Minggu, 25 Agustus 2013

Karena perkara terpenting di dalam urusan habluminannaas (hubungan di antara sesama manusia) -sebagaimana urusan terpenting setelah mentauhidkan ALLAH- adalah birr walidain (berbakti kepada orangtua). Beberapa ayat di dalam AL Qur’an menunjukkan, betapa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa menjelaskan di berbagai kesempatan dan ungkapan bahwa perkara terpenting -bagi setiap hamba- setelah mentauhidkan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa adalah berbakti dan berbuat baik kepada orangtua.

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرائيلَ لا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

(Artinya:Dan(-ingatlah-)ketika Kami mengambil perjanjian dengan Bani Isra’il, agar kalian (-wahai Bani Isra’il-) tidak beribadah kecuali kepada ALLAH, dan agar kalian berbuat baik kepada kedua orangtua.)(Al Baqarah: 83)

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

(Artinya: Dan ibadahilah oleh kalian ALLAH. serta jangan kalian sekutukan Ia dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua.)(An-Nisaa’:36)

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

(Artinya: Katakanlah,”Marilah kubacakan apa yang ALLAH haramkan ataskalian, yaitu: janganlah kalian menyekutukan Ia dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua…”)(Al An’aam:151)

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

(Artinya: Dan rabb-mu telah memerintahkan agar kalian jangan beribadah kecuali kepada-Nya, dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua.)(Al Isra’:23)

ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa, melalui ayat di atas, mengaitkan antara bersyukur kepada ALLAH dan bersyukur kepada makhluq- Nya. Bahkan, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengungkapkan di dalam haditsnya:

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (من لا يشكر الناس لا يشكر الله) .
هذا حديثٌ صحيحٌ.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam:
Tidaklah seorang (-dikatakan-) bersyukur kepada ALLAH sebelum ia (-mampu-) bersyukur kepada manusia.” (HR: At-Tirmidzi – Shohih)

Dan seutama-utama makhluq, seutama-utama manusia yang layak mendapatkan sikap bersyukur dan berterima kasih adalah kedua orangtua, ayah dan ibu.

Ya, dari sinilah segalanya bermula…

Dari cara bersikap kepada kedua orangtuanyalah bermula bagaimana kelak seseorang hidup bermasyarakat. Dan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa telah mewasiatkan kepada segenap manusia akan perkara ini.
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ
أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

(Artinya: Dan telah kami wasiatkan manusia (-berbuat baik-) kepada kedua orangtuanya, yang mana ibunya telah mengandungnya dalam keadaan payah yang amat sangat dan menyapihnya selama dua tahun. Agar hendaknya bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orangtuanya. Hanya kepada-Ku lah kamu akan kembali.) (Luqman:14)

Melalui ayat ini ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa mengungkapkan tentang penderitaan dan pengorbanan orangtua bagi anaknya -sejak anaknya masih di dalam kandungan-. Kedua orangtua telah bersusah payah membesarkan serta memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anaknya. Dan pengungkapan ini tidak lain agar anak berterima kasih dan tak melupakan pengorbanan kedua orangtuanya. Juga hendaknya kedua orang tua mengajari anak-anaknya agar mampu melihat dan menghargai jasa-jasa mereka. Dan perasaan serta kebutuhan akan -disyukuri dan dihargai- ini berlaku dan merupakan fitrah pada setiap manusia, kafir sekalipun dia.

Ya, dari sinilah segalanya bermula…

Ketika seorang anak tak mampu melihat betapa pengorbanan orangtua bagi dirinya, di awal-awal usianya, saat-saat seharusnya ia merekam peristiwa-peristiwa yang sangat biasa -atau justru luar biasa-: bau keringat ibunya yang tercium dari balik kain gendongan, gerakan tangannya ketika menyuapi, memandikan, dan menuntunnya berjalan, bahkan keluhan atau omelan-omelannya :” Ibu capek, nak. Ibu lagi repot, nak.” Dan masih banyak lagi, masih.., masih sangat banyak!

Ketika seorang anak tak mampu melihat betapa pengorbanan orangtua bagi dirinya, di masa-masa pertumbuhannya, saat-saat seharusnya ia merekam peristiwa-peristiwa yang sangat biasa -atau justru luar biasa-: kesibukan bapaknya bersiap-siap untuk berangkat kerja, kurang tidurnya mereka karena sejak malam sudah harus mengemas barang yang hendak dibawanya ke pasar, wajah ibu bermandikan peluh yang sejak sebelum subuh sudah di hadapan tungku, mempersiapkan dagangannya di pagi hari, yang mungkin ia sendiri ikut mondar-mandir membantu mereka mengambil ini dan itu, bahkan keluhan dan omelan-omelannya “Jadi anak tahu diri, donk. Kita ini bukan orang kaya seperti mereka!” Dan masih banyak lagi, masih.., masih sangat banyak!

Ketika seorang anak tak mampu melihat betapa pengorbanan orangtua bagi dirinya, di masa-masa menjelang dewasanya, saat-saat seharusnya ia merekam peristiwa-peristiwa yang sangat biasa -atau justru luar biasa-: air muka kesedihan atau kesusahan yang nampak karena memikirkan masa depan anaknya, jerih payah jasmani dan ruhaninya guna memenuhi kebutuhan anaknya, keringat, waktu, atau mungkin rasa malu yang dikorbankan demi anaknya. bahkan keluhan dan omelan-omelannya: “Bilang, SPP sejak Juli belum bisa kami lunasi!” Dan masih banyak lagi, masih.., masih sangat banyak!

Ya, ketika peristiwa-peristiwa penting -yang tampaknya sepele- semua hilang dari ingatan. Ketika semua hari-hari bersejarah itu berlalu begitu saja tanpa meninggalkan kesan mendalam tak terlupakan.
Maka, seandainya kepada manusia yang paling berjasa -yang terlihat dan terasa pengorbanan serta kasih sayangnya, yang telah mempersembahkan tetesan keringat, air mata, bahkan darah- bagi dirinya saja seseorang tak mampu bersyukur dan berterima kasih, bagaimana pula kepada selain mereka?

Ya, dari sinilah segalanya bermula…

Ketika orangtua gagal mendidik anaknya untuk menjadi orang yang pandai berterimakasih. Ketika kepada orang yang paling berjasa saja ia tak mampu membalas budi. Kepada yang hidup bersamanya sejak kecil saja ia berbuat dzalim. Ketika kepada orang yang seharusnya ia bersikap santun dan merendahkan diri di hadapannya saja ia berlaku kasar dan jahat. Ketika kepada orang yang paling mencintainya saja begitu tega ia berdusta dan menipunya. Maka bagaimana pula kepada selain mereka?

Tentu saja ini tidak berarti, bahwa orang yang berlaku baik, patuh, dan cinta kepada kedua orangtuanya pasti berlaku sama kepada selain keduanya. Namun, sebaliknya, hampir bisa dipastikan, seseorang yang tega berlaku buruk, kurang ajar, dan jahat kepada kedua orangtuanya, sangat mungkin berbuat lebih kepada selain mereka! Maka, kepada siapa saja yang hendak memilih teman, rekan usaha, bahkan calon menantu, lihat.., lihat dan perhatikanlah bagaimana orangtuanya diperlakukan!
Ya, dari sinilah segalanya bermula…

Ketika ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa menambahkan ni’mat-Nya bagi yang pandai bersyukur dan menimpakan adzab-Nya yang sangat pedih bagi yang mengkufuri ni’mat-Nya, sebagaimana firman-Nya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

(Artinya:Dan (-ingatlah-) ketika rabb-mu mema’lumkan,”Jika kalian bersyukur,sungguh akan Aku tambahkah ni’mat-Ku.Dan jika kalian mengingkari (ni’mat-Ku-), maka sesungguhnya adzab-Ku sangatlah pedih.”) (Ibrahim: 7)

Maka mengertilah kita mengapa di dalam urusan bersyukur digunakan kata pandai, bukan sekedar bisa. Karena begitu tak terhingganya ni’mat-ALLAH, namun begitu banyak pula yang tak mampu melihatnya. Dan ketidakmampuan -melihat atau merasakan ni’mat-ALLAH yang tiada terhingga- Itu boleh jadi disebabkan oleh kebodohan. Maka membiarkan diri atau anak senantiasa di dalam kebodohan bersyukur sama saja dengan menyiapkan diri atau anak untuk mendapat adzab ALLAH yang sangat pedih.

Ya, dari sinilah segalanya bermula…

Ketika ni’mat-ALLAH yang tiada terhingga itu tak mampu ia rasakan, bahkan ia senantiasa merasa kurang dan tidak bahagia. Ya, di dalam hidup yang bergelimang keni’matan saja ia merasa susah dan menderita. Bagaimana pula jika benar-benar ALLAH timpakan musibah atasnya ? Mampukah ia bersabar dan kuat mengatasi kesusahan dan penderitaan ?

Ya, dari sinilah segalanya bermula…

Itulah di antara hikmah kenapa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa dahulukan perintah bersyukur -kepada-Nya dan berterima kasih kepada orang tua- dengan pengungkapan tentang jasa dan pengorbanan orangtua. Itulah pula di antara hikmah kenapa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengatakan : 

Tidaklah seorang (-dikatakan-) bersyukur kepada ALLAH sebelum ia (-mampu-) bersyukur kepada manusia.”

Itulah sebabnya, kenapa perkara terpenting -bagi setiap hamba- setelah mentauhidkan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa adalah berbakti dan berbuat baik kepada orangtua. Karena dari sinilah segalanya bermula…

Oleh : Al-Ustadz Abu Khaulah Zainal Abidin, Lc hafidzhahullah
http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/07/11/lihat-bagaimana-orang-tuanya-diperlakukan/

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts