Sabtu, 29 Juni 2013

Sebuah Catatan Facebook  
MATAN STATUS

"Orang-orang di Indonesia yang ikut ajaran Wahabi (ajaran yang menolak/anti Maulidan, Tahlilan, Yasinan, & Tawasul/minta didoakan orang yang telah meninggal di kubur nya) rata-rata adalah orang-orang yang baru belajar agama 'Kemaren' kemudian setelah orang-orang tersebut terpengaruh ajaran Wahabi ini sedangkan mereka baru belajar agama 'Kemaren' (baru sebulan- dua bulan atau baru setahun dengan membaca beberapa buku, atau lewat radio, tv, dan internet), sudah berani memandang dan menuduh sesat ajaran-ajaran Islam yang selama ini sudah dilakukan oleh 'Mayoritas' ummat Islam di Seluruh Dunia yang 'mengikuti' Ulama-Ulama' Besar yang terkenal berabad-abad karena keluasan dan kedalaman pemahaman ilmu Syariah/Agama Islam. Bukankah Ulama itu Pewaris Nabi? Siapakah yang 'lebih paham' dalam Syariah? Apakah Ulama Besar Fiqih Seperti sosok Imam Syafi' yang yang memiliki keluasan dan pemahaman yang 'dalam' terhadap ilmu Syariah yang membagi bid'ah menjadi 2 yakni Bid'ah Mahmudah/terpuji dan Bid'ah Madzmumah/tercela, ataukah Bin Baz dan Al Bani yang merupakan orang baru yang berfatwa bahwa semua bid'ah itu sesat ?"

(ditulis oleh Pecinta Shalawat di Grup Membongkar Kesesatan Wahabi)

---------------------------------------

TA'LIQ STATUS

Perkataan beliau: (ajaran Wahabi (ajaran yang menolak/anti Maulidan, Tahlilan, Yasinan, & Tawasul/minta didoakan orang yang telah meninggal di kubur nya)) adalah perkataan yang didasari oleh taqlid buta. Jika bukan karena berarti taqlid buta, maka didasari oleh hati buta. Sungguh miris dan membuat iba. Apapun alasannya, tetap intinya: 'buta'. Kenapa buta? Karena definisi 'Wahabi' yang beliau katakan adalah hasil distorsi, salah kaprah dan semaunya. Definisi Wahabi sendiri belum terumuskan dengan baik olehnya dan orang segolongannya. Jika Imam Asy-Syafi'i menolak acara makan-makan setelah kematian manusia, sepertinya mereka mengabaikannya.

Karena itu, dengan kelicikan, Pecinta Shalawat tidak memasukkan '40 harian' atau 'makan-makan setelah kematian' di definisi Wahabi. Karena bisa jadi, Imam Asy-Syafi'i juga pengikut Wahabi.

---

Perkataan beliau: (Orang-orang di Indonesia yang ikut ajaran Wahabi rata-rata adalah orang-orang yang baru belajar agama 'Kemaren') adalah perkataan rancu. Mau terkesan mengejek namun sebenarnya lucu. Tidak masalah sebenarnya jika seseorang baru belajar agama 'kemaren' hari. Dibanding dengan mereka yang belajar agama dari dahulu, mahir membaca kitab kuning, punya seabrek kawan, punya jaringan, bergolongan besar, namun ketika ditunjukkan 'Nih, kata Imam madzhab kalian amalan yang kalian lakukan itu tidak disyariatkan', malah ngambek, atau marah-marah, atau paling selamat: diam dan pura-pura tidak mengerti.

Sebenarnya bukan kemaren atau dulu, bukan sebulan atau 10 tahun yang lalu, yang namanya belajar itu untuk mendapatkan faedah, mengingatnya selalu dan mengamalkan tanpa ragu. Nah, rata-rata orang semacam Pecinta Shalawat ini selalu memamerkan kekonyolan mereka. Mungkin ini hasil belajar mereka bertahun-tahun:

[1] "Kalian baru belajar kemaren (sore)!"
[2] "Memang kalian bisa Bahasa Arab?!"
[3] "Memang kalian ngerti Tafsir, Hadits, Fiqh, Ushul Fiqh, Bayan, Ma'ani, Manthiq etc? Ayo, adu sama saya!"
[4] "Makanya, jangan ngaji di kitab. Siapa yang ngaji di kitab, gurunya setan!"
[5] "Makanya, jangan ngaji di Internet!"

Jika itu hasil dari pembelajaran selama bertahun-tahun, maka anak TPA yang belajar Iqra' lebih mulia dari mereka; karena anak TPA tidak merasa mentang-mentang dengan belajarnya.

---

Perkataan beliau: (belajar agama 'Kemaren' (baru sebulan- dua bulan atau baru setahun dengan membaca beberapa buku, atau lewat radio, tv, dan internet)) adalah akibat belajar bertahun-tahun namun kurang mengambil faedah dari belajarnya. Orang terpelajar dan terdidik tentu kelihatan tingkahnya. Atau, mungkin perlu dimaklumi kali ini jika seseorang terdidik dengan kekolotan kalimat ini:

"Barangsiapa yang belajar tanpa guru (mursyid), maka gurunya adalah setan."

Buku, radio, TV, dan Internet adalah wasilah yang Allah hamparkan untuk manusia. Manusia di sini, termasuk Pecinta Shalawat juga. Namun, jika memang ternyata dia bukan manusia, maka wajarlah jika berpemikiran seperti itu. Media belajar itu banyak dan tidak bisa dihukumi 'tidak boleh' begitu saja. Memang, jika seseorang hanya membaca buku tanpa pernah berguru pada guru, ia berpotensi tersesat. Tapi, rata-rata dari mereka (pelajar 'kemaren') juga punya guru. Guru-guru mereka pun bagus-bagus insya Allah. Bahkan, 2 bulan konsentrasi keras untuk menggali faedah dari 10 kitab bisa jauh lebih baik dari bertahun-tahun berguru namun ujung-ujungnya tetap terlihat tidak lebih berkembang dari segi kejiwaan dibanding anak-anak TPA yang belajar Iqra'.

---

Perkataan beliau: (mereka baru belajar agama 'Kemaren' sudah berani memandang dan menuduh sesat ajaran-ajaran Islam yang selama ini sudah dilakukan oleh 'Mayoritas' ummat Islam di Seluruh Dunia yang 'mengikuti' Ulama-Ulama' Besar yang terkenal berabad-abad karena keluasan dan kedalaman pemahaman ilmu Syariah/Agama Islam) adalah hal yang boleh ditertawai oleh kaum muslimin.

Mayoritas bukanlah alasan sesuatu menjadi benar. Seperti, jika mayoritas kaum muslimin di Indonesia percaya klenik dan perdukunan, maka apakah itu menjadi benar? Mayoritas kaum muslimin di Indonesia kurang bagus membaca Al-Qur'an, maka apakah kekurangbagusan tersebut adalah kebenaran dan kewajaran?

Bagusnya, beliau mentaqyiid 'mayoritas muslimin sedunia' dengan kalimat 'yang 'mengikuti' Ulama-Ulama' Besar etc'. Semakin kuat distorsi dan kepura-puraannya. Semua kyai akan mengklaim sebagai pengikut para ulama-ulama besar. Bahkan, semua dukun putih juga begitu. Namun, realisasi dalam realitas mereka kan tidak mesti seragam. Apalagi dukun putih. Masak bertahun-tahun belajar tidak bisa memahami hal semacam ini? Kalah oleh mereka yang baru belajar 'kemaren' namun sudah mampu menerawang hal semacam ini.

Kenapa beliau tidak bisa menerawangnya?

Karena: [1] Taqlid Buta, atau [2] Hati Buta. Atau kita beri opsi ketiga: [3] Jahil (tidak tahu). Dan tiada satupun dari ketiga kemungkinan tersebut, melainkan menghadirkan rasa iba dan kasihan. Bertahun-tahun belajar kok imma taqlid buta (kapan jadi mujtahidnya?!), imma hati buta (kapan hidup hatinya?!), imma jahil (kapan ngertinya?!). Jika terus-terusan bertaqlid buta, maka jadilah beo selamanya. Jika terus-terusan berhati buta, maka matilah hati selamanya. Jika terus-terusan jahil, kelak akan merasa bangga dengan kejahilannya.

---

Perkataan beliau: (Bukankah Ulama itu Pewaris Nabi? Siapakah yang 'lebih paham' dalam Syariah?) justru seharusnya diukir di kaca rumahnya atau cermin kamarnya sendiri. Karena justru pertanyaan itulah yang selama ini banyak orang ingin menanyakannya pada orang semacam beliau.

Ketika Rasulullah mengatakan 'semua bid'ah sesat', juga beberapa riwayat dari atsar para sahabat, pula tabi'in mengatakan senada itu, kenapa pada ikut-ikutan mengatakan 'sebagian bid'ah itu hasanat'?! Coba tanyakan:

"Siapakah yang 'lebih paham' dalam Syariah? Kaum salaf, ulama setelahnya, kyaimu atau kamu yang secara 'wah' sudah belajar bertahun-tahun?"

Siapa yang lebih faham Syariah jika kaum yang paling faham Syariah justru tidak bertahlil, bershalawat dan Maulidan, tetapi malah sekarang pada berinovasi dalam beragama? Siapa yang lebih faham Syariah? Siapa yang lebih cinta Nabi? Siapa yang lebih cinta Shalawat? Kaum salaf, atau anti-pengikut kaum salaf?

Jika senang sekali Maulidan, kenapa tidak tanya pada diri sendiri, "Siapa yang lebih cinta Nabi, kaum salaf atau aku? Apakah kaum salaf maulidan?"

---

Perkataan beliau: "Apakah Ulama Besar Fiqih Seperti sosok Imam Syafi' yang yang memiliki keluasan dan pemahaman yang 'dalam' terhadap ilmu Syariah yang membagi bid'ah menjadi 2 yakni Bid'ah Mahmudah/terpuji dan Bid'ah Madzmumah/tercela, ataukah Bin Baz dan Al Bani yang merupakan orang baru yang berfatwa bahwa semua bid'ah itu sesat ?" adalah gambaran kedunguan yang sudah usang namun terasa segar bagi orang-orang yang memiliki satu dari 3 karakter atau ketiganya:

a. Taqlid Buta
b. Berhati Buta
c. Jahil


Kedunguan itu terletak pada puncaknya di kalimat pamungkas: "Bin Baz dan Al Bani yang merupakan orang baru yang berfatwa bahwa semua bid'ah itu sesat."

Karena yang mengatakan 'semua bid'ah itu sesat' adalah Nabi Muhammad! Pecinta Shalawat ini apa punya Nabi lain? Bagaimana jika dia melihat hadits yang menetapkan bahwa 'semua bid'ah itu sesat', apakah dia akan berpaling? Atau menuduh itu hadits buat-buatan Bin Baz dan Al-Albany? Atau, yang lebih ilmiah: lafazh 'kullu' di situ telah di-takhshiish, sehingga menimbulkan pengecualian di beberapa hal? Namun, pilihan yang ketiga ini tidak mungkin, karena beliau -dengan merasa sudah lama belajar ilmu syariat- secara mafhum menetapkan bahwa perkataan 'semua bid'ah itu sesat' adalah fatwa Bin Baz dan Al-Albany.

Lalu, kemana hadits ini:

وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

"dan semua bid’ah adalah sesat." [H.R. Muslim dan An-Nasa'i]

Lalu, kemana perkataan Ibnu Mas'ud (seorang sahabat, derajatnya jauh di atas kyai nasional siapapun dia):

إتبعوا ولا تبتدعوا فقد كفتيم زاد محاضر كل بدعة ضلالة

"Ikutilah (sunnah Nabi) dan janganlah kalian berbuat bid'ah. Telah cukup bagi kalian dengan bekal agama ini. Setiap bid'ah adalah kesesatan." [Syarhus Ushul Al-Itiqad Ahli Sunnah Wal Jamaah oleh al-Lalikai, jil. 1 ms. 96 no. 104]

Lalu, perkataan Ibnu Umar juga:

كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة

” [al-Lalika’i 1/103 no. 126) dan Ibnu
Semua bid’ah adalah sesat walaupun semua manusia menggap bid’ah itu hasanah (baik).
Battah (1/339 no. 205)]

Bin Baz dan Al-Albany -yang keduanya adalah 'kyai' internasional' dan lebih dikenal, lebih masyhur, lebih tinggi ilmunya, lebih banyak karyanya, hafalannya dan manfaatnya bagi kaum muslimin daripada kyai 'nasional'- mengikuti NABI dan PARA SAHABAT.

Kalau orang semacam Pecinta Shalawat ini tentu saja tidak mau ikut Nabi dan Para Sahabat jika ada pertentangan antara perkataan mereka dengan perkataan ulama yang derajatnya di bawah mereka. Bahkan, jika Imam Syafi'i berkata sesuatu yang tidak dikatakan oleh kyai nasional atau bahkan kyai kecamatan, yang diikuti adalah perkataan kyai nasional atau kecamatan.

Kayak begini ya yang namanya 'mengikuti ulama ahli syariat'?

Sebenarnya inti atau faktor terbesarnya cuma: 'karena kami Islam Tradisionalis'. Itu saja lah alasannya. Tidak perlu bawa-bawa madzhab Fiqh, ulama-ulama internasional, kyai-kyai keramat, habib-habib yang 'suci' (jika mengagungkan mereka), atau nama ormas. Cukup katakan:

"Islam kami Islam tradisionalis! Jika nash syariat berbenturan dengan tradisi kami, kami memilih tradisi!"

Maka, cocoklah ini untuk para Islamis Tradisionalis:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُوا۟ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُوا۟ بَلْ نَتَّبِعُ مَآ أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ ءَابَآءَنَآ ۗ أَوَلَوْ كَانَ ءَابَآؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْـًۭٔا وَلَا يَهْتَدُونَ

"Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (PERBUATAN) NENEK MOYANG kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?"" [Q.S. Al-Baqarah: 170]

Jika tidak 'kena' dengan ayat di atas, maka itu disebabkan salah satu dari 3 hal atau malah ketiganya:

[1] Taqlid Buta
[2] Hati Buta
[3] Jahil Buta


Silahkan kaum Islamis Tradisionalis memilih satu dari ketiganya saja. Namun, jika tidak memilih pun tidak apa-apa; karena tanpa memilih pun mereka sudah punya sifat sedemikiannya.

Ust.Hasan Al-jaizy

0 komentar:

Posting Komentar

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts