Rabu, 28 Agustus 2013

Aku tak tahu, apakah ini kesialanku atau keberuntunganku. Satu yang kutahu, inilah jalan yang diberikan Allah untuk bertemu jodohku. Meski awalnya, aku merasa sial karena kecelakaan itu dan aku harus mengganti rugi tidak sedikit. Toh akhirnya justru kesialanku itu membawaku ketemu jodoh.

Ceritanya begini, secara tak sengaja aku menabrak seorang polisi sepulang kuliah. Tak kusangka “motor butut”-ku bisa merusak total motornya yang bernilai puluhan juta. Perasaan, mataku sudah fokus ke jalan, tak jelalatan kemana-mana. Doa juga sudah kubaca saat aku menyalakan mesin motor di parkiran I kampus.

Memang sudah apes dan inilah yang dinamakan takdir. Nggak diminta dan meski sudah hati-hati eh… nabrak juga, … polisi lagi.
Aku dan motorku sempat juga jungkir balik, Alhamdulillah lukaku tak seberapa parah, meski jidatku sempat berdarah-darah dan tanganku terkilir, serta luka lecet hamper diseluruh tubuh. Meski tak sampai membuatku pingsan, aku harus merasakan mondok tiga hari di rumah sakit.

Sementara polisi yang kutabrak tak separah aku. Tapi justru motornya yang parah, sempat aku ciut nyali saat temen-temen polisi dan orang-orang mengerumuniku. Di TKP teman-teman polisi itu justru yang marah-marah dan bersikap agak keras padaku, tapi mas polisi itu justru minta teman-temannya bersikap baik dan sabar padaku.

“Sudah, nggak papa namanya juga nggak sengaja, memang ada orang mau nabrak atau ditabrak? Jangan kasarlah aku baik saja kok. Kayaknya motor yang kena, nanti kan bisa diselesaikan baik-baik”.

Aku dibuat kagum bahkan polisi yang kutabrak itu berbaik hati mengantarku ke rumah sakit dan mengabari keluarga dirumah. Selama tiga hari itu dia juga menyempatkan diri menjengukku di rumah sakit. Kami jadi akrab karenanya.

Nah, setelah keluar dari rumah sakit aku mulai disibukkan urusan ganti rugi onderdil motor senilai puluhan juta itu. Ganti rantai saja nilainya jutaan rupiah, itu pun belum spare part lain.

Makanya hampir seluruh tabungan hasil kerja sampinganku ludes semua. Tapi aku memang harus bertanggungjawab bukan? Aku tak mau menyusahkan orangtua soal ganti rugi, hingga aku bilang ke mas polisi cuma bisa mencicil sedikit demi sedikit.

Seperti biasa, kali ini aku ke rumah mas polisi untuk mencicil ganti rugi. Ini keempat kalinya aku kesana. Sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih dia menerima “setoranku”. Dan seperti biasa pula kami ngobrol sejenak. Tak kusangka dia tiba-tiba bertanya, “sudah ada gambaran nikah belum?” tanyanya padaku sambil mesem-mesem.

“Ya kadang pingin juga mas, kerja kecil-kecilan insya Allah sudah ada, pinginnya nggak nunda-nunda, tapi jodohnya belum ada”. Jawabku sambil cengar-cengir.

“Mau sama adikku? Serius nih, orangnya pake jilbab gedhe kamu carinya kan yang kayak gitu”. Mas polisi bilang gitu mungkin karena celanaku yang “kayak orang kebanjiran” seperti temen-temen kampus yang suka meledekku.

“Bener kok, serius!” Ujarnya menegaskan.

Sore itu aku pulang dan berjanji memikirkan tawarannya. Setelah berkonsultasi dengan orang tua dua pekan kemudian kuberikan jawaban “Ya”. Tentu saja, akhwat dan keluarganya sudah tahu keadaanku yang perbedaannya ibarat langit dan bumi dengan mereka yang dari keluarga berada. Meski awalnya minder, sikap bapak akhwat yang begitu baik membuatku percaya diri, pesannya padaku singkat.

“Laki-laki yang bisa menjadi imam dan tanggungjawab, satu lagi jaga anak perempuan saya, dia sepenuhnya saya titipkan ke kamu”.

Meski diberi tanggungjawab yang tak ringan, hatiku serasa diguyur es, sejuk…. Rasanya. Aku segera pulang ke awang-awang sepulang nazhar. Mas Har, si mas polisi yang kutabrak itu mencegatku, ia menyerahkan amplop tebal padaku.

“Ini uang yang kamu titipkan padaku, ini hadiahku tapi bener ya cepet jemput bidadarimu! Ia memukul pundakku ringan dan pergi tanpa memberiku kesempatan bertanya lagi.

Masya Allah, di rumah, begitu kubuka amplop ternyata isinya uang sesuai ganti rugi motor yang kuberikan kepada mas Har. Segera kuhubungi mas Har lewat telepon, tapi ia tertawa ringan.

“Aku sudah bilang, itu untuk calon adikku”.

Berkaca-kaca saat kututup telepon sambil tak henti-hentinya bersyukur. Sudah nabrak orang, dikasih adiknya, dipercaya orangtuanya, uang ganti ruginya masih dikembalikan padaku.

Semalaman aku tak bisa tidur entah karena senang atau bingung. Uang senilai hampir sepuluh juta itu, kuberikan sebagai mahar saat akad nikah buat istri. Tepat sebulan sebelum Ramadhan.

Kini kami sudah punya 2 momongan, insya Allah beberapa bulan lagi akan bertambah seorang lagi. Mas Har menikah 2 tahun kemudian, ia baru punya satu momongan, Alhamdulillah kami semua hidup bahagia. Mas har dan istrinya juga mulai tertarik manhaj mulia ini (manhaj salaf). Dan itu menambah kebahagiaan kami.

Wallahua’lam bish Shawwab.
Barakallahu fiikum.

Sumber: Majalah Nikah Sakinah Volume 9,


*Sebuah pic note facebook

Minggu, 25 Agustus 2013

Karena perkara terpenting di dalam urusan habluminannaas (hubungan di antara sesama manusia) -sebagaimana urusan terpenting setelah mentauhidkan ALLAH- adalah birr walidain (berbakti kepada orangtua). Beberapa ayat di dalam AL Qur’an menunjukkan, betapa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa menjelaskan di berbagai kesempatan dan ungkapan bahwa perkara terpenting -bagi setiap hamba- setelah mentauhidkan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa adalah berbakti dan berbuat baik kepada orangtua.

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرائيلَ لا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

(Artinya:Dan(-ingatlah-)ketika Kami mengambil perjanjian dengan Bani Isra’il, agar kalian (-wahai Bani Isra’il-) tidak beribadah kecuali kepada ALLAH, dan agar kalian berbuat baik kepada kedua orangtua.)(Al Baqarah: 83)

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

(Artinya: Dan ibadahilah oleh kalian ALLAH. serta jangan kalian sekutukan Ia dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua.)(An-Nisaa’:36)

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

(Artinya: Katakanlah,”Marilah kubacakan apa yang ALLAH haramkan ataskalian, yaitu: janganlah kalian menyekutukan Ia dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua…”)(Al An’aam:151)

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

(Artinya: Dan rabb-mu telah memerintahkan agar kalian jangan beribadah kecuali kepada-Nya, dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua.)(Al Isra’:23)

ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa, melalui ayat di atas, mengaitkan antara bersyukur kepada ALLAH dan bersyukur kepada makhluq- Nya. Bahkan, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengungkapkan di dalam haditsnya:

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (من لا يشكر الناس لا يشكر الله) .
هذا حديثٌ صحيحٌ.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam:
Tidaklah seorang (-dikatakan-) bersyukur kepada ALLAH sebelum ia (-mampu-) bersyukur kepada manusia.” (HR: At-Tirmidzi – Shohih)

Dan seutama-utama makhluq, seutama-utama manusia yang layak mendapatkan sikap bersyukur dan berterima kasih adalah kedua orangtua, ayah dan ibu.

Ya, dari sinilah segalanya bermula…

Dari cara bersikap kepada kedua orangtuanyalah bermula bagaimana kelak seseorang hidup bermasyarakat. Dan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa telah mewasiatkan kepada segenap manusia akan perkara ini.
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ
أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

(Artinya: Dan telah kami wasiatkan manusia (-berbuat baik-) kepada kedua orangtuanya, yang mana ibunya telah mengandungnya dalam keadaan payah yang amat sangat dan menyapihnya selama dua tahun. Agar hendaknya bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orangtuanya. Hanya kepada-Ku lah kamu akan kembali.) (Luqman:14)

Melalui ayat ini ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa mengungkapkan tentang penderitaan dan pengorbanan orangtua bagi anaknya -sejak anaknya masih di dalam kandungan-. Kedua orangtua telah bersusah payah membesarkan serta memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anaknya. Dan pengungkapan ini tidak lain agar anak berterima kasih dan tak melupakan pengorbanan kedua orangtuanya. Juga hendaknya kedua orang tua mengajari anak-anaknya agar mampu melihat dan menghargai jasa-jasa mereka. Dan perasaan serta kebutuhan akan -disyukuri dan dihargai- ini berlaku dan merupakan fitrah pada setiap manusia, kafir sekalipun dia.

Ya, dari sinilah segalanya bermula…

Ketika seorang anak tak mampu melihat betapa pengorbanan orangtua bagi dirinya, di awal-awal usianya, saat-saat seharusnya ia merekam peristiwa-peristiwa yang sangat biasa -atau justru luar biasa-: bau keringat ibunya yang tercium dari balik kain gendongan, gerakan tangannya ketika menyuapi, memandikan, dan menuntunnya berjalan, bahkan keluhan atau omelan-omelannya :” Ibu capek, nak. Ibu lagi repot, nak.” Dan masih banyak lagi, masih.., masih sangat banyak!

Ketika seorang anak tak mampu melihat betapa pengorbanan orangtua bagi dirinya, di masa-masa pertumbuhannya, saat-saat seharusnya ia merekam peristiwa-peristiwa yang sangat biasa -atau justru luar biasa-: kesibukan bapaknya bersiap-siap untuk berangkat kerja, kurang tidurnya mereka karena sejak malam sudah harus mengemas barang yang hendak dibawanya ke pasar, wajah ibu bermandikan peluh yang sejak sebelum subuh sudah di hadapan tungku, mempersiapkan dagangannya di pagi hari, yang mungkin ia sendiri ikut mondar-mandir membantu mereka mengambil ini dan itu, bahkan keluhan dan omelan-omelannya “Jadi anak tahu diri, donk. Kita ini bukan orang kaya seperti mereka!” Dan masih banyak lagi, masih.., masih sangat banyak!

Ketika seorang anak tak mampu melihat betapa pengorbanan orangtua bagi dirinya, di masa-masa menjelang dewasanya, saat-saat seharusnya ia merekam peristiwa-peristiwa yang sangat biasa -atau justru luar biasa-: air muka kesedihan atau kesusahan yang nampak karena memikirkan masa depan anaknya, jerih payah jasmani dan ruhaninya guna memenuhi kebutuhan anaknya, keringat, waktu, atau mungkin rasa malu yang dikorbankan demi anaknya. bahkan keluhan dan omelan-omelannya: “Bilang, SPP sejak Juli belum bisa kami lunasi!” Dan masih banyak lagi, masih.., masih sangat banyak!

Ya, ketika peristiwa-peristiwa penting -yang tampaknya sepele- semua hilang dari ingatan. Ketika semua hari-hari bersejarah itu berlalu begitu saja tanpa meninggalkan kesan mendalam tak terlupakan.
Maka, seandainya kepada manusia yang paling berjasa -yang terlihat dan terasa pengorbanan serta kasih sayangnya, yang telah mempersembahkan tetesan keringat, air mata, bahkan darah- bagi dirinya saja seseorang tak mampu bersyukur dan berterima kasih, bagaimana pula kepada selain mereka?

Ya, dari sinilah segalanya bermula…

Ketika orangtua gagal mendidik anaknya untuk menjadi orang yang pandai berterimakasih. Ketika kepada orang yang paling berjasa saja ia tak mampu membalas budi. Kepada yang hidup bersamanya sejak kecil saja ia berbuat dzalim. Ketika kepada orang yang seharusnya ia bersikap santun dan merendahkan diri di hadapannya saja ia berlaku kasar dan jahat. Ketika kepada orang yang paling mencintainya saja begitu tega ia berdusta dan menipunya. Maka bagaimana pula kepada selain mereka?

Tentu saja ini tidak berarti, bahwa orang yang berlaku baik, patuh, dan cinta kepada kedua orangtuanya pasti berlaku sama kepada selain keduanya. Namun, sebaliknya, hampir bisa dipastikan, seseorang yang tega berlaku buruk, kurang ajar, dan jahat kepada kedua orangtuanya, sangat mungkin berbuat lebih kepada selain mereka! Maka, kepada siapa saja yang hendak memilih teman, rekan usaha, bahkan calon menantu, lihat.., lihat dan perhatikanlah bagaimana orangtuanya diperlakukan!
Ya, dari sinilah segalanya bermula…

Ketika ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa menambahkan ni’mat-Nya bagi yang pandai bersyukur dan menimpakan adzab-Nya yang sangat pedih bagi yang mengkufuri ni’mat-Nya, sebagaimana firman-Nya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

(Artinya:Dan (-ingatlah-) ketika rabb-mu mema’lumkan,”Jika kalian bersyukur,sungguh akan Aku tambahkah ni’mat-Ku.Dan jika kalian mengingkari (ni’mat-Ku-), maka sesungguhnya adzab-Ku sangatlah pedih.”) (Ibrahim: 7)

Maka mengertilah kita mengapa di dalam urusan bersyukur digunakan kata pandai, bukan sekedar bisa. Karena begitu tak terhingganya ni’mat-ALLAH, namun begitu banyak pula yang tak mampu melihatnya. Dan ketidakmampuan -melihat atau merasakan ni’mat-ALLAH yang tiada terhingga- Itu boleh jadi disebabkan oleh kebodohan. Maka membiarkan diri atau anak senantiasa di dalam kebodohan bersyukur sama saja dengan menyiapkan diri atau anak untuk mendapat adzab ALLAH yang sangat pedih.

Ya, dari sinilah segalanya bermula…

Ketika ni’mat-ALLAH yang tiada terhingga itu tak mampu ia rasakan, bahkan ia senantiasa merasa kurang dan tidak bahagia. Ya, di dalam hidup yang bergelimang keni’matan saja ia merasa susah dan menderita. Bagaimana pula jika benar-benar ALLAH timpakan musibah atasnya ? Mampukah ia bersabar dan kuat mengatasi kesusahan dan penderitaan ?

Ya, dari sinilah segalanya bermula…

Itulah di antara hikmah kenapa ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa dahulukan perintah bersyukur -kepada-Nya dan berterima kasih kepada orang tua- dengan pengungkapan tentang jasa dan pengorbanan orangtua. Itulah pula di antara hikmah kenapa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengatakan : 

Tidaklah seorang (-dikatakan-) bersyukur kepada ALLAH sebelum ia (-mampu-) bersyukur kepada manusia.”

Itulah sebabnya, kenapa perkara terpenting -bagi setiap hamba- setelah mentauhidkan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa adalah berbakti dan berbuat baik kepada orangtua. Karena dari sinilah segalanya bermula…

Oleh : Al-Ustadz Abu Khaulah Zainal Abidin, Lc hafidzhahullah
http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/07/11/lihat-bagaimana-orang-tuanya-diperlakukan/

Senin, 19 Agustus 2013

Muhammad bin Sirin[1] adalah imam Ahlus sunnah yang sangat terkenal dalam berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah  dan sangat terpercaya dalam meriwayatkannya. Akan tetapi tahukah anda bahwa beliau juga disifati oleh para ulama di jamannya sebagai orang yang sangat wara’ (hati-hati dalam masalah halal dan haram) dan tekun dalam beribadah?

Imam adz-Dzahabi menukil dari Abu ‘Awanah al-Yasykuri, beliau berkata: “Aku melihat Muhammad bin sirin di pasar, tidaklah seorangpun melihat beliau kecuali orang itu akan mengingat Allah”[2].
Subhanallah, betapa mulianya sifat imam besar ini! Betapa tekunnya beliau dalam beribadah dan berzikir kepada Allah ! Sehingga sewaktu berada di pasar dan sedang berjual-belipun hal tersebut tampak pada diri beliau.


Bukankah wajar kalau orang yang sedang beribadah di mesjid kemudian orang yang melihatnya mengingat Allah ? Tapi seorang yang sedang berjual-beli di pasar dengan segala kesibukannya tapi sikap dan tingkah lakunya bisa mengingatkan kita kepada Allah ? Bukankah ini menunjukkan bahwa orang-orang yang shaleh selalu menyibukkan diri dengan berzikir dan beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan?.
Benarlah sabda Rasulullah : “Wali-wali (kekasih) Allah adalah orang-orang yang jika mereka dipandang maka akan mengingatkan kepada Allah”[3].

Teladan kita berikutnya adalah imam Ibrahim bin Maimun ash-Sha-igh, seorang imam Ahlus sunnah dari generasi Atba’ut tabi’in. Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani menukil dalam biografi beliau bahwa pekerjaan beliau adalah tukang menempa logam, tetapi jika beliau telah mendengarkan seruan azan shalat, maka meskipun beliau telah mengangkat palu, beliau tidak mampu untuk mengayunkan palu tersebut dan beliau segera meninggalkan pekerjaannya untuk melaksanakan shalat[4].

Lihatlah betapa besar ketakutan dan pengagungan terhadap Allah  di dalam hati orang-orang yang bertakwa sehingga kesibukan apapun yang mereka kerjakan sama sekali tidak melalaikan mereka dari memenuhi panggilan untuk beribadah kepada-Nya.
Maha benar Allah  yang berfirman:

{ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ}

“Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar (perintah dan larangan) Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan (dalam) hati” (QS al-Hajj:32).
Beberapa pelajaran berharga yang dapat kita petik dari dua kisah di atas:

- Orang mukmin yang bertakwa adalah orang yang tidak disibukkan dengan urusan dan kesibukan dunia dari mengingat Allah , inilah yang dipuji oleh Allah  dalam firman-Nya:

{رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ}

“laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada hari (pembalasan) yang (pada saat itu) hati dan penglihatan menjadi goncang” (QS an-Nuur:37).

Imam Ibnu Katsir berkata: “Mereka adalah orang-orang yang tidak disibukkan/dilalaikan oleh harta benda dan perhiasan dunia, serta kesenangan berjual-beli dan meraih keuntungan (besar) dari mengingat (beribadah) kepada Rabb mereka (Allah ) Yang Maha Menciptakan dan Melimpahkan rezki kepada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang mengetahui (meyakini) bahwa (balasan kebaikan) di sisi Allah  adalah lebih baik dan lebih utama daripada harta benda yang ada di tangan mereka, karena apa yang ada di tangan mereka akan habis/musnah sedangkan balasan di sisi Allah adalah kekal abadi”[5].

- Tempat bekerja dan berjual-beli sangat berpotensi untuk melalaikan manusia dari mengingat Allah , maka menyebut dan mengingat Allah  di tempat-tempat tersebut sangat besar keutamaannya di sisi Allah .
Imam ath-Thiibi berkata: “Barangsiapa yang berzikir kepada Allah (ketika berada) di pasar maka dia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang Allah  berfirman tentang keutamaan mereka (dalam ayat di atas)”[6].

- Mengambil contoh teladan dari kisah-kisah para ulama salaf adalah termasuk sebaik-baik cara untuk memotivasi diri sendiri guna meningkatkan ketakwaan kepada Allah . Hal ini disebabkan jiwa manusia itu lebih mudah mengambil teladan dari contoh yang berupa kisah nyata, dan menjadikannya lebih semangat dalam beramal serta bersegera dalam kebaikan[7].
Oleh karena itu, Allah  berfirman kepada Nabi Muhammad :

{وَكُلا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ}

“Dan semua kisah para rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalamsuratini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman” (QS Huud:120).

Imam Abu Hanifah pernah berkata: “Kisah-kisah (keteladanan) para ulama dan duduk di majelis mereka lebih aku sukai dari pada kebanyakan (masalah-masalah) fikih, karena kisah-kisah tersebut (berisi) adab dan tingkah laku mereka (untuk diteladani)”[8].

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Buah Pena :
Al-Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA hafidzhahullah

[1] Beliau adalah Imam besar dari generasi Tabi’in, sangat terpercaya dan teliti dalam meriwayatkan hadits Rasulullah  (wafat 110 H), Biografi beliau dalam “Tahdzibul kamal” (25/344) dan “Siyaru a’laamin nubala’” (4/606).
[2] Kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (4/610).
[3] HR ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabiir” (no. 12325), Dhiya’uddin al-Maqdisi dalam “al-Ahaaditsul mukhtaarah” (2/212) dan lain-lain, hadits ini dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani dalam “ash-Shahiihah” (no. 1733) karena diriwayatkan dari berbagai jalur yang saling menguatkan.
[4] Lihat kitab “Tahdziibut tahdziib” (1/150).
[5] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/390).
[6] Dinukil oleh al-Mubarakfuri dalam kitab “Tuhfatul ahwadzi” (9/273).
[7] Lihat keterangan syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam tafsir beliau (hal. 271).
[8] Dinukil oleh imam Ibnu ‘Abdil Barr dengan sanadnya dalam kitab “Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi” (no. 595).

www.manisnyaiman.com

Sabtu, 17 Agustus 2013


الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
( Qs. al An’am : 82)

Al Hafizh ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,

أي: هؤلاء الذين أخلصوا العبادة لله وحده لا شريك، له، ولم يشركوا به شيئا هم الآمنون يوم القيامة، المهتدون في الدنيا والآخرة

“yakni : mereka orang-orang yang mengikhlashkan ibadah hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu baginya, dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun, merekalah orang-orang yang merasa aman pada hari kiamat dan yang mendapatkan petunjuk di dunia dan di akhirat.”

Dari Abdullah, ia mengatakan, tatkala turun ayat, ‘{ وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ }(dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman ) para sahabat beliau – shallallahu ‘alaihi wasallam- mengatakan, “ siapakah orangnya di antara kita yang tidak berbuat zhalim terhadap dirinya ? maka turunlah ayat,  
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ 
“sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” 
(Qs. Luqman : 13) (HR. Al-Bukhari, no.4629 )

Dalam al Musnad, imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari Abdullah, ia mengatakan, tatkala turun ayat ini
 الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ 
“Hal tersebut terasa berat dirasakan oleh orang-orang, dan mereka mengatakan, wahai rasulullah, أَيُّنَا لَمْ يَظْلِمْ siapakah di antara kita yang tidak menzhalimi dirinya ? beliau menjawab, “ sesungguhnya bukan seperti yang kalian sangka ! belumkah kalian mendengar apa yang dikatakan oleh seorang hamba yang shalih, “

{ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ } إنما هو الشرك”
Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” ( Qs. Luqman : 13), sesungguhnya yang dimaksud dengan hal tersebut adalah “ kesyirikan”.

Ibnu Marduwaih meriwayatkan dari hadits Muhammad bin Ma’la ( ia berkata ) : menceritakan kepada kami Ziyad bin Khoitsamah dari Abu Dawud dari Abdullah bin Umar, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : barasiapa diberi lalu ia bersyukur, tidak diberi lalu bersabar, berbuat zhalim lalu ia beristighfar ( memohon ampun ), dizhalimi lalu ia memaafkan “ dan beliau diam, para sahabat berkata, “ wahai rasulullah apa yang akan ia dapatkan ? beliau berkata,
{ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ } ]

mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” ( Qs.al An’am : 82)

Abu Ja’far ath Thobari di dalam tafsirnya, “ Jami’ al Bayan fii Ta’wiil al Qur’an “ mengatakan, “ para ahli ta’wil berbeda pendapat tentang sesuatu yang Allah beritakan, dalam ayatnya, yakni :

“الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم”

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman.”

Sebagian mereka mengatakan, “ ini adalah fashlul Qodha “ dari Allah antara Ibrahim khalilullah dan orang yang mendebatnya dari kaumnya yang menyetukan Allah, tatkala Ibrahim mengatakan kepada mereka, “

وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالْأَمْنِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ [الأنعام : 81]

“Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui? 
( Qs.al An’am : 81)

Maka Allah berfirman apa yang Dia sebutkan sebagai pemutus antara ibrahim dan orang-orang musyrik tersebut “Orang-orang yang membenarkan Allah dan mengikhlashkan ibadah kepadaNya dan tidak mencapuradukan peribadahan mereka dan pembenaran mereka  kepadanya dengan kezhaliman, yakni : dengan “ kesyirikan”, ia tidak melakukan penyekutuan dalam ibadahnya sedikitpun, kemudian mereka menjadikan ibadahnya murni bagi Allah adalah lebih berhak mendapatkan rasa aman dari siksaNya yang tidak disukai hambaNya dari pada orang-orang yang menyekutukanNya dengan patung-patung di dalam peribadatan mereka, maka mereka ini adalah orang-orang yang ketakutan terhadap azabnya yang tidak disukai. Di dunia, mereka merasa ketakutan sebagai akibat murka Allah kepada mereka. Sedangkan di akhirat mereka benar-benar akan merasakan pedihnya siksa Allah.

Pelajaran dari ayat :

Di antara pelajaran yang bisa kita ambil dari ayat tersebut di atas yaitu :
  1. Keimanan yang murnilah yang akan mendatangkan keuntungan kepada pelakunya.
  2. Di antara keuntungan yang akan didapatkan oleh orang yang beriman dengan keimanan yang murni adalah rasa aman dan petunjuk.
  3. Orang yang mencampuradukkan keimanan mereka dengan kesyirikan, tidaklah termasuk orang yang akan mendapatkan keamanan dan tidak pula mendapatkan petunjuk.
  4.  Mencapur adukkan keimanan dengan kesyirikan merupakan kezhaliman.
  5. Peringatan kepada seorang hamba agar tidak mengotori kemurnian imannya dengan kesyirikan. 
  6. Diantara karakteristik para sahabat adalah menjadikan keimanan dan permasalahan akhirat sebagai orientasi hidup mereka. Maka kesedihan maupun ketenangan hidupnya selalu didasarkan pada kondisi iman;
    • Para sahabat memiliki sikap khauf (takut kepada Allah, mengkhawatirkan akhiratnya) yang sangat besar;
    • Para sahabat tidak menganggap (mengklaim) diri mereka bersih dan suci dari semua kesalahan/kezaliman dalam maknanya yang umum;
    • Segala hal yang tidak benar dan tidak tepat menurut syariat bisa disebut zalim. Maka baik syirik maupun perbuatan maksiat, semuanya masuk dalam istilah zalim secara umum;
    •  Kata "zhulmun" dalam QS. Al-An'am ayat 82 maknanya adalah syirik;
    •  Syirik adalah kezaliman terbesar;
    •  Iman dan syirik (besar) tidak mungkin berkumpul dalam diri seseorang.
    • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, "para sahabat menafsirkan kata 'zhulmun' secara umum yaitu mencakup syirik dan perbuatan maksiat lainnya, hal ini juga sebagaimana dikehendaki oleh Imam Bukhari."
      يَظْلِمْ فَأَنْزَلَ اللَّهُ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
      Maka Allah menurunkan ayat 'Sesungguhnya syirik adalah benar-benar kezaliman yang besar' (QS. Luqman : 13)"
Reference :
  1. Tafsir al Qur’an al ‘Azhim, Abu al Fida Isma’iil bin Umar bin Katsir al Qurosyi ad Damsyiqi ( 700 – 774 H), tahqiq : Sami bin Muhammad Salamah, pent. Daar ath Thoyyibah Linnasyr wa at Tauzi’, cet. II tahun 1999 M / 1420 H.
  2. Jami’ al Bayan Fii Ta’wiili al Qur’an, Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Gholib al Aamaliy, Abu Ja’far ath Thobari ( 224 – 310 H), tahqiq : Ahmad Muhammad Syaki, pent. Muassasah ar Risalah, Cet.I tahun 2000 M / 1420 H
Makalah Kajian Ba'da maghrib, Masjid Alkautsar PT Badak NGL
Kami sarikan dari http://www.hisbah.or.id dengan sedikit penambahan dan perubahan

Jumat, 16 Agustus 2013

Pertama: Tidak diragukan bahwa jika seorang telah berpuasa Ramadhan sebulan penuh tanpa ada hutangnya sama sekali lalu ia berpuasa 6 hari syawwal maka ia telah meraih keutamaan seakan-akan ia berpuasa setahun penuh
 (فكأنما صام الدهر)
Kedua: Demikian pula seseorang yang tatkala di bulan Ramadhan berhutang (berbuka) akan tetapi karena udzur, lalu ia mengqodho hutang puasanya tersebut sebelum berpuasa 6 hari di bulan Syawwal maka iapun juga seakan-akan berpuasa setahun penuh

Ibnu Muflih berkata : 

وَظَاهِرُهُ أَنَّهُ لَا يُسْتَحَبُّ صِيَامُهَا إِلَّا لِمَنْ صَامَ رَمَضَانَ، وَقَالَهُ أَحْمَدُ وَالْأَصْحَابُ، لَكِنَ ذَكَرَ فِي " الْفُرُوعِ " أَنَّ فَضِيلَتَهَا تَحْصُلُ لِمَنْ صَامَهَا وَقَضَاءَ رَمَضَانَ وَقَدْ أَفْطَرَه لِعُذْرٍ،

Zohirnya tidaklah disunnahkan untuk syawwal kecuali jika bagi orang yang telah berpuasa Ramadhan...akan tetapi disebutkan di “Al-Furuu'” bahwasanya keutamaan puasa Syawwal tetap diperoleh bagi orang yang berpuasa syawwal dan telah mengqodo puasa ramadannya yang ia berhutang puasa karera udzur” (Al-Mubdi' 3/49)

Ketiga: Akan tetapi bagaimana jika ia berpuasa syawwal sebelum mengqodo hutang puasa Ramadhannya?? maka ada dua pendapat ulama dalam hal ini. Kenyataannya ternyata sebagian orang berudzur dan sulit untuk mengqodho' seluruh hutang puasa Ramadhannya di bulan Syawwal, lantas apakah boleh ia berpuasa syawwal terlebih dahulu baru kemudian mengqodho' hutang puasa Ramadhannya di bulan-bulan yang lainnya??
Contohnya : - Seorang wanita yang nifas tatkala bulan Ramadhan sehingga ia berhutang Ramadhan sebulan penuh dan ternyata baru bersih dan di bulan Syawwal - Seorang yang sakit di bulan Ramadhan sehingga tidak bisa berpuasa kecuali hanya beberapa hari - Seseorang yang bersafar karena ada tugas selama bulan Ramadhan sehingga tidak bisa berpuasa di bulan Ramadhan kecuali beberapa hari. - Seorang wanita yang hamil dan menyusui sehingga tidak bisa berpuasa Ramadhan Apakah mereka ini boleh berpuasa Syawwal sebelum mengqodlo hutang puasa Ramadhannya?? Ada dua pendapat dalam hal ini.

PENDAPAT PERTAMA : Menyatakan tidak bisa karena dzohir hadits

من صام رمضان فأتبعه ستا من شوال

(Barang siapa yang puasa Ramadhan LALU MENGIKUTKANNYA dengan puasa 6 hari di bulan Syawwal...)

PENDAPAT KEDUA : Boleh mereka berpuasa Syawwal sebelum mengqodlo hutang puasa Ramadhannya. Al-Bujairimi berkata

: قَوْلُهُ «ثُمَّ أَتْبَعَهُ» إلَخْ يُفِيدُ أَنَّ مَنْ أَفْطَرَ رَمَضَانَ لَمْ يَصُمْهَا وَأَنَّهَا لَا تَحْصُلُ قَبْلَ قَضَائِهِ، وَقَدْ يُقَالُ التَّبَعِيَّةُ تَشْمَلُ التَّقْدِيرِيَّةَ لِأَنَّهُ إذَا صَامَ رَمَضَانَ بَعْدَهَا وَقَعَ عَمَّا قَبْلَهَا تَقْدِيرًا، أَوْ التَّبَعِيَّةُ تَشْمَلُ الْمُتَأَخِّرَةَ كَمَا فِي نَفْلِ الْفَرَائِضِ التَّابِعِ لَهَا اهـ. فَيُسَنُّ صَوْمُهَا وَإِنْ أَفْطَرَ رَمَضَانَ، أَيْ بِعُذْرٍ؛ فَإِنْ تَعَدَّى بِفِطْرِهِ حَرُمَ عَلَيْهِ صَوْمُهَا لِمَا فِيهِ مِنْ تَأْخِيرِ الْقَضَاءِ الْفَوْرِيِّ وَتَفُوتُ بِفَوَاتِ شَوَّالٍ وَلَا تُقْضَى

“Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam “Lalu ia mengikutkan puasa Ramadhannya dengan puasa enam hari Syawwal..” memberi faedah bahwasanya barang siapa yang berbuka di bulan Ramadhan dan tidak berpuasa bahwasanya ia tidak akan memperoleh keutamaan puasa Syawwal hingga ia mengqodho' terlebih dahulu hutang puasa Ramadhannya. Dan dikatakan bahwasanya “At-Tab'iyyah” (mengikutkan) termasuk didalamnya “At-Taqdiriyah” (secara ditaqdirkan (dianggap telah berpuasa)) karena jika ia puasa Syawwal 6 hari lantas setelah itu iapun mengqodho' hutang puasa Ramadhannya maka seakan akan dianggap akhirnya pun telah berpuasa penuh bulan Ramadhan sebelum ia berpuasa 6 hari Syawwal. Atau “at-Tab'iyyah” (mengikutkan) mencakup “Al-Mutaakkhiroh” (yang diakhirkan) yaitu mencakup puasa syawwal yang diakhirkan (sehingga dikerjakan diluar bulan syawwal) sebagaiamana sholat sunnah (rawatib) sholat fardu yang statusnya adalah pengikut sholat fardu. Jadi tetap disunnahkan puasa sunnah 6 hari Syawwal meskipun ia berbuka/berhutang puasa Ramadhan karena udzur. Akan tetapi jika ia berbuka di bulan Ramadhan tanpa udzur maka diharamkan baginya untuk puasa syawwal karena akan mengakibatkan terlambatnya ia mengqodho hutang puasa Ramadhannya yang harus segera dikerjakan. Dan jika ternyata setelah itu telah habis bulan Syawwal maka ia telah terluput dari puasa syawwal dan tidak bisa diqhodo puasa syawwalnya (misalnya dikerjakan pada bulan dzulqo'dah-pen)” (Hasyiyah Al-Bujairimi 2/406)

Dalil-dalil pendapat ini sebagai berikut :

Pertama : Mengqodho hutang puasa Ramadhan bukanlah kewajiban yang harus segera dilakukan akan tetapi waktunya lapang sebelum datang bulan Ramadhan tahun berikutnya. Sementara puasa syawwal waktunya terbatas hanya pada bulan syawwal

Kedua : Seseorang yang berpuasa Ramadhan lalu ia berbuka karena udzur, karena sakit atau haid dan nifas maka ia telah dikatakan telah berpuasa Ramadhan, dan ia juga telah meraih keutamaan berpuasa sebulan penuh, karena ia berbuka disebabkan udzur dan ia akan mengqodo diluar bulan Ramadhan. Bukankah terlalu banyak hadits yang menjelaskan tentang keutamaan berpuasa di bulan Ramadhan?, Perhatikan diantara keutamaan-keutamaan tersebut من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه “Barang siapa yang berpuasa bulan Ramadhan dengan keimanan dan ihtisab maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” Apakah keutamaan-keutamaan tersebut hanya berlaku bagi orang yang berpuasa Ramadhan secara adaa' tanpa ada batal sama sekali?. Tentu jawabannya adalah tidak, karena Allah telah mengizinkan orang yang berudzur untuk berbuka. Maka jika ia berpuasa dengan mengqodo hutangnya maka iapun tentu telah meraih keutamaan-keutamaan tersebut.

Ketiga : Aisyah radhiallahu 'anhaa tidaklah beliau mengqodo hutang puasa Ramadhannya kecuali di bulan Sy'aban. Aisyah berkata كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلَّا فِي شَعْبَانَ، الشُّغْلُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَوْ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَAku punya hutang puasa Ramadhan dan aku tidak mampu untuk mengqodo'nya kecuali di bulan Sya'ban. Karena kesibukanku untuk melayani Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam”
Tentunya sulit terbayangkan jika istri Nabi sekelas Aisyah tidak melaksanakan puasa-puasa sunnah yang sangat mulia, seperti puasa Asyura', puasa hari Arafah, dan juga puasa syawwal??. kemungkinan beliau tetap berpuasa meskipun sebelum mengqodo puasa Ramadannya.

Keempat : Para ulama telah menjelaskan sebab kenapa puasa ramadhan ditambah puasa 6 hari syawal sama dengan puasa setahun penuh? Hal ini sesuai dengan penjelasan bahwa satu kebaikan di sisi Allah bernilai 10 kebaikan. Karenanya jika seseorang berpuasa sebulan penuh ditambah 6 hari maka seakan-akan ia telah berpuasa setahun penuh ( 12 bulan) Seseorang yg berpuasa sebagian ramadan dengan adaa' (pada waktunya yaitu di bulan ramadan) dan sebagiannya lagi diqodo karena udzur dan disertai puasa 6 hari syawwal maka jika ditinjau dari jumlah hari puasanya maka tetap ia berpuasa sebulan 6 hari. Karenanya sebagian ulama membolehkan orang yg menqodo puasa ramadhannya sebulan penuh di bulan syawwal maka ia boleh melaksanakan puasa syawwalnya di bulan dzulqo'dah, hal ini wallahu a'lam diantaranya karena memandang jumlah hari puasa.

Namun tulisan ini bukanlah bermaksud memotivasi seseorang menunda qodho puasa Ramadhan akan tetapi hanya menjelaskan hukum berpuasa syawwal sebelum mengqodo. Tentunya setelah kita sepakat bahwa segera mengqodo puasa itu yang terbaik, dan mengqodo sebelum puasa sunnah apapun adalah yg terbaik. Wallahu A'lam bis Showaab

Penulis : Al-Ustadz Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja, MA hafidzahullaah

http://www.firanda.com/index.php/artikel/fiqh/475-puasa-syawaal-sebelum-mengqodo-puasa-ramadhan
Uang-uangku sendiri,mengapa anda sewot?

Kata-kata di atas mungkin pernah terucap dari lisan anda. Terutama ketika ada saudara anda yang menegur anda karena membelanjakan harta di jalan yang haram.

Kadang kala anda juga berucap: badan-badanku sendiri, apa urusan anda? Atau ucapan senada lainnya.

Ucapan yang menggambarkan bahwa anda merasa bahwa anda bebas; sesuka hati anda untuk berbuat atau menuruti kemauan anda.

Apapun yang anda mau, maka tidak boleh ada yang mencampuri atau menghalangi kemauan anda.

Bahkan bisa jadi anda memiliki keyakinan bahwa IMPIAN DAN CITA-CITA TERBESAR anda ialah mewujudkan atau menuruti segala selera dan kemauan anda, tanpa ada yang membatasi atau menghalang-halangi.

Sobat, ketahuilah bahwa pola pikir demikian inilah yang sejatinya hendak dikikis dengan puasa Bulan Ramadhan yang telah kita jalani bersama.

Tujuannya jelas, yaitu menjadikan anda sebagai hamba Allah yang senantiasa patuh kepada perintah dan larangan-Nya. Dan membebaskan anda dari perbudakan kepada syahwat dan kepuasan pribadi, sebagaimana yang menimpa kaum musyrikin. 


Renungkanlah firman Allah tentang mereka: 

إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُم مِّن رَّبِّهِمُ الْهُدَىٰ
 

"Tidaklah ada yang mereka ikuti selain praduga dan syahwat / selera diri mereka, padahal telah datang kepada mereka petunjuk dari Tuhan mereka." (QS. An Najm : 23)

Sobat, sudahkah anda berhasil membebaskan diri anda dari pemikiran: badan-badanku sendiri, harta-hartaku sendiri.....?


***

Status Facebook : Al Ustadz DR Muhammad Arifin Badri, MA hafidzahullah

Senin, 12 Agustus 2013

Sebuah renungan untukmu ukhti muslimah

Kepada calon- calon bidadari penghuni syurga, 
Wahai calon- calon istri shaleha kebanggaan Islam, 
Wahai kaum hawa yang didadanya telah tertanam bunga bunga iman…

Mari sejenak menyelami samudera hikmah dan kebijaksanaan…
meneguk sejuknya untaian nasehat-nasehat yang akan menghilangkan dahaga iman.Semoga sedikit nasehat ini, bagai oase ditengah ganasnya gurun pasir kehidupan…
yang bersumber dari Al-Qu’an dan Sunnah, serta lisan-lisan yang jujur…

***
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab: 59).


Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:  
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Ada dua golongan ahli neraka yang tidak pernah aku lihat sebelumnya; sekelompok orang yang memegang cambuk seperti ekor sapi yang dipakai untuk mencambuk manusia, dan wanita-wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang, mereka berjalan melenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak bisa mencium aromanya. Sesungguhnya aroma jannah tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

“Dan hendaklah kamu tetap berada di rumahmu, dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti model berhias dan bertingkah lakunya orang-orang jahiliyah dahulu (tabarruj model jahiliyah).” (Qs. Al-Ahzab: 33)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:  

“Dan tidaklah patut bagi mukmin dan tidak (pula) bagi mukminah, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, kemudian mereka mempunyai pilihan (yang lain) tentang urusan mereka, dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya. Maka sungguhlah dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Qs. Al-Ahzab: 36)

“dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya,” (Qs. An-Nuur: 31)

Saudariku….
Wanita muslimah laksana bunga yang menawan, wanita muslimah yang sholehah bagaikan sebuah perhiasan yang tiada ternilai harganya. 
Begitu indah, begitu berkilau dan menentramkan…
Teramat banyak yang ingin meraih bunga tersebut…
Namun tentunya…
tak sembarang orang berhak meraihnya….
menghirup sarinya…. 
hanya yang dia yang benar-benar terpilihlah…
yang dapat memetiknya…
meraih pesonanya…
Wanita muslimah adalah ibarat permata yang sangat berharga. 
Dan islam menyuruh memperlakukan wanita sepeti permata yang sangat berharga.Yaitu permata yang tidak boleh disentuh oleh siapapun selain pemiliknya. 
Seandainya permata-permata itu berpindah tangan, niscaya ia akan kehilangan nilainya

Saudariku,
Muslimah Sejati, adalah mereka yang pandangan matanya selalu menunduk dan mampu Menundukan mata mata lelaki yang mencoba menaklukannya.
Saudariku..
Tidak semua wanita berjilbab itu soleha, tapi wanita soleha itu pasti berjilbab. Jika hidup ini pilihan pilihan, kenapa hanya sedikit wanita yg memilih untuk menjadi wanita sholehah yang hidupnya dikagumi dunia dan di nanti syurga?Jika Allah ta’ala menjadikan Islam itu mudah.Bukan berarti hal Wajib bisa menjadi Sunnah. Dan jika, Berjilbab itu wajib,. Bukan berarti wanita bisa seenaknya pamer aurat dan mengatakan aku belum siap. Wajib tetap harus dilaksanakan dan dosa tetap ditulis. Dan ini Ketetapan Allah.

Saudariku…….
Tidaklah sama antara wanita mukminah dan wanita kafir.Wanita mukminah adalah perempuan yang beriman, berderma,berpuasa, memakai hijab.Takut pada Tuhannya, ramah terhadap tetangganya, taat pada suaminya dan sayang pada anak-anaknya.Dia mendapatkan pahala yang besar, ketentraman, dan keridaan.Sedangkan perempuan kafir, suka memamerkan kecantikannya, jahiliah, naïf,suka memamerkan pakaiannya bagai barang dagangan, komoditi murahan yang dijajakan di banyak tempat, tidak bernilai sama sekali, tanpa kehormatan, tanpa kemuliaan dan kehilangan religiusitas.

Wahai Saudariku,...agar engkau menjadi wanita terelok di dunia
Engkau dengan segala yang engkau miliki lebih baik dari jutaan wanita lain. Dengan Kecantikanmu, engkau lebih elok daripada matahari.Dengan akhlakmu, engkau lebih wangi daripada harum minyak misk.Dengan rendah hatimu, engkau lebih tinggi daripada rembulan.Dan dengan kelembutanmu, engkau lebih halus daripada rintik hujan.Maka jagalah kecantikanmu dengan keimanan, kerelaanmu dengan puas diri, dan harga dirimu dengan jilbab.Hingga engkau menjadi wanita terelok di dunia.
Ketahuilah bahwa perhiasanmu bukanlah emas atau perak,tetapi dua rakaat menjelang subuh ,dahagamu ditengah hari yang panas karena puasa, dermamu yang tersembunyi yang hanya diketahui oleh Allah, air mata taubat dan sujudmu dikeheningan malam. Emasmu adalah agamamu,perhiasanmu adalah budi pekertimu, dan hartamu adalah sopan santunmu.Pakailah pakaian takwa, niscaya engkau akan menjadi wanita tercantik didunia.

Saudariku...Jadilah engkau seperti kupu-kupu,
Jadilah engkau seperti kupu-kupu, ringan perawakan, indah dipandang, sedikit bergantung kepada yang lain, terbang dari satu bunga ke bunga lain, dari satu taman ke taman lain. Lihatlah… dia tidak mengeluh atas hidupnya yang sebentar, tapi dalam hidupnya yang begitu singkat dia telah menebarkan keindahan dan membuat orang yang melihatnya senang. Atau jadilah engkau seperti lebah yang selalu makan sesuatu yang baik dan mengeluarkan yang baik pula, jika ia hinggap diatas tangkai tidak mematahkan, menyentuh nektar tapi tidak merusaknya, mengeluarkan madu,terbang dengan rasa cinta dan hinggap dengan tali kasih. Itulah ibarat wanita yang lembut, perempuan sejati, yang kehadiran dan kedatangannya membawa keindahan dan sejuta manfaat, tidak ada yang tersakiti orang lain melalui perbuatan maupun lisannya.

Saudariku,
Semoga engkau menjadi permata yang berkilauan. 
Yang tidak mudah disentuh kecuali oleh yang berhak. 
Yang menyadari kemuliannya. 
Yang menundukkan pandangannya, memelihara auratnya. 
Yang teguh menjaga kehormatan dan kesuciannya.

Saudariku…Karena tampilan fisik bukanlah segalanya.
Ibnu Qoyyim dalam bukunya ‘taman orang-orang jatuh cinta & memendam rindu menulis bahwa “Allah menjadikan penyebab kesenangan adalah keberadaan istri. Andaikata penyebab tumbuhnya cinta adalah rupa yang elok, tentunya (wanita) yang tidak memiliki keelokan tidak akan dianggap baik sama sekali. Kadangkala kita mendapatkan orang yang lebih elok rupanya  memilih pasangan yang lebih buruk rupanya, padahal dia juga mengakui nilai keelokan (wanita) yang lain. Meski begitu, tidak ada kendala apa-apa dalam hatinya. Karena kecocokan akhlaq merupakan sesuatu yang paling disukai manusia, dengan begitu kita tahu bahwa inilah yang paling penting dari segalanya. Memang bisa saja cinta tubuh karena sebab-sebab tertentu. Tetapi cinta itu akan cepat lenyap, dengan lenyapnya sebab.’

Kalau bahasa ringkasnya mas fauzil, ‘kecantikan wajah terletak di nomor kesekian. Jauh lebih penting dari kecantikan wajah adalah kesejukan wajah Anda ketika suami memandang.’

Dalam sebuah hadist Rasullullah mengatakan..nikahilah seorang wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shalehah meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama.”
Wanita yang (akhlaknya) buruk adalah untuk laki-laki yang (akhlaknya) buruk, dan laki-laki yang (akhlaknya) buruk untuk wanita yang (akhlaknya) buruk pula. Wanita yang baik-baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik-baik untuk wanita yang baik-baik pula. (An-Nur 26).

Wahai saudariku muslimah
wanita adalah kunci kebaikan suatu umat. 
Wanita bagaikan batu bata, ia adalah pembangun generasi manusia. 
 Maka jika kaum wanita baik, maka baiklah suatu generasi. 
Namun sebaliknya, jika kaum wanita itu rusak, maka akan rusak pulalah generasi tersebut.
Maka, engkaulah wahai saudariku… 
engkaulah pengemban amanah pembangun generasi umat ini.
Jadilah engkau wanita muslimah yang sejati, wanita yang senantiasa menjaga kehormatannya. 
Yang menjunjung tinggi hak Rabb-nya. 
Yang setia menjalankan sunnah rasul-Nya.

SaudarikuWanita sholeha adalah Bidadari Dunia
Allah telah dengan begitu Indahnya mengibaratkan, bahwa salah satu cirri bidadari adalah tidak pernah disentuh, kesuciannya terjaga dan sopan.
Wanita shalihah bukan hanya mereka yang berwajah cantik namun juga wanita yang kecantikannya terpancar dari aura hatinya, 
matanya terjaga dari hal hal yang diharamkan syariat, 
pandangannya menyejukan mata sang suami, 
tidak pernah membantah suami yang menuntunnya menapaki jejak jejak Assunnah dan patuh terhadap Al Qur’an. 
Menjadi penyemangat dikala suami kalah dan lelah, 
Berdiri tegak mendampingi suami dalam masa masa sulit, 
berada disisinya disetiap suasana. 
Menjadi penghibur dikala gelisah, 
dan menjadi Alarm dikala lelapnya fajar membuai, 
mengingatkan suami tercinta dengan percikan air Wudhu di wajahnya.
Sungguh Kebahagiaan Memiliki wanita salihah, 
Hingga manusia menggambarkannya sebagai bidadari. 

Wahai saudariku…
Sambutlah salam dan penghormatan…
Selamat dan  salut buat saudariku…
yang mendirikan shalat dan berpuasa dengan patuh dan penuh kosentrasi.
Selamat dan  salut buat saudariku…
yang memakai hijab karena rasa malu dan untuk menjaga kehormatan dan keteguhan hati.
Selamat dan  salut buat saudariku…
yang selalu belajar dan menelaah dengan penuh kesadaran dan kelurusan hati.
Selamat dan  salut buat saudariku…
yang selalu menepati janji, dipercaya, dan jujur.
Selamat dan  salut buat saudariku…
yang selalu bersabar, mawas diri, dan bertobat.
Selamat dan  salut buat saudariku…
yang selalu berdzikir, bersyukur dan berdoa.
Selamat dan  salut buat saudariku…
yang menjadikan Asiyah, Maryam, Khadijah dan Aisyah sebagai panutannya.
Selamat dan  salut buat saudariku…
yang melahirkan dan mendidik para pahlawan, dan mencetak laki-laki yang terhormat.
Selamat dan  salut buat saudariku…
yang selalu takut dan menjauhi apa-apa yang diharamkan oleh Allah.
Selamat dan  salut buat saudariku…
yang sabar untuk menanti datangnya pedamping hati, yang selalu memperbaiki diri, dan selalu menjaga kehormatan diri dan kemuliaaannya.

Wahai saudariku...
Ya untuk segala keutamaanmu…
Ya….untuk senyum indahmu yang membangkitkan cinta dan memberikan kasih sayang pada orang lain.
Ya….untuk kata-kata baikmu yang membangun persahabatan dan menjauhkan rasa dengki.
Ya….untuk derma yang membahagiakan si miskin, menyenangkan orang fakir, dan mengenyangkan perut yang lapar.
Ya….untuk tadarus Al-Qur’anmu, merenungi dan memahami kandungannya serta mengamalkannya dalam kehidupanmu sehari-hari.
Ya….untukmu yang mendidik anak-anakmu dengan agama, mengajarkan sunnah Nabimu dan memberi petunjuk tentang apa-apa yang bermanfaat bagi mereka.
Ya….untuk rasa malu dan hijab yang diperintahkan oleh Allah.Itulah cara untuk selalu terjaga dari pandanagn kotor.
Ya….untuk bergaul dengan wanita baik-baik yang selalu takut kepada Allah, mencintai agama, dan menghormati nilai-nilai agamanya.
Ya….untuk berbuat baik kepada kedua orangtua, menyambung persaudaraan, menghormati tetangga, dan menyantuni anak yatim.

Saudariku…katakan tidak dan selamat tinggal untuk segala keburukan…
Tidak….
untuk usiamu yang habis untuk hal-hal yang tidak perlu, remeh. 
Serta menyibukkan engkau dari cita-cita besarmu….

Tidak….
untuk selalu mencari-cari kesalahan dan menggunjing orang lain serta melupakan kesalahan dan aib diri sendiri.

Tidak… 
untuk tengelam dari fatamorgana dunia, mengikuti mode-mode wanita barat, tenggelam dalam nyanyian-nyaian cengeng sehingga melupakan Al-Qur’an, bacaan-bacaan murahan, film-film yang melenakan yang didalamnya tidak ada nilai kebaikan.

Maka Sekali lagi saudariku…
Engkau telah mulia dengan menjadi seorang muslimah……….
Wanita muslimah ibarat bintang yang berkilauan dilangit  dan menerangi kegelapan…..
Sedangkan perempuan-perempuan kafir ibarat lumpur didasar lautan yang hanya bisa mengotorkan kakimu…….
Sungguh perbandingan jauh antara wanita mukminah dengan wanita kafir….
Engkau, dengan segala keutamaan yang engkau miliki lebih baik dari jutaan wanita lain……
Dalam keadaan bagaimanapun, engkau beruntung.
Cukuplah. Wanita itu sangat mulia, karena ibunda Nabi Muhammd saw juga seorang wanita, yang dirahimnya lahir seorang laki-laki teragung di jagad raya…

*** 


Catatan:

Tulisan ini kupersembahkan,

Untuk my beloved sister, semoga engkau menjadi wanita yang shalehah,  yang teguh menjalankan agama Allah. 

Dan untuk setiap muslimah yang rela Allah sebagai Tuhannya, islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai nabinya.

Untuk semua wanita yang meniti jalan yang lurus dan membawa risalah kebenaran.

Untuk setiap wanita pendiddik, yang berjuang menegakkan supremasi risalah kebenaran, bergulat dengan nilai-nilainya, dan mensucikan dirinya.

Untuk setiap ibu yang mendidik anak-anaknya dengan ketakwaan, membesarkan mereka dengan sunnah nabi, dan menanamkan kepada meraka benih cinta terhadap Budi pekerti luhur.

*Sumber Inspirasi : ahmadchan.wordpress.com

Kata-kata hikmah mengatakan, “Barangsiapa tidak mensyukuri nikmat, ia terancam kehilangan nikmat itu. Dan barangsiapa mensyukurinya berarti ia telah mengikatnya dengan ikatan yang kuat.”

Rabb kita menyeru:

 لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim : 7)

Diantara nikmat Allah Ta’ala yang paling agung dalam kehidupan ini adalah dikaruniai anak sang buah hati. Memiliki anak adalah karunia dan hadiah dari Allah. Allah Ta’ala berfirman :
  

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثاً وَيَهَبُ لِمَن يَشَاءُ الذُّكُورَ – أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَاناً وَإِنَاثاً وَيَجْعَلُ مَن يَشَاءُ عَقِيماً إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ

Kepunyaan Allahlah kerajaan langit  dan bumi. Dia menciptakan apa yang dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugrahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendakiNya), dan menjadikan mandul kepada siapa yang dikehendaki.  Sesungguhnya Dia maha Mengetahui dan Maha Kuasa.” (QS. Asy Syuura : 49 - 50)


Apalagi anak-anak yang shalih. Mereka adalah kekayaan yang tak ternilai harganya. Mereka adalah pembawa bahagia, pelipir lara dan penolong bagi kedua orang tuanya.

Namun, masih banyak orang tua yang belum merasakan anak sebagai sebuah anugerah. Mungkin saja kita termasuk orang tua yang belum bersyukur. Hingga keluh kesah begitu kerap terlontar dari lisan ini. Masih lagi diiringi kekesalan dan rasa tidak puas dalam hati.

Jika demikian, mari kita sama-sama melihat. Di luar sana...

Ternyata begitu banyak pasangan yang lelah berharap untuk memiliki momongan, namun Allah Ta'ala belum berkenan memberikan anak kepada mereka. Padahal semua yang disarankan orang sudah dilakukan, dan siang malam doa mereka dipanjatkan.

Di tempat lain banyak pula orang tua yang harus kehilangan anak yang sangat dikasihinya, pergi untuk selamanya. Anak yang semula sempurna tiba-tiba menjadi cacat karena suatu bencana. Atau anak yang semula sehat tiba-tiba tergeletak karena suatu penyakit kronis yang tak pernah diduga sebelumnya.

Dari sana kita sadar...

Anak kita adalah anugerah besar. Syukurilah nikmat ini, semoga rasa syukur itu semakin mempertebal kesabaran kita dalam mengasuh dan mendidik mereka. Semakin memperbesar harapan kita semoga mereka tumbuh menjadi anak shalih yang menabur kebahagiaan bagi kedua orang tuanya.


  رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa."
(QS. Al-Furqon : 74)

Semoga bermanfaat,
Wa shallallahu wasallama 'alaa nabiyyinaa Muhammad,

Kota Zamrud Khatulistiwa,
Bontang, 06 Syawwaal 1434 H

(Dinukil dari buku Panduan pendidikan Anak Muslim Dari A-Z, Mencetak Generasi Rabbani, Pustaka Darul Ilmi, Buah Pena : Ustadzah Ummu Ihsan Choiriyah & Ustadz Abu Ihsan al-Atsary hafidzhahumallaah)


Telah disebutkan dari para Ulama Salaf tentang pujian terhadap adab dan ahlinya, keutamaan serta dorongan kepadanya. Banyak sekali riwayat dan penukilan yang menjelaskan kedudukan adab dalam pandangan mereka. 

Diantaranya adalah :

Habib al-Jalab rahimahullah berkata ,” Aku bertanya kepada Ibnul Mubarak rahimahullah  : ‘Apakah sebaik-baik perkara yang diberikan kepada seseorang? Dia menjawab : ‘Akal yang cerdas’. Aku berkata : ‘Kalau tidak bisa? Dia menjawab : ‘Adab yang baik’. Aku berkata : ‘Kalau tidak bisa?’ Dia menjawab : ‘Saudara penyayang yang selalu bermusyawarah dengannya.’ Aku berkata : ‘Kalau tidak bisa?’ Dia menjawab : ‘Diam yang panjang.’ Aku berkata :’ Kalau tidak bisa? Dia menjawab : ‘Kematian segera.’”  (Siyar A’laamin Nubalaa’ (VII/397)

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata : “ Barangsiapa yang ingin Allah membukakan hatinya atau meneranginya, hendaklah dia berkhalwat (menyendiri), sedikit makan, meninggalkan pergaulan dengan orang-orang bodoh, dan membenci ahli ilmu yang tidak memiliki inshaf (Sikap objektif) dan adab.” 
( Muqaddimah al-majmuu’ Syarah Muhadzdzab (1/31)

Ibnu Sirin rahimahullah berkata,” Para salaf mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu.”

Al-Hasan rahimahullah berkata,” Sesungguhnya seorang laki-laki keluar untuk menuntut ilmu adab baginya selama dua tahun, kemudian dua tahun.” 

Habib bin asy Syahid berkata kepada anaknya, “ Wahai anakku, pergaulilah para fuqaha dan ‘ulama; belajarlah dan ambillah adab dari mereka. Sesungguhnya hal itu lebih aku sukai daripada banyak hadits.”

Seorang Salaf berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, engkau mempelajari satu bab tentang adab lebih aku sukai daripada engkau mempelajari tujuh puluh bab ilmu.”

Mukhallad bin al-Husain berkata kepada Ibnul Mubarak rahimahullah “Kami lebih membutuhkan banyak adab daripada banyak hadits.”

Dikatakan kepada Imam asy Syafi’i rahimahullah, “ Bagaimana hasratmu terhadap adab?” Dia menjawab: “Aku mendengar satu huruf dari adab yang belum pernah aku dengar, maka seluruh anggota badanku ingin memiliki pendengaran hingga dapat merasakan kenikmatan mendengarnya.” Dikatakan: “Bagaimana keinginanmu untuk mendapatkannya?” Dia menjawab: “Seperti keinginan seorang wanita yang kehilangan anaknya, sedang ia tidak memiliki anak selainnya.” (Tadzkiratus saami’ wal Mutakallim, hal 2)

Abu Bakar al-Mithwa’i rahimahullah berkata: “Aku bolak-balik kepada Abu ‘Abdillah (Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah) selama sepuluh tahun. Beliau membacakan kitab al-Musnad kepada anak-anaknya. Aku tidak menulis satu pun hadits darinya. Aku hanya melihat pada adab dan akhlak beliau.”

Adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan: “Bahwasannya majlis Imam Ahmad rahimahullah dihadiri oleh lima ribu orang. Lima ratus diantaranya mencatat, sedangkan selebihnya mengambil manfaat dari perilaku, akhlak, dan adab beliau.” (Siyar A’laamin Nubalaa’ XII/316)

Ibnul Mubarak rahimahullah berkata :

Aku telah mencoba diriku
Maka aku tidak mendapatkan baginya
Sesuatu yang lebih bermanfaat
Setelah takwa kepada Allah daripada adab
Dalam setiap kondisinya meski jiwaku tidak suka, selalu lebih baik daripada
Diamnya dari berbuat bohong
Atau mengghibahi manusia
Sesungguhnya ghibah telah diharamkan
Oleh Yang maha Mulia dalam kitab-kitab
Aku katakan kepada diriku: “Taatlah”
Dan aku memaksanya
Kesantunan dan ilmu adalah perhiasan
Bagi orang yang memiliki kemuliaan
Seandainya ucapanmu itu dari perak, wahai diri,
Maka diam adalah emas.” (Al-Mashdar as-Sabiq, VIII/416)

Ibnul Mubarak rahimahullah juga berkata: “Aku mempelajari adab selama tiga puluh tahun dan aku mempelajari ilmu selama dua puluh tahun. Adalah para Salaf mempelajari adab, baru kemudian mempelajari ilmu.”

Al-Qarafi rahimahullah berkata dalam kitabnya, al Faruq, ketika menjelaskan kedudukan adab : “Ketahuilah bahwasannya sedikit adab lebih baik daripada banyak amal. Oleh karena itulah, Ruwaiyim (seorang ‘alim yang shalih) berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, jadikanlah amalmu ibarat garam dan adabmu ibarat tepung. Yakni, perbanyaklah adab hingga perbandingan banyaknya seperti perbandingan tepung dan garam (dalam satu adonan). Banyak adab dengan sedikit amal shalih lebih baik daripada amal dengan sedikit adab.’” (Al-Faruq, III/96, IV/272)

Semoga Allah Ta'ala memperbagus akhlak & adab kita, sebagaimana Dia telah memperbagus rupa kita.
Wa shallallahu Wa sallama 'alaa nabiyyinaa Muhammad,

Kota Zamrud Khatulistiwa,
Bontang, 05 Syawwaal 1434 H

Reference : Mausuu'atul Adab Al-Islamiyyah,
Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada

Minggu, 11 Agustus 2013

Ustadz Abdullah bin Taslim Al-Buthoni, MA hafidzhahullah
Istilah “jilbab gaul”, “jilbab modis” atau “jilbab keren”…tentu tidak asing di telinga kita, karena nama-nama ini sangat populer dan ngetrend di kalangan para wanita muslimah. Bahkan kebanyakan dari mereka merasa bangga dengan mengenakan jilbab model ini dan beranggapan ini lebih sesuai dengan situasi dan kondisi di jaman sekarang. Ironisnya lagi, sebagian dari mereka justru menganggap jilbab yang sesuai dengan syariat adalah kuno, kaku dan tidak sesuai dengan tuntutan jaman.

Padahal, bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mensyariatkan hukum-hukum dalam Islam lebih mengetahui segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi hamba-hamba-Nya dan Dialah yang mensyariatkan bagi mereka hukum-hukum agama yang sangat sesuai dengan kondisi mereka di setiap jaman dan tempat? Allah Azza wa Jalla berfirman:

أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Bukankah Allah yang menciptakan (alam semesta beserta isinya) maha mengetahui (segala sesuatu)? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui” [al-Mulk:14]

Dan bukankah Allah Jalaa Jalaaluh maha sempurna pengetahuan-Nya sehingga tidak ada satu kebaikanpun yang luput dari pengetahuan-Nya dan tidak mungkin ada satu keutamaanpun yang lupa disyariatkan-Nya dalam agama-Nya?

Maha suci Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berfirman:

لا يَضِلُّ رَبِّي وَلا يَنْسَى

“Rabb-ku (Allah Azza wa Jalla) tidak akan salah dan tidak (pula) lupa” [Thaahaa: 52].

Dalam ayat lain, Dia Jalaa Jalaaluh berfirman:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا

“Dan Rabb-mu (Allah Subhanahu wa Ta’ala) tidak mungkin lupa” [Maryam: 64].

Dan maha benar Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah memerintahkan (kepadamu) untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran” [an-Nahl:90].

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa
semua perkara yang dilarang oleh Allah Azza wa Jalla dalam Islam pasti membawa kepada keburukan dan kerusakan, sebagaimana semua perkara yang diperintahkan-Nya pasti membawa kepada kebaikan dan kemaslahatan [1]

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati imam ‘Izzuddin ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdis Salam yang memaparkan keindahan agama Islam ini dalam ucapan beliau: “…Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada para hamba-Nya melalui lisan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan segala kebaikan dan kemaslahatan, serta melarang mereka dari segala dosa dan permusuhan…

Demikian pula Dia Jalaa Jalaaluh memerintahkan kepada mereka untuk meraih segala kebaikan (dengan) memenuhi (perintah) dan mentaati-Nya, serta menjauhi segala keburukan (dengan) berbuat maksiat dan mendurhakai-Nya, sebagai kebaikan dan anugerah (dari-Nya) kepada mereka, karena Dia maha kaya (dan tidak butuh) kepada ketaatan dan ibadah mereka.

Maka Dia Azza wa Jalla menyampaikan kepada mereka (dalam Islam) hal-hal yang membawa segala kebaikan dan petunjuk bagi mereka agar mereka mengerjakannya, serta hal-hal yang membawa segala keburukan dan kesesatan bagi mereka agar mereka menjauhinya.

Dan Dia Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan kepada mereka bahwa Syaithan adalah musuh bagi mereka agar mereka memusuhi dan tidak menurutinya. Maka Dia Jalaa Jalaaluh menjadikan segala kebaikan di dunia dan akhirat hanya dicapai dengan mentaati perintah(-Nya) dan menjauhi perbuatan maksiat (kepada)-Nya” [2]

Antara Jilbab Syar’i Dan Jilbab Gaul
Berdasarkan keterangan di atas, maka setiap muslim yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kebenaran agama-Nya wajib meyakini bahwa semua aturan yang Allah Jalaa Jalaaluh tetapkan dalam Islam tentang pakaian dan perhiasan bagi wanita muslimah adalah untuk kemaslahatan/kebaikan serta penjagaan bagi kesucian diri dan kehormatan mereka.

Lihatlah misalnya pensyariatan jilbab (pakaian yang menutupi semua aurat secara sempurna [3]) bagi wanita ketika berada di luar rumah dan hijab/tabir untuk melindungi perempuan dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya. Keduanya bertujuan sangat mulia, yaitu untuk kebaikan dan menjaga kesucian bagi kaum perempuan.

Allah Jalaa Jalaaluh berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin agar hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga mereka tidak diganggu/disakiti. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [al-Ahzaab: 59]

Dalam ayat ini Allah menjelaskan kewajiban memakai jilbab bagi wanita dan hikmah dari hukum syariat ini, yaitu: “supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga mereka tidak diganggu/disakiti”.

Syaikh Abdurrahman as-Sa'di berkata: “Ini menunjukkan bahwa gangguan (bagi wanita dari orang-orang yang berakhlak buruk) akan timbul jika wanita itu tidak mengenakan jilbab (yang sesuai dengan syariat). Hal ini dikarenakan jika wanita tidak memakai jilbab, boleh jadi orang akan menyangka bahwa dia bukan wanita yang 'afifah (terjaga kehormatannya), sehingga orang yang ada penyakit (syahwat) dalam hatiya akan mengganggu dan menyakiti wanita tersebut, atau bahkan merendahkan/melecehkannya… Maka dengan memakai jilbab (yang sesuai dengan syariat) akan mencegah (timbulnya) keinginan-keinginan (buruk) terhadap diri wanita dari orang-orang yang mempunyai niat buruk” [4]

Dalam ayat lain, Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Dan apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka” [al-Ahzaab:53]

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu asy-Syaikh berkata: “(Dalam ayat ini) Allah menyifati hijab/tabir sebagai kesucian bagi hati orang-orang yang beriman, laki-laki maupun perempuan, karena mata manusia kalau tidak melihat (sesuatu yang mengundang syahwat, karena terhalangi hijab/tabir) maka hatinya tidak akan berhasrat (buruk). Oleh karena itu, dalam kondisi ini hati manusia akan lebih suci, sehingga (peluang) tidak timbulnya fitnah (kerusakan) pun lebih besar, karena hijab/tabir benar-benar mencegah (timbulnya) keinginan-keinginan (buruk) dari orang-orang yang ada penyakit (dalam) hatinya” [5]

Sebagaimana wajib diyakini bahwa semua perbuatan yang menyelisihi ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala ini akan menimbulkan berbagai kerusakan dan keburukan bagi kaum perempuan bahkan kaum muslimin secara keseluruhan.

Oleh karena itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang keras perbuatan tabarruj (menampakkan kecantikan dan perhiasan ketika berada di luar rumah [6]) bagi kaum perempuan dan menyerupakannya dengan perbuatan wanita di jaman Jahiliyah. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kalian (wahai istri-istri Nabi) menetap di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj (sering keluar rumah dengan berhias dan bertingkah laku) seperti (kebiasaan) wanita-wanita Jahiliyah yang dahulu” [al-Ahzaab:33].

Arti Tabarruj Dan Penjabarannya
Secara bahasa tabarruj berarti menampakkan perhiasan bagi orang-orang asing (yang bukan mahram). [7]

Imam asy-Syaukani berkata: “at-Tabarruj adalah dengan seorang wanita menampakkan sebagian dari perhiasan dan kecantikannya yang (seharusnya) wajib untuk ditutupinya, yang ini dapat memancing syahwat (hasrat) laki-laki” [8]

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata: “Arti ayat ini: Janganlah kalian (wahai para wanita) sering keluar rumah dengan berhias atau memakai wewangian, sebagaimana kebiasaan wanita-wanita Jahiliyah yang dahulu, mereka tidak memiliki pengetahuan (agama) dan iman. Semua ini dalam rangka mencegah keburukan (bagi kaum wanita) dan sebab-sebabnya”. [9]

Syaikh Bakr Abu Zaid berkata: “Ketika Allah Azza wa Jalla memerintahkan kaum perempuan untuk menetap di rumah-rumah mereka maka Allah Azza wa Jalla melarang mereka dari (perbuatan) tabarruj wanita-wanita Jahiliyah, (yaitu) dengan sering keluar rumah atau keluar rumah dengan berhias, memakai wewangian, menampakkan wajah serta memperlihatkan kecantikan dan perhiasan mereka yang Allah perintahkan untuk disembunyikan.

Tabarruj (secara bahasa) diambil dari (kata) al-burj (bintang, sesuatu yang terang dan tampak), di antara (makna)nya adalah berlebihan dalam menampakkan perhiasan dan kecantikan, seperti kepala, wajah, leher, dada, lengan, betis dan anggota tubuh lainnya, atau menampakkan perhiasan tambahan.

Hal ini dikarenakan seringnya (para wanita) keluar rumah atau keluar dengan menampakkan (perhiasan dan kecantikan mereka) akan menimbulkan fitnah dan kerusakan yang besar (bagi diri mereka dan masyarakat)” [10]

Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa penjabaran makna tabarruj meliputi dua hal, yaitu:

1. Seringnya seorang wanita keluar rumah, karena ini merupakan sebab terjadinya fitnah dan kerusakan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya wanita adalah aurat, maka jika dia keluar (rumah) Syaithan akan mengikutinya (menghiasainya agar menjadi fitnah bagi laki-laki), dan keadaanya yang paling dekat dengan Rabbnya (Allah Azza wa Jalla) adalah ketika dia berada di dalam rumahnya”. [11]

Imam al-Qurthubi, ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata: “Makna ayat ini adalah perintah (bagi kaum perempuan) untuk menetapi rumah-rumah mereka. Meskipun (asalnya) ini ditujukan kepada istri-istri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi secara makna (wanita-wanita) selain mereka (juga) termasuk dalam perintah tersebut. Ini seandainya tidak ada dalil yang khusus (mencakup) semua wanita. Padahal (dalil-dalil dalam) syariat Islam penuh dengan (perintah) bagi kaum wanita untuk menetapi rumah-rumah mereka dan tidak keluar rumah kecuali karena darurat (terpaksa)” [12]

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan bagi seorang wanita untuk menetap di rumahnya dan tidak keluar rumah kecuali untuk kebutuhan yang mubah (diperbolehkan dalm Islam) dengan menetapi adab-adab yang disyariatkan (dalam Islam). Sungguh Allah telah menamakan (perbuatan) menetapnya seorang wanita di rumahnya dengan “qaraar” (tetap, stabil, tenang), ini mengandung arti yang sangat tinggi dan mulia. Karena dengan ini jiwanya akan tenang, hatinya akan damai dan dadanya akan lapang. Maka dengan keluar rumah akan menyebabkan keguncangan jiwanya, kegalauan hatinya dan kesempitan dadanya, serta membawanya kepada keadaan yang akan berakibat keburukan baginya” [13]

Di tempat lain, beliau berkata: “Allah Azza wa Jalla memerintahkan para wanita untuk menetapi rumah-rumah mereka, karena keluarnya mereka dari rumah sering menjadi sebab (timbulnya) fitnah. Dan sungguh dalil-dalil syariat menunjukkan bolehnya mereka keluar rumah jika ada keperluan (yang sesuai syariat), dengan memakai hijab (yang benar) dan menghindari memakai perhiasan, akan tetapi menetapnya mereka di rumah adalah (hukum) asal dan itu lebih baik bagi mereka serta lebih jauh dari fitnah” [14]

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani berkata: “(Hukum) asalnya seorang wanita tidak boleh keluar dari rumahnya kecuali kalau ada keperluan (yang sesuai dengan syariat), sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih (riwayat) imam al-Bukhari (no. 4517) ketika turun firman Allah Azza wa Jalla:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kalian (wahai istri-istri Nabi) menetap di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj (sering keluar rumah dengan berhias dan bertingkah laku) seperti (kebiasaan) wanita-wanita Jahiliyah yang dahulu” [al-Ahzaab:33]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh Allah telah mengizinkan kalian (para wanita) untuk keluar (rumah) jika (ada) keperluan kalian (yang dibolehkan dalam syariat)” [15]

Bahkan menetapnya wanita di rumah merupakan ‘aziimatun syar’iyyah (hukum asal yang dikuatkan dalam syariat Islam), sehingga kebolehan mereka keluar rumah merupakan rukhshah (keringanan) yang hanya diperbolehkan dalam keadaan darurat atau jika ada keperluan. Oleh karena itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam tiga ayat al-Qur’an [16] menisbatkan/menggandengkan rumah-rumah kepada para wanita, padahal jelas rumah-rumah yang mereka tempati adalah milik para suami atau wali mereka, ini semua menunjukkan bahwa selalu menetap dan berada di rumah adalah keadaan yang sesuai dan pantas bagi mereka. [17]

2. Keluar rumah dengan menampakkan kecantikan dan perhiasan yang seharusnya disembunyikan di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya..

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kaum perempuan untuk menetapi rumah-rumah mereka dan melarang mereka dari perbuatan tabarruj (ala) jahiliyyah, yaitu menampakkan perhiasan dan kecantikan, seperti kepala, wajah, leher, dada, lengan, betis dan perhiasan (keindahan wanita) lainnya, karena ini akan (menimbulkan) fitnah dan kerusakan yang besar, serta mengundang diri kaum lelaki untuk melakukan sebab-sebab (yang membawa kepada) perbuatan zina…” .[18]

Allah Azza wa Jalla memerintahkan kaum wanita untuk menyembunyikan perhiasan dan kecantikan mereka dalam firman-Nya:

وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ ما يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّ

“Dan janganlah mereka (para wanita) memukulkan kaki mereka agar orang mengetahui perhiasan yang mereka sembunyikan”. [an-Nuur: 31]
.
Perhiasan yang dilarang untuk ditampakkan dalam ayat ini mencakup semua jenis perhiasan, baik yang berupa anggota badan mereka maupun perhiasan tambahan yang menghiasi fisik mereka.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz berkata: “Perhiasan wanita yang dilarang untuk ditampakkan adalah segala sesuatu yang disukai oleh laki-laki dari seorang wanita dan mengundangnya untuk melihat kepadanya, baik itu perhiasan/keindahan asal (anggota badan mereka) ataupun perhiasan yang bisa diusahakan (perhiasan tambahan yang menghiasi fisik mereka), yaitu semua yang ditambahkan pada fisik wanita untuk mempercantik dan menghiasi dirinya” [19].

Ancaman Keras Dan Keburukan Tabarruj
Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan ada di akhir umatku (nanti) wanita-wanita yang berpakaian (tapi) telanjang, di atas kepala mereka (ada perhiasan) seperti punuk unta, laknatlah mereka karena (memang) mereka itu terlaknat (dijauhkan dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala)”.

Dalam hadits lain ada tambahan: “Mereka tidak akan masuk Surga dan tidak dapat mencium bau (wangi)nya, padahal sungguh wanginya dapat dicium dari jarak sekian dan sekian” [20]

Dalam hadits ini terdapat ancaman keras yang menunjukkan bahwa perbuatan tabarruj termasuk dosa besar, karena dosa besar adalah semua dosa yang diancam oleh Allah dengan Neraka, kemurkaan-Nya, laknat-Nya, azab-Nya, atau terhalang masuk Surga. Oleh karena itu, seluruh kaum muslimin bersepakat menyatakan haramnya tabarruj, sebagaimana penjelasan imam ash-Shan’ani [21].

Imam al-Qadhi ‘Iyadh al-Yahshubi memasukkan perbuatan tabarruj ke dalam dosa-dosa besar berdasarkan hadits di atas, dalam kitab beliau “al-Mu’lim syarhu shahiihi Muslim” (1/243).

Ancaman dan keburukan tabarruj lainnya yang disebutkan dalam dalil-dalil yang shahih adalah sebagai berikut [22]:

1. Tabarruj adalah sunnah Jahiliyah, sebagaimana dalam firman Allah:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kalian (wahai istri-istri Nabi) menetap di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj (sering keluar rumah dengan berhias dan bertingkah laku) seperti (kebiasaan) wanita-wanita Jahiliyah yang dahulu” [al-Ahzaab:33].

2. Tabarruj digandengakan dengan syirik, zina, mencuri dan dosa-dosa besar lainnya, sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan salah satu syarat untuk membai’at para wanita muslimah dengan meninggalkan tabarruj. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu, beliau berkata: Umaimah bintu Ruqaiqah datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membai’at beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas agama Islam. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku membai’at kamu atas (dasar) kamu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anakmu, tidak berbuat dusta yang kamu ada-adakan antara kedua tangan dan kakimu, tidak meratapi mayat, dan tidak melakukan tabarruj (sering keluar rumah dengan berhias dan bertingkah laku) seperti (kebiasaan) wanita-wanita Jahiliyah yang dahulu” [23]

3. Ancaman keras dengan kebinasan bagi wanita yang melakukan tabarruj. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada tiga golongan manusia yang jangan kamu tanyakan tentang mereka (karena mereka akan ditimpa kebinasaan besar): orang yang meninggalkan jamaah (kaum muslimin) dan memberontak kepada imamnya (penguasa/pemerintah) lalu dia mati dalam keadaan itu, budak wanita atau laki-laki yang lari (dari majikannya) lalu dia mati (dalam keadaan itu), dan seorang wanita yang (ketika) suaminya tidak berada di rumah (dalam keadaan) telah dicukupkan keperluan dunianya (hidupnya), lalu dia melakukan tabarruj setelah itu, maka jangan tanyakan tentang mereka ini” [24]

4. Imam adz-Dzahabi menjadikan perbuatan tabarruj yang dilakukan oleh banyak wanita termasuk sebab yang menjadikan mayoritas mereka termasuk penghuni Neraka [25], na’uudzu billahi min dzaalik. Ucapan beliau akan kami nukil secara lengkap dalam makalah ini, insya Allah.

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu asy-Syaikh [26] menjelaskan secara khusus keburukan-keburukan perbuatan tabarruj berdasarkan dalil-dali dalam al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya sebagai berikut:

- Tabarruj adalah maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalil-dalil yang telah kami sebutkan.

- Tabarruj akan membawa laknat dan dijauhkan dari rahmat Allah, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Akan ada di akhir umatku (nanti) wanita-wanita yang berpakaian (tapi) telanjang, di atas kepala mereka (ada perhiasan) seperti punuk unta, laknatlah mereka karena (memang) mereka itu terlaknat (dijauhkan dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala)” [27].

- Tabarruj termasuk sifat wanita penghuni Nereka, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ada dua golongan termasuk penghuni Neraka yang aku belum melihat mereka: (pertama) orang-orang yang memegang cambuk seperti ekor sapi, (digunakan) untuk memukul/menyiksa manusia, (kedua) Wanita-wanita yang berpakaian (tapi) telanjang…” [28]

- Tabarruj adalah kesuraman dan kegelapan pada hari kiamat. Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu asy-Syaikh di sini berdalil dengan sebuah hadits yang lemah tapi maknanya benar.

- Tabarruj adalah perbuatan fahisyah (keji). Karena wanita adalah aurat, maka menampakkan aurat termasuk perbuatan keji dan dimurkai oleh Allah, Syaithanlah yang menyuruh manusia melakukan perbuatan keji. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُون

“Sesungguhnya syaithan itu hanya menyuruh kamu berbuat buruk (semua maksiat) dan keji, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui” [al-Baqarah:169].

- Tabarruj adalah sunnah dari Iblis. Karena dia berusaha keras untuk membuka aurat dan menyingkap hijab mereka, maka tabarruj merupakan target utama (tipu daya) Iblis. Allah Jalaa Jalaaluh berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ لا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنزعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh Syaitan sebagaimana dia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu (Adam dan Hawa) dari Surga, dia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya” [al-A’raaf: 27]

- Tabarruj adalah metode penyesatan orang-orang Yahudi. Karena mereka mempunyai peranan besar dalam upaya merusak kehidupan manusia melalui cara memperlihatkan fitnah dan kecantikan wanita, dan mereka sangat berpengalaman dalam bidang ini. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Takutlah kalian kepada (fitnah) dunia, dan takutlah kepada (fitnah) wanita, karena sesungguhnya fitnah pertama yang melanda Bani Israil adalah tentang wanita” [29].
_______
Footnote
[1]. Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 447).
[2]. Kitab “Qawa-‘idul ahkaam” (hal. 2).
[3]. Lihat kitab “Hiraasatul fadhiilah” (hal. 53).
[4]. Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 489).
[5]. Kitab “al-Hijaabu wa fadha-iluhu” (hal. 3).
[6]. Juga termasuk di dalam rumah jika ada laki-laki yang bukan mahram wanita tersebut.
[7]. Lihat kitab “an-Nihaayatu fi gariibil hadiitsi wal atsar” (1/289) dan “al-Qaamuushul muhiith” (hal. 231).
[8]. Kitab “Fathul Qadiir” (4/395).
[9]. Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 663).
[10]. Kitab “Hiraasatul fadhiilah” (hal. 44 - 45).
[11]. HR Ibnu Khuzaimah (no. 1685), Ibnu Hibban (no. 5599) dan at-Thabrani dalam “al-Mu'jamul ausath” (no. 2890), dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al-Mundziri dan syikh al-Albani dalam "Silsilatul ahaaditsish shahiihah" (no. 2688).
[12]. Kitab “al-Jaami’ liahkaamil Qur-an” (14/174).
[13]. Kitab “at-Tabarruju wa khatharuhu” (hal. 22).
[14]. Kitab “Majmuu’ul fataawa syaikh Bin Baz” (4/308).
[15]. Al-Fataawa al-imaaraatiyyah.
[16]. Yaitu QS al-Ahzaab: 33, 34 dan ath-Thalaaq:1.
[17]. Lihat kitab “Hiraasatul fadhiilah” (hal. 87).
[18]. Kitab “at-Tabarruju wa khatharuhu” (hal. 6-7).
[19]. Kitab “Majmuu’ul fataawa syaikh Bin Baz” (5/227).
[20]. Hadits pertama riwayat ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamush shagiir” (hal. 232) dinyatakan shahih sanadnya oleh syaikh al-Albani dalam kitab “Jilbaabul mar-atil muslimah” (hal. 125), dan hadits kedua riwayat imam Muslim (no. 2128).
[21]. Lihat kitab “Hiraasatul fadhiilah” (hal. 107-108).
[22]. Lihat kitab “al-Hijaabu wa fadha-iluhu” (hal. 4-6) dan “al-‘Ajabul ‘ujaab fi asykaalil hijaab” (hal. 79-80).
[23]. HR Ahmad (2/196) dan dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani dalam kitab “Jilbaabul mar-atil muslimah” (hal. 121).
[24]. HR Ahmad (6/19) dan al-Hakim (1/206), dinyatakan shahih oleh imam al-Hakim, adz-Dzahabi dan syaikh al-Albani dalam kitab “Jilbaabul mar-atil muslimah” (hal. 119).
[25]. Lihat keterangan syaikh al-Albani dalam kitab “Jilbaabul mar-atil muslimah” (hal. 232).
[26]. Dalam kitab beliau “al-Hijaabu wa fadha-iluhu” (hal. 4-6).
[27]. HR ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamush shagiir” (hal. 232) dinyatakan shahih sanadnya oleh syaikh al-Albani dalam kitab “Jilbaabul mar-atil muslimah” (hal. 125).
[28]. HSR Muslim (no. 2128).
[29]. HSR Muslim (no. 2742).


Sumber : http://almanhaj.or.id/content/3298/slash/0/tabarruj-dandanan-ala-jahiliyah-wanita-modern/

Arsip

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts