Kamis, 18 April 2013




Siapa ingin selamat dari kehinaan dan pertanyaan (hisab) pada Hari Kiamat, ia harus meng-hisab dirinya di dunia sebelum di-hisab di Akhirat. Itulah yang diwanti – wanti Allah Ta’ala pada kita saat berfirman,
يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَ لْتَنْظُرْ نَفْسٌ ما قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبيرٌ بِما تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang ber­iman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah se­tiap diri, memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS Al- Hasyr :18)

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu memahami makna ayat di atas dengan mendalam. Ia berkata kepada rakyatnya,” Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap – siaplah menghadapi hari kiamat.” (Tarikhu Umar, Ibnu Al- Jauzi, hal 201)

Generasi shahabat punya tradisi meng-hisab diri mereka, karena takut ditanya Allah ta’ala pada hari kiamat. Amir bin Abdullah berkata,” Aku pernah melihat dan bersahabat dengan sejumlah shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Mereka bercerita kepadaku bahwa bahwa orang paling beriman pada hari Kiamat ialah orang yang paling sering meng-hisab dirinya.” ( Az – Zuhdu, Imam Ahmad, hal 226)

Pasca Shahabat, datanglah periode tabi’in yang mengerjakan apa yang tadinya dikerjakan generasi pertama Islam. Dikisahkan, Al-Hasan Al - Bashri rahimahullah menangis pada suatu malam, hingga membuat tetangga – tetangganya ikut menangis. Esok paginya, salah seorang tetangga datang kepada Al- Hasab Al- Bashri rahimahullah dan berkata kepadanya,” Tadi malam, engkau membuat keluarga kami menangis.” Al –Hasan Al- Bashri rahimahullah berkata kepada tetangganya itu,” Tadi malam aku berkata kepada diriku,’ Hai Hasan, barangkali Allah melihat sebagian aibmu, lalu Allah berfirman, kerjakan apa saja, tapi Aku tidak menerimanya sama sekali.” ( Az – Zuhdu, Imam Ahmad, hal 280)

Mereka hidup dengan muhasabah dan bahagia dengan kedalaman iman seperti itu. Mereka tahu apa yang dikehendaki Allah Ta’ala pada mereka dan mereka Al-Qur’an yang bergerak. Satu orang dari mereka sama seperti seribu atau lebih orang dari kita. Jika kita ingin kejayaan dikembalikan kepada kita, maka tidak ada pilihan selain menapaktilasi jejak – jejak mereka. Adakah di antara kita yang mau mengerjakannya?

Wallahul Muwaffiq


0 komentar:

Posting Komentar

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts