (semata), karena puasa (merupakan sebab untuk mencapai) kebersihan dan kesucian jiwa, serta menghilangkan noda-noda buruk (yang mengotori hati) dan semua tingkah laku yang tercela”[14].
Lebih lanjut, syaikh Abdur Rahman as-Sa’di menjelaskan unsur-unsur takwa yang terkandung dalam ibadah puasa, sebagai berikut:
- Orang yang berpuasa (berarti) meninggalkan semua yang diharamkan Allah (ketika berpuasa), berupa makan, minum, berhubungan suami-istri dan sebagainya, yang semua itu diinginkan oleh nafsu manusia, untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan balasan pahala dari-Nya dengan meninggalkan semua itu, ini adalah termasuk takwa (kepada-Nya).
- Orang yang berpuasa (berarti) melatih dirinya untuk (merasakan) muraqabatullah (selalu merasakan pengawasan Allah ), maka dia meninggalkan apa yang diinginkan hawa nafsunya padahal dia mampu (melakukannya), karena dia mengetahui Allah maha mengawasi (perbuatan)nya.
- Sesungguhnya puasa akan mempersempit jalur-jalur (yang dilalui) setan (dalam diri manusia), karena sesungguhnya setan beredar dalam tubuh manusia di tempat mengalirnya darah[15], maka dengan berpuasa akan lemah kekuatannya dan berkurang perbuatan maksiat dari orang tersebut.
- Orang yang berpuasa umumnya banyak melakukan ketaatan (kepada Allah ), dan amal-amal ketaatan merupakan bagian dari takwa.
- Orang yang kaya jika merasakan beratnya (rasa) lapar (dengan berpuasa) maka akan menimbulkan dalam dirinya (perasaan) iba dan selalu menolong orang-orang miskin dan tidak mampu, ini termasuk bagian dari takwa[16].
Bulan Ramadhan merupakan musim kebaikan untuk melatih dan membiasakan diri memiliki sifat-sifat mulia dalam agama Islam, di antaranya sifat sabar. Sifat ini sangat agung kedudukannya dalam Islam, bahkan tanpa adanya sifat sabar berarti iman seorang hamba akan pudar. Imam Ibnul Qayyim menggambarkan hal ini dalam ucapan beliau: “Sesungguhnya (kedudukan sifat) sabar dalam keimanan (seorang hamba) adalah seperti kedudukan kepala (manusia) pada tubuhnya, kalau kepala manusia hilang maka tidak ada kehidupan bagi tubuhnya”[17].
Sifat yang agung ini, sangat erat kaitannya dengan puasa, bahkan puasa itu sendiri adalah termasuk kesabaran[18]. Oleh karena itu, Rasulullah  dalam hadits yang shahih menamakan bulan puasa dengan syahrush shabr (bulan kesabaran)[19]. Bahkan Allah menjadikan ganjaran pahala puasa berlipat-lipat ganda tanpa batas[20], sebagaimana sabda Rasulullah : “Semua amal (shaleh yang dikerjakan) manusia dilipatgandakan (pahalanya), satu kebaikan (diberi ganjaran) sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah  berfirman: “Kecuali puasa (ganjarannya tidak terbatas), karena sesungguhnya puasa itu (khusus) untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran (kebaikan) baginya”[21].
Demikian pula sifat sabar, ganjaran pahalanya tidak terbatas, sebagaimana firman Allah :
{إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ}
Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan disempurnakan (ganjaran) pahala mereka tanpa batas” (QS az-Zumar:10).
Imam Ibnu Rajab al-Hambali menjelaskan eratnya hubungan puasa dengan sifat sabar dalam ucapan beliau: “Sabar itu ada tiga macam: sabar dalam (melaksanakan) ketaatan kepada Allah, sabar dalam (meninggalkan) hal-hal yang diharamkan-Nya, dan sabar (dalam menghadapi) ketentuan-ketentuan-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan (manusia). Ketiga macam sabar ini (seluruhnya) terkumpul dalam (ibadah) puasa, karena (dengan) berpuasa (kita harus) bersabar dalam (menjalankan) ketaatan kepada Allah, dan bersabar dari semua keinginan syahwat yang diharamkan-Nya bagi orang yang berpuasa, serta bersabar dalam (menghadapi) beratnya (rasa) lapar, haus, dan lemahnya badan yang dialami orang yang berpuasa”[22].
Penutup
Demikianlah nasehat ringkas tentang keutamaan bulan Ramadhan, semoga bermanfaat bagi setiap muslim yang beriman kepada Allah  dan mengharapkan ridha-Nya, serta memberi motivasi bagi mereka untuk bersemangat menyambut bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan dan mempersiapkan diri dalam perlombaan untuk meraih pengampunan dan kemuliaan dari-Nya, dengan bersungguh-sungguh mengisi bulan Ramadhan dengan ibadah-ibadah agung yang disyariatkan-Nya.
Rasulullah  bersabda: “Pada setiap malam (di bulan Ramadhan) ada penyeru (malaikat) yang menyerukan: Wahai orang yang menghendaki kebaikan hadapkanlah (dirimu), dan wahai orang yang menghendaki keburukan kurangilah (keburukanmu)!”[23].
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
 ***                                                                               
[1] Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 622).
[2] Lihat kitab “al-‘Ibratu fi syahrish shaum” (hal. 5) tulisan guru kami yang mulia, syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbad – semoga Allah menjaga beliau dalam kebaikan – .
[3] Sebagaimana yang disebutkan dalam HSR al-Bukhari (no. 3103) dan Muslim (no. 1079).
[4] Lihat keterangan imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 174).
[5] HR Ahmad (2/385), an-Nasa’i (no. 2106) dan lain-lain, dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani dalam kitab “Tamaamul minnah” (hal. 395), karena dikuatkan dengan riwayat-riwayat lain.
[6] Kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 174).
[7] Dinukil oleh imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 174).
[8] HSR al-Bukhari (no. 7054) dan Muslim (no. 1151).
[9] Lihat kitab “Shifatu shalaatin Nabi r” (hal. 36) tulisan syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.
[10] HR Ahmad (4/321), Abu Dawud (no. 796) dan Ibnu Hibban (no. 1889), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-‘Iraqi dan syaikh al-Albani dalam kitab “Shalaatut taraawiih (hal. 119).
[11] HR Ibnu Majah (no. 1690), Ahmad (2/373), Ibnu Khuzaimah (no. 1997) dan al-Hakim (no. 1571) dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah, al-Hakim dan syaikh al-Albani.
[12] Lihat kitab “Tafsiirul Qur’anil kariim” (2/317) tulisan syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin.
[13] Lihat kitab “Manhajul Anbiya’ fii tazkiyatin nufuus” (hal. 19-20).
[14] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (1/289).
[15] Sebagaimana dalam HSR al-Bukhari (no. 1933) dan Muslim (no. 2175).
[16] Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 86).
[17] Kitab “al-Fawa-id” (hal. 97).
[18] Lihat kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 177).
[19] Lihat “Silsilatul ahaaditsish shahiihah” (no. 2623).
[20] Lihat kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 177).
[21] HSR al-Bukhari (no. 1805) dan Muslim (no. 1151), lafazh ini yang terdapat dalam “Shahih Muslim”.
[22] Kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 177).
[23] HR at-Tirmidzi (no. 682), Ibnu Majah (no. 1642), Ibnu Khuzaimah (no. 1883) dan Ibnu Hibban (no. 3435), dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan syaikh al-Albani.
>> http://manisnyaiman.com/ramadhan-bulan-kesabaran-kesucian-jiwa-dan-takwa/

Senin, 16 Juni 2014

Hadits ke enam dari kitab Arba'in Nawawi

«عَنْ أَبِي عَبْدِ الله النُّعمَان بْنُ بَشِير رَضِيَ الله عَنهُمَا قال: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآله وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَد اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى، يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ، أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى، أَلاَ إِنَّ حِمَى اللَّهِ فِي أَرْضِهِ مَحَارِمُهُ، أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً: إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ» . رواه البخاري ومسلم.
Abu Abdillah Nu'man bin Basyir radhiyallaahu 'anhuma berkata, " Aku mendengar Rasulullaah ﷺ bersabda, 'Sesungguhnya yang halal itu telah jelas dan yang haram pun telah jelas pula. Dan diantara keduanya ada perkara yang syubhat (samar-samar), kebanyakan manusia tidak mengetahui (hukum)nya. Barangsiapa yang menghindari perkara-perkara syubhat, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang jatuh ke dalam perkara yang syubhat maka ia telah jatuh ke dalam perkara yang haram. Seperti penggembala yang berada di dekat pagar larangan (milik orang) dan dikhawatirkan akan masuk ia akan masuk ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki tanah larangan (undang-undang), ingatlah bahwa larangan Allah adalah apa yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh tubuhnya dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

SYARAH HADITS

Di dalam hadits ini dibagi hukum menjadi tiga bagian. Ada perkara-perkara yang jelas-jelas diperbolehkan. Ada perkara-perkara yang jelas-jelas dilarang. Dan ada perkara-perkara yang syubhat (samar), yakni tidak jelas halal dan haramnya.

Segala sesuatu dibagi menjadi tiga:

1) Jelas-jelas dperbolehkan. Seperti makan yang baik-baik, buah-buahan, binatang ternak, menikah,berpakaian yang tidak diharamkan, makan roti, berbicara, berjalan, jual beli, dan lain-lain.
2) Jelas-jelas dilarang. Seperti : makan bangkai, darah, daging babi, menikah dengan perempuan yang haram untuk dinikahi, riba, judi, mencuri, mengadu domba, minum khomr, zina, memakai sutera dan emas untuk laki-laki, dan lain-lain.
3) Syubhat, yakni tidak jelas boleh atau tidaknya. Karena itu, banyak orang yang tidak mengetahuinya. Adapun Ulama bisa mengetahui melalui berbagai dalil dari Al-Qur'an dan Sunnah, maupun melalui Qiyas. Jika tidak ada nash dan juga tidak ada ijma' maka dilakukan ijtihad.

Meskipun demikian jalan terbaik adalah meninggalkan perkara syubhat. Seperti: tidak bermuamalah dengan orang yang hartanya bercampur dengan riba. Adapun perkara-perkara yang diragukan akibat bisikan syaitan, bukanlah perkara syubhat yang perlu ditinggalkan. Misalnya, tidak mau menikah di suatu negeri khawatir yang menjadi istrinya adalah adiknya sendiri yang sudah lama tidak bertemu. Atau tidak mau menggunakan air di tengah tempat terbuka, karena dikhawatirkan mengandung benda najis.

Sesungguhnya Allah ta'ala menurunkan Al-Qur'an kepada Rasul-Nya dan menjelaskan di dalamnya untuk umat tentang halal dan haram yang mereka butuhkan, seperti difirmankan oleh Allah (yang artinya) :
"...Dan kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur'an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu..." (Lihat QS An-Nahl : 89)
Mujahid dan lain-lain berkata, "Maksudnya, menjelaskan hal-hal yang diperintahkan kepada kalian dan hal-hal yang dilarang kepada kalian." (Tafsir ath-Thabari, VII/633-634)

Nabi ﷺ tidaklah meninggal dunia sehingga beliau menjelaskan kepada umat Islam apa-apa yang dihalalkan dan yang diharamkan oleh Allah kepada mereka. 
Beliau bersabda, (yg artinya) : Aku tinggalkan kalian di atas sesuatu yang putih bersih dimana malamnya seperti siangnya dan tidaklah berpaling darinya melainkan orang yang binasa." (Hadits hasan diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah, Al-Lalika-i)

Tentang halal dan haram ada sebagiannya yang lebih jelas dari yang lainnya. Masalah yang paling jelas dijelaskan oleh Rasulullaah ﷺ adalah masalah tauhid (mentauhidkan Allah, beribadah hanya kepada Allah saja, tidak kepada yang lainnya, mengikuti sunnah Rasulullaah  ﷺ dan para shahabatnya, mengikuti dan ittiba' kepada manhaj mereka). Begitu juga yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya jelas. Allah dan Rasul-Nya mengharamkan berbuat syirik, menyekutukan Allah dengan sesuatu, berdo'a, meminta, istighatsah kepada selain Allah. Allah dan Rasul-Nya mengharamkan murtad, bid'ah, mengikuti hawa nafsu, merusak kehormatan orang dan lain-lain.

Perkara-perkara yang sudah jelas halal dan haramnya dan diketahui oleh umat Islam, maka tidak ada udzur bagi seseorang atas ketidaktahuannya tentang itu bila ia hidup (tinggal) di tengah-tengah kaum Muslimin

Bersambung in-syaa Allaah...

(Disalin dengan ringkas dari "Syarah Arbain An-Nawawi", Ust Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka Imam Asy-Syafi'i)

Sabtu, 14 Juni 2014

Setapak terlangkah menjejaki bumi
Mengarungi arus kehidupan yang penuh misteri
Ku tatap langit yang masih setia memayungi
Dan gunung-gunung yang masih menguati
Dan aku masih di sini
Terkadang lesu namun coba bertahan
Dengan kekuatanNya ku tegas berjalan
Karena KuasaNya ku mampu berlari
Mengejar impian yang tertunda
Karena hampir tenggelam dalam luapan masalah
Ku sedih, Ku bahagia
Ujian kan tetap ada
Cinta Sang Pencipta selalu memberi asa
Menitip ilmu pada seluruh ciptaanNya
Terlirik pohon hijau yang terus memberi semangat
Bersama air mengalir, mengajarkan hidup optimis
Kesetiakawanan semu tuk selalu berbagi
Dan kegigihan elang tuk mencari makan di perut bumi
Inilah cipta yang tiada sia
Adalah karena Ia Maha Tahu
Tak perlu sesal yang terjadi
Hanya perlu mengoreksi diri
Tetap tegar kaki berdiri
Setiap sabar dan do'a di hati
Adalah kekuatan tuk bangkit kembali
Irdawaty Daming
Alumni Sastra Unhas
>> FP MajalahQiblati

Jumat, 13 Juni 2014

KEUTAMAAN MEMBACA SHALAWAT
Salah satu amalan istimewa dalam ajaran Islam yang dijanjikan pahala berlipat ganda adalah membaca shalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Banyak nash (dalil) dari al-Qur’an maupun hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memotivasi untuk memperbanyak amalan mulia ini. Di antaranya :
Firman Allah Ta’ala:
Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (QS. al-Ahzab/33: 56).
Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan dalam Tafsirnya[1], Allah Ta’ala memberitahukan kepada para hamba-Nya kedudukan Rasulullah di sisi-Nya di hadapan para malaikat. Allah Ta’ala memuji beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di hadapan mereka, begitu pula mereka bershalawat kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu AllahTa’ala memerintahkan para penghuni bumi untuk bershalawat dan mengucapkan salam bagi beliauShallallahu ‘alaihi wa sallam, agar berpadu pujian para penghuni langit dengan para penghuni bumi semuanya untuk beliau        .”
Dalam hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Bershalawatlah kalian untukku. Sesungguhnya barang siapa bershalawat untukku satu kali, niscaya Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali” (HR. Muslim 1/288­289 no. 384)
Dalam Tuhfah al-Ahwadzi, al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan bahwa maksud dari shalawat Allah    , untuk para hamba-Nya adalah Allah merahmati mereka dan melipatgandakan pahalanya.
Dan masih banyak dalil lain yang menunjukkan keutamaan membaca shalawat untuk Nabi Karena itulah, tidak mengherankan jika dari dulu, para ulama Islam berlomba-lomba menulis buku khusus guna memaparkan keutamaan membaca shalawat. Contohnya, Fadhlush Shalat ‘ald an-Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Imam Isma’il bin Ishaq al-Qadhi rahimahullah (199-282 H), jala’ul Afham fi Fadhlish Shaldt wa as-Salam ‘ald Muhammadin Khairil Anam karya Imam Ibn Qayyim al-jauziyyah rahimahullah(691-751 H) dan lain-lain.[2]
IKHLAS DAN MENELADANI RASUL SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM DALAM BERSHALAWAT
Dari keterangan di atas, nampak begitu jelas bahwa membaca shalawat merupakan ibadah yang disyariatkan dalam Islam. Dan sebagaimana telah diketahui bersama, berdasarkan dalil al-Qur’an dan Sunnah serta keterangan para Ulama, bahwa setiap ibadah akan diterima di sisi Allah Ta’ala kalau memenuhi dua syarat. Yakni dijalankan secara ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Fakhruddin ar-Razy rahimahullah (544-606 H) menyimpulkan dua syarat sah ibadah tersebut dari firman AllahTa’ala :
 “Barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha melakukan amalan yang mengantarkan kepadanya, sementara ia jugs seorang mukmin; maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (Qs. Al-Isra / 17:19).
Kata beliau rahimahullah, “Syarat pertama, mengharapkan pahala akhirat dari amalannya. jika niat ini tidak ada maka dia tidak akan memetik manfaat dari amalannya. Sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 “Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya” (HR. Bukhari, 1/9 no. 1- al-Fath)
 Juga karena tujuan beramal adalah untuk menerangi hati dengan mengenal Allah serta mencintai-Nya. Ini tidak akan tercapai kecuali jika seseorang meniatkan amalannya guna beribadah kepada Allah dan meraih ketaatan pada-Nya.
Syarat kedua, ada dalam firman Allah Ta’ala, yang artinya, “berusaha melakukan amalan yang mengantarkan kepadanya” maksudnya adalah hendaknya amalan yang diharapkan bisa mengantarkan pada akhirat itu adalah amalan yang memang bisa mewujudkan tujuan tersebut. Dan suatu amalan tidak akan dianggap demikian, kecuali jika termasuk amal ibadah dan ketaatan. Banyak orang yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’aladengan melakukan amalan-amalan yang batil”.[3]
Imam Ibn Katsir rahimahullah (700-774 H) mempertegas, “Agar amalan diterima, maka harus memenuhi dua syarat. Pertama, ikhlas karena Allah semata dan kedua, benar sesuai syariat. Manakala suatu amalan dikerjakan secara ikhlas, namun tidak benar (sesuai syariat), maka amalan tersebut tidak diterima. Rasulullah bersabdaShallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan itu akan tertolak” (HR. Muslim 3/1343 no. 1718 dari Aisyah radhiyallahu ‘anha).
Begitu pula jika suatu amalan sesuai dengan syariat secara lahiriyah, namun pelakunya tidak mengikhlaskan niat untuk Allah; amalannya pun juga akan tertolak.”[4]
Karena membaca shalawat merupakan ibadah dan amal shalih, maka supaya amalan tersebut diterima oleh AllahTa’alaharus pula terpenuhi dua syarat tersebut di atas, yakni ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ikhlas dalam bershalawat berarti :
-          Hanya mengharapkan ridha Allah Ta’aladan pahala dari-Nya.
-          Teks shalawat yang dibaca tidak mengandung unsur-unsur yang bertentangan dengan prinsip ikhlas. Atau dengan kata lain, tidak bermuatan syirik dan kekufuran, semisal istighatsah kepada selain Allah Ta’ala, menisbatkan sesuatu yang merupakan hak khusus Allah kepada selain-Nya dan yang semisal. Aturan kedua ini tentunya diterapkan pada teks-teks shalawat produk manusia, bukan berasal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Sebab, jika teks shalawat itu bersumber dari sosok yang ma’shum ,Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ini di luar konteks pembicaraan kita, lantaran tidak mungkin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan sesuatu yang berisi kesyirikan dan kekufuran.
Meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bershalawat, maksudnya :
-          Mencontoh shalawat yang diajarkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan inilah yang paling utama.
-          Bila menggunakan susunan shalawat dari selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,disyaratkan tidak mengandung unsur kesyirikan maupun ghuluw (sanjungan yang berlebihan) kepada beliau.
-          Bershalawat untuk beliau pada momen-momen yang beliau syariatkan.[5]
-          Memperbanyak membaca shalawat semampunya, dalam rangka mengamalkan firman Allah Ta’ala dalam QS. al-Ahzab/33:56 dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut di atas.
Setelah pemaparan mukadimah yang berisi beberapa kaidah penting, saatnya kita memasuki inti pembahasan.
SHALAWAT NARIYYAH DALAM TIMBANGAN
Di kalangan kaum Muslimin Indonesia, amat banyak teks shalawat yang tersebar. Seperti, shalawat Fatih, shalawat Munjiyat, shalawat Thibbul Qulub, shalawat Wahidiyyah, dan tidak lupa sorotan kita ­shalawat Nariyyah. Tidak hanya mencukupkan diri dengan teks shalawat yang dikarang kalangan klasik, mereka juga mengandalkan redaksi-redaksi yang diciptakan kalangan kontemporer. Contohnya, shalawat Wahidiyyah yang dibuat pada tahun 1963 oleh salah satu penduduk Kedunglo Bandar Lor Kediri, KH. Abdul Majid Ma’ruf.[6]
Selain itu, mereka juga sangat ‘kreatif’ dalam membuat aturan-aturan baca berbagai jenis shalawat tersebut, dari sisi jumlah bacaan, waktu pembacaan, hingga fadhilah (keutamaan) yang akan diraih oleh pembacanya. Seakan-akan itu semua ada landasannya dari syariat.
Shalawat Nariyyah merupakan salah satu shalawat yang paling masyhur di antara shalawat­-shalawat bentukan manusia. Orang-orang berlomba untuk mengamalkannya, baik dengan mengetahui maknanya, maupun tidak memahami kandungannya. Bahkan justru barangkali orang jenis kedua ini yang lebih dominan. Banyak orang serta merta mengamalkannya hanya karena diperintah tokoh panutannya, kerabat dan teman, atau tergiur dengan “fadhilah” tanpa merasa perlu untuk meneliti keabsahan shalawat tersebut, juga kandungan makna yang terkandung di dalamnya.
Sebelum mengupas lebih jauh tentang shalawat ini, yang juga terkadang dinamakan dengan Shalawat Tafrijiyah Qurthubiyah, ada baiknya dibawakan dahulu teks lengkapnya : [7]
Ya Alldh, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, serta berkat dirinya yang mulia hujan pun turun. Semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau
SIAPAKAH PENCIPTA SHALAWAT NARIYYAH?
Berdasarkan referensi yang ada, kami baru bisa menemukan isyarat yang menunjukkan bahwa pencipta shalawat ini adalah seorang yang bernama as-Sanusy.[8] Namun hingga saat ini kami belum bisa memastikan siapakah nama lengkapnya, sebab yang menggunakan julukan ini amat banyak dan kami belum mendapatkan keterangan yang menunjukkan as-Sanusi manakah yang menciptakan shalawat tersebut. Hanya saja, yang pasti sebutan as-Sanusi ini merupakan bentuk penisbattan kepada tarekat sufi yang banyak tersebar di daerah Maroko, tarekat as-Sanusiyyah.
BENARKAH PENGARANGNYA ADALAH SAHABAT NABI
Di sebuah situs Internet tertulis:
“Sholawat Nariyah adalah sebuah sholawat yang disusun oleh Syekh Nariyah. Syekh yang satu ini hidup pada jaman Nabi Muhammad sehingga termasuk salah satu sahabat Nabi. Beliau lebih menekuni bidang ketauhidan. Syekh Nariyah selalu melihat kerja keras Nabi dalam menyampaikan wahyu Allah, mengajarkan tentang Islam, amal saleh dan akhlaqul karimah sehingga Syekh selalu berdoa kepada Allah memohon keselamatan dan kesejahteraan untuk Nabi. Doa-doa yang menyertakan nabi biasa disebut sholawat dan Syekh Nariyah adalah salah satu penyusun sholawat nabi yang disebut Sholawat Nariyah.
Suatu malam, Syekh Nariyah membaca sholawatnya sebanyak 4444 kali. Setelah membacanya, beliau mendapat karomah dari Allah. Maka dalam suatu majelis beliau mendekati Nabi Muhammad dan minta dimasukan surga pertama kali bersama Nabi. Dan Nabi pun mengiyakan. Ada seseorang sahabat yang cemburu dan lantas minta didoakan yang sama seperti Syekh Nariyah. Namun Nabi mengatakan tidak bisa karena Syekh Nariyah sudah minta terlebih dahulu.
Mengapa Sahabat itu ditolak Nabi? Dan justru. Syekh Nariyah yang bisa? Para sahabat itu tidak mengetahui mengenai amalan yang setiap malam diamalkan oleh Syekh Nariyah yaitu mendoakan keselamatan dan kesejahteraan Nabinya. Orang yang mendoakan Nabi Muhammad pada hakekatnya adalah mendoakan untuk dirinya sendiri karena Allah sudah menjamin nabi-nabi-Nya sehingga doa itu akan berbalik kepada si pengamalnya dengan keberkahan yang sangat kuat”.[9]
Kesimpulan, pengarang Shalawat Nariyah konon seorang bernama Syekh Nariyah, dan dia. termasuk Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah dijamin masuk surga oleh beliau.
Sebagai seorang Muslim mestinya tidak begitu saja menerima apa yang disampaikan padanya, tanpa klarifikasi dan penelitian, apalagi jika berkenaan dengan permasalahan agama.
Sekurang-kurangnya ada dua poin yang perlu dicermati dari cerita di atas :
  1. Benarkah ada Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Syekh Nariyah ?
  2. Dimanakah sumber kisah tentang Sahabat tersebut ? Dan adakah sanad (mata rantai periwayatan) nya ?
Adapun berkenaan dengan poin pertama, perlu diketahui bahwa biografi para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mendapatkan perhatian ekstra dari para Ulama Islam. Begitu banyak kitab yang mereka tulis untuk mengupas biografi para sahabat. Ada referensi yang ditulis untuk memaparkan biografi para sahabat beserta para Ulama sesudah mereka hingga zaman penulis, adapula referensi yang ditulis khusus untuk menceritakan biografi para sahabat saja. Diantara contoh model pertama : Hilyatul Auliya’ karya al-Hafizh Abu Nu’aim al-Asfahani (336-430 H) dan Tahdzibul Kamal karya al-Hafizh Abul Hajjaj al-Mizzi (654-742 H). Adapun contoh model kedua, seperti :a1-Isti’ab fi Ma’rifati1 Ash-hab karya al-Hafizh Ibn ‘Abdil Bar (368-463 H) dan al-Ishabatu fi Tamyizish Shahabahkarya al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalani (773-852 H).
Setelah meneliti berbagai kitab di atas dan juga referensi biografi lainnya, yang biasa diistilahkan para Ulama dengan kutubut tarajim wa ath-thabaqat, ternyata tidak dijumpai seorang pun di antara Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang bernama Nariyah. Bahkan sepengetahuan kami, tidak ada seorang pun Ulama klasik yang memiliki nama tersebut. Lalu, dari manakah orang tersebut berasal ??
Sebenarnya, orang yang sedikit terbiasa membaca kitab Ulama, hanya dengan melihat nama tersebut beserta ‘gelar’ syaikh di depannya, akan langsung ragu bahwa orang tersebut benar-benar Sahabat Nabi. Karena penyematan ‘gelar’ syaikh di depan nama Sahabat -sepengetahuan kami- bukanlah kebiasaan para Ulama dan juga bukan istilah yang lazim mereka pakai, sehingga terasa begitu janggal di telinga.
Kesimpulannya : berdasarkan penelaahan kami, tidak ada sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang bernama Syekh Nariyah. Jadi penisbatan shalawat tersebut terhadap, Sahabat sangat perlu untuk dipertanyakan dan amat diragukan keabsahannya.
Adapun poin kedua, amat disayangkan penulis makalah di internet tersebut tidak menyebutkan sanad (mata rantai periwayatan) kisah yang ia bawakan, atau minimal mengisyaratkan rujukannya dalam menukil kisah tersebut. Andaikan ia mau menyebutkan salah satu dari dua hal di atas niscaya kita akan berusaha melacak keabsahan kisah tersebut, dengan meneliti para perawinya, atau merujuk kepada kitab aslinya. Atau barangkali kisah di atas merupakan dongeng buah pena penulis tersebut ? Jika, ya, maka kisah tersebut tidak ada nilainya; karena kisah fiksi, alias kisah yang tidak pernah terjadi !
Amat disayangkan, dalam hal yang berkaitan dengan agama, tidak sedikit kaum Muslimin sering menelan mentah-mentah suatu kisah yang ia temukan di sembarang buku dan internet, atau kisah yang diceritakan oleh tetangga, teman, guru dan kenalan, tanpa merasa perlu untuk mengcrosscek keabsahannya. Seakan-akan kisah itu mutlak benar terjadi! Padahal kenyataannya seringkali tidak demikian.
Untuk memfilter kisah-kisah palsu dan yang lainnya, Islam memiliki sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki agama lain, yaitu : Islam memiliki sanad (mata rantai periwayatan). Demikian keterangan yang disampaikan Ibn Hazm (384-456 H)[10] dalam al-Fishal dan Ibnu Taimiyyah (661-728 H).[11]
Imam ‘Abdullah bin al-Mubarak (118-181 H) pernah berkata, “Isnad adalah bagian dari agama. Jika tidak adaisnad, seseorang akan bebas mengatakan apa yang dikehendakinya.”[12]
KANDUNGAN MAKNA SHALAWAT NARIYYAH
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhidan semua hajat yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, serta berkat dirinya yang mulia hujanpun turun. Semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para Sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau.”
 Bagian dari Shalawat Nariyyah yang kami cetak tebal itulah yang akan dicermati dalam tulisan singkat ini. Kalimat-kalimat tersebut mengandung penisbatan terpecahkannya semua kesulitan, dilenyapkannya segala kesusahan, ditunaikannya segala macam hajat, tercapainya segala keinginan dan husnul khatimah, kepada selain AllahTa’ala. Dalam hal ini yang mereka maksudkan yang melakukan itu semua adalah Rasalullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penisbatan ini merupakan sebuah kekeliruan fatal, sebab bertolak-belakang dengan al-Qur’an dan Sunnah, serta bisa mengantarkan pelakunya kepada kekufuran. Pasalnya, semua perbuatan tersebut, hanya AllahTa’ala yang berkuasa melakukannya.
Mari kits cermati nash-nash berikut :
Allah Ta’ala berfirman :
Siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila iaberdoa kepada-Nya, dan yang melenyapkan kesusahan serta yang menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah di bumi? Adakah tuhanselain Alldh ? Amat sedikit kalian mengingat-Nya” (QS. an-Naml/27:62).
Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengingatkan bahwa hanya Dia-lah yang diseru saat terjadi kesusahan, dan Dia pula yang diharapkan pertolongan-Nya saat musibah melanda. Demikian keterangan yang disampaikan Imam Ibnu Katsir rahimahullah [13]
Karena itulah, setelahnya Allah Ta’ala melontarkan pertanyaan dalam konteks pengingkaran, “Adakah tuhan selain Allah?”. Hal ini mengisyaratkan, wallahu a’lam, bahwa orang yang tertimpa kesulitan dan kesusahan lalu memohon pertolongan kepada selain Allah Ta’ala, seakan ia telah menjadikan dzat yang diserunya itu sebagai tuhan ‘saingan’ Allah Ta’ala. Sebab tidak ada yang sanggup mengabulkan permohonan tersebut melainkan hanya Allah Ta’ala.
Senada dengan ayat di atas, firman Allah Ta’ala berikut :

Katakanlah, “Siapakah yang dapat menyelamatkan kalian dari bencana di darat dan di laut, yang kalian berdoa kepada-Nya dengan berendah diri dan suara yang lembut (dengan mengatakan), ‘Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami akan menjadi orang-orang yang bersyukur’. Katakan, “Allahlah yang menyelamatkan kalian dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan. Lantas mengapa kalian kembali mempersekutukan-Nya?!”.(QS. al-An’,kn/6: 63-64)
“Apapun nikmat yang ada dalam diri kalian, maka dari Allah-lah (datangnya). Dan bila kalian ditimpa marabahaya, maka hanya kepada-Nya­lah (seharusnya) kalian meminta pertolongan(QS. an-Nahl/16:53)
Dan masih banyak lagi firman Allah yang semakna dengan ayat-ayat di atas, yang menegaskan bahwa segala bentuk kebaikan di dunia maupun akhirat, hanya Allah TA’ala sajalah yang mendatangkannya. Sebagaimana pula segala bentuk keburukan di dunia ataupun akhirat, hanyalah Allah Ta’ala yang menghindarkannya dari diri kita.
Karena itulah, kita dapatkan qudwah kita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pun mencontohkan untuk selalu kembali kepada Allah  Ta’ala dalam segala urusan.
Mari kita cermati sebagian dari doa yang beliau baca :
“Ya Alldh, jadikanlah akhir dari seluruh urusan kami baik, dan selamatkanlah kami dari kehinaan dunia dan siksaan akhirat” (HR. Ibnu Hibban 3/230 no. 949)
“Wahai Yang Maha hidup dan Yang terus menerus mengurus makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu-lah aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh keadaanku, dan janganlah Engkau jadikanku bergantung kepada diriku sendiri, walaupun itu hanya sekejap mata” (HR. al-Hakim 1/739 no. 2051).

“Ya Alldh, rahmat-Mu-lah yang kuharapkan. Maka janganlah Engkau jadikan aku bergantung kepada dirikusendiri, walaupun itu hanya sekejap mata. Dan perbaikilah seluruh keadaanku. Tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Engkau” (HR. Abu Dawud, 5/204 no. 5090 dari Abu Bakrah, dan dinilai sahib oleh Ibn Hibban (III/250 no. 970).
Lihatlah bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menisbatkan seluruh urusan kepada Allah Ta’ala dan memberi kita teladan agar senantiasa mengembalikan segala sesuatu hanya kepada Allah Ta’ala !. Pernahkah beliau -walaupun hanya sekali- mengajarkan kepada umatnya agar bergantung kepada beliau?! Mustahil beliau mengarahkan demikian, sebab beliau sendirilah yang berkata, “Janganlah Engkau (Ya Allah) jadikan aku bergantung kepada diriku sendiri, walaupun itu hanya sekejap mata”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallammencontohkan praktek tawakkal yang begitu tinggi, dimana beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ingin bergantung pada diri sendiri, walaupun itu hanya sesaat, sekedipan mata! Mengapa kita tidak meneladaninya dalam hal ini dan yang lainnya?
Cermati pula doa terakhir!. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup doanya dengan kalimat thayyibah LAILAHAILLALLAH yang menunjukkan -wallahua’lam- bahwa seluruh permintaan di atas adalah bentuk ibadah yang hanya boleh dipersembahkan kepada Allah Ta’ala.
Berdasarkan keterangan di atas yang menyebutkan adanya kesalahan akidah dalam shalawat Nariyah, maka tidak sepantasnya shalawat ini diamalkan oleh umat, baik dengan membaca dan menghafalkannya, apalagi sampai meyakini dan mengharapkan keutamaan darinya.
MEMBACA SHALAWAT NARIYAH BERARTI MENGAGUNGKAN RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
Barangkali inilah argumen terakhir mereka untuk melegalkan pembacaan shalawat Nariyah dan shalawat semisal lainnya. Dengan dalih pengagungan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mempertahankan shalawat yang menyimpang dari ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Bahkan yang lebih parah, ada sebagian mereka yang berusaha mengesankan pada orang awam, bahwa pihak yang mengkritisi shalawat Nariyah tidak mengagungkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam! Ini merupakan tindak pemutarbalikan fakta dan harus diluruskan.
Masalah pokok yang perlu diketahui pertama kali yaitu mengagungkan Rasulullah hukumnya wajib. Dan ini merupakan salah satu cabang keimanan yang besar. Cabang keimanan ini berbeda dengan cabang keimanan cinta kepada beliau[14], bahkan pengagungan lebih tinggi derajatnya dibanding cinta. Sebab tidak setiap, yang mencintai sesuatu ia pasti mengagungkannya. Contohnya, orang tua mencintai anaknya, namun kecintaannya hanya akan mengantarkan untuk memuliakannya dan tidak mengantarkan untuk mengagungkannya. Beda dengan kecintaan anak kepada orang tuanya, yang akan mengantarkan untuk memuliakan dan mengagungkan mereka berdua.[15]
Diantara hak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang harus ditunaikan oleh umatnya adalah pemuliaan, pengagungan dan penghormatan terhadap beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pengagungan, pemuliaan dan penghormatan harus melebihi pemuliaan, pengagungan dan penghormatan seorang anak terhadap orang tuanya atau budak terhadap majikannya. Allah Ta’ala berfirman :
Orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an); mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS.al-A’raf/7:157)
Tidak ada perbedaan pendapat di antara para Ulama, bahwa yang dimaksud dengan “pemuliaan” dalam ayat di atas adalah pengagungan.[16]
PENGAGUNGAN TERHADAP RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAMBERTEMPAT DI HATI, LISAN DAN ANGGOTA TUBUH[17]
Pengagungan terhadap beliau dengan hati maksudnya adalah meyakini bahwa beliau adalah hamba dan utusan Allah. Keyakinan ini menyebabkan seseorang mengedepanan kecintaannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada kecintaannya terhadap diri sendiri, anak, orang tua dan seluruh manusia.
Keyakinan ini juga menumbuhkan rasa betapa agung dan wibawa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta meresapi kemuliaannya, kedudukannya dan derajatnya yang tinggi.
Hati merupakan raja dari tubuh, manakala pengagungan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghujam kuat dalam hati, niscaya dampaknya secara lahiriah akan nampak jelas. Lisan akan senantiasa basah dengan pujian kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyebutkan kemuliaan-kemuliaannya. Begitu pula anggota tubuh akan tunduk menjalankan segala tuntunan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam taat kepada syariat dan ajaran beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menunaikan segala haknya.
Adapun pengagungan terhadap beliau dengan lisan, maksudnya adalah memuji beliau     , dengan pujian yang berhak untuk dimilikinya, yaitu pujian yang Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantunkan untuk beliau, tanpa mengandung unsur berlebihan atau sebaliknya. Dan di antara pujian yang paling agung adalah membaca shalawat untuk beliau.[18]
Kata al-Halimy (338-403 H), shalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti pengagungan terhadap beliau di dunia, dengan mengangkat namanya, menampakkan agamanya dan mengabadikan syariatnya. Sedangkan di akhirat, maksudnya adalah permohonan agar limpahan pahala mengalir padanya, syafaat beliau tercurah untuk umatnya dan kemuliaan beliau dengan al-maqam al-mahmud terlihat jelas.[19]
Termasuk bentuk pengagungan dengan lisan yaitu beradab saat menyebut beliau dengan lisan kita. Caranya adalah dengan menggandengkan nama beliau dengan sebutan Nabi atau Rasulullah, lalu diakhiri dengan shalawat kepada beliau. Allah Ta’ala berfirman :

“Janganlah engkau jadikan panggilan Rasulullah di antara kalian seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lain” (QS. an-Nur/24:63)
Karena itulah para sahabat selalu memanggil Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan panggilan, “Wahai Rasulullah!” atau “Wahai Nabiyullahl”.
Juga hendaknya penyebutan nama beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditutup dengan shalawat ;  “shallallahu’alaihiwasallam” bukan hanya dengan singkatan SAW atau yang semisal. Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Orang yang pelit adalah orang yang tatkala namaku disebut di hadapannya, ia tidak bershalawat padaku. (HR. Tirmidzi, no. 3546 dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu At-Tirmidzi rahimahullahmenyatakan hadits ini “Hasan shahih gharib”).
Termasuk bentuk pengagungan dengan lisan pula yaitu menyebutkan keutamaan-keutamaan beliau keistimewaan dan mukjizatnya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengenalkan sunnah beliau      kepada masyarakat, mengingatkan mereka terhadap kedudukan serta hak beliau mengajarkan pada mereka akhlak dan sifat mulia beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam Menceritakan sejarah hidup beliau serta menjadikannya sebagai pujian, baik dengan bait-bait syair maupun bukan, namun dengan syarat tidak melampaui batas ketentuan syariat, semisal pengagungan yang berlebihan dan yang semisal.
Sedangkan pengagungan dengan anggota tubuh, berarti mengamalkan syariat beliau
meneladani sunnahnya, mengikuti perintahnya secara lahir maupun batin dan berpegang kuat dengannya. Ridha dan ikhlas dengan aturan yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa, berusaha menebarkan tuntunannya, membela sunnahnya, melawan mereka yang menentangnya serta membangun kecintaan dan kebencian di atasnya.
Menjauhi segala yang dilarang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyelisihi perintahnya dan bertaubat serta beristighfar manakala terjerumus ke dalam penyimpangan.
“Taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan konsekwensi keimanan kepada beliau dan keyakinan akan kebenaran yang dibawanya dari Allah. Sebab beliau tidaklah memerintahkan atau melarang dari sesuatu, melainkan dengan seizin dari Allah.
Sebagaimana dalam firman-Nya :

“Kami tidak mengutus seorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah” (QS. an-Nisa’/4:64).
Dan makna ketaatan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menjalankan perintah-perintahnya serta menjauhi larangan-larangannya.[20]
Kesimpulannya adalah pengagungan yang hakiki terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersimpulkan dalam empat kalimat yaitu mempercayai berita yang bersumber dari beliau, mentaati perintahnya, menjauhi larangannya dan beribadah dengan tata cara yang disyariatkannya.[21]

RASOLULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM MELARANG KITA UNTUK BERLEBIHAN DALAM MENGAGUNGKANNYA
Secara garis besar, Allah Ta’ala telah melarang kita dari sikap berlebihan dalam beragama, baik itu dalam keyakinan, ucapan maupun amalan. Sebagaimana dalam QSan-Nisa’/4:171.
Dan Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang secara khusus dari sikap berlebihan dalam memujinya. Sebagaimana dalam sabdanya,
“Janganlah kalian berlebihan dalam, memujiku Sebagaimana kaum Nasrani berlebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka ucapkanlah, “(Muhammad adalah) hamba Allah dan Rasul-Nya” (HR. Bukhari (6/478 no. 3445 —al-Fath) dari Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu).
Dan Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingkari para sahabatnya yang berlebihan dalam memuji beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena khawatir mereka akan melampaui batas, sehingga terjerumus dalam hal yang terlarang. Juga demi menjaga kemurnian tauhid, agar tidak ternodai dengan kotoran syirik dan bid’ah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat berhati-hati dalam mengantisipasi hal tersebut, bahkan sampaipun dari hal-hal yang barangkali tidak dikategorikan syirik atau bid’ah.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita,
(Suatu hari) ada seseorang yang berkata, “Wahai Muhammad, wahai sayyiduna (pemimpin kami), putra sayyidina, wahai orang yang terbaik di antara kami, putra orang terbaik di antara kami!”.
Rasalullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Wahai para manusia, bertakwalah kalian! Jangan biarkan setan menyesatkan kalian. Aku adalah Muhammad bin Abdullah; hamba Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, aku tidak suka kalian mengangkatku melebihi kedudukan yang telah Allah tentukan untukku”. (HR. Ahmad (20/23 no. 12551) dan dinilai shahih oleh adh-Dhiya’ al-Maqdisy (5/25 no. 1627) dan Ibn Hibb in (14/133 no. 6240).
Dengan keterangan di atas, insyaA11ah telah terlihat jelas, mana bentuk pengagungan yang terpuji dan mana bentuk pengagungan yang tercela.
Penulis tutup makalah ini dengan nasehat yang disampaikan Ibn Hajar al-Haitamy rahimahullah (909-974 H), manakala beliau menjelaskan bahwa pengagungan terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendaknya dengan sesuatu yang ada dalilnya dan yang diperbolehkan, jangan sampai melampaui batas tersebut.
Beliau berkata, “Wajib bagi setiap orang untuk tidak mengagungkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali dengan sesuatu yang Allah izinkan bagi umatnya, yaitu sesuatu yang layak untuk jenis manusia. Sesungguhnya melampaui batas tersebut akan menjerumuskan kepada kekafiran, na’udzubillahi min dzalik. Bahkan melampaui batas sesuatu yang telah disyariatkan, pada asalnya akan mengakibatkan penyimpangan. Maka hendaknya kita mencukupkan diri dengan sesuatu yang ada dalilnya.[22]
Beliau rahimahullah menambahkan, “Ada dua kewajiban yang harus dipenuhi :
Pertama, kewajiban untuk mengagungkan Nabi dan mengangkat derajatnya di atas seluruh makhluk.
Kedua, mentauhidkan Allah dan meyakini bahwa Allah Maha Esa dalam dzat dan perbuatan-Nya atas seluruh makhluk-Nya. Barang siapa meyakini bahwa sesosok makhluk menyertai Allah dalam hal tersebut; maka ia telah berbuat syirik. Dan barang siapa merendahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bawah derajat (yang seharus)nya maka ia telah berbuat maksiat atau kafir.
Namun barang siapa yang mengagungkan beliau dengan berbagai jenis pengagungan dan tidak sampai menyamai sesuatu yang merupakan kekhususan Allah,.maka ia telah menggapai kebenaran, dan berhasil menjaga dimensi ketuhanan serta kerasulan. Inilah ideologi yang tidak mengandung unsur ekstrim atau sebaliknya.[23] Wallahu a’lam.
Sumber: Majalah As-Sunnah Edisi 06/ Dzulqa’dah 1431 H Oktober 2010 M
Catatan Kaki:

[1] Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim, 6/457
[2] Judul buku-buku lainnya bisa dilihat, antara lain di mukadimah Syaikh Masyhur bin Hasan Salman hafizhahullahdalam tahqiq jula’ul Afham hlm. 8-29.
[3] Tafsir ar-Rdzy (20/180). Setelah menyebutkan dua syarat di atas, ar-Razy rahimahullah menyebutkan syarat ketiga, yaitu iman. Sebab iman merupakan syarat utama agar amalan membuahkan pahala. Selain Mukmin tidak akan diterima amalannya, baik dia ikhlas maupun tidak, entah sesuai syariat maupun tidak. Karena ia belum mau memeluk agama, yang segala amalan tidak akan diterima melainkan dari pemeluk agama tersebut. Sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya, “Barangsiapa mencari agama selain Islam; maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali Imran/3:85). Karena begitu gamblangnya permasalahan ini, banyak di antara para ulama yang tidak menyebutkan syarat iman ini, sebab hal itu sudah sangat jelas dan tidak Samar.
[4] Tafsir Ibn Katsir (1/385).
[5] Dalam kitabnya Jala’ul Afham (hlm. 380-520), Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan ada empat puluh satu momen disyariatkannya membaca shalawat kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
[6] Lihat : Atsar ash-shalawat al-Wdhidiyyah fi AkhlaqThullabMa’had at-Tahdib Ngoro Jombang ‘Am: 2004, skripsi Institut Studi Islam Darussalam Gontor, yang disusun oleh Ahmad Luthfi Ridha (hlm. a).
[7] Tuntunan Ziarah Wali Songo karya Abdul Muhaimin (hlm. 144).
[8] Rahasia Keutamaan dan Keistimewaan Sholawat karya Nur Muham­mad Khadafi, dinukil dari Atsdr ash-Shalawat al-Wdhidiyyah hlm. 21
[10] Lihat, al-Fishal fi Al-Milal wa al-Ahwa’ wa an-Nihal (2/221).
[11] Lihat, Majmu’ al-Fatawal (1/9).
[12] Diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah dalam mukadimah Shahihnya (1/15).
[13] Lihat Tafsir ibn Katsir (6/203)
[14] Lihat, al-Minhdjfl Syu’ab al-Iman karya al-Halimy (11/124) dan al-jfimi’li Syu’ab al-Imdn karya al-Baihaqy (111/95).
[15] Lihat, al-Minhaj fi Syu’ab al-Iman (II/124).
[16] Lihat, Ibid (11/125).
[17] Diringkas dari Huqaqun Nabi shallallahu’alaihiwasallam ‘aid Uin-matihfl Dhau’i al-Kitfib wa as-Sunnah, karya Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimy (11/466-478).
[18] Di awal tulisan ini, kami telah bawakan beberapa dalil dari al-Qur’an dan Sunnah tentang disyariatkannya membaca shalawat.
[19] Lihat, al-Minhdjfl Syu’ab al-Imfin (2/134).
[20] An-Nur al-Mubin fi Mahabbah Sayyid al-Mursalin karya KH. Muhammad Hasyim Asyari (hlm. 5-6).
[21] Lihat: Ar-Radd ‘ald al-Akhnd’iy karya Syaikhul Islam Ibn Taimi­yyah rahimahullah (hlm. 18) clan al-UsHl ats-Tsaldtsah wa Adillatuhd Karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah (hlm. 23).
[22] A1-Jauhar al-Munazham fi Ziarah Qabr an-Nabi shallallahu’alaihiwasallam wa Karram (hlm. 64) dinukil dariAra’ Ibn Hajar al-Haitami al-Ftiqadiyyah ‘Ardh wa TaqwFm ft Dhau’I ‘Aqfdah as-Salaf karya Muhammad bin Abdul Aziz asy-Syayi rahimahullah (hlm. 450).
[23] A1-jauhar al-Miinazham (hlm. 13) dinukil dari Ara’ Ibn Hajar al-Haitami al-Ftiqfidiyyah.
>> http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/10/12/shalawat-nariyah-dalam-timbangan/

Arsip

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts