Selasa, 12 November 2013

Penamaan Syi'ah dengan Rafidhah disebutkan oleh salah satu pembesar mereka yaitu al-Majlisi dalam kitabnya Biharul Anwar. Dia mengatakan," Bab tentang keutamaan orang-orang Rafidhah dan terpujinya menamakan diri dengannya." Kemudian dia menyebutkan  riwayat Sulaiman al-A'masy, dia mengatakan: "Aku memasuki tempat Abu Abdullah Ja'far bin Muhammad. Aku berkata," Aku menjadi penebusmu, sesungguhnya manusia menamai kita dengan nama Rawafidh (bentuk jama' dari Rafidhah- pent), sebenarnya apa makna Rawafidh? Maka dia berkata," Demi Allah, sebenarnya bukan mereka yang menamai, tetapi Allah-lah yang menamai kalian dengan nama itu dalam kitab Taurat dan Injil melalui perkataan Musa dan 'Isa."[1]

Dikatakan juga, mereka diberi nama Rafidhah dikarenakan mereka mendatangi Zaid bin Ali bin Husain seraya berkata,"Berlepas dirilah kamu dari Abu Bakar dan Umar, dengan demikian kami akan bergabung bersamamu," kemudian Zaid menjawab, "Mereka berdua adalah shahabat kakek saya (Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam), justru aku setia dan cinta kepada mereka berdua." Maka mereka berkata: "Jika demikian kami menolakmu." Dengan demikian mereka diberi nama "Rafidhah" artinya golongan penolak. Adapun orang-orang yang berbai'at dan setuju dengan Zaid diberi nama Zaidiyyah.[2]

Dalam suatu pendapat dikatakan mereka diberi nama Rafidhah dikarenakan menolak kepemimpinan Abu Bakar dan Umar.[3]
Dalam pendapat yang lain, diberi nama Rafidhah dikarenakan penolakan mereka terhadap agama.[4]

Berbagai Macam Sekte Rafidhah

Dijelaskan dalam kitab Daairatul Maarif bahwa Syi'ah ini bercabang-cabang menjadi lebih dari tujuh puluh tiga golongan yang terkenal.[5]

Bahkan disinyalir sendiri oleh seorang Rafidhah bernama Mir Baqir ad-Damad[6]bahwa hadits yang menjelaskan tentang terbaginya umat menjadi 73 golongan adalah Syi'ah, dan yang selamat dari golongan-golongan ini adalah Syi'ah Imamiyyah.

Dikatakan oleh al-Maqrizi bahwa golongan mereka berjumlah sampai tiga ratus golongan.[7]

Disebutkan oleh asy-Syahrastani bahwa Rafidhah terbagi menjadi lima bagian: al-Kisaaniyyah, az-Zaidiyyah, al-Imamiyyah, al-Ghaliyyah dan al-Isma'iliyyah.[8]

Al-Baghdadi berkata, "Rafidhah setelah masa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu terbagi menjadi empat golongan, Zaidiyyah, Imamiyyah, Kisaaniyyah, dan Ghulaat."[9]dengan satu catatan bahwa Zaidiyyah tidak termasuk dalam golongan Rafidhah, namun ada kelompok al-Jarudiyyah sempalan dari Zaidiyyah yang masuk ke dalam Rafidhah.

Kota Zamrud Khatustiwa,
Bontang, 08 Muharram 1435 H

***
[1] Kitab Baiharul Anwar karangan al-Majlisi (65/97) 
[2] At-Ta'liqaat 'ala Matni Lum'atil I'tiqaad oleh Syaikh Abdullah al-Jibrin, 108.
[3] Maqaalaatul Islamiyyin (1/89), catatan kaki oleh Muhyiddin Abdul Hamid.
[5] Daairatul Maarif, 4/67
[6] Dia adalah Baqir bin Muhammad al-Istirabadi, lebih dikenal dengan nama Mir ad-Dammad, meninggal tahun 1041. Lihat biografinya dalam buku al-Kuna wal Al-Qaab, karya Abbas al-Qummi: 2/226.
[7] Al-Maqrizi, al-Khutat, 2/351
[8] Asy-Syahrastani, al-Milal wan Nihal, 147
[9] Al-Baghdadi dalam al-Farqu bainal Firaq, 41

---
Disalin dari : MIN 'AQAAIDISY SYI'AH,
Syaikh Abdullah bin Muhammad as-Salafi
Edisi Indonesia : Inilah Kesesatan Aqidah Syi'ah.
Penerbit : Jaringan Pembelaan Sunnah


Minggu, 10 November 2013

Rafidhah lahir ke permukaan ketika seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba' hadir dengan mengaku sebagai Muslim, mencintai Ahlul Bait (Keluarga Nabi), berlebih-lebihan di dalam menyanjung Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, dan mendakwahkan adanya wasiat baginya tentang kekhalifahannya, yang pada akhirnya ia mengangkatnya sampai ke tingkat ketuhanan.
Hal ini diakui oleh buku-buku Syi'ah itu sendiri.

Al-Qummi pengarang buku al-Maqalaat wal firaq[1] mengaku dan menetapkan akan adanya Abdullah bin Saba' ini dan menganggapnya orang yang pertama kali menobatkan keimaman (kepemimpinan) Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dan dia akan kembali hidup di akhir zaman.
Disamping ia juga termasuk orang yang pertama mencela Abu Bakar, Umar, Utsman dan para shahabat yang lainnya. Ini diakui juga oleh an-Nubakhti dalam bukunya Firaqus Syi'ah [2] dan al-Kasyi dalam bukunya yang terkenal Rijalul Kasyi.[3]

Adapun penganut Syi'ah kontemporer yang mengakui adanya sosok Abdullah bin Saba' ini adalah Muhammad Ali al-Mu'allim dalam bukunya : Abdullah bin Saba', al-Haqiqatul Majhulah (Abdullah bin Saba', sebuah hakikat yang terlupakan).[4] Pengakuan merupakan argumen yang paling kuat, dan itu semua muncul dari para tokoh senior Syi'ah sendiri.

Al-Baghdadi rahimahullah berkata,"As-Sabaiyyah adalah pengikut Abdullah bin Saba', yang berlebih-lebihan di dalam mengagungkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, sehingga ia mendakwakannya sebagai nabi, sampai kepada pengakuan bahwa dia adalah Allah."

Al-baghdadi menambahkan: "Ibnu Sauda' (nama lain Abdullah bin Saba') adalah seorang Yahudi dari penduduk Hirah, berpura-pura menampakkan dirinya beragama Islam sebagai senjata agar bisa memiliki pengaruh dan kepemimpinan pada penduduk Kufah. Dia berkata kepada penduduk Kufah bahwa ia mendapati dalam kitab Taurat bahwa setiap nabi memiliki washi (seorang yang diwasiati untuk menjadi khalifah atau imam). dan Ali adalah washi-nya Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam.

Asy-Syahrastani menyebutkan bahwa Abdullah bin Saba' adalah orang pertama kali memunculkan pernyataan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu diangkat sebagai imam berdasarkan nash.

Demikian juga dikatakan bahwa as-Sabaiyyah adalah sekte yang pertama kali menyatakan tentang hilangnya imam mereka dan akan muncul kembali di kemudian hari.

Pada masa berikutnya orang-orang Syi'ah-meskipun mereka ini(Syi'ah) terbagi menjadi bermacam sekte dan saling berselisih-mewarisi keyakinan akan keimaman dan hak Ali sebagai khalifah berdasarkan nash maupun wasiat.[5]

Ini semua merupakan warisan Abdullah bin Saba', selanjutnya mereka pun berkembang biak menjadi berpuluh-puluh sekte dengan aneka ragam perbedaan pendapat yang banyak sekali.

Dengan demikian jelaslah, bahwa Syi'ah membuat ideologi-ideologi baru seperti adanya wasiat kekhilafahan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, munculnya kembali imam mereka di kemudian hari, menghilangnya imam dan bahkan penuhanan para imam mereka sebagai bukti mereka hanya mengekor kepada Abdullah bin Saba' seorang Yahudi.[6]

Disadur dari buku : Min 'Aqaaidisy Syi'ah,
Syaikh Abdullah bin Muhammad as-Salafi,
Edisi Indonesia : Inilah Kesesatan Aqidah Syi'ah

***
[1] Al-Qummi, al-Maqalaat wal firaq, 10-21
[2] An-Nubakhti, Firaqus Syi'ah, 19-20
[3] Lihat beberapa riwayat yang ditulis oleh al-Kasyi tentang Ibnu Saba' dan 'aqidahnya, riwayat no. 170-174, pada halaman 106-108
[4] Buku ini merupakan bantahan terhadap sebuah buku yang ditulis oleh seorang penganut Syi'ah bernama Murtadha al-'Askari berjudul Abdullah ibnu Saba' wa Asatiir Ukhra (Abdullah bin Saba', sebuah Ilusi dan Ilusi-ilusi lain). Penulis mengingkari adanya sosok bernama Abdullah bin Saba'.
[5] Yang dimaksud dengan nash adalah penentuan 'Ali radhiyallahu 'anhu sebagai khalifah berdasarkan dalil al-Qur'an dan as-Sunnah. Sedang yang dimaksud wasiat adalah penentuan Ali sebagai khalifah dengan wasiat dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam sebelum beliau meninggal dunia (penj)
[6] Al-Lalikai : Ushulu I'tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama'ah, hal. 1/22-23.

Kamis, 07 November 2013

Sahabatku,
Mari merenung sejenak..
Ibumu.. Ibumu.. Wahai sahabatku..

Ibumu tentu sangat senang
Jika melihat putra-putrinya sekarang telah dewasa dan bermanfaat bagi keluarga barunya
Namun, ibumu pasti lebih bahagia jika beliau merasakan kemanfaatan dirimu untuknya di hari-hari tuanya

Ibumu tak cemburu melihat perhatianmu begitu banyak tercurah kepada istri dan anak-anakmu,
Namun, ibumu tentu sangat merindu menerima telepon walau sebentar dari putra kesayangannya dan hanya menanyakan : "assalamu 'alaikum, sehat Bu? "

Ibumu sangat menganjurkan dirimu sering memberi hadiah kepada istri, anak-anakmu, atau sahabat-sahabatmu sebagaimana anjuran Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam: “saling
memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai…” HR. Bukhori di Adab Almufrad dari Abi Hurairah.
Namun, apakah engkau tiada sempat sisihkan harta untuk membeli hadiah bermanfaat kemudian menghadiahkan kepada ibunda tercinta agar semakin erat rasa cintamu padanya? Seseorang yang telah korbankan rasa sakit, susah payah dan lelah hanya untuk mengukir senyum dan bahagiamu tentu lebih berhak engkau dahulukan hadiahnya

Saat Ibumu telah tiada, apakah semuanya terlambat sahabatku ??

Tentu tidak , alhamdulillah masih ada peluang emas bagimu untuk sedikit memberikan yang terbaik untuk "nya" disana, kerana engkau adalah karya terbaik(anak shalih) yang pernah diukirnya, maka doakan kebaikannya untuk"nya".

Sebagaimana sabda Nabi:
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang shalih” (HR. Muslim no. 1631)

Sahabatku, tidak harus kaubelanjakan semua hartamu untuk membalas kasih"nya", tapi cukup dimulai dari sesuatu yg kecil namun bermanfaat dan mulailah sekarang.. Seandainya pun waktu begitu sempit bagimu, luangkan dalam sholatmu doa kebaikan untuk"nya"

Ibumu.. Ibumu.. Ibumu..
Sumber : 
MuslimJogja.com | PinBB: 2A3DCAF5
Shiddiq Hasan Khan mengatakan bahwa su’ul khatimah memiliki sebab-sebab yang harus diwaspadai oleh seorang mukmin. Pertama, kerusakan dalam aqidah, walau disertai zuhud dan kesholehan. Jika ia memiliki kerusakan dalam aqidah dan ia meyakininya sambil tidak menganggap itu salah, terkadang kekeliruan aqidahnya itu tersingkap pada saat sakratul maut. Bila ia wafat dalam keadaan ini sebelum ia menyadari dan kembali ke iman yang benar, maka ia mendapatkan su’ul khatimah dan wafat dalam keadaan tidak beriman. Setiap orang yang beraqidah secara keliru berada dalam bahaya besar dan zuhud serta kesholehannya akan sia-sia. Yang berguna adalah aqidah yang benar yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul. Mereka terancam oleh ayat Allah berikut:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ

فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

”Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS Al-Kahfi ayat 103-104)

Kedua, banyak melakukan maksiat.

Orang yang sering bermaksiat akan didominasi oleh memori tersebut saat kematian menjelang. Sebaliknya bila seseorang seumur hidupnya banyak melakukan ketaatan, maka memori tersebutlah yang menemaninya saat sakratul maut. Orang yang banyak dosanya sehingga melebihi ketatannya maka ini sangat berbahaya baginya. Dominasi maksiat akan terpateri di dalam hatinya dan membuatnya cenderung dan terikat pada maksiat, dan pada gilirannya menyebabkan su’ul khatimah. Adz-Dzahabi dalam kitabnya al-Kaba’ir mengutip Mujahid: Tidaklah seseorang mati kecuali ditampilkan kepadanya orang-orang yang biasa ia gauli. Seorang lelaki yang suka main catur sekarat, lalu dikatakan kepadanya: ”Ucapkanlah La ilaha illa Allah.” Ia menjawab: ”Skak!” kemudian ia mati. Jadi, yang mendominasi lidahnya adalah kebiasaan permainan dalam hidupnya. Sebagai ganti kalimat Tauhid, ia mengatakan skak.

Ketiga, tidak istiqomah

Sungguh, seorang yang istiqomah pada awalnya, lalu berubah dan menyimpang dari awalnya bisa menjadi penyebab ia mendapat su’ul khatimah, seperti iblis yang pada mulanya merupakan pemimpin dan guru malaikat serta malaikat yang paling gigih beribadah, tapi kemudian tatakala ia diperintah untuk sujud kepada Adam, ia membangkang dan menyombongkan diri, sehingga ia masuk golongan kafir. Demikian pula dengan ulama Bani Israil Bal’am yang digambarkan dalam ayat berikut:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آَتَيْنَاهُ آَيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ

فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ

وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ

ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ

”Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.” (QS Al-A’raaf ayat 175-177)

Keempat, iman yang lemah.

Hal ini dapat melemahkan cinta kepada Allah dan menguatkan cinta dunia dalam hatinya. Bahkan lemahnya iman dapat mendominasi dirinya sehingga tidak tersisa dalam hatinya tempat untuk cinta kepada Allah kecuali sedikit bisikan jiwa, sehingga pengaruhnya tidak tampak dalam melawan jiwa dan menahan maksiat serta menganjurkan berbuat baik. Akibatnya ia terperosok ke dalam lembah nafsu syahwat dan perbuatan maksiat, sehingga noda hitam dosa menumpukdi dalam hati dan akhirnya memadamkan cahaya iman yang lemah dalam hati. Dan ketika sakratul maut tiba, cinta Allah semakin melemah manakala ia melihat ia akan berpisah dengan dunia yang dicintainya. Kecintaannya pada dunia sangat kuat, sehingga ia tidak rela meninggalkannya dan tak kuasa berpisah dengannya. Pada saat yang sama timbul rasa khawatir dalam dirinya bahwa Allah murka dan tidak mencintainya. Cinta Allah yang sudah lemah itu berbalik menjadi benci. Akhirnya bila ia mati dalam kondisi iman seperti ini, maka ia mendapat su’ul khatimah dan sengsara selamanya.

Sumber : Note Facebook
 http://www.facebook.com/notes/majelis-tausiah-para-kyai-ustadz-indonesia/penyebab-suul-khatimah-

Minggu, 03 November 2013

Al Kisah, dahulu ada seorang syaikh yang selalu mengajarkan murid-muridnya perkara akidah. Dia mengajari mereka tentang kalimat "laa ilaaha illallah", dia berusaha menjelaskan dan menanamkannya pada mereka, dalam rangka meneladani Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Tatkala dia sedang mengajari mereka tentang "laa ilaaha illallah" dan menanamkannya di dalam jiwa mereka, salah satu muridnya menghadiahkannya seekor burung beo, karena dahulu syaikh ini suka memelihara burung dan kucing.
Dengan perjalanan waktu, dia menyukai burung beo itu dan selalu membawanya bersamanya di setiap pelajarannya. Sampai burung beo itu bisa mengucapkan Kalimat "laa ilaaha illallah". Dan sang burung selalu mengucapkannya siang dan malam.

Suatu ketika para murid mendapati syaikh mereka sedang menangis terisak-isak. Maka mereka pun bertanya kepadanya mengenai apa yang telah membuatnya menangis?!.

Dia menjawab bahwa kucingnya telah memangsa beo tersebut. Mereka berkata kepadanya: "apakah karena burung ini, engkau menangis? Kalau engkau mau, kami bisa memberimu burung beo yang lain dan lebih baik dari burung beo itu."

Syaikh pun menolaknya, dan mengatakan kepada mereka: " bukan ini yang membuatku menangis, yang membuatku menangis adalah ketika si beo diserang oleh si kucing, si beo hanya berteriak-teriak sampai mati.

Padahal si beo sebelumnya banyak mengucapkan "laa ilaaha illallah". Tetapi ketika si beo diserang oleh si kucing, dia lupa mengucapkan "laa ilaaha illallah", dia hanya berteriak-teriak. Karena dahulu si beo cuma mengucapkannya dengan lisannya, sementara hatinya tidak mengilmuinya dan tidak pula menghayatinya."

Selanjutnya syaikh mereka berkata: "Aku takut kalau keadaan kita seperti burung beo ini. Sepanjang hidup, kita selalu mengulang-ulang "laa ilaaha illallah", tetapi ketika kematian mendekati kita, kita lupa terhadapnya dan tidak ingat, karena hati kita tidak meresapinya (dan tidak pula memahaminya)."

Maka para muridnya pun ikut menangis terisak-isak karena takut tidak mempunyai keikhlasan dan kejujuran hati dalam mengucapkan "laa ilaaha illallah".

Demikian pula dengan kita -wahai para pembaca- apakah hati kita sudah memahami, meresapi, dan menghayati "laa ilaaha illallah"?!.

Tak ada sesuatu yang naik ke langit lebih agung daripada keikhlasan hati, dan tak ada sesuatu yang turun dari langit lebih agung daripada taufiq Allah. Maka sesuai dengan kadar keikhlasan hati kita akan datang taufiq dari Allah.


Sumber : Sebuah Status FB shahabat,
Via : Ustadz Abdul Mu'thi Al-Maidani
Ada orang-orang yang pulas tertidur, namun kalkulasi dosa terus bergulir..

Bahkan ketika jasad telah kaku terbujur, namun catatan dosa belum berakhir..

Hingga pun ia masuk ke dalam liang kubur kiriman dosa terus datang bergilir..

Begitulah resiko trendsetter dosa, pioner maksiat dan siapapun yang ikut andil menyebarkan kesesatan dan kamaksiatan. Mereka turut menanggung dosa orang-orang yg mengikutinya

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu Rasulullah Shallallahu 'alahi wassalam bersabda :

وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنِ اتَّبَعَهُ إِلَى يَوْمِ
الْقِيَامَةِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

"Barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan, maka baginya dosa orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat, tanpa mengurangi dosa pengikutnya sama sekali." (HR Muslim no. 2674)
 
Copas,
Sebuah Status FB

Jumat, 01 November 2013

Dunia, terlebih dunia islam terus menerus diusik dengan isu emansipasi wanita. Para penggerak emansipasi wanita sering kali menyuarakan kesamaan gender, lelaki menyamai wanitaan sebaliknya juga demikian. Sebagaimana lelaki boleh menjadi pemimpin maka mereka juga menuntut agar wanita juga boleh menjadi pemimpin.

Saya tidak ingin berdebat dalam urusan ini, saya hanya ingin bertanya: bila kaum lelaki di perumahan atau kampung bertugas ronda malam, apa para penggerak emansipasi juga akan mengusulkan agar wanita juga bertugas ronda malam?

Bila di tempat-tempat umum kaum lelaki disediakan tempat untuk buang air kecil ( kencil) dengan berdiri, maka apakah para penggerak emansipasi juga akan memperjuangkan agar kaum wanita disiapkan tempat untuk buang air kecil dengan berdiri?

Bila kaum wanita melahirkan anak, apa mereka juga akan mengusulkan agar lelaki juga hamil lalu melahirkan anak?

Bila wanita setiap bulan datang bulan, apa mereka juga akan memperjuangkan agar lelaki setiap bulan juga mengalami pendarahan dengan cara apapun?

Bila kaum wanita menggunakan make up, lip stik, pemerah pipi dll, apakah para pejuang emansipasi juga akan menuntut agar kaum lelaki melakukan hal yang sama?

Fitrah, kodrat dan akal sehat setiap insan pasti mengakui adanya perbedaan lelaki dan wanita. Dan sudah barang tentu perbedaan ini menyebabkan adanya perilaku, hak dan tanggung jawab masing masing. Ada amalan yang cocok dan hanya bisa dilakukan oleh kaum lelaki, semisal kencing berdiri, demikian juga, ada amalan yang hanya pantas dilakukan oleh wanita, semisal memakai merah bibir dan pipi.

Dan diantara hal yang hanya patut dilakukan oleh lelaki selaras dengan kodrat mereka, ialah menjadi pemimpin ummat, baik dalam skup yang sempit yaitu dalam rumah tangga sebagaimana ditegaskan pada ayat berikut: 


الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
 

Lelaki adalah pemimpin kaum wanita karena kelebihan yang Allah berikan kepada kaum lelaki diatas kaum wanita dan karena harta yang mereka belanjakan. ( an Nisa 34)
Demikian pula dalam kepemimpinan yang berskala luas yaitu sebagai kepala negara atau khalifah. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً»
 

Tidak akan sukses kaum yang menyerahkan kepemimpinan mereka kepada wanita. ( Al Bukhary)

Sumber : Facebook Ust DR Muhammad Arifin Badri, MA

Artikel Terbaru

Popular Posts