Sabtu, 10 Mei 2014

Pembicaraan tentang hati memiliki urgensi yang spesifik, karena beberapa pertimbangan, diantaranya yang penting:

Pertama:
Allah memerintahkan hamba supaya membersihkan hati dan mensucikannya. Bahkan Allah menjadikan sebagian dari tugas risalah Al-Muhammadiyah ialah mensucikan hati dan memprioritaskan untuk mengajarkan Al-Kitab dan Al-Hikmah kepada mereka, mengingat pentingnya pensucian hati ini. 

Firman Allah,

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah.” (Lihat QS. Al-Jumu’ah: 2)
            
Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan tentang firman Allah, “Dan, pakaianmu bersihkanlah” (QS. Al-Muddatstsir: 4), jumhur mufassir salaf dan para ulama sesudah mereka menyatakan bahwa yang dimaksudkan ats-tsiyaab di sini adalah hati (Risalah Amradhil-Qulub, hal.52).

Allah berfirman tentang orang-orang Yahudi dan orang-orang munafik, “Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat, mereka beroleh siksaan yang besar.” (Lihat Q.S. Al-Maidah: 41)

Hal ini sudah cukup dijadikan alasan yang kuat untuk membicarakan masalah hati.

Kedua:
Adanya pengaruh hati yang kuat dalam kehidupan manusia, yaitu sebagai pengarah dan konseptor, sementara anggota tubuh sebagai pelaksananya.
            
Abu Hurairah berkata, “Hati itu raja, sedangkan anggota tubuh merupakan pasukannya. Jika rajanya baik, maka pasukannya ikut baik pula. Jika rajanya jahat, maka jahat pula pasukannya.

Ketiga:
Di antara sebab substansial untuk mengangkat pembicaraan tentang tema ini, karena kelalaian mayoritas manusia memperhatikan hati mereka sendiri. Sebagai misal, amal-amal yang mendetail dan bagaimana mereka memahami permasalahan dengan pemahaman yang mengagumkan, apakah menggerakkan jari (ketika tahiyat dalam shalat) termasuk As-Sunnah? Bagaimana caranya dan kapan waktunya? Dan masih banyak masalah lain. Tidak dapat diragukan, pembahasan mengenai masalah ini bermanfaat dan penting. Tapi pada saat yang sama mereka melalaikan amal-amal hati dan keadaan-keadaannya, apa penyakit dan titik-titik kelemahannya. Padahal masalah ini tidak kalah pentingnya.

Keempat:
Banyak masalah yang menimpa manusia, khususnya kalangan pelajar, yang disebabkan berbagai penyakit yang menyerang hati, yang tidak didasarkan pada hakikat syar’iyah, sehingga berbagai masalah ini memvisualisasikan keadaan hati orangnya dan terendapnya berbagai penyakit di dalamnya, seperti dengki, iri, dusta, takabur, penghinaan, buruk sangka, dan lain-lainnya.
            
Cara untuk menuntaskan masalah-masalah tersebut ialah dengan menyembuhkan hati. Jika tidak, maka sewaktu-waktu penyakit tersebut akan muncul jika ada pemicu dan penyebabnya.
            
Dengan melihat realitas kehidupan masyarakat, mencuatnya berbagai masalah social, pelanggaran terhadap hak dan harta, maka semakin menguatkan hal itu.

Kelima:
Kesehatan dan kesucian hati menjadi sebab kebahagiaan dunia dan akhirat. Keselamatan hati dari dusta, dengki, kebencian, dan berbagai macam penyakit menjadi sebab kebahagiaan dan ketenteraman dunia dan akhirat. 

Firman Allah,

Di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Q.S. Asy-Syu’ara’: 88-89)

Perhatikan keadaan Abu Bakar radhiyallahu anhu dan orang-orang yang diberi hati yang sehat dan selamat, yang terbebas dari segala penyakit dan cela.

Keenam:
Al-Imam 'Abdullah bin Jumrah berkata, “Aku ingin sekiranya di antara para fuqaha tidak ada memiliki kesibukan kecuali mengetahui tujuan yang diinginkan manusia dari amalnya. Tidak banyak yang diberi dari mereka yang diberi, kecuali pengabaian tentang tujuan amal itu.” (Mudharah Syaikh Sulaiman Al-Audah ‘anin-Niyah, pengantar Ibnul-Haj, 1/3)

Ketujuh:
Karena kedudukan yang diberikan Allah kepada hati ini di dunia dan di akhirat. Sebagai contoh perhatikan dalil-dalil tentang hal ini di dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. 

Firman Allah,

Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Q.S. Asy-Syu’ara’: 87-89)
            
Tidak ada orang yang selamat pada Hari Kiamat kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih. 

Firman-Nya yang lain,

Dan, didekatkan surge itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepada kalian (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturanNya), (yaitu) orang-orang yang takut kepada Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat.” (Lihat Q.S. Qaf: 31-33)
            
Disebutkan dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa-rupa kalian dan tidak pula badan-badan kalian, tapi Dia melihat hati dan amal kalian.

Di dalam Ash-Shahihain disebutkan dari hadits An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu anhu, secara marfu’,

Sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal darah. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasadnya, dan jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah, ia adalah hati.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim)
            
Hadits ini sudah cukup dijadikan nasihat dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikir.

Kedelapan:
Perkataan-perkataan hati, yaitu pembenaran dan pengakuannya; amal dan gerakan-gerakannya seperti takut, berharap, cinta, tawakal, dan lain-lainnya, merupakan bagian dari rukun iman yang paling agung menurut Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, yang semua itu tidak akan ada jika iman tidak ada. Coba lihat orang-orang munafik yang menyatakan syahadah dengan lisannya, bergabung bersama orang-orang Muslim dalam amal-amal zhahir mereka, tapi mereka tidak memiliki pembenaran dan pengakuan. AKibat yang mereka alami seperti firman Allah,

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan, kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (Q.S. An-Nisa’: 145)

Kesembilan:
Banyak orang yang sangat antusias hendak mengetahui tujuan dan keinginan yang terpendam di dalam hati manusia. Mereka membebani diri dengan hal-hal yang sebenarnya di luar kesanggupan dan mengabaikan hal-hal yang zhahir. Mereka membuat aturan-aturan hukum untuk dapat mengungkap amal hati, yang tidak diketahui kecuali oleh Allah Yang Maha Mengetahui yang gaib. Anehnya, di sana ada orang yang menyatakan bahwa perbuatan semacam ini justru mencerminkan kecerdasan yang tinggi, kekuatan firasat, dan kepandaian. Padahal itu sama sekali bukan firasat yang syar’iyah sedikit pun. Kita diperintahkan untuk menghukumi manusia berdasarkan zhahir mereka, sedangkan perkara hati kita serahkan kepada Allah.
            
Alhasil, jika seperti ini kedudukan dan urgensi hati, maka mengapa kita tidak tegak berdiri untuk memperhatikan amal kita yang didasari hati, atau apa yang dilakukan hati terhadap diri kita? Berapa banyak kita menyibukkan diri dengan berbagai urusan dunia, penghidupan dan pekerjaan, kalaupun tersisa sedikit perhatian, maka perhatian ini pun kita tujukan ke amal-amal yang zhahir?

            
Tidak banyak di antara kita yang memperhatikan masalah hati ini, tidak pula memberikan perhatian yang memadai. Semoga dengan menyebutkan urgensi hati dan pengaruhnya dalam kehidupan manusia ini dapat mendorong kita untuk menaruh perhatian terhadap hati dan memberikan kedudukan yang sepadan baginya.

Bersambung, Insyaa Allah...

Disalin dari buku :Ujian Hati, Terbitan Darul Haq, 
Karya DR Nashir bin Sulaiman Al-Umar
Judul Asli : Imtihaanul Qalbi

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts