Minggu, 29 September 2013

AL-QADARUL MUTSBAT & AL-QADARUL MU'ALLAQ

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).” (Ar-Ra’ad, QS 13: 39)

Sebagian orang ada yang bertanya-tanya, jika rizki telah dituliskan (tidak bertambah dan tidak berkurang) dan ajal telah ditentukan (tidak dapat dimajukan dan dimundurkan), lalu bagaimana halnya dengan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim!” (Muttafaq ‘alaih).

1. Al-Qadarul Mutsbat (qadar yang telah tetap dan pasti).

Yaitu apa yang telah tertulis dalam Ummul-Kitab (al-Lauhul Mahfuzh). Qadar ini tetap, tidak berubah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: “Allah telah menetapkan ketentuan-ketentuan para makhluk 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi…” (HR. Muslim, VIII/51)

2. Al-Qadarul Mu’allaq atau Muqayyad (qadar yang tergantung atau terikat).

Yaitu, apa yang tertulis dalam catatan-catatan Malaikat, sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah seperti itu pula (empat puluh hari), kemudian menjadi segumpal daging seperti itu pula, kemudian Dia mengutus seorang Malaikat untuk meniupkan ruh padanya, dan diperintahkan (untuk menulis) dengan empat kalimat: untuk menulis rizkinya, ajalnya, amalnya dan celaka atau bahagia(nya)…” (HR. Bukhari, No. 3208; Muslim, No. 2643; Ibnu Majah, No. 76. Lafazhnya adalah dari riwayat Muslim). Maka inilah yang bisa dihapuskan dan ditetapkan.

Ajal, rizki, umur, dan selainnya yang ditetapkan dalam Ummul-Kitab, tidak berubah. Adapun dalam lembaran-lembaran yang ada pada tangan Malaikat, maka bisa dihapuskan, ditetapkan, ditambah, dan dikurangi.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

Ajal (umur) itu ada dua: ajal mutlak yang (hanya) diketahui oleh Allah, dan ajal yang terikat. Dengan ini menjadi jelaslah makna sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
“Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim!”
Allah memerintahkan Malaikat untuk mencatat ajal untuknya seraya mengatakan: “Jika ia menyambung tali silaturahim, maka Aku menambahkan kepadanya demikian dan demikian.” Sedangkan Malaikat tidak tahu apakah bertambah atau tidak. Tetapi Allah mengetahui perkara yang sebenarnya. Jika ajal telah datang, maka tidak dicepatkannya dan tidak diakhirkan. (Majmuu’ul Fataawaa, VIII/517)

Rizki itu dua macam: salah satunya, apa yang diketahui oleh Allah bahwa Dia memberi rizki kepadanya, maka hal ini tidak berubah. Kedua, apa yang dituliskan dan diberitahukannya kepada para Malaikat, maka hal ini bertambah dan berkurang, menurut sebab-sebabnya. (Ibid.)

Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

Seperti dikatakan kepada Malaikat, misalnya: “Umur fulan seratus tahun jika menyambung tali silaturahim, dan enam puluh tahun jika memutuskannya.” Tetapi telah diketahui oleh Allah sebelumnya bahwa ia akan menyambung atau memutuskannya. Apa yang ada dalam ilmu Allah, maka tidak dimajukan dan tidak ditunda, sedangkan yang ada dalam ilmu Malaikat, maka itulah yang memiliki kemungkinan bertambah dan berkurang. Inilah yang dinyatakan lewat firman-Nya:

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).” (Ar-Ra’ad, QS 13: 39)

Maka penghapusan dan penetapan itu adalah berhubungan dengan apa yang ada dalam ilmu Malaikat, sedangkan yang tertulis dalam Ummul-Kitab, yaitu yang berada dalam ilmu Allah Ta’ala, maka tidak ada penghapusan sama sekali. Untuk qadha’ ini dinyatakan dengan qadha’ yang bersifat tetap, sedangkan untuk yang disebutkan sebelumnya dinyatakan dengan qadha’ yang tergantung. (Fathul Baari, X/430; Syarh Shahiih Muslim, an-Nawawi, XVI/114; Ifaadah al-Khabar bin Nashshihi fii Ziyaadatil ‘Umr wa Naqshihi, as-Suyuti)

Kemudian, sebab-sebab yang dengannya rizki akan diperoleh merupakan bagian dari apa yang ditakdirkan Allah dan dituliskan-Nya. Jika telah ditentukan sebelumnya, bahwa hamba akan diberi rizki dengan usahanya, maka Allah mengilhamkan kepadanya untuk berusaha. Maka, rizki yang Dia takdirkan untuknya dengan berusaha, tidak akan diperoleh dengan tanpa berusaha. Sedangkan rizki yang Dia takdirkan untuknya dengan tanpa usaha, seperti kematian orang yang diwarisinya, maka ia (rizki tersebut) akan datang kepadanya dengan tanpa usaha. (Majmuu’ul Fataawaa, VIII/540-541)

Adapun dalam hal mencari rizki tetapi dengan cara yang tidak halal, maka tidak boleh dinisbatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Telah terdapat keterangan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyanjung Rabb-nya dengan mensucikan-Nya dari keburukkan, dalam ucapan beliau : “…Aku penuhi panggilan-Mu dengan senang hati, kebaikan seluruhnya ada di kedua tangan-Mu, dan keburukkan tidaklah dinisbatkan kepada-Mu. Aku berlindung dan bersandar kepada-Mu, Mahasuci Engkau dan Mahatinggi…” (HR. Muslim, No. 771).

Sesungguhnya, ketika Nabi Adam ‘alaihissalam melakukan dosa, maka ia bertaubat, lalu Rabb-nya memilihnya dan memberi petunjuk kepadanya. Sedangkan Iblis, ia tetap meneruskan dosa dan menghujat, maka Allah melaknat dan mengusirnya. Barangsiapa yang bertaubat, maka ia sesuai dengan sifat Nabi Adam ‘alaihissalam, dan barangsiapa yang meneruskan dosanya serta berdalih dengan takdir, maka ia sesuai dengan sifat Iblis. Maka orang-orang yang berbahagia akan mengikuti bapak mereka dan orang-orang yang celaka akan mengikuti musuh mereka, Iblis. (Ibid, VIII/64)

Berkaitan dengan hal tersebut, penting kita perhatikan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:  

Tidak satu jiwapun yang bernapas melainkan Allah telah menentukan tempatnya baik di surga atau neraka, dan juga telah dituliskan celaka atau bahagianya.” (HR. Bukhari – Muslim).

“…maka ahli surga dimudahkan untuk beramal dengan amalan ahli surga dan ahli neraka dimudahkan untuk beramal dengan amalan ahli neraka.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Berdasarkan kedua hadits tersebut, maka layak bagi kita untuk segera bermuhasabah (introspeksi) atas diri kita masing-masing, apakah hati kita telah merasa ringan untuk melaksanakan amalan ahli surga, atau justru sebaliknya, merasa ringan untuk melakukan amalan ahli neraka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala jadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang senantiasa berjuang untuk melakukan amalan ahli surga.

Salah satu di antara sebab-sebab lain yang dapat merubah takdir yang telah dicatat oleh Malaikat, adalah do’a. Do’a merupakan perkara yang agung dan mulia, sebab ia dapat menolak takdir dan menghilangkan petaka. Ia bermanfaat terhadap apa yang sudah datang dan apa yang belum datang. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “…Tidak ada yang dapat menolak takdir, kecuali do’a…” (Diriwayatkan oleh Ahmad, V/277; Ibnu Majah, No. 90; at-Tirmidzi, No. 139; dihasankan oleh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’, No. 7687, dan ash-Shahiihah, No. 154).

Namun demikian, karena do’a adalah perkara yang agung dan mulia, maka hendaknya setiap orang yang berdo’a mengetahui Adab dan Sebab Terkabulnya Do’a, sehingga tahu kapan dan bagaimana berdo’a yang sesuai dengan sunnah-sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang shahih.

***
Dikutip dari buku Kupas Tuntas Masalah Takdir (Al-Iimaan bil Qadhaa' wal Qadar) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, terbitan Pustaka Ibnu Katsir, dengan beberapa tambahan sesuai yang dibutuhkan. [ http://www.muslimpeduli.com/2010/07/takdir-ada-dua-macam.html ]

Kamis, 26 September 2013

Siapakah diantara kita yang tidak ingin diberikan kebaikan oleh Allah? Namun di sana, ada orang-orang yang diinginkan kebaikan oleh Allah Azza waJalla. Semoga kita termasuk dari mereka:

1. Dibukanya pintu amal sebelum kematian menjelang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


إذا أراد الله بعبد خيرا استعمله قيل : ما يستعمله ؟ قال : يفتح له عملا صالحا بين يدي موته حتى يرضي عليه من حوله

Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan jadikan ia beramal.” Dikatakan, “Apakah dijadikan beramal itu?” Beliau bersabda, “Allah bukakan untuknya amalan shalih sebelum meninggalnya, sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya ridla kepadanya.” (HR Ahmad dan Al Hakim dari Amru bin Al Hamq).[1]

2. dipercepat sanksinya di dunia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا و إذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة
“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hambaNya, Allah akan segerakan sanksi untuknya di dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan kepada hambaNya, Allah akan membiarkan dosanya (di dunia) sampai Allah membalasnya pada hari kiamat.” (HR At Tirmidzi dan Al Hakim dari Anas bin Malik).[2]
 
Namun kita tidak diperkenankan untuk meminta kepada Allah agar dipercepat sanksi kita di dunia, karena kita belum tentu mampu menghadapinya.

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَادَ رَجُلاً مِنَ الْمُسْلِمِينَ قَدْ خَفَتَ فَصَارَ مِثْلَ الْفَرْخِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « هَلْ كُنْتَ تَدْعُو بِشَىْءٍ أَوْ تَسْأَلُهُ إِيَّاهُ ». قَالَ نَعَمْ كُنْتُ أَقُولُ اللَّهُمَّ مَا كُنْتَ مُعَاقِبِى بِهِ فِى الآخِرَةِ فَعَجِّلْهُ لِى فِى الدُّنْيَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ لاَ تُطِيقُهُ – أَوْ لاَ تَسْتَطِيعُهُ – أَفَلاَ قُلْتَ اللَّهُمَّ آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ». قَالَ فَدَعَا اللَّهَ لَهُ فَشَفَاهُ.
“Dari Anas, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjenguk seseorang dari kaum muslimin yang telah kurus bagaikan anak burung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah kamu berdo’a dengan sesuatu atau kamu memintanya?” Ia berkata, “Ya, aku berdo’a, “Ya Allah siksa yang kelak Engkau berikan kepadaku di akhirat segerakanlah untukku di dunia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Subhanallah, kamu tidak akan mampu itu. Mengapa kamu tidak berkata, “Ya Allah berikan kepada kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan dan peliharalah kami dari adzab Neraka.” Maka orang itupun berdo’a dengannya. Allah pun menyembuhkannya.” (HR Muslim).  

3. Diberikan cobaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يصب منه

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya musibah.” (HR Ahmad dan Al Bukhari dari Abu Hurairah).

Cobaan pasti akan menerpa kehidupan mukmin, karena itu janji Allah:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ

“Sungguh, Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.” (QS Al Baqarah: 155).

Cobaan itu untuk menggugurkan dosa dan mengangkat derajat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ أَوْ الْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَفِي مَالِهِ وَفِي وَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Senantiasa ujian itu menerpa mukmin atau mukminah pada jasadnya, harta dan anaknya sampai ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” (HR Ahmad dengan sanad yang hasan).

4. Difaqihkan dalam agama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين 
“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam agama.” HR Al Bukhari dan Muslim).

Kefaqihan adalah pemahaman yang Allah berikan kepada seorang hamba. Pemahaman yang lurus terhadap Al Qur’an dan hadits berasal dari kebeningan hati dan aqidah yang shahih. Karena hati yang dipenuhi oleh hawa nafsu tidak akan dapat memahami Al Qur’an dan hadits dengan benar. Sebagaimana yang dikabarkan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kaum khawarij yang membaca Al Qur’an:

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِى يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ بِشَىْءٍ وَلاَ صَلاَتُكُمْ إِلَى صَلاَتِهِمْ بِشَىْءٍ وَلاَ صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ بِشَىْءٍ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ
Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Al Qur’an. Bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan Al Qur’an mereka, shalat dan puasa kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an dan menyangka bahwa Al Qur’an mendukung mereka padahal Al Qur’an tidak mendukung mereka.” (HR Muslim).

Itu semua akibat kedangkalan ilmu dan mengikuti hawa nafsu, sehingga mereka tidak diberikan pemahaman yang benar terhadap Al Qur’an dan hadits. Mereka mengira bahwa ayat Al Qur’am mendukung perbuatan mereka, padahal tidak demikian. Tentu yang memahaminya adalah orang-orang yang Allah faqihkan dalam agama dan selamatkan dari hawa nafsu.

5. Diberikan kesabaran.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
و ما أعطي أحد عطاء خيرا و أوسع من الصبر

“Tidaklah seseorang diberikan dengan sesuatu yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

Kesabaran dalam keimanan bagaikan kepala untuk badan. Badan tak akan hidup tanpa kepala, demikian pula iman tak akan hidup tanpa kesabaran. Untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya amat membutuhkan kesabaran. Karena Iblis dan balatentaranya tak pernah diam untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Tidak ada yang diberikan (sifat-sifat yang terpuji ini) kecuali orang-orang yang sabar, dan tidak ada yang diberikannya kecuali orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Fushilat: 35).

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang Engkau inginkan kebaikan padanya, beri kami kesabaran untuk menjalani perintahMu dan menjauhi laranganMu, beri kami kesabaran dalam menghadapi musibah yang menerpa, beri kami kefaqihan dalam agama dan bukakan untuk kami pintu amal shalih sebelum wafat kami. Aamiin.

Semoga bermanfaat,


***


[1] Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam shahih Jami’ no 304.
[2] Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam shahih Jami’ no 308.


http://cintasunnah.com/mereka-yang-diinginkan-kebaikan-oleh-allah/

Sabtu, 21 September 2013

Sebagian besar manusia, baik yang beriman maupun yang tidak, meyakini bahwa rizki itu di tangan Allah, Dialah yang mengatur, Dialah yang memberikan kepada siapa yang Dia kehendaki dan Dialah pula yang menahan rizki itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Namun, untuk mendapatkan rizki tersebut memerlukan beberapa sebab, baik yang bisa dijangkau maupun yang di luar batas kemampuan akal. Berikut ini, sebagian kunci-kunci rizki yang dipaparkan oleh Syaikh Dr. Fadhl Ilahi dalam bukunya “Mafaatiihu ar-Rizqi Fii Dhau-i al-Kitab wa as-Sunnah.” Semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan, amien. Dan, inilah ringkasannya. yaitu;

Istighfar dan Taubat

Beliau mengatakan, “Di antara sebab terpenting diturunkannya rizki adalah istighfar (memohon ampun) dan taubat kepada Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Menutupi (kesalahan).” Allah menyebutkan tentang Nuh yang berkata kepada kaumnya, “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.’” (QS. Nuh: 10-12)
Imam al-Qurthubi mengatakan, “Dalam ayat ini, juga dalam surat Hud (ayat: 3-ed) adalah dalil yang menunjukkan bahwa istighfar merupakan salah satu sarana meminta diturunkannya rizki dan hujan” (Tafsir al-Qurthubi, 18/302).

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, maknanya, “Jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepada-Nya dan senantiasa menaati-Nya niscaya Ia akan membanyakkan rizki kalian dan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, melimpahkan air susu perahan, membanyakkan harta dan anak-anak, menjadikan kebun-kebun dengan bermacam-macam buah-buahan serta mengalirkan sungai di antara kebun-kebun untuk kalian.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/449)

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,
مَنْ أَكْثَرَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan baginya pada setiap kesedihannya jalan keluar dan pada setiap kesempitan ada kelapangan dan Allah akan memberinya rizki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Takwa

Takwa menurut Imam Nawawi adalah, ‘menaati Allah dalam hal perintah dan larangan-Nya, maksudnya menjaga diri dari kemurkaan dan adzab Allah.
Beliau mengatakan, “Termasuk sebab turunnya rizki adalah takwa.” Di antara nash yang menunjukkan bahwa takwa termasuk di antara sebab turunnya rizki adalah, firman Allah, yang artinya, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. ath-Thalaq: 2-3)
Dalam Ayat di atas, Allah menjelaskan bahwa orang yang merealisasikan takwa akan dibalas dengan dua hal. Pertama, “Allah akan mengadakan jalan keluar baginya. Artinya, Allah akan menyelamatkannya- sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas- dari setiap kesusahan dunia maupun akhirat (Tafsir al-Qurthubi, 18/159). Kedua, Allah akan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Artinya, Allah akan memberinya rizki yang tak pernah ia harapkan dan angankan (Zaadul Masir, 8/291-292)

Bertawakkal Kepada Allah

Tawakal menurut Imam al-Ghazali adalah, ‘Penyandaran hati hanya kepada wakil (yang ‘ditawakkali’) semata.’
Beliau mengatakan, “Termasuk di antara sebab diturunkannya rizki adalah bertawakkal kepada Allah.” Rasulullah bersabda, “Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, di dalam al-Musnad, no. 205)

Beribadah kepada Allah sepenuhnya

Beliau mengatakan, “Di antara kunci-kunci rizki adalah beribadah kepada Allah sepenuhnya.” Yakni, hendaklah seorang hamba beribadah dengan hati dan jasadnya, khusyu’ dan merendahkan diri di hadapan Allah Yang Maha Esa, menghadirkan (dalam hati) betapa besar keagungan Allah, benar-benar merasakan kedekatan ketika sedang bermunajat kepada Allah Yang Maha Menguasai dan Maha Menentukan. Yakni, beribadah sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits, “Hendaklah, kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim). Rasulullah bersabda, “Tuhan kalian berfirman, ‘Wahai anak Adam, beribadahlah kepada-Ku sepenuhnya, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rizki. Wahai anak Adam!, jangan jauhi Aku sehingga Aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan.”(HR. al-Hakim di dalam al-Mustadrak ‘alash Shahihain, Syaikh Albani menshahihkannya dalam Silsilatul Ahadits ash-Shahihah)

Silaturrahim

Beliau mengatakan, “Di antara pintu-pintu rizki adalah silaturrahim.” Rasulullah bersabda, “Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturrahim.” (HR. al-Bukhari, no.5985)

Berinfak di Jalan Allah

Beliau mengatakan, “Di antara kunci-kunci rizki lain adalah berinfak di jalan Allah.”
Allah berfirman, artinya, “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rizki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)
Rasulullah bersabda, “Allah berfirman, “Wahai anak adam, berinfaklah, niscaya Aku berinfak (memberi rizki) kepadamu.”(HR. Muslim)

Memberi Nafkah Kepada Orang yang Sepenuhnya Menuntut Ilmu Syari’at (Agama) 

Beliau mengatakan, “Termasuk kunci-kunci rizki adalah memberi nafkah kepada orang yang sepenuhnya menuntut ilmu syari’at (agama).” Anas bin Malik mengatakan, “Dahulu ada dua orang saudara pada masa Rasulullah. Salah seorang darinya mendatangi Nabi (yakni: untuk mencari ilmu dan pengetahuan-ed) dan (saudaranya) yang lain bekerja. Lalu, saudaranya yang bekerja itu mengadu kepada Nabi maka beliau bersabda, “Mudah-mudahan engkau diberi rizki dengan sebab dia.” (HR. at-Tirmidzi, no.2448)

Berbuat Baik Kepada Orang-Orang Lemah

Beliau mengatakan, “Termasuk di antara kunci-kunci rizki adalah berbuat baik kepada orang-orang miskin.” Rasulullah bersabda, “Bukankah kalian ditolong dan diberi rizki lantaran orang-orang lemah di antara kalian?” (HR. al-Bukhari, no.108)

Hijrah di Jalan Allah

Allah berfirman, artinya, “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak.” (QS. an-Nisa: 100)
Saudaraku…Demikian paparan Syaikh Dr. Fadhl Ilahi dalam bukunya “Mafaatiihu ar-Rizqi Fii Dhau-I al-Kitab wa as-Sunnah.” Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita dalam mencari karunianya dengan meniti jalan yang telah ditunjukkan oleh Allah dan yang telah diterangkan oleh nabi-Nya yang mulia Muhammad shallallohu ‘alaihi wasallam. Shalawat dan salam semoga Allah curahkan kepada Muhammad, keluarga, dan pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Amien. wallahu a’lam  

(Redaksi Alsofwah)

[Sumber:“Mafaatiihu ar-Rizqi Fii Dhau-I al-Kitab wa as-Sunnah” , edisi Indonesia “Kunci-Kunci Rizki Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah”, Dr. Fadl Ilahi, Darul Haq, Jakarta.]

Sumber :  http://www.kajianislam.net/2013/03/kunci-kunci-rizki/

Kamis, 19 September 2013

Riya' Dan Bahayanya, Maktabah Al-Aisar 
Oleh: Ust. Yazid bin Abdul Qodir Jawwas hafidzahullah

Dari Abi Hurairah-radliyallahu anhu, ia berkata: Aku mendengar Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda:” Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya:’Amal apakah yang engkau kerjakan dengan nikmat-nikmat itu?’,Ia menjawab:’Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman:’ Kamu dusta! kamu berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu dengan mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. berikutnya (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al Qur’an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Lalu Allah menanyakannya:’ Amal apakah yang kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?.’ Ia menjawab:’Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca Al Qur’an hanyalah karena Engkau.” Allah berfirman:’ Kamu dusta! Kamu menuntut Ilmu agar dikatakan seorang alim (yang berilmu) dan kamu membaca Al Qur’an supaya dikatakan seorang qori’ (pembaca Al Qur’an yang baik). Memang begitulah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang didadili) adalah orang yang diberikan rejeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenali (mengakuinya). Allah bertanya :’ Apa yang kamu perbuat dengan  nikmat-nikmat itu? Dia menjawab :’ Aku tidak pernah meninggalkan shadaqoh dan infak pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman:’ Kamu dusta! kamu berbuat yang demikian supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya kedalam neraka.”

Takhrij Hadits

Hadits ini diriwatkan oleh:
  1. Muslim,  Kitabul Imarah bab Man Qaatala lir Riya’ was Sum’ah Istahaqqannar 6/47 atau 3/1513-1514 no 1905
  2. An-Nasai, Kitabul Jihad bab Man Qaatala liyuqala: Fulan Jari’, Sunan Nasai 6/23-24
  3. Ahmad, dalam Musnad Ahmad 2/322
Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani -rahimahullah- dalam Shahih Targhib wa Tarhib 1/85 no 20 dan dalam Shahih An-Nasai 2/658 no 2940.
Hadits yang semakna dengan ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam sunan-nya, Kitab Az Zuha’ bab Majaa’a fir Riya’ wa Sum’ah, Tuhfatul Ahwadzi 7/54 no 2489, Ibnu Khuzaimah dalam shahih-nya no 2482 dan Ibnu Hibban no 2502- Mawaridudh Dham’an.
Para perawi hadits ini tsiqoh (terpercaya). Kecuali Al Walid bin Abil Walid Abu Utsman. Dikatakan oelh Al Hafidh bahwa dia layyinul hadits (lemah haditsnya) dalam Taqribul Tahdzib 2/290 tahqiq Musthafa Abdul Qodir ‘Atha. Perkataan ini keliru karena karena Al Walid bin Abdil Walid termasuk perawi Imam Muslim dan dikatakan tsiqoh oleh Abu Zur’ah Ar Razi (lihat Al Jarh wa Ta’dil juz 9 hal 19-20).
At-Tirmidzi berkata tentang hadits ini : Hasan gharib, sedangkan AL hakim berkata : Shahihul isnad dan disetujui oleh Adz Dzahabi dalam Mustadrak Al hakim 1/419, lihat Ta’liq Sunan At Tirmidzi 4/169 dan Ta’liq Shahih Shahih Ibnu Khuzaimah 4/115.
Tatkala Muawiyah -Rodliallohu anhu- mendengar hadits ini, beliau berkata:” hukuman ini telah berlaku atas mereka, bagaimana dengan orang-orang yang akan datang?” kemudian beliau menangis terisak-isak hingga pingsan. Setelah siuman, beliau mengusap mukanya sambil berkata:”Benarlah Allah dan RosulNya, Allah berfirman:
Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan persiapannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akherat kecuali neraka. Lenyaplah di akherat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan [QS Hud 15-16].

Penjelasan Hadits

Nilai amal disisi Alloh Azza wa Jalla diukur dengan ikhlas karenaNya dan sesuai dengan contoh Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam , bukan dengan banyak dan besarnya amal.
Alloh Azza wa Jalla berfirman:
“Katakanlah:”Sesungguhnya aku ini hanya manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Thannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shahih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya (Al Kahfi 110).

Hadits ini menjelaskan tentang tiga golongan manusia yang dimasukkan ke dalam neraka dan tidak mendapat penolong selain Alloh Azza wa Jalla . Mereka membawa amal yang besar, namun sayang, mereka melakukannya karena riya’, ingin mendapatkan pujian dan sanjungan manusia. Tiga golongan manusia itu adalah :

1. Kaum yang dianugerahi Alloh Azza wa Jalla kesehatan dan kekuatan. Kewajiban mereka seharusnya adalah mencurahkan semuanya untuk Allah dan di jalan Allah dalam rangka mensyukuri nikmat-nikmatNya. Namun sayang, syaithon telah menjadikan mereka mencurahkannya diluar jalan itu. Mereka memang pergi ke medan jihad dan berperang, namun tujuannya hanya supaya disebut sebagai pemberani. Kepada merekalah Alloh Azza wa Jalla mengawali pengadilanNya pada hari kiamat. lalu Alloh Azza wa Jalla memperlihatkan nikmat-nikmatNya yang telah dianugrahkan kepada mereka , seraya bertanya,”Apa yang kamu kerjakan dengan nikmat-nikmat itu?” Pada saat itulah Alloh Azza wa Jalla membuka rahasia hati mereka seraya berfiman,” Kamu pendusta! Sesungguhnya kamu berperang (berjihad) hanya supaya dikatakan pemberani (pahlawan).” Mereka tidak mampu membantah, dan demikianlah kenyataannya. Malaikatpun diperintahkan menarik wajah mereka dan melemparkan kedalam api neraka.

2. Kaum yang dimuliakan Alloh Azza wa Jalla dengan diberi kesempatan untuk menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada manusia, mereka mampu membaca Al Qur’an dan mempelajarinya, seharusnya dengan ilmunya tersebut mereka berniat karena Allah semata sebagai manifestasi rasa syukur kepada Allah atas limpahan rahmatNya. Namun sayang tujuan yang semestinya karena Allah, telah dipalingkan dan dihiasi oleh syaithon sehingga berbuat riya’ (pamer) dengan ilmunya di hadapan manusia agar mendapat pujian, kedudukan harta dan jabatan. Mereka tidak menyadari bahwa Allah selalu melihat dan mengetahui apa yang mereka lakukan dan Allah mengetahui rahasia yang tersembunyi di hati mereka. Ternyata mereka belajar, mengajar, dan membaca Al Qur’an supaya dikatakan sebagai orang alim, pintar atau semisalnya. Sedangkan yang membaca Al Qur’an supaya dikatakan qari/qari’ah, orang yang bagus dan indah bacaannya, maka pada kiamat kelak tidak ada yang lain yang mereka peroleh kecuali dikatakan “Pendusta”. Mereka hanya terdiam disertai kehinaan, kerugian dan penuh penyesalan. Kemudian Alloh Azza wa Jalla menyuruh malaikat agar menyeret dan mencampakkan mereka kedalam neraka, Wal ‘iyadzubillah.

3. Kaum yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Mereka dalah golongan yang mampu, kaya. Kewajiban mereka semestinyalah bersyukur kepada Allah dengan ikhlas karena Allah semata. Namun sayang mereka shodaqoh, infaq, memberi dan mendermakan harta supaya dikatakan dermawan, supaya dikatakan orang baik dan semisalnya. Padahal apa yang dikatakan mereka di hadapan Allah bahwa mereka berinfaq, bershodaqoh karena Allah adalah dusta belaka, Allah mengetahui isis hati mereka, dan diperintakan malaikat untuk menyeret dan mencampakkan pendusta ini ke dalam neraka dan mereka tidak mendapatkan seorang penolongpun selain Alloh Azza wa Jalla  [ lihat: Taujihat Nabawiyah ‘ala Thariq, DR Sayyid Muhammad nuh, cet. darul wafa’].

Imam Nawawi -rahimahullah- mengatakan bahwa sabda Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam tentang ornag yang berperang, orang alim dan dermawan serta siksa Allah atas mereka adalah karena mereka mengerjakan demikian untuk selain Allah, dan dimasukkannya mereka ke dalam neraka menunjukkan atas sangat haramnya riya’ dan keras siksanya serta diwajibkannya ikhlas dalam seluruh amal,
 Alloh Azza wa Jalla berfirman:

“Tidaklah mereka diperintahkan melainkan untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus” [QS Al Bayyinah 6].

Keumuman haidts-hadits tentang keutamaan jihad sesungguhnya bagi orang yang melaksanakannya karena Alloh Azza wa Jalla dengan ikhlas. Demikian juga pujian terhadap ulama/orang berilmu dan orang yang berinfaq, semua dengan syarat apabila mereka melakukannya semata-mata karena Alloh Azza wa Jalla .
Demikian mengerikannya siksa dan ancaman bagi kita orang yang berbuat riya’ dalam melakukan kebaikan. Mereka berbuat dengan tujuan mengharap pujian dan sanjungan dari manusia. Islam lebih banyak memperhatikan faktor niat (pendorong) suatu amalan itu sendiri, meskipun kedua-duanya mendapatkan perhatian.
Secara harfiah, sudah diketahui bahwa penipuan yang dilakukan seorang terhadap orang lain merupakan perbuatan hina dan dosa, bagaimana jika perbuatan penipuan ini dilakukan kepada Alloh Azza wa Jalla ?, maka perbuatan ini lebih sangat hina, buruk dan tercela. Dalam tulisan ini akan dibahas definisi riya’, sebab-sebabnya, macamnya, bahayanya, beberapa hal yang tidak termasuk riya’ serta obat penyakit riya’.

Definisi Riya’

Secara syar’I, para ulama berbeda pendapat dalam memerikan definisi riya’, namun intinya sama, yakni seorang melakukan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, namun ia lakukan bukan karena Allah melainkan tujuan dunia.
Al Qurthibi mengatakan,” hakekat riya’adalah mencari apa yang ada di dunia dengan ibadah dan arti asalnya adalah mencari tempat di hati manusia”[lihat: Al Ikhlas, DR Umar Sulaiman Al Asyqor]
jadi riya’ adalah melakukan ibadah untuk mencari perhatian manusia sehingga mereka memuji pelakunya dan ia mengharapkan pengagungan dan pujian serta penghormatan dari orang yang melihatnya. [lihat : Fathul Bari 11/336, Al Ikhlas wa Syirkul Asghor hal 9].

Perbedaan Riya dan Sum’ah

Imam Bukhori -rahimahullah- dalam shahihnya membuat bab Ar Riya’ was Sum’ah dengan membawakan hadits Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam
Barangsiapa memperdengarkan(menyiarkan) amalnya, maka Allah akan menyiarkan aibnya, dan barangsiapa beramal karena riya’, maka Allah akan membuka niatnya (dihadapan manusia pada hari kiamat kelak)” (HSR Bukhori juz 7/189 dan Muslim no 2987].
Perbedaan riya dan sum’ah ialaha Riya’ berarti beramal karena diperlihatkan kepada orang lain, sedangkan sum’ah beramal supaya diperdengarkan kepada orang lain, Riya’ berkaitan dengan indra mata, sedangkan sum’ah berkaitan dengan indra telinga [lihat : Al Ikhlas hal 95, DR Umar Sulaiman Al Asyqor].

Perbedaan antara Riya dan ‘Ujub

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- mengatakan,” Seringkali orang menghubungkan antara riya’ dan ‘ujub, padahal riya’ merupakan perbuatan syirik kepada Allah karena makhluk, sedangkan ‘ujub adalah syirik kepada Allah karena nafsu [ lihat: Majmu Fatawa 10/277]

Imam Nawawi -rahimahullah- berkata,” ketahuilah bahwa keikhlasan niat terkadang dihalangi oleh penyakit ‘ujub. Barangsiap berlaku ‘ujub (mengagumi) amalnya sendiri maka akan terhapus amalnya. Demikian juga orang yang sombong [lihat : Syarh Arba’in hal 5].

Ujub menurut bahasa berarti kekaguman, kesombongan atau kebanggaan. yaitu seorang berbangga dengan diri dan pendapatnya. Orang yang berlaku ujub adalah orang yang tertipu dengan dirinya dan dengan ibadahnya. Ia tidak mewujudkan makna ‘Iyyaka nasta’iin” “hanya kepadaMu ya Allah kami mohon pertolongan.” Sedangkan orang yang berlaku riya’ tidak mewujudkan “iyyaka na’budu” “hanya kepadaMu Ya Allah kami beribadah”.
Apabila seorang telah mewujudkan makna iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in maka akan hilang penyakit riya dan ujub [lihat: Al Ikhlas hal 96-97 DR Umar Sulaiman Al Asyqor]

Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,” Tiga perkara yang membinasakan, yaitu hawa nafsu jika dituruti, kebakhilan (kikir/pelit) yang ditaati, dan kebanggan seseorang terhadap dirinya.” [HSR Abu Syaikh dan Thabrani dalam Mu’jam Ausath-lihat : Shahih Jami’us Shaghir no 3039]

Sebab-Sebab Riya’

Sebab-sebab yang menjerumuskan manusia ke lembah riya’ adalah kecintaan kepada pangkat dan kedudukan. Jika hal ini dirinci, maka dapat dikembalikan kepada tiga sebab pokok, yaitu :

a. Senang menikmati pujian dan sanjungan
b. Menghindari/takut celaan manusia
c. Tamak (sangat menginginkan) terhadap apa yang ada pada orng lain.

Hal ini dipertegas dengan riwayat did alam Ash Shahihain, dari hadits Abu Musa Al Asy’ari--Rodliallohu anhu- , ia berkata bahwa ada seseorang datang kepada Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam seraya berkata,”Seseorng berperang karena rasa fanatisme, berperang dengan gagah berani dan berperang karena riya’, manakah dari yang demikian ini yang berada di jalan Alloh ?” Beliau menjawab,”Barangsiapa berperang dengan tujuan agar kalimat Allah yang paling tinggi maka itu fi sabilillah.” [HSR Bukhori 8/189 dan Muslim 1904 and selain mereka].

Makna perkataan orng ini” berperang dengan gagah berani” adalah agar namanya disebut-sebut dan dipuji. Makna perkataan “ berperang dengan fanatisme (golongan)” yaitu ia tidak mau dihina atau dikalahkan. makna perkataan “ berperang karena riya” yaitu agar kedudukannya diketahui orang lain dan hal ini merupakan kenikmatan pangkat dan kedudukan di hati manusia.
Boleh jadi seseorang tidak tertarik pujian, namun ia takut terhadap hinaan. Seperti penakut diantara pemberani. Dia berusaha menguatkan hati untuk tidak melarikan diri agar tidak dihina dan dicela. Adakalanya seseorang memberi fatwa teanpa ilmu karena menghindari celaan supaya tidak dikatakan sebagai orang bodoh. Tiga hal inilah yang menggerakkan riya’ dan sebagai penyebabnya.

Macam-Macam Riya’

Riya’ ada beberapa macam, yaitu :

1. Riya’ yang berasal dari badan,contoh diantaranya seperti memperlihatkan bentuk tubuh yang kurus dan pucat agar tampak telah berusaha sedemikian rupa dalam beribadah dan takut pada akherat. Atau memperlihatkan ranbut yang acak-acakan agar dianggap terlalu sinuk dengan urusan agama sehingga merapikan rambutpun tidak sempat. Atau dengan memperlihatkan suaranya yang parau, mata cekung sayu dan bibir kering agar dianggap terus menerus berpuasa. Riya’ semacam ini dilakukan oleh para ahli ibadah. Adapun orang-orang yang sibuk dengan urusan dunia, riya’ mereka dengan memperlihatkan badan yang gemuk, penampilan yang bersih, wajah yang ganteng dan rambut yang kelimis.

2. Riya’ yang berasal dari pakaian dan gaya, seperti menundukkan kepala ketika berjalan, sengaja membiarkan bekas sujud di wajah, memakai pakaian tebal, mengenakan pakaian wol, menggulung lengan baju dan emmendekkannya serta sengaja tampak lusuh (agar dianggap ahli ibadah), atau dengan mengenakan pakaian tambalan, berwarna biru, meniru kaum sufiyah padahal batinnya kosong dari kekhlasan. Atau memakai tutup kepala diatas sorban supaya orang meilhat adanya perbedaan dengan kebiasaan yang ada. Orang yang melakukan riya’ dalam jenis ini ada beberapa tingkat, diantara mereka ada yang mengharapkan kedudukan dikalangan orang yang baik dengan menampakkan kezuhudan dengan pakaian yang lusuh. sedangkan riya bagi para pemuja dunia adalah pakaian yang mahal, kendaraan yang bagus dan perabot yang mewah.

3. Riya’ dengan perkataan, seperti contohnya: memberi nasehat, peringatan, menghapal kisah-kisah terdahulu dan atsar namun dengan tujuan untuk berdebat atau memperlihatkan kedalaman ilmu dan perhatiannya kepada keadaan para salaf, atausengaja mengerakkan bibir supaya dikira sedang berzikir di hadapan orang banyak, menunjukkan kemarahan di hadapan orang banyak ketika melihat kemungkaran, sengaja memperindah bacaan Al Qur’an supaya dianggap menunjukkan sikap takut dan tawadlu dan semisalnya dan contoh lainnya.

4. Riya’ dengan perbuatan, seperti riya’ yang dilakukan orang yang sholat dengan memanjangkan bacaan saat berdiri, memanjangkan ruku’ dan sujud atau menampakkan kekhusyu’an atau yang lainnya, begitu pula dengan malan ibdah lainnya, puasa haji, shodaqoh, zakat dan lainnya.

5. Riya dengan teman dan orang-orang yang berkunjung kepadanya, seperti seseorang memaksakan dirinya supaya dikunjungi oleh ulama atau ahli ibadah ke tempat tinggalnya, supaya dikatakan” si fulan banyak dikunjungi ulama” riya’ dengan menyebutkan nama-nama gurunya agar orang berkomentar tentang dirinya dn dinggap orang berilmu, dia berbuat demikian untuk membanggakan diri.
kita memohon kepada Alloh Azza wa Jalla  dari semua macam riya’ ini. [ lihat :  Mukhtashor Minhajul Qosidin hal 175-178] oleh Imam Ibnu Qudamah, tahqiq Syaikh Ali Hasan, Ar Riya’ wa Atsaruhu As Sayi’ fil Ummah hal 17-20]

Ciri-ciri dan Tanda Riya’

Riya’ mempunyai ciri dan tanda-tanda sebagaimana kata Ali bin Abi Thalib –-Rodliallohu anhu- “ Orang yang berlaku riya’ memiliki tiga ciri, yakni:
1.  Dia menjadi pemalas apabila sendirian
2.  Dia menjadi giat semangat jika berada di tengah-tengah orang banyak
3.  Dia menambah kegiatan kerjanya jika dipuji dan berkurang jika di ejek
[lihat: Al Kabair, Imam Adz Dzahabi hal 212, tahqiq Abu khalid Al Husein bin Muhammad As Sa’idi cet darul fikr]

Tanda yang paling jelas adalah merasa senang jika orang yang melihat ketaatannya, andaikan orang tidak melihatnya, dia tidak merasa senang. dari sini diketahui bahwa riya’ itu tersembunyi didalam hati seperti api yang tersembunyi dalam batu. Jika orang melihatnya maka menimbulkan kesenangan dan kesenangan ini bergerak dengan gerakan yang sangat halus, lalu membangkitkannya untukmenampakkan amalnya. Bahkan ia berusaha agar diketahui amalnya itu baik secara sindiran atau terang-terangan [ lihat : Mukhtashor Minhajul Qosidin, Ibnu Qudamah AL Maqdisi hal 280].

Diriwayatkan bahwa Abu Umamah Al Bahili pernah mendatangi seseorang di masjid yang sedang bersujud sambil menagis ketika berdoa, kemudian Abu Umamah mengatakan kepadanya:”Apakah engkau lakukan seperti ini jika engkau sholat dirumahmu? (teguran semacam ini dimaksudkan untuk menghilangkan sikap riya’[Lihat : Al kabair, Imam Adz Dzahabi hal 211]

Jebakan dan Peringatan

Terkadang seorang hamba bersungguh-sungguh untuk membersihkan diri dari riya’ namun ia terjebak dan tergelincir di dalamnya sehingga ia meninggalkan amal karena takut riya’.
Jika ada seorang meninggalkan amal yang baik dengan maksud supaya terhindar dari riya’, maka tidak ragu lagi bahwa sikap ini adalah sikap yang salah dalam menghadapi riya’.

Fudlail bin Iyadl menjelaskan,” Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’ sedangkan beramal karena manusia adalah syirik. Ikhlas itu adalah Allah menyelamatkan kita dari keduanya.


Imam Nawawi menjelaskan,” perkataan Fudlail bahwa orang yang meninggalkan amal karena manusia adalah riya’ sebab ia melakukannya karena manusia, adapun kalau meninggalkannya karena ingin melakukannya di saat sepi atau sendirian maka diperbolehkan dan ini sunnah, kecuali dalam perkara yang wajib seperti sholat wajib lima waktu, atau zakat atau ia seorang yang alim yang menjadi panutan dalam ibadah, maka menampakkannya adalah afdla (utama). [ Lihat : Syarh Arba’in Imam Nawawi hal 6]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan dalam Majmu fatawa 23/175-175,”Barangsiapa melakukan amal rutin yang disyariatkan seperti sholat dluha, qiyamul lail, maka hendaklah dia tetap melakukannya dan tidak semestinya ia meninggalkan kebiasaaan ini hanya karena berada di tengah manusia, hanya Alloh Azza wa Jalla yang mengetahui rahasia hatinya bahwa ia melakukannya karena Allah dan ia bersungguh-sungguh berusaha agar ia selamat dari riya’ dan dari hal-hal yang merusak keikhlasan.” Kemudian beliau membawakan perkataan Fudlalil bin Iyadh seperti diatas, selanjutnya beliau mengatakan,” Barangsiapa melarang sesuatu yang disyariatkan hanya berdasarkan anggapannya bahwa hal itu tertolak berdasarkan beberapa alasan sebagai berikut:

1.  Amal yang disyariatkan tidak boleh dilarang hanya karena takut riya’. bahkan diperintahkan untuk tetap melakukannya dengan ikhlas. Bila kita melihat seorang yang mengamalkan syariat kita harus menetapkan bahwa dia melakukannya (atau membiarkannya) kendatipun kita dapat memastikan ia berbuat dengan riya’. Seperti halnya orang-orang munafik yang Allah berfirman tentang mereka,” Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Apabila mereka berdiri sholat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan sholat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” [QS An Nisa’ 142].  Mereka orang-orang munafik sholat bersama Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam , Beliau dan para Shohabat rodliallohu anhum membiarkan amal yang mereka (para munafik) berbuat itu dengan riya’ dan tidak melarang perbuatan dhahir mereka, artinya para Shohabat rodliallohu anhum tidak melarang mereka sholat bersama Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam . Hal ini karena kerusakan meninggalkan syariat yang mesti ditampakkan jauh lebih berbahaya daripada menampakkan amal tersebut dengan riya’. Sebagaimana meninggalkan iman dan Sholat lima waktu lebih besar bahayanya dibanding dengan meninggalkan amal itu dengan riya’.

2.  Pengingkarang hanya terjadi pada apa yang diingkari oleh syariat. Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,”Sesungguhnya aku tidak diperintahkan unutk membongkar/memeriksa hati mereka dan tidak pula untuk membedah perut mereka.” [HSR Akhmad dan Bukhori dari Abu Said Al Khudri -Rodliallohu anhu-]. Umar bin Khattab -Rodliallohu anhu- mengatakan,” Barangsiapa menampakkan kebaikan kami akan mencintainya meskipun hatinya berbeda dengan itu dan orang yang menampakkan kejelekannya, kami akan membencinya meskipun ia mengaku bahwa hatinya baik.”

3.  Sesungguhnya membolehkan pengingkaran terhadap hal seperti itu justru akan membuka peluang kepada Ahlus syirk wal fasad [orang yang berbuat syirik dan kerusakan) untuk mengingkari alul khoir wad dien (orang yang berbuat kebaikan). Apabila mereka melihat orang yang melakukan perkara yang disyariatkan dan disunnahkan, mereka berkata,” Orang ini telah berbuat riya’”. lalu karena tuduhan ini , orng yang jujur dan ikhlas akan meninggalkan perkara-perkara yang disyariatkan karena takut ejekan dan celaan dan tuduhan mereka. Lantas terbengkalailah amal-amal kebaikan dan tidak terlaksana. Kemudian hal ini menjadi senjata bagi orang-orang yang berbuat syirik untuk tetap melakukan kerusakan dan tidak ada yang mengingkarinya. hal ini justru kerusakan yang lebih besar.

4.  Sesungguhnya hal seperti ini adalah syiar (semboyan) orang-orang munafik. Mereka selalu mencela amal yang disyariatkan. Alloh Azza wa Jalla berfirman,” (orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi shodaqoh dengan sukarela dan (mencela) orang-orang  yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka adzab yang pedih.” [QS At taubah : 79].

Wallaahul Muwaffiq,
Semoga bermanfaat.

Senin, 16 September 2013

1. Dikisahkan bahwa 'Aisyah radhiyallahu 'anha dikirimi Mu'awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu 'anhu uang sebanyak seratus delapan puluh ribu dirham, kemudian 'Aisyah menaruhnya di mangkok, dan membagikan uang tersebut kepada manusia. Pada sore harinya, 'Aisyah berkata kepada budak wanitanya," Antarkan makanan berbuka untukku." Budak wanita tersebut menghidangkan roti dan minyak kepada 'Aisyah. 'Aisyah berkata," Kenapa engkau tidak mengambil uang satu dirham dari uang yang aku bagi tadi untuk membeli daging untuk buka puasa?" Budak wanita tersebut berkata," Jika engkau mengingatkanku sejak tadi, aku pasti akan melakukannya."

2. Dikisahkan bahwa 'Abdullah bin 'Aamir membeli rumah di pasar Makkah seharga tujuh puluh ribu dirham dari Khalid bin 'Uqbah bin Abu Mu'aith. Pada malam harinya, Abdullah bin 'Aamir mendengar tangisan keluarga Khalid bin 'Uqbah bin Abu Mu'aith. Abdullah bin 'Aamir bertanya kenapa keluarga Khalid bin Uqbah menangis, kemudian dijelaskan kepadanya bahwa keluarga Khalid bin 'Uqbah menangisi rumahnya. Abdullah bin 'Aamir berkata kepada budaknya," Pergilah kepada keluarga Khalid, dan katakan kepada mereka bahwa uang dan rumah menjadi milik mereka.

3. Dikisahkan bahwa ketika Imam Syafi'i rahimahullah menderita sakit yang menyebabkannya meninggal dunia, ia berpesan agar ia dimandikan oleh seseorang. Ketika ia telah meninggal dunia, orang-orang memanggil orang yang diwasiatkan untuk memandikannya. Ketika orang tersebut telah datang, ia berkata," Berikan buku agenda Imam Syafi'i kepadaku." Agenda tersebut pun diberikan kepada orang tersebut, dan ternyata di dalamnya terdapat data bahwa Imam Syafi'i rahimahullah mempunyai hutang sejumlah tujuh puluh ribu dirham, kemudian orang tersebut membayar hutang-hutang Imam Syafi'i. Ia berkata, " Inilah bentuk pemandianku terhadap Imam Syafi'i." Setelah itu, ia pulang ke rumahnya.

4. Dikisahkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam telah bersiap-siap untuk memerangi orang-orang Romawi, dan kaum Muslimin ketika itu berada dalam kesulitan yang luar biasa hingga pasukan beliau dinamakan "PASUKAN YANG KESULITAN." Pada perang tersebut, Shahabat Utsman bin Affan bersedekah dengan uang sepuluh ribu dinar, tiga ratus unta lengkap dengan alas pelananya, dan lima puluh kuda. Jadi ia menanggung separoh perbekalan pasukan.

Subhanallah, Semoga kita diberi taufiq untuk meneladani kedermawanan mereka.
Allahumma Aamiin.

Reference :
Kitab Minhajul Muslim, hal 136-137,
Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi

Minggu, 15 September 2013

Dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan untuk mereka-mereka ini:

والعبدُ الفاجرُ يَستريحُ منه العبادُ والبلادُ، والشجرُ والدَّوابُّ

Adapun (kematian pent) seorang yang fajir, akan merasa bebas darinya para hamba, negara, pepohonan dan binatang-binatang ” (HR. Bukhari No. 6512 dan Muslim No. 950)

Ketika tersebar kabar di pasar tentang meninggalnya Almuraysi (Ad-Dhal) dan Bisyr Ibnu Al-Harits mereka mengatakan: ” kalau bukan karena ia adalah orang yang sudah terkenal, maka ini adalah saatnya untuk bersyukur dan sujud, segala puji bagi Allah yang telah menghabisi hidupnya ” (lihat kitab Tarikh Bagdad, 7/66 dan Lisanul Mizan 2/308).

Dikatakan kepada Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah: Apakah seseorang senang dengan apa yang menimpa para pengikut Ibnu Abi Duaad mendapatkan dosa? beliau menjawab: Siapa yang tidak senang dengan ini?! (lihat kitab As-Sunnah li Al-Khallal, 5/121).

Salamah Bin Syubaib mengatakan: ketika saya bersama Abdur Razzaq ( yaitu As-Shan’any/TABI'UT TABI'IN) datanglah kabar kematian Abdul Majied, lalu beliau (Abdur Razzaq) mengatakan: Segala puji bagi Allah yang telah membebaskan ummat Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dari Abdul Majied (lihat kitab Siyar A’lam An-Nubalaa’ 9/435). Abdul Majied dia adalah Ibnu Abdil Aziz Bin Abi Rawwad, dan dia adalah seorang tokoh Murji’ah.

Ketika datang kabar kematian Wahab Al-Qurasy – dia adalah seorang yang sesat dan menyesatkan – kepada Abdurrahman Ibnu Mahdi (TABI'UT TABI'IN), beliau berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah membebaskan kaum muslimin darinya”. (lihat kitab Lisanul Mizan Karya Imam Ibnu Hajar, 8/402).

Kemudian Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitabnya Al-Bidayah Wan-Nihayah 12/338) beliau mengabarkan tentang kematian salah seorang tokoh ahlul bid’ah beliau mengatakan: “Allah telah membebaskan kaum muslimin darinya pada tahun ini di bulan Dzulhijjah dia dikuburkan di tempatnya, kemudian dipindahkan ke pekuburan Quraisy. Segala puji bagi Allah, ketika dia meninggal orang-orang Ahlus Sunnah sangat senang, tidaklah kalian menjumpai mereka terkecuali mereka memuji Allah".

Semoga Bermanfaat ! Baarakallahu fiykum.


***

Sebuah note facebook : 
https://www.facebook.com/andri.maadsadua?directed_target_id=0

Kamis, 12 September 2013

Allah berfirman:

فَإِنْ ءَامَنُوا بِمِثْلِ مَا ءَامَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ

"Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu)" [QS Al-Baqarah:137].

Diantara aqidah Islam yang diimani oleh Rasul Allah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan yang diajarkan kepada umatnya adalah adanya fitnah dan adzab kubur. Oleh karena itu memahami aqidah ini adalah sebuah keniscayaan. Apalagi dengan adanya gerakan yang menghidupkan kembali kesesatan Khawarij dan sebagian Mu’tazilah yang mengingkari adanya adzab kubur dengan syubhat yang mereka lontarkan, yaitu : Pertama, adzab kubur itu irrasional. Kedua, haditsnya berstatus ahad yang berarti tidak meyakinkan. Sementara meyakini yang zhanni adalah haram. Ketiga, adzab kubur hanyalah masalah khilafiyyah. Keempat, dalil-dalil tentang adzab kubur saling bertentangan (lihat: Absahkah Berdalil dengan Hadits Ahad dalam Masalah Aqidah dan Siksa Kubur, h. XVII, 57: Masalah-Masalah Khilafiyyah di antara Gerakan Islam, h. 169, 197).

Pada masa Imam al-Baihaqi (384-458 H), orang-orang Qadariyyah, Mu’tazilah bahkan Batiniyyah berpura-pura berintisab kepada madzhab hanafi. Ahli kalam dari kalangan mereka mengingkari hadits ahad dan mengingkari adzab kubur. Hal ini mendorong Imam al-Baihaqi untuk menulis kitab khusus yang berjudul “Itsbat Adzab al-Qabr”. Kitab ini sudah dicetak di Oman dengan tahqiq Dr. Syaraf Mahmud. Kini, karena pemikiran-pemikiran bid’ah ini muncul kembali dengan gencar, maka kami merasa terpanggil untuk memaparkan tentang fitnah kubur, adzab kubur, perintah memohon perlindungan dari adzab kubur, sebab-sebab yang mendatangkan adzab kubur dan yang menyelamatkan manusia darinya, sehingga menjadi jelas siapa yang benar dan siapa yang sesat, siapa yang mengikuti sunnah dan siapa yang mengikuti bid’ah, siapa yang mengikuti ulama salaf dan siapa yang mengkhianati mereka.

FITNAH KUBUR

Yang dimaksud dengan fitnah kubur adalah ujian bagi si mayit tatkala ditanya oleh dua malaikat, Munkar dan Nakir (Majmu’ al-Fatawa 4/257).

Hadits-hadits tentang fitnah kubur ini telah mutawatir dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dari hadits al-Bara’ ibn ‘Azib, Anas ibn Malik, Abu Hurairah, dll. Fitnah kubur ini berlaku secara umum bagi setiap orang mukallaf, kecuali para Nabi yang masih ada khilaf (Ibid, 4/257).

Ibn Abdil Barr mengatakan: “Atsar yang shahih dalam bab ini menunjukkan bahwa fitnah kubur ini hanya berlaku bagi orang mukmin dan munafik, yaitu orang-orang sewaktu di dunia masuk dalam kategori ahli kiblat dan beragama Islam. Adapun orang-orang kafir yang ingkar, maka mereka tidak ditanya tentang Tuhan, agama dan nabinya. Obyek yang ditanya tentang ini semua adalah orang Islam. wallahu a’lam. ﴾Allah meneguhkan (iman) orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan akhirat﴿ (QS. Ibrahim: 27).”

Lebih lanjut Ibnu Abdil Barr mengatakan: “Dalam hadits Zaid bin Tsabit Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah bersabda: ‘Sesungguhnya umat ini diuji di dalam kuburnya’ (HR. Bukhari, Tirmidzi, dll). Lafadz ini mengandung kemungkinan bahwa umat ini dikhususkan dengan hal tersebut, ini adalah perkara yang tidak qath’i. Wallahu a’lam.” (al-Tamhid 9/234-236). Sedangkan Ibnu al-Qayyim mentarjih bahwa ujian di dalam Barzakh berlaku juga untuk orang kafir dan munafik berdasarkan hadits Anas dan Bara’ dan keumuman al-Qur’an (al-Ruh, 104-107).

Berapa kali pertanyaan di kuburan?. Ubaid bin Umair mengatakan bahwa: “Yang diuji hanya dua orang mukmin dan munafik. Adapun orang mukmin maka ia diuji tujuh hari, sedangkan orang munafik maka ia diuji 40 hari.” (Ibid)
Imam Suyuthi menjelaskan bahwa fitnah kubur selama tujuh hari diriwayatkan oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka. Antara lain Imam Ahmad dalam kitab Zuhud dari Thawus, Abu Nu’aim al AshFahani dalam al-Hilyah dari Thawus, Ibnu Juraij dalam Mushannafnya dari Ubaid bin Umair, Ibnu Rajab dalam Ahwal al-Qubur dari Mujahid dan Ubaid bin Umair… (al-Hawi 2/215-216).
Akan tetapi seluruh riwayat yang marfu’ dari Nabi n menunjukkan bahwa pertanyaan kubur hanya sekali. Wallahu a’lam (al-Tamhid 9/234).

Adapun orang yang tidak mukallaf, seperti anak kecil dan orang gila, maka para ulama’ berselisih menjadi dua pendapat:

1. Ia diuji, ini adalah pernyataan mayoritas Ahlu Sunnah, diceritakan oleh Abu al-Hasan ibn Abdus dari mereka, dan oleh Abu Hakim al-Nahrawani, dll.

2. Ia tidak diuji, sebab ujian itu untuk orang yang mukallaf di dunia.

Jumhur Ahlu Sunnah berhujjah dengan riwayat Imam Malik dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat jenazah atas anak kecil yang belum beramal kebajikan sama sekali, maka beliau berdo’a:

اللهم قهْ عذاب القبر وفتنة القبر

"Ya Allah lindungilah ia dari adzab kubur dan fitnah kubur" [al-Muwaththa’ 1/227].

Ibn Taimiyah berkomentar: “Ini menunjukkan bahwa ia diuji” (al-Majmu’ 4/280). Dan ini sesuai dengan orang yang menyatakan bahwa ia juga diuji dihari kiamat sebagaimana pendapat mayoritas ulama ahlu sunnah baik yang ahli hadits maupun ahli kalam, ini yang dipilih oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari sesuai dengan nash-nash Imam Ahmad (al-Majmu’ 4/257,277,278, lihat ibn al-Qayyim, dalam kitab al-Ruh 1/366-369; Fath al-Bari 3/239); Syarah al-Aqidah al-Wasithiyah, Khalid al-Muslih, 127.

ADZAB KUBUR
Madzhab salaf al-Ummah dan para imamnya adalah apabila seseorang itu telah mati maka ia berada dalam kenikmatan atau adzab (al-Majmu’ 4/266). Berikut ini adalah dalil-dalil dari al-Qur’an, sunnah dan ijma’ ulama.

DALIL AL-QUR'AN

1. Firman Allah

وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوْءُ الًعَذَابِ اَلنَّارُ يُعْرَضُوْنَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوْا آلَ فِرْعَوُنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

"Dan Fir’aun beserta pengikutnya dikepung oleh adzab yang sangat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (dikatakan kepada mereka): “Masukkan Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras." [Al Mukmin : 45-46].

Al-Qurtubi berkata: "Jumhur ulama mengatkan bahwa العرض ini ada dalam barzakh dan ini adalah hujjah bagi adanya adzab kubur" (Fathhul Bari 3/233; Tafsir al-Qurthubi 15/319; al-I’tiqad Aimmah al-Hadits, 69; Syarh Hadits Jibril dalam Fatawa al-Aqidah, h. 171-172; Fath al-Bari 3/231).

2. Firman Allah

وَِإنَّ لَّلذِيْنَ ظَلَمُوْا عَذَابًا دُوْنَ ذَلِكَ وَلَكِنْ أَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ

"Dan sesungguhnya untuk orang-orang yang dhalim ada adzab selain itu, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya". [Ath-Thuur: 47]

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di mengatakan: "atkala Allah menyebutkan adzab untuk orang-orang zhalim di akhirat maka Dia memberitakan bahwa ada adzab untuk mereka sebelum adzab di hari kiamat nanti. Ini adalah mencakup adzab di dunia dengan dibunuh, ditawan dan diusir dan mencakup adzab Barzakh dan adzab kubur, akan tetapi kebanyakan mereka tidak meyakini" [afsir al-Karim al-Rahman 5/122]

3. Firman Allah

إذَ الظَّاِلُمْوْنَ فِي غَمَرَاتِ اْلَموْتِ وَالْمَلاَئِكَةُ بَاسِطُوْا أَيْدِيْهِمْ أَخْرِجُوْا أَنْفُسَكُمْ الَّيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُوْنِ

"Sekiranya kamu melihat diwaktu orang-orang yang dzalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata): “keluarkanlah nyawamu”, di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang menghinakan". [QS Al An’am: 93].

Ibn Abbas berkata: “Ini adalah ketika mati, para malaikat memukuli wajah dan pantat mereka” (fath al-Bari 3/2337). Hal ini disaksikan oleh Surat Muhammad ayat 27 dan Surat al-Anfal ayat 50-51.

4. Firman Allah

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit ". [Thaha: 124]

Ini terjadi sebelum hancurnya dunia, karena setelah itu Allah berfirman:
ونحشره يوم القيامة أعمي Allah menjelaskan bahwa kehidupan yang sempit itu sebelum hari kiamat, dalam kenyataan di dunia kita lihat Yahudi dan Nasrani serta kaum musyrikin berada dalam kemewahan dan kemakmuran, ini menunjukkan bahwa yang dimaksud oleh Allah bukanlah kesempitan rizki dalam kehidupan dunia, akan tetapi dalam kehidupan setelah mati sebelum hari kebangkitan. (I’tiqad Aimmah al-Hadits, 70).

Syaikh Abdur Rahman As Sa’di menegaskan: “Sebagai balasan untuknya adalah Kami jadikan kehidupannya sempit dan susah. Hal ini tidak lain adalah adzab. Kehidupan yang sempit ditafsiri dengan adzab kubur karena kuburan disempitkan atasnya, dia dikurung dan diadzab sebagai balasan bagi perbuatannya yang berpaling dari dzikir kepada Allah, ini adalah salah satu ayat yang menunjukkan adanya adzab kubur. Ayat yang kedua adalah dalam Surat al-An’am nomor 93, ayat ketiga dalam Surat al-Sajdah nomor 27 dan keempat dalam Surat al-Mukmin nomor 45-46. Sebagian ahli tafsir memandang bahwa kehidupan yang sempit itu meliputi di alam dunia …… di alam barzakh dan di alam akhirat, karena mutlak tidak dibatasi” [Taisir al-Karim al-Rahman 3/230). Selain itu adzab kubur juga dikandung oleh Surat al-Waqi’ah ayat 83-96, al-Fajr: 27, al-Taubah: 101, al-Israa’: 75, Ibrahim: 27, al-Takatsur: 1-4. (lihat al-Jami’ li Syu’ab al-Iman 2/ 311-315, 331].

DALIL AS-SUNNAH
Hadits-hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang adzab kubur sangat banyak, hingga Ibn Abd al-Barr mengelompokkannya dalam hadits mutawatir (al-Tamhid 9/230), begitu pula ibn Taimiyah (al-Majmu’ 4/285), ibn al-Qoyyim (al-Ruh, 65 dan Miftah daar al-Sa’adah 1/207), dan Imam Ali ibn Abd al-Izz, (Tahdzib syarah al-Thahawiyah, 238), al-Allamah al-Aini (Umdah al-Qari 8/146(, ibn Rajab (Ahqal al-Qubur, h. 81), al-Allamah al-Safarini (Lawami’ al-Anwar 2/5), Imam Suyuthi (Syarh al-Shudur, h. 48 dan Syaikh al-Albani (Silsilah Ahadits al-Shahihah 1/295-296), Hadits Adzab kubur ini diriwayatkan oleh 29 sahabat. Diantara hadits-hadits tersebut:

1. Hadits Al-Bara’ Ibn ‘Azib.
Hadits al-Bara’ ibn ‘Azib, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apabila seorang mukmin didudukkan di dalam kuburnya, ia akan didatangi (oleh malaikat) lalu dia bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, itulah yang dimaksud oleh firman Allah (Ibrahim : 27)

فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ يثبت الله الدين امنوا بالقول الثابت

"Dan dari jalur isnad lain, Ghundar menambahkan: “Ayat ini turun berkenaan dengan adzab kubur" [HR. Bukhari no.1369, Muslim no.2871]

Hadits Bara’ ini secara panjang lebar diriwayatkan oleh Ahmad 4/287; Hakim 1/37 dan Ibn Abi Syaibah 3/381. [Lihat al-Tamhid 9/232].

2. Hadits ibn Umar Radhiyallahu 'anhuma, dan alinnya.
Tatkala orang-orang musyrik dimasukkan dalam al-Qalib (sumur), Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memanggil mereka: “Hai fulan-hai fulan, apakah kalian telah mendapatkan bahwa apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kalian adalah benar? Sesungguhnya aku mendapatkan apa yang telah dijanjikan oleh Tuhanku adalah benar” (HR Bukhari no.1370, 3976, 3980, 4026, Muslim no. 2873). Ini menunjukkan keberadaan mereka, pendengaran mereka dan kebenaran adzab yang yang dijanjikan oleh Allah setelah mati. [Al-Majmu’ 4/267].

3. Hadits Aisyah رضي الله عنها
Ia berkata: “Seorang wanita Yahudi Madinah yang sudah tua masuk ke rumahku. Ia berkata bahwa ahli kubur itu disiksa di dalam kuburnya, maka saya mendustakannya, tidak mempercayainya. Setelah ia keluar, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam masuk rumah, maka saya ceritakan kalau seorang wanita Yahudi tua telah datang dan menyatakan bahwa ahli kubur itu disiksa dalam kuburnya, maka Beliau bersabda: “Wanita itu benar, mereka disiksa dengan siksaan yang bisa didengar oleh seluruh binatang”. Aisyah berkata: “Maka setelah itu saya tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat melainkan beliau memohon perlindungan dari adzab kubur”. Ghundar menambahkan: “Adzab kubur adalah haq”. [HR Bukhari no. 1372,6366 dan Muslim 586].

4. Hadits Ummu Mubasysyir رضي الله عنها
Dia berkata: Ketka aku sedang berada di kebun, Beliau bersabda kepadaku, “Berlindunglah kalian dari adzab kubur”. Saya bertanya: Wahai Rasulullah, apakah dalam kubur ada adzab?. Beliau menjawab: Sesungguhnya mereka disiksa di dalam kuburnya dengan siksaan yang bisa didengar oleh hewan.” [Hadits shahih riwayat Abu Hatim al-Busti, shahih, lihat Syarah Aqidah al-Wasithiyah 130; al-Ruh: 67].

5. Hadits Asma’ binti Abi Bakar رضي الله عنها
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (setelah shalat kusuf): “Tidak ada sesuatu pun yang belum aku lihat melainkan aku telah menyaksikannya dari tempatku ini hingga surga dan neraka. Dan telah diwahyukan kepadaku bahwa kalian diuji di dalam kubur kalian, seperti atau mendekati fitnah Dajjal.” [HR. Malik: 40; Bukhari 1/95, dll, lihat al-Tamhid 9/227-228]

6. Hadits Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba jika diletakkan di dalam kuburnya dan ditinggalkan oleh pengantarnya- dan dia mendengar suara sandal mereka - ia didatangi oleh dua malaikat dan didudukkan, lalu keduanya menanyai: “Apa yang kamu ketahui tentang perihal orang ini, maksudnya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka orang mukmin akan menjawab: Saya bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Lalu dikatakan: “Lihatlah kepada tempat dudukmu dari neraka, Allah telah menggantikannya untukmu tempat duduk surga, lalu ia melihat kepada keduanya sekaligus”.

Qatadah berkata: “Disebutkan kepada kami bahwa kuburnya diluaskan untuknya”. Kemudian kembali kepada hadits Anas. “Adapun orang munafik dan orang kafir maka mereka menjawab: Saya tidak tahu, saya dulu menirukan ucapan orang-orang. Maka dikatakan : Kamu tidak tahu, kamu tidak baca (al-Qur’an) (atau tidak mengikuti orang yang tahu -pent)”, kemudian dia dipukul sekali dengan palu godam yang terbuat dari besi, maka ia menjerit dengan jeritan yang bisa didengar oleh seluruh mahluk yang ada di sekitarnya selain manusia dan jin”. [HR Bukhari no. 1347].

Dalam hadits Bara’ disebutkan: Seandainya dipukulkan pada gunung tentu akan hancur menjadi debu. Dalam hadits Asma’: “Seekor binatang yang dikirim ke dalam kuburnya ia membawa cambuk dan ujungnya adalah bara api sebesar kepala unta, ia memukulinya sesuai dengan kehendak Allah, tanpa ada suara ia tidak mendengar suaranya sehingga tidak merasa kasihan kepadanya”. Dalam hadits Abu Said, Abu Hurairah dan Aisyah ada tambahan: “Kemudian dibukalah pintu surga untuknya lalu dikatakan kepadanya: ‘Ini adalah tempat tinggalmu seandainya kamu beriman kepada Rabbmu, karena kamu telah kufur maka Allah mengganti ini (dengan neraka), lalu dibukalah satu pintu ke neraka’”. Dalam hadits Abu Hurairah ada tambahan: “Maka ia semakin menyesal dan tersiksa, dan kuburnya menghimpitnya hingga tulang rusuknya porak-poranda”. Dalam hadits al-Bara’ dinyatakan “Maka ada yang memanggil dari langit: “Hamparkan untuknya tikar dari neraka, pakaikan baju dari neraka dan bukakanlah untuknya satu pintu menuju neraka, maka sampailah kepadanya panasnya neraka”. [Fath al-Bari 3/237-240]

7. Hadits Abu Ayyub al-Anshari.
Ia berkata: “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallan dari rumah pada waktu matahari telah terbenam, maka beliau bersabda: ‘Orang-orang Yahudi itu disiksa dalam kuburnya’”. [HR Bukhari no. 1375 dan Muslim 2869].

8. Hadits Zaid bin Tsabit
Dia berkata: "Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi w sallam berada di suatu kubur milik Bani Najjar di atas sebuah keledai -dan kami bersama beliau- tiba-tiba keledai itu berputar-putar hingga hampir menjatuhkan Nabi Shallallahu ''alaihi wa sall, ternyata di sana ada kuburan yang berjumlah enam, lima atau empat, maka beliau bertanya: ‘Siapa yang mengetahui perihal kuburan ini?’ Maka seseorang berkata: ‘Saya’, beliau bertanya: ‘Kapan mereka mati?.’ Dia menjelaskan: ‘Mereka itu mati dalam keadaan syirik’, maka beliau bersabda: ‘Sesungguhnya mereka ini diuji di dalam kuburnya. Seandainya kalau tidak saling dikubur tentu aku mohon kepada Allah agar memperdengarkan kepadamu suara siksa kubur yang aku dengar’. Kemudian beliau menghadap kami dan bersabda: ‘Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur’. Mereka berkata: ‘Kami berlindung kepada Allah dari adzab kubur’. Beliau bersabda: ‘Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab neraka’. Mereka berkata: ‘Kami berlindung kepada Allah dari adzab neraka’. Beliau bersabda: ‘Mintalah perlindungan kepada Allah dari fitnah-fitnah yang nampak dan yang tersembunyi’. Mereka berkata: ‘Kami berlindung kepada Allah dari fitnah-fitnah yang nampak dan yang tersembunyi’. Beliau bersabda: ‘Mohonlah perlindungan kepada Allah dari fitnah dajjal’. Mereka berkata: ‘Kami berlindung kepada Allah dari fitnah dajjal". [HR Muslim 2867].

9. Hadits Ibn Abbas Radhiyallahu 'anhuma
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melewati dua kuburan. Beliau bersabda: “Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan tidaklah mereka disiksa karena dosa besar. Salah satunya adalah karena ia mengadu domba, adapun yang lainnya karena tidak bertabir dari kencingnya. Kemudian beliau minta satu pelepah kurma yang basah lalu membelahnya menjadi dua, kemudian menancapkannya pada masing-masing kuburan. Mereka bertanya heran: ‘Ya Rasul Allah mengapa anda melakukan ini?’. Beliau menjawab: ‘Semoga diringankan siksa itu dari meraka berdua selama kedua pelepah tidak kering". [HR Bukhari: 216 &1378; Muslim: 292].

10. Hadits Ibn Abbas Radhiyallahu 'anhuma.
Rasulullah Shallallahu 'aliahi wa sallam mengajarkan kepada mereka do’a berikut ini, sebagaimana beliau mengajarkan satu surat al-Qur’an: “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari adzab jahannammu, aku berlindung kepadamu dari adzab kubur, aku berlindung kepadamu dari fitnah al-Masih al-Dajjal dan aku berlindung kepadamu dari fitnah kehidupan dan kematian”. [HR Muslim: 590; Malik: 450; Nasa’i :8/277; Abu Daud: 980; Tirmidzi: 3494; Ibnu Majah: 3840, dan lainnya]

11. Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang kamu selesai dari tasyahhud akhir, maka ucapkanlah: ‘Aku berlindung kepada Allah dari empat hal; dari adzab jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian dan dari fitnah al- Masih al-Dajjal’”. [HR Muslim: 588].

12. Hadits Asma’ Ummu Khalid binti Khalid ibn Said ibn al-Ash رضي الله عنها .
Dia mendengar bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berlindung dari adzab kubur [HR. Bukhari : 1376, 6374].

Dalam lafadz lain Nabi bersabda:

استجروا با الله من عذاب القبر فان عذاب القبر حق

"Mintalah pertolongan kepada Allah dari adzab kubur, karena sesungguhnya adzab kubur itu benar-benar terjadi". [HR al-Thabrani. Lihat Fath al-Bari 3/242].

13. Hadits Ibn Umar Rahimahullah
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya apabila salah seorang kamu mati, maka tempat duduknya ditampakkan kepadanya diwaktu pagi dan waktu sore, jika ia ahli surga maka (yang ditampakkan) adalah surga, dan jika ahli neraka maka (yang ditampakkan) adalah neraka, lalu dikatakan kepadanya: ‘Inilah tempat dudukmu hingga Allah membangkitkan kamu pada hari kiamat". [HR Bukhari: 1379, 3240, 6515 dan Muslim].

14. Hadits Usman ibn Affan Radhiyallahu 'anhu.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Kubur itu adalah persinggahan pertama dari persinggahan-persinggahan akhirat, jika seorang hamba selamat daripadanya, maka apa yang ada setelah itu adalah lebih dasyat”. [HR Tirmidzi, Ibn Majjah dan Hakim, disahihkan oleh Hakim].

IJMA ULAMA AHLIS SUNNAH.
Seluruh ulama ahli sunnah menetapkan adanya adzab kubur, tidak ada yang menolak kecuali ahli bid’ah, dan kelompok Khawarij dan sebagian Mu’tazilah, seperti Dhirar ibn Amr, Bisyr al-Murisi dan Yahya ibn Kamil, sementara mayoritas Mu’tazilah seperti al-Jubba’i dan anaknya al-Balkhi adalah mengimani. (lihat Fath al-Bari 3/233). Sebagai contoh kita sebutkan imam madzhab empat dan ulama lainnya.

1. Abu Hanifah: “Pertanyaan mungkar dan nakir di dalam kubur adalah haq. Pengembalian ruh pada jasad di dalam kubur adalah haq, himpitan kubur dan adzabya adalah haq bagi seluruh orang kafir, dan bagi sebagian orang mukmin yang ahli maksiat adalah haq yang jaiz". [As-Syarh al-Muyassar li Fiqh al-Akbar. 79].

2. Malik bin Anas meriwayatkan dalam al-Muwaththa’ do’a Abu Hurairah yang memohonkan perlindungan dari adzab kubur untuk anak-anak kecil yang telah dishalatinya (hal 227) dan meriwayatkan wanita yahudi yang disiksa di dalam kuburnya (hal 234).

3. Imam Syafi’i berkata: “Adzab kubur itu benar adanya dan pertanyaaan yang diajukan kepada penghuni kubur juga benar adanya”. [Al-‘Itiqad oleh al-Baihaqi. 255,256,262; Manaqib Asy-Syafi’i 1/415-416].

4. Imam Ahmad berkata: “Diantara ajaran sunnah yang wajib dan barang siapa meninggalkan salah satunya maka tidak diterima dari padanya dan tidak termasuk ahli sunnah adalah … iman dengan adzab kubur dan bahwasanya umat ini adalah ditanya di dalam kuburnya tentang iman dan Islam”. [Al-lalikai I/156 dll. Lihat Ushuluddin ‘inda al-Aimmah al-Arba’ah, al-Qifari hal. 100].

Beliau juga mengatakan: “Adzab kubur itu haq, tidak ada yang mengingkari melainkan orang yang sesat lagi menyesatkan” [Ar-Ruh: 71; Thabaqat Hanabilah 1/66].

5. Imam al-Asy’ari berkata: “Mu’tazilah telah mengingkari adzab kubur, semoga kita dihindarkan dari padanya, padahal telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dengn beragam riwayat dan oleh sekian banyak sahabat Radhiyallahu 'anhum. Tidak seorangpun dari mereka yang mengingkari atau menolaknya. Ringkasnya, ini merupakan Ijma’ dari para sahabat Radhiyallahu 'anhum" (Al-Ibanah: 166).
Di dalam kitab yang lain beliau berkata: “Ahlu Sunnah wal-Jamaah bersepakat bahwa adzab kubur itu haq (Risalah ala Ahl al-Tsaghr, h. 279), mereka mengimani Munkar dan Nakir” [Maqalat al-Islamiyyin, lihat I’tiqad ahlu sunnah Ashhab al-Hadits, 138].

6. Imam Ali ibn Abi al-Izz al-Hanafi berkata: “Telah mutawattir berita dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang adanya adzab kubur dan nikmat kubur bagi penghuninnya. Begitu pula tentang pertanyaan dua malaikat. Maka wajib meyakini dan mengimani kebenarannya". [Tahdzib al-Thahawiyah. 238]

7. Ibn Abdil Barr berkata: “Atsar dalam masalah ini (fitnah kubur) adalah mutawattir. Seluurh Ahlu Sunnah mengimaninya. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali ahli bid’ah". [At-Tamhid 9/270; lihat juga Ibid 5/29].

PENYELAMAT DARI ADZAB KUBUR
Imam Abu Laits al-Samarqandi berkata: “Barang siapa ingin selamat dari adzab kubur, maka ia harus melestarikan empat perkara dan meninggalkan empat perkara. Empat perkara yang harus dilestarikan adalah: shalat lima waktu, sedekah, membaca al-Qur’an dan banyak bertasbih.

Sesungguhnya empat hal ini adalah menerangi kubur dan melapangkannya. Adapun empat perkara yang wajib dihindari adalah: Dusta, khianat, adu domba dan tidak hati-hati dalam buang air kecil”. [Tanbih al-Ghafilin hal. 45].

Sementara itu dalam Tadzkirah, Al-Qurthubi menyebutkan bahwa di antara hal-hal yang dapat menyelamatkan dari adzab kubur, diantaranya adalah:

1. Ribath Fi Sabilillah, artinya menjaga wilayah Islam dan daerah perbatasan dari musuh-musuh Islam.
2. Membaca Surat al-Mulk setiap malam, begitu pula membaca Surat al-Ikhlas pada waktu sakit sebelum meninggalnya.
3. Meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at.
4. Meninggal dalam peperangan melawan orang kafir (mati syahid), termasuk digolongkan dengan syahid adalah orang mukmin yang meningga karena Tha’un, sakit perut, tenggelam, reruntuhan, melahirkan, kebakaran, membela harta, darah dan kehormatannya.

Semoga kita semua dihidupkan dan dimatikan di atas landasan Islam dan Sunnah dan diselamatkan dari segala fitnah.

***
Mata Pena : Ustadz Agus Hasan Bashori
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi Khusus/Tahun VIII/1425H/2004M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183]
Artikel : www.almanhaj.or.id

(Dari kitab kaifa takun ahsan murobbi fil ‘alam, h 44-45)
[Diterjemahkan oleh Ustadz Syafiq Basalamah, MA hafidzahullaah]

1. Hormatilah suamimu ketika dia di rumah atau di luar rumah, dan bersegeralah memenuhi kebutuhannya, khususnya di depan putri-putrinya.

2. Jangan bertikai dengan suami di depan anak-anak, never! Perselisihan yang terjadi tidak boleh melewati pintu kamar tidur.


3. Sengajalah meminta izin suami di depan putri-putrinya, bila ingin masuk atau keluar atau apa saja.

4. Jangan pernah menampakkan pembangkangan atas perkataan suami di depan putri-putri.

5. Bagi istri-istri penguasa terhadap suaminya, yang ikut campur dalam segala urusan suaminya bahkan mengintrogasi suami (Kenapa jendelanya dibuka? Bagaimana kamu keluar sendirian kemarin?! Kenapa beli roti ini?dll), seakan dialah komandan di rumah, menyuruh, memerintah dan melarang di rumah.
Yakinlah bahwa putri-putrinya kelak akan menjadi fotocopy dirinya, secara otomatis dia akan menguasai suaminya seperti yang dia lihat di ibundanya, dan bila ternyata dia mendapatkan suami yang memiliki kepribadian yang berbeda dengan ayahnya, maka tiada solusi kecuali CERAI.

6. Seorang istri tidak boleh memberikan izin bagi lelaki untuk memasuki rumahnya di kala suaminya tidak di rumah, walaupun dia itu adalah teman dekat keluarga ataupun tetangga.

7. Seorang ibu yang mulia akan bersolek dan berdandan untuk suaminya, dengan sengaja dia menunjukkan hal itu di depan putri-putrinya seraya menjelaskan bahwa itu adalah hak suami, dan dia juga tidak bersolek ketika keluar rumah, atau di depan orang yang bukan suami, untuk memberi contoh nyata pada putri-putrinya.

8. Istri yang sholeh tidaklah pelit dan tidak pula boros untuk urusan rumah, dia berada di tengah.

9. Sangat indah sekali, bila anak-anak meminta sesuatu pada ibunya dan sang ibu berkata kepada mereka: “Kita akan menanyakannya pada ayah, dan kita tidak akan melakukan sesuatu kecuali bila direstui olehnya”.
Dengan sering kalinya melakukan hal ini, maka akan tertancap di dalam diri putri-putri penyerahan tongkat kepemimpinan pada lelaki, dan tidak boleh seorang wanita menelanjangi suaminya dari pakaian kepemimpinan dengan dalih gender dan kebebasan.

10. Istri yang sholehah akan menyambut kedatangan suaminya dengan wajah yang ceria dan tidak langsung mengadukan tingkah anak-anak yang menyebalkan atau tetangga, atau apa saja. Namun ia akan mencari waktu yang tepat.

11. Tidaklah elok seorang istri mengadukan kehamilannya, urusan menyusui, atau pekerjaan rumah di depan putri-putrinya karena hal itu akan terekam di memorinya.

12. Tatkala ada tetangga atau teman wanita memintanya untuk turut berkunjung ke rumah fulanah, hendaklah sang ibu berkata pada mereka dan diperdengarkan pada putri-putrinya, ‘‘Aku akan memberitahu suamiku, bila dia setuju maka aku akan ikut”, dan tatkala suaminya datang maka ia memberitahu suaminya tanpa nada paksaan,‘‘Apakah ia diperbolehkan untuk berkunjung ke rumah fulanah”, dan bila suaminya diam saja, maka ia tidak memaksa, dan langsung memberi tahu temannya bahwa ia tidak bisa ikut, di depan putri-putrinya.

13. Bila sang ayah memerintahkan kepada anggota keluarga suatu perintah, maka hendaklah sang ibu bersegera melaksanakannya dan menyuruh anak-anak bersegera, dan mengajarkan pada mereka pentingnya mematuhi perintah suami, tatkala anak-anak merasakan hal itu maka ia akan tumbuh besar menghormati nahkoda yang kelak mengemudikan bahteranya agar tidak pecah dan tenggelam di samudra.

14. Tatkala seorang istri meminta kepada suaminya berbagai macam permintaan yang melelahkan suaminya karena ketidak mampuannya, maka kelak putrinya akan menirunya tatkala mereka menjadi istri.

15. Seorang istri yang duduk ngobrol bersama tetangga atau temannya menceritakan rahasia-rahasia rumah tangganya, maka kelak putrinya akan dengan mudah menyingkap rahasia suaminya di depan orang lain, tatkala ia menjadi istri.

InsyaAllah dengan menjalankan nasehat-nasehat ini, kelak putri-putri kita akan menjadi istri-istri dan ibu-ibu yang mencetak mujahid-mujahid dakwah masa depan.


Minggu, 08 September 2013

DUA IIKHWAN MANTAN ARTIS BERTAUBAT, KINI JADI SANTRI DI MA'HAD AHLUS SUNNAH (PENGEN NIKAH SAMA AKHWAT SHALIHAH)

Alhamdulillah, yang ingin saya sampaikan di sini, makin banyak artis yang menyadari bahwa perkerjaan menjadi artis itu bukan pekerjaan terhormat dan bukan pula suatu kemuliaan, walaupun para artis itu diidolakan, dielu-elukan, diikuti, bahkan penggemarnya sampai histeris hingga ada yang bunuh diri demi artis idolanya.

Dan ironisnya, artis idola tersebut kadang adalah seorang kafir atau orang fasik, sedang penggemarnya adalah anak-anak muda kaum muslimin. Orang-orang yang dibenci Allah ta'ala tapi dicintai dan diidolakan oleh mereka yang masih mengaku muslim. Sampai rela mengeluarkan harta dalam jumlah besar hanya demi menonton konser kekafiran dan maksiat mereka, yang mungkin harta dengan jumlah tersebut atau kurang dari itu tidak pernah mereka keluarkan di jalan Allah ta'ala.

Diantara bentuk pelanggaran agama para artis:

1. Tidak jarang melakukan kekafiran dan kesyirikan, baik ketika membinatangi sebuah film, dalam nyanyian atau di luarnya, dan umumnya mereka tidak menyadari hal itu.

2. Banyak yang terjerumus dalam perzinahan dan perselingkuhan, bahkan sudah menjadi rahasia umum, sebagian artis untuk mendapatkan peran tertentu atau mau masuk dapur rekaman maka harus rela menjual murah kehormatannya, wal'iyadzu biLlaah.

3. Hal-hal yang mengantarkan kepada zina: Eksploitasi aurat, campur baur laki-laki dan wanita, bersentuhan hingga berciuman tanpa ada ikatan suami istri, dll

4. Tidak sedikit yang terjerumus dalam pergaulan bebas; klub malam, narkoba & obat-obatan terlarang, khamar, free sex, dll

5. Merusak masyarakat dengan film-film dan musik-musik mereka, serta gaya hidup bebas mereka. Dan masih banyak, banyak lagi dan masih sangat banyak pelanggaran-pelanggaran thd agama dalam profesi artis.

Tetapi Allah ta'ala memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia lebih tahu siapa yang pantas mendapatkan hidayah. WalhamduliLlaah, dua orang mantan artis muda yang cukup dikenal (walaupun ana sendiri tdk kenal sama sekali sebelumnya, hanya kata sebagian Ikhwan mereka terkenal) di layar kaca sbg pesinetron dan bintang iklan, kini telah bertaubat, menyesali masa-masa kelamnya sbg artis (meski bergelimang kenikmatan dunia), dan saat ini menjadi santri di ma'had Ahlus Sunnah (maaf nama dan tempat tidak kami sebutkan).

Mohon doa kaum muslimin, semoga mereka berdua tetap istiqomah di atas al-haq dan berhasil dalam menuntut ilmu, dan semoga suatu saat mereka bisa menjadi para da'i yang mengajak ke jalan Allah ta'ala dengan ilmu dan hikmah.

Sekaligus kita dapat mengambil pelajaran dari mereka dalam hal semangat menuntut ilmu; belum lama taubat, langsung masuk pondok, menghapal Al-Qur'an dan As-Sunnah, mendalami bahasa Arab dan ilmu-ilmu syar'i secara lebih intensif, salah satu dari keduanya insya Allah ta'ala sudah bertekad untuk terus belajar sampai ke negeri para ulama di Timur Tengah, dan salah satunya lagi semoga memiliki tekad yang sama insya Allah ta'ala.

Allahul Musta'an.
 

Biqolam : Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafidzahullah.

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts