Kamis, 25 April 2013

diringkas dari http://al-atsariyyah.com
Tanya :
Bismillah…Apakah surga dan neraka sudah ada penghuninya?

Jawab :
Masalah ini memang ada perbedaan pendapat di kalangan ahlussunnah, ada yang menetapkan, ada yang menafikan, dan ada juga yang tidak senang menyinggung masalah ini.
Adapun dalil yang menjadi hujjah bagi yang menetapkan adanya  penghuni Syurga saat ini adalah riwayat dari ‘Imran bin Husain dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda,

اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ

“Aku mendatangi, surga maka kulihat kebanyakan penduduknya adalah para faqir dan aku mendatangi neraka maka aku lihat kebanyakan penduduknya para wanita”. (HR. Al Bukhari no. 3002 dan Muslim no. 4920 dari Ibnu Abbas)
 
Hadits ini diberikan judul bab oleh Imam Al Bukhari: Bab keterangan tentang sifat Syurga dan bahwasanya dia telah tercipta. Maka ini menunjukkan bahwa Al Bukhari memahami kalau apa yang dilihat oleh Nabi   'alaihishshalaatu wassalaam  adalah kejadian ketika itu, bukan kejadian yang akan datang setelah hari kiamat atau sekedar penggambaran semata. Demikian pula Imam Ahmad berdalil dengan hadits semacam ini untuk menunjukkan bahwa surga dan neraka sudah ada sekarang, sebagaimana yang beliau sebutkan dalam Ushul As Sunnah.

Juga di antara dalil yang menguatkan hal ini adalah bahwa roh para Syuhada sudah berada di dalam surga dan juga Nabi  'alaihishshalaatu wassalaam  pernah melihat Amr bin Luhai  orang yang pertama kali memasukkan penyembahan berhala ke Jazirah Arab  sedang menyeret ususnya di Neraka. (HR. Al Bukhari no. 1136 dan Muslim no. 5096)

Dan dalam Shahih Al Bukhari no. 4826 dan Muslim no. 4408 bahwa beliau bertanya tentang pemilik istana di dalam surga, maka ada seorang wanita  dalam riwayat Muslim: Ada sekelompok orang  yang menjawab bahwa itu miliknya Umar. Maka ini juga menunjukkan Surga sudah dihuni.

Jika ada yang mengatakan: Bukankah manusia nanti akan masuk surga dan neraka setelah melewati hisab dan sirath, sementara hisab dan shirath hanya ada setelah hari kiamat?
Maka kami katakan: Wallahu a’lam, ini termasuk perkara ghaib yang kita tidak punya ilmu padanya. Kami menetapkan apa yang ditetapkan oleh syariat dan menafikan apa yang dinafikan oleh syariat.
Wallahul muwaffiq.

Allahu a’lam bish shawab.



Selasa, 23 April 2013

Sumber : www.dakwahsunnah.com/artikel/targhibwatarhib/322-rahasia-doa-yang-sering-dibaca-syeikh-abdurrazzaq-hafizhahullah-dalam-setiap-ceramah

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:
Saudaraku seiman
Bagi yang memperhatikan ceramah-ceramah yang disampaikan oleh Syeikh Prof. DR. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr hafizhahullah, senantiasa akan mendengar baik di awal atau di akhir ceramah, beliau menyebutkan doa-doa dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan diantara doa yang beliau sebutkan adalah:

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى وَأَصْلِحْ لِى دُنْيَاىَ الَّتِى فِيهَا مَعَاشِى وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى فِيهَا مَعَادِى وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِى فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ شَرٍّ

Artinya: “Wahai Allah, perbaikilah agamaku yang ia adalah penjaga perkaraku dan perbaikilah untukku duniaku yang di dalamnya kehidupanku dan perbaikilah akhiratku yang di dalamnya tempat kembaliku dan jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan untukku di dalam setiap kebaikan dan jadikanlah kematian ini sebagai istirahat untukku dari setiap keburukan.” HR. Muslim.

Berkata Ath Thibi menjelaskan hadits ini:

إصلاح المعاد اللطف والتوفيق على طاعة الله وعبادته وطلب الراحة بالموت فجمع في هذه الثلاثة صلاح الدنيا والدين والمعاد وهي أصول مكارم الأخلاق
 
“Di dalam hadits ini terdapat; perbaikan akhirat, kelembutan dan petunjuk untuk taat dan ibadah kepada Allah dan meminta kenyamanan dengan kematian, maka terkumpullah di dalam tiga perkara ini, kebaikan dunia, agama dan akhirat dan ia adalah pokok dasar dari akhlak yang mulia.” Lihat kitab At Taisir Bi Syarh Al Jami’ Ash Shaghir, karya Al Munawi, 1/441.
Berkata Ash Shan’ani menjelaskan hadits ini:
تضمن الدعاء بخير الدارين

“Doa ini mengandung kebaikan dua kampung(;dunia dan akhirat).” Lihat kitab Subul As Salam, 4/223.

Dan Doa yang sering beliau baca juga adalah, doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi:

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِى إِلَى نَفْسِى طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِى شَأْنِى كُلَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Wahai Allah, dengan rahmat-Mu aku berharap , janganlah sandarkan diriku kepadaku walau sekejap matapun dan perbaikilah keadaanku seluruhnya, sungguh tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Engkau.” HR. Abu Daud dan Ahmad.

Berkata Al Munawi menjelaskan hadits ini:

(دعوات المكروب) أي المغموم المحزون أي الدعوات النافعة له المزيلة لكربه والكرب بفتح فسكون ما يدهم المرء مما يأخذ بنفسه ويغمه ويحزنه (اللهم رحمتك أرجو فلا تكلني إلى نفسي طرفة عين وأصلح لي شأني كله لا إله إلا أنت) ختمه بهذه الكلمات الحضورية الشهودية إشارة إلى أن الدعاء إنما ينفع المكروب ويزيل كربه إذا كان مع حضور وشهود ومن شهد لله بالتوحيد والجلال مع جمع الهمة وحضور البال فهو حري بزوال الكرب في الدنيا والرحمة ورفع الدرجات في العقبى

“Maksud dari “Da’awatul Makrub” adalah doanya seorang yang resah dan sedih yaitu doa-doa yang bermanfaaat untuknya menghilangkan kesulitan yang menyulitkan dirinya, meresahkan dan menyedihkannya.
Maksud dari 

“اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِى إِلَى نَفْسِى طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِى شَأْنِى كُلَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ”

adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengakhiri doa ini dengan kalimat-kalimat yang hadir dan dalam bentuk menyaksikan (yaitu dengan redaksi perkataan yang seakan berbicara langsung kepada Allah), hal ini adalah menunjukkan bahwa doa hanya akan bermanfaat untuk seorang yang dalam kesulitan dan akan menghilangkan kesulitannya, jika bersamaan dengan sikap hadir dan kesaksian, barangsiapa yang bersyahadat untuk Allah dengan mentauhidkan dan mengagungkan-Nya yang disertai dengan terkumpulnya tekad dan hadirnya hati, maka diharapkan dengan sangat lenyapnya kesulitan di dunia serta mendapatkan rahmat dan pengangkatan derajat di akhirat.” Lihat kitab Faidh Al Qadir, 3/702.

Sungguh pemilihan doa yang jitu, karena di dalam dua doa ini terdapat:
  1. Meminta kebaikan dalam beragama karena jika beragama baik maka akan berpengaruh kepada kebaikan dalam perkara dunia dan jika perkara beragama dan dunia baik maka dengan rahmat Allah akan mendapat kehidupan akhirat yang baik.
  2. Meminta kebaikan dunia akhirat yang setiap makhluk sangat menginginkannya
  3. Meminta dijauhkan dari setiap resah, gundah, galau, sedih karena manusia hidupnya tidak lepas dari resiko, bahaya dan ujian.
Jazakumullah khairan wahai Syeikh Abdurrazzaq wa hafizhakum, telah mengajarkan sunnah kepada kami umat Islam dengan tingkah lakumu bukan hanya dengan perkataanmu.

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
Senin, 12 Jumadats Tsaniyah 1434H, Dammam KSA.

Senin, 22 April 2013


Artikel www.muslim.or.id
Di antara tanda hati yang sakit adalah hamba sulit untuk merealisasikan tujuan penciptaan dirinya, yaitu untuk mengenal Allah, mencintai-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, kembali kepada-Nya dan memprioritaskan seluruh hal tersebut daripada seluruh syahwatnya. Akhirnya, hamba yang sakit hatinya lebih mendahulukan syahwat daripada menaati dan mencintai Allah sebagaimana yang difirmankan Allah ‘azza wa jalla,
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلاً
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (QS. Al Furqan: 43).

Beberapa ulama salaf menafsirkan ayat ini dengan mengatakan,

هو الذي كلما هوى شيئا ركبه . فيحيا في هذه الحياة الدنيا حياة البهائم لا يعرف ربه عز وجل ولا يعبده بأمره ونهيه كما قال تعالى :
 ( يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوىً لَهُمْ)(محمد: من الآية12)

“Orang yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah dia yang senantiasa menunggangi hawa nafsunya, sehingga kehidupan yang dijalaninya di dunia ini layaknya kehidupan binatang ternak, tidak mengenal Rabb-nya ‘azza wa jalla, tidak beribadah kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, persis seperti firman Allah ta’ala (yang artinya), ‘Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka’ (QS. Muhammad: 12).”

Pada akhirnya, balasan sesuai dengan perbuatan, sebagaimana di dunia dia tidak menjalani kehidupan yang dicintai dan diridhai Allah ‘azza wa jalla, dia menikmati seluruhnya dan hidup menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat kepada-Nya, maka demikian pula di akhirat kelak, dia akan menjalani kehidupan yang tiada kebahagiaan di dalamnya, dirinya tidak akan mati sehingga terbebas dari adzab yang menyakitkan. Dia tidak mati, tidakpula hidup,

يَتَجَرَّعُهُ وَلا يَكَادُ يُسِيغُهُ وَيَأْتِيهِ الْمَوْتُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٍ وَمِنْ وَرَائِهِ عَذَابٌ غَلِيظٌ
“Diminumnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati, dan dihadapannya masih ada azab yang berat” (QS. Ibrahim: 17).

Diantara tanda hati yang sakit adalah pemiliknya tidak merasa terluka akibat tindakan-tindakan kemaksiatan sebagaimana kata pepatah ‘وما لجرح بميت إيلام’, tidaklah menyakiti, luka yang ada pada mayat. Hati yang sehat akan merasa sakit dan terluka dengan kemaksiatan, sehingga hal ini melahirkan taubat dan inabah kepada Rabb-nya ‘azza wa jalla. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala,
إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya” (QS. Al A’raaf: 201).

Allah berfirman ketika menyebutkan karakter orang beriman,


“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” (QS. Ali Imran: 135).

Maksudnya adalah ketika mereka bermaksiat, mereka mengingat Allah ‘azza wa jalla, ancaman dan siksa yang disediakan oleh-Nya bagi pelaku kemaksiatan, sehingga hal ini mendorong mereka untuk beristighfar kepada-Nya.

Penyakit hati justru menyebabkan terjadinya kontinuitas keburukan seperti yang dikemukakan oleh al-Hasan ketika menafsirkan firman Allah,

كلا بل ران على قلوبهم ما كانوا يكسبون
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka” (QS. Al Muthaffifin: 14).

Beliau mengatakan,

هو الذنب على الذنب حتى يعمى القلب أما سليم القلب فيتبع السيئة الحسنة والذنب التوبة
“Hal itu (rahn) adalah dosa di atas dosa yang membutakan hati. Adapun hati yang salim justru akan melahirkan perbuatan yang baik setelah dulunya berbuat buruk, melahirkan taubat setelah dulunya berbuat dosa.”

Di antara tanda penyakit hati adalah pemiliknya tidak merasa risih dengan kebodohannya terhadap kebenaran. Hati yang salim akan merasa resah jika muncul syubhat di hadapannya, merasa sakit dengan kebodohan terhadap kebenaran dan ketidaktahuan terhadap berbagai keyakinan yang menyimpang. Kebodohan merupakan musibah terbesar, sehingga seorang yang memiliki kehidupan di dalam hati akan merasa sakit jika kebodohan bersemayam di dalam hatinya. Sebagian ulama mengatakan,
ما عصى الله بذنب أقبح من الجهل ؟
“Adakah dosa kemaksiatan kepada Allah yang lebih buruk daripada kebodohan?”

Imam Sahl pernah ditanya,

يا أبا محمد أي شيء أقبح من الجهل؟ قال ” الجهل بالجهل ” ،قيل : صدق لأنه يسد باب العلم بالكلية
“Wahai Abu Muhammad, adakah sesuatu yang lebih buruk daripada kebodohan? Dia menjawab, “Bodoh terhadap kebodohan.” Kemudian ada yang berkata, “Dia benar, karena hal itu akan menutup pintu ilmu sama sekali.”
Ada penyair yang berkata,

وفي الجهل قبل الموت موت لأهله             وأجسامهم قبل القبور قبور
وأرواحهم في وحشةٍ من جسومهم           وليس لهم حتى النشور نشور

Kebodohan adalah kematian sebelum pemiliknya mati,

tubuh mereka layaknya kuburan sebelum dikuburkan

Kepada tubuh yang semula, ruh mereka ingin kembali,

padahal bagi mereka, tidak ada kebangkitan hingga hari kebangkitan
Di antara tanda penyakit hati adalah pemiliknya berpaling dari nutrisi hati yang bermanfaat dan justru beralih kepada racun yang mematikan, sebagaimana tindakan mayoritas manusia yang berpaling dari al-Quran yang dinyatakan Allah sebagai obat dan rahmat dalam firman-Nya,

وننزل من القرآن ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين
“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman…” (QS. Al Isra: 82).

Mereka justru berpaling mendengarkan lagu yang menumbuhkan kemunafikan dalam hati, menggerakkan syahwat dan mengandung kekufuran kepada Allah ‘azza wa jalla. Pada kondisi ini, hamba mendahulukan kemaksiatan karena kecintaannya kepada sesuatu yang dimurkai oleh Allah dan rasul-Nya. Dengan demikian, mendahulukan kemaksiatan merupakan buah dari penyakit hati dan akan menambah akut penyakit tersebut. Sebaliknya, hati yang sehat justru akan mencintai apa yang dicintai Allah dan rasul-Nya sebagaimana firman-Nya,

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْأِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ
“Tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus” (QS. Al Hujuraat: 7).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا
“Orang yang ridhal Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai rasul, niscaya akan merasakan kelezatan iman.” ( HR. Muslim ).

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga diriku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Diantara tanda penyakit hati, pemiliknya condong kepada kehidupan dunia, merasa enjoy dan tenteram dengannya, tidak merasa bahwa sebenarnya dia adalah pengembara di kehidupan dunia, tidak mengharapkan kehidupan akhirat dan tidak berusaha mempersiapkan bekal untuk kehidupannya kelak disana.

Setiap kali hati sembuh dari penyakitnya, dia akan beranjak untuk condong kepada kehidupan akhirat, sehingga keadaannya persis seperti apa yang disabdakan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل
Hiduplah di dunia ini seakan-akan engkau orang asing atau orang yang sekedar menumpang lewat” ( HR. Bukhari).

Wallahul muwaffiq.
Dikutip dari al-Bahr ar-Raiq karya Syaikh Ahmad Farid


Penyusun: Muhammad Nur Ichwan Muslim

Minggu, 21 April 2013

Oleh: Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan


Asy Syaikh ditanya tentang memakai baju yang dipakai orang-orang kafir di mana di bagian punggungnya terdapat nama olahragawan (pemain bola) kafir tanpa meniatkan tasyabbuh (meniru kebiasaan) mereka. Maka beliau hafidzhahullah menjawab:
“Perbuatan ini termasuk pengagungan terhadap orang kafir. Selama ia memakai baju yang terdapat nama orang kafir atau gambarnya, maka ini termasuk pengagungan terhadap orang kafir. Tidak diperbolehkan. Minimal hukumnya adalah HARAM. Dan apabila ia memang berniat mengagungkannya, dikhawatirkan ia jatuh dalam KEMURTADAN.
Na’am.

Teks Arab:
يقول فضيلة الشيخ وفقكم الله : الذي يلبس ما يلبسه الكفار ويكون على ظهره في لباسه اسم لا عب كافر ولا ينوي التشبه بذلك أو بهم ؟
العلامة صالح الفوزان حفظه الله :
هذا تعظيم للكافر ، مادام يلبس الثوب الذي عليه اسم الكافر أو صورته هذا تعظيم للكافر ، فلا يجوز هذا أقل أحواله أنه محرم ، وإن كان يعظمه يخشى على ردته . نعم

Sumber:
http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=120239

Jumat, 19 April 2013


http://muslimafiyah.com/godaan-setan-nikmatnya-tidur-ketika-khutbah-jumat.html
Sebagian orang merasa heran, mengapa ketika jum'atan dimulai maka mata mulai terasa berat dalam sekejab saja memejamkan mata, ia langsung tertidur dengan tidur yang sangat pulas walaupun dengan keadaan duduk. Akan tetapi ketika shalat jumat telah selsai maka rasa kantuk hilang dan badan terasa segar kembali.
Peringatan agar tidak tidur ketika shalat jum'at
Tidur ketika shalat jum'at merupakan hal yang dibenci oleh para salaf.
Seorang Ulama di kalangan tabi’in, Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata,
كانوا يكرهون النوم والإمام يخطب ويقولون فيه قولا شديدا. قال ابن عون: ثم لقيني بعد ذلك فقال: تدري ما يقولون؟ قال: يقولون مثلهم كمثل سرية أخفقوا
 “Mereka (para sahabat) membenci orang yang tidur ketika imam sedang berkhutbah. Mereka mencela dengan celaan yang keras.”
Ibnu Aun mengatakan, saya bertemu lagi dengan Ibnu Sirin. Beliau pun bertanya, “Apa komentar sahabat tentang mereka?” Ibn Sirin mengatakan,
“Mereka (para sahabat) berkata, orang semisal mereka (yang tidur ketika mendengarkan khutbah) seperti pasukan perang yang gagal. (tidak menang dan mendapatkan ghanimah).” [1]

Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata,
أَن النَبيَ صَلى اللهُ عَليه وَسَلمَ نَهَى عَنْ الْحَبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang duduk memeluk lutut pada hari ketika imam sedang berkhutbah.” [2]

Imam Al-Khattabi rahimahullah berkata,
نهى عنها لأنها تجلب النوم فتعرض طهارته للنقض، ويمنع من استماع الخطبة
Perbuatan ini dilarang, karena ini bisa menyebabkan ngantuk, sehingga bisa jadi wudhunya batal (jika tertidur sangat pulas, adapun hanya tidur ringan maka tidak batal, pent), dan terhalangi mendengarkan khutbah.”[3]
Beberapa arahan agar tidak tertidur ketika khutbah Jum'at
1. Menghadapkan muka ke arah khatib
Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,
قَالَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ كَانَ رَسُولُ اللهِ إِذَا اسْتَوَى عَلَى الْمِنْبَرِ اسْتَقْبَلْنَاهُ بِوُجُوهِنَا.
“Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam sudah berdiri tegak di atas mimbar, maka kami langsung menghadapkan wajah kami ke arah beliau.”[4]
2. Berusaha konsentrasi mendengarkan khutbah
Yaitu menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi/menghilangkan konsentrasi seperti memainkan ujung baju, mengelupas kuku, memainkan kunci dan lain-lain.bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا.
“Barangsiapa yang memegang (memain-mainkan) batu kerikil berarti dia telah berbuat sia-sia.”[5]
3. Pindah tempat jika mengantuk
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الجُمُعَةِ فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ
Apabila kalian ngantuk pada hari Jum'at, maka berpindahlah dari tempat duduknya.”[6]
4. Mandi sebelum shalat Jum'at
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
غُسْل يوم الجُمُعة واجبٌ على كلِّ محتلم
Mandi pada hari Jumat, wajib bagi setiap orang yang sudah baligh.”[7]
5. Hendaknya khatib adalah orang yang berilmu dan meringkas khutbah
Jika khatib ilmu yang kurang kemudian penyampaiannya juga kurang bagus, maka khutbah menjadi kurang menarik bahkan bisa jadi seperti “dongeng pengantar tidur di siang hari”. Dan hendaknya khutbah jangan terlalu lama sehingga membuat jamaah jenuh dan mengantuk.
Dari Jabir bin Samurah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,
كان رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لا يطيل الموعظة يوم الجمعة، إِنما هنّ كلمات يسيرات
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memperlama khutbahnya di hari Jum'at.  Yang beliau sampaikan hanya nasehat ringkas.”[8]
6. Membangunkan jika ada yang tidur
Perlu diperhatikan, membangunkan dengan tanpa suara. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah,
يستحب إيقاظهم بالفعل لا بالكلام، لأن الكلام في وقت الخطبة لا يجوز؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم:(إذا قلت لصاحبك أنصت يوم الجمعة والإمام يخطب فقد لغوت) متفق على صحته..
“Dianjurkan untuk membangunkan mereka dengan gerakan, tanpa ucapan. Karena berbicara ketika berkhutbah tidak dibolehkan. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila kamu berbicara kepada sampingmu “Diam”, pada hari Jumat dan imam sedang berkhutbah, berarti kamu telah berbuat sia-sia…”[9]
Tidur yang ringan tidak membatalkan wudhu ketika shalat Jumat
Sebagaiman pertanyaan yang diajukan kepada Al-Lajnah Ad-Daimah (semacam MUI di Saudi)
ما حكم الذين ينامون في خطبة الجمعة ولا يوقظهم إلا الإقامة؟
Apa hukum bagi mereka yang tidur ketika khutbah Jumat, ia tidak bangun kecuali ketika iqamat
إن النوم الخفيف الذي لا يزول معه الشعور لا ينقض الوضوء. فقد ثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يؤخر صلاة العشاء بعض الأحيان حتى كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم تخفق رءوسهم ثم يصلون ولا يتوضئون
Jawaban:
Tidur yang ringan di mana tidak hilang kesadaran (secara total, masih mendengar sayup-sayup suara khatib, pent) tidak membatalkan wudhu. Terdapat riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  terkadang mengakhirkan shalat isya sampai-sampai para sahabat menundukkan kepala (terkantuk-kantuk), kemudian mereka shalat dan tidak mengulang wudhu.[10]

@ Pogung Lor-Jogja, 2 Jumadas Tsani 1434 H
penyusun:  Raehanul Bahraen



[1] Tafsir al-Qurthubi 18/117, Darul Kutub Al-Mishriyah, Koiro, cet.II, syamilah
[2] HR. Abu Daud, Tirmidzi dan dihasankan al-Albani
[3]  Al-Majmu’  4/592, syamilah
[4] HR. At-Tirmidzi no. 509 dishahih oleh Al-Albani di Shahih At-Tirmidzi
[5] HR. Muslim no. 857
[6]  HR. Abu Daud, Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani
[7] HR. Bukhari dan Muslim
[8] HR. Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani
[10] Sumber: http://islamancient.com/play.php?catsmktba=24840

Kamis, 18 April 2013




Siapa ingin selamat dari kehinaan dan pertanyaan (hisab) pada Hari Kiamat, ia harus meng-hisab dirinya di dunia sebelum di-hisab di Akhirat. Itulah yang diwanti – wanti Allah Ta’ala pada kita saat berfirman,
يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَ لْتَنْظُرْ نَفْسٌ ما قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبيرٌ بِما تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang ber­iman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah se­tiap diri, memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS Al- Hasyr :18)

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu memahami makna ayat di atas dengan mendalam. Ia berkata kepada rakyatnya,” Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap – siaplah menghadapi hari kiamat.” (Tarikhu Umar, Ibnu Al- Jauzi, hal 201)

Generasi shahabat punya tradisi meng-hisab diri mereka, karena takut ditanya Allah ta’ala pada hari kiamat. Amir bin Abdullah berkata,” Aku pernah melihat dan bersahabat dengan sejumlah shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Mereka bercerita kepadaku bahwa bahwa orang paling beriman pada hari Kiamat ialah orang yang paling sering meng-hisab dirinya.” ( Az – Zuhdu, Imam Ahmad, hal 226)

Pasca Shahabat, datanglah periode tabi’in yang mengerjakan apa yang tadinya dikerjakan generasi pertama Islam. Dikisahkan, Al-Hasan Al - Bashri rahimahullah menangis pada suatu malam, hingga membuat tetangga – tetangganya ikut menangis. Esok paginya, salah seorang tetangga datang kepada Al- Hasab Al- Bashri rahimahullah dan berkata kepadanya,” Tadi malam, engkau membuat keluarga kami menangis.” Al –Hasan Al- Bashri rahimahullah berkata kepada tetangganya itu,” Tadi malam aku berkata kepada diriku,’ Hai Hasan, barangkali Allah melihat sebagian aibmu, lalu Allah berfirman, kerjakan apa saja, tapi Aku tidak menerimanya sama sekali.” ( Az – Zuhdu, Imam Ahmad, hal 280)

Mereka hidup dengan muhasabah dan bahagia dengan kedalaman iman seperti itu. Mereka tahu apa yang dikehendaki Allah Ta’ala pada mereka dan mereka Al-Qur’an yang bergerak. Satu orang dari mereka sama seperti seribu atau lebih orang dari kita. Jika kita ingin kejayaan dikembalikan kepada kita, maka tidak ada pilihan selain menapaktilasi jejak – jejak mereka. Adakah di antara kita yang mau mengerjakannya?

Wallahul Muwaffiq


Minggu, 14 April 2013

Apakahkah Suami Istri Kembali Bersatu Di Surga Kelak?

Artikel muslimah.or.id
Sumber: http://islamqa.info/ar/cat/181&page=1
Pertanyaan:
Akankah seorang istri akan berkumpul kembali dengan suaminya di surga kelak? Akankah mereka tinggal bersama-sama lagi?
Jawab:
Alhamdulillah,
1. Benar. Seorang istri akan bersatu kembali dengan suaminya di surga kelak bahkan bersama-sama anak keturunannya baik laki-laki dan perempuan selama mereka beragama Isalam (mentauhidkan Allah -pen). Hal ini didasarkan pada firman Allah Ta’ala,
والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء
” Dan orang-orang beriman, berserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan. Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga) dan kami tidak mengurangi sedkitpun pahala amal (kebajikan) mereka.” (QS. Ath Thur: 21).

Allah menceritakan diantara doa malaikat pemikul ‘Arsy,
ربنا وأدخلهم جنات عدن التي وعدتهم ومَن صلح مِن آبائهم وأزواجهم وذرياتهم إنك أنت العزيز الحكيم
“Ya Rabb kami masukanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang shalih diantara nenek moyang mereka, istri-istri dan anak keturunan mereka. Sungguh Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ghafir: 8)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,
“Allah Ta’ala akan mengumpulkan mereka berserta anak keturunannya agar menyejukkan pandangan mereka karena berkumpul pada satu kedudukan yang berdekatan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya,
“Dan orang-orang beriman, berserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan. Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga) dan kami tidak mengurangi sedikitpun pahala amal (kebajikan) mereka.”
Artinya, akan Kami samakan mereka pada satu kedudukan agar mereka (orang yg berkedudukan lebih tinggi-pen) merasa tenang. Bukan dengan mengurangi kedudukan  mereka yang lebih tinggi, sehingga bisa setara dengan mereka yang rendah kedudukannya, namun dengan kami angkat derajat orang yang amalnya kurang, sehingga kami samakan dia dengan derajat orang yang banyak amalnya. Sebagai bentuk karunia dan kenikmatan yang kami berikan.
Said bin Jubair mengatakan, “Tatkala seorang mukmin memasuki surga maka ia akan menanyakan tentang bapaknya, anak-anaknya dan saudara-saudaranya dimanakah mereka? Maka dikatakan kepadanya bahwa mereka semua tidak sampai pada derajatmu di surga. Maka orang mukmin tersebut menjawab ‘Sesungguhnya pahala amal kebaikanku ini untukku dan untuk mereka.’ Maka mereka (keluarganya) dipertemukan pada satu kedudukan dengannya.” (Tafsir Ibn Katsir, 4/73).
2. Kita sedikitpun tidak akan sampai mengira, ketika ada orang yang Allah masukkan ke dalam surga, Allah hilangkan sifat kebencian dari hatinya, kemudian dia lebih memilih berpisah.
Dan kita tidaklah tahu tentang seseorang yang telah Allah takdirkan ia memasuki surga dan telah dicabut rasa dengki di hati mereka namun mereka memilih berpisah daripada bersatu kembali.
3. Apabila wanita tersebut belum pernah menikah tatkala di dunia maka Allah akan menikahkannya dengan laki-laki yang sangat dia cintai di surga. Orang yang mendapat kenikmatan di surga tidaklah terbatas laki-laki saja, namun untuk laki-laki dan perempuan. Dan diantara bentuk kenikmatan surga adalah menikah. Demikian nukilan dari Majmu’ Fatawa Ibni  ‘Utsaimin (2/53). Dan di dalam surga tidak ada oranng yang melajang.
Wallahu A’lam.

Diterjemahkan: Tim Penerjemah muslimah.or.id
Muroja’ah: Ust. Ammi Nur Baits

Senin, 08 April 2013



Kepada yang tercinta bundaku yang ku sayang.

Segala Puji bagi Alloh yang telah memuliakan kedudukan orang tua, dan telah menjadikan mereka berdua pintu tengah menuju surga.
Sholawat serta salam hamba yang lemah ini haturkan kepada Nai muhammad yang mulia, keluarga serta sahabatnya hingga hari kiamat. Amiin.

Ibu ..
Aku terima suratmu yang engkau tulis dengan tetesan air mata dan kesedihan. Aku telah membacanya, semuanya, tidak ada satu huruf pun yang aku sisakan. Tapi taukah engkau ibu bahwa aku membacanya semenjak sehabis sholat isyak, aku tutup pintu kamar, aku buka surat yang engkau tuliskan untukku dan baru aku selesaikan membacanya setelah ayam berkokok, setelah fajar terbit dan suara adzan pertama telah dikumandangkan

Sebenarnya surat yang engkau tulis tersebut, jika ditaruhkan didalam batu tentunya ia akan pecah, jika engkau letakkan ke atas daun yang hijau tentu ia pun akan kering.
Sebenarnya surat yang engkau tulis untukku itu bagaikan petir kemurkaan, jika dilecutkan kepohon, maka pohon itu akan rebah dan terbakar.
Suratmu wahai ibu bagaikan awan kaum tsamud yang datang berarak yang siap dimuntahkan isinya kepadaku.


Ibu …
Aku telah membaca suratmu, sedangkan airmataku tidak pernah berhenti, bagaimana tidak, jika surat itu ditulis oleh seseorang yang bukan ibuku dan bukan ditujukan pula kepadaku layaklah orang yang paling bebal akan menangis sejadi-jadinya. Bagaimana sekiranya ternyata yang menulis adalah engkau ibuku, dan surat itu ditujukan untukku sendiri anakmu.

Sungguh aku sering membaca kisah sedih, tidak terasa bantal yang dipakai untuk bersandar akan basah oleh air mata karenanya. Bagaimana dengan surat yang ibu tulis itu, bukan cerita yang ibu karang, atau sebuah drama yang ibu perankan, akan tetapi ini adalah kenyataan hidup yang ibu rasakan.

Ibuku yang kusayangi...
Sungguh berat cobaan yang ibu alami, sungguh malang penderitaanmu, semua apa yang telah engkau sebutkan adalah benar adanya, aku masih ingat ketika engkau ditinggalkan ayah dimasa engkau hamil tua mengandung adikku, ayah pergi entah kemana, tanpa meninggalkan uang belanja. Jadilah engkau mencari apa yang dapat dimasak disekitar rumah dari dedaunan dan buah-buahan. Kemudian dengan langkah yang berat engkau melangkah ke kedai untuk membeli ala kadarnya, sambil engkau membisikkan kepada penjual bahwa apa yang telah engkau ambil itu adalah hutang, yang engkau sendiri tidak tahu kapan engkau akan melunasinya.

Ibu …
Aku masih ingat ketika kami anak-anakmu menangis, meminta untuk dibuatkan makanan, engkau tiba-tiba menggapai atap dapur, untuk menggapai kerak nasi yang telah lama engkau jemur.

Ibu …
Maafkanlah anakmu ini, aku tahu bahwa semenjak engkau gadis, sebagaimana diceritakan oleh nenek, sampai engkau telah tua seperti sekarang ini, engkau belum pernah mengecap kebahagiaan. Duniamu hanya rumah, belum pernah aku melihatmu bergembira, kecuali ketika kami anak-anakmu bertandang mengunjungimu. Selain dari itu tidak ada kebahagiaan. Semua hidupmu adalah perjuangan. Semua hari-harimu adalah pengorbanan.

Ibu maafkanlah anakmu ini...
Semenjak engkau pilihkan untukku wanita yang telah engkau puji kemuliaan dan akhlaknya, yang telah engkau sanjung keturunan dan negerinya, semenjak itu pula aku seakan akan lupa denganmu, keberadaan dia sebagai istriku telah melupakan posisi engkau sebagai ibuku. Senyuman dan sapaannya telah melupakan aku dari himbauanmu.

Ibu ...
Aku tidak menyalahkan wanita pilihanmu tersebut, tidak. Karena kewajibannya untuk menunaikan tanggungjawabnya sebagai istri. Aku berharap pada permasalahan ini, engkau tidak membawa-bawa namanya, dan mengaitkan kedurhakaanku kepadamu karenanya, karena selama ini dimataku dia adalah istri yang baik, istri yang selalu berupaya berbuat banyak untuk suami dan anaknya. Istri yang selalu menyuruh untuk taat dan berbakti kepada kedua orang tua.

Ibu …
Ketika seorang laki-laki menikah dengan seorang wanita, maka seolah-olah dia mendapatkan mainan yang baru, seperti anak kecil yang mendapatkan boneka atau orang-orangan. Maafkan aku ibu, aku tidaklah membela diriku, karena dari awal dan akhir pembicaraan ini kesalahan ada padaku anakmu ini. Akan tetapi aku ingin menerangkan keadaan yang aku alami. Perubahan suasana yang engkau dan aku berpisah tidak satu atap lagi.

Ibu …
Perkawinanku membawaku memasuki dunia baru. Dunia yang selama ini tidak aku kenal. Dunia yang hanya ada aku, istriku dan anak-anakku. Bagaimana tidak, istri yang baik, anak-anak yang lucu. Maafkan aku ibu, maafkan aku anakmu ini, aku merasa dunia hanya milik kami, aku tidak peduli keadaan orang lain, yang penting bagiku adalah keadaan mereka, anak-anak dan istriku.

Ibu maafkan aku, ampunkan aku, aku telah lalai, aku telah alpa, aku telah lupa, aku menyia-nyiakanmu, aku pernah mendengar kajian :

”Bahwa orang tua difitrahkan untuk cinta kepada anaknya.
Akan tetapi anak-anak difitrahkan untuk menyia-nyiakan orang tuanya.”

Ibu, anak difitrahkan untuk menyia-nyiakan orang tuanya, difitrahkan. Oleh sebab itu dilarang mencintai anak secara berlebihan, sebagaimana anak dilarang berbuat durhaka kepada oarang tuanya.

Itulah yang terjadi pada diriku ibuku.

Aku pasti akan gila ketika melihat anakku sakit, aku seperti orang kebingungan ketika mereka sakit, tetapi itu sulit aku rasakan jika hal itu terjadi padamu. Wahai ibuku.

Ibu …
Sulit aku merasakan persaanmu ibu, sulit.
Kalaulah bukan karena bimbingan agama yang telah engkau talqinkan kepadaku, tentu... tentu aku akan seperti kebanyakan anak-anak yang telah durhaka kepada orang tuanya.
Kalaulah bukan karena baktimu pula kepada orang tuamu dan orang tua ayah, niscaya aku tidak akan pernah mengenal arti bakti kepada orang tua.

Ibu …
Setelah suratmu datang baru aku mengerti, baru aku mengerti, karena selama ini hal itu tidak pernah engkau ungkapkan, semuanya engkau simpan dalam-dalam seperti semua permasalahan yang berat yang kau hadapi selama ini.
Sekarang baru aku mengerti wahai ibu bahwa hari yang sulit bagi seorang ibu adalah hari dimana anak laki-lakinya telah menikah dengan seorang wanita. Wanita yang telah mendapat keberuntungan, bagaimana tidak, dia dapatkan seoarang laki-laki yang telah matang pribadinya dan matang ekonominya dari seorang ibu yang telah letih membesarkannya. Sekarang dengan ikhlas dia berikan kepada seorang wanita yang tidak ada hubungan apa-apa dengannya, kecuali hubungan dua wanita yang saling berebut perhatian seorang laki-laki. Dia sebagai anak dari ibunya dan dia sebagai suami dari istrinya.

Ibuku sayang …

Maafkan aku, ampunkan diriku
Satu tetes airmatamu adalah lautan api neraka bagiku
Janganlah engkau menagis
Janganlah engkau menangis lagi
Janganlah engkau berduka lagi
Karena duka dan tangismu
menambah dalam jatuhku kedalam neraka.
Aku takut ibu, takut …

Kalau akan itu pula yang aku peroleh,
kalaukah neraka pula yang aku dapatkan,
izinkan aku membuang semua kebahagiaanku selama ini
demi hanya untuk dapat menyeka air matamu

Kalaulah engkau murka kepadaku,
izinkan aku datang kepadamu memabawa segala yang aku miliki
lalu menyerahkannya kepadamu,
lalu terserah engkau, terserah engkau, mau kau perbuat apa.

Sungguh ibu dari hati aku katakan aku tidak mau masuk neraka, sekalipun aku memiliki kekuasaan fir’aun, dan kekayaan Qorun, dan keahlian hamman, niscaya tidak akan aku tukar kesengsaraan diakhirat sekalipun sesaat. Siapa pula yang tahan dengan adzab neraka wahai bunda. Maafkan, maafkan aku anakmu ini wahai ibu.

Adapun sebutanmu tentang keluhan dan pengaduan kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, bahwa engkau belum mau mengangkatnya ke langit, bahwa engkau belum lagi mau berdo’a kepada Alloh akan kedurhakaanku.

Maka ampun wahai ibu,
kalaulah itu yang terjadi,
doa itu tersampaikan kelangit,
salah pula ucap lisanmu,
apalah jadinya nanti diriku,
tentu aku akan menjadi tunggul yang tumbang disambar petir,
apa gunanya kemegahan sekiranya engkau doakan atasku kebinasaan,
tentu aku akan menjadi pohon yang tidak berakar ke bumi,
dan dahannya tidak bisa sampai ke langit
Sedangkan ditengahnya dimakan kumbang.

Kalaulah doamu terucap atasku wahai ibunda
Maka tidak ada lagi gunanya hidup ini
Tidak ada gunanya kekayaan
Tidak ada gunanya banyak pergaulan

Ibu…
Dalam sepanjang sejarah anak manusia yang kubaca, maka tidak ada orang yang berbahagia setelah kena kutuk orang tua, itu di dunia, maka aku tidak dapat bayangkan bagaimanakah nasibnya di akhirat tentu ia lebih sengsara.

Ibu…
Setelah membaca suratmu baru aku menyadari kekhilafan, kealpaan dan kelalaianku. Ibu, pasti suratmu akan aku jadikan pegangan dalam hidupku. Setiap kali aku lalai dalam berkhidmat kepadamu, akan kubaca ulang kembali, akan ku simpan dalam lubuk hatiku, sebelum aku menyimpannya dalam kotak wasiat. Akan aku sampaikan kepada anak keturunanku bahwa ayah mereka dahulu pernah lalai didalam berbakti, lalu dia sadar dan kembali kepada kebenaran, ayah mereka pernah berbuat salah, sehingga ia telah menyakiti hati orang yang seharusnya ia cintai, dan kemudian ia kembali kepada petunjuk.

Bunda...
Tua, engkau berbicara tentang tua wahai ibunda, siapa yang tidak mengalami ketuaan. Wahai ibu, burung elang yang terbang diangkasa tidak pernah bermain kecuali ditempat yang tinggi, suatu saat nanti ia akan jatuh jua. Dikejar dan diperebutkan oleh burung-burung kecil. Singa, si raja hutan yang selalu memangsa jika sudah tua dia akan dikejar anjing-anjing kecil tanpa ada perlawanan. Tidak ada kekuasaan yang kekal, tidak ada kekayaan yang abadi, yang tersisa hanya amal baik dan amal buruk, yang kelak dipertanggung jawabkan

Ibu…
Doakan anakmu ini agar menjadi anak yang berbakti kepadamu di masa dimana banyak anak tlah durhaka kepada orang tuanya
Angkatlah ke langit munajtmu untukku
Agar aku peroleh kebahagiaan abadi dunia dan akhirat

Ibu…,Sesampainya surat ini

Insya Alloh ...
Tidak ada lagi air mata yang jatuh karena ulah anakmu
Setelah in tiada lagi kejauhan antara aku denganmu
Bahagianmu adalah bahagianku
Kesediahanmu adalah kesedihanku
Senyummu adalah senyumku
Tangismu adalah tangisku

Aku berjanji untuk selalu berbakti kepadamu buat selamanya dan aku berharap agar aku dapat membahagiakanmu selamanya, selagi mataku masih bisa berkedip, maka bahagiakanlah dirimu, buanglah segala kesedihanmu, cobalah tersenyum, ini kami, aku istri, dan anak-anak sedang bersiap-siap untuk bersimpuh dihadapanmu, dan mencium tanganmu, salam hangat dari anakmu yang durhaka.

Wallohu Ta’ala A’lam

 Ditulis Ulang dari Buku : Kututip Surat Ini Untukmu, karya Ustadz Armen Halim Naro Rohimahulloh

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts