Kamis, 19 September 2013

Riya' Dan Bahayanya, Maktabah Al-Aisar 
Oleh: Ust. Yazid bin Abdul Qodir Jawwas hafidzahullah

Dari Abi Hurairah-radliyallahu anhu, ia berkata: Aku mendengar Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda:” Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya:’Amal apakah yang engkau kerjakan dengan nikmat-nikmat itu?’,Ia menjawab:’Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman:’ Kamu dusta! kamu berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu dengan mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. berikutnya (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al Qur’an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Lalu Allah menanyakannya:’ Amal apakah yang kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?.’ Ia menjawab:’Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca Al Qur’an hanyalah karena Engkau.” Allah berfirman:’ Kamu dusta! Kamu menuntut Ilmu agar dikatakan seorang alim (yang berilmu) dan kamu membaca Al Qur’an supaya dikatakan seorang qori’ (pembaca Al Qur’an yang baik). Memang begitulah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang didadili) adalah orang yang diberikan rejeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenali (mengakuinya). Allah bertanya :’ Apa yang kamu perbuat dengan  nikmat-nikmat itu? Dia menjawab :’ Aku tidak pernah meninggalkan shadaqoh dan infak pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman:’ Kamu dusta! kamu berbuat yang demikian supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya kedalam neraka.”

Takhrij Hadits

Hadits ini diriwatkan oleh:
  1. Muslim,  Kitabul Imarah bab Man Qaatala lir Riya’ was Sum’ah Istahaqqannar 6/47 atau 3/1513-1514 no 1905
  2. An-Nasai, Kitabul Jihad bab Man Qaatala liyuqala: Fulan Jari’, Sunan Nasai 6/23-24
  3. Ahmad, dalam Musnad Ahmad 2/322
Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani -rahimahullah- dalam Shahih Targhib wa Tarhib 1/85 no 20 dan dalam Shahih An-Nasai 2/658 no 2940.
Hadits yang semakna dengan ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam sunan-nya, Kitab Az Zuha’ bab Majaa’a fir Riya’ wa Sum’ah, Tuhfatul Ahwadzi 7/54 no 2489, Ibnu Khuzaimah dalam shahih-nya no 2482 dan Ibnu Hibban no 2502- Mawaridudh Dham’an.
Para perawi hadits ini tsiqoh (terpercaya). Kecuali Al Walid bin Abil Walid Abu Utsman. Dikatakan oelh Al Hafidh bahwa dia layyinul hadits (lemah haditsnya) dalam Taqribul Tahdzib 2/290 tahqiq Musthafa Abdul Qodir ‘Atha. Perkataan ini keliru karena karena Al Walid bin Abdil Walid termasuk perawi Imam Muslim dan dikatakan tsiqoh oleh Abu Zur’ah Ar Razi (lihat Al Jarh wa Ta’dil juz 9 hal 19-20).
At-Tirmidzi berkata tentang hadits ini : Hasan gharib, sedangkan AL hakim berkata : Shahihul isnad dan disetujui oleh Adz Dzahabi dalam Mustadrak Al hakim 1/419, lihat Ta’liq Sunan At Tirmidzi 4/169 dan Ta’liq Shahih Shahih Ibnu Khuzaimah 4/115.
Tatkala Muawiyah -Rodliallohu anhu- mendengar hadits ini, beliau berkata:” hukuman ini telah berlaku atas mereka, bagaimana dengan orang-orang yang akan datang?” kemudian beliau menangis terisak-isak hingga pingsan. Setelah siuman, beliau mengusap mukanya sambil berkata:”Benarlah Allah dan RosulNya, Allah berfirman:
Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan persiapannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akherat kecuali neraka. Lenyaplah di akherat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan [QS Hud 15-16].

Penjelasan Hadits

Nilai amal disisi Alloh Azza wa Jalla diukur dengan ikhlas karenaNya dan sesuai dengan contoh Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam , bukan dengan banyak dan besarnya amal.
Alloh Azza wa Jalla berfirman:
“Katakanlah:”Sesungguhnya aku ini hanya manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Thannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shahih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya (Al Kahfi 110).

Hadits ini menjelaskan tentang tiga golongan manusia yang dimasukkan ke dalam neraka dan tidak mendapat penolong selain Alloh Azza wa Jalla . Mereka membawa amal yang besar, namun sayang, mereka melakukannya karena riya’, ingin mendapatkan pujian dan sanjungan manusia. Tiga golongan manusia itu adalah :

1. Kaum yang dianugerahi Alloh Azza wa Jalla kesehatan dan kekuatan. Kewajiban mereka seharusnya adalah mencurahkan semuanya untuk Allah dan di jalan Allah dalam rangka mensyukuri nikmat-nikmatNya. Namun sayang, syaithon telah menjadikan mereka mencurahkannya diluar jalan itu. Mereka memang pergi ke medan jihad dan berperang, namun tujuannya hanya supaya disebut sebagai pemberani. Kepada merekalah Alloh Azza wa Jalla mengawali pengadilanNya pada hari kiamat. lalu Alloh Azza wa Jalla memperlihatkan nikmat-nikmatNya yang telah dianugrahkan kepada mereka , seraya bertanya,”Apa yang kamu kerjakan dengan nikmat-nikmat itu?” Pada saat itulah Alloh Azza wa Jalla membuka rahasia hati mereka seraya berfiman,” Kamu pendusta! Sesungguhnya kamu berperang (berjihad) hanya supaya dikatakan pemberani (pahlawan).” Mereka tidak mampu membantah, dan demikianlah kenyataannya. Malaikatpun diperintahkan menarik wajah mereka dan melemparkan kedalam api neraka.

2. Kaum yang dimuliakan Alloh Azza wa Jalla dengan diberi kesempatan untuk menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada manusia, mereka mampu membaca Al Qur’an dan mempelajarinya, seharusnya dengan ilmunya tersebut mereka berniat karena Allah semata sebagai manifestasi rasa syukur kepada Allah atas limpahan rahmatNya. Namun sayang tujuan yang semestinya karena Allah, telah dipalingkan dan dihiasi oleh syaithon sehingga berbuat riya’ (pamer) dengan ilmunya di hadapan manusia agar mendapat pujian, kedudukan harta dan jabatan. Mereka tidak menyadari bahwa Allah selalu melihat dan mengetahui apa yang mereka lakukan dan Allah mengetahui rahasia yang tersembunyi di hati mereka. Ternyata mereka belajar, mengajar, dan membaca Al Qur’an supaya dikatakan sebagai orang alim, pintar atau semisalnya. Sedangkan yang membaca Al Qur’an supaya dikatakan qari/qari’ah, orang yang bagus dan indah bacaannya, maka pada kiamat kelak tidak ada yang lain yang mereka peroleh kecuali dikatakan “Pendusta”. Mereka hanya terdiam disertai kehinaan, kerugian dan penuh penyesalan. Kemudian Alloh Azza wa Jalla menyuruh malaikat agar menyeret dan mencampakkan mereka kedalam neraka, Wal ‘iyadzubillah.

3. Kaum yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Mereka dalah golongan yang mampu, kaya. Kewajiban mereka semestinyalah bersyukur kepada Allah dengan ikhlas karena Allah semata. Namun sayang mereka shodaqoh, infaq, memberi dan mendermakan harta supaya dikatakan dermawan, supaya dikatakan orang baik dan semisalnya. Padahal apa yang dikatakan mereka di hadapan Allah bahwa mereka berinfaq, bershodaqoh karena Allah adalah dusta belaka, Allah mengetahui isis hati mereka, dan diperintakan malaikat untuk menyeret dan mencampakkan pendusta ini ke dalam neraka dan mereka tidak mendapatkan seorang penolongpun selain Alloh Azza wa Jalla  [ lihat: Taujihat Nabawiyah ‘ala Thariq, DR Sayyid Muhammad nuh, cet. darul wafa’].

Imam Nawawi -rahimahullah- mengatakan bahwa sabda Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam tentang ornag yang berperang, orang alim dan dermawan serta siksa Allah atas mereka adalah karena mereka mengerjakan demikian untuk selain Allah, dan dimasukkannya mereka ke dalam neraka menunjukkan atas sangat haramnya riya’ dan keras siksanya serta diwajibkannya ikhlas dalam seluruh amal,
 Alloh Azza wa Jalla berfirman:

“Tidaklah mereka diperintahkan melainkan untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus” [QS Al Bayyinah 6].

Keumuman haidts-hadits tentang keutamaan jihad sesungguhnya bagi orang yang melaksanakannya karena Alloh Azza wa Jalla dengan ikhlas. Demikian juga pujian terhadap ulama/orang berilmu dan orang yang berinfaq, semua dengan syarat apabila mereka melakukannya semata-mata karena Alloh Azza wa Jalla .
Demikian mengerikannya siksa dan ancaman bagi kita orang yang berbuat riya’ dalam melakukan kebaikan. Mereka berbuat dengan tujuan mengharap pujian dan sanjungan dari manusia. Islam lebih banyak memperhatikan faktor niat (pendorong) suatu amalan itu sendiri, meskipun kedua-duanya mendapatkan perhatian.
Secara harfiah, sudah diketahui bahwa penipuan yang dilakukan seorang terhadap orang lain merupakan perbuatan hina dan dosa, bagaimana jika perbuatan penipuan ini dilakukan kepada Alloh Azza wa Jalla ?, maka perbuatan ini lebih sangat hina, buruk dan tercela. Dalam tulisan ini akan dibahas definisi riya’, sebab-sebabnya, macamnya, bahayanya, beberapa hal yang tidak termasuk riya’ serta obat penyakit riya’.

Definisi Riya’

Secara syar’I, para ulama berbeda pendapat dalam memerikan definisi riya’, namun intinya sama, yakni seorang melakukan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, namun ia lakukan bukan karena Allah melainkan tujuan dunia.
Al Qurthibi mengatakan,” hakekat riya’adalah mencari apa yang ada di dunia dengan ibadah dan arti asalnya adalah mencari tempat di hati manusia”[lihat: Al Ikhlas, DR Umar Sulaiman Al Asyqor]
jadi riya’ adalah melakukan ibadah untuk mencari perhatian manusia sehingga mereka memuji pelakunya dan ia mengharapkan pengagungan dan pujian serta penghormatan dari orang yang melihatnya. [lihat : Fathul Bari 11/336, Al Ikhlas wa Syirkul Asghor hal 9].

Perbedaan Riya dan Sum’ah

Imam Bukhori -rahimahullah- dalam shahihnya membuat bab Ar Riya’ was Sum’ah dengan membawakan hadits Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam
Barangsiapa memperdengarkan(menyiarkan) amalnya, maka Allah akan menyiarkan aibnya, dan barangsiapa beramal karena riya’, maka Allah akan membuka niatnya (dihadapan manusia pada hari kiamat kelak)” (HSR Bukhori juz 7/189 dan Muslim no 2987].
Perbedaan riya dan sum’ah ialaha Riya’ berarti beramal karena diperlihatkan kepada orang lain, sedangkan sum’ah beramal supaya diperdengarkan kepada orang lain, Riya’ berkaitan dengan indra mata, sedangkan sum’ah berkaitan dengan indra telinga [lihat : Al Ikhlas hal 95, DR Umar Sulaiman Al Asyqor].

Perbedaan antara Riya dan ‘Ujub

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- mengatakan,” Seringkali orang menghubungkan antara riya’ dan ‘ujub, padahal riya’ merupakan perbuatan syirik kepada Allah karena makhluk, sedangkan ‘ujub adalah syirik kepada Allah karena nafsu [ lihat: Majmu Fatawa 10/277]

Imam Nawawi -rahimahullah- berkata,” ketahuilah bahwa keikhlasan niat terkadang dihalangi oleh penyakit ‘ujub. Barangsiap berlaku ‘ujub (mengagumi) amalnya sendiri maka akan terhapus amalnya. Demikian juga orang yang sombong [lihat : Syarh Arba’in hal 5].

Ujub menurut bahasa berarti kekaguman, kesombongan atau kebanggaan. yaitu seorang berbangga dengan diri dan pendapatnya. Orang yang berlaku ujub adalah orang yang tertipu dengan dirinya dan dengan ibadahnya. Ia tidak mewujudkan makna ‘Iyyaka nasta’iin” “hanya kepadaMu ya Allah kami mohon pertolongan.” Sedangkan orang yang berlaku riya’ tidak mewujudkan “iyyaka na’budu” “hanya kepadaMu Ya Allah kami beribadah”.
Apabila seorang telah mewujudkan makna iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in maka akan hilang penyakit riya dan ujub [lihat: Al Ikhlas hal 96-97 DR Umar Sulaiman Al Asyqor]

Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,” Tiga perkara yang membinasakan, yaitu hawa nafsu jika dituruti, kebakhilan (kikir/pelit) yang ditaati, dan kebanggan seseorang terhadap dirinya.” [HSR Abu Syaikh dan Thabrani dalam Mu’jam Ausath-lihat : Shahih Jami’us Shaghir no 3039]

Sebab-Sebab Riya’

Sebab-sebab yang menjerumuskan manusia ke lembah riya’ adalah kecintaan kepada pangkat dan kedudukan. Jika hal ini dirinci, maka dapat dikembalikan kepada tiga sebab pokok, yaitu :

a. Senang menikmati pujian dan sanjungan
b. Menghindari/takut celaan manusia
c. Tamak (sangat menginginkan) terhadap apa yang ada pada orng lain.

Hal ini dipertegas dengan riwayat did alam Ash Shahihain, dari hadits Abu Musa Al Asy’ari--Rodliallohu anhu- , ia berkata bahwa ada seseorang datang kepada Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam seraya berkata,”Seseorng berperang karena rasa fanatisme, berperang dengan gagah berani dan berperang karena riya’, manakah dari yang demikian ini yang berada di jalan Alloh ?” Beliau menjawab,”Barangsiapa berperang dengan tujuan agar kalimat Allah yang paling tinggi maka itu fi sabilillah.” [HSR Bukhori 8/189 dan Muslim 1904 and selain mereka].

Makna perkataan orng ini” berperang dengan gagah berani” adalah agar namanya disebut-sebut dan dipuji. Makna perkataan “ berperang dengan fanatisme (golongan)” yaitu ia tidak mau dihina atau dikalahkan. makna perkataan “ berperang karena riya” yaitu agar kedudukannya diketahui orang lain dan hal ini merupakan kenikmatan pangkat dan kedudukan di hati manusia.
Boleh jadi seseorang tidak tertarik pujian, namun ia takut terhadap hinaan. Seperti penakut diantara pemberani. Dia berusaha menguatkan hati untuk tidak melarikan diri agar tidak dihina dan dicela. Adakalanya seseorang memberi fatwa teanpa ilmu karena menghindari celaan supaya tidak dikatakan sebagai orang bodoh. Tiga hal inilah yang menggerakkan riya’ dan sebagai penyebabnya.

Macam-Macam Riya’

Riya’ ada beberapa macam, yaitu :

1. Riya’ yang berasal dari badan,contoh diantaranya seperti memperlihatkan bentuk tubuh yang kurus dan pucat agar tampak telah berusaha sedemikian rupa dalam beribadah dan takut pada akherat. Atau memperlihatkan ranbut yang acak-acakan agar dianggap terlalu sinuk dengan urusan agama sehingga merapikan rambutpun tidak sempat. Atau dengan memperlihatkan suaranya yang parau, mata cekung sayu dan bibir kering agar dianggap terus menerus berpuasa. Riya’ semacam ini dilakukan oleh para ahli ibadah. Adapun orang-orang yang sibuk dengan urusan dunia, riya’ mereka dengan memperlihatkan badan yang gemuk, penampilan yang bersih, wajah yang ganteng dan rambut yang kelimis.

2. Riya’ yang berasal dari pakaian dan gaya, seperti menundukkan kepala ketika berjalan, sengaja membiarkan bekas sujud di wajah, memakai pakaian tebal, mengenakan pakaian wol, menggulung lengan baju dan emmendekkannya serta sengaja tampak lusuh (agar dianggap ahli ibadah), atau dengan mengenakan pakaian tambalan, berwarna biru, meniru kaum sufiyah padahal batinnya kosong dari kekhlasan. Atau memakai tutup kepala diatas sorban supaya orang meilhat adanya perbedaan dengan kebiasaan yang ada. Orang yang melakukan riya’ dalam jenis ini ada beberapa tingkat, diantara mereka ada yang mengharapkan kedudukan dikalangan orang yang baik dengan menampakkan kezuhudan dengan pakaian yang lusuh. sedangkan riya bagi para pemuja dunia adalah pakaian yang mahal, kendaraan yang bagus dan perabot yang mewah.

3. Riya’ dengan perkataan, seperti contohnya: memberi nasehat, peringatan, menghapal kisah-kisah terdahulu dan atsar namun dengan tujuan untuk berdebat atau memperlihatkan kedalaman ilmu dan perhatiannya kepada keadaan para salaf, atausengaja mengerakkan bibir supaya dikira sedang berzikir di hadapan orang banyak, menunjukkan kemarahan di hadapan orang banyak ketika melihat kemungkaran, sengaja memperindah bacaan Al Qur’an supaya dianggap menunjukkan sikap takut dan tawadlu dan semisalnya dan contoh lainnya.

4. Riya’ dengan perbuatan, seperti riya’ yang dilakukan orang yang sholat dengan memanjangkan bacaan saat berdiri, memanjangkan ruku’ dan sujud atau menampakkan kekhusyu’an atau yang lainnya, begitu pula dengan malan ibdah lainnya, puasa haji, shodaqoh, zakat dan lainnya.

5. Riya dengan teman dan orang-orang yang berkunjung kepadanya, seperti seseorang memaksakan dirinya supaya dikunjungi oleh ulama atau ahli ibadah ke tempat tinggalnya, supaya dikatakan” si fulan banyak dikunjungi ulama” riya’ dengan menyebutkan nama-nama gurunya agar orang berkomentar tentang dirinya dn dinggap orang berilmu, dia berbuat demikian untuk membanggakan diri.
kita memohon kepada Alloh Azza wa Jalla  dari semua macam riya’ ini. [ lihat :  Mukhtashor Minhajul Qosidin hal 175-178] oleh Imam Ibnu Qudamah, tahqiq Syaikh Ali Hasan, Ar Riya’ wa Atsaruhu As Sayi’ fil Ummah hal 17-20]

Ciri-ciri dan Tanda Riya’

Riya’ mempunyai ciri dan tanda-tanda sebagaimana kata Ali bin Abi Thalib –-Rodliallohu anhu- “ Orang yang berlaku riya’ memiliki tiga ciri, yakni:
1.  Dia menjadi pemalas apabila sendirian
2.  Dia menjadi giat semangat jika berada di tengah-tengah orang banyak
3.  Dia menambah kegiatan kerjanya jika dipuji dan berkurang jika di ejek
[lihat: Al Kabair, Imam Adz Dzahabi hal 212, tahqiq Abu khalid Al Husein bin Muhammad As Sa’idi cet darul fikr]

Tanda yang paling jelas adalah merasa senang jika orang yang melihat ketaatannya, andaikan orang tidak melihatnya, dia tidak merasa senang. dari sini diketahui bahwa riya’ itu tersembunyi didalam hati seperti api yang tersembunyi dalam batu. Jika orang melihatnya maka menimbulkan kesenangan dan kesenangan ini bergerak dengan gerakan yang sangat halus, lalu membangkitkannya untukmenampakkan amalnya. Bahkan ia berusaha agar diketahui amalnya itu baik secara sindiran atau terang-terangan [ lihat : Mukhtashor Minhajul Qosidin, Ibnu Qudamah AL Maqdisi hal 280].

Diriwayatkan bahwa Abu Umamah Al Bahili pernah mendatangi seseorang di masjid yang sedang bersujud sambil menagis ketika berdoa, kemudian Abu Umamah mengatakan kepadanya:”Apakah engkau lakukan seperti ini jika engkau sholat dirumahmu? (teguran semacam ini dimaksudkan untuk menghilangkan sikap riya’[Lihat : Al kabair, Imam Adz Dzahabi hal 211]

Jebakan dan Peringatan

Terkadang seorang hamba bersungguh-sungguh untuk membersihkan diri dari riya’ namun ia terjebak dan tergelincir di dalamnya sehingga ia meninggalkan amal karena takut riya’.
Jika ada seorang meninggalkan amal yang baik dengan maksud supaya terhindar dari riya’, maka tidak ragu lagi bahwa sikap ini adalah sikap yang salah dalam menghadapi riya’.

Fudlail bin Iyadl menjelaskan,” Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’ sedangkan beramal karena manusia adalah syirik. Ikhlas itu adalah Allah menyelamatkan kita dari keduanya.


Imam Nawawi menjelaskan,” perkataan Fudlail bahwa orang yang meninggalkan amal karena manusia adalah riya’ sebab ia melakukannya karena manusia, adapun kalau meninggalkannya karena ingin melakukannya di saat sepi atau sendirian maka diperbolehkan dan ini sunnah, kecuali dalam perkara yang wajib seperti sholat wajib lima waktu, atau zakat atau ia seorang yang alim yang menjadi panutan dalam ibadah, maka menampakkannya adalah afdla (utama). [ Lihat : Syarh Arba’in Imam Nawawi hal 6]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan dalam Majmu fatawa 23/175-175,”Barangsiapa melakukan amal rutin yang disyariatkan seperti sholat dluha, qiyamul lail, maka hendaklah dia tetap melakukannya dan tidak semestinya ia meninggalkan kebiasaaan ini hanya karena berada di tengah manusia, hanya Alloh Azza wa Jalla yang mengetahui rahasia hatinya bahwa ia melakukannya karena Allah dan ia bersungguh-sungguh berusaha agar ia selamat dari riya’ dan dari hal-hal yang merusak keikhlasan.” Kemudian beliau membawakan perkataan Fudlalil bin Iyadh seperti diatas, selanjutnya beliau mengatakan,” Barangsiapa melarang sesuatu yang disyariatkan hanya berdasarkan anggapannya bahwa hal itu tertolak berdasarkan beberapa alasan sebagai berikut:

1.  Amal yang disyariatkan tidak boleh dilarang hanya karena takut riya’. bahkan diperintahkan untuk tetap melakukannya dengan ikhlas. Bila kita melihat seorang yang mengamalkan syariat kita harus menetapkan bahwa dia melakukannya (atau membiarkannya) kendatipun kita dapat memastikan ia berbuat dengan riya’. Seperti halnya orang-orang munafik yang Allah berfirman tentang mereka,” Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Apabila mereka berdiri sholat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan sholat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” [QS An Nisa’ 142].  Mereka orang-orang munafik sholat bersama Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam , Beliau dan para Shohabat rodliallohu anhum membiarkan amal yang mereka (para munafik) berbuat itu dengan riya’ dan tidak melarang perbuatan dhahir mereka, artinya para Shohabat rodliallohu anhum tidak melarang mereka sholat bersama Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam . Hal ini karena kerusakan meninggalkan syariat yang mesti ditampakkan jauh lebih berbahaya daripada menampakkan amal tersebut dengan riya’. Sebagaimana meninggalkan iman dan Sholat lima waktu lebih besar bahayanya dibanding dengan meninggalkan amal itu dengan riya’.

2.  Pengingkarang hanya terjadi pada apa yang diingkari oleh syariat. Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,”Sesungguhnya aku tidak diperintahkan unutk membongkar/memeriksa hati mereka dan tidak pula untuk membedah perut mereka.” [HSR Akhmad dan Bukhori dari Abu Said Al Khudri -Rodliallohu anhu-]. Umar bin Khattab -Rodliallohu anhu- mengatakan,” Barangsiapa menampakkan kebaikan kami akan mencintainya meskipun hatinya berbeda dengan itu dan orang yang menampakkan kejelekannya, kami akan membencinya meskipun ia mengaku bahwa hatinya baik.”

3.  Sesungguhnya membolehkan pengingkaran terhadap hal seperti itu justru akan membuka peluang kepada Ahlus syirk wal fasad [orang yang berbuat syirik dan kerusakan) untuk mengingkari alul khoir wad dien (orang yang berbuat kebaikan). Apabila mereka melihat orang yang melakukan perkara yang disyariatkan dan disunnahkan, mereka berkata,” Orang ini telah berbuat riya’”. lalu karena tuduhan ini , orng yang jujur dan ikhlas akan meninggalkan perkara-perkara yang disyariatkan karena takut ejekan dan celaan dan tuduhan mereka. Lantas terbengkalailah amal-amal kebaikan dan tidak terlaksana. Kemudian hal ini menjadi senjata bagi orang-orang yang berbuat syirik untuk tetap melakukan kerusakan dan tidak ada yang mengingkarinya. hal ini justru kerusakan yang lebih besar.

4.  Sesungguhnya hal seperti ini adalah syiar (semboyan) orang-orang munafik. Mereka selalu mencela amal yang disyariatkan. Alloh Azza wa Jalla berfirman,” (orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi shodaqoh dengan sukarela dan (mencela) orang-orang  yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka adzab yang pedih.” [QS At taubah : 79].

Wallaahul Muwaffiq,
Semoga bermanfaat.

0 komentar:

Posting Komentar

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts