Sabtu, 10 Mei 2014

Wahai ikhwah! Hati kita diuji pagi dan sore, setiap saat dari detik-detik kehidupan kita. Lalu apakah kita menyadari hal ini? Satu kesalahan bisa berpengaruh besar terhadap kehidupan hati dan mampu menggugurkan amal. Allah berfirman,

Dan, Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dada kalian dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hati kalian. Allah Maha Mengetahui isi hati.” (Q.S. Ali Imran: 154)

Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Q.S. Al-Hujurat: 3)

Lalu siapakah orang-orang yang hatinya diuji oleh Allah untuk bertakwa itu?
            
Ayat ini turun berkenaan dengan dua orang sahabat yang mulia, Abu Bakar dan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhuma, ketika keduanya mengeraskan suara di hadapan Rasulullah. Al-Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu anhu, bahwa ada serombongan utusan dari Tamim yang ingin menemui Nabi Muhammad. Abu Bakar berkata, “Tunjuklah Al-Qa’qa’ bin Ma’bad bin Zararah agar menjadi pemimpin rombongan.”
Sementara Umar bin Al-Khaththab mengusulkan agar yang menjadi pemimpin rombongan adalah Al-Aqra’ bin Habis.
Abu Bakar berkata, “Rupanya engkau tidak menginginkan kecuali berbeda pendapat denganku.”
 Umar tidak mau kalah dengan berkata, “Aku tidak bermaksud berbeda pendapat denganmu.”
 Keduanya saling berdebat hingga suara mereka semakin meninggi dank eras. Karena itu turun ayat,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya… .” (Q.S. Al-Hujurat: 1)

 Benar. Dalam agama ini tidak ada tutur kata yang dibuat-buat. Maka firman-Nya,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian lebih dari suara Nabi, dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kalian terhadap sebagian yang lain.” (Q.S. Al-Hujurat: 2)

Mengapa begitu? Karena, “Supaya tidak hapus (pahala) amalan-amalan kalian sedangkan kalian tidak menyadari.” (Q.S. Al-Hujurat: 2)

Mahasuci Allah. Ini merupakan masalah yang tidak mendapatkan perhatian yang memadai dari banyak orang.
            
Lalu siapakah yang diancam dalam ayat ini? Apakah yang dimaksudkan adalah Abu Bakar dan Umar bin Al-Khaththab? Padahal Rasulullah pernah bersabda tentang Abu Bakar, “Sekiranya aku boleh mengambil kesayangan dari umatku, tentu kuambil Abu Bakar (sebagai kesayanganku)” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim). 

Sementara tentang Umar bin Al-Khaththab, beliau juga pernah bersabda, “Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, sekali-kali syaitan tidak bertemu denganmu sedang melewati suatu jalan, melainkan syaitan itu akan melewati jalan lain selain jalanmu” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).
            
Namun keduanya bertaubat, kembali kepada Allah, memohon ampunan, dan bahkan salah seorang di antara keduanya bersumpah untuk tidak berbicara kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melainkan seperti secara bisik-bisik.
            
Dari sinilah turun firman Allah berikutnya, “Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar” (Q.S. Al-Hujurat: 3). Artinya, Allah memurnikan hati mereka untuk takwa, sehingga hati itu tidak layak diisi kecuali takwa.
            
Satu sikap sederhana menurut pandangan kita, yang terjadi pada diri dua orang yang paling baik di tengah umat Muhammad, dan juga merupakan ujian yang ringan untuk sebuah kelalaian yang muncul dari keduanya.
            
Tapi apa yang kita katakana tentang keadaan kita? Berapa banyak ujian yang mendatangi kita, namun kita tidak menyadarinya?

Di sini terkandung rahasia yang mengagumkan yang terkandung dalam firman Allah, ‘Sedangkan kalian tidak menyadari’. Sebab berapa banyak amal manusia yang gugur, sedang dia tidak menyadarinya. Dia tidak pernah membayangkan bahwa amalnya gugur karena perbuatan itu atau bahkan dia tidak peduli terhadap amalnya.
            
Berapa banyak perbuatan atau perkataan yang berpengaruh terhadap pelakunya, sementara dia tidak menyadarinya?
            
Jika mengeraskan suara di dekat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hampir saja menggugurkan amal Abu Bakar dan Umar, lalu apa yang terjadi dengan keadaan orang yang mengeraskan suaranya di atas suara kebenaran? Mereka itulah orang-orang yang mendahulukan syariat thaghut dari pada syariat Allah. Mereka itulah orang-orang yang memusuhi Islam dan yang tolong-menolong di jalan syaitan.

 Agar kita lebih dapat memahami makna ujian hati, maka ada baiknya jika kita memperhatikan hadits yang agung ini, yang diriwayatkan Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,beliau bersabda,

Cobaan ditampakkan kepada hati sebagaimana tikar yang dianyam sehelai demi sehelai. Mana pun hati yang disusupi cobaan itu, maka ditorehkan satu titik hitam di dalamnya, dan mana pun hati yang mengingkarinya, maka ditorehkan satu titik putih di dalamnya, hingga cobaan itu ada di atas dua hati: Di atas hati yang putih seperti batu yang putih, yang tidak dapat dimasuki mudharat oleh satu cobaan pun selagi masih ada langit dan bumi, dan yang lain hitam pekat seperti cangkit jubung yang terbalik, tidak mengenal yang ma’ruf, kecuali apa yang menyusup ke dalamnya dari hawa nafsunya” (Diriwayatkan Muslim).

Semoga Allah menjadikan hati kita putih, membersihkannya dari berbagai kedurhakaan, kehinaan, dan syubhat.

Di dalam hadits ini digunakan fi’il mudhari’, yaitu tu’ridhu, yang menunjukkan kelangsungan cobaan dan ujian, sebagaimana cobaan ini tidak datang sekaligus dalam satu waktu, tapi sedikit demi sedikit, sehingga hati benar-benar menjadi hitam. Atau boleh jadi Allah akan menyelamatkannya, sehingga ia lulus dalam ujian, tidak ada cobaan yang membahayakannya selagi ada langit dan bumi.

Syakhul-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Nafsu itu mengajak kepada pelanggaran dan lebih mementingkan kehidupan dunia. Sementara Allah mengajak hamba-Nya supaya takut kepada-Nya, mencegah dari hawa nafsu. Jadi hati berada di antara dua penyeru. Di sinilah letak ujian dan cobaan terhadap hati” (lihat risalah Maradhul-Qalbi wa Shihhatuhu).

Di sini ada satu catatan penting yang harus diperhatikan, bahwa sebagian orang yang sibuk dalam kegiatan dakwah dan mencari ilmu mengira bahwa puncak dari ujian dan cobaan hati ini ialah siksaan fisik, seperti penyiksaan, penahanan, pembunuhan, dan lain-lainnya yang mereka alami, atau boleh jadi berupa siksaan spiritual, seperti orang-orang yang menghindarinya, mengolok-olok, dan mengejeknya. Ini merupakan pembatasan terhadap pemahaman cobaan atas jenis-jenisnya yang lain. Sebab jika tidak, maka jenis cobaan yang paling keras ialah cobaan dan ujian hati. Berapa banyak kita melihat orang-orang yang berhasil dalam ujian penyiksaan (fisik), tapi mereka justru gagal dalam ujian hati. Karena itulah di antara doa orang-orang mempunyai kedalaman ilmu ialah,

Wahai Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karunikanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia)” (Q.S. Ali Imran: 8).

Kami sudahi pembuka tentang makna ujian dan cobaan hati ini dengan seruan Rabbani terhadap orang-orang Mukmin, yang di dalamnya terkandung peringatan yang menakutkan,

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan” (Q.S. Al-Anfal: 24).


Kami memohon kepada Allah supaya Dia melimpahkan taufik kepada kita, menolong kita untuk memenuhi seruan-Nya dan seruan Rasul-Nya, supaya menghidupkan hati kita, tidak membatasi antara diri kita dengan hati kita dengan kedurhakaan-kedurhakaan. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas semua itu.

Bersambung, Insyaa Allah...

Disalin dari buku :Ujian Hati, Terbitan Darul Haq, 
Karya DR Nashir bin Sulaiman Al-Umar
Judul Asli : Imtihaanul Qalbi

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts