Sabtu, 19 April 2014

Oleh: Mamduh Farhan al-Buhairi

Salah seorang da’i mengisahkan kisah nyatanya sendiri, dia berkata:
Pada suatu kesempatan, aku duduk disebuah daratan, kupalingkan pandangankan kesana kemari melihat makhluk-makhluk Allah Ta'ala. Akupun terkagum-kagum dengan ciptaan ar-Rahman.

Seekor semut menarik pandangan mataku, dia berkeliaran disekitarku untuk mencari sesuatu, mencari, dan mencari. Tidak merasa terbebani juga tidak bosan. Ditengah-tengah pencariannya, dia menemukan sisa-sisa bangkai belalang, tepatnya adalah kaki belalang.

Diapun menyeretnya, dan menyeretnya, dia berusaha untuk membawanya ketempat tertentu yang telah ditentukan oleh hukum mereka didunia semut. Dia sudah banyak berusaha dalam usahanya tersebut.

Setelah beberapa waktu, dan kesungguhan, dia merasa tidak bisa membawa kaki belalang tersebut. Lalu dia tinggalkan buruan berharga tersebut, kemudian pergi ke suatu tempat yang tidak ku ketahui, dan diapun menghilang.
Selang beberapa waktu, dia kembali bersama dengan sejumlah besar semut.

Disaat aku melihat kemana mereka menuju, aku tahu bahwa semut yang tadi telah mengajak mereka semua untuk membantunya mengangkat apa yang tidak mampu dia angkat. Akupun ingin hiburan sedikit, kuambil kaki belalang tersebut, lalu kusembunyikan. Maka dia dan semut-semut lain yang bersamanya mencari kaki tersebut, mereka mencarinya kesana kemari tanpa ada hasil, hingga mereka putus asa akan keberadaannya, lalu merekapun pergi meninggalkan tempat tersebut.

Setelah itu, semut yang pertama datang kembali sendirian menuju tempat tadi, sebelum dia sampai pada tempat tadi, ku kembalikan kaki belalang dihadapannya. Maka mulailah dia mengitari dan melihat disekelilingnya. Lalu dia berusaha untuk menyeretnya lagi, berusaha dan berusaha, hingga dia merasa lemah.

Kemudian dia pergi meninggalkan tempat itu sekali lagi. Akupun yakin bahwa dia pergi untuk memanggil kabilah semutnya guna membantunya untuk mengangkat kaki belalang yang ditemukannya tersebut. Setelah itu, datanglah sekumpulan semut bersama semut tadi, dan kukira itu adalah kelompok semut yang sama seperti tadi!!

Merekapun datang, dan saat aku melihat mereka berjalan di belakang semut pertama menuju tempat tadi, akupun banyak tertawa, lalu kuambil kaki belalang dan kusembunyikan dari mereka sekali lagi. Merekapun mencari kesana kemari, mereka mencari dengan penuh keikhlasan, demikian pula semut tadi mencari dengan sepenuh semangat dan keyakinannya, berputar kesana kemari, melihat kekanan dan kekiri, agar melihat sesuatu, akan tetapi, tidak ada sesuatupun.

Pada saat seperti ini, terjadilah sesuatu yang aneh. Sekumpulan semut itu berkumpul bersama yang lain setelah mereka bosan mencari, dan diantara mereka terdapat semut yang pertama. Kemudian tiba-tiba mereka menyerangnya, lalu memotong-motongnya ganas dihadapanku.

Dan demi Allah, aku melihat kepada mereka, sementara aku ada pada keterkejutan yang besar, apa yang terjadi membuatku takut… mereka membunuhnya… mereka bunuh semut yang tidak berdosa tersebut… mereka memotong-motongnya dihadapanku.

Ya, mereka memotong-motongnya dihadapanku… dia terbunuh karena aku… mereka membunuhnya karena mereka menyangka bahwa dia telah berdusta kepada mereka!!!

Subhanallah, hingga bangsa semut memandang dusta sebagai aib, dan kekurangan, bahkan dos besar yang pelakunya dihukum bunuh!!
Semut menganggap dusta adalah sebuah kejahatan, dan memberikan hukuman atasnya!!

Maka bagaimana jika dusta itu membawa keburukan, atau keragu-raguan yang dibelakangnya akan timbul fitnah, peperangan, dan kehancuran rumah tangga?!
Maka dimanakah orang yang bisa mengambil pelajaran dari semut kecil ini?!

@FPMajalahQiblati

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts