Sabtu, 17 Agustus 2013


الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
( Qs. al An’am : 82)

Al Hafizh ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,

أي: هؤلاء الذين أخلصوا العبادة لله وحده لا شريك، له، ولم يشركوا به شيئا هم الآمنون يوم القيامة، المهتدون في الدنيا والآخرة

“yakni : mereka orang-orang yang mengikhlashkan ibadah hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu baginya, dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun, merekalah orang-orang yang merasa aman pada hari kiamat dan yang mendapatkan petunjuk di dunia dan di akhirat.”

Dari Abdullah, ia mengatakan, tatkala turun ayat, ‘{ وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ }(dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman ) para sahabat beliau – shallallahu ‘alaihi wasallam- mengatakan, “ siapakah orangnya di antara kita yang tidak berbuat zhalim terhadap dirinya ? maka turunlah ayat,  
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ 
“sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” 
(Qs. Luqman : 13) (HR. Al-Bukhari, no.4629 )

Dalam al Musnad, imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari Abdullah, ia mengatakan, tatkala turun ayat ini
 الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ 
“Hal tersebut terasa berat dirasakan oleh orang-orang, dan mereka mengatakan, wahai rasulullah, أَيُّنَا لَمْ يَظْلِمْ siapakah di antara kita yang tidak menzhalimi dirinya ? beliau menjawab, “ sesungguhnya bukan seperti yang kalian sangka ! belumkah kalian mendengar apa yang dikatakan oleh seorang hamba yang shalih, “

{ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ } إنما هو الشرك”
Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” ( Qs. Luqman : 13), sesungguhnya yang dimaksud dengan hal tersebut adalah “ kesyirikan”.

Ibnu Marduwaih meriwayatkan dari hadits Muhammad bin Ma’la ( ia berkata ) : menceritakan kepada kami Ziyad bin Khoitsamah dari Abu Dawud dari Abdullah bin Umar, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : barasiapa diberi lalu ia bersyukur, tidak diberi lalu bersabar, berbuat zhalim lalu ia beristighfar ( memohon ampun ), dizhalimi lalu ia memaafkan “ dan beliau diam, para sahabat berkata, “ wahai rasulullah apa yang akan ia dapatkan ? beliau berkata,
{ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ } ]

mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” ( Qs.al An’am : 82)

Abu Ja’far ath Thobari di dalam tafsirnya, “ Jami’ al Bayan fii Ta’wiil al Qur’an “ mengatakan, “ para ahli ta’wil berbeda pendapat tentang sesuatu yang Allah beritakan, dalam ayatnya, yakni :

“الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم”

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman.”

Sebagian mereka mengatakan, “ ini adalah fashlul Qodha “ dari Allah antara Ibrahim khalilullah dan orang yang mendebatnya dari kaumnya yang menyetukan Allah, tatkala Ibrahim mengatakan kepada mereka, “

وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالْأَمْنِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ [الأنعام : 81]

“Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui? 
( Qs.al An’am : 81)

Maka Allah berfirman apa yang Dia sebutkan sebagai pemutus antara ibrahim dan orang-orang musyrik tersebut “Orang-orang yang membenarkan Allah dan mengikhlashkan ibadah kepadaNya dan tidak mencapuradukan peribadahan mereka dan pembenaran mereka  kepadanya dengan kezhaliman, yakni : dengan “ kesyirikan”, ia tidak melakukan penyekutuan dalam ibadahnya sedikitpun, kemudian mereka menjadikan ibadahnya murni bagi Allah adalah lebih berhak mendapatkan rasa aman dari siksaNya yang tidak disukai hambaNya dari pada orang-orang yang menyekutukanNya dengan patung-patung di dalam peribadatan mereka, maka mereka ini adalah orang-orang yang ketakutan terhadap azabnya yang tidak disukai. Di dunia, mereka merasa ketakutan sebagai akibat murka Allah kepada mereka. Sedangkan di akhirat mereka benar-benar akan merasakan pedihnya siksa Allah.

Pelajaran dari ayat :

Di antara pelajaran yang bisa kita ambil dari ayat tersebut di atas yaitu :
  1. Keimanan yang murnilah yang akan mendatangkan keuntungan kepada pelakunya.
  2. Di antara keuntungan yang akan didapatkan oleh orang yang beriman dengan keimanan yang murni adalah rasa aman dan petunjuk.
  3. Orang yang mencampuradukkan keimanan mereka dengan kesyirikan, tidaklah termasuk orang yang akan mendapatkan keamanan dan tidak pula mendapatkan petunjuk.
  4.  Mencapur adukkan keimanan dengan kesyirikan merupakan kezhaliman.
  5. Peringatan kepada seorang hamba agar tidak mengotori kemurnian imannya dengan kesyirikan. 
  6. Diantara karakteristik para sahabat adalah menjadikan keimanan dan permasalahan akhirat sebagai orientasi hidup mereka. Maka kesedihan maupun ketenangan hidupnya selalu didasarkan pada kondisi iman;
    • Para sahabat memiliki sikap khauf (takut kepada Allah, mengkhawatirkan akhiratnya) yang sangat besar;
    • Para sahabat tidak menganggap (mengklaim) diri mereka bersih dan suci dari semua kesalahan/kezaliman dalam maknanya yang umum;
    • Segala hal yang tidak benar dan tidak tepat menurut syariat bisa disebut zalim. Maka baik syirik maupun perbuatan maksiat, semuanya masuk dalam istilah zalim secara umum;
    •  Kata "zhulmun" dalam QS. Al-An'am ayat 82 maknanya adalah syirik;
    •  Syirik adalah kezaliman terbesar;
    •  Iman dan syirik (besar) tidak mungkin berkumpul dalam diri seseorang.
    • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, "para sahabat menafsirkan kata 'zhulmun' secara umum yaitu mencakup syirik dan perbuatan maksiat lainnya, hal ini juga sebagaimana dikehendaki oleh Imam Bukhari."
      يَظْلِمْ فَأَنْزَلَ اللَّهُ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
      Maka Allah menurunkan ayat 'Sesungguhnya syirik adalah benar-benar kezaliman yang besar' (QS. Luqman : 13)"
Reference :
  1. Tafsir al Qur’an al ‘Azhim, Abu al Fida Isma’iil bin Umar bin Katsir al Qurosyi ad Damsyiqi ( 700 – 774 H), tahqiq : Sami bin Muhammad Salamah, pent. Daar ath Thoyyibah Linnasyr wa at Tauzi’, cet. II tahun 1999 M / 1420 H.
  2. Jami’ al Bayan Fii Ta’wiili al Qur’an, Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Gholib al Aamaliy, Abu Ja’far ath Thobari ( 224 – 310 H), tahqiq : Ahmad Muhammad Syaki, pent. Muassasah ar Risalah, Cet.I tahun 2000 M / 1420 H
Makalah Kajian Ba'da maghrib, Masjid Alkautsar PT Badak NGL
Kami sarikan dari http://www.hisbah.or.id dengan sedikit penambahan dan perubahan

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts