Senin, 08 April 2013



Kepada yang tercinta bundaku yang ku sayang.

Segala Puji bagi Alloh yang telah memuliakan kedudukan orang tua, dan telah menjadikan mereka berdua pintu tengah menuju surga.
Sholawat serta salam hamba yang lemah ini haturkan kepada Nai muhammad yang mulia, keluarga serta sahabatnya hingga hari kiamat. Amiin.

Ibu ..
Aku terima suratmu yang engkau tulis dengan tetesan air mata dan kesedihan. Aku telah membacanya, semuanya, tidak ada satu huruf pun yang aku sisakan. Tapi taukah engkau ibu bahwa aku membacanya semenjak sehabis sholat isyak, aku tutup pintu kamar, aku buka surat yang engkau tuliskan untukku dan baru aku selesaikan membacanya setelah ayam berkokok, setelah fajar terbit dan suara adzan pertama telah dikumandangkan

Sebenarnya surat yang engkau tulis tersebut, jika ditaruhkan didalam batu tentunya ia akan pecah, jika engkau letakkan ke atas daun yang hijau tentu ia pun akan kering.
Sebenarnya surat yang engkau tulis untukku itu bagaikan petir kemurkaan, jika dilecutkan kepohon, maka pohon itu akan rebah dan terbakar.
Suratmu wahai ibu bagaikan awan kaum tsamud yang datang berarak yang siap dimuntahkan isinya kepadaku.


Ibu …
Aku telah membaca suratmu, sedangkan airmataku tidak pernah berhenti, bagaimana tidak, jika surat itu ditulis oleh seseorang yang bukan ibuku dan bukan ditujukan pula kepadaku layaklah orang yang paling bebal akan menangis sejadi-jadinya. Bagaimana sekiranya ternyata yang menulis adalah engkau ibuku, dan surat itu ditujukan untukku sendiri anakmu.

Sungguh aku sering membaca kisah sedih, tidak terasa bantal yang dipakai untuk bersandar akan basah oleh air mata karenanya. Bagaimana dengan surat yang ibu tulis itu, bukan cerita yang ibu karang, atau sebuah drama yang ibu perankan, akan tetapi ini adalah kenyataan hidup yang ibu rasakan.

Ibuku yang kusayangi...
Sungguh berat cobaan yang ibu alami, sungguh malang penderitaanmu, semua apa yang telah engkau sebutkan adalah benar adanya, aku masih ingat ketika engkau ditinggalkan ayah dimasa engkau hamil tua mengandung adikku, ayah pergi entah kemana, tanpa meninggalkan uang belanja. Jadilah engkau mencari apa yang dapat dimasak disekitar rumah dari dedaunan dan buah-buahan. Kemudian dengan langkah yang berat engkau melangkah ke kedai untuk membeli ala kadarnya, sambil engkau membisikkan kepada penjual bahwa apa yang telah engkau ambil itu adalah hutang, yang engkau sendiri tidak tahu kapan engkau akan melunasinya.

Ibu …
Aku masih ingat ketika kami anak-anakmu menangis, meminta untuk dibuatkan makanan, engkau tiba-tiba menggapai atap dapur, untuk menggapai kerak nasi yang telah lama engkau jemur.

Ibu …
Maafkanlah anakmu ini, aku tahu bahwa semenjak engkau gadis, sebagaimana diceritakan oleh nenek, sampai engkau telah tua seperti sekarang ini, engkau belum pernah mengecap kebahagiaan. Duniamu hanya rumah, belum pernah aku melihatmu bergembira, kecuali ketika kami anak-anakmu bertandang mengunjungimu. Selain dari itu tidak ada kebahagiaan. Semua hidupmu adalah perjuangan. Semua hari-harimu adalah pengorbanan.

Ibu maafkanlah anakmu ini...
Semenjak engkau pilihkan untukku wanita yang telah engkau puji kemuliaan dan akhlaknya, yang telah engkau sanjung keturunan dan negerinya, semenjak itu pula aku seakan akan lupa denganmu, keberadaan dia sebagai istriku telah melupakan posisi engkau sebagai ibuku. Senyuman dan sapaannya telah melupakan aku dari himbauanmu.

Ibu ...
Aku tidak menyalahkan wanita pilihanmu tersebut, tidak. Karena kewajibannya untuk menunaikan tanggungjawabnya sebagai istri. Aku berharap pada permasalahan ini, engkau tidak membawa-bawa namanya, dan mengaitkan kedurhakaanku kepadamu karenanya, karena selama ini dimataku dia adalah istri yang baik, istri yang selalu berupaya berbuat banyak untuk suami dan anaknya. Istri yang selalu menyuruh untuk taat dan berbakti kepada kedua orang tua.

Ibu …
Ketika seorang laki-laki menikah dengan seorang wanita, maka seolah-olah dia mendapatkan mainan yang baru, seperti anak kecil yang mendapatkan boneka atau orang-orangan. Maafkan aku ibu, aku tidaklah membela diriku, karena dari awal dan akhir pembicaraan ini kesalahan ada padaku anakmu ini. Akan tetapi aku ingin menerangkan keadaan yang aku alami. Perubahan suasana yang engkau dan aku berpisah tidak satu atap lagi.

Ibu …
Perkawinanku membawaku memasuki dunia baru. Dunia yang selama ini tidak aku kenal. Dunia yang hanya ada aku, istriku dan anak-anakku. Bagaimana tidak, istri yang baik, anak-anak yang lucu. Maafkan aku ibu, maafkan aku anakmu ini, aku merasa dunia hanya milik kami, aku tidak peduli keadaan orang lain, yang penting bagiku adalah keadaan mereka, anak-anak dan istriku.

Ibu maafkan aku, ampunkan aku, aku telah lalai, aku telah alpa, aku telah lupa, aku menyia-nyiakanmu, aku pernah mendengar kajian :

”Bahwa orang tua difitrahkan untuk cinta kepada anaknya.
Akan tetapi anak-anak difitrahkan untuk menyia-nyiakan orang tuanya.”

Ibu, anak difitrahkan untuk menyia-nyiakan orang tuanya, difitrahkan. Oleh sebab itu dilarang mencintai anak secara berlebihan, sebagaimana anak dilarang berbuat durhaka kepada oarang tuanya.

Itulah yang terjadi pada diriku ibuku.

Aku pasti akan gila ketika melihat anakku sakit, aku seperti orang kebingungan ketika mereka sakit, tetapi itu sulit aku rasakan jika hal itu terjadi padamu. Wahai ibuku.

Ibu …
Sulit aku merasakan persaanmu ibu, sulit.
Kalaulah bukan karena bimbingan agama yang telah engkau talqinkan kepadaku, tentu... tentu aku akan seperti kebanyakan anak-anak yang telah durhaka kepada orang tuanya.
Kalaulah bukan karena baktimu pula kepada orang tuamu dan orang tua ayah, niscaya aku tidak akan pernah mengenal arti bakti kepada orang tua.

Ibu …
Setelah suratmu datang baru aku mengerti, baru aku mengerti, karena selama ini hal itu tidak pernah engkau ungkapkan, semuanya engkau simpan dalam-dalam seperti semua permasalahan yang berat yang kau hadapi selama ini.
Sekarang baru aku mengerti wahai ibu bahwa hari yang sulit bagi seorang ibu adalah hari dimana anak laki-lakinya telah menikah dengan seorang wanita. Wanita yang telah mendapat keberuntungan, bagaimana tidak, dia dapatkan seoarang laki-laki yang telah matang pribadinya dan matang ekonominya dari seorang ibu yang telah letih membesarkannya. Sekarang dengan ikhlas dia berikan kepada seorang wanita yang tidak ada hubungan apa-apa dengannya, kecuali hubungan dua wanita yang saling berebut perhatian seorang laki-laki. Dia sebagai anak dari ibunya dan dia sebagai suami dari istrinya.

Ibuku sayang …

Maafkan aku, ampunkan diriku
Satu tetes airmatamu adalah lautan api neraka bagiku
Janganlah engkau menagis
Janganlah engkau menangis lagi
Janganlah engkau berduka lagi
Karena duka dan tangismu
menambah dalam jatuhku kedalam neraka.
Aku takut ibu, takut …

Kalau akan itu pula yang aku peroleh,
kalaukah neraka pula yang aku dapatkan,
izinkan aku membuang semua kebahagiaanku selama ini
demi hanya untuk dapat menyeka air matamu

Kalaulah engkau murka kepadaku,
izinkan aku datang kepadamu memabawa segala yang aku miliki
lalu menyerahkannya kepadamu,
lalu terserah engkau, terserah engkau, mau kau perbuat apa.

Sungguh ibu dari hati aku katakan aku tidak mau masuk neraka, sekalipun aku memiliki kekuasaan fir’aun, dan kekayaan Qorun, dan keahlian hamman, niscaya tidak akan aku tukar kesengsaraan diakhirat sekalipun sesaat. Siapa pula yang tahan dengan adzab neraka wahai bunda. Maafkan, maafkan aku anakmu ini wahai ibu.

Adapun sebutanmu tentang keluhan dan pengaduan kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, bahwa engkau belum mau mengangkatnya ke langit, bahwa engkau belum lagi mau berdo’a kepada Alloh akan kedurhakaanku.

Maka ampun wahai ibu,
kalaulah itu yang terjadi,
doa itu tersampaikan kelangit,
salah pula ucap lisanmu,
apalah jadinya nanti diriku,
tentu aku akan menjadi tunggul yang tumbang disambar petir,
apa gunanya kemegahan sekiranya engkau doakan atasku kebinasaan,
tentu aku akan menjadi pohon yang tidak berakar ke bumi,
dan dahannya tidak bisa sampai ke langit
Sedangkan ditengahnya dimakan kumbang.

Kalaulah doamu terucap atasku wahai ibunda
Maka tidak ada lagi gunanya hidup ini
Tidak ada gunanya kekayaan
Tidak ada gunanya banyak pergaulan

Ibu…
Dalam sepanjang sejarah anak manusia yang kubaca, maka tidak ada orang yang berbahagia setelah kena kutuk orang tua, itu di dunia, maka aku tidak dapat bayangkan bagaimanakah nasibnya di akhirat tentu ia lebih sengsara.

Ibu…
Setelah membaca suratmu baru aku menyadari kekhilafan, kealpaan dan kelalaianku. Ibu, pasti suratmu akan aku jadikan pegangan dalam hidupku. Setiap kali aku lalai dalam berkhidmat kepadamu, akan kubaca ulang kembali, akan ku simpan dalam lubuk hatiku, sebelum aku menyimpannya dalam kotak wasiat. Akan aku sampaikan kepada anak keturunanku bahwa ayah mereka dahulu pernah lalai didalam berbakti, lalu dia sadar dan kembali kepada kebenaran, ayah mereka pernah berbuat salah, sehingga ia telah menyakiti hati orang yang seharusnya ia cintai, dan kemudian ia kembali kepada petunjuk.

Bunda...
Tua, engkau berbicara tentang tua wahai ibunda, siapa yang tidak mengalami ketuaan. Wahai ibu, burung elang yang terbang diangkasa tidak pernah bermain kecuali ditempat yang tinggi, suatu saat nanti ia akan jatuh jua. Dikejar dan diperebutkan oleh burung-burung kecil. Singa, si raja hutan yang selalu memangsa jika sudah tua dia akan dikejar anjing-anjing kecil tanpa ada perlawanan. Tidak ada kekuasaan yang kekal, tidak ada kekayaan yang abadi, yang tersisa hanya amal baik dan amal buruk, yang kelak dipertanggung jawabkan

Ibu…
Doakan anakmu ini agar menjadi anak yang berbakti kepadamu di masa dimana banyak anak tlah durhaka kepada orang tuanya
Angkatlah ke langit munajtmu untukku
Agar aku peroleh kebahagiaan abadi dunia dan akhirat

Ibu…,Sesampainya surat ini

Insya Alloh ...
Tidak ada lagi air mata yang jatuh karena ulah anakmu
Setelah in tiada lagi kejauhan antara aku denganmu
Bahagianmu adalah bahagianku
Kesediahanmu adalah kesedihanku
Senyummu adalah senyumku
Tangismu adalah tangisku

Aku berjanji untuk selalu berbakti kepadamu buat selamanya dan aku berharap agar aku dapat membahagiakanmu selamanya, selagi mataku masih bisa berkedip, maka bahagiakanlah dirimu, buanglah segala kesedihanmu, cobalah tersenyum, ini kami, aku istri, dan anak-anak sedang bersiap-siap untuk bersimpuh dihadapanmu, dan mencium tanganmu, salam hangat dari anakmu yang durhaka.

Wallohu Ta’ala A’lam

 Ditulis Ulang dari Buku : Kututip Surat Ini Untukmu, karya Ustadz Armen Halim Naro Rohimahulloh

0 komentar:

Posting Komentar

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts