Sabtu, 12 April 2014


Abul Aliyah berkata bahwa Fir’aun mengetahui keimanan istrinya, lalu dia keluar di hadapan khalayak ramai seraya berkata, “Apa yang kalian ketahui tentang Asiyah binti Muzahim?” Mereka memujinya. Maka Fir’aun berkata kepada mereka, “Sesungguhnya dia menyembah Tuhan selain aku.“ Mereka berkata, “(Jika demikian) bunuhlah dia.” Kemudian dibuatkan untuknya tiang. Setelah itu tangan dan kakinya diikat.
Abu Hurairah menyebutkan, “Sesungguhnya Fir’aun mengikat istrinya pada empat pasak; di kedua tangannya dan kedua kakinya. Apabila mereka pergi meninggalkannya, malaikat menaunginya dari sengatan teriknya matahari.”
Di detik-detik akhir ketika beliau dieksekusi atas perintah suaminya sendiri, Asiyah berdoa dengan doa yang diabadikan dalam al-Qur’an:

“Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim.” (Qs. At-Tahrim: 11).
Doa itu bersamaan dengan kehadiran Fir’aun di tempat penyiksaan itu. Maka dia (Asiyah) tertawa ketika melihat rumahnya di surga. Fir’aun berkomentar, ”Apakah kalian tidak merasa heran dengan kegilaannya. Kita menyiksanya, namun dia tertawa.” Setelah itu keluarlah ruhnya dari jasadnya.

Begitulah Asiyah, wanita mukminah yang berani mengambil pilihan mulia sekaligus berani menghadapi resiko keimanan. Mungkin tampak tragis bagi orang yang tak beriman, atau bagi para penggemar sinetron di mana happy ending cerita dilihat dari kemenangan duniawi. Hakikatnya, kematian beliau begitu indah, tersungging senyum tatkala diperlihatkan untuknya rumah di jannah. Pemandangan yang membuatnya makin tahu betapa remeh temeh isi istana suaminya di dunia yang fana.
Pilihan dengan Banyak Resiko

Memang, ketika seseorang menetapkan pilihannya di jalan yang Allah gariskan, berarti dia telah siap dengan berbagai resiko. Tawakal sebelum keberangkatan tidak kemudian menghilangkan aral melintang dan mengubah jalan menjadi tol yang mulus dan lancar. Akan tetapi, supaya diberi kekuatan untuk bisa melampaui semua hambatan dan rintangan. Maka jangan disangka, bahwa ketika seseorang menjatuhkan pilihan hidupnya di jalan yang benar lalu kenikmatan dunia berduyun-duyun menghampirinya. Atau tiba-tiba ia mendadak kaya, banyak teman dan saudara, tak ada musuh dan panen sanjungan.

Bahkan pilihan ini mengundang seabrek resiko duniawi di belakangnya. Apalagi, ketika pilihan itu dijatuhkan saat seseorang berada di akhir zaman, di mana kebenaran akan dianggap aneh, warna kemaksiatan dan kesesatan lebih dominan daripada ketaatan. Begitu berat untuk bertahan dalam kebenaran, hingga keadaannya diumpamakan Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan menggenggam bara api. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ

“Akan datang atas manusia, suatu zaman di mana orang yang bersabar di atas agamanya seperti penggenggam bara api.” (HR Tirmidzi, al-Albani mengatakan shahih).

Syaikh as-Sa’di menjelaskan hadits tersebut, “Ketika itu orang yang berpegang teguh pada agamanya sangat sedikit. Golongan minoritas tersebut keadaannya berat sebagaimana orang yang memegang bara api. Karena banyaknya penentang, bertebaran propaganda yang menyesatkan, merajalela syubhat yang menyebabkan keraguan. Kebanyakan manusia juga telah tenggelam dalam kesenangan syahwat dan menghamba pada dunia lahir bathin, serta terjangkiti lemah iman. Maka ketika itu, orang yang berpegang teguh terhadap agamanya menjadi asing, karena sedikitnya pendukung.”

Seperti juga zaman ini, pilihan untuk meniti jalan kebenaran identik dengan memilih berbeda dengan orang kebanyakan. Di saat orang-orang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan penghasilan, ia hanya menggunakan cara halal untuk mendapatkannya. Sehingga secara matematis, lahan penghasilannya terhitung sempit, cara mencarinya terbilang sulit.
Hanya keimanan yang membuatnya bisa bertahan. Keyakinan bahwa takwa adalah solusi yang dengannya rejeki yang baik-baik akan datang; wa man yattaqillaha yaj’al lahu makhraja wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasib, barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan menjadikannya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tak terduga.

Ia juga yakin, bahwa cara yang sesat dan haram tidak akan menambah sedikitpun kalkulasi jatah rejeki yang telah Allah takdirkan untuknya. Sementara cara yang dilakukan dalam mencarinya akan menambah kalkulasi dosa. Bahwa banyak orang yang bertakwa diuji dengan sedikitnya harta memang fakta. Akan tetapi, itu bagian dari resiko dan pengorbanan yang menjadi batu ujian baginya untuk mendapatkan nikmat tiada tara dan tak ada habisnya. Karenanya, terhadap ujian-ujian itu mereka menikmatinya.

Seperti Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu, sang duta pertama dalam Islam. Di masa remajanya dikenal ketampanannya, mewah cara berpakaiannya, dan banyak gadis yang bisa dibilang tergila-gila kepadanya. Minyak wangi yang dipakainya meninggalkan bekas aroma yang bisa dikenali setelah kepergiannya. Akan tetapi pilihannya terhadap Islam membuat ibunya murka. Beliau diboikot oleh keluarganya, hingga harus menerima kenyataan sebagai pemuda yang berpenampilan sederhana dan bahkan cenderung di bawah rata-rata. Tak hanya sebatas itu, ia telah mewakafkan dirinya untuk membuka jalan dakwah di Madinah yang penuh berkah dan memilih syahid sebagai akhir kehidupannya. Di perang Uhud, beliau gugur sebagai syuhada’ yang hanya memiliki kain yang ketika ditutup kepalanya maka tampaklah sebagian kakinya, dan jika ditutup kakinya tampaklah kepalanya.
Ini bukan akhir yang tragis, akan tetapi permulaan dari kehidupan yang total bahagia tak ada kesedihan lagi padanya. Kenikmatan yang tidak ada lagi penderitaan apapun juga.

Menghadapi Godaan Syahwat dan Tuntutan Taat

Resiko yang tak kalah berat dialami oleh penempuh jalan kebenaran adalah, ketika mereka harus fokus untuk menyiapkan bekal dan bekerja keras mencapai tujuannya. Sementara ia melihat di kanan kirinya kebanyakan orang berleha-leha. Seperti hari ini, ia mendatangi masjid yang sepi di saat orang-orang berbondong-bondong membanjiri tontonan dan tempat hiburan. Ia juga harus rajin menghadiri majelis ilmu, sementara kebanyakan orang lebih asyik dengan sinetron.
Selain itu, ia harus memenjarakan nafsu keinginannya, di saat yang lain dengan bebas mengumbar syahwatnya. Menjaga pandangan di saat pemandangan yang menarik nafsu terjaja di mana-mana. Betapa berat mengendalikan syahwat di saat berbagai kesenangan mudah didapatkan dengan banyak pilihan kesenangan yang menjurus kepada dosa.

Ringkasnya, orang yang menempuh jalan menuju jannah harus ekstra sabar menghadapi gangguan maupun godaan. Dan memang begitulah karakter jalan menuju jannah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan hadits Nabi shallalahu alaihi wasallam:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Jannah itu ditutupi dengan berbagai hal yang tidak disukai dan neraka itu ditutupi dengan berbagai hal yang disukai oleh syahwat.” (HR Muslim).

Beliau mengatakan, “Tak ada jalan menuju jannah melainkan harus melalui jembatan ‘makarih’ , yakni sesuatu yang tidak disukai nafsu sehingga untuk menempuhnya membutuhkan kesungguhan untuk memerangi hawa nafsu. Maka tidak mungkin seseorang masuk jannah kecuali setelah menembus jembatan itu, dan tidak mungkin seseorang menembusnya kecuali dengan kesabaran. Adapun neraka, ia ditutupi dengan berbagai hal yang disukai oleh syahwat. Tidak mungkin bisa menahan keinginan untuk menempuh jalan neraka kecuali bagi orang yang bersabar dari kemaksiatan dan mencegah nafsu darinya.”
Pun Begitu, Mereka Menikmatnya

Jalan kebenaran itu, betapapun sulit, berat dan berbahaya namun orang-orang yang beriman menikmati dan mencintai jalan ini. Padanya ada kelezatan yang terlalu indah untuk diungkapkan, tak ada yang tahu kecuali orang yang telah merasakannya.
Kenikmatan ini membuat yang berat terasa ringan, yang sulit terasa mudah dan terasa enteng segala tantangan yang dilaluinya.
Seperti Utsman bin Madz’un ketika sebelah matanya terluka di jalan Allah, maka Walid bin Mughirah yang merupakan pamannya menyayangkan ia lantaran telah mencabut perlindungan Walid atasnya. Ketika Walid berkata, “Wahai keponakanku, jika matamu kebal terhadap bahaya yang menimpa, maka sungguh, benteng perlindunganmu amat tangguh!” Yakni Walid menawarkan agar dia mau berlindung kepadanya dari gangguan orang-orang Quraisy. Akan tetapi Utsman menjawab, “Tidak, bahkan mataku yang sehat ini amat membutuhkan pula pukulan yang telah dialami saudaranya (mata yang satunya) di jalan Allah. Dan sungguh wahai Abu Abdi Syams, saya berada dalam perlindungan Allah yang lebih kuat dan lebih mampu daripadamu!”

Seperti juga sahabat Abdullah bin Mas’ud yang berperawakan kecil dan anak seorang budak. Di awal-awal dakwah Islam, beliau berani membacakan al-Qur’an di hadapan para pembesar Quraisy yang sedang berkumpul. Hingga mereka berkata, “Apa yang sedang dibaca oleh Ibnu Ummi Abdin? Celaka dia! Dia sedang membaca sebagian ayat yang dibawa oleh Muhammad!”

Mereka pun langsung menghampiri Abdullah dan memukuli wajahnya. Namun, ia masih saja meneruskan bacaannya sehingga batas yang Allah tentukan. Kemudian ia datang menghampiri para sahabatnya dan darah pun mengalir dari tubuhnya. Para sahabatnya berkata, “Inilah yang kami khawatirkan pada dirimu!”
Beliau tidak kapok ataupun menyesal dengan apa yang telah diperbuatnya, bahkan beliau berkata, “Demi Allah, mulai saat ini tidak ada yang lebih berat dari para musuh Allah. Jika kalian mau, besok pagi aku akan membuat mereka semua seperti ini!” Para sahabat menjawab, “Jangan, cukuplah karena engkau telah berani membacakan kepada mereka apa yang mereka benci!”
Dan masih banyak kisah yang menggambarkan, betapapun berat resiko di jalan kebenaran, bisa dijalani dan bahkan dinikmati oleh orang-orang yang istiqamah di atasnya.

Adapun orang-orang yang cenderung meninggalkan jalan kebenaran, apakah lantas terbebas dari resiko duniawi? Tidak! Sama sekali tidak! Karena dunia memang negeri yang deritanya dialami oleh orang mukmin maupun kafir, shalih maupun thalih (jahat). Jikalau seseorang merasakan kesenangan, tapi penderitaan untuk mendapatkannya atau akibat yang dialaminya jauh lebih berat dibandingkan hasil yang didapatkannya. Hanya kenikmatan jannah yang mampu menghapus penderitaan dunia. Semoga Allah menjadikan hidup kita sebagai sarana menambah ketaatan kita, dan menjadikan kematian kita sebagai akhir dari segala penderitaan dan keburukan. Aamiin. (Abu Umar Abdillah).

>>Artikel :www.arrisalah.net

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts