Minggu, 30 Maret 2014


Akhi Ukhti...

salah omong
salah bertingkah
salah faham
itu semua wajar


biasa. namanya juga manusia

kalau ada saudara kita yg minta maaf atas kesalahannya

hati yg besar akan mudah memberikan maaf

kemudian kalau dia mengulangi kesalahannya

kadang kita mulai enggan memaafkan

namun seharusnya kita tetap memaafkan

karena kitapun sering mengulangi kesalahan yg sama pd Allah

dan Allah tetap menerima kita

JANGAN SOK SUCI.
SEAKAN DIRIMU TIDAK PERNAH BERBUAT SALAH

bacalah dg seksama hadits di bawah ini

Dari 'Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma,ia berkata:


( جاء رجل إلى النبي - صلى الله عليه وسلم -
 فقال: يا رسول الله كم نعفو عن الخادم؟
 فصمت، ثم أعاد عليه الكلام فصمت، فلما كان في الثالثة قال
: اعفوا عنه في كل يوم سبعين مرة )( أبو داود

Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu ia berkata:"Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, berapa kali kita memaafkan (kesalahan) pembantu?"

Lalu beliau pun diam. Kemudian orang itu mengulang perkataannya. Dan Nabi pun masih terdiam.

Lalu yang ketiga kalinya beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
" Maafkanlah dia (pembantu) setiap hari tujuh puluh kali." (HR. Abu Dawud)


ingat 70 kali berbuat salah

kita seharusnya tetap memberi maaf

MAAF ITU INDAH
DENDAM DAN SAKIT HATI ADALAH DURI DALAM HATI

DURI DI KAKI SAJA BUANG

APALAGI DI DALAM HATI

 Ditulis oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Hasan Basalamah MA حفظه الله تعالى

 ┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Grup WA ANNASHIHAH

Selasa, 25 Maret 2014

http://inilah-bukti-kesesatan-syiah.blogspot.com/2013/04/anjing-pun-membenci-orang-yang-mencela_27.html
Abdul Mukmin az-Zahid menuturkan, “Di daerah kami ada seorang beraliran Syi’ah Rafidhah. Di jalan menuju rumahnya ada seekor anjing yang dilewati oleh setiap orang baik tua maupun anak kecil tetapi anjing itu tidak mengganggunya. Namun, anehnya, jika yang lewat di jalan itu adalah orang Syi’ah Rafidhah, maka seketika anjing itu bangun, menyerang, dan merobek bajunya. Kejadian itu berulang-ulang sehingga dia mengadu kepada pemerintah saat itu yang sealiran dengannya, lalu diutuslah beberapa orang untuk memukul dan mengusir anjing tersebut dari desa.

Suatu hari, ketika orang Syi’ah itu sedang duduk di tokonya yang berada di pasar, ternyata anjing itu datang lagi dan naik di loteng pasar lalu menyerangnya. Akhirnya, karena merasa malu, orang Syi’ah tersebut keluar dan pindah dari desa tersebut.”
(Al-Mantsur minal Hikayat wa Sualat, oleh al-Hafizh Abu Fadhl Muhammad bin Thahir al-Maqdisi hlm. 141).
Kisah ini bukanlah sesuatu yang mustahil terjadi, karena Syi’ah adalah kelompok yang mencela sahabat, menghina para istri Nabi. Syi’ah juga mengatakan Jibril telah keliru menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad dan penyimpangan fatal lainnya.

***
Sumber dari tulisan Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi. Lihat majalah al-Furqon Edisi 1 Th. ke-12 halaman 27.

Senin, 24 Maret 2014

Sumber : Shoutussalam.com
Ada-ada saja kelakuan Syiah penghina shahabat.
Entah lelucon guyonan santai atau memang pernyataan serius, seorang ulama Syiah menyatakan bahwa hilangnya pesawat MH370 Malaysia Airilines disebabkan karena ulah Imam Mahdi mereka yang saat ini di dalam gua.

Maktab Sayyid Syirazi, Ulama Syiah menegaskan bahwa pesawat Malaysia Airlines MH 370 saat ini disembunyikan oleh Imam Mahdi di markasnya yang berada di gua. Tokoh agama Persia ini menyatakan bahwa Malaysia telah menyebabkan kemarahan Imam mereka yang kedua belas. Menurutnya, seluruh pemerintahan Malaysia harus meminta maaf pada seluruh Rafidhah.

Dari akun Twitternya, Dr. Ali Al-Rabi’i mempertanyakan kekonyolan ini, “Pesawat Malaysia yang hilang saat ini berada pada Imam Mahdi Syiah di Sirdab, sebagaimana yang mereka klaim. Pertanyaannya, bagaimana bisa pesawat Air Bus itu dimasukkan ke dalam Goa Sirdab?”
Entah main-main atau serius, keberadaan Imam Mahdi ala Syi'ah yang dideskripsikan secara konyol memang seringkali menyebabkan banyak anekdot bermunculan.

Aya aya wae..

Sabtu, 22 Maret 2014

MASIH BINGUNG SOAL IKUT PEMILU ATAU GOLPUT, SIBUKKANLAH DIRI ANDA DENGAN MENUNTUT ILMU, INSYA ALLOH AKAN ALLOH TUNJUKKAN JAWABANNYA DENGAN ILMU ITU.

SYAIKH ABDUL MUHSIN AL ABBAD AL BADR ditanya oleh salah satu peserta pengajian kitab shohih muslim tentang solusi menyikapi pemilu 2014.

Ya syaikh, sebentar lagi di negara kami akan diadakan pemilu, bagaimana kami menyikapinya ?

"Pada asalnya keikutsertaan seorang dalam pemilu tdk diperintahkan. Namun bila diantara kandidat itu ada yang baik dan buruk, maka tidak diragukan lagi memberikan hak suara kita untuk mendukung kandidat yang baik itu sesuatu hal yang dituntut. Jika diantara kandidat yg maju itu ada yang lebih baik hubungannya dengan kaum muslimin dan kepemimpinannya kelak akan mendatangkan manfaat bagi kaum muslimin, maka tidak mengapa memilihnya". ( 18 jumadil ula 1435 ).


Fatwa Syaikh Prof. Dr. Ibrahim bin Amir ar Ruhailiy -hafidzohullah- (guru besar fak. Dakwah wa Ushuluddin Ismic University of Madinah, salah seorang ulama yang mengajar di masjid Nabawi) mengenai PEMILU di Indonesia.
Semalam di majelis Syaikh Ibrahim ar Ruhailiy di masjid Nabawi, ada seorang hadirin bertanya kepada beliau, "
Sebentar lagi di negeri kami akan ada PEMILU. Apa nasehat Anda dalam menyikapi PEMILU tersebut.. ?"

Jawaban Syaikh: " Sejatinya memilih pemimpin dengan cara seperti itu tidak disyariatkan. Karena ada unsur tasyabbuh dengan orang-orang kafir dan karena pada asalnya kepemimpinan itu tidak diberikan kepada orang yang memintanya. Kita lihat dalam dunia PEMILU saat ini, setiap kandidat yang mencalonkan diri menyeru kepada masyarakat agar memilih dirinya. Sebagaimana yang sudah kita kenal dengan istilah kampanye. Setiap kandidat berseru kepada masyarakat," Pilih saya.." dengan dibumbuhi obralan janji-janji supaya masyarakat mau memilihnya. Ini merupakan alasan paling sederhana yang menunjukkan tidak benarnya sistem PEMILU.
Jadi memang pada asalnya tidak dibenarkan dan tidak disyariatkan, karena pada prinsipnya tampuk kepemimpinan itu tidak diberikan kepada orang yang memintanya... Seandainya Syariat ini diterapkan, kemudian ada serang berkata," Pilihlah saya sebagai pemimpin kalian.." niscaya tak seorang muslim pun yang mau memilihnya sebagai pemimpin, sebagai bentuk komitmen mereka terhadap Syariat.

AKAN TETAPI...

bila PEMILU di suatu negara itu merupakan suatu keharusan bagi kaum muslimin, dan kaum muslimin tidak memiliki otoritas. Yang mendapatkan suara terbanyak dialah yang akan menjadi pemimpin serta kandidat yang maju lebih dari satu orang, kemudian kaum muslimin menilai bahwa mashlahat bagi kaum muslimin ada pada salah seorang dari kandidat tersebut, boleh jadi karena kebaikannya lebih dominan atau karena keburukannya yang lebih sedikit. Maka dalam keadaan seperti itu boleh-boleh saja seorang muslim ikut memberikan hak suaranya untuk memilih kandidat tersebut. Sebagai bentuk pengamalan terhadap kaedah :

ارتكاب أخف للضررين

"Memilih mudharat yang paling ringan dari dua mudharat."

Atau mengaplikasikan kaedah lain yang sudah dikenal oleh para Ulama:

الضرورة تبيح المحظورات

"Kondisi dharurat membolehkan sesuatu yang dilarang."

Hal ini sudah dijelaskan oleh para Ulama kibar dan mereka juga telah memberikan fatwa terhadap permasalahan ini, seperti Syaikh Abdul 'Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin dan yang lainnya.

Namun tak dapat dipungkiri, masih ada sebagian orang yang memilih untuk golput dengan alasan," kami tidak mengakui keabsahan PEMILU.."Sehingga dampaknya adalah keberadaan kaum muslimin di tengah-tengah masyarakat suatu negeri tidak ada nilainya (dalam memilih pemimpin).

Semua orang telah mengetahui bahwa kaum muslimin tidak ikut PEMILU, artinya kaum muslimin tidak ada andil dalam memilih pemimpin di suatu negeri, sehingga mereka hanya pasrah terima jadi saja tanpa memperhatikan nasib hak-hak mereka kedepannya. Berbeda halnya bila mereka menyadari bahwa keberadaan kaum muslimin di suatu negara itu memiliki pengaruh, sampai halnya di negara kafirpun, demi terpenuhinya hak-hak mereka kedepannya.
Oleh karena itu dalam keadaan seperti ini kita katakan," tidak mengapa ikut memilih kandidat yang kepemimpinannya kelak akan memberi mashlahat bagi kaum muslimin."

Akan tetapi perlu kita ingat... bahwa niat keikutsertaan kita dalam PEMILU adalah demi kemaslahatan Islam dan kaum muslimin, bukan karena legalitas terhadap sistem PEMILU.

Rasulullah  ﷺ bersabda,

اِنما الأعمال بالنيات

"Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niat."

Catatan :

• Fatwa-fatwa tersebut tidak ada kaitannya dengan partai tertentu
• Dasar yang melandasi fatwa ini adalah kaidah yang berlaku pada bab maslahat dan mudharat: Apabila bertemu dua mafsadah, maka diambil mafsadah yang paling ringan, dan kaedah: keadaan dharurat membolehkan sesuatu yang dilarang.
• Fatwa ini bukan sebagai bentuk legitimasi terhadap sistem demokrasi.

20 Jumadil Ula 1435 H

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=822556227761750&id=691593994191308

Rabu, 19 Maret 2014

Anjuran Berwasiat Kepada Calon Isteri 
Anas mengatakan bahwasanya para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika mempersembahkan (menikahkan) anak perempuan kepada calon suaminya, mereka memerintahkan kepadanya untuk berkhidmat kepada suami dan senantiasa menjaga hak suami.

Pesan Bapak Kepada Anak Perempuannya
 Saat Pernikahan Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib mewasiatkan anak perempuannya,
seraya berkata,

“Jauhilah olehmu perasaan cemburu, karena rasa cemburu adalah kunci jatuhnya thalak. Juga jauhilah olehmu banyak mengeluh, karena keluh kesah menimbulkan kemarahan, dan hendaklah kamu memakai celak mata karena itu adalah perhiasan yang paling indah dan wewangian yang paling harum”.

Pesan Ibu Kepada Anak Perempuannya 
 Diriwayatkan bahwa Asma binti Kharijah Al-Farzari berpesan kepada anak perempuannya disaat pernikahannya,
“Sesungguhnya engkau telah keluar dari sarang yang engkau tempati menuju hamparan yang tidak engkau ketahui, juga menuju teman yang engkau belum merasa rukun dengannya. Oleh karena itu jadilah engkau sebagai bumi baginya, maka dia akan menjadi langit untukmu.
Jadilah engkau hamparan baginya, niscaya ia akan menjadi tiang untukmu. Jadilah engkau hamba sahaya baginya, maka niscaya ia akan menjadi hamba untukmu. Janganlah engkau meremehkannya, karena niscaya dia akan membencimu dan janganlah menjauh darinya karena dia akan melupakanmu.
Jika dia mendekat kepadamu maka dekatkanlah dirimu, dan jika dia menjauhimu maka menjauhlah darinya. Jagalah hidungnya, pendengarannya, dan matanya. Janganlah ia mencium sesuatu darimu kecuali wewangian dan janganlah ia melihatmu kecuali engkau dalam keadaan cantik. [1]

Pesan Amamah binti Harits Kepada Anak Perempuannya Saat Pernikahan. 
Amamah bin Harits berpesan kepda anak perempuannya tatkala membawanya kepada calon suaminya,
“Wahai anak perempuanku! Bahwasanya jika wasiat ditinggalkan karena suatu keistimewaan atau keturunan maka aku menjauh darimu. Akan tetapi wasiat merupakan pengingat bagi orang yang mulia dan bekal bagi orang yang berakal.

Wahai anak perempuanku! Jika seorang perempuan merasa cukup terhadap suami lantaran kekayaan kedua orang tuanya dan hajat kedua orang tua kepadanya, maka aku adalah orang yang paling merasa cukup dari semua itu. Akan tetapi perempuan diciptakan untuk laki-laki dan laki-lakai diciptakan untuk perempuan. Oleh karena itu, wahai anak perempuanku!

Jagalah sepuluh perkara ini !!!


Pertama dan kedua :
Perlakuan dengan sifat qana’ah dan mu’asyarah melalui perhatian yang baik dan ta’at, karena pada qan’aah terdapat kebahagiaan qalbu, dan pada ketaatan terdapat keridhaan Tuhan.

Ketiga dan keempat :
Buatlah janji dihadapannya dan beritrospeksilah dihadapannya. Jangan sampai ia memandang jelek dirimu, dan jangan sampai ia mencium darimu kecuali wewangian.

Kelima dan keenam :
Perhatikanlah waktu makan dan tenangkanlah ia tatkala tidur, karena panas kelaparan sangat menjengkelkan dan gangguan tidur menjengkelkan.

Ketujuh dan kedelapan :
Jagalah harta dan keluarganya. Dikarenakan kekuasaan dalam harta artinya pengaturan keuangan yang bagus, dan kekuasaan dalam keluarga artinya perlakuan yang baik.

Kesembilan dan kesepuluh :
Jangan engkau sebarluaskan rahasianya, serta jangan engkau langgar peraturannya. Jika engkau menyebarluaskan rahasianya berarti engkau tidak menjaga kehormatannya. Jika engkau melanggar perintahnya berarti engkau merobek dadanya. [2]

Bahwasanya keagungan baginya yang paling besar adalah kemuliaan yang engkau persembahkan untuknya, dan kedamaian yang paling besar baginya adalah perlakuanmu yang paling baik.
Ketahuilah, bahwasanya engkau tidak merasakan hal tersebut, sehingga engkau mempengaruhi keinginannya terhadap keinginanmu dan keridhaannya terhadap keridhaanmu (baik terhadap hal yang engkau sukai atau yang engkau benci). Jauhilah menampakkan kebahagiaan dihadapannya jika ia sedang risau, atau menampakkan kesedihan tatkala ia sedang gembira.

Tatkala Ibnu Al-Ahwash membawa anak perempuannya kepada amirul mukminin Ustman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu, dan orang tuanya telah memberinya nasihat, Ustman berkata,
“Pondasi mana saja, bahwasanya engkau mengutamakan perempuan dari suku Quraisy, karena mereka adalah perempuan yang paling pandai memakai wewangian daripada engkau. Oleh karena itu perliharalah dua perkataan : Nikahlah dan pakailah wewangian dengan menggunakan air hingga wangimu seperti bau yang ditimpa air hujan.

Ummu Mu’ashirah menasihati anak perempuannya dengan nasihat sebagai berikut (sungguh aku membuatnya tersenyum bercampur sedih):
 Wahai anakku.. 
engkau menerima untuk menempuh hidup baru…
kehidupan yang mana ibu dan bapakmu tidak mempunyai tempat di dalamnya, atau salah seorang dari saudaramu. Dalam kehidupan tersebut engkau menjadi teman bagi suamimu, yang tidak menginginkan seorangpun ikut campur dalam urusanmu, bahkan juga daging darahmu. Jadilah istri untuknya wahai anakku, dan jadilah ibu untuknya. Kemudian jadikanlah ia merasakan bahwa engkau adalah segala-galanya dalam kehidupannya, dan segala-galanya di dunia.
Ingatlah selalu bahwasanaya laki-laki anak-anak atau dewasa memiliki kata-kata manis yang lebih sedikit, yang dapat membahagiankannya. Janganlah engkau membuatnya berperasaan bahwa dia menikahimu menyebabkanmu merasa jauh dari keluarga dan sanak kerabatmu. Sesungguhnya perasaan ini sama dengan yang ia rasakan, karena dia juga meninggalkan rumah orang tuanya, dan keluarga karena dirimu.
Tetapi perbedaan antara dia dan kamu adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan, dan perempuan selalu rindu kepada keluarga dan tempat ia dilahirkan, berkembang, besar dan menimba ilmu pengetahuan. Akan tetapi sebagai seorang isteri ia harus kembali kepada kehidupan baru. Dia harus membangun hidupnya bersama laki-laki yang menjadi suami dan perlindungannya, serta bapak dari anak-anaknya. Inilah duaniamu yang baru.

Wahai anakku, inilah kenyataan yang engkau hadapi dan inilah masa depanmu. Inilah keluargamu, dimana engkau dan suamimu bekerja sama dalam mengarungi bahtera rumah tannga.
Adapun bapakmu, itu dulu. Sesungguhnya aku tidak memintamu untuk melupakan bapakmu, ibumu dan sanak saudaramu, karena mereka tidak akan melupakanmu selamanya wahai buah hatiku.
Bagaimana mungkin seorang ibu melupakan buah hatinya. Akan tetapi aku memintamu untuk mencintai suamimu dan hidup bersamanya, dan engkau bahagia dengan kehidupan berumu bersamanya.

Seorang perempuan berwasiat kepada anak perempuannya, seraya berkata,
“Wahai anakku, jangan kamu lupa dengan kebersihan badanmu, karena kebersihan badanmu menambah kecintaan suamimu padamu. Kebersihan rumahmu dapat melapangkan dadamu, memperbaiki hubunganmu, menyinari wajahmu sehingga menjadikanmu selalu cantik, dicintai, serta dimuliakan di sisi suamimu. Selain itu disenangi keluargamu, kerabatmu, para tamu, dan setiap orang yang melihat kebersihan badan dan rumah akan merasakan ketentraman dan kesenangan jiwa”.

[Disalin dari buku Risalah Ilal Arusain wa Fatawa Az-Zawaz wa Muasyaratu An-Nisaa, Edisi Indonesia Petunjuk Praktis dan Fatwa Pernikahan, Penulis Abu Abdurrahman Ash-Shahibi,Penerbit Najla Press] _________

FooteNote
[1]. Ahkamu An-Nisa karangan Ibnu Al-Jauzi hal.79
[2]. Ahkamu An-Nisa karangan Ibnu Al-Jauzi hal.80

Artikel kisahmuslim.com

Selasa, 18 Maret 2014

Oleh: Ustadz Fariq Gasim Anuz

Berkenalan dengan Lukas

Selesai shalat maghrib dari masjid, saya dan teman-teman kembali ke kantor Jeddah Dakwah Center. Tidak lama, masuklah ke ruang sekretariat seorang pemuda berkulit putih dan berambut  pirang. Dia memperkenalkan diri dengan bahasa Arab yang fasih. Namanya Lukas Rothfuchs (24 tahun) berasal dari Jerman. Baru dua hari sampai di Jeddah untuk kerja praktek selama lima bulan di sebuah perusahaan di Jeddah. Lukas masih kuliah mengambil jurusan ekonomi di Universitas Bremen, Jerman.

Di Jeddah, Lukas sementara tinggal di hotel dekat kantor kami selama dua hari setelah itu akan pindah untuk tinggal di tempat yang disediakan oleh perusahaan. Ia sedang jalan-jalan melihat-lihat sekitar hotel lalu ia melihat kantor Islamic Center. Ia berpikir  mencari guru privat bagi dirinya untuk belajar tahfidz Al Quran. Ia masuk dan menemui pengurus kantor. Setelah selesai berbincang dengan pengurus kantor, saya meminta dia untuk menceritakan tentang kisah keislamannya. Kejadian ini terjadi di hari Senin, 24 Dzul Qa'dah 1434 H / 30 September 2013 M.

Masyarakat di Eropa Barat Menjauhi Agama

Lukas menyambut tawaran saya dengan hangat, beliau bercerita, "Kebanyakan masyarakat di Eropa Barat sekarang ini mereka tidak memiliki agama, mungkin di ktp mereka beragama Kristen tapi mereka tidak percaya dengan agama mereka bahkan tidak sedikit dari masyarakat yang atheis termasuk ayah saya meskipun di ktp tertulis beragama kristen. Sudah menjadi kebiasaan, kebanyakan para orang tua yang memiliki anak memasuki usia tiga belas tahun menyuruh anak-anak mereka ke gereja dan sekolah minggu. Mereka bernyanyi nyanyi dan belajar agama mereka sepekan sekali selama dua tahun. Setelah selesai dua tahun diadakan wisuda di gereja yang dihadiri oleh keluarga besar mereka. Saat itu orang tua dan para kerabat memberi hadiah uang untuk anak—anak mereka dan keponakan mereka. Setiap anak bisa mendapatkan 2000 sampai 3000 Euro (sekitar 30 juta sampai 45 juta Rupiah). Jumlah yang sangat besar bagi anak-anak usia 13 sampai 15 tahun. Hampir 95 % tujuan anak-anak belajar sekolah minggu adalah untuk mendapatkan uang saat wisuda. Mereka belajar bukan karena cinta agama.

Agama di mata masyarakat di Eropa Barat tidak ada wibawa. Mereka ragu dan tidak mempercayai agama mereka. Mereka juga mengetahui bagaimana sikap gereja dahulu yang anti terhadap ilmu pengetahuan. Mereka tidak mau didoktrin dengan sesuatu yang berlawanan dengan logika mereka. Akhirnya masyarakat antipati terhadap semua agama dan menggeneralisir bahwa semua agama adalah batil. Agama sumber perpecahan dan perselisihan. Lebih-lebih terhadap Islam, digambarkan oleh mass media bahwa Islam adalah agama yang radikal, orang muslim adalah pembunuh dan teroris. Sebagian orientalis mereka mempelajari Islam tidak secara keseluruhan. Atau jika mereka belajar secara keseluruhan maka mereka tidak jujur. Mereka membawa ayat Al Quran secara sepotong-sepotong. Mereka menyebutkan ayat-ayat jihad, bahwa Islam adalah agama kekerasan yang memerintahkan untuk membunuh orang-orang kafir. Tapi mereka menyembunyikan mengapa jihad disyariatkan? Kapan Jihad diperintahkan? Siapa orang kafir yang diperintahkan untuk dibunuh dan siapa orang kafir yang diharamkan untuk dibunuh?

Meskipun demikian sebagian masyarakat yang sering pergi ke luar negeri khususnya ke negeri-negeri Islam meskipun untuk tujuan wisata dan rekreasi, mereka melihat bahwa Islam adalah agama yang baik. Mereka dapat membedakan antara Islam dan kesalahan oknum yang kebetulan mereka sebagai muslim. Termasuk ayah saya dan keluarga saya, mereka tidak antipati terhadap Islam." 

Mencari Agama yang Hak

"Saat usia saya tiga belas tahun, saya mulai berpikir dan bertanya kepada diri sendiri, "Mengapa saya berada di dunia?" "Apa tujuan hidup saya?" "Alam semesta dengan keteraturannya pasti memiliki pencipta. Kalau ada penciptanya pastilah pencipta memerintahkan dan melarang hamba-hambaNya dengan aturan-aturan agama".

Saya teringat sekarang dengan firman Allah yang artinya,

"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal" (Surat Al Baqarah 164)

Mulailah saya mencari agama yang benar. Karena saya di lahirkan dari keluarga Kristen Protestan maka saya memulai mempelajari agama saya.  Saya berangkat ikut sekolah minggu atas kesadaran saya sendiri. Saya tidak mendapatkan ketenangan batin, saya tidak puas. Saya terkadang mendebat pendeta karena ada hal-hal yang tidak bisa saya terima seperti tentang trinitas dan lainnya. Pendeta tersebut mengatakan, "sebenarnya Injil yang ada di tangan kita sudah tidak asli lagi. Isi injil yang ada sekarang sekadar sebagai perumpamaan. Bahkan manusia sendiri berasalnya dari kera bukan dari Adam seperti yang kita baca di injil." Pendeta mengajarkan dogma, meskipun anda tidak puas tapi anda harus meyakininya. Bahkan saya dapatkan dari mereka sebenarnya di hati mereka tidak meyakini kebenaran injil. Saya berpikir untuk apa saya mempelajari agama sedangkan ulama nya saja mereka meragukan isi kebenaran kitab suci mereka. Akhirnya saya berhenti sekolah minggu meskipun belum selesai dua tahun.

Mulai saya mempelajari agama Hindu, Budha tapi tidak logis dan tidak bisa diterima akal saya. Saya pelajari agama yahudi ternyata agama yahudi agama rasis. Mereka mengaku bangsa pilihan Tuhan. Sedangkan manusia yang lahir bukan dari orang Yahudi maka tidak ada kesempatan untuk masuk surga, semuanya di neraka. Jelas ini agama yang batil.

Saat usia saya 14 tahun saya banyak mempelajari tentang Islam dari buku-buku dan internet. Ayah saya senang dengan sejarah dan sering mengajak saya melihat masjid-masjid yang megah ketika sedang berlibur ke Turki. Hati saya merasa tentram ketika melihat masjid atau ketika memasukinya. Permadani yang terhampar di Masjid, cahaya matahari yang masuk ke dalam masjid membuat saya mencintai masjid.

Di Jerman, saya juga mempunyai teman seorang muslim, saya kenal baik dengan keluarganya. Mereka memiliki akhlak mulia seperti kedermawanan, memuliakan tamu yang tidak kami jumpai di masyarakat asli Jerman. Teman saya dan keluarganya meskipun mereka muslim tapi mereka belum konsisten dalam keislamannya. Seperti ibunya tidak mengenakan jilbab. Saya tidak bermaksud merendahkan mereka, saya pun masih banyak kekurangan saya. Maksud saya meskipun kita memiliki kekurangan dalam keislaman, tidak menghalangi kita untuk mendakwahkan Islam sesuai dengan kemampuan kita masing-masing, khususnya dengan akhlak mulia. Contoh teman saya ini, dengan sebab akhlaknya yang mulia saya semakin cinta kepada Islam. Bisa jadi melalui muamalah yang baik kepada seseorang jauh lebih berkesan dibanding 100 buku yang kita baca atau 100 ceramah yang kita dengar."
Proses Lukas Masuk Islam

Saya cinta dan kagum kepada Islam karena Islam agama yang sederhana dan mudah dipahami oleh semua manusia. Petani yang awam dan professor Doktor di Universitas meskipun tingkat kecerdasan mereka berbeda, semuanya bisa menerima dan memahami Islam dengan mudah. Islam adalah agama fitrah mengajarkan tauhid penghambaan kepada Allah semata dan tidak menyekutukan Nya dengan sesuatu apapun. Betapa nikmatnya ketika kita bisa menempelkan dahi kita ke bumi untuk sujud kepada Allah. Islam adalah agama yang sempurna mencakup semua aspek kehidupan. Islam agama yang mengatur program kehidupan sehari-hari. Sampai sampai masalah makan dengan tangan kanan, berpakaian, adab masuk wc dan lain-lain diatur oleh Islam. Hal ini tidak akan kita dapatkan di agama lain.

Saya mulai meninggalkan makan babi dan minum minuman keras. Saya pun mulai belajar shalat dari internet karena di tempat kami tinggal di Walsrode belum ada masjid satu pun. Adapun di tempat saya kuliah di kota Bremen ada sekitar 30 masjid. Saya melakukan shalat sekali sepekan kemudian bertahap sekali sehari begitu pula jika datang bulan Ramadhan saya mulai puasa beberapa hari. Sampai usia saya 16 tahun saya mantap untuk masuk Islam dan berusaha menjalankan Islam dengan konsisten termasuk shalat lima waktu dan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan tidak pernah saya tinggalkan.

Dari mulai saya mencari agama yang hak sampai saya memeluk Islam butuh waktu tiga tahun. Dalam kesempatan ini saya berpesan kepada para dai agar dalam dakwah mereka kepada non muslim janganlah dengan cara setengah memaksa. Ada sebagian dai ketika bertemu dengan non muslim yang sedang mencari kebenaran, mereka meminta dia buru-buru masuk Islam. "Kalau anda tidak segera masuk Islam, anda mati maka anda akan masuk neraka selama-lamanya". Orang non muslim tadi mungkin akan mengucapkan dua kalimat syahadat di depan da'i tersebut tapi bukan karena ikhlas dan ridha serta yakin. Dia masuk Islam nya setengah terpaksa, akhirnya dengan mudahnya dia akan murtad lagi ketika dia mendapatkan masalah atau musibah dalam hidupnya. Allah berfirman yang artinya, "Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam)…" (Surat Al Baqarah 256)"

Penyusun menjadi teringat dengan dakwah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepada tawanan yang berada di dalam masjid yaitu Tsumamah bin Utsal. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memperlakukan tawanan dengan baik bahkan sampai melepaskannya. Dengan sebab keluhuran akhlak Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam akhirnya Tsumamah bin Utsal mendapatkan hidayah Allah dan masuk Islam dengan kesadaran sendiri dan tetap istiqamah sampai akhir hayatnya radhiallahu anhu. Semoga Allah menetapkan hati kita agar istiqamah sampai akhir hayat, amin.

Jangan Jadikan Kami Sebagai Fitnah bagi Orang-Orang Kafir

Yang membuat penyusun kagum kepada Lukas diantaranya dia banyak hafal ayat-ayat Al Quran dan membacanya dengan fasih –masya Allah-. Masih dalam obrolan dengan Lukas, ia melanjutkan pembicaraannya:

" Allah berfirman yang artinya,

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana" (Surat Al Mumtahanah 5)

Saya bukan orang yang pandai ilmu agama, tapi saya belajar dari ilmu mereka. Yang saya ketahui dari ahli tafsir bahwa diantara maknanya jangan sampai orang-orang kafir menguasai orang-orang yang beriman sehingga mereka akan mengatakan jika agama mereka benar tentulah mereka tidak akan kalah dari kami."

Penyusun sempat mengecek dari beberapa kitab tafsir dan diantaranya penjelasan Imam Ibnu Katsir tentang ayat ini,

"Mujahid dan Adh Dhahhak berkata, "Janganlah Engkau adzab kami lewat tangan mereka dan janganlah Engkau adzab kami secara langsung dari Mu, nanti mereka akan berkata, 'Seandainya mereka di atas kebenaran tentu mereka tidak akan mengalami musibah tersebut' ". Qatadah berkata, "Janganlah Engkau menangkan mereka atas kami yang menyebabkan mereka terfitnah (menjadi takabur dan ujub) bahwa mereka menang dikarenakan agama mereka dalam kebenaran". Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir Ath Thabari. Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu Abbas, "Janganlah Engkau kuasakan mereka atas kami yang menyebabkan mereka memfitnah kami". (Tafsir Ibnu Katsir).

Lukas melanjutkan pembicaraannya,

"Ayat ini menjadi pr bagi kita kaum muslimin untuk lebih unggul dalam segala bidang dari orang-orang kafir. Hal ini membutuhkan kerja keras dan kesungguhan dalam belajar dan beramal serta selalu berdoa meminta taufik Allah. Juga tanggung jawab kaum muslimin agar mereka berakhlak dengan akhlak mulia sesuai apa yang Allah bimbingkan dalam Al Quran dan lewat lisan Rasululllah Shallallahu Alaihi Wasallam. Jika seorang muslim berperilaku dan berakhlak buruk berarti dia telah merusak citra Islam dan menjadi penyebab fitnah bagi orang kafir karena hal ini akan menjadi penghalang bagi mereka untuk masuk Islam. Dan anda ikut menanggung dosanya!"
Cita-Cita Lukas

Lukas bercita-cita ingin membuka sekolah Tahfidz Al Quran. Lukas sekarang sudah menghafal 7 juz dan berusaha untuk menyempurnakan sampai 30 juz. Dia berkeyakinan bahwa umat Islam akan bersatu dan saling mencintai jika kaum muslimin mengamalkan Al Quran. Semoga Allah mengabulkan dan meralisasikan cita-cita Lukas dan memberikan taufik kepadanya dan kita semua, amin.

Pesan Lukas untuk Kaum Muslimin di Indonesia

Penyusun bertanya kepadanya apa pesan anda untuk kaum muslimin di Indonesia?

Lukas menjawab,

"Saya berpesan untuk kaum muslimin di Indonesia dan di seluruh dunia agar mereka bersyukur kepada Allah yang telah mengaruniakan mereka nikmat hidayah sejak mereka lahir. Hendaknya saudara-saudara kita kaum muslimin bersyukur bahwa keluarga mereka juga muslim. Rasa syukur kepada Allah ini harus direalisasikan dengan kesungguhan mempelajari Islam, mempelajari Al Quran dan Assunnah dengan metodologi yang benar yaitu memahami dan mempraktekkan Islam dengan pemahaman dan praktek para sahabat radhiallhu anhum. Karena dengan mengikuti Ijma' (kesepakatan) mereka berarti kita berjalan di jalan Allah sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Allah berfirman yang artinya, " Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan kami masukkan dia ke dalam neraka jahannam, dan jahannam itu seburuk buruk tempat kembali " (Surat An Nisaa 115)

Mungkin kalian tidak merasakan betapa besarnya nikmat Islam karena kalian dilahirkan sebagai muslim dan keluarga kalian muslimin. Coba anda bayangkan! Seandainya ayah anda, ibu anda, anak anda, kakak dan adik anda bukan muslim dan mereka mati dalam keadaan kafir! Anda tidak bisa mendoakan mereka!, anda tidak bisa memohonkan ampun untuk mereka!, anda tidak bisa mengucapkan doa, "Semoga Allah merahmati mereka !"

Tersentak hati saya dan merinding badan saya mendengarkan ucapannya yang keluar dari hati mengingat Lukas hanya sendiri di keluarganya yang Islam.

Semoga Allah memberkahi Lukas, menetapkannya di atas Islam yang hak sampai wafatnya dan menjadikannya cinta akan keimanan dan menghiasinya di hatinya. Semoga Allah mengirimkan untuknya saudara-saudara se Islam yang berakhlak mulia, membantunya dalam kebaikan dan ketaatan dan membimbingnya dengan ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang benar. Semoga Allah memberikan hidayah untuk kedua orang tuanya, keluarganya dan orang-orang terdekatnya kepada Islam, karuniakanlah mereka mengucapkan dua kalimat syahadat sebelum mereka wafat. Semoga Allah menjadikan Lukas sebagai sebab masyarakat di Jerman dan di Eropa masuk Islam.

Lukas melanjutkan pembicaraannya, "Hal lain yang ingin saya sampaikan kepada kaum muslimin yang masih bermalas malasan untuk shalat lima waktu. Kami di Jerman dengan masyarakat dan lingkungan yang tidak mendukung keislaman, kami tidak mendengarkan adzan dikumandangkan, sedikitnya jumlah masjid tapi kaum muslimin di sini khususnya mualaf mereka rajin dan konsisten untuk shalat lima waktu di masjid."

 Semoga Allah menambahkan iman kita semua dengan membaca kisah Lukas ini, amin.

Lukas berpesan kepada para aktivis da'wah,

" Hendaknya para juru dakwah bersikap bijaksana dalam berdakwah. Perbedaan mereka dalam metode berdakwah selama mereka sepakat dalam prinsip-prinsip Islam tidak menjadikan mereka bermusuh-musuhan. Saya tidak mengatakan untuk membiarkan kesalahan, kesalahan harus diperbaiki dengan cara yang baik. Jangan sampai perselisihan diekspos lewat internet, buku, kaset yang membuat orang-orang kafir yang sedang mencari kebenaran menjadi ragu akan kebenaran Islam disebabkan oknum-oknum umat Islam yang arogan dan tidak bijaksana. Bahkan terjadi sebagian mualaf di negeri kami yang murtad kembali melihat perselisihan yang terjadi diantara para dai dan ustadz!".

Semoga Allah melembutkan hati kita semua dan mengumpulkan kita di atas kebenaran dan petunjuk, amin.

Selesai mewawancara Lukas, saya segera menyusun tulisan ini. Empat hari kemudian, saya bacakan lagi hasil tulisan saya di hadapan beliau meminta persetujuannya untuk mempublikasikan hasil wawancara. Alhamdulillah beliau setuju dan senang bisa bekerjasama dalam dakwah dan bisa menyampaikan pesan-pesannya untuk kaum muslimin di Indonesia. Lukas menyampaikan salam untuk kaum muslimin di Indonesia.

Terakhir, hendaknya kita merenungkan kisah Islam Lukas ini dan dapat memetik faidah dan pelajaran yang sangat banyak sekali guna memotivasi kita dalam belajar menuntut ilmu Islam dan ilmu-ilmu lainnya yang memberikan manfaat untuk kemaslahatan umat Islam. Berusaha keras mempraktekkan Islam dengan kaaffah (sempurna) dan meninggalkan larangan-larangan agama agar kita mendapatkan ridha dan cinta dari Allah Ta'ala. Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai orang-orang yang selalu bersyukur kepada Nya, menjadikan kita sebagai orang-orang yang amanah dan menghiasi kita semua dengan keimanan yang benar dan akhlak yang mulia, amin….

Jeddah, Jumat pukul 17.14 tanggal 28 Dzulqa'dah 1434 H / 4 Oktober 2013 M
http://firanda.com/index.php/artikel/sirah/547-kisah-islam-lukas-pemuda-dari-jerman

Kamis, 13 Maret 2014

Rasulullah ﷺ bersabda :

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا للهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

"Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah 'Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik bagimu" (HR Ahmad no 23074)

Kisah Yang Menggugah Hati 

>>Ibnu Jarir ath-Thabari bercerita, “Saya berada di Mekah saat musim haji. Saya melihat seseorang dari Khurasan berkata, “Wahai sekalian orang yang berhaji, penduduk Mekah ataupun pendatang, saya kehilangan sebuah kantong berisi uang seribu dinar, bagi yang menemukan dan mengembalikannya, semoga Allah membalasnya dengan yang lebih baik, membebaskannya dari neraka, serta mendapatkan pahala yang besar di hari hisab.”
Lalu seorang kakek berdiri dan berkata, “Wahai orang Khurasan, negeri kami sedang krisis, pintu pencaharian juga lagi susah, boleh jadi harta itu ditemukan oleh seorang  mukmin yang fakir lagi tua, lalu ia berjanji akan mengembalikannya kepadamu selagi diberi upah sebagian saja agar menjadi harta yang halal.” Orang Khurasan itu berkata, “Berapa kira-kira hadiah yang diharapkan?” Kakek itu berkata, “Sekitar sepuluh persennya, yakni seratus dinar.” Orang Khurasan itu berkata, “Aku tidak rela, aku serahkan saja urusannya kepada Allah, aku akan menuntutnya di Hari Kiamat, hasbunallah wa ni’mal wakiil.”
Aku (Ibnu Jarier) berkata dalam hati, “Kakek itu seorang yang fakir, jangan-jangan dia telah menemukan barang itu, lalu ingin mendapatkan sebagian darinya.” Maka aku mengikutinya hingga ia sampai ke rumahnya. Ternyata dugaanku benar, aku mendengar ia memanggil istrinya dan berkata, “Wahai Lubabah, saya bertemu dengan pemilik dinar itu, tapi dia tidak mau memberi hadiah sedikitpun bagi yang menemukannya. Tatakala aku memintanya untuk memberikan seratus dinar bagi yang menemukannya, dia menolak dan akan menyerahkan urusannya kepada Allah, lalu apa yang harus aku perbuat wahai Lubabah? Saya harus mengembalikannya, saya takut kepada Allah.”
Sang istri berkata, “Suamiku, aku sudah hidup miskin bersamamu selama 50 tahun, sementara kamu mempunyai banyak tanggungan. Ambil saja harta itu, lalu kamu berikan sisanya setelah kamu mencukupi tanggunganmu dan melunasi hutang-hutangmu.”
Kakek tua itu berkata, “Wahai Lubabah, apakah aku akan makan harta haram setelah aku bersabar dengan kefakiranku selama 86 tahun, lalu aku relakan tubuhku dilalap api neraka? Apakah aku rela mendapatkan murka Allah sementara aku telah dekat dengan liang kuburku? Demi Allah aku tidak akan melakukannya.”
(Keesokan harinya, terjadilah peristiwa seperti hari sebelumnya, pemilik dinar itu tak hendak memberikan upah bagi yang menemukannya, meskipun hanya dengan sepuluh dinar, dan dia menyerahkan urusannya kepada Allah. Hal yang sama juga terjadi pada hari yang ketiga)
Hingga kemudian sang kakek berkata, ”Wahai orang Khurasan, ayo ikut aku, dinarmu ada padaku, saya tidak bisa tidur sejak menemukan harta itu.”
Orang Khurasan itu mengikuti sang kakek, hingga tatakala sampai di rumah, sang kakek menyerahkan dinar itu dan berkata, ”Ambillah hartamu, semoga Allah mengampuniku dan memberikan karunia-Nya kepadaku.” Tanpa ragu, orang Khurasan itu mengambil uangnya. Namun tatkala hendak keluar rumah, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan berkata, ”Wahai Kakek, ayahku telah meninggal, dia mewarisiku uang sebanyak 3000 dinar, lalu berwasiat, ”Keluarkanlah yang sepertiganya untuk orang yang menurutmu paling layak.” Lalu aku mengikat sepertiganya dalam kantong ini hingga bertemu dengan orang yang layak mendapatkannya. Demi Allah, saya tidak melihat orang yang lebih layak mendapatkannya selain Anda. Ambillah seluruhnya, semoga Allah memberkahimu, dan membalasmu dengan kebaikan karena amanahmu, juga kesabaranmu saat berada dalam kefakiran.” Orang itupun menyerahkan uang seribu dinar itu, kemudian pergi. (Arsyif Multaqa ahlil hadits)

>> Sebuah kisah yang disebutkan dalam kitab Tafsir Al-Bahr Al-Madid karya Ibnu 'Ajiibah Abul 'Abbaas Al-Faasi tentang seorang pemuda penuntut ilmu yang tinggal di daerah Faas. Suatu hari ada seorang ibu keluar bersama putrinya yang cantik jelita. Maka ternyata sang putri ketinggalan dari ibunya sehingga akhirnya tertahan hingga malam hari. Maka ia pun melihat dari kejauhan sebuah pintu yang nampak ada lampu nyala dibalik lampu tersebut. Lalu ia mengintip di balik pintu tersebut ternyata ada seorang penuntut ilmu yang sedang membaca buku. Maka dalam hati putri cantik ini ia berkata, "Jika tidak ada kebaikan pada pemuda ini maka tidak ada kebaikan pada seorangpun". Maka iapun memberanikan diri untuk mengetuk pintu, lalu dijawab oleh sang pemuda. Lalu sang putri pun menceritakan tentang kondisinya yang ketinggalan ibunya, dan ia khawatir jika ia berjalan di malam hari akan ada orang yang mengganggunya. Maka akhirnya sang pemuda merasa wajib baginya untuk menjaga putri tersebut. Lalu iapun memasukan putri tersebut dalam rumahnya, lalu ia menjadikan penghalang berupa tikar antara ia dan sang putri, lalu iapun melanjutkan membaca buku. Lalu datanglah syaitan menggodanya. Akan tetapi karena keberkahan ilmu maka Allah pun menjaga pemuda ini. Iapun segera mengambil api lampu lalu iapun menggerakan jarinya ke lampu tersebut, satu demi satu jari-jarinya ia letakkan di api lampu tersebut hingga membakar jari-jarinya. Sang wanita mengintip sikap pemuda tersebut dan ia takjub dengan sikap tersebut. Sementara sang pemuda terus memanasi jarinya. Lalu sang pemuda memanaskan jari-jarinya dari tangannya yang satunya lagi, hingga akhirnya tiba pagi hari dan nampak cahaya terang, maka iapun mempersilahkan sang putri untuk keluar dari rumahnya dan segera pulang. Akhirnya sang putripun pulang ke rumahnya dan menceritakan tentang kisah sang pemuda. Maka segeralah ayah sang putri mendatangi majelis ilmu dan mengabarkan tentang kisah sang pemuda kepada syaikh/guru di majelis tersebut. Maka sang guru  meminta agar seluruh para penuntut ilmu mengeluarkan kedua tangan mereka. Seluruh muridpun mengeluarkan kedua tangan mereka kecuali sang pemuda. Maka syaikh pun tahu siapa pemuda tersebut, lalu akhirnya sang ayah menikahkan sang pemuda dengan putrinya tersebut" (Al-Bahr Al-Madiid 3/375)

(Kisah-kisah ini kami sarikan dari firanda.com )

Karenanya yakinlah jika anda meninggalkan sesuatu benar-benar tulus semata-mata karena Allah maka pasti Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik. Sungguh hati ini sangat terharu tatkala mengetahui ada seorang pegawai bank yang akhirnya meninggalkan pekerjaan ribanya lalu kemudian dengan sabarnya menjadi seorang penjual bakso. Allah pasti akan menggantikan baginya yang lebih baik, apakah di dunia maupun di akhirat, cepat atau lambat.

Semoga bermanfaat,
Barakallaahu fiikum..
Shalawat adalah bukti cinta kita kepada Rasulullah ﷺ,  karena siapa yang mencintai sesuatu dia pasti akan sering menyebut-nyebutnya.
Dan lebih khusus lagi, bahwa hari yang dianjurkan untuk memperbanyak shalawat atas Rasulullaah ﷺ  adalah pada Jum'at, sejak malam hari jumat, sampai selesai siang hari jumat.

Dari Aus bin Aus, Nabi ﷺ bersabda,

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ
فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ

“Sesungguhnya hari yang paling mulia adalah hari jumat. Pada hari ini, Adam diciptakan… 
karena itu, perbanyaklah membaca shalawat untukku. Karena shalawat kalian ditunjukkan kepadaku.”
(HR. Nasa’I, Abu Daud, Ibn Majah, dan dishahihkan Al-Albani)

Lafadz-lafadz Shalawat yang diajarkan Oleh Rasulullah  ﷺ dalam hadits-hadits yang shahih

  اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

HR Bukhari no: 3369

**

 اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

HR Muslim no: 934

**

 اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

HR  Ahmad no: 1396, shahih

**
 اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ


HR Bukhari  no: 6357 dan Imaam Muslim no: 935

**

 اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ

HR Bukhari  no: 6358..

>>Selengkapnya silahkan melihat kitab shifat shalat Nabi  ﷺ
oleh Syaikh al-Albani rahimahullaah..

 ☞ Semoga bermanfaat..
Pertanyaan:
1. Apabila seorang muslim ingin menikah, bagaimana syariat mengatur cara mengenal seorang muslimah sementara pacaran terlarang dalam Islam?
2. Bagaimana hukum berkunjung ke rumah akhwat (wanita) yang hendak dinikahi dengan tujuan untuk saling mengenal karakter dan sifat masing-masing?
3. Bagaimana hukum seorang ikhwan (lelaki) mengungkapkan perasaannya (sayang atau cinta) kepada akhwat (wanita) calon istrinya?

Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari:

بِسْمِ اللهِ، الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ

Benar sekali pernyataan anda bahwa pacaran adalah haram dalam Islam. Pacaran adalah budaya dan peradaban jahiliah yang dilestarikan oleh orang-orang kafir negeri Barat dan lainnya, kemudian diikuti oleh sebagian umat Islam (kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala), dengan dalih mengikuti perkembangan jaman dan sebagai cara untuk mencari dan memilih pasangan hidup. Syariat Islam yang agung ini datang dari Rabb semesta alam Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, dengan tujuan untuk membimbing manusia meraih maslahat-maslahat kehidupan dan menjauhkan mereka dari mafsadah-mafsadah yang akan merusak dan menghancurkan kehidupan mereka sendiri.

Ikhtilath (campur baur antara lelaki dan wanita yang bukan mahram), pergaulan bebas, dan pacaran adalah fitnah (cobaan) dan mafsadah bagi umat manusia secara umum, dan umat Islam secara khusus, maka perkara tersebut tidak bisa ditolerir. Bukankah kehancuran Bani Israil –bangsa yang terlaknat– berawal dari fitnah (godaan) wanita? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لُعِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُوْنَ. كَانُوا لاَ يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوْهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُوْنَ

“Telah terlaknat orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil melalui lisan Nabi Dawud dan Nabi ‘Isa bin Maryam. Hal itu dikarenakan mereka bermaksiat dan melampaui batas. Adalah mereka tidak saling melarang dari kemungkaran yang mereka lakukan. Sangatlah jelek apa yang mereka lakukan.” (Al-Ma`idah: 79-78)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (indah memesona), dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kalian sebagai khalifah (penghuni) di atasnya, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerhatikan amalan kalian. Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan wanita, karena sesungguhnya awal fitnah (kehancuran) Bani Israil dari kaum wanita.” (HR. Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan umatnya untuk berhati-hati dari fitnah wanita, dengan sabda beliau:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلىَ الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku meninggalkan fitnah sepeninggalku yang lebih berbahaya terhadap kaum lelaki dari fitnah (godaan) wanita.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma)

Maka, pacaran berarti menjerumuskan diri dalam fitnah yang menghancurkan dan menghinakan, padahal semestinya setiap orang memelihara dan menjauhkan diri darinya. Hal itu karena dalam pacaran terdapat berbagai kemungkaran dan pelanggaran syariat sebagai berikut:

>>1. Ikhtilath, yaitu bercampur baur antara lelaki dan wanita yang bukan mahram. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjauhkan umatnya dari ikhtilath, sekalipun dalam pelaksanaan shalat. Kaum wanita yang hadir pada shalat berjamaah di Masjid Nabawi ditempatkan di bagian belakang masjid. Dan seusai shalat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiam sejenak, tidak bergeser dari tempatnya agar kaum lelaki tetap di tempat dan tidak beranjak meninggalkan masjid, untuk memberi kesempatan jamaah wanita meninggalkan masjid terlebih dahulu sehingga tidak berpapasan dengan jamaah lelaki.

Hal ini ditunjukkan oleh hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha dalam Shahih Al-Bukhari. Begitu pula pada hari Ied, kaum wanita disunnahkan untuk keluar ke mushalla (tanah lapang) menghadiri shalat Ied, namun mereka ditempatkan di mushalla bagian belakang, jauh dari shaf kaum lelaki. Sehingga ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam usai menyampaikan khutbah, beliau perlu mendatangi shaf mereka untuk memberikan khutbah khusus karena mereka tidak mendengar khutbah tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu dalam Shahih Muslim.

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرِهَا، وَخَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

“Sebaik-baik shaf lelaki adalah shaf terdepan dan sejelek-jeleknya adalah shaf terakhir. Dan sebaik-baik shaf wanita adalah shaf terakhir, dan sejelek-jeleknya adalah shaf terdepan.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Hal itu dikarenakan dekatnya shaf terdepan wanita dari shaf terakhir lelaki sehingga merupakan shaf terjelek, dan jauhnya shaf terakhir wanita dari shaf terdepan lelaki sehingga merupakan shaf terbaik. Apabila pada ibadah shalat yang disyariatkan secara berjamaah, maka bagaimana kiranya jika di luar ibadah? Kita mengetahui bersama, dalam keadaan dan suasana ibadah tentunya seseorang lebih jauh dari perkara-perkara yang berhubungan dengan syahwat. Maka bagaimana sekiranya ikhtilath itu terjadi di luar ibadah? Sedangkan setan bergerak dalam tubuh Bani Adam begitu cepatnya mengikuti peredaran darah . Bukankah sangat ditakutkan terjadinya fitnah dan kerusakan besar karenanya?” (Lihat Fatawa An-Nazhar wal Khalwah wal Ikhtilath, hal. 45)

Subhanallah. Padahal wanita para shahabat keluar menghadiri shalat dalam keadaan berhijab syar’i dengan menutup seluruh tubuhnya –karena seluruh tubuh wanita adalah aurat– sesuai perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Ahzab ayat 59 dan An-Nur ayat 31, tanpa melakukan tabarruj karena Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang mereka melakukan hal itu dalam surat Al-Ahzab ayat 33, juga tanpa memakai wewangian berdasarkan larangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, dan yang lainnya :

وَلْيَخْرُجْنَ وَهُنَّ تَفِلاَتٌ

Hendaklah mereka keluar tanpa memakai wewangian.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang siapa saja dari mereka yang berbau harum karena terkena bakhur untuk untuk hadir shalat berjamaah sebagaimana dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 53:

وَإِذَا سَأَلْتُمُوْهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوْهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوْبِكُمْ وَقُلُوْبِهِنَّ

“Dan jika kalian (para shahabat) meminta suatu hajat (kebutuhan) kepada mereka (istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka mintalah dari balik hijab. Hal itu lebih bersih (suci) bagi kalbu kalian dan kalbu mereka.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan mereka berinteraksi sesuai tuntutan hajat dari balik hijab dan tidak boleh masuk menemui mereka secara langsung. Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata: “Maka tidak dibenarkan seseorang mengatakan bahwa lebih bersih dan lebih suci bagi para shahabat dan istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan bagi generasi-generasi setelahnya tidaklah demikian. Tidak diragukan lagi bahwa generasi-generasi setelah shahabat justru lebih butuh terhadap hijab dibandingkan para shahabat, karena perbedaan yang sangat jauh antara mereka dalam hal kekuatan iman dan ilmu. Juga karena persaksian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap para shahabat, baik lelaki maupun wanita, termasuk istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri bahwa mereka adalah generasi terbaik setelah para nabi dan rasul, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Demikian pula, dalil-dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah menunjukkan berlakunya suatu hukum secara umum meliputi seluruh umat dan tidak boleh mengkhususkannya untuk pihak tertentu saja tanpa dalil.” (Lihat Fatawa An-Nazhar, hal. 11-10)

Pada saat yang sama, ikhtilath itu sendiri menjadi sebab yang menjerumuskan mereka untuk berpacaran, sebagaimana fakta yang kita saksikan berupa akibat ikhtilath yang terjadi di sekolah, instansi-instansi pemerintah dan swasta, atau tempat-tempat yang lainnya. Wa ilallahil musytaka (Dan hanya kepada Allah kita mengadu)

>>2. Khalwat, yaitu berduaannya lelaki dan wanita tanpa mahram. Padahal Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُوْلَ عَلىَ النِّسَاءِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ اْلأَنْصَارِ: أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ؟ قَالَ: الْحَمْوُ الْمَوْتُ

Hati-hatilah kalian dari masuk menemui wanita.” Seorang lelaki dari kalangan Anshar berkata: “Bagaimana pendapatmu dengan kerabat suami? ” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mereka adalah kebinasaan.” (Muttafaq ‘alaih, dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

“Jangan sekali-kali salah seorang kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali bersama mahram.” (Muttafaq ‘alaih, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma)

Hal itu karena tidaklah terjadi khalwat kecuali setan bersama keduanya sebagai pihak ketiga, sebagaimana dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يَخْلُوَنَّ بِامْرَأَةٍ لَيْسَ مَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ مِنْهَا فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan sekali-kali dia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa disertai mahramnya, karena setan akan menyertai keduanya.” (HR. Ahmad)

>>3. Berbagai bentuk perzinaan anggota tubuh yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

كُتِبَ عَلىَ ابْنِ آدَمَ نَصِيْبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ: الْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَاْلأُذُنَانِ زِنَاهُمَا اْلاِسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ، وَالْيَدُ زِنَاهُ الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهُ الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ أَوْ يُكَذِّبُهُ

“Telah ditulis bagi setiap Bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah(lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara kalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluan lah yang membenarkan atau mendustakan.”

Hadits ini menunjukkan bahwa memandang wanita yang tidak halal untuk dipandang meskipun tanpa syahwat adalah zina mata . Mendengar ucapan wanita (selain istri) dalam bentuk menikmati adalah zina telinga. Berbicara dengan wanita (selain istrinya) dalam bentuk menikmati atau menggoda dan merayunya adalah zina lisan. Menyentuh wanita yang tidak dihalalkan untuk disentuh baik dengan memegang atau yang lainnya adalah zina tangan. Mengayunkan langkah menuju wanita yang menarik hatinya atau menuju tempat perzinaan adalah zina kaki. Sementara kalbu berkeinginan dan mengangan-angankan wanita yang memikatnya, maka itulah zina kalbu. Kemudian boleh jadi kemaluannya mengikuti dengan melakukan perzinaan yang berarti kemaluannya telah membenarkan; atau dia selamat dari zina kemaluan yang berarti kemaluannya telah mendustakan. (Lihat Syarh Riyadhis Shalihin karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, pada syarah hadits no. 16 22)

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيْلاً

“Dan janganlah kalian mendekati perbuatan zina, sesungguhnya itu adalah perbuatan nista dan sejelek-jelek jalan.” (Al-Isra`: 32)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حِدِيْدٍ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ

“Demi Allah, sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik dari menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 226)
Meskipun sentuhan itu hanya sebatas berjabat tangan maka tetap tidak boleh. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

وَلاَ وَاللهِ مَا مَسَّتْ يَدُ رَسُوْلِ اللهِ يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ غَيْرَ أَنَّهُ يُبَايِعُهُنَّ بِالْكَلاَمِ

“Tidak. Demi Allah, tidak pernah sama sekali tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyentuh tangan wanita (selain mahramnya), melainkan beliau membai’at mereka dengan ucapan (tanpa jabat tangan).” (HR. Muslim)

Demikian pula dengan pandangan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman dalam surat An-Nur ayat 31-30:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوْجَهُمْ – إِلَى قَوْلِهِ تَعَلَى – وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ …

“Katakan (wahai Nabi) kepada kaum mukminin, hendaklah mereka menjaga pandangan serta kemaluan mereka (dari halhal yang diharamkan) –hingga firman-Nya- Dan katakan pula kepada kaum mukminat, hendaklah mereka menjaga pandangan serta kemaluan mereka (dari hal-hal yang diharamkan)….”
Dalam Shahih Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata:

سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظْرِ الْفَجْأَةِ؟ فَقَالَ: اصْرِفْ بَصَرَكَ

“Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang tiba-tiba (tanpa sengaja)? Maka beliau bersabda: ‘Palingkan pandanganmu’.”
Adapun suara dan ucapan wanita, pada asalnya bukanlah aurat yang terlarang. Namun tidak boleh bagi seorang wanita bersuara dan berbicara lebih dari tuntutan hajat (kebutuhan), dan tidak boleh melembutkan suara. Demikian juga dengan isi pembicaraan, tidak boleh berupa perkara-perkara yang membangkitkan syahwat dan mengundang fitnah. Karena bila demikian maka suara dan ucapannya menjadi aurat dan fitnah yang terlarang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَعْرُوْفًا

“Maka janganlah kalian (para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berbicara dengan suara yang lembut, sehingga lelaki yang memiliki penyakit dalam kalbunya menjadi tergoda dan ucapkanlah perkataan yang ma’ruf (baik).” (Al-Ahzab: 32)

Adalah para wanita datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di sekitar beliau hadir para shahabatnya, lalu wanita itu berbicara kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepentingannya dan para shahabat ikut mendengarkan. Tapi mereka tidak berbicara lebih dari tuntutan hajat dan tanpa melembutkan suara.

Dengan demikian jelaslah bahwa pacaran bukanlah alternatif yang ditolerir dalam Islam untuk mencari dan memilih pasangan hidup. Menjadi jelas pula bahwa tidak boleh mengungkapkan perasaan sayang atau cinta kepada calon istri selama belum resmi menjadi istri. Baik ungkapan itu secara langsung atau lewat telepon, ataupun melalui surat. Karena saling mengungkapkan perasaan cinta dan sayang adalah hubungan asmara yang mengandung makna pacaran yang akan menyeret ke dalam fitnah. Demikian pula halnya berkunjung ke rumah calon istri atau wanita yang ingin dilamar dan bergaul dengannya dalam rangka saling mengenal karakter dan sifat masing-masing, karena perbuatan seperti ini juga mengandung makna pacaran yang akan menyeret ke dalam fitnah. Wallahul musta’an (Allah-lah tempat meminta pertolongan).

Adapun cara yang ditunjukkan oleh syariat untuk mengenal wanita yang hendak dilamar adalah dengan mencari keterangan tentang yang bersangkutan melalui seseorang yang mengenalnya, baik tentang biografi (riwayat hidup), karakter, sifat, atau hal lainnya yang dibutuhkan untuk diketahui demi maslahat pernikahan. Bisa pula dengan cara meminta keterangan kepada wanita itu sendiri melalui perantaraan seseorang seperti istri teman atau yang lainnya. Dan pihak yang dimintai keterangan berkewajiban untuk menjawab seobyektif mungkin, meskipun harus membuka aib wanita tersebut karena ini bukan termasuk dalam kategori ghibah yang tercela.

Hal ini termasuk dari enam perkara yang dikecualikan dari ghibah, meskipun menyebutkan aib seseorang. Demikian pula sebaliknya dengan pihak wanita yang berkepentingan untuk mengenal lelaki yang berhasrat untuk meminangnya, dapat menempuh cara yang sama.
Dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits Fathimah bintu Qais ketika dilamar oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm, lalu dia minta nasehat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau bersabda:

أَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَلاَ يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتِقِهِ، وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوْكٌ لاَ مَالَ لَهُ، انْكِحِي أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ

“Adapun Abu Jahm, maka dia adalah lelaki yang tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya . Adapun Mu’awiyah, dia adalah lelaki miskin yang tidak memiliki harta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid.” (HR. Muslim)

Para ulama juga menyatakan bolehnya berbicara secara langsung dengan calon istri yang dilamar sesuai dengan tuntunan hajat dan maslahat. Akan tetapi tentunya tanpa khalwat dan dari balik hijab. Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (130-129/5 cetakan Darul Atsar) berkata: “Bolehnya berbicara dengan calon istri yang dilamar wajib dibatasi dengan syarat tidak membangkitkan syahwat atau tanpa disertai dengan menikmati percakapan tersebut. Jika hal itu terjadi maka hukumnya haram, karena setiap orang wajib menghindar dan menjauh dari fitnah.”

Perkara ini diistilahkan dengan ta’aruf. Adapun terkait dengan hal-hal yang lebih spesifik yaitu organ tubuh, maka cara yang diajarkan adalah dengan melakukan nazhor, yaitu melihat wanita yang hendak dilamar. Nazhor memiliki aturan-aturan dan persyaratan-persyaratan yang membutuhkan pembahasan khusus.

Wallahu a’lam.

>>http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=425

Rabu, 12 Maret 2014


Dalam suatu perbincangan hangat dengan seorang ustadz...

"anta tau masalah yang sangat urgent di indonesia untuk saat ini?"

"apa itu ustadz?"

"tentang masalah syi'ah yaa akhi..."

"kenapa dengan syi'ah yaa ustadz? apa karena pada mau berbondong-bondong masuk parlemen?"

"itu salah satunya akhi, kalau ana bertanya ke anta, mungkin tidak indonesia akan menjadi seperti lebanon atau suriah?"

"wallahu 'alam ustadz, semoga tidak terjadi..."

"na'am kita semua pasti berharap demikian, namun kita juga perlu sebuah persiapan..."

"persiapan untuk apa ustadz?"

"persiapan perang akhir zaman akhi, banyak ulama yang sudah menyebutkan bahwa masa sekarang sudah memasuki masa akhir zaman yang ditandai dengan perang di suriah... Musuh-musuh Allah sedang mempersiapkan untuk masa sekarang. Kita juga harus bersiap diri untuk hal ini."

"Lalu hubungannya dengan syi'ah Indonesia apa ustadz?"

"Seorang syaikh ketika di Lipia pernah ditanya, 'yaa syaikh menurut anda syi'ah di indonesia sudah masuk tahap ke berapa?' Beliau menjawab, 'sudah sejak lama ana amati bahwa syi'ah di negeri ini sudah masuk fase ke lima.' Anta tau maksudnya ini?"

"Tidak yaa ustadz, maksud dari fase-fase itu apa?"

"Revolusi syi'ah di seluruh dunia terbagi dalam 5 tahapan dengan target 50 tahun. Jadi setiap fase atau tahapan memiliki jangka waktu 10 tahun. Fase-fase itu terbagi menjadi:
1. Fase pengenalan.
2. Fase mediasi dan sosialisai.
3. Fase dakwah.
4. Fase pengkaderan.
5. Fase revolusi atau makar."

"Berarti maksudnya syi'ah di indonesia ini saat ini sudah memasuki fase revolusi atau perebutan pemerintahan yaa ustadz?"

"Na'am, mereka saat ini berbondong-bondong masuk ke parlemen bukanlah suatu kebetulan belaka. namun inilah sistemasi mereka yang mengharuskan mereka untuk saat ini masuk ke pemerintahan... Mereka sangat terorganisir yaa akhi. Mereka ini sangat halus dalam pergerakannya, makanya mereka menamakan pergerakan mereka dengan nama REVOLUSI. Seakan-akan mereka tidak ada pergerakan, NAMUN NANTINYA DALAM SATU HARI MEREKA AKAN MENGUBAH NEGERI INI M ENJADI NEGERI SYI'AH. Dan itulah yang terjadi di Lebanon dan Suriah."

"Kalau boleh tau, apa yang terjadi di Lebanon yaa ustadz?"

"Mereka memasukkan kader-kader mereka ke parlemen terlebih dahulu. Dan suatu saat presiden yang kristen itu dibunuh. Lalu parlemen menentukan kepala pemerintahan, ketika orang-orang di parlemen adalah syi'ah, maka sudah dipastikan mereka akan memilih kepala pemerintahan yang syi'ah pula. Maka dari itu sekarang Lebanon lebih dikenal sebagai negara syi'ah."

"Lalu bagaimana dengan Indonesia yaa ustadz?"

"Indonesia pun menjadi ladang empuk bagi mereka, negara pluralis itu adalah sasaran yang empuk untuk mereka jadikan sebagai negara kekuasaan mereka. Dan kita tidak bisa pungkiri bahwa sejak tahun 1986 sudah ada da'i syi'ah yang menyebarkan agama mereka. Kalau anta pernah mendengar nama Ag*s Ab* B*k*r Al Habsyi yang sekarang menjadi penasehat SB* di Partai Dem*kr*t, di tahun 1986 dia itu sudah pernah berdebat dengan Ustadz Abdul Hakim Abdat dan Ustadz Yazid Jawwas. Ini yang menceritakan ustadz hakim sendiri... Bahkan diakhir debat itu, dia tetap kekeuh dengan aqidah syi'ahnya dan berujar kepada Ustadz Abdul Hakim dan Ustadz Yazid dengan nada mengancam, 'KALIAN LIHAT SAJA APA YANG AKAN TERJADI DENGAN NEGERI INI DAN APA YANG AKAN KAMI PERBUAT KEPADA KALIAN...'.
Anta tau yang dia maksud dengan perkataan "kalian" disini itu siapa?"

"Siapa yaa ustadz?"

"Siapa lagi kalau bukan orang-orang yang memiliki aqidah dan manhaj seperti ustadz hakim dan ustadz yazid, mereka adalah SALAFI di Indonesia... Dia sejak tahun 1986 sudah menjadi da'i syi'ah. Dan sekarang bercokol serta menjadi penasehat di pemerintahan... Belum lagi pergerakan-pergerakan dari tokoh syi'ah yang lain seperti J*l*l*ddin Rakhm** dan istrinya.
Kita juga patut mewaspadai mereka, yang rojul itu lulusan komunikasi. Bisa dipastikan dia pandai dalam beretorika. Dan itupun sunnatulloh bahwa kaum kufar itu pandai dalam bersya'ir dan berkalam... Makanya dia terjun ke ranah politik.
Sedangkan yang hareem bisa dilihat bahwa dia pandai berm ain watak, tak khayal dia ditempatkan dalam ranah dakwah untuk menarik simpatisan dari orang awam, sekuleris, bahkan nashoro..."

"Apa lagi yang antum ketahui tentang pergerakan syi'ah, ustadz?"

"Seorang perwira tinggi TNI yang notabene juga thalib ustadz yazid pernah memaparkan kepada ustadz yazid bahwa intel kepunyaannya berhasil menemukan rekap-rekap data yang menerangkan tentang aktifitas pendirian negara di dalam negara indonesia ini. dan itu semua bermula dari lembaga I*C di Jakarta. Bagaimana syabab syi'ah dikirim ke lebanon untuk melakukan latihan militer, bagaimana da'i-da'i syi'ah tiap bulan mengunjungi kedubes iran untuk menerima gaji dan mandat perintah selanjutnya tentang misi syi'ahisasi ini, bagaimana orang-orang penting pemerintahan dan juga petinggi-petinggi ormas islam diajak berkunjung ke iran, bagaimana sistemasi beasiswa untuk pemuda-pemuda indonesia di iran, bagaimana cara mereka masuk pemerintahan. INI SUDAH SANGAT GAMBLANG TENTANG PERGERAKAN MEREKA MELAKUKAN MAKAR DI NEGERI INI.

Tapi inilah konyolnya negeri ini, mereka yang ada di parlemen dan pemerintahan serta media-media seakan tutup mata akan kegiatan mereka. Seakan-akan ada yang mencegah agar berita ini tidak terblow up hingga meresahkan warga. MEREKA INI SANGAT TERORGANISIR DAN SENYAP..."

"Lalu apa yang harus kita lakukan ustadz? perlukah kita ikut dalam pemilu raya kelak?"

"Wallohu 'alam, untuk masalah ini silahkan anta bertanya kepada ustadz hakim, ustadz yazid, atau ustadz-ustadz yang lain. Karena menurut ana ini masalah yang sangat pelik, dan hal tersebut sudah berlangsung dan menjadi suatu kegagalan di aljazair, libya dan negara lainnya.

Kita juga tidak mengetahui satu persatu kebersihan partai tersebut, ada yang membuat iklan bahwa negeri indonesia ini tidak seperti di suriah dan asia selatan...

YAA ALLAH YAA KARIIM...
TIDAK INGATKAH KITA, BERAPA RATUS TAHUN KAUM MUSLIMIN ANDALUSIA MENJAGA DAN MENYAMANKAN KEHIDUPAN NASHORO DISANA? KURANG LEBIH 800 TAHUN NASHORO DIJAGA OLEH KAUM MUSLIMIN, NAMUN DALAM SEHARI KAUM MUSLIMIN D IUSIR DARI ANDALUSIA.
TIDAK INGATKAH KITA BAHWA ALLAH SENDIRI YANG MENASEHATI KITA BAHWA SESUNGGUHNYA YAHUDI DAN NASHORO TIDAK AKAN PERNAH RIDHO KEPADA KITA.
LALU KENAPA PLURALISME MASIH DIJADIKAN SEBAGAI KEBANGGAAN?

HARUSNYA PARTAI-PARTAI YANG MENGATASNAMAKAN ISLAM DAN BERKORIDOR DAKWAH MEMBUKA MATA, APA YANG KALIAN INGINKAN DENGAN MENGGANDENG NASHORO?
APA YANG KALIAN JADIKAN VISI PERGERAKAN KALIAN?
KEKUASAAN?

SADARKAH KALIAN BAHWA INDONESIA SEDANG DIOLAH UNTUK DIJADIKAN MEDAN PERTEMPURAN LAYAKNYA DI SURIAH?

Kalau dari ana pribadi, mari kita tegakkan visi dakwah kita, yaitu DAKWAH TAUHID. KITA DAKWAHKAN TAUHID KEPADA ORANG-ORANG YANG KITA KENAL, YANG DEKAT DENGAN KITA DAN KITA SAYANGI. KARENA SEBENARNYA DENGAN MANDAKWAHKAN TAUHID, KITA INI SEDANG MENOLONG AGAMA ALLAH AZZA WA JALLA.

KITA TIDAK PERLU TAKUT DENGAN ANCAMAN MEREKA, KITA TIDAK PERLU TAKUT TERHADAP SEPAK TERJANG MEREKA. TOH AJARAN AGAMA KITA TIDAK PERNAH MENGAJARKAN KEPADA KITA UNTUK BERMAKSIAT KEPADA ALLAH YANG MEMBUAT TUBUH KITA INI MENJADI LEMAH, SEMISAL ZINA YANG DAPAT MELEMAHKAN FISIK KITA DAN NYANYI-NYANYIAN YANG DAPAT MELEMAHKAN HATI KITA.

SELAMA KITA TIDAK BERMAKSIAT KEPADA ALLAH, INSYA ALLAH PERTOLONGAN ALLAH AKAN DATANG KEPADA KITA. APALAGI KETIKA AQIDAH KITA JUGA KUAT DAN KITA MENDAKWAHKANNYA PULA...
INSYA ALLAH... INSYA ALLAHU TA'ALA ALLAH AKAN MENOLONG KITA.

TAK INGATKAH KITA SIAPA YANG MENOLONG IMAM AHMAD IBN HANBAL DENGAN AQIDAHNYA YANG KUAT MELAWAN MU'TAZILAH? KETIKA HAMPIR SELURUH 'ULAMA BERSEMBUNYI DALAM KEBOHONGAN DAN MENGAKUI AL QUR'AN ADALAH MAKHLUQ...
ALLAH LAH YANG MENOLONG BELIAU. ALLAH LAH YANG MENUNJUKKAN KEBENARAN.

MUDAH BAGI ALLAH, MUDAH BAGI ALLAH MEMBENAMKAM SUATU KAUM, MUDAH BAGI ALLAH MENENGGELAMKAN ORANG-ORANG YANG MENGINGKARI DAN MEMUSUHINYA. MUDAH BAGI ALLAH MEMBALIKKAN BUMI INI.
MUDAH... SANGATLAH MUDAH.

AMALKANLAH DAN AJARKANLAH AQIDAH YANG BENAR DAN JANGANLAH KITA BERMAKSIAT KEPADA ALLAH.
INSYA ALLAH SETIAP DO'A KITA UNTUK KESELAMATAN KAUM MUSLIMIN AKAN DIIJABAH OLEH ALLAH.

DAN UNTUK UPAYA PERLINDUNGAN SER TA PERLAWANAN, LATIHLAH DIRI ANTA DENGAN JASADIYAH DAN RIYADHOH YANG SESUAI DENGAN SUNNAH ROSULULLOH 'ALAIHI SHOLATU WASALLAM SEPERTI BERENANG, MEMANAH DAN BERKUDA.
KARENA INSYA ALLAH MENGAMALKAN SUNNAH RASULULLAH TIDAK AKAN MENJADI SEBUAH KESIA-SIAAN UNTUK DIRI KITA.

DAN ENTAH TAQDIR APA YANG TERJADI KEPADA DIRI KITA APABILA SYI'AH MENGUASAI NEGERI INI NAMUN YANG PERLU KITA INGAT ADALAH SETIAP TETES DARAH KAUM MUSLIMIN YANG TUMPAH UNTUK MEMBELA AGAMANYA AKAN BERNILAI PAHALA

KITA TIDAK PERLU TAKUT DAN NGERI MELIHAT ORANG-ORANG SURIAH DISEMBELIH, DIBOM, WANITA DIPERKOSA DAN DIHINAKAN.
KARENA MEMANG MUDHOROT SEPERTI ITULAH YANG AKAN DIDAPATKAN APABILA MEREKA MENGUASAI NEGERI INI.

LAWAN DAN LAWANLAH TERUS WALAU DARAH KITA TERUS MENGUCUR.
INSYA ALLAH ITU PAHALA UNTUK KITA.
MARI PERSIAPKAN DIRI MULAI SEKARANG."

 ☞ Shared by member grup Whatsapp

Kamis, 06 Maret 2014

Ketika aku membuka lembaran-lembaran file pegawai yang telah pensiun, kutemukan catatan berikut ini:

Dahulu aku berangan-angan….
Andai aku menjadi seorang pegawai kantoran…
Dan benar saja, akhirnya akupun bekerja sebagai pegawai
Sehingga akupun terobsesi untuk segera menikah.

Dahulu aku berangan-angan …
Kiranya aku dapat menikah..
Dan benar saja, akupun menikah.
akan tetapi hidup ini demikian sepi tanpa kehadiran anak.

Akupun berangan-angan…
kiranya aku dikaruniakan anak
dan benar saja, akupun diberikan karunia anak -anak.
Akan tetapi ,tidak berselang beberapa lama akhirnya aku jenuh dengan dinding2 apartemenku sendiri.

Akupun kembali berangan-angan.
Andai aku memiliki rumah pribadi
Terdapat halaman dan tamannya…
Dan benar saja, setelah berusaha keras akupun memiliki rumah itu, akan tetapi… anak anak ku sudah pada  dewasa..

Akupun kembali berangan-angan
Duhai kiranya aku dapat menikahkan mereka…
Dan benar saja, akhirnya merekapun telah menikah.
Tapi aku jenuh dengan pekerjaanku dengan segala kesulitannya, semuanya terasa sangat melelahkanku.
Akupun kembali berangan-angan
Andai aku segera pensiun agar aku dapat beristirahat.
Benar saja, akupun akhirnya pensiun
Akan tetapi akupun tinggal seorang diri persis seperti kala aku baru lulus kuliah dahulu.

Akan tetapi ketika baru lulus kuliah dahulu
Saat itu aku tengah menyongsong kehidupan
sementara saat ini aku sedang menyongsong akhir kehidupan
Namun meskipun demikian, aku masih saja memiliki setumpuk angan -angan…

Kini aku berangan-angan
Untuk menghafalkan Al Qur’an
Tapi… ingatanku telah mengkhinatiku (cepat lupa)

Aku juga berangan-angan
Untuk berpuasa mendekatkan diri kepada Allah
Tapi kesehatanku tidak lagi mendukungku.

Aku juga berangan-angan
Untuk bangun shalat malam
Tapi kakiku tak mampu lagi menahan beban tubuhku

Sungguh benarlah Sabda Rasulullah al-Musthafa  ﷺ  :
“Pergunakanlah sebaik-baiknya 5 perkara sebelum datangnya 5 perkara:
1. Masa mudamu sebelum datang masa tuamu
2. Masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu
3. Masa kayamu sebelum datang masa miskinmu
4. Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu
5. Masa hidupmu sebelum datang kematianmu."

Ya Allah! Bantulah kami untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu dan melakukan ibadah sebaik-baiknya kepada-Mu.

Saudaraku…
Jika dalam aktivitas harianmu tidak terdapat
Dua rakaat Shalat Duha,

Atau 1 hizb bacaan Qur’an

Atau shalat Witir di malam hari,

Atau ungkapan kalimat baik yang kau ucapkan,

Atau sedekah yang dapat memadamkan kemurkaan Allah,

Atau amalan rahasia yang tak diketahui melainkan Allah.

Maka masih adakah nikmat hidup tersisa untukmu?


✒Grup WA AN NASHIHAH

http://stiba.net/2014/02/26/panjang-angan-angan/

Senin, 03 Maret 2014


Aku tdk akan benar benar mengerti nilai sesuatu kecuali setelah ia hilang darikuAyahanda yang berjuang mencari nafkah, berjemur di bawah terik matahari...
memikul barang dagangan yang berat tanpa ada rasa malu demi kami anak anaknya...
Tubuh berpeluh tak kenal lelah...
kulit bertambah hitam demi kecerian wajah putra putrinya...

Sekarang engkau telah tiada...
Aku tak tahu apakah engkau pergi dalam kondisi rido kepada anakmu ini...
apakau engkau memaafkan kesalahan-kesalahan anakmu ini...?

Masih terasa sedih hati ini tatkala engkau dengan malunya meminta sedikit biaya dariku lalu aku berkata "Maaf ayahku, ananda lagi tidak ada uang, lain waktu insyaa Allah..."

Kalimat yang kulontarkan tentu menyakitkan hatimu, tapi terpaksa kuucapkan karena kondisiku tatkala itu..

Tapi aku yakin engkau telah memaafkanku...
Kabar gembira yang membuatku terharu...
sebelum meninggal engkau membeli pakaian yang banyak lalu engkau bagi bagikan ke para tetangga, bahkan engkau membagi bagikan uang kepada mereka..

Bahkan dengan yakin engkau berkata "Aku akan menetap di surabaya, kalau kalian ingin lihat anak anakku maka mereka akan datang ke surabaya..."

Sungguh benar engkau wahai ayahku...
anak-anakmu seluruhnya telah datang memenuhi panggilanmu...
akan tetapi setelah engkau dalam kafanmu...
Hanya tinggal aku anakmu ini yang belum bisa menemuimu...
semoga Allah memudahkan...

Semoga ucapan terakhirmu ..."Astaghfirullah.. Laaa ilaaaha illallah..." menghapuskan seluruh dosa dan kesalahanmu...

Semoga itu merupakan pengkabulan dari Maha Kuasa tatkala kami anak-anakmu umroh bersama pekan yang lalu...

Sekarang hanya penyesalan diriku yang tiada guna...

Masih terlalu banyak kebaikan yang aku cita citakan untuk kupersembahkan kepadamu ayahanda....namun...Semoga engkau memaafkan kekuranganku selama ini...

Engkau adalah pintu surgaku yang pernah terbuka lebar...akan tetapi sekarang telah tertutup...

Semoga senyumanmu dalam kafanmu menandakan rahmat Allah yang senantiasa menyertaimu...

PUTRAMU YANG SELALU MENDOAKANMU....
Firanda Andirja.

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts