Senin, 29 Juli 2013

Setiap orang tua tentu memiliki harapan yang sama, yaitu keinginan agar anak-anak mereka menjadi anak yang shalih dan shalihah. 

Hanya saja perlu dicamkan baik-baik bahwa harapan seperti itu tidaklah hanya dicapai dengan angan-angan atau hayalan-hayalan mimpi. Akan tetapi keshalihan seorang anak itu bergantung pada keshalihan kedua orang tua.

Oleh karena itu wahai para orang tua! Mulailah dari diri anda sendiri, anda membangun keimanan dan ketakwaan dihadapan Allah Ta’ala, agar dikemudin hari kebaikan tersebut akan tertular kepada anak-anak anda. 

Renungkanlah firman Allah Ta’ala berikut,

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعافاً خافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً
  
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (An-Nisa’: 9)

Di dalam ayat ini terdapat isyarat berupa peringatan kepada orang tua yang khawatir masa depan anak keturunannya, agar dia bertakwa kepada Allah dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi seluruh larangannya agar kelak Allah menjaga anak keturunannya diatas keshalihan.

Berkata Asy-Syaibani, “Dahulu kami tatkala berada di kota Konstantinopel bersama dengan pasukan Maslamah bin Abdul Malik, ketika itu kami sedang duduk-duduk bersama sekelompok ulama diantaranya Ibnu Ad-Dailami, maka mereka saling mengingatkan tentang apa yang terjadi berupa huru-hara hari kiamat. Maka aku katakan kepadanya (Ibnu Ad-Dailami), ‘Wahai Abu Bisyr, aku senang bila aku tidak memiliki anak.’ Maka ia menjawab, “Mengapa demikian! Tidak ada satu keturunan pun yang Allah takdirkan untuk keluar dari seseorang melainkan pasti akan keluar, baik dia suka atau pun tidak suka, hanya saja bila engkau ingin agar mereka menjadi baik maka bertakwalah engkau kepada Allah dengan berbuat baik kepada orang lain.” Kemudian ia membaca ayat diatas (An-Nisa’: 9).[1]

Sejalan dengan makna diatas apa yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Ka’ab Al-Quradzi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam,
 
مَنْ أَحْسَنَ الصَّدَقَةَ جَازَ عَلَى الصِّرَاطِ وَمَنْ قَضَى حَاجَةَ أَرْمَلَةٍ أَخْلَفَ  اللَّهُ فِي تَرِكَتِهِ

“Barang siapa memperbagus sedekah ia akan dibolehkan melewati shirath (jembatan), barang siapa mencukupi kebutuhan para janda tua maka Allah akan menjaga anak keturunannya.”[2]
 Perhatikanlah kisah berikut yang menunjukan akan keberkahan sebuah anak dalam keluarga! 

Dikisahkan bahwa Muqatil bin Sulaiman pernah menemui Al-Manshur pada saat ia dibai’at menjadi khalifah, maka Al-Manshur berkata kepadanya, “Berilah aku sebuah nasehat.” Maka Muqatil menjawab, “Nasehat dari hal yang aku lihat atau yang aku dengar?” ia menjawab, “Dengan apa yang engkau lihat.” Maka Muqatil berkata, “Wahai amirul mukminin, Umar bin Abdul Aziz memiliki 11 anak, ia meninggal hanya menyisakan uang 18 dinar, biaya mengkafaninya sebanyak 5 dinar, biaya penguburannya 4 dinar, kemudian sisanya diberikan kepada ahli warisnya…adapun Hisyam bin Abdul Malik memiliki juga 11 anak, dan ia meninggalkan warisan satu juta dinar untuk masaing-masing anaknya. Demi Allah wahai amirul mukminin, sungguh aku melihat dengan mata kepala saya sendiri salah seorang anak Umar bin Abdul Aziz berinfak sebanyak seratus kuda untuk persiapan jigad di jalan Allah, diwaktu yang sama pula saya  melihat salah satu anak Hisyam sedang disibukkan dengan perdangan bisnisnya di pasar!!”[3]
 
Keluarga yang Baik ibarat Ladang yang Menghasilkan Panenan yang Baik 
 
Orang tua yang shalih akan menghasilkan anak-anak yang shalih dan shalihah. Namun jika tidak, yang terjadi adalah sebaliknya. Dikisahkan bahwa ada seorang tertangkap karena melakukan pencurian, maka tatkala hakim memutuskan dia untuk dipotong tangannya, sang pencuri ini berucap, ‘Potonglah tangan ibuku, karena dahulu tatkala aku masih kecil, aku pernah mencuri yelur, namun justeru ibuku gembira dan tersenyum dengan perbuatan yang aku lakukan’!!

Dari sepenggal kisah diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa benih dan tanah yang baik akan menghasilkan tanaman dan panenan yang bagus namun jika sebaliknya maka akan menghasilkan tanaman dan panenan yang jelek. Hak seorang bapak adalah memilih benih yang baik dan menanamnya pada tanah yang bagus, hal itu dikarenakan seorang bapak harus memilih istri yang shalihah agar kelak anak-anaknya pun shalih dan shalihah. Allah Ta’ala berfirman,
 
وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَباتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَالَّذِي خَبُثَ لا يَخْرُجُ إِلاَّ نَكِداً

“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya Hanya tumbuh merana.” (Al-A’raf: 58)

Dikisahkan ada seorang yang bernama Al-Mubarak beliau adalah bapak dari seorang ulama besar yang bernama Abdullah bin Al-Mubarak. Dikisahkan bahwa Al-Mubarak dahulunya adalah seorang budak yang telah dimerdekakan oleh tuannya, kemudian ia menjadi pegawai pada sebuah perkebunan. Pada suatu ketika keluarlah pemiliki kebun bersama teman-temannya kekebunnya, kemudian ia berkata kepada Al-Mubarak, “Berian kepadaku satu buah delima yang manis.” Maka Mubarak membawa bebarapa buah yang dipetik, namun seluruhnya pahit. Kemudian pemilik kebun berkata kepadanya, “Apakah kamu tidak bisa membedakan antara yang manis dan pahit?” kemudian Mubarak mengatakan, “Engkau belum memberikan izin kepadaku untuk mencicipi buah tersebut.” Maka pemilik kebun berkata, “Kamu sudah menjaga kebun ini selama setahun masa belum pernah mencicipinya sama sekali.” Pemilik kebun mengira bahwa Mubarak telah berdusta. Maka kemudian sang majikan pun bertanya kepada tetangganya, dan dikhabarkan kepadanya bahwa Mubarak sama sekali belum pernah mencicipi buah delima di kebunnya sama sekali. Kemudian sang pemilik kebun berkata kepada Mubarak, “Wahai Mubarak, aku hanya memiliki satu orang puteri, kepada siapakah aku hendak menikahkannya?” maka Al-Mubarak menjawab, 
“Orang-orang Yahudi menikahkan karena harta, orang-orang Nasrani karena keelokan, orang-orang Arab menikahkan kerena kedudukan dan martabat, sedangkan kaum muslimin menikahkan puterinya dengan orang lain karena ketakwaannya."
Lalu kelompok manakah yang akan engkau pilih? Nikahkanlah puterimu dengan seorang yang bertakwa.” Maka sang pemilik tanah berkata, “Adakah sekarang orang yang lebih takwa dari pada dirimu?” kemudian Mubarak dinikahkan dengan puterinya.
Kemudian hasil dari pernikahan yang mulia ini lahirlah seorang anak yang bernama Abdullah bin Al-Mubarak. Seorang ulama besar amirul mikminin fil hadits (penghulunya para ahli hadits), seorang mujahid, imam dalam kezuhudan, keilmian, dan sedekah.

Contoh yang lainnya adalah bapak dari imam Bukhari yang bernama Isma’il, ia pernah berkata sebelum meninggal, “Demi Allah, saya tidaklah mengetahui adanya barang haram yang masuk kerumahku satu hari pun baik berupa dinar, dirham   atau pun yang lainnya”…oleh karena itu terlahirlah dari dia seorang putera yang merupakan imam besar, yang mana  kitabnya adalah kitab yang paing shahih setelah Al-Qur’an yaitu Muhammad bin Isma’il Al-Bukari atau dikenal dengan imam Bukhari.[4]

Kisah Dua Orang Tua Yang Shalih

Tentu kita ingat sebuah kisah disebutkan di dalam surat Al-Kahfi. Dikisahkan bahwa Nabi Musa bersama khidir ‘alaihimassalam melewati sebuah perkampungan. Keduanya pun meminta penduduk kampung untuk menjamu mereka berdua, namun penduduk menolak. Selanjutnya Nabi Musa dan Khidir ‘alaihimassalam melihat sebuah bangunan yang hampir roboh. Tiba-tiba nabi Khidir memperbaiki dinding tersebut hingga baik kembali. Maka nabi Musa berkata, “Jika engkau berkehendak, tentu engkau bisa mengambil upah atasnya.” Maka jawaban Nabi Khidir atas pertanyaan itu adalah:

وَأَمَّا الْجِدارُ فَكانَ لِغُلامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُما وَكانَ أَبُوهُما صالِحاً فَأَرادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغا أَشُدَّهُما وَيَسْتَخْرِجا كَنزَهُما رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (Al-Kahfi: 82)

Demikianlah keshalihan dari orang tua akan mendatangkan rahmat bagi anak keturunannya.

Berkata imam Ibnu Katsir rahimahullah, “Firman Allah Ta’ala “sedang ayahnya adalah seorang yang saleh” terdapat faedah di dalamnya bahwa seorang yang shalih akan terjaga anak keturunannya, termasuk juga ia akan merasakan barakah dari ibadah (anak keturunan mereka) di dunia dan akherat, mendapatkan syafa’at mereka, dan mengangkat derajat mereka sampai pada derajat yang tertinggi di surga, hingga dia akan merasa bahagia dengan anak keturunannya. Hal ini telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an juga di dalam As-Sunnah. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Dua anak ini terjaga karena keshalihan bapak mereka, padahal tidak disebutkan apakah kedua anak tersebut shalih atau tidak. Sedangkan bapak mereka yang shalih adalah bapak ketujuh mereka.[5]

Berkata Al-Hasan Al-Basri rahimahullah, 

مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يَمُوتُ إِلَّا حَفِظَهُ اللَّهُ فِي عَقِبِهِ وَعَقِبِ عَقِبِهِ.

“Tidaklah seorang mukmin meninggal dunia, kecuali Allah akan jaga anaknya dan anak-anak keturunannya setelahnya.”

  Berkata Ibnul Munkadir, 

إنَّ اللَّهَ لَيَحْفَظُ بِالرَّجُلِ الصَّالِحِ وَلَدَهُ وَوَلَدَ وَلَدِهِ وَالدُّوَيْرَاتِ الَّتِي حَوْلَهُ فَمَا يَزَالُونَ فِي حِفْظٍ مِنَ اللَّهِ وَسِتْرٍ

“Allah akan menjaga dari diri seorang yang shalih anaknya, anak dari anaknya dan para keturunannya. Mereka selalu dalam penjagaan Allah dan ditutupi kesalahan kesalahannya.”[6]

Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu, 

إن المعروف ليجزي به ولد الوالد

“Sesungguhnya perbuatan baik akan memberikan balasan baik terhadap anak cucu.[7]

Berkata Al-Hafidz Ibnul Jauzi, “Tatkala aku bertekad ingin memperoleh kemuliaan dengan menikah serta menginginkan anak, maka aku pun beramal dengan menghatamkan Al-Qur’an seluruhnya, kemudian aku berdo’a kepada Allah Ta’ala agar Dia berkenan menganugerahkan kepadaku sepuluh anak, maka kemudian aku pun mendapatkan sepuluh anak.”[8]

Salah seorang ulama yang bernama Abul Ma’ali Al-Juwaini adalah seorang yang biasa bekerja dan memberikan nafkah kepada istri dan anaknya yang masih menyusu dengan nafkah yang halal. Dia selalu berpesan kepada istrinya agar jangan sampai ada seorang pun menyusui anaknya. Kemudian suatu ketika masuklah seorang pembantu kemudian dia menyusui anaknya beberapa isapan!! Maka tatkala Abul Ma’alai mengetahui hal tersebut, dia pun memasukkan jarinya kedalam mulut anaknya, hingga keluarlah air susu yang masuk kemulutnya tersebut. Lebih ringan bagi saya kalau dia (anaknya) meninggal dari pada dia rusak (agamanya) disebabkan meminum susu yang bukan dari ibunya!! Perhatiakanlah di sini bagaimana satu suapan saja dari sesuatu yang tidak halal bisa merusak pelakunya.

Lihatlah bagaimana Nabi shallallahu’alaihi wasallam pernah melarang salah seorang cucunya yaitu Al-Hasan tatkala hendak memakan kurma sedekah. Beliau bersabda,

«كِخْ كِخْ» لِيَطْرَحَهَا، ثُمَّ قَالَ: «أَمَا شَعَرْتَ أَنَّا لاَ نَأْكُلُ الصَّدَقَةَ»

“Kikh, kikh (buanglah-bunaglah) kemudian beliau bersabda, Tahukah engkau bahwa kita tidak boleh memakan harta sedekah!!”[9]

 Berkata salah seorang ulama tabi’in yang bernama Sa’id bin Al-Musayyib,

لأزيدنّ في صلاتي من أجلك…..

“Sungguh aku akan menambah malan sholat (sunnah) ku untuk kemaslahatanmu…” Maka anaknya berkata, “Mengapa demikian wahai ayahku?” Sa’id menjawab, “Aku berharap diriku akan terjaga disebabkan kebaikanmu.”[10]

Perhatikanlah kisah yang diutarakan oleh imam Ahmad berikut, 

حفَّظتني أمي القرآن وعمري عشر سنوات، وكانت توقظني قبل صلاة الفجر بوقت ليس بالقصير،وتحمي لي الماء؛ لأن الجو كان باردًا في بغداد، وتُلبسُني اللباس، ثم نصليأنا وإياها من قيام الليل ما شاء الله ، ثم ننطلق إلى المسجد وهي مغطاة بحجابها؛ لأن الطريق كانتبعيدة مظلمة موحشة لنصلي الفجر في المسجد، وتبقى معه حتى منتصف النهار لتعلمه القرآن والفقه. يقول: فلما بلغت السادسةعشرة قالت: يا بني سافِرْ في طلب الحديث؛ فإن طلب الحديث هجرة في سبيلالله. فأعدت له بعض متاع السفر من أرغفة الشعير ومن صُرَّة ملح، ثم قالت: إن الله إذا استُودِع شيئًا حفظه، فأستودعكالله الذي لا تضيع ودائعه

“Aku hafal Al-Qur’an karena didikan ibuku semenjak aku berumur 10 tahun, ibuku membangunkanku beberapa lama sebelum shalat subuh, kemudian ia memanaskan air untukku; hal itu dikarenakan udara di Baghdad ketika itu dingin, kemudian ia memakaikan baju untukku, disusul kemudian aku dan dia mengerjakan shalat malam secara bersama-sama. Kemudian kami sama-sama pergi kemasjid dalam keadaan ibuku berhijab; jalan menuju masjid ketika itu jauh, gelap, dan menghawatirkan.”                 –kemudian tetap menemani imam Ahmad sampai pertengahan siang untuk mempelajari Al-Qur’an dan Fiqih-. Berkata imam Ahmad, “Maka tatkala aku berumur enam belas tahun, berkata ibuku kepadaku, “Wahai anakku, pergilah engkau untuk mencari hadits; karena sesungguhnya mencari hadits adalah jihad di jalan Allah.” Kemudian ibuku menyediakan untukku beberapa perbekalan safar seperti roti-roti yang sudah kering dan wadah garam. Kemudian ia berkata kepadaku, “Sesungguhnya Allah apabila dititipi sesuatu, maka Dia akan menjaganya, maka sesungguhnya aku menitipkanmu kepada Allah, yang mana Dia tidak akan menyia-nyiakan titipan itu.”[11]

Lihatlah bagaimana setelah itu imam Ahmad menjadi imam besar dan rujukan di dalam masalah agama, hingga beliau digelari sebagai imam ahlus sunnah. Dari didikan siapakah itu?! Tidak lain dari seorang ibu yang shalihah. Hidup dalam kondisi yatim bukanlah alasan untuk berpangku tangan dan pasrah, itulah yang sudah dibuktikan oleh ibu imam Ahmad dalam mendidiknya.

Berkata imam Adz-Dzahabi di dalam pujiannya kepada imam Ahmad,

ووالله لقدبلغ في الفقه خاصة رتبة الليث، ومالك، والشافعي، وأبي يوسف، وفي الزهدوالورع رتبة الفضيل، وإبراهيم بن أدهم، وفي الحفظ رتبة شعبة، ويحيىالقطان، وابن المديني، ولكن الجاهل لا يعلم رتبة نفسه، فكيف يعرف رتبة غيره؟

“Sungguh demi Allah, dalam masalah Fiqih dia (imam Ahmad) selefel dengan Al-laits, Malik, Asy-Syafi’i, dan Abu Yusuf. Dalam hal kezuhudan dan wara’ beliau selefel dengan Al-Fudhail dan Ibrahim bin Adham. Dalam masalah hafalan beliau selefel dengan Syu’bah, Yahya bin Al-Qaththan, dan Ibnul Madini. Hanya saja orang bodoh itu dia tidak tahu kedudukan dirinya, apalagi mengetahui kedudukan orang lain.”

Benarlah apa yang diucapkan oleh seorang penyair:
 
فليس اليتيم من مات أبواه … وخلفاه في الحياة ذليلا
إنما اليتيـم من تـراه له… أما تخلت أو أبا مشغولا

“Seorang yatim yang sebenarnya bukanlah seorang yang ditinggal mati oleh bapaknya, kemudian dia mengalami kehinaan setelahnya
Akan tetapi seorang yatim yang sebenarnya adalah seorang yang masih memiliki orang tua, akan tetapi ia tidak mendapatkan perhatian seorang bapak karena kesibukannya.”[12]


[1] Al-Murabbi An-Najih: hal, 17-18. Dr. Kholid Sa’ad An-Najjar. Cet Dar Al-Kautsar.
[2]  Tafsir Al-Qurthubi Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an, Tafsir surat An-Nisa: 2/1717.
[3]  Ni’amun Bila syukr: Kholid Abu Syadi: hal. 10. Cet Dar Ar-Rayah.
[4]  Al-Murabbi An-Najih: hal, 19-20.
[5] Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Kahfi hal, 234 secara ringkas. Lihat Al-Mirabbi An-Najih: hal, 21.
[6]  Jami’ Ulum Wal Hikam: hal, 250. Cet, Maktabah Fayyad Al-Qahirah. Tahqiq Hamdi Ad-Damradasy Muhammad.
[7]  Diriwayatkan oleh Al-Khara’ity di dalam Makarimul Akhlak, lihat kitab Muntaqa-nya: hal, 37.
[8]  Husnul Ukhwah: no, 94.
[9]  HR. Bukhari: no, 1386.
[10]  Al-Murabbi An-Najih: hal, 22.
[11] Sumber: http://www.iszlam.hu/index.php?option=com_content&view=article&id=105:2011-01-01-14-42-51&catid=52:2010-12-27-16-50-48&Itemid=77
[12]  Ibid.

 http://www.serambiyemen.com/2013/07/keshalihan-orang-tua-adalah-modal-utama-kebaikan-anak.html

Minggu, 28 Juli 2013

Ada yang bertanya, bolehkah di malam hari itu melakukan i'tikaf dan di siang harinya tetap bekerja.  Permasalahan yang ditanyakan ini kembali pada masalah batasan minimal waktu i'tikaf.
Jangka Waktu Minimal I'tikaf

Mengenai waktu minimal disebut i’tikaf terdapat empat pendapat di antara para ulama.

Pendapat pertama: Yang dianut oleh jumhur (mayoritas) ulama hanya disyaratkan berdiam di masjid. Jadi telah dikatakan beri’tikaf jika berdiam di masjid dalam waktu yang lama atau sebentar walau hanya beberapa saat atau sekejap (lahzhoh). Imam Al Haromain dan ulama lainnya berkata, “Tidak cukup sekedar tenang seperti dalam ruku’ dan sujud atau semacamnya, tetapi harus lebih dari itu sehingga bisa disebut i’tikaf.”

Pendapat kedua: Sebagaimana diceritakan oleh Imam Al Haromain dan selainnya bahwa i’tikaf cukup dengan hadir dan sekedar lewat tanpa berdiam (dalam waktu yang lama). Mereka analogikan dengan hadir dan sekedar lewat saat wukuf di Arofah. Imam Al Haromain berkata, “Menurut pendapat ini, jika seseorang beri’tikaf dengan sekedar melewati suatu tempat seperti ia masuk di satu pintu dan keluar dari pintu yang lain, ketika itu ia sudah berniat beri’tikaf, maka sudah disebut i’tikaf. Oleh karenanya, jika seseorang berniat i’tikaf mutlak untuk nadzar, maka ia dianggap telah beri’tikaf dengan sekedar lewat di dalam masjid.”
Pendapat ketiga: Diceritakan oleh Ash Shoidalani dan Imam Al Haromain, juga selainnya bahwa i’tikaf dianggap sah jika telah berdiam selama satu hari atau mendekati waktu itu.
Pendapat keempat: Diceritakan oleh Al Mutawalli dan selainnya yaitu disyaratkan i’tikaf lebih dari separuh hari atau lebih dari separuh malam. Karena kebiasaan mesti dibedakan dengan ibadah. Jika seseorang duduk beberapa saat untuk menunggu shalat atau mendengarkan khutbah atau selain itu tidaklah disebut i’tikaf, haruslah ada syarat berdiam lebih dari itu sehingga terbedakanlah antara ibadah dan kebiasaan (adat). Demikian disebutkan dalam Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab 6: 513.[1]

Pendapat Jumhur Ulama

Sebagaimana dikemukakan di atas, jumhur (mayoritas) ulama berpendapat minimal waktu i’tikaf adalah lahzhoh, yaitu hanya berdiam di masjid beberapa saat. Demikian pendapat dalam madzhab Abu Hanifah, Asy Syafi’i dan Ahmad.
Imam Nawawi berkata, “Waktu minimal itikaf sebagaimana dipilih oleh jumhur ulama cukup disyaratkan berdiam sesaat di masjid. Berdiam di sini boleh jadi waktu yang lama dan boleh jadi singkat hingga beberapa saat atau hanya sekejap hadir.” Lihat Al Majmu’ 6: 489.

Alasan jumhur ulama:

1. I’tikaf dalam bahasa Arab berarti iqomah (berdiam). Berdiam di sini bisa jadi dalam waktu lama maupun singkat. Dalam syari’at tidak ada ketetapan khusus yang membatasi waktu minimal I’tikaf.
Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “I’tikaf dalam bahasa Arab berarti iqomah (berdiam). … Setiap yang disebut berdiam di masjid dengan niatan mendekatkan diri pada Allah, maka dinamakan i’tikaf, baik dilakukan dalam waktu singkat atau pun lama. Karena tidak ada dalil dari Al Qur’an maupun As Sunnah yang membatasi waktu minimalnya dengan bilangan tertentu atau menetapkannya dengan waktu tertentu.” Lihat Al Muhalla, 5; 179.

2. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Ya’la bin Umayyah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata,

إني لأمكث في المسجد الساعة ، وما أمكث إلا لأعتكف

“Aku pernah berdiam di masjid beberapa saat. Aku tidaklah berdiam selain berniat beri’tikaf.” Demikian menjadi dalil Ibnu Hazm dalam Al Muhalla 5: 179. Al Hafizh Ibnu Hajr juga menyebutkannya dalam Fathul Bari lantas beliau mendiamkannya.

3. Allah Ta’ala berfirman,
وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

Sedang kamu beri'tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah: 187). Ibnu Hazm berkata, “Allah Ta’ala tidak mengkhususkan jangka waktu tertentu untuk beri’tikaf (dalam ayat ini). Dan Rabbmu tidaklah mungkin lupa.” Lihat Al Muhalla, 5: 180.

Al Mardawi rahimahullah mengatakan, “Waktu minimal dikatakan i’tikaf pada i’tikaf yang sunnah atau i’tikaf yang mutlak adalah selama disebut berdiam di masjid (walaupun hanya sesaat).” (Al Inshof, 6: 17)

Bedakan dengan I'tikaf Nadzar

Beda halnya jika i'tikafnya adalah i'tikaf nadzar, maka harus ditunaikan sesuai dengan hari yang ditentukan. Misalnya, jika ia bernadzar i'tikaf 3 hari 3 malam, maka ia harus menjalaninya tanpa keluar-keluar dari masjid ketika itu. Contohnya saja dari perbuatan 'Umar bin Khottob yang bernadzar untuk i'tikaf semalam. 'Umar berkata pada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,

كُنْتُ نَذَرْتُ فِى الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، قَالَ  فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ

"Aku dahulu pernah bernadzar di masa Jahiliyah untuk beri’tikaf selama satu malam di masjidil harom.” Beliau pun bersabda, “Tunaikanlah nadzarmu.” (HR. Bukhari no. 2032 dan Muslim no. 1656).

Ibnu Hazm berkata, “Dalil ini adalah umum yaitu perintah untuk menunaikan nadzar berupa i’tikaf. Dan dalil tersebut tidak khusus menerangkan jangka waktu i’tikaf. Sehingga kelirulah yang menyelisihi pendapat kami ini.” (Al Muhalla, 5: 180)

Jawaban ...

Sehingga jika ada yang bertanya, bolehkah beri’tikaf di akhir-akhir Ramadhan hanya pada malam hari saja karena pagi harinya mesti kerja? Jawabannya, boleh. Karena syarat i’tikaf hanya berdiam walau sekejap, terserah di malam atau di siang hari. Misalnya sehabis shalat tarawih, seseorang berniat diam di masjid dengan niatan i'tikaf dan kembali pulang ke rumah ketika waktu makan sahur, maka itu dibolehkan.

Artikel : www.rumaysho.com

http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/4465-i-tikaf-di-malam-hari-siangnya-kerja.html

http://kisahislam.net/2012/09/21/akibat-buruk-bagi-orang-yang-mengolok-olok-hadits-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam/
Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad shahih, hadits dari Abu Darda’ Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,  
“Barang siapa menempuh jalan untuk me­nuntut ilmu, maka akan Allah akan mempermudah jalannya rnenuju ke surga. Sesungguhnya Malaikat menghamparkan sayap-sayapnya bagi para penuntut ilmu (karena ridha dengan apa yang mereka perbuat – pent.).”
Ini adalah hadits yang jelas datangnya dari Rasululah Shallallahu Alaihi wa Sallam, hanya saja ada sebagian orang yang mengolok-ngolok sabda Nabi Shallailahu Alaihi wa Sallam sehingga berakibat sangat buruk baginya.

Ahmad bin Syu’aib mengisahkan:

“Sewaktu kami bersama para ahli hadits di negeri Bashrah, kemu­dian ada seorang ahli hadits yang membacakan hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Sesungguhnya para Malaikat menghamparkan sayap-sayapnya bagi para penuntut ilmu….” (Al-Hadits).
Ikut hadir di dalam forum kami tersebut seorang mu’tazilah yang dengan lantang dia mengolok-.ngolok hadits tersebut. Ia mengatakan, “Demi Allah, besok aku akan menancapkan beberapa paku di sandalku, lalu dengan itu aku akan injak-injak sayapnya para Malaikat.”
Dia benar-benar melakukan apa yang diucapkannya itu, lalu ia ber­jalan dengan memakai kedua sandalnya. Tiba-tiba kedua kakinya membeku dan mulai digerogoti penyakit kusta, -suatu penyakit yang belum ada obatnya-.

Imam ath-Thabrani berkata, “Aku mendengar Abu Yahya Zakaria bin Yahya al-Saji bercerita:
“Pada suatu hari kami sedang berjalan dilorong-lorong sempit kota Bashrah menuju ke sebuah pintu milik salah seorang ahli hadits, aku mempercepat langkahku, ketika itu ada seorang yang mengatakan, “Angkatlah kaki kalian dari sayapnya para Malaikat, jangan sampai kalian merusak sayap mereka.” Dia berkata demikian dengan maksud mengolok-ngolok. Akhirnya, tidak lama setelah ia berkata demikian, tiba-tiba saja kedua kakinya membeku, ia pun tersungkur ke tanah.” [Nihayah az-Zhalimin hal.167]

Sumber: Kisah Orang Zhalim, Hamid Ahmad ath-Thahir, Penerbit Darussunnah


Ketahuilah wahai saudaraku, telah banyak hadits – hadits yang menyerukan agar kita tidak menjadikan ‘kuburan‘ sebagai masjid, dan tidak menjadikan ‘kuburan‘ sebagai berhala yang disembah selain Allah!
Ketahuilah perbuatan seperti ini adalah ‘perbuatan laknat’, yang mana Allah dan RasulNya melaknatnya. Ketahuilah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam ‘mendoakan laknat’ kepada yahudi dan nashrani, dimana mereka telah menjadikan KUBURAN NABI-NABI MEREKA sebagai masjid.
Lihatlah saudaraku, jika Yahudi dan Nashrani menjadikan kuburan nabi – nabi dan orang shalih mereka sebagai masjid dikatakan terlaknat, maka bagaimana halnya orang yang menjadikan kuburan orang – orang fasiq atau orang-orang yang tidak diketahui asal – usulnya sebagai masjid? Tentu ini lebih jelek lagi!!
Berikut hadits-hadits yang datang dari Nabi kita yang mulia, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, yang melarang keras umatnya untuk meniru perbuatan yahudi dan nashrani yang menjadikan kuburan sebagai masjid:

1. Hadits ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata :
Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sakit dan dalam keadaan berbaring :

لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah telah melaknat Yahudi dan Nashrani yang telah menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid”.
Aku (‘Aisyah) berkata :
“Kalau bukan karena takut (laknat) itu, niscaya kuburan beliau ditempatkan di tempat terbuka. Hanya saja beliau takut kuburannya itu akan dijadikan sebagai masjid”
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1330, Muslim no. 529, Ahmad 6/80 & 121 & 255, Ibnu Abi Syaibah 2/376, Abu ‘Awaanah 1/399, Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah no. 508, Al-Khathiib dalam Taariikh Baghdaad 13/52 & 183, Ath-Thabaraniy dalam Al-Ausath no. 7730, dan yang lainnya].

2. Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata:
Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

تل الله اليهود، اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

“Semoga Allah memerangi (mengutuk) orang-orang Yahudi! (disebabkan) mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid”
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 437, Muslim no. 530, Abu Dawud no. 3227, An-Nasa’iy 4/95, Abu Ya’laa no. 5844, Ahmad 2/284, dan yang lainnya]

3. Hadits ‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhum

Dari ‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas, mereka berdua berkata :
Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kesehatannya menurun pada saat-saat akhir hidupnya, beliau menutupkan kain khamishah-nya (selimut wolnya) pada wajahnya, namun beliau melepas kain tersebut dari wajahnya ketika bapasnya semakin terganggu seraya bersabda :

لعنة الله على اليهود والنصارى، اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

“Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashrani dimana mereka telah menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid”.

Aisyah berkata :

“Beliau memperingatkan agar tidak melakukan seperti apa yang mereka lakukan”
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 435 & 436, Muslim no. 531, Ibnu Hibban no. 6619, Abu ‘Awaanah 1/399, An-Nasa’i 1/115; dan yang lainnya]

Al-Haafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata tentang hadits di atas :
“Seakan-akan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mengetahui bahwa beliau akan wafat melalui sakit yang beliau derita, sehingga beliau khawatir kubur beliau akan diagung-agungkan seperti yang telah dilakukan orang-orang terdahulu. Oleh karena itu, beliau melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani sebagai isyarat yang menunjukkan celaan bagi orang yang berbuat seperti perbuatan mereka”
[Fathul-Baariy, 1/532].

4. Hadits ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata:
Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam jatuh sakit, maka beberapa orang istri beliau sempat membicarakan tentang sebuah gereja yang terdapat di negeri Habasyah (Ethiopia) yang diberi nama : Gereja Maria – dimana Ummu Salamah dan Ummu Habibah pernah mendatangi negeri Habasyah -, kemudian mereka (sebagian istri Nabi) membicarakan keindahan gereja dan gambar-gambar yang terdapat di dalamnya.
‘Aisyah melanjutkan :
“(Kemudian Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kepalanya) seraya bersabda:

أولئك إذا كان فيهم الرجل الصالح بنوا على قبره مسجداً ، ثم صوروا تلك الصور ، أولئك شرار الخلق عند الله [ يوم القيامة

‘Mereka itu adalah orang-orang yang apabila orang shalih mereka meninggal dunia, maka mereka membangun masjid di atas kuburnya tersebut, lalu menggambar dengan gambar-gambar tersebut. Mereka itu adalah sejelek - jelek makhluk di sisi Allah pada hari kiamat”
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 434, Muslim 528, Abu ‘Awaanah 1/400-401, Ibnu Hibban no. 3181, An-Nasa’i 2/41, Al-Baihaqiy 4/80; dan yang lainnya].

5. Hadits Jundub bin Abdillah Al-Bajaly radliyallaahu ‘anhu

Dari Jundub bin Abdillah Al-Bajaly radliyallaahu ‘anhu :
Bahwasannya dia pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda lima hari sebelum hari wafatnya :

قد كان لي فيكم إخوة وأصدقاء

“Aku memiliki beberapa saudara dan teman di antara kalian.

ولو كنت متخذا من أمتي خليلاً

Dan sesungguhnya aku berlindung kepada Allah dari memiliki kekasih (khalil) di antara kalian.

وإن الله عز وجل قد اتخذني خليلاً كما تخذ إبراهيم خليلاً

Dan sesungguhnya Allah telah menjadikan diriku sebagai kekasih, sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih.

لاتخذت أبا بكر خليلا

Seandainya aku boleh mengambil kekasih, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih.

ألا [ وإن ] من كان قبلكم [ كانوا ] يتخذون قبور أنبيائهم وصالحيهم مساجد ، ألا فلا تتخذوا القبور مساجد

Dan ketahuilah, (sesungguhnya) orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kubur para nabi mereka dan orang-orang shalih diantara mereka sebagai masjid.

فإني أنهاكم عن ذلك

(Maka) Janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid, sesungguhnya aku melarang kalian melakukan hal itu”
[Diriwayatkan oleh Muslim no. 532 dan Abu ‘Awanah 1/401].

6. Hadits Al-Harits An-Najrani radliyallaahu ‘anhu

Dari Al-Harits An-Najrani dia bercerita :
Aku pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan wasiat lima hari sebelum wafat :

ألا وإن من كان قبلكم كانوا يتخذون قبور أنبيائهم وصالحيهم مساجد ، ألا فلا تتخذوا القبور مساجد إني أنهاكم عن ذلك

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kubur para Nabi mereka dan orang-orang shalih di antara mereka sebagai masjid. Maka, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Sesunguhnya aku melarang kalian melakukan hal tersebut”
[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/374-375; shahih sesuai persyaratan Muslim].

7. Hadits Usamah bin Zaid radliyallaahu ‘anhuma

Dari Usamah bin Zaid radliyallaahu ‘anhu:
Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika menderita sakit yang menyebabkan wafatnya beliau :

أدخلوا علي أصحابي

“Masuklah wahai para shahabatku”.
Maka mereka masuk sedangkan beliau dalam keadaan tertutup selimut mu’afir.
(Lalu beliau membukanya) dan bersabda :

لعن الله اليهود [ والنصارى ] اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

“Allah telah melaknat orang-orang Yahudi (dan Nashrani) yang telah menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid”
[Diriwayatkan oleh Ath-Thayalisi no. 669; Ahmad 5/204; Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir no. 393 & 411, Ibnu Sa’d 2/241, Al-Haakim 4/194, dan yang lainnya; hasan dengan syawaahid-nya]

8. Hadits Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah radliyallaahu ‘anhu

Dari Abu ‘Ubaidah ia berkata :
“Kalimat terakhir yang diucapkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah :

اخرجوا يهود أهل الحجاز وأهل نجران من جزيرة العرب واعلموا ان شرار الناس الذين اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

‘Usirlah kaum Yahudi Hijaz dan Najran dari Jazirah ‘Arab. Ketahuilah, sesungguhnya seburuk – buruk manusia adalah yang menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid”
[Diriwayatkan oleh Ahmad 1/195 no. 1691 & 1694; Al-Bukhari dalam At-Taariikh Al-Kabiir 4/57, Ibnu Abi ‘Aashim dalam Al-Aahaadul-Matsaaniy no. 235-236, Abu Ya’laa Ath-Thahawi dalam Musykilul-Atsar 4/13; Abu Ya’la no. 872, Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykilil-Aatsaar 4/12, dan yang lainnya; shahih].

9. Hadits Zaid bin Tsabit radliyallaahu ‘anhu

Dari Zaid bin Tsabit radliyallaahu ‘anhu:
Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لعن الله اليهود اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

“Allah telah melaknat orang-orang Yahudi yang telah menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid”
[Diriwayatkan oleh Ahmad 5/184 & 186 dan ‘Abd bin Humaid no. 244; shahih dengan syawahid-nya].

10. Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam (beliau bersabda):

اللهم لا تجعل قبرى وثنا لعن الله قوما اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala. Allah melaknat kaum yang menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid”
[Diriwayatkan oleh Ahmad 2/246, Al-Humaidiy no. 1020, Ibnu Sa’d 2/241-242, Ibnu ‘Abdil-Barr dalam At-Tamhiid 5/43-44, Al-Bukhari dalam At-Taariikh Al-Kabiir 3/47, dan yang lainnya; shahih].

Al-Haafidh Ibnu Rajab Al-Hanbaly menukil perkataan Al-Haafidh Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahumallah dalam kitab Al-Kawaakibud-Daraari :

“Al-Watsan itu maknanya patung. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لا تجعل قبري صنماً يصلى ويسجد نحوه ويعبد

“Janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai patung/berhala yang menjadi kiblat shalat, tempat bersujud, juga tempat beribadah”.
(Dha’if, HR. Maalik)

Dan Allah sangat murka kepada orang yang melakukan hal tersebut.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah memperingatkan para shahabat dan seluruh umatnya tentang perbuatan buruk umat-umat terdahulu, karena mereka shalat menghadap kuburan para Nabi mereka serta menjadikannya sebagai kiblat dan masjid.
Sebagaimana penyembah berhala yang menjadikan berhala sebagai objek sesembahan yang diagungkan. Perbuatan tersebut merupakan syirik akbar.
Dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan bahwa perbuatan tersebut mengundang kemurkaan dan kemarahan Allah ta’ala dan Dia tidak akan pernah meridlainya. Hal tersebut disampaikan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam karena beliau khawatir umatnya akan meniru perbuatan mereka.
Dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam senantiasa memperingatkan umatnya agar tidak menyerupai Ahlul-Kitaab dan orang-orang kafir.
Dan beliau juga khawatir bila umatnya akan mengikuti jejak mereka. Tidakkah engkau mengetahui sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengungkapkan celaan dan kemarahan :

لتتبعن سنن الذين كانوا من قبلكم حذوا النعل بالنعل ، حتى إن أحدهم لو دخل جحر ضب لدخلتموه

“Sungguh kalian akan mengikuti jejak-jejak orang sebelum kalian sama persis, setapak demi setapak; sehingga salah seorang dari mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian akan memasukinya pula”
[Fathul-Baariy oleh Ibnu Rajab Al-Hanbaly 2/90/65 – melalui perantaraan Tahdziirus-Saajid].

11. Hadits Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu

Dari Abdullah (bin Mas’ud) ia berkata:
Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ان من شرار الناس من تدركه الساعة وهم أحياء ومن يتخذ القبور مساجد

“Sesungguhnya sejelek – jeleknya manusia  adalah orang yang menjumpai hari kiamat saat masih hidup, dan juga orang yang menjadikan kubur sebagai masjid”
[Diriwayatkan oleh Ahmad 1/405 & 435, Ath-Thabaraniy no. 10413, Ibnu Abi Syaibah 3/345, Al-Bazzaar no. 3420, Abu Ya’laa no. 5316, Ibnu Khuzaimah no. 789, Ibnu Hibbaan no. 6847, dan yang lainnya; hasan].

12. Hadits ‘Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu

Dari Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu ia berkata :
Al-‘Abbas radliyallaahu ‘anhu pernah menemuiku seraya berkata:
‘Wahai ‘Ali, mari ikut kami mengunjungi para Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Mungkin ada sesuatu hal yang perlu kita tanyakan. Kalau tidak, beliau akan memberikan wasiat kepada orang-orang melalui kita’.
Kemudian kami masuk menemui beliau, sedangkan beliau dalam keadaan berbaring karena sakit. Lalu beliau mengangkat kepalanya :

لعن الله اليهود اتخذوا قبور لأنبياء مساجد

“Allah telah melaknat orang-orang Yahudi yang telah menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid “.
Dalam sebuah riwayat ditambahkan :

“Kemudian beliau mengatakan yang ketiga kalinya. Dan ketika kami melihat apa yang terjadi pada beliau, maka kami pun keluar dan tidak menanyakan sesuatu pun kepada beliau”
[HR. Ibnu Sa’ad 4/28 dan Ibnu ‘Asaakir 12/172/2; hasan].

13. Hadits Ummahatul-Mukminin radliyallaahu ‘anhunna

Dari Ummahatul-Mukminiin:
Bahwasannya para shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya :
“Bagaimana kami harus membangun kubur Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, apakah kami boleh menjadikannya sebagai masjid ?”
Maka Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menjawab :
“Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani yang telah menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid”
[HR. Ibnu Zanjawaih dalam kitab Fadlaailush-Shiddiq sebagaimana disebutkan dalam Al-Jamii’ul-Kabiir 3/147/1]

Apa makna larangan : “Menjadikan Kubur Sebagai Masjid

{ اتخاذ القبور مساجد } ?

Para ulama telah menjelaskan bahwa kalimat tersebut mencakup tiga makna, yaitu :

1. Larangan shalat di atas kubur
Ibnu Hajar Al-Haitami berkata:
“Menjadikan kubur sebagai masjid berarti shalat di atasnya atau dengan menghadap ke arahnya”
[Az-Zawaajir, 1/121].
Makna ini diperkuat oleh hadits :

لا تصلوا إلى قبر ، ولا تصلوا على قبر

“Janganlah kalian shalat menghadap ke arah kubur dan jangan pula shalat di atasnya”
[Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir; shahih].

2. Al-Imam Al-Munawi rahimahullah berkata : “Mereka menjadikan kubur para nabi itu sebagai arah kiblat mereka akibat keyakinan mereka yang salah. Dan menjadikan kubur itu sebagai masjid menuntut konsekuensi pembangunan masjid di atasnya, dan juga sebaliknya. Hal demikian itu menjelaskan sebab dilaknatnya mereka, yaitu karena tindakan tersebut mengandung sikap berlebihan dalam pengagungan.

Al-Qadli (yaitu Al-Baidlawi) mengatakan :
‘Orang-orang Yahudi bersujud kepada kubur para Nabi sebagai pengagungan terhadap mereka dan menjadikannya sebagai kiblat. Mereka juga menghadap ke kubur itu dalam mengerjakan shalat dan ibadah lainnya. Sehingga dengan demikian, mereka telah menjadikannya sebagai berhala yang dilaknat oleh Allah. Dan Allah telah melarang kaum muslimin melakukan hal tersebut’.”
[selesai – Faidlul-Qadiir Syarh Al-Jamii’ Ash-Shaghiir – melalui perantara Tahdziirus-Saajid halaman 21; Maktabah Meshkat].

Al-Haafidh Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah berkata :
“Dikatakan maknanya adalah larangan terhadap sujud di atas kubur para Nabi. Dan juga dikatakan bahwa maknanya adalah larangan untuk menjadikannya sebagai kiblat dimana ia shalat menghadapnya”
[Tanwiirul-Hawaalik Syarh Muwaththa’ Malik no. 414; Maktabah Sahab].
Makna ini dikuatkan oleh sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam :

لا تجلسوا على القبور ، و لا تصلوا إليها

“Janganlah kalian duduk di atas kubur dan jangan pula shalat menghadap ke arahnya”
[Diriwayatkan oleh Muslim 3/62; Abu Dawud no. 3229; Ahmad 4/135; An-Nasa’iy 2/67, At-Tirmidzi no. 1050; dan yang lainnya. Sanad hadits ini jayyid (baik)].

3. Larangan mendirikan masjid di atas kubur dan tujuan mengerjakan shalat di dalamnya
Pengertian ini adalah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Bukhari ketika memberikan bab dalam kitab Shahih-nya :

{ باب ما يكره من اتخاذ القبور مسجداً على القبور}

“Bab Apa-Apa yang Dimakruhkan Membangun Masjid di Atas Kubur”.

Makna ini adalah sebagaimana yang terambil dalam hadits :

أولئك إذا كان فيهم الرجل الصالح بنوا على قبره مسجداً

“Mereka itu adalah orang-orang yang apabila orang shlih mereka meninggal dunia, maka mereka membangun masjid di atas kuburnya tersebut”
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 434, Muslim 528, Abu ‘Awaanah 1/400-401, Ibnu Hibban no. 3181, An-Nasa’i 2/41, Al-Baihaqiy 4/80; dan yang lainnya].

“Dari ketiga makna ini – wallahi – hampir semua dikerjakan oleh para pecinta kubur ! Banyak sekali di antara mereka – dengan alasan tabarruk dan tawassul – melakukan doa dan shalat di samping atau menghadap kubur.
Betapa banyak masjid di Indonesia ini yang terdapat kuburannya baik di dalam, di arah kiblat, atau di samping masjid ?! Lihatlah di Cirebon, Ampel, atau daerah-daerah sekitar Madura. Dan saya pribadi pernah “terperosok” sewaktu shalat shubuh di Masjid Agung Kabupaten Temanggung Jawa Tengah yang ternyata di arah kiblatnya ada makam “wali”-nya.
Inilah budaya/kultur yang dipelihara oleh pecinta kubur masyarakat kita.”
Larangan shalat di masjid yang ada kuburannya

Sebagai tambahan,….

larangan shalat dan mendirikan masjid itu bukan hanya jika kubur itu terletak di dalam atau di depan masjid! Namun secara umum, termasuk di samping atau belakang masjid (selama kuburan tersebut masih berada di komplek masjid).
Dalilnya adalah sebagai berikut :
Dari Abi Sa’id Al-Khudri radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

الارض كلها مسجد إلا المقبرة والحمام

“Bumi ini secara keseluruhan adalah masjid (tempat untuk shalat), kecuali kuburan dan kamar mandi”
[Diriwayatkan oleh Ahmad 3/83 & 96, Abu Dawud no. 492, At-Tirmidziy no. 317, Ibnu Majah no. 745, Abu Ya’laa no. 1350, Ibnu Khuzaimah no. 791-792, dan yang lainnya; shahih].

Al-Maqbarah {المقبرة} adalah isim makan (tempat) yang bentuk jamaknya Al-Maqaabir {المقابر}; yang artinya setiap tanah yang ditanam/dikuburkan seorang mayit. Adalah salah jika ada orang yang menganggap bahwa al-maqaabir ini merupakan bentuk jamak dari al-qubr (القبر).
Maka larangan untuk melakukan shalat (dan juga tentunya mendirikan masjid) di sini berlaku untuk kubur satu orang atau lebih (seperti di daerah pekuburan); baik menghadap kubur atau membelakangi, di sebelah kanan atau di sebelah kirinya. Ini semua terlarang, sebab dua hadits di atas lafadhnya adalah mutlak (yaitu larang shalat di kubur dan juga di antara kubur).

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata ketika menjelaskan madzhab Al-Imam Ahmad rahimahumallah dalam permasalahan ini :
“Tidak ada perbedaan pendapat antara Ahmad dan shahabat-shahabatnya (yaitu para ulama Hanabilah) dalam permasalahan ini. Akan tetapi keumuman perkataan, ta’lil, dan istidlal mereka adalah menetapkan pelarangan shalat di samping kubur, walau itu satu kuburan saja1. Dan itulah yang benar.
Dan yang disebut Al-Maqbarah adalah setiap tanah dibuat untuk mengubur (mayat). Al-Maqbarah bukanlah bentuk jamak dari Qabr (kubur).
Dan telah berkata sebagian shahabat-shahabat kami :

“Setiap yang masuk dalam definisi Al-Maqbarah adalah setiap sesuatu yang berada di sekitar kubur yang tidak boleh digunakan untuk shalat”.

Dan ini menentukan bahwa larangan tersebut mencakup lingkup kuburan yang terpencil bersama halaman sekitarnya”
[Al-Ikhtiyaaratul-‘Ilmiyyah hal. 25 melalui perantaraan Al-Qaulul-Mubiin fii Akhthaail-Mushallin hal. 32, Maktabah Al-Misykah dan Tamamul-Minnah hal. 298 Daarur-Rayah].
Al-Muhaqqiq Muhammad Yahya Al-Kandahlawi Al-Hanafi rahimahullah berkata :
“Adapun membangun kubur termasuk tasyabbuh (meniru) perbuatan Yahudi dan menjadikan kubur para Nabi dan para tokoh sebagai masjid termasuk pengagungan terhadap mayit dan meniru para penyembah berhala meskipun masjid itu berada di samping kubur. Jika kubur berada di arah kiblat, maka lebih dibenci daripada di samping kanan atau kiri. Jika berada di belakang orang-orang shalat, maka itu lebih ringan namun tidak lepas dari hukum makruh”
[Al-Kawaakibud-Daraari ‘alaa Jamii’it-Tirmidzi hal. 153]

Apa makna “pemakruhan” yang dikatakan para ulama diatas?

Perlu diketahui bahwa Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah ketika menuliskan “Maa Yukrahu….” (Apa-Apa yang Dimakruhkan….) dalam kitab Shahih-nya, bisa mengandung dua pengertian, yaitu : 1) bermakna bukan tahrim; dan 2) bermakna tahrim.

Saya contohkan bab yang ditulis beliau rahimhullah dengan makna pertama :
1. Bab Apa-Apa yang Dimakruhkan Tidur Sebelum ‘Isya’
{ باب ما يكره من النوم قبل العشاء }
2. Bab Apa-Apa yang Dimakruhkan dari Meninggakan Shalat Malam Bagi Mereka yang Telah Biasa Mengerjakannya
{ باب ما يكره من ترك قيام الليل لمن كان يقومه }
3. dan lain-lain.
Adapun yang makna kedua (tahrim/pengharaman) :
1. Bab Apa-Apa yang Dimakruhkan dari Niyahah (Meratap) terhadap Mayit
{ باب ما يكره من النياحة على الميت }
2. Bab Apa-Apa yang Dimakruhkan dari Shalat Jenazah terhadap Orang-Orang Munafik dan Meminta Ampunan terhadap Orang-Orang Musyrik
{ باب ما يكره من الصلاة على المنافقين والاستغفار للمشركين }
3. Bab Apa-Apa yang Dimakruhkan dari Namimah (Mengadu Domba)
{ باب ما يكره من النميمة}
4. dan lain-lain.

Lantas,…. bagaimana dengan menjadikan kubur sebagai masjid ? Tidak diragukan lagi bahwa yang dimaksudkan makruh dalam perkataan Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah adalah bermakna tahrim (pengharaman).
Apa indikasinya ? Indikasinya adalah bahwa lafadh hadits yang dibawakan oleh Al-Imam Bukhari rahimahullah dalam
Bab “Maa Yukrahu Min-Ittikhaadzil-Masaajidi ‘alal-Qubuur” merupakan lafadh-lafadh laknat.
Sesuai dengan kaidah Ushul-Fiqh bahwa lafadh laknat mempunyai konsekuensi pada pengharaman.
[lihat Badai’ul-Fawaaid 4/5-6].

Contohnya adalah firman Allah :

إِنّ الّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلاَتِ الْمُؤْمِناتِ لُعِنُواْ فِي الدّنْيَا وَالاَخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar
[QS. An-Nuur : 23]

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda :

لعن الله الواصلة والمستوصلة والواشمة والمستوشمة

“Allah telah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan yang meminta disambung rambutnya; juga wanita yang mentato dan yang minta ditato”
[HR. Bukhari no. 5589].

Dan perlu diketahui bahwa kalimat “makruh/karahah” dalam syari’at banyak yang menunjukkan pada makna haram (dan ini adalah madzhab ulama mutaqaddimiin). Misalnya: Setelah Allah menyebutkan tentang larangan berbuat syirik, larangan durhaka kepada dua orang tua, larangan bersikap boros, dan yang lainya. 2
Maka Allah menutupnya dengan :

ذَلِكَ كَانَ سَيّئُهُ عِنْدَ رَبّكَ مَكْرُوهاً

“Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Rabbmu”
[QS. Al-Israa’ : 38].

Juga Allah berfirman :

وَلَـَكِنّ اللّهَ حَبّبَ إِلَيْكُمُ الأِيمَانَ وَزَيّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ

“Tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan”.
[QS. Al-Hujuraat : 7].

Makna makruh dalam dua ayat di atas adalah haram. Kecuali,…. bila ada yang mengatakan syirik, durhaka pada orang tua, kefasikan, kemaksiatan, dan sikap boros itu hanya sebatas makruh, dimana orang yang meninggalkannya mendapat pahala dan yang mengerjakannya tidak dibebani dosa……. (Allåhul Musta’aan)
Oleh karena itu, perkataan makruh ulama di bawah juga menunjukkan pengharaman.

Telah berkata Abu Bakr Al-Atsram :
Aku mendengar Abu ‘Abdillah – yaitu Ahmad – ditanya tentang shalat yang dilakukan di kuburan (maqbarah), maka ia me-makruh-kannya. Lalu ditanyakan kepadanya : “Bagaimana tentang masjid yang berada di antara kubur ?”. Ia pun me-makruh-kannya hal itu juga”
[Fathul-Baariy oleh Ibnu Rajab, 3/195].

“Pendapat yang dipegang oleh kebanyakan ahli ilmu/ulama adalah makruh mengerjakan shalat di kuburan, berdasarkan hadits Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu. Dan begitulah yang menjadi pendapat kami”
[Al-Ausath, 2/185].

Kesimpulan di point ini adalah bahwa menjadikan kubur sebagai masjid dan shalat di dalamnya adalah haram.

Syubhat dan Jawaban

Syubhat

Lantas bagaimana dengan ayat:

وَكَذَلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوَاْ أَنّ وَعْدَ اللّهِ حَقّ وَأَنّ السّاعَةَ لاَ رَيْبَ فِيهَا
إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ فَقَالُواْ ابْنُواْ عَلَيْهِمْ بُنْيَاناً رّبّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ قَالَ الّذِينَ غَلَبُواْ عَلَىَ أَمْرِهِمْ لَنَتّخِذَنّ عَلَيْهِمْ مّسْجِداً

Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka.” Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya.”
[QS. Al-Kahfi : 21]

Bukankah makna dalam ayat tersebut terkandung bahwa:
Mayoritas masyarakat ahli tauhid (monoteis) kala itu sepakat untuk membangun masjid di sisi makam para penghuni gua (Ashabul-Kahfi). Tentu kita sepaka bahwa al-Quran bukan hanya sekedar kitab cerita yang hanya begitu saja menceritakan peristiwa-peristiwa menarik zaman dahulu tanpa memuat ajaran untuk dijadikan pedoman hidup kaum muslimin.

Jika kisah pembuatan masjid di sisi makam Ashabul-Kahfi merupakan perbuatan syirik maka pasti Allah subhanahu wa ta’ala akan menyindir dan mengkritik hal itu dalam lanjutan kisah al-Quran tadi, karena syirik adalah perbuatan yang paling dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Namun terbukti Allah subhanahu wa ta’ala tidak melakukan peneguran baik secara langsung maupun secara tidak langsung (sindiran). Atas dasar itu pula terbukti para ulama tafsir Ahlusunah menyatakan bahwa para penguasa kala itu adalah orang-orang yang bertauhid kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bukan kaum musyrik penyembah kuburan (Quburiyuun).

Jawaban

1. Telah masyhur dalam kaidah Ushul tentang

{ أن شريعة من قبلنا ليست شريعة لنا}

Syari’at orang-orang sebelum kita pada asalnya tidaklah menjadi syari’at kita”. 3

Apalagi jika itu bertentangan secara jelas dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Syari’at orang-orang sebelum kita hanyalah bisa kita terima jika memang sesuai dan tidak bertentangan dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.
Banyak sekali nash-nash dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menjelaskannya. Satu contoh : Allah telah menetapkan hari Sabtu untuk orang Yahudi sebagai hari beribadah, sebagaimana firman-Nya :

إِنّمَا جُعِلَ السّبْتُ عَلَىَ الّذِينَ اخْتَلَفُواْ فِيهِ

Sesungguhnya diwajibkan (menghormati) hari Sabtu atas orang-orang (Yahudi) yang berselisih padanya.
[QS. An-Nahl : 124].

Jika mengikuti alur logika Saudara, tentu kita juga wajib untuk mengagungkan hari Sabtu. Sebab, ini merupakan firman dan perintah dari Allah yang tercantum dalam Al-Qur’an.
Namun,….. apakah memang begini pola berpikirnya ? Kewajiban tersebut telah mansukh dan tidak berlaku bagi umat Islam, sebab Allah telah menetapkan hari khusus bagi umat Islam, yaitu hari Jum’at.

Begitu pula untuk kasus pendirian masjid di atas kuburan. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menegaskan bahwa hal itu bukan merupakan syari’at Islam dengan sabdanya :
Dari Al-Harits An-Najrani dia bercerita : Aku pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan wasiat lima hari sebelum wafat :

ألا وإن من كان قبلكم كانوا يتخذون قبور أنبيائهم وصالحيهم مساجد ، ألا فلا تتخذوا القبور مساجد إني أنهاكم عن ذلك

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kubur para Nabi mereka dan orang-orang shalih di antara mereka sebagai masjid. Maka, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Sesunguhnya aku melarang kalian melakukan hal tersebut”
[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/374-375; shahih sesuai persyaratan Muslim].

2. Jika jawaban no.1 ditolak, maka dalam ayat tersebut juga tidak ada pernyataan secara tegas bahwa pembangunan masjid itu merupakan syari’at dan perintah dari Allah atau merupakan tindakan raja/penguasa semata.

Perhatikan secara cermat ayat tersebut :

وَكَذَلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوَاْ أَنّ وَعْدَ اللّهِ حَقّ وَأَنّ السّاعَةَ لاَ رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ فَقَالُواْ ابْنُواْ عَلَيْهِمْ بُنْيَاناً رّبّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ قَالَ الّذِينَ غَلَبُواْ عَلَىَ أَمْرِهِمْ لَنَتّخِذَنّ عَلَيْهِمْ مّسْجِداً

Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka., orang-orang itu berkata: “Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Rabb mereka lebih mengetahui tentang mereka” Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya.”
[QS. Al-Kahfi : 21].

Ayat tersebut mengandung ihtimal (kemungkinan) bahwa orang yang berniat dan memerintahkan untuk membangun masjid di atas goa -yakni, tempat kubur para pemuda Ashaabul-Kahfi- adalah orang-orang kafir di zaman itu.

Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat di atas menukil perkataan Ibnu Jarir Ath-Thabari bahwa ada dua pendapat mengenai status orang-orang tersebut :
Pertama, mereka adalah orang-orang Islam di antara mereka; dan Kedua, mereka adalah orang-orang musyrik di antara mereka.

Dan di sini, kemungkinan kedua lah yang nampaknya lebih kuat. Hal ini didasari oleh dalil tentang laknat Allah kepada orang Yahudi.
Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata :
Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

قاتل الله اليهود، اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

“Semoga Allah memerangi (mengutuk) orang-orang Yahudi dimana mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid”
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 437, Muslim no. 530, Abu Dawud no. 3227, An-Nasa’iy 4/95, Abu Ya’laa no. 5844, Ahmad 2/284, dan yang lainnya].

Dalam hadits di atas (juga hadits-hadits lain sebagaimana telah dituliskan sebelumnya) nampak bahwa larangan menjadikan kubur sebagai masjid (tempat peribadatan) telah ada semenjak jaman para Nabi diutus kepada orang Yahudi. Dan ini tentu jauh sebelum jaman Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Maka dari itu Al-Hafidh Ibnu Rajab Al-Hanbaly rahimahullah ketika menjelaskan hadits pelaknatan Allah kepada kaum Yahudi yang telah menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid; mengatakan :
“Al-Qur’an juga telah menunjukkan seperti apa yang ditunjukkan oleh hadits ini, yaitu firman Allah ‘azza wa jalla tentang kisah Ashhaabul-Kahfi :

قال الذين غلبوا على أمرهم لنتخذن عليهم مسجداً
“Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya”
(QS. Al-Kahfi : 21)

Dengan demikian, Allah ‘azza wa jalla telah mengkatagorikan tindakan menjadikan kubur sebagai masjid merupakan perbuatan orang-orang yang berkuasa mengendalikan urusan. Dan itu menunjukkan bahwa sandarannya adalah pemaksaan dan kekuasaan serta ketundukan terhadap hawa nafsu. Hal itu bukan merupakan perbuatan ulama yang selalu mendapatkan pertolongan Allah, dimana Allah telah menurunkan beberapa petunjuk-Nya kepada Rasul-Nya”
[Fathul-Baari bi-Syarhil-Bukhari 65/280 oleh Ibnu Rajab Al-Hanbaly – melalui perantara Tahdziirus-Saajid hal. 42]

Tambahan dari muslim.or.id :

Sebagian orang menyampaikan syubhat mengenai masjid Nabawi (di kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Madinah). Jika memang shalat di masjid yang ada kubur terlarang, lantas bagaimana dengan keadaan masjid Nabawi itu sendiri? Bukankah di dalamnya ada kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah mengatakan bahwa syubhat ini adalah talbis, yaitu ingin menyamarkan manusia. (Durus Syaikh Sholeh Al Fauzan, Al Muntaqo).

Cukup, syubhat di atas dijawab dengan penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin berikut ini:

  • Masjid Nabawi tidaklah dibangun di atas kubur. Bahkan yang benar, masjid Nabawi dibangun di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup.
  •  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah di kubur di masjid sehingga bisa disebut dengan orang sholeh yang di kubur di masjid. Yang benar, beliau dikubur di rumah beliau.
  •  Pelebaran masjid Nabawi hingga sampai pada rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan rumah ‘Aisyah bukanlah hal yang disepakati oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Perluasan itu terjadi ketika sebagian besar sahabat telah meninggal dunia dan hanya tersisa sebagian kecil dari mereka.
  • Perluasan tersebut terjadi sekitar tahun 94 H, di mana hal itu tidak disetujui dan disepakati oleh para sahabat. Bahkan ada sebagian mereka yang mengingkari perluasan tersebut, di antaranya adalah seorang tabi’in, yaitu Sa’id bin Al Musayyib. Beliau sangat tidak ridho dengan hal itu.
Kubur Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah di masjid, walaupun sampai dilebarkan. Karena kubur beliau di ruangan tersendiri, terpisah jelas dari masjid. Masjid Nabawi tidaklah dibangun dengan kubur beliau. Oleh karena itu, kubur beliau dijaga dan ditutupi dengan tiga dinding. Dinding tersebut akan memalingkan orang yang shalat di sana menjauh dari kiblat karena bentuknya segitiga dan tiang yang satu berada di sebelah utara (arah berlawanan dari kiblat). Hal ini membuat seseorang yang shalat di sana akan bergeser dari arah kiblat. (Al Qoulul Mufid, 1: 398-399)

Penutup

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa Allah, RasulNya, para shahabat RasulNya dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik telah mengingatkan kita akan perbuatan yang sangat terlaknat ini; marilah kita menyimak penjelasan berikut sebagai penutup pembahasan ini…
Allah ta’ala berfirman :

قَالَ نُوحٌ رّبّ إِنّهُمْ عَصَوْنِي وَاتّبَعُواْ مَن لّمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلاّ خَسَاراً * وَمَكَرُواْ مَكْراً كُبّاراً * وَقَالُواْ لاَ تَذَرُنّ آلِهَتَكُمْ وَلاَ تَذَرُنّ وَدّاً وَلاَ سُوَاعاً وَلاَ يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْراً * وَقَدْ أَضَلّواْ كَثِيراً

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, dan melakukan tipu-daya yang amat besar.” Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”. Dan sesudahnya mereka menyesatkan kebanyakan (manusia).
[QS. Nuh : 21-24].

Terkait ayat di atas, Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah menyebutkan satu hadits dalam Shahih-nya :
Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma (ia berkata) :

“Patung-patung yang ada di kaum Nuh menjadi sesembahan orang Arab setelah itu.

(Patung) Wadd menjadi sesembahan bagi Bani Kalb di Dumatul-Jandal, (patung) Suwaa’ bagi Bani Hudzail, (patung) Yaghuuts bagi Bani Murad dan Bani Ghuthaif di Al-Jauf sebelah Saba’, Ya’uuq bagi Bani Hamdaan, dan Nasr bagi Bani Himyar dan kemudian bagi keluarga Dzul-Kalaa’.

Mereka adalah nama orang-orang shalih dari kaum Nuh.

Ketika mereka meninggal, maka syaithan membisikkan kepada kaum mereka (yaitu kaum Nuh) agar meletakkan patung-patung mereka dalam majelis-majelis dimana kaum Nuh biasa mengadakan pertemuan, sekaligus memberi nama patung-patung tersebut dengan nama-nama mereka. Maka mereka pun melakukannya. Patung tersebut tidaklah disembah pada waktu itu. Akhirnya setelah generasi pertama mereka meninggal dan ilmu telah dilupakan, maka patung-patung tersebut akhirnya disembah”
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 4920].

Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menukil perkataan Muhammad bin Qais dalam Tafsir-nya sebagai berikut :

“Mereka (Wadd, Suwwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr) adalah kaum shalih dari bani Adam yang mempunyai banyak pengikut.
Ketika mereka meninggal, maka berkatalah shahabat-shahabat dari kalangan pengikut mereka :
‘Jika kita membuat gambar-gambar mereka, maka kita akan semakin tekun beribadah ketika mengingat mereka’.
Maka mereka pun membuat gambar mereka. Ketika mereka (generasi pertama) meninggal, datanglah generasi berikutnya dimana Iblis mulai melakukan tipu daya kepada mereka.
Iblis berkata :
‘Orang-orang sebelum kamu membuat gambar-gambar tersebut tidak lain hanyalah untuk menyembah orang-orang shalih tersebut yang dengannya mereka meminta diturunkan hujan’.
Akhirnya mereka pun menyembahnya”
[Tafsir Ath-Thabari, QS. Nuh : 23-24].

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata :
“Mula-mula para pendahulu mereka membuat patung orang-orang shalih itu adalah agar dapat meneladani mereka dan mengenang mengingat perbuatan-perbuatan shalih mereka, sehingga dapat memiliki kesungguhan beribadah yang sama seperti mereka. Karenanya, mereka menyembah Allah di sisi kuburan mereka.
Kemudian setelah mereka meninggal, datanglah generasi generasi yang tidak mempunyai pengetahuan cukup terhadap agama sehingga tidak mengerti maksud pendahulu mereka, lalu syaithan membisikkan pada mereka bahwa pendahulu mereka tersebut menyembah patung-patung itu dan mengagungkannya.
Oleh karena itulah, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam melarang terjadinya hal demikian untuk menutup rapat-rapat segala hal yang dapat mengarah ke perbuatan tersebut (Saddu lidz-Dzari’ah)”
[Lihat Fathul-Majiid hal. 218 – Maktabah Taufiqiyyah, Cairo].

Dalam kesempatan lain Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah juga berkata :
“Semua itu dimaksudkan untuk memutus jalan yang menjurus kepada ibadah terhadap orang yang ada di dalam kubur tersebut. Sebagaimana halnya yang terjadi pada orang-orang yang menyembah berhala”
[idem, hal. 220].

Al-Imam Ibnu Baththal rahimahullah ketika menjelaskan hukum menjadikan kubur kaum muslimin sebagai masjid/tempat ibadah, menukil perkatan Al-Muhallab :

“Sesungguhnya termasuk larangan dari hal itu wallaahu a’lam. Yaitu dikarenakan untuk memutuskan perantara dan pendekatan diri mereka dalam beribadah kepada berhala, serta memutuskan upaya menjadikan gambar dan patung sebagai sesembahan”4
[Syarhul-Bukhari li-Ibni Baththal Al-‘Ukbari 3/96].

Al-Imam As-Suyuthi dalam Ad-Durrul-Mantsur (6/269) berkata :
Diriwayatkan oleh ‘Abdun bin Humaid dari Abu Muthahhir, dia bercerita di sisi Abu Ja’far (yaitu Al-Baqir) Yazib bin Al-Muhallab, dia bercerita :

“Sesungguhnya dia telah terbunuh di permukaan bumi yang menjadi tempat penyembahan selain Allah”.

Kemudian dia menyebutkan Wadd. Dia menyebutkan bahwa Wadd adalah seorang muslim yang sangat dicintai kaumnya. Ketika meninggal dunia, kaumnya berkumpul di sekitar kuburnya di tanah Babil. Dan mereka pun merasa kasihan padanya.
Ketika Iblis mengetahui kesedihan mereka padanya, Iblis tersebut kemudian berpakaian menyerupai manusia dan kemudian berkata,
”Aku tahu rasa sedih kalian terhadap orang ini. Apakah kalian mau aku buatkan gambar sesuatu yang mirip dengannya, sehingga dengan tetap berada di perkumpulan kalian, kalian bisa mengingatnya ?”.
Mereka menjawab :
“Mau”.
Lalu Iblis membuat gambar yang mirip dengan orang shalih tersebut (Wadd), kemudian mereka meletakkannya di tempat perkumpulan mereka sambil mengingat-ingatnya.
Setelah mereka selalu mengingat-ingatnya Iblis pun berkata,
”Apakah kalian mau aku buatkan patung yang menyerupai wajahnya di rumah masing-masing kalian ?”
Mereka menjawab:
“Mau”.
Lalu Iblis pun membuatnya lagi setiap rumah satu patung yang menyerupai orang shalih tersebut. Mereka pun menyambutnya dan terus-menerus mengingat orang tersebut melalui patung itu”.
Kemudian ia (Al-Baqir) menceritakan :
“Anak-anak mereka pun mengetahui hal itu seraya melihat yang mereka kerjakan dengan patung itu. Hingga akhirnya mereka melahirkan banyak keturunan. Lalu, anak-anak mereka pun mempelajari cara mengingat orang shalih tersebut melalui patung itu, hingga akhirnya mereka menjadikannya sebagai ilah (sesembahan) selain Allah”

[selesai]

Dari riwayat tersebut, para ulama telah menjelaskan bahwa sebenarnya generasi pertama kaum Nuh bukanlah penyembah berhala. Namun kemudian mereka tertipu oleh Iblis/syaithan untuk membuat hal-hal yang mereka anggap dapat menyempurnakan ibadah mereka, namun ternyata malah membuka jalan ke pintu kesyirikan.
Sama halnya dengan pembangunan masjid di kuburan yang diniatkan untuk bertabarruk dan mengenang orang-orang shalih yang telah meninggal. Mereka menganggap bahwa beribadah di masjid tersebut lebih afdlal dan lebih sempurna karena keberadaan orang shalih yang ada di liang kubur itu, dibandingkan masjid lainnya. Alasan ini mirip dengan alasan generasi pertama kaum Nuh dimana mereka membuat patung-patung hanya untuk mencari barakah dan agar mereka semakin giat dalam beribadah.
Begitulah cara syaithan menjerumuskan manusia ke lembah kesyirikan. Mereka memulai dari hal-hal yang dipandang remeh di mata sebagian manusia. Bagaikan kerbau yang digembala – sedikit-demi sedikit syaithan membawa manusia ke masuk ke pintu syubhat dan bid’ah hingga akhirnya benar-benar masuk kepada kesyirikan yang nyata.
Sangatlah tepat apa yang dikatakan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berikut :

“Oleh karena itu Allah dan Rasul-Nya melarang mendirikan masjid di atas kuburan. Inilah yang pada umumnya menjerumuskan umat-umat terdahulu ke dalam syirik akbar atau yang lebih rendah daripada itu (yaitu syirik ashghar).
Kesyirikan akibat mengagungkan kuburan orang yang diyakini keshalihannya lebih dekat kepada hati manusia dibandingkan syirik akibat menyembah pohon atau batu.
Oleh sebab itu, kita sering menjumpai ahli syirik duduk dengan tenang dan khusyu’ di sisi kuburan melakukan ibadah yang tidak pernah mereka lakukan di rumah-rumah Allah dan di waktu sahur. Bahkan di antara mereka ada yang sujud menghadap kuburan dan (kebanyakan mereka) berharap memperoleh barakah shalat dan berdoa di sisi kubur, yang tidak pernah mereka harapkan sewaktu mereka berada di masjid.
Karena mafsadah (kerusakan) inilah, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam memutuskan sumbernya. Bahkan dengan tegas beliau melarang shalat di kuburan sama sekali, meskipun ia tidak bermaksud mencari barakah dengan shalat di tempat itu. Jika seseorang shalat di sisi kuburan dengan tujuan untuk mendapatkan barakah dengan shalat di tempat itu, ini sesungguhnya penentangan terhadap Allah dan Rasul-Nya, meyelisihi agama-Nya, dan melaksanakan kebid’ahan yang tidak diijinkan Allah.
Dan kaum muslimin telah sepakat berdasarkan apa yang mereka ketahui dengan pasti dari agama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ini bahwa shalat di sisi kubur siapapun adalah terlarang”
[Iqtidhaa’ Shiraathil-Mustaqiim 2/680-681; Maktabah Ar-Rasyid].

Al-Imam An-Nawawi ASY-SYAFI’IY rahimahullah berkata :
“Para ulama telah berkata bahwa larangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk menjadikan kubur beliau dan kubur yang lainnya sebagai masjid/tempat ibadah hanyalah dikarenakan kekhawatiran beliau dari berlebih-lebihannya (kaum muslimin) dalam mengagungkannya dan terfitnah dengannya”
[Syarah Shahih Muslim lin-Nawawi Bab An-Nahyi ‘an Banaail-Masaajid ‘alal-Qubuur wa Ittikhaadzish-Shuwari fiiha wan-Nahyi ‘an Ittikhaadzil-Qubuuri Masajid].
Wallaahu a’lam, Semoga bermanfa’at.

***
Sumber : “Dialog bersama pecinta kubur”, oleh al-Akh Abul Jauzaa’ dan al-Akh Abu Zuhri  dengan sedikit tambahan tanpa mengubah makna dan maksud.

Catatan Kaki
  1. Apalagi lebih kalau dari satu kubur !!
  2. Silakan lihat selengkapnya dalam QS. Al-Israa’ : 23-38
  3. Salah satunya bisa ditengok dalam kitab Al-Ihkaam karya Ibnu Hazm
  4. Akan tetapi di sini Al-Muhallab mengatakan bahwa terdapat keluasan dimana seseorang dapat berpaling ke arah kanan atau kiri dari tempatnya (agar tidak menghadap ke kubur), karena menghadap ke shalat kubur dapat membuat shalat tidak sah. Dan yang benar, adalah tetap tidak diperbolehkan shalat walaupun ia berada di sisi kubur karena telah tetap larangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk tidak shalat di antara kubur (walau tidak menghadap ke kubur) sebagaimana telah disebutkan di atas.

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts