Jumat, 29 Maret 2013

Oleh
Syaikh Salim bin 'Id al-Hilali -hafizhahullah-

Sesungguhnya 'ubûdiyah (penghambaan kepada Allah) memiliki hakikat dan kekuatan yang sangat besar dalam mewujudkan janji Allah bagi orang-orang yang beriman dalam meraih kekuasaan di muka bumi dan kejayaan beragama dalam kehidupan nyata. Barang siapa berkeinginan mencapai cita-cita yang dituju ini dan mengembalikan kemuliaan yang telah hilang itu, maka tidak ada pilihan kecuali menunjukkan bukti penghambaan secara benar itu. Dia harus mengetahuinya dan bagaimana mewujudkan penghambaan itu, sebelum ia ragu atau meragukan, atau menganggap lambat pertolongan Allah Azza wa Jalla.

Janji Allah Azza wa Jalla pasti terjadi, tidak ada yang mampu menolak; kebenaran yang tidak bisa dipungkiri, karena merupakan janji Dzat yang tidak menyelisihi janji-Nya, dan ketetapan-Nya tidak pernah meleset dari orang yang telah berhak mendapatkannya. Allah Azza wa Jalla berfirman :

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi." [an-Nûr/24: 55]

Istikhlâf (menjadikan penguasa) merupakan janji Allah bagi orang-orang beriman pada setiap generasi sampai datang takdir Allah. Dia berfirman:

"Sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa". [an-Nûr/24:55].

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengetahui segala yang akan terjadi, tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya, tidak ada yang dapat membatalkan hukum-Nya, dan tidak ada yang dapat mengganti kalimat-kalimat-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabûr sesudah (kami tulis di dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shalih. Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah (Allah)." [al-Anbiyâ`/21:105-106]

Sesungguhnya tanda (bukti) pemahaman terhadap istikhlâf (dijadikannya orang beriman sebagai penguasa) yaitu firman Allah:

"Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka". [an-Nûr/24:55]

Sedangkan kejayaan agama dalam kehidupan manusia, sehingga agama itu mengatur urusan-urusan manusia dan menjaganya; tidak akan terwujud kecuali jika agama itu telah merasuk dalam hati para pemeluknya dan dapat mengatur urusan-urusan terkecil dalam kehidupan mereka. Jika engkau telah melihat para da'inya juga demikian, maka ketahuilah bahwa pertolongan Allah Subhanahu wa Ta'ala sudah dekat.

Berdasarkan uraian ini diketahui bahwa perkataan sebagian dai "Tegakkanlah negara Islam di hatimu, niscaya negara Islam akan tegak di bumimu", merupakan perkataan yang bijaksana. Karena orang yang ingin meraih pertolongan Allah Azza wa Jalla, maka ia harus berdiri tegak melaksanakan perintah Allah Azza wa Jalla, jangan sampai agama ini diserang dari arahnya. Allah berfirman:

"Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu". [Muhammad/47:7].

Mengapa harus demikian? Karena kekuasaan di muka bumi dan kejayaan agama Islam merupakan buah (hasil) dari iman dan amal shalih. Dan Buah itu tidak akan matang kecuali jika tumbuhannya telah kuat, tegak di atas batangnya, akarnya kokoh serta cabangnya menjulang ke langit.

Sungguh! Imam asy-Syafi'i rahimahullah telah berkata benar, ketika ditanya: "Manakah yang lebih baik bagi hamba, antara kejayaan dalam beragama ataukah ujian?"

Beliau menjawab: "Keteguhan dalam beragama itu tidak akan ada kecuali setelah mengalami ujian".

Ini merupakan impelementasi firman Allah Azza wa Jalla :

"Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman," sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta". [al-'Ankabût/29:1-3].

Dari sini nampak jelas urgensi penghambaan diri kepada Allah Azza wa Jalla sebelum diberi kekuasaan di muka bumi dan kejayaan. Bahkan dalam ayat itu (surat an-Nûr/24 ayat 55) juga terdapat keterangan tentang penyebab diberi kekuasaan di muka bumi dan kejayaan dalam beragama, yaitu firman Allah Azza wa Jalla :

"(mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku." [an-Nûr/24:55].

Akan tetapi istikhlâf (meraih kekuasaan) memiliki kewajiban-kewajiban (yang harus ditunaikan, Pent.) dalam jiwa dan kehidupan manusia. Yakni tidak boleh terpedaya dan sombong; tidak mencampakkan diri ke dalam kebinasaan dengan menunda-nunda (menjalankan kewajiban) dan cenderung kepada kemewahan dunia, serta menyepelekan perintah Allah Azza wa Jalla. Karena banyak orang mampu bersabar menghadapi ujian dan kesusahan, tetapi berguguran pada saat mendapatkan kemenangan dan kenikmatan. Bukankah pemberian ujian itu (terkadang) dengan kebaikan (perkara yang menyenangkan manusia-pent) dan terkadang dengan keburukan (perkara yang tidak menyenangkan manusia, Pent.)?

Sesungguhnya keteguhan hati di atas al-haq setelah al-haq itu dikokohkan dan setelah para pengikut al-haq diberi kekuasaan, merupakan kedudukan yang lebih tinggi daripada tamkîn (kejayaan agama) dan istikhlâf (meraih kekuasaan). Keteguhan hati itulah yang akan melindunginya, menjaganya, dan mengokohkannya. Hakikat ini tertulis dalam Al-Qur`ân dengan huruf-huruf yang nampak jelas dalam hati hamba-hamba ar-Rahman (Allah Yang Maha Pemurah):

"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa, (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan." [al-Hajj/22:40-41].

Yaitu tetap teguh diatas manhaj (jalan haq yang terang) setelah berjaya dan berkuasa, sebagaimana sebelum mendapatkan kejayaan dan mendapatkan bermacam siksaan berat yang dilakukan oleh orang-orang kafir.

Dengan ini menjadi jelas bahwa 'ubûdiyah (penghambaan diri kepada Allah) menjadi faktor terwujudnya kejayaan dan kekuasaan. Allah k telah menjelaskan sifat mereka sebelum berkuasa dan berjaya yaitu mereka beriman dan beramal shalih, sebagaimana dalam surat an-Nûr. 'Ubûdiyah (penghambaan diri kepada Allah) itu juga sekaligus sebagai tujuan istikhlâf dan tamkîn. 'Ubûdiyah adalah hiasan para tentara Allah setelah istikhlâf dan tamkîn sebagaimana dalam surat al-Hajj.

Jika 'ubûdiyah adalah sebab kejayaan generasi teladan yang pertama dan paling utama, yaitu Nabi Muhammad n dan para sahabatnya, maka 'ubûdiyah juga sebagai sebab istikhlâf bagi ath-Thaifah al-Manshurah (golongan yang ditolong oleh Allah) dan al-Firqah an-Nâjiyah (golongan yang selamat), yaitu orang-orang yang mengikuti jalan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Jika anda ragu tentang hal itu, maka renungkanlah penjelasan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap generasi yang masih berada dalam rahim ghaib (yaitu belum muncul, karena belum waktunya, Pent.), dan generasi itu yang akan menghancurkan dan mencabut Yahudi yang dimurkai Allah hingga akar-akarnya, demi membersihkan seluruh negara dan menjauhkan manusia dari tipudaya, kejelekan dan kejahatan mereka.

Telah datang riwayat dari sahabat Abu Hurairah dan Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمْ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا يَهُودِيٌّ وَرَائِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ

"Hari kiamat tidak akan datang sehingga kaum muslimin memerangi orang-orang Yahudi. Kaum muslimin akan memerangi mereka, sehingga seorang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon. Batu atau pohon itu akan berkata: "Wahai muslim, wahai hamba Allah, ini seorang Yahudi di belakangku, kemarilah, bunuhlah dia," kecuali pohon Gharqad; sesungguhnya ia termasuk pohon Yahudi". [HR Mutafaq 'Alaihi][1].

Pohon dan batu akan mengangkat suaranya dengan mengatakan: "Wahai muslim, wahai hamba Allah," ini menjelaskan bahwa para tentara pelopor iman dan batalyon-batalyon ar-Rahman itu, muslim dan menghambakan diri kepada Allah Azza wa Jalla Rabb semesta alam.

Dari sini kita memahami urgensi mewujudkan penghambaan kepada Allah dalam mewujudkan kejayaan umat Islam dan dalam memulai kehidupan yang lurus di atas jalan kenabian.

Sungguh, pada saat umat Islam berjalan di atas jalan Allah, supaya agama itu semuanya untuk Allah Azza wa Jalla, maka janji Allah Azza wa Jalla pasti terwujudkan, yaitu dijadikan penguasa, berjaya, dan diberi rasa aman. Ingatlah! Sesungguhnya janji Allah pasti benar, dan ingatlah bahwa syarat dari Allah Azza wa Jalla itu telah diketahui! Maka barang siapa menghendaki janji yang mulia itu, hendaklah ia menunaikan syaratnya dan memenuhi perjanjiannya kepada Allah Azza wa Jala. Barang siapa memenuhi syaratnya, pastilah janji akan dipenuhi. Siapakah yang lebih sempurna dalam menepati janjinya dibandingkan dengan Allah Azza wa Jalla ?

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ n يَقُولُ: إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

"Dari Ibnu Umar, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika kamu berjual-beli 'inah (semacam riba), kamu memegangi ekor-ekor sapi, kamu puas dengan tanaman, dan kamu meninggalkan jihad, Allah pasti akan menimpakan kehinaan kepada kamu, Dia tidak akan menghilangkan kehinaan itu sehingga kamu kembali menuju agama kamu". [Hadits hasan, riwayat Abu Dawud dan lainnya dengan sanad yang hasan].[2]

Allah pasti melaksanakan urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui
.
[Diterjemahkan oleh Ustadz Abu Isma'il Muslim al-Atsari dari makalah berjudul "Fiqhul-Istikhlâf, Âyatuhu wa Ghâyatuhu", dari kitab al-Maqalât as-Salafiyah fil-'Aqidah wad-Da'wah, wal-Manhaj, wal-Waqi', karya Syaikh Salim bin 'Id al-Hilali -hafizhahullah-, Penerbit Maktabah al-Furqân, Cetakan I, Tahun 1422 H / 2001 M, halaman 157-160]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XI/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]


________
Footnotes
[1]. HR Bukhâri, no. 2926 dan Muslim, no. 2922, dan lafazhnya milik Imam Muslim, Pent.
[2]. HR Abu Dawud, no. 3462. Al-Baihaqi, 5/316. Ad-Daulabi di dalam al-Kuna, 2/65. Ahmad, no. 4825, dan lain-lain. Hadits ini memiliki banyak jalan, sehingga dihasankan oleh Syaikh al-Albâni dalam ash-Shahîhah, no. 11, dan Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi dalam al-Arba'un Haditsan fid-Da'wah wa Du'at, no. 2, Pent.

Artikel : www.almanhaj.or.id

Kamis, 14 Maret 2013

Sebelum membicarakan secara terperinci tentang Qadha' dan Qadar, ada baiknya membicarakan mengenai masalah yang tersiar di masa dahulu dan masa sekarang, yang intinya adalah (ada yang mengatakan) bahwa tidak boleh membicarakan tentang masalah-masalah takdir secara mutlak. Alasannya bahwa hal itu dapat membangkitkan keraguan dan kebimbangan, dan bahwa masalah ini telah menggelincirkan banyak telapak kaki dan menyesatkan banyak pemahaman.

Pernyataan demikian, secara mutlak adalah tidak benar, hal itu dikarenakan beberapa alasan, di antaranya yaitu:

1. Iman kepada qadar adalah salah satu rukun iman. Iman seorang hamba tidak sempurna kecuali dengannya. Bagaimana hal ini akan diketahui, jika tidak dibicarakan dan dijelaskan perkaranya kepada manusia?

2. Iman kepada qadar telah disebutkan dalam hadits teragung dalam Islam, yaitu hadits Malaikat Jibril Alaihissalam, dan hal itu terjadi di akhir kehidupan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Di akhir hadits beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Dia adalah Malaikat Jibril, ia datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang agama kalian." (HR. Muslim, kitab al-Iimaan )

Maka mengetahui masalah takdir -dengan demikian- adalah termasuk bagian dari agama, dan pengetahuan tersebut adalah wajib, walaupun hanya secara global.

3. Al-Qur'an banyak menyebutkan tentang takdir dan perinciannya. Allah Azza wa Jalla pun memerintahkan kita agar merenungkan al-Qur'an dan memahaminya, sebagaimana firman-Nya:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ

"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran." (QS Shaad: 29)

Juga firman-Nya:

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an ataukah hati mereka terkunci?" (Muhammad: 24)

Lalu, apakah yang mengecualikan ayat-ayat yang membicarakan tentang masalah takdir dari keumuman ayat-ayat tersebut?!

4. Para Sahabat bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang perkara yang paling detil mengenai takdir. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir dalam Shahiih Muslim, ketika Suraqah bin Malik bin Ju'syum datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu mengatakan:

"Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepada kami tentang agama kami, seolah-olah kami baru diciptakan pada hari ini, yaitu mengenai amal perbuatan hari ini, apakah berdasarkan pada apa yang telah tertulis oleh tinta pena (takdir) yang sudah mengering dan takdir-takdir yang sudah ditentukan, atau berdasarkan dengan apa yang kita hadapi?"

Beliau menjawab:

"Tidak, bahkan berdasarkan pada tinta pena yang telah kering dan takdir-takdir yang telah ada."

Ia bertanya:

"Lalu, untuk apa kita beramal?"

Beliau menjawab:

"Beramallah! Sebab semuanya telah dimudahkan."

Dalam sebuah riwayat disebutkan:

"Setiap orang yang berbuat telah dimudahkan untuk perbuatannya."

5. Para Sahabat mengajarkan kepada para murid mereka dari kalangan Tabi'in hal tersebut. Yaitu, dengan bertanya kepada mereka, untuk menguji mereka, dan menguji pemahaman mereka.

Sebagaimana disebutkan dalam Shahiih Muslim bahwa Abul Aswad ad-Duali berkata, "Imran bin al-Hushain berkata kepadaku:

'Apakah kamu melihat apa yang dilakukan manusia pada hari ini dan mereka bersungguh-sungguh di dalamnya, apakah hal itu merupakan sesuatu yang ditetapkan atas mereka dan telah berlaku atas mereka takdir sebelumnya? Ataukah sesuatu yang dihadapkan kepada mereka dari apa-apa yang dibawa kepada mereka oleh Nabi mereka dan hujjah telah nyata atas mereka?'

Saya menjawab, 'Bahkan, hal itu merupakan sesuatu yang telah ditentukan atas mereka.'

Dia bertanya, 'Bukankah itu suatu kezhaliman?'

Saya sangat terperanjat mendengar hal itu. Saya katakan, 'Segala sesuatu adalah ciptaan Allah dan kepunyaan-Nya, dan Allah tidak ditanya tentang apa yang dilakukan-Nya, tapi merekalah yang akan ditanya.'

Maka dia mengatakan kepadaku, 'Semoga Allah merahmatimu. Sesungguhnya aku tidak menginginkan dengan apa yang aku tanyakan kepadamu, melainkan untuk menguji akalmu." (HR. Muslim, bab al-Qadar, VIII/48-49, no. 2650)

6. Para imam Salafush Shalih dari kalangan ulama telah mengarang kitab tentang masalah ini, bahkan sangat perhatian mengenainya.

Seandainya kita menyatakan larangan membicarakan tentang takdir, berarti kita telah menganggap mereka sesat dan menilai dungu akal mereka.

7. Seandainya kita tidak membicarakan tentang takdir, niscaya manusia tidak mengerti mengenainya.

Dan mungkin pintu menjadi terbuka bagi ahli bid'ah dan ahli kesesatan untuk menyebarkan kebathilan mereka dan mencampuradukkan agama kaum Muslimin.

8. Hilangnya ilmu dan kebajikan. Seandainya kita tidak membicarakan tentang takdir dan berbagai manfaatnya, niscaya kita kehilangan ilmu yang melimpah dan kebajikan yang banyak.

Jika ditanyakan: Bagaimana kita mengkompromikan antara hal ini dengan apa yang disebutkan tentang celaan membicarakan mengenai takdir, sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang disebutkan dalam hadits Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu:

"Jika para Sahabatku dibicarakan, maka diamlah; jika bintang-bintang dibicarakan, maka diamlah; dan jika takdir dibicarakan, maka diamlah." [HR. Ath-Thabrani dalm al-Kabiir (X/243, no. 10448). Hadits ini dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam al-Fath (XI/486) dan Syaikh al-Albani menilainya sebagai hadits shahih dalam Shahiihul Jaami' (no. 545)
Demikian pula riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sangat marah sekali, ketika beliau keluar menemui para Sahabatnya pada suatu hari saat mereka sedang berdebat tentang masalah takdir, sehingga wajah beliau memerah, seolah-olah biji delima terbelah di keningnya, lalu beliau bersabda:

"Apakah dengan ini kalian diperintahkan? Apakah dengan ini aku diutus kepada kalian? Sesungguhnya umat-umat sebelum kalian telah binasa ketika mereka berselisih mengenai perkara ini. Oleh karena itu, aku meminta kalian, janganlah berselisih mengenainya." [HR. at-Tirmidzi dari Abu Hurairah, kitab al-Qadar, bab Maa Jaa-a fit Tasydiid fil Khaudh fil Qadar (IV/443, no. 2133). Syaikh al-Albani menilai hasan dalam Shahiih Sunan at-Tirmidzi (II/223, no. 1732 dan 2231)

Jawaban mengenai hal itu: Bahwa larangan yang disebutkan tersebut adalah karena mengandung perkara-perkara berikut ini:

1. Membicarakan takdir dengan kebathilan (cara yang bathil) serta dengan tanpa ilmu dan dalil. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya..." (Al-Israa': 36)

2. Bersandar hanya kepada akal manusia yang terbatas dalam mengetahui takdir, jauh dari petunjuk al-Qur'an dan as-Sunnah. Sebab, akal manusia tidak mampu mengetahui hal itu secara terperinci, karena akal mempunyai keterbatasan dan juga kemampuan yang terbatas, maka wajib bagi akal untuk berhenti pada dalil-dalil al-Qur'an dan as-Sunnah yang shahih. (Lihat al-Ibaanah, Ibnu Baththah al-'Ukbari, I/421-422)

3. Tidak pasrah dan tunduk kepada Allah dalam takdir-Nya. Hal itu karena takdir adalah perkara ghaib, yang mana perkara ghaib itu landasannya adalah kepasrahan.

4. Membahas tentang aspek yang tersembunyi mengenai takdir, yang mana ia merupakan rahasia Allah dalam ciptaan-Nya, dan (takdir tersebut) tidak diketahui oleh Malaikat yang didekatkan kepada Allah dan tidak pula oleh Nabi yang diutus, dan hal itu pun termasuk di antara perkara di mana akal tidak mampu untuk memahami dan mengetahuinya. (Lihat ad-Diinul Khaalish, Shiddiq Hasan, III/171)

5. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan yang tidak sepatutnya ditanyakan, seperti orang yang bertanya dengan nada protes. Mengapa Allah memberi petunjuk kepada si fulan dan menyesatkan si fulan? Mengapa Allah membebani (dengan kewajiban) kepada manusia di antara seluruh makhluk? Mengapa Allah memberi kekayaan kepada si fulan dan memberi kemiskinan kepada si fulan? Dan seterusnya...

Adapun orang yang bertanya untuk mendapatkan pemahaman, maka tidaklah mengapa, sebab obat kebodohan adalah bertanya. 

Adapun orang yang bertanya dengan nada protes -bukan untuk memahami dan tidak pula untuk belajar- maka itulah yang tidak boleh, baik pertanyaannya sedikit maupun banyak. 

(Syarh al-Aqiidah ath=Thahaawiyyah, Ibnu Abil 'Izz al-Hanafi, hal. 262; al-Ikhtilaaf fil Lafzh war Radd 'alal Jahmiyyah wal Musyabbihah, Ibnu Qutaibah, hal. 35; dan Syarhus Sunnah, al-Barbahari, hal. 36)

6. Berbantah-bantahan mengenai takdir, yang menyebabkan perselisihan manusia di dalamnya dan terpecahnya mereka dalam masalah ini. Semua ini termasuk perkara yang kita dilarang melakukannya.

Tidak termasuk dalam kategori perbantahan yang tercela: membantah aliran yang sesat, menolak berbagai syubhat mereka, dan meruntuhkan berbagai argumentasi mereka, karena usaha tersebut berarti memenangkan kebenaran dan mengalahkan kebathilan.

Dari sini nampakjelas bagi kita, bahwa larangan membicarakan tentang takdir secara mutlak adalah tidak benar, tetapi larangan tersebut berlaku untuk perkara-perkara yang telah disebutkan tadi.

Adapun pembahasan dalam perkara yang akal manusia mampu memahaminya, yang berlandaskan pada nash-nash seperti membahas tentang tingkatan-tingkatan takdir, macam-macam takdir, kemakhlukan perbuatan hamba, dan pembahasan-pembahasan tentang takdir lainnya, maka semua ini telah dimudahkan lagi jelas, juga tidak dilarang untuk membahasnya. Kendati pun tidak semua orang mampu memahaminya secara terperinci, tetapi dalam permasalahan ini ada ulama yang mempelajarinya dan menjelaskan apa yang terdapat di dalamnya.

Di antara yang menegaskan hal itu -bahwa larangan tersebut bukanlah secara mutlak- yaitu telah disebutkan dalam hadits terdahulu -yakni dalam hadits Ibnu Mas'ud-, di samping perintah untuk tidak membicarakan masalah takdir, ialah perintah untuk tidak membicarakan para Sahabat.

Maksud dari tidak membicarakan para Sahabat adalah, tidak membicarakan tentang apa yang diperselisihkan di antara mereka dan tidak membicarakan keburukan-keburukan mereka dan juga kekurangan-kekurangan mereka.

Adapun menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka dan memuji mereka, maka ini adalah perkara yang terpuji tanpa diperselisihkan oleh para ulama. Sebab, Allah telah memuji mereka dalam al-Qur'an, demikain pula Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Di antara yang menegaskan hal itu, bahwa sebab kemarahan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana dalam hadits terdahulu -yaitu hadits at-Tirmidzi- hanyalah karena sebab berbantah-bantahannya para Sahabat dalam masalah takdir.

"Maka membicarakan tentang takdir atau membahasnya dengan metode ilmiyah yang shahih, tidaklah diharamkan atau dilarang. Tetapi yang dilarang oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hanyalah berbantah-bantahan mengenai takdir." ( Al-Qadhaa' wal Qadar fil Islam, Dr. Faruq ad-Dasuqi, I/368)

Ringkasnya, dalam masalah ini, bahwa dalam pembicaraan mengenai takdir tidak dibuka secara mutlak dan tidak pula ditutup secara mutlak. Jika pembicaraan tersebut dengan haq, maka tidak dilarang, bahkan mungkin wajib, adapun jika dengan kebathilan, maka dilarang.

(Disalin dari kitab Al-Iman bil Qadha' wal Qadar, karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd hafizhahullah, edisi Indonesia: Kupas Tuntas Masalah Takdir, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor)


 
Di antara rukun iman yang wajib kita imani adalah iman kepada takdir. Iman kepada takdir merupakan perkara yang disepakati kaum muslimin, sampai akhirnya muncullah kelompok bid’ah Qadariyah yang menyempal dari akidah kaum muslimin dalam hal takdir.
Dua orang tabi’in pernah menghadap seorang sahabat Rasulullah n, Abdullah bin Umar bin al-Khaththab c. Keduanya mengadu kepada beliau tentang munculnya beberapa orang yang memiliki pemikiran bid’ah dalam masalah takdir, yakni menolak takdir.
Ibnu Umar c berkata:
فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ، لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ
“Jika engkau bertemu mereka, kabarkan bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku. Demi Dzat yang Ibnu Umar bersumpah dengan-Nya, jika salah seorang memiliki emas sebesar Gunung Uhud lalu menginfakkannya, tidaklah Allah l akan menerimanya sampai ia beriman kepada takdir.” (Lihat Shahih Muslim no. 1)
Karena pentingnya masalah ini, para ulama pun memasukkan masalah ini dalam kitab-kitab akidah. Semua kitab Ahlus Sunnah yang membahas akidah pasti menyebutkan prinsip Ahlus Sunnah dalam masalah takdir dan membantah kelompok yang menyimpang dalam masalah ini, seperti Qadariyah dan Jabriyah serta orang-orang yang sepaham dengan mereka.
Dalil-Dalil Wajibnya Mengimani Takdir
Dalil-dalil yang menunjukkan masalah ini sangatlah banyak. Kami hanya menyebutkan sebagian kecil darinya. Allah l berfirman dalam salah satu ayatnya:
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan takdir.” (al-Qamar: 49)
Dalam ayat lain, Allah l berfirman:
“Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” (al-Ahzab: 38)
Adapun dalil dari hadits Rasulullah n, di antaranya hadits Umar bin al-Khaththab z yang masyhur ketika Rasulullah n ditanya tentang iman. Beliau n menjawab:
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
“Engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, iman kepada hari akhir, dan iman kepada takdir baik buruknya.” (HR. Muslim)
Ucapan Sahabat, Tabi’in, dan Ulama Setelah Mereka
Di antara ucapan sahabat yang telah sampai kepada kita adalah ucapan Ibnu Umar c, “Kabarkan kepada mereka (yakni kepada orang-orang yang menolak takdir). Aku berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri dariku.” (Shahih Muslim)
Ubadah bin ash-Shamit z berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, engkau tidak akan merasakan nikmatnya iman sampai meyakini bahwa apa yang ditakdirkan menimpamu tak akan meleset darimu dan apa yang ditakdirkan meleset darimu tak akan menimpamu.
Aku mendengar Rasulullah n bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ. قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ
Yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah qalam (pena). Allah l berfirman, ‘Tulislah!’ Dia menjawab, ‘Apa yang aku tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takdir segala sesuatu hingga hari kiamat!’.”
Ubadah berkata, “Wahai anakku, aku mendengar Rasulullah n berkata,
مَنْ مَاتَ عَلَى غَيْرِ هَذَا فَلَيْسَ مِنِّي
‘Barang siapa yang meninggal tidak dalam keyakinan seperti ini, dia tidak termasuk golonganku’.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)
Demikian pula sahabat yang lain, mereka telah berbicara keras mengancam orang-orang yang tidak mau meyakini takdir. Dari Ibnu Dailami t, “Aku pernah mendatangi Ubai bin Ka’b z dan aku katakan, ‘Ada satu ganjalan pada diriku tentang masalah qadar. Sampaikanlah kepadaku satu hadits, mudah-mudahan Allah l menghilangkan ganjalan tersebut dariku.’
Ubai bin Ka’b z berkata, ‘Walaupun engkau berinfak emas sebesar Uhud, niscaya Allah l tak akan menerimanya sampai engkau beriman kepada takdir. Engkau meyakini bahwa apa yang ditetapkan menimpamu tak akan meleset dan sesuatu yang ditetapkan meleset maka tiada akan pernah mengenaimu. Jika engkau mati dalam keadaan tidak di atas akidah ini, engkau masuk neraka’.”
Ibnu Dailami t berkata, “Kemudian aku menemui para sahabat yang lain: Abdullah bin Mas’ud, Hudzaifah ibnul Yaman, dan Zaid bin Tsabit g. Mereka semua menyampaikan hal yang sama kepadaku dari Nabi n.” (HR. Abu Dawud dan lainnya, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani t)
Thawus t berkata, “Aku berjumpa dengan tiga ratus sahabat Rasulullah n, semuanya berkata, ‘Segala sesuatu ditakdirkan oleh Allah l’.”
Dalam Shahih Muslim, Thawus t berkata, “Aku berjumpa dengan manusia dari kalangan sahabat Rasulullah n, semuanya berkata, ‘Segala sesuatu terjadi dengan takdir’.”
Orang yang Mengingkari Takdir Bukan Orang Bertauhid
Ibnul Qayyim t berkata, ”Semua atsar menegaskan masalah ini dan menjelaskan bahwa barang siapa tidak beriman kepada takdir berarti telah lepas dari tauhid dan mengenakan pakaian kesyirikan, bahkan tidak beriman kepada Allah l dan tidak mengenal-Nya.”
(Lihat Tanbihatus Saniyah syarah al-Aqidah al-Wasithiyah)
Tingkatan Mengimani Takdir
Iman kepada takdir ada empat tingkatan.
1. Ilmu
Mengimani bahwa Allah l mengetahui segala sesuatu secara global dan rinci, azali (terdahulu) dan abadi, baik yang berkaitan dengan perbuatan-Nya maupun perbuatan hamba-Nya.
2. Kitabah (penulisan)
Mengimani bahwa Allah l telah mencatat semuanya di Lauhul Mahfuzh.
Dalil dua masalah di atas adalah firman Allah l:
“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (al-Haj: 70)
3. Masyi’ah (kehendak)
Meyakini bahwa semua yang terjadi, terjadinya dengan masyi’atullah (kehendak Allah l), baik yang berkaitan dengan perbuatan-Nya maupun yang berkaitan dengan perbuatan makhluk.
Allah lberfirman tentang perbuatan-Nya:
“Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al-Qur’an diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Rabbmu. Oleh sebab itu, janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir.” (al-Qashash: 86)
4. Al-Khalq (penciptaan)
Meyakini bahwa semua yang terjadi adalah makhluk ciptaan Allah l: benda (zat), sifat, dan pergerakannya. Allah l berfirman:
“Allah menciptakan segala sesuatu dan dia memelihara segala sesuatu.” (az-Zumar: 62)
Allah l berfirman:
“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu baginya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (al-Furqan: 2)
Allah l berfirman:
“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (ash-Shaffat: 96)
(Lihat Syarah Tsalasatul Ushul, hlm. 111—112)
Buah Iman Kepada Takdir
Faedah yang akan didapat ketika seorang beriman kepada takdir sangatlah banyak. Para ulama Ahlus Sunnah telah menyebutkannya, kami hanya menukilkan sebagian yang mereka sebutkan. Di antara faedah iman kepada takdir adalah:
1. Menumbuhkan sifat ridha dan yakin dengan apa yang terjadi. Dengan sebab itu pula, dia akan mendapatkan hidayah dari Allah l.
Allah l berfirman:
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (at-Taghabun: 11)
2. Menjadi sebab dihapuskannya dosa.
Rasulullah n bersabda:
مَا أَصَابَ الْمُسْلِمَ مِنْ مَرَضٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا حَزَنٍ حَتَّى الْهَمَّ يُهِمُّهُ إِلَّا يُكَفِّرُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهُ مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah ada sesuatu yang menimpa seorang muslim baik berupa sakit, rasa capai, kesedihan, maupun rasa gundah yang menimpanya melainkan pasti Allah l akan menghapus dosanya dengan sebab itu.” (Muttafaq ‘alaih)
3. Menjadi sebab mendapat balasan yang besar dari Allah l.
Dalil yang menunjukkan masalah ini adalah firman Allah l:
Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, serta berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (al-Baqarah: 155—157)
4. Menjadi seorang yang kaya hati (senantiasa merasa cukup dengan pemberian Allah l).
Rasulullah n berkata:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Yang namanya kaya bukanlah dengan banyaknya harta, namun kaya yang hakiki adalah kaya hati.”
5. Tidak sombong ketika mendapatkan kesenangan dan tidak sedih ketika musibah.
Allah l berfirman:
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu, dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (al-Hadid: 22—23)
6. Menumbuhkan keberanian
7. Tidak takut terhadap kejahatan manusia
Rasulullah n telah bersabda:
وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ
“Jika umat manusia berkumpul untuk menimpakan mudarat kepadamu, mereka tidak akan mampu menimpakan mudarat kepadamu sedikit pun melainkan dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah l.” (HR. at-Tirmidzi)
8. Tidak takut mati
Dia meyakini bahwa umurnya telah ditetapkan sejak ia masih di perut ibunya, sebagaimana disebutkan oleh hadits Abdullah bin Masud z.
9. Tidak bersedih karena sesuatu yang luput darinya
Rasulullah n bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا؛ وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ؛ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah l daripada mukmin yang lemah, masing-masing memiliki kebaikan. Bersemangatlah dalam mencapai sesuatu yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah kepada Allah dan janganlah kamu lemah. Jika menimpamu satu perkara, janganlah kamu berkata, ‘Kalau aku lakukan ini, niscaya akan terjadi demikian dan demikian’, tetapi ucapkanlah, ‘Qadarullah wa masya’a fa’ala’, karena ucapan (kalau/berandai-andai) akan membuka amalan setan.” (Muttafaq alaih)
9. Bersandar hanya kepada Allah l ketika melakukan sebab (ikhtiar) sehingga tidak bersandar kepada sebab-sebab semata, karena segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah l.
10. Mendatangkan ketenteraman dan mendapatkan ketenangan jiwa.
Ubadah bin ash-Shamit z berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, engkau tidak akan merasakan nikmatnya iman sampai meyakini bahwa apa yang ditakdirkan menimpamu tak akan meleset darimu dan apa yang ditakdirkan meleset darimu tak akan menimpamu.”
Asy-Syaikh Ibnu Baz t berkata, “Yakni, engkau tak akan mendapatkan dan merasakan tenangnya iman sampai engkau meyakini bahwa apa yang ditakdirkan menimpamu tak akan meleset darimu dan apa yang ditakdirkan meleset darimu tak akan menimpamu. Itulah iman kepada takdir. Jika dia mengimani takdir, akan lapang hatinya dan mengamalkan apa yang disyariatkan oleh Allah l. (Syarah Kitabut Tauhid, asy-Syaikh Ibnu Baz t)
Lihat Taujihul Muslimin ila Thariqin Nashr wat Tamkin (hlm. 5—7) dan syarah Tsalatsatul Ushul karya asy-Syaikh Ibnu Utsaimin.
Sebagai penutup, kami ingin mengingatkan satu masalah yang disebutkan oleh asy-Syaikh Hafizh al-Hakami t bahwa iman kepada takdir akan sempurna dengan menafikan enam perkara berikut ini, karena enam perkara ini telah dinafikan oleh Rasulullah n:
1. Menafikan tathayur Tathayur adalah beranggapan akan terjadinya kesialan dengan terbangnya burung ke arah tertentu, atau dengan sesuatu yang dilihat atau didengarnya, atau dengan hari dan bulan tertentu.
2. Menafikan nau’
Nau’ adalah keyakinan jahiliah bahwa bintang mempunyai pengaruh atau menjadi sebab dari peristiwa-peristiwa di bumi.
3. Menafikan ‘adwa
‘Adwa adalah keyakinan jahiliah tentang adanya penyakit yang menular dengan sendirinya tanpa takdir Allah.
4. Menafikan ghul
Ghul adalah keyakinan jahiliah tentang adanya jin yang jahat. Yang dinafikan adalah keyakinan jahiliah bahwa jin tersebut berkuasa untuk memberi manfaat dan mudarat, sehingga orang-orang jahiliah sangat menakutinya dan meminta perlindungan kepada mereka (jin).
5. Menafikan hamah
Hamah adalah keyakinan jahiliah tentang adanya burung yang mendatangkan kesialan.
6. Menafikan shafar
Ada dua penafsiran tentang shafar. Ada yang mengatakan, maknanya adalah sejenis cacing yang diyakini bisa menular dengan sendiriya. Adapun menurut penafsiran yang lain, shafar adalah beranggapan sial dengan bulan Shafar.
(Lihat Ma’arijul Qabul, Fathul Majid, dan al-Qaulul Mufid)
Seorang muslim hendaknya menjauhkan dirinya dari enam perkara tersebut sehingga menjadi sempurnalah keimanannya kepada Allah l. Rasulullah n berkata:
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ
“Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada tathayur, tidak ada hamah dan shafar.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dalam lafadz Muslim:
وَلَا نَوْءَ وَلَا غُولَ
“Tidak ada nau’, tidak pula ghul.”
Asy-Syaikh Hafizh al-Hakami berkata, “Menafikan enam perkara ini dan yang semakna dengannya adalah bentuk tawakal kepada Allah l, Pencipta kebaikan dan kejelekan, yang hanya di tangan-Nya lah manfaat dan mudarat. Sebaliknya, meyakini satu dari enam perkara tersebut berarti menafikan tauhid atau mengurangi kesempurnaannya serta membatalkan tawakalnya kepada Allah l. Kita berlindung kepada Allah l darinya.” (Lihat Ma’arijul Qabul)
Mudah-mudahan apa yang kami tulis ini bermanfaat, bisa menambah iman dan amal kita semua.
Walhamdulillah.

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak Ata, http://asysyariah.com/buah-mengimani-takdir.html)
Oleh
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd

PERTAMA : QADAR
Qadar, menurut bahasa yaitu: Masdar (asal kata) dari qadara-yaqdaru-qadaran, dan adakalanya huruf daal-nya disukunkan (qa-dran). [1]

Ibnu Faris berkata, “Qadara: qaaf, daal dan raa’ adalah ash-sha-hiih yang menunjukkan akhir/puncak segala sesuatu. Maka qadar adalah: akhir/puncak segala sesuatu. Dinyatakan: Qadruhu kadza, yaitu akhirnya. Demikian pula al-qadar, dan qadartusy syai' aqdi-ruhu, dan aqduruhu dari at-taqdiir.” [2]

Qadar (yang diberi harakat pada huruf daal-nya) ialah: Qadha' (kepastian) dan hukum, yaitu apa-apa yang telah ditentukan Allah Azza wa Jalla dari qadha' (kepastian) dan hukum-hukum dalam berbagai perkara
.
Takdir adalah: Merenungkan dan memikirkan untuk menyamakan sesuatu. Qadar itu sama dengan Qadr, semuanya bentuk jama’nya ialah Aqdaar. [3]

Qadar, menurut istilah ialah: Ketentuan Allah yang berlaku bagi semua makhluk, sesuai dengan ilmu Allah yang telah terdahulu dan dikehendaki oleh hikmah-Nya. [4]

Atau: Sesuatu yang telah diketahui sebelumnya dan telah tertuliskan, dari apa-apa yang terjadi hingga akhir masa. Dan bahwa Allah Azza wa Jalla telah menentukan ketentuan para makhluk dan hal-hal yang akan terjadi, sebelum diciptakan sejak zaman azali. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun mengetahui, bahwa semua itu akan terjadi pada waktu-waktu tertentu sesuai dengan pengetahuan-Nya dan dengan sifat-sifat ter-tentu pula, maka hal itu pun terjadi sesuai dengan apa yang telah ditentukan-Nya. [5]

Atau: Ilmu Allah, catatan (takdir)-Nya terhadap segala sesuatu, kehendak-Nya dan penciptaan-Nya terhadap segala sesuatu tersebut.

KEDUA : QADHA'
Qadha', menurut bahasa ialah: Hukum, ciptaan, kepastian dan penjelasan.
Asal (makna)nya adalah: Memutuskan, memisahkan, menen-tukan sesuatu, mengukuhkannya, menjalankannya dan menyele-saikannya. Maknanya adalah mencipta. [6]

Kaitan Antara Qadha' dan Qadar
1. Dikatakan, bahwa yang dimaksud dengan qadar ialah takdir, dan yang dimaksud dengan qadha’ ialah penciptaan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ

"Maka Dia menjadikannya tujuh langit… ." [Fushshilat/41 : 12]

Yakni, menciptakan semua itu.

Qadha' dan qadar adalah dua perkara yang beriringan, salah satunya tidak terpisah dari yang lainnya, karena salah satunya berkedudukan sebagai pondasi, yaitu qadar, dan yang lainnya berkedudukan sebagai bangunannya, yaitu qadha'. Barangsiapa bermaksud untuk memisahkan di antara keduanya, maka dia bermaksud menghancurkan dan merobohkan bangunan tersebut. [7]

2. Dikatakan pula sebaliknya, bahwa qadha' ialah ilmu Allah yang terdahulu, yang dengannya Allah menetapkan sejak azali. Sedangkan qadar ialah terjadinya penciptaan sesuai timbangan perkara yang telah ditentukan sebelumnya. [8]

Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, “Mereka, yakni para ulama mengatakan, ‘Qadha' adalah ketentuan yang bersifat umum dan global sejak zaman azali, sedangkan qadar adalah bagian-bagian dan perincian-perincian dari ketentuan tersebut.’” [9]

3. Dikatakan, jika keduanya berhimpun, maka keduanya berbeda, di mana masing-masing dari keduanya mempunyai pengertian sebagaimana yang telah diutarakan dalam dua pendapat sebelumnya. Jika keduanya terpisah, maka keduanya berhimpun, di mana jika salah satu dari kedunya disebutkan sendirian, maka yang lainnya masuk di dalam (pengertian)nya.

(Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir)
_______
Footnote
[1]. An-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits, Ibnu Atsir, (IV/22).
[2]. Mu’jam Maqaayiisil Lughah, (V/62) dan lihat an-Nihaayah, (IV/23).
[3]. Lihat, Lisaanul ‘Arab, (V/72) dan al-Qaamuus al-Muhiith, hal. 591, bab qaaf - daal - raa'.
[4]. Rasaa-il fil ‘Aqiidah, Syaikh Muhammad Ibnu ‘Utsaimin, hal. 37.
[5]. Lawaami’ul Anwaar al-Bahiyyah, as-Safarani, (I/348).
[6]. Lihat, Ta-wiil Musykilil Qur-aan, Ibnu Qutaibah, hal. 441-442. Lihat pula, Lisaanul ‘Arab, (XV/186), al-Qaamuus, hal. 1708 bab qadhaa', dan lihat, Maqaa-yiisil Lughah, (V/99).
[7]. Lisaanul ‘Arab, (XV/186) dan an-Nihaayah, (IV/78).
[8]. Al-Qadhaa' wal Qadar, Syaikh Dr. ‘Umar al-Asyqar, hal. 27.
[9]. Fat-hul Baari, (XI/486).
[10]. Lihat, ad-Durarus Sunniyyah, (I/512-513).

http://almanhaj.or.id/content/2168/slash/0/definisi-qadha-dan-qadar-serta-kaitan-di-antara-keduanya/
Keimanan seorang mukmin yang benar harus mencakup enam rukun. Yang terakhir adalah beriman terhadap takdir Allah, baik takdir yang baik maupun takdir yang buruk.  Salah memahami keimanan terhadap takdir dapat berakibat fatal, menyebabkan batalnya keimanan seseorang. Terdapat beberapa permasalahan yang harus dipahami oleh setiap muslim terkait masalah takdir ini. Semoga paparan ringkas ini dapat membantu kita untuk memahami keimanan yang benar terhadap takdir Allah. Wallahul musta’an.
Antara Qodho’ dan Qodar
Dalam pembahasan takdir, kita sering mendengar istilah qodho’ dan qodar. Dua istilah yang serupa tapi tak sama. Mempunyai makna yang sama jika disebut salah satunya, namun memiliki makna yang berbeda tatkala disebutkan bersamaan.[1] Jika disebutkan qodho’ saja maka mencakup makna qodar, demikian pula sebaliknya. Namun jika disebutkan bersamaan, maka qodho’ maknanya adalah sesuatu yang telah ditetapkan Allah pada makhluk-Nya, baik berupa penciptaan, peniadaan, maupun perubahan terhadap sesuatu. Sedangkan qodar maknanya adalah sesuatu yang telah ditentukan Allah sejak zaman azali. Dengan demikian qodar ada lebih dulu kemudian disusul dengan qodho’.[2]
Empat Prinsip Keimanan kepada Takdir
Pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah. Perlu kita ketahui bahwa keimanan terhadap takdir harus mencakup empat prinsip. Keempat prinsip ini harus diimani oleh setiap muslim.
Pertama: Mengimani bahwa Allah Ta’ala mengetahui dengan ilmunya yang azali dan abadi tentang segala sesuatu yang terjadi baik perkara yang kecil maupun yang besar, yang nyata maupun yang tersembunyi, baik itu perbuatan yang dilakukan oleh Allah maupun perbuatan makhluknya. Semuanya terjadi dalam pengilmuan Allah Ta’ala.
Kedua: Mengimanai bahwa Allah Ta’ala telah menulis dalam lauhul mahfudz catatan takdir segala sesuatu sampai hari kiamat. Tidak ada sesuatupun yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi kecuali telah tercatat.
Dalil kedua prinsip di atas terdapat dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Dalam Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَافِي السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ {70}
Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah” (QS. Al Hajj:70).
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَيَعْلَمُهَآ إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَافِي الْبَرِّوَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ يَعْلَمُهَا وَلاَحَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ اْلأَرْضِ وَلاَرَطْبٍ وَلاَيَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مًّبِينٍ {59}
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”” (QS. Al An’am:59).
Sedangkan dalil dari As Sunnah, di antaranya adalah sabda Rasulullah shalallhu ‘alaihi wa salam,
كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
… Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi[3]
Ketiga: Mengimani bahwa kehendak Allah meliputi segala sesuatu, baik yang terjadi maupun yang tidak terjadi, baik perkara besar maupun kecil, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, baik yang terjadi di langit maupun di bumi. Semuanya terjadi atas kehendak Allah Ta’ala, baik itu perbuatan Allah sendiri maupun perbuatan makhluknya.
Keempat: Mengimani dengan penciptaan Allah. Allah Ta’ala menciptakan segala sesuatu baik yang besar maupun kecil, yang nyata dan tersembunyi. Ciptaan Allah mencakup segala sesuatu dari bagian makhluk beserta sifat-sifatnya. Perkataan dan perbuatan makhluk pun termasuk ciptaan Allah.
Dalil kedua prinsip di atas adalah firman Allah Ta’ala,
اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَىْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ وَكِيلٌ {62} لَّهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِئَايَاتِ اللهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ {63}
“.Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi. Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi.”(QS. Az Zumar 62-63)
وَاللهُ خَلَقَكُمْ وَمَاتَعْمَلُونَ {96}
Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu“.” (QS. As Shafat:96).[4]
Antara Kehendak Makhluk dan Kehendak-Nya
Beriman dengan benar terhadap takdir bukan berarti meniadakan kehendak dan kemampuan manusia untuk berbuat. Hal ini karena dalil syariat dan realita yang ada menunjukkan bahwa manusia masih memiliki kehendak untuk melakukan sesuatu.
Dalil dari syariat, Allah Ta’ala telah berfirman tentang kehendak makhluk,
ذَلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّ فَمَن شَآءَ اتَّخَذَ إِلىَ رَبِّهِ مَئَابًا {39}
“Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.” (QS. An Nabaa’:39)
نِسَآؤُكُمْ حَرْثُ لَّكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ… {223}
“Isteri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. …”(Al Baqoroh:223)
Adapun tentang kemampuan makhluk Allah menjelaskan,
فَاتَّقُوا اللهَ مَااسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنفِقُوا خَيْرًا لأَنفُسِكُمْ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ {16}
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta’atlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu . Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At Taghobun :16)
لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَاكَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَااكْتَسَبَتْ رَبَّنَا …{286}
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya….”(QS. Al Baqoroh:286)
Sedangkan realita yang ada menunjukkan bahwa setiap manusia mengetahui bahwa dirinya memiliki kehendak dan kemampuan. Dengan kehendak dan kemampuannya, dia melakukan atau meninggalkan sesuatu. Ia juga bisa membedakan antara sesuatu yang terjadi dengan kehendaknya (seperti berjalan), dengan sesuatu yang terjadi tanpa kehendaknya, (seperti gemetar atau bernapas). Namun, kehendak maupun kemampuan makhluk itu terjadi dengan kehendak dan kemampuan Allah Ta’la karena Allah berfirman,
لِمَن شَآءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ {28} وَمَاتَشَآءُونَ إِلآَّ أَن يَشَآءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ {29}
“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At Takwiir:28-29). Dan karena semuanya adalah milik Allah maka tidak ada satu pun dari milik-Nya itu yang tidak diketahui dan tidak dikehendaki oleh-Nya.[5]
Macam-Macam Takdir
Pembaca yang dirahmati Allah, perlu kita ketahui bahwa takdir ada beberapa macam:
[1] Takdir Azali. Yakni ketetapan Allah sebelum penciptaan langit dan bumi ketika Allah Ta’ala menciptakan qolam (pena). Allah berfirman,
قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلاَّ مَاكَتَبَ اللهُ لَنَا هُوَ مَوْلاَنَا وَعَلَى اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ {51}
Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At Taubah:51)
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallaam bersabda, “… Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi[6]
[2] Takdir Kitaabah. Yakni pencatatan perjanjian ketika manusia ditanya oleh Allah:”Bukankah Aku Tuhan kalian?”. Allah Ta’ala berfirman,
} وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَآ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ {172} أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ ءَابَآؤُنَا مِن قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَةً مِّن بَعْدِهِمْ أَفَتُهْلِكُنًا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ {173}
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata-kan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu ?” (QS. Al A’raaf 172-173).
[3] Takdir ‘Umri. Yakni ketetapan Allah ketika penciptaan nutfah di dalam rahim, telah ditentukan jenis kelaminnya, ajal, amal, susah senangnya, dan rizkinya. Semuanya telah ditetapkan, tidak akan bertambah dan tidak berkurang. Allah Ta’ala berfirman,
يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِناَّ خَلَقْنَاكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِن مُضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي اْلأَرْحَامِ مَانَشَآءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلاً ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أُشُدَّكُمْ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّى وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلاَ يَعْلَمَ مِن بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا وَتَرَى اْلأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَآ أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَآءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنبَتَتْ مِن كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ {5}
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (QS. Al Hajj:5)
[5] Takdir Hauli. Yakni takdir yang Allah tetapkan pada malam lailatul qadar, Allah menetapkan segala sesuatu yang terjadi dalam satu tahun. Allah berfirman,
حم {1} وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ {2} إِنَّآ أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ {3} فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ {4} أَمْرًا مِّنْ عِندِنَآ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ {5}
Haa miim . Demi Kitab (Al Qur’an) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah , (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul” (QS. Ad Dukhaan:1-5)
[5] Takdir Yaumi. Yakni  pnentuan terjadinya takdir pada waktu yang telah ditakdirkan sbelumnya. Allah berfirman,
يَسْئَلُهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ {29}
Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan . “ (QS. Ar Rahmaan: 29). Ibnu Jarir meriwayatkan dari Munib bin Abdillah bin Munib Al Azdiy dari bapaknya berkata, “Rasulullah membaca firman Allah “ Setiap waktu Dia dalam kesibukan”, maka kami bertanya: Wahai Rasulullah apakah kesibukan yang dimaksud?. Rasulullah bersabda :” Allah mengampuni dosa, menghilangkan kesusahan, dan meninggikan suara serta merendahkan suara yang lain[7]
Sikap Pertengahan Dalam Memahami Takdir
Diantara prinsip ahlus sunnah adalah bersikap pertengahan dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah, tidak sebagaimana sikap ahlul bid’ah. Ahlus sunnah beriman bahwa Allah telah menetapkan seluruh taqdir sejak azali, dan Allah mengetahui takdir yang akan terjadi pada waktunya dan bagaimana bentuk takdir tersebut, semuanya terjadi sesuai dengan takdir yang telah Allah tetapkan.
Adapun orang-orang yang menyelisihi Al Quran dan As Sunnah, mereka bersikap berlebih-lebihan. Yang satu terlalu meremehkan dan yang lain melampaui batas. Kelompok Qodariyyah, mereka mengingkari adanya takdir. Mereka mengatakan bahwa Allah tidak menakdirkan perbuatan hamba. Menurut mereka perbuatan hamba bukan makhluk Allah, namun hamba sendirilah yang menciptakan perbuatannya. Mereka mengingkari penciptaan Allah terhadap amal hamba.
Kelompok yang lain adalah yang  terlalu melampaui batas dalam menetapkan takdir. Mereka dikenal dengan kelompok Jabariyyah. Mereka berlebihan dalam menetapkan takdir dan menafikan adanya kehendak hamba dalam perbuatannya. Mereka mengingkari adanya perbuatan hamba dan menisbatkan semua perbuatan hamba kepada Allah. Jadi seolah-olah hamba dipaksa dalam perbuatannya.[8]
Kedua kelompok di atas telah salah dalam memahai takdir sebagaimana ditunjukkan dalam banyak dalil. Di antaranya firman Allah ‘Azza wa Jalla,
لِمَن شَآءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ {28} وَمَاتَشَآءُونَ إِلآَّ أَن يَشَآءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ {29}
“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.”(QS. At Takwiir:28-29)
Pada ayat (yang artinya), “ (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang menempuh jalan yang lurus” merupakan bantahan untuk Jabariyyah karena pada ayat ini Allah menetapkan adanya kehendak bagi hamba. Hal ini bertentangan dengan keyakinan mereka yang mengatakan bahwa hamba dipaksa tanpa memiliki kehendak. Kemudian Allah berfirman (yang artinya), “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam.” Dalam ayat ini terdapat bantahan untuk Qodariyah yang mengatakan bahwa kehendak manusia itu berdiri sendiri dan diciptakan oleh hamba tanpa sesuai dengan  kehendak Allah karena Allah mengaitkan kehendak hamba dengan kehendak-Nya.[9]
Takdir Baik dan Takdir Buruk
Takdir terkadang disifati dengan takdir baik dan takdir buruk. Takdir yang baik sudah jelas maksudnya. Lalu apa yang dimaksud dengan takdir yang buruk? Apakah berarti Allah berbuat sesuatu yang buruk? Dalam hal ini kita perlu memahami antara takdir yang merupakan perbuatan Allah dan dampak/hasil dari perbuatan tersebut. Jika takdir disifati buruk, maka yang dimaksud adalah buruknnya sesuatu yang ditakdirkan tersebut, bukan takdir yang merupakan perbuatan Allah, karena tidak ada satu pun perbuatan Allah yang buruk. Seluruh perbuatan Allah mengandung kebaikan dan hikmah. Jadi keburukan yang dimaksud ditinjau dari sesuatu yang ditakdirkan/hasil perbuatan, bukan ditinjau dari perbuatan Allah. Untuk lebih jelasnya bisa kita contohkan sebagai berikut.
Seseorang yang terkena kanker tulang ganas pada kaki misalnya, terkadang membutuhkan tindakan amputasi (pemotongan bagian tubuh) untuk mencegah penyebaran kanker tersebut. Kita sepakat bahwa terpotongnya kaki adalah sesuatu yang buruk. Namun pada kasus ini, tindakan melakukan amputasi (pemotongan kaki) adalah perbuatan yang baik. Walaupun hasil perbuatannya buruk (yakni terpotongnya kaki), namun tindakan amputasi adalah perbuatan yang baik. Demikian pula dalam kita memahami takdir yang Allah tetapkan. Semua perbuatan Allah adalah baik, walaupun terkadang hasilnya adalah sesuatu yang tidak baik bagi hambanya.
Namun yang perlu diperhatikan, bahwa hasil takdir yang buruk terkadang di satu sisi buruk, akan tetapi mengandung kebaikan di sisi yang lain. Allah Ta’ala berfirman :
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ {41}
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar Ruum:41). Kerusakan yang terjadi pada akhirnya menimbulkan kebaikan. Oleh karena itu, keburukan yang terjadi dalam takdir bukanlah keburukan yang hakiki, karena terkadang akan menimbulkan hasil akhir berupa kebaikan.[10]
Bersemangatlah, Jangan Hanya Bersandar Pada Takdir
Sebagian orang memiliki anggapan yang salah dalam memahami takdir. Mereka hanya pasrah terhadap takdir tanpa melakukan usaha sama sekali. Sunngguh, ini adalah kesalahan yang nyata.  Bukankah Allah juga memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan melarang kita dari bersikap malas? Apabila kita sudah mengambil sebab dan mendapatkan hasil yang tidak kita inginkan, maka kita tidak boleh sedih dan berputus asa karena semuanya sudah merupakan ketetapan Allah.  Oleh karena itu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.”[11] [12]
Faedah Penting
Keimanan yang benar terhadap takdir akan membuahkan hal-hal penting, di antaranya sebagai berikut :
Pertama: Hanya bersandar kepada Allah ketika melakukan berbagai sebab, dan tidak bersandar kepada sebab itu sendiri. Karena segala sesuatu tergantung pada takdir Allah.
Kedua: Seseorang tidak sombong terhadap dirinya sendiri ketika tercapai tujuannya, karena keberhasilan yang ia dapatkan merupakan nikmat dari Allah, berupa sebab-sebab kebaikan dan keberhasilan yang memang telah ditakdirkan oleh Allah. Kekaguman terhadap dirinya sendiri akan melupakan dirinya untuk mensyukuri nikmat tersebut.
Ketiga: Munculnya ketenangan dalam hati terhadap takdir Allah yang menimpa dirinya, sehingga dia tidak bersedih atas hilangnya sesuatu yang dicintainya atau ketika mendapatkan sesuatu yang dibencinya. Sebab semuanya itu terjadi dengan ketentuan Allah. Allah berfirman,
مَآأَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَفِي أَنفُسِكُمْ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ {22} لِكَيْلاَ تَأْسَوْا عَلَى مَافَاتَكُمْ وَلاَتَفْرَحُوا بِمَآ ءَاتَاكُمْ …{23}
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu…” (QS. Al Hadiid:22-23).[13]
Demikian paparan ringkas seputar keimanan terhadap takdir. Semoga bermanfaat. Alhamdulillahiladzi bi ni’matihi tatimmush shaalihat.
Penulis: Abu ‘Athifah Adika Mianoki
Muroja’ah: Muhammad Abduh Tuasikal


[1] Kata qodho dan qadar ini serupa dengan kata iman dan islam, fakir dan miskin. Jika keduanya disebut bersamaan, maka makna keduanya berbeda dan jika disebut secara bersendirian, maka makna keduanya sama. [ed] [2] Lihat Syarh al ‘Aqidah al Wasithiyah hal 551. Syaikh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin. Dalam kitab Syarh al ‘Aqidah al Washitiyah. Kumpulan Ulama. Penerbit Daarul Ibnul Jauzi
[3] HR. Muslim 2653.
[4] Taqriib Tadmuriyah hal 86-87, Syaikh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin. Penerbit Daarul Bashiiroh.
[5] Lihat Syarh Ushuulil Iman hal 53-54.  Syaikh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin. Penerbit Daarul Qasim. Cetakan pertama 1419 H
[6] HR. Muslim
[7] Diringkas dari Ma’aarijul Qobuul hal 503-509. Syaihk Hafidz bin Ahmad Hakami. Penerbit Darul Kutub ‘Ilmiyah. Cetakan pertama 1424 H/2004 M
[8] Lihat Al Mufiid fii Muhammaati at Tauhid hal 49-51. Dr. ‘Abdul Qodir as Shufi. Penerbit Daar Adwaus Salaf. Cetakan pertama 1428/2007
[9] Al Irsyaad ilaa Shahiihil I’tiqad hal 243-244. Syaikh Sholih Al Fauzan. Penerbit Maktabah Salsabiil Cetakan pertama tahun 2006.
[10] Lihat Syarh al ‘Aqidah al Wasithiyah hal 45, Syaikh ‘Utsaimin.
[11] HR. Muslim 2664
[12] Lihat Al Irsyaad ilaa Shahiihil I’tiqad hal 245-246.
[13] Syarh Ushuulil Iman hal 57-58.
Banyak orang mengenal rukun iman tanpa mengetahui makna dan hikmah yang terkandung dalam keenam rukun iman tersebut. Salah satunya adalah iman kepada takdir. Tidak semua orang yang mengenal iman kepada takdir, mengetahui hikmah dibalik beriman kepada takdir dan bagaimana mengimani takdir. Berikut sedikit ulasan mengenai iman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk.
Takdir (qadar) adalah perkara yang telah diketahui dan ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan telah dituliskan oleh al-qalam (pena) dari segala sesuatu yang akan terjadi hingga akhir zaman. (Terj. Al Wajiiz fii ‘Aqidatis Salafish Shalih Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 95)

Allah telah menentukan segala perkara untuk makhluk-Nya sesuai dengan ilmu-Nya yang terdahulu (azali) dan ditentukan oleh hikmah-Nya. Tidak ada sesuatupun yang terjadi melainkan atas kehendak-Nya dan tidak ada sesuatupun yang keluar dari kehendak-Nya. Maka, semua yang terjadi dalam kehidupan seorang hamba adalah berasal dari ilmu, kekuasaan dan kehendak Allah, namun tidak terlepas dari kehendak dan usaha hamba-Nya.
Allah Ta’ala berfirman,
إنا كل شىء خلقنه بقدر
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Qs. Al-Qamar: 49)
وخلق كـل شىء فقدره, تقديرا
“Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (Qs. Al-Furqan: 2)
وإن من شىء إلا عنده بمقدار
“Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.” (Qs. Al-Hijr: 21)
Mengimani takdir baik dan takdir buruk, merupakan salah satu rukun iman dan prinsip ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Tidak akan sempurna keimanan seseorang sehingga dia beriman kepada takdir, yaitu dia mengikrarkan dan meyakini dengan keyakinan yang dalam bahwa segala sesuatu berlaku atas ketentuan (qadha’) dan takdir (qadar) Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا يؤمن عبد حتى يؤمن بالقدر خبره وشره حتى بعلم أن ما أصابه لم يكن ليخطئه وأن ما أخطأه لم يكن ليصيبه
“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia beriman kepada qadar baik dan buruknya dari Allah, dan hingga yakin bahwa apa yang menimpanya tidak akan luput darinya, serta apa yang luput darinya tidak akan menimpanya.” (Shahih, riwayat Tirmidzi dalam Sunan-nya (IV/451) dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dan diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 6985) dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Syaikh Ahmad Syakir berkata: ‘Sanad hadits ini shahih.’ Lihat juga Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah (no. 2439), karya Syaikh Albani rahimahullah)
Jibril ‘alaihis salam pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai iman, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
الإيمان أن تؤ من با لله وملا ئكته وكتبه ورسله واليوم الا خر وتؤ من بالقدرخيره وشره
“Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir serta qadha’ dan qadar, yang baik maupun yang buruk.”
(Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya di kitab al-Iman wal Islam wal Ihsan (VIII/1, IX/5))
Dan Shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma juga pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كل شيء بقدر حتى العجز والكيسز
“Segala sesuatu telah ditakdirkan, sampai-sampai kelemahan dan kepintaran.”
(Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya (IV/2045), Tirmidzi dalam Sunan-nya (IV/452), Ibnu Majah dalam Sunan-nya (I/32), dan al-Hakim dalam al-Mustadrak (I/23))
Tingkatan Takdir
Beriman kepada takdir tidak akan sempurna kecuali dengan empat perkara yang disebut tingkatan takdir atau rukun-rukun takdir. Keempat perkara ini adalah pengantar untuk memahami masalah takdir. Barang siapa yang mengaku beriman kepada takdir, maka dia harus merealisasikan semua rukun-rukunnya, karena yang sebagian akan bertalian dengan sebagian yang lain. Barang siapa yang mengakui semuanya, baik dengan lisan, keyakinan dan amal perbuatan, maka keimanannya kepada takdir telah sempurna. Namun, barang siapa yang mengurangi salah satunya atau lebih, maka keimanannya kepada takdir telah rusak.
Tingkatan Pertama: al-’Ilmu (Ilmu)
Yaitu, beriman bahwa Allah mengetahui dengan ilmu-Nya yang azali mengenai apa-apa yang telah terjadi, yang akan terjadi, dan apa yang tidak terjadi, baik secara global maupun terperinci, di seluruh penjuru langit dan bumi serta di antara keduanya. Allah Maha Mengetahui semua yang diperbuat makhluk-Nya sebelum mereka diciptakan, mengetahui rizki, ajal, amal, gerak, dan diam mereka, serta mengetahui siapa di antara mereka yang sengsara dan bahagia.
Allah Ta’ala telah berfirman,
ألم تعلم أن الله يعلم ما فى السـماء والأرض ۗإن ذلك فى كتـب ۚإن ذلك على الله يسر
“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (Qs. Al-Hajj: 70)
وعنده, مفاتح الغيب لا يعلمها إلا هو ۚ ويعلم ما فى البر والبحر ۚوما تسقـط من ورقة إلا يعلمها ولا حبة فى ظلمت الأرض ولا رطب ولا يا بس إلا فى كتب مبين
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua perkara yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia Maha Mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak juga sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan telah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Qs. Al-An’aam: 59)
إن الله بكل شيء عليم
“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu.” (Qs. At-Taubah: 115)
Tingkatan Kedua: al-Kitaabah (Penulisan)
Yaitu, mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menuliskan apa yang telah diketahui-Nya berupa ketentuan-ketentuan seluruh makhluk hidup di dalam al-Lauhul Mahfuzh. Suatu kitab yang tidak meninggalkan sedikit pun di dalamnya, semua yang terjadi, apa yang akan terjadi, dan segala yang telah terjadi hingga hari Kiamat, ditulis di sisi Allah Ta’ala dalam Ummul Kitab.
Allah Ta’ala berfirman,
و كل شيء أحصينه فى إمام مبـين
“Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Qs. Yaasiin: 12)
ما أصاب من مصيبة فى الأرض ولا فى أنفسكم إلا فى كـتب من قبل أن نبرأهاۚۚإن ذلك على الله يسر
“Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” (Qs. Al-Hadiid: 22)
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كتب الله مقادير الخلا ئق قبل أن يخلق السماوات زالأرض بخمسبن ألف سنة
“Allah telah menulis seluruh takdir seluruh makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.”
(Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya, kitab al-Qadar (no. 2653), dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma, diriwayatkan pula oleh Tirmidzi (no. 2156), Imam Ahmad (II/169), Abu Dawud ath-Thayalisi (no. 557))
Dalam sabdanya yang lain,
إن أول ما حلق الله القلم, قل له: أكتب! قل: رب وماذا أكتب؟ قل: أكتب مقادير كل شيء حتى تقوم الساعة
“Yang pertama kali Allah ciptakan adalah al-qalam (pena), lalu Allah berfirman, ‘Tulislah!’ Ia bertanya, ‘Wahai Rabb-ku apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai terjadinya Kiamat.’”(Shahih, riwayat Abu Dawud (no. 4700), dalam Shahiih Abu Dawud (no. 3933), Tirmidzi (no. 2155, 3319), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 102), al-Ajurry dalam ­asy-Syari’ah (no.180), Ahmad (V/317), dari Shahabat ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu)
Oleh karena itu, apa yang telah ditakdirkan menimpa manusia tidak akan meleset darinya, dan apa yang ditakdirkan tidak akan mengenainya, maka tidak akan mengenainya, sekalipun seluruh manusia dan golongan jin mencoba mencelakainya.
Tingkatan Ketiga: al-Iraadah dan Al Masyii-ah (Keinginan dan Kehendak)
Yaitu, bahwa segala sesuatu yang terjadi di langit dan di bumi adalah sesuai dengan keinginan dan kehendak (iraadah dan masyii-ah) Allah yang berputar di antara rahmat dan hikmah. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya dengan rahmat-Nya, dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dengan hikmah-Nya. Dia tidak boleh ditanya mengenai apa yang diperbuat-Nya karena kesempurnaan hikmah dan kekuasaan-Nya, tetapi kita, sebagai makhluk-Nya yang akan ditanya tentang apa yang terjadi pada kita, sesuai dengan firman-Nya,
لايسئل عما يفعل وهم يسئلون
“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai.” (Qs. Al-Anbiyaa’: 23)
Kehendak Allah itu pasti terlaksana, juga kekuasaan-Nya sempurna meliputi segala sesuatu. Apa yang Allah kehendaki pasti akan terjadi, meskipun manusia berupaya untuk menghindarinya, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya, maka tidak akan terjadi, meskipun seluruh makhluk berupaya untuk mewujudkannya
.
Allah Ta’ala berfirman,
فمن يردالله أن يهديه يشرح صدره للإسلام ۚومن يرد أن يضله يجعل صدره ضيقاحرجا
“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia akan melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit.” (Qs. Al-An’aam: 125)
وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Dan kamu tidak dapat menhendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (Qs. At-Takwir: 29)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
إن قلوب بني أدم كلها بين إصبعـين من أصا بع الرحمن, كـقلب وا حد, يصرفه حيث يشاء
“Sesungguhnya hati-hati manusia seluruhnya di antara dua jari dari jari jemari Ar-Rahmaan seperti satu hati; Dia memalingkannya kemana saja yang dikehendaki-Nya.”
(Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya (no. 2654). Lihat juga Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah (no. 1689))
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Para Imam Salaf dari kalangan umat Islam telah ijma’ (sepakat) bahwa wajib beriman kepada qadha’ dan qadar Allah yang baik maupun yang buruk, yang manis maupun yang pahit, yang sedikit maupun yang banyak. Tidak ada sesuatu pun terjadi kecuali atas kehendak Allah dan tidak terwujud segala kebaikan dan keburukan kecuali atas kehendak-Nya. Dia menciptakan siapa saja dalam keadaan sejahtera (baca: menjadi penghuni surga) dan ini merupakan anugrah yang Allah berikan kepadanya dan menjadikan siapa saja yang Dia kehendaki dalam keadaan sengsara (baca: menjadi penghuni neraka). Ini merupakan keadilan dari-Nya serta hak absolut-Nya dan ini merupakan ilmu yang disembunyikan-Nya dari seluruh makhluk-Nya.” (al-Iqtishaad fil I’tiqaad, hal. 15)
Tingkatan Keempat: al-Khalq (Penciptaan)
Yaitu, bahwa Allah adalah Pencipta (Khaliq) segala sesuatu yang tidak ada pencipta selain-Nya, dan tidak ada rabb selain-Nya, dan segala sesuatu selain Allah adalah makhluk. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
الله خـلق كل شىء ۖوهو على كل شىء وكيل
“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (Qs. Az-Zumar: 62)
Meskipun Allah telah menentukan takdir atas seluruh hamba-Nya, bukan berarti bahwa hamba-Nya dibolehkan untuk meninggalkan usaha. Karena Allah telah memberikan qudrah (kemampuan) dan masyii-ah (keinginan) kepada hamba-hamba-Nya untuk mengusahakan takdirnya. Allah juga memberikan akal kepada manusia, sebagai tanda kesempurnaan manusia dibandingkan dengan makhluk-Nya yang lain, agar manusia dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan. Allah tidak menghisab hamba-Nya kecuali terhadap perbuatan-perbuatan yang dilakukannya dengan kehendak dan usahanya sendiri. Manusialah yang benar-benar melakukan suatu amal perbuatan, yang baik dan yang buruk tanpa paksaan, sedangkan Allah-lah yang menciptakan perbuatan tersebut. Hal ini berdasarkan firman-Nya,
والله حلقكم وما تعملون
“Padahal Allah-lah yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat itu.” (Qs. Ash-Shaaffaat: 96)
Dan Allah Ta’ala juga berfirman, yang artinya,
لا يكلف الله نفسا إلا وسعها
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.” (Qs. Al-Baqarah: 286)
Hikmah Beriman Kepada Takdir
Beriman kepada takdir akan mengantarkan kita kepada sebuah hikmah penciptaan yang mendalam, yaitu bahwasanya segala sesuatu telah ditentukan. Sesuatu tidak akan menimpa kita kecuali telah Allah tentukan kejadiannya, demikian pula sebaliknya. Apabila kita telah faham dengan hikmah penciptaan ini, maka kita akan mengetahui dengan keyakinan yang dalam bahwa segala sesuatu yang datang dalam kehidupan kita tidak lain merupakan ketentuan Allah atas diri kita. Sehingga ketika musibah datang menerpa perjalanan hidup kita, kita akan lebih bijak dalam memandang dan menyikapinya. Demikian pula ketika kita mendapat giliran memperoleh kebahagiaan, kita tidak akan lupa untuk mensyukuri nikmat Allah yang tiada henti.
Manusia memiliki keinginan dan kehendak, tetapi keinginan dan kehendaknya mengikuti keinginan dan kehendak Rabbnya. Golongan Ahlus Sunnah menetapkan dan meyakini bahwa segala yang telah ditentukan, ditetapkan dan diperbuat oleh Allah memiliki hikmah dan segala usaha yang dilakukan manusia akan membawa hasil atas kehendak Allah.
Ingatlah saudariku, tidak setiap hal akan berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan, maka hendaklah kita menyerahkan semuanya dan beriman kepada apa yang telah Allah tentukan. Jangan sampai hati kita menjadi goncang karena sedikit ‘sentilan’, sehingga muncullah bisikan-bisikan dan pikiran-pikiran yang akan mengurangi nikmat iman kita. Dengarlah sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إحرص على ما ينفعك, واستعن بالله ولا تعجز, فإن أصا بك شيء فلا تقل: لو أني فعلت كذا وكذا لكن كذا وكذا, ولكن قل: قدر الله وما شاء فعل, فإن (لو) تفتح عمل الشيطان
“Berusahalah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan Allah dan janganlah sampai kamu lemah (semangat). Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau berkata ‘seandainya aku melakukan ini dan itu, niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah ‘Qodarullah wa maa-syaa-a fa’ala (Allah telah mentakdirkan segalanya dan apa yang dikehendaki-Nya pasti dilakukan-Nya).’ Karena sesungguhnya (kata) ‘seandainya’ itu akan mengawali perbuatan syaithan.”
(Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya (no. 2664))
Tidak ada seorang pun yang dapat bertindak untuk merubah apa yang telah Allah tetapkan untuknya. Maka tidak ada seorang pun juga yang dapat mengurangi sesuatu dari ketentuan-Nya, juga tidak bisa menambahnya, untuk selamanya. Ini adalah perkara yang telah ditetapkan-Nya dan telah selesai penentuannya. Pena telah terangkat dan lembaran telah kering.
Berdalih dengan takdir diperbolehkan ketika mendapati musibah dan cobaan, namun jangan sekali-kali berdalih dengan takdir dalam hal perbuatan dosa dan kesalahan. Setiap manusia tidak boleh memasrahkan diri kepada takdir tanpa melakukan usaha apa pun, karena hal ini akan menyelisihi sunnatullah. Oleh karena itu berusahalah semampunya, kemudian bertawakkallah.
Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,
وتوكل على الله ۚ إنه هو السميع العليم
“Dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al-Anfaal: 61)
ومن يتو كل على الله فهو حسبه
“Barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya.” (Qs. Ath-Thalaq: 3)
Dan jika kita mendapatkan musibah atau cobaan, janganlah berputus asa dari rahmat Allah dan janganlah bersungut-sungut, tetapi bersabarlah. Karena sabar adalah perisai seorang mukmin yang dia bersaudara kandung dengan kemenangan. Ingatlah bahwa musibah atau cobaan yang menimpa kita hanyalah musibah kecil, karena musibah dan cobaan terbesar adalah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana disebutkan dalam sabdanya,
إذا أصاب أحدكم مصيبة فليذكر مصيبة بى, فإنها من أعظم المصائب
“Jika salah seorang diantara kalian tertimpa musibah, maka ingatlah musibah yang menimpaku, sungguh ia merupakan musibah yang paling besar.”
(Shahih li ghairih, riwayat Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat (II/375), Ad-Darimi (I/40))
Apabila hati kita telah yakin dengan setiap ketentuan Allah, maka segala urusan akan menjadi lebih ringan, dan tidak akan ada kegundahan maupun kegelisahan yang muncul dalam diri kita, sehingga kita akan lebih semangat lagi dalam melakukan segala urusan tanpa merasa khawatir mengenai apa yang akan terjadi kemudian. Karena kita akan menggenggam tawakkal sebagai perbekalan ketika menjalani urusan dan kita akan menghunus kesabaran kala ujian datang menghadang.
Wallahu Ta’ala a’lam wal musta’an.
Penulis: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly
Muraja’ah: Ust. Aris Munandar
Maraji’:
Al-Iqtishaad fil I’tiqaad, karya Imam Ibnu Qudamah, cetakan Maktabah Al-’Uluum wal Hikam.
Al-Wajiz fii ‘Aqidatis Salafish Shalih Ahlis Sunnah wal Jama’ah (Edisi Indonesia: Panduan ‘Aqidah Lengkap), karya Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul Hamid Al-Atsari, cetakan Pustaka Ibnu Katsir.
‘Aqidatus Salaf Ash-habul Hadiits (Edisi Indonesia: ‘Aqidah Salaf Ash-habul Hadits), karya Syaikh Abu Isma’il Ash-Shabuni, cetakan Pustaka At-Tibyan.
‘Aqidah Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karya Abdul Hakim bin Amir Abdat, cetakan Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.
At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah ‘Ala Matni Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah (Edisi Indonesia: Penjelasan Ringkas Matan Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah), karya Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, cetakan Pustaka Sahifa.
At-Tawakkul ‘alallaahi Ta’aalaa (Edisi Indonesia: Hidup Tentram dengan Tawakkal), karya Dr. ‘Abdullah bin ‘Umar Ad-Duwaiji, cetakan Pustaka Ibnu Katsir.
Fathul Baari Syarah Shahih Bukhari, karya Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, cetakan Darul Hadits.
Fathul Majid Syarah Kitaabut Tauhid (Edisi Indonesia: Fathul Majid), karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, cetakan Pustaka Sahifa.
Meniru Sabarnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Edisi Terjemah), karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, cetakan Pustaka Darul Ilmi.
Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas, cetakan Pustaka Imam Asy-Syafi’i.
Syarah Lum’atul I’tiqad (Edisi Indonesia: Wahai Saudaraku, Inilah ‘Aqidahmu), karya Syaikh Muhammad bin Utsaimin, cetakan Pustaka Ibnu Katsir.
Syarah Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Imam Al-Hafizh Al-Laalikai, cetakan Darul Hadits.
Ushulus Sunnah (Edisi Indonesia: ‘Aqidah Shahih Penyebab Selamatnya Seorang Muslim), karya Al-Hafizh Abu Bakar Al-Humaidi, cetakan Pustaka Imam Asy-Syafi’i.
Ushulus Sunnah (Edisi Indonesia: Ushulus Sunnah), karya Imam Ahmad bin Hambal, cetakan Pustaka Darul Ilmi.
***
Artikel muslimah.or.id
Siapakah yang tak mengenal Majusi? Aliran penyembah api atau lazim disebut Zoroaster ini, punya dualisme keyakinan tentang sumber kebaikan dan sumber kejahatan. Di umat ini, juga telah muncul aliran serupa. Dialah al-Qadariyyah.
Siapakah Mereka?
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Al-Qadariyyah adalah orang-orang yang ingkar terhadap takdir. Mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya apa yang terjadi di alam semesta ini bukan karena takdir dan qadha dari Allah Ta'ala. Akan tetapi semua terjadi dikarenakan perbuatan hamba, tanpa ada takdir sebelumnya dari Allah Ta'ala.’ Mereka ingkar terhadap rukun iman yang keenam.” (Lamhatun ‘Anil Firaqidh-dhallah, hlm. 29)
Kapan Munculnya dan Siapa Pelopornya?
Kelompok ingkar takdir ini belum pernah ada di zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan juga di zaman al-Khulafa ar-Rasyidin. Mereka baru muncul di pertengahan abad pertama hijriyyah di akhir masa generasi terbaik umat ini (para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alahi wasallam).
Pelopornya adalah Ma’bad bin Khalid al-Juhani, salah seorang penduduk kota Bashrah. Al-Imam Muslim bin al-Hajjaj  t meriwayatkan dalam Shahih-nya hadits no. 1 dari Yahya bin Ya’mar, ia berkata, “Yang pertama kali memelopori (menyebarkan) paham ingkar takdir di Bashrah adalah Ma’bad al-Juhani.”
Dia menimba paham sesat ini dari Susan, seorang Nasrani yang masuk Islam namun kemudian kembali kepada agama Nasrani. Sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam al-Auza’i rahimahullah, “Yang pertama kali mencetuskan paham ingkar takdir adalah Susan, seorang penduduk Irak. Ia tadinya seorang Nasrani lalu masuk Islam, kemudian kembali kepada agamanya semula. Ma’bad al-Juhani menimba (paham sesat ini) darinya, kemudian Ghailan bin Muslim ad-Dimasyqi menimbanya dari Ma’bad.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnati wal Jama’ah, karya al-Imam al-Lalika-i t, 4/827)
Paham bid’ah ini memang lebih identik dengan sosok Ma’bad al-Juhani dan Ghailan ad-Dimasyqi daripada Susan, karena memang merekalah yang gencar dalam menyebarkannya. (lihat Manhaj al-Imam Malik fi Itsbaatil ‘Aqidah, karya Dr. Su’ud bin Abdul ‘Aziz Da’jan, hlm. 496)
Paham sesat ini akhirnya tersebar di Bashrah dan penduduknya banyak yang terpengaruh. Terlebih setelah melihat ‘Amr bin ‘Ubaid (orang yang mereka tokohkan) mengikuti paham ini.
Al-Imam as-Sam’ani rahimahullah berkata, “Penduduk Bashrah banyak yang terpengaruh dengan paham sesat ini setelah melihat ‘Amr bin ‘Ubaid mengikutinya.” (Dinukil dari al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, karya al-Imam an-Nawawi rahimahullah, 1/137)
Bagaimanakah Ideologi Mereka?
Al-Qadariyyah di awal kemunculannya, menampakkan ideologi:
لاَ قَدَرَ وَأَنَّ الْأَمْرَ أُنُفٌ
Yakni tidak ada takdir dan semua perkara yang ada merupakan sesuatu yang baru, di luar takdir dan ilmu Allah Ta'ala (terjadi seketika, red.). Allah Ta'ala baru mengetahuinya setelah perkara itu terjadi. (lihat al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, karya al-Imam an-Nawawi rahimahullah, 1/138)
Ketika bantahan dan pengingkaran as-Salafush Shalih terhadap paham sesat ini demikian gencar, sedikit demi sedikit ideologi ini sirna. Namun karena tidak sedikit dari ahlul ilmi dan ahli ibadah yang hanyut bersama mereka, ada yang justru bergeser kepada ideologi bid’ah lainnya.
Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Ideologi ini telah sirna, dan kami tidak mengetahui salah seorang dari muta’akhirin (yang datang belakangan, red.) yang berpaham dengannya. Adapun Al-Qadariyyah di hari ini, mereka semua sepakat bahwa Allah Ta'ala Maha Mengetahui segala perbuatan hamba sebelum terjadi, namun mereka menyelisihi As-Salafush Shalih dengan menyatakan bahwa perbuatan hamba adalah hasil kemampuan dan ciptaan hamba itu sendiri.” (Fathul Bari, karya al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, 1/145)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah  rahimahullah berkata, “Ketika paham al-Qadariyyah telah merebak serta tidak sedikit dari ahlul ilmi dan ibadah yang hanyut bersama mereka, akhirnya mayoritas mereka menetapkan adanya ilmu Allah  rahimahullah tentang segala sesuatu sebelum terjadinya. Namun mereka mengingkari keumuman masyi’ah (kehendak Allah Ta'ala) dan penciptaan.”1 (Kitab al-Iman, hlm. 331)
Mengapa Disebut “Majusi Umat Ini”?
Sebutan ini sebenarnya berasal dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana dalam sabda beliau:
الْقَدَرِيَّةُ مَجُوْسُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِنْ مَِرضُوْا فَلاَ تَعُوْدُوْهُمْ وَإِنْ مَاتُوْا فَلاَ تَشْهَدُوْهُمْ
“Al-Qadariyyah itu Majusi umat ini. Jika mereka sakit, maka jangan dijenguk. Dan jika meninggal dunia, jangan disaksikan (dihadiri) jenazahnya.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah, hadits no. 338 dan dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah)
Juga sabda beliau:
إِنَّ ِلكُلِّ أُمَّةٍ مَجُوْسًا وَإِنَّ مَجُوْسَ أُمَّتِيْ يَقُوْلُوْنَ: لاَ قَدَر، فَإِنْ مَِرضُوْا فَلاَ تَعُوْدُوْهُمْ وَإِنْ مَاتُوْا فَلاَ تَشْهَدُوْهُمْ
“Sesungguhnya tiap-tiap umat ada Majusinya, dan Majusi umatku adalah orang-orang yang mengatakan tidak ada takdir. Jika mereka sakit, maka jangan dijenguk, dan jika meninggal dunia jangan disaksikan jenazahnya.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah, hadits no. 339 dan dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah)
Al-Imam al-Khaththabi rahimahullah berkata, “Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam menyamakan al-Qadariyyah dengan Majusi, karena ideologi mereka serupa dengan ideologi orang-orang Majusi dalam hal (dua sumber kehidupan): cahaya dan kegelapan. Mereka (Majusi) menyatakan bahwa kebaikan bersumber dari cahaya sedangkan kejelekan bersumber dari kegelapan, sehingga mereka merupakan orang-orang yang mempunyai dualisme keyakinan.
Demikian pula al-Qadariyyah, mereka menyandarkan kebaikan kepada Allah Ta'ala dan kejelekan kepada selain Allah Ta'ala. Padahal Allah Ta'ala adalah Pencipta kebaikan dan kejelekan itu, tidak akan terjadi sedikit pun dari kebaikan ataupun kejelekan kecuali dengan kehendak-Nya. Keduanya disandarkan kepada Allah Ta'ala dari sisi penciptaan dan disandarkan kepada para pelaku yaitu hamba-hamba-Nya dari sisi yang mengerjakan dan mengupayakannya. Wallahu a’lam.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, 1/138—139)
Sebagian mereka (al-Qadariyyah, red.) mengatakan, “Justru kalianlah yang dimaksud dengan Majusi umat ini, karena al-Qadariyyah itu adalah orang-orang yang meyakini adanya takdir.”
Menanggapi syubhat ini, al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah berkata, “Al-Qadari adalah seseorang yang menetapkan bahwa dirinya mempunyai kemampuan untuk menentukan takdir (selain Allah Ta'ala), dan bahwasanya dialah yang menakdirkan segala perbuatannya, bukan Penciptanya (Allah Ta'ala ). Demikian pula bila ditinjau dari sisi bahasa, karena yang disebut sebagai tukang emas adalah seseorang yang punya kemampuan menyepuh emas bukan orang yang disepuhkan. Seseorang disebut sebagai tukang kayu di saat ia sandarkan keahlian pertukangannya pada dirinya, bukan orang yang dibuatkan kerajinan kayu. Oleh karena itu, ketika kalian menyatakan bahwasanya kalianlah yang menakdirkan amal perbuatan kalian dan kalian berkemampuan untuk melakukannya tanpa ada campur tangan dari Rabb kalian (Allah Ta'ala), maka jelas bahwa kalianlah yang disebut al-Qadariyyah. Sedangkan kami tidak bisa disebut al-Qadariyyah, karena kami belum pernah menyandarkan segala amal perbuatan pada diri-diri kami tanpa ada campur tangan dari Allah Ta'ala. Kami tidak mengatakan bahwa kami yang menakdirkan amal perbuatan tersebut tanpa Allah Ta'ala, namun yang kami katakan, ‘Sungguh amal perbuatan itu ditakdirkan untuk kami (oleh Allah Ta'ala)’.” (lihat al-Ibanah ‘an Ushuliddiyanah, hlm. 141). Dan juga hadits kedua (di atas) dengan tegas menyatakan bahwa Majusi umat ini adalah orang-orang yang mengatakan tidak ada takdir.
Kafirkah Mereka?
Kelompok al-Qadariyyah yang mengingkari ilmu Allah Ta'ala atas segala sesuatu sebelum terjadinya, telah dikafirkan oleh mayoritas ulama. Sebagaimana yang dinyatakan oleh sahabat Abdullah bin ‘Umar  radhiyallahu 'anhuma ketika disampaikan kepada beliau perihal mereka, “Jika engkau berjumpa dengan mereka, sampaikan bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku. Demi Zat yang Abdullah bin ‘Umar bersumpah dengan-Nya (Allah l), jika salah seorang dari mereka mempunyai emas sebesar gunung Uhud kemudian menginfakkannya, niscaya tidak akan diterima oleh Allah Ta'ala sampai ia beriman kepada takdir.” (Sahih, HR. Muslim, no. 1)
Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Apa yang dikatakan oleh Ibnu ‘Umar  radhiyallahu 'anhuma ini, jelas sekali sebagai pengafiran beliau terhadap al-Qadariyyah. Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata, ‘Ini berlaku untuk al-Qadariyyah generasi awal yang mengingkari ilmu Allah Ta'ala atas segala sesuatu sebelum terjadinya.’ Al-Qadhi ‘Iyadh juga berkata, ‘Yang mengatakan demikian, tidak diperselisihkan lagi kekafirannya’.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, 1/140)
Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “…adapun yang mengingkari ilmu Allah Al-Qadim, maka al-Imam asy-Syafi’i dan al-Imam Ahmad rahimahumallah telah menyatakan dengan tegas akan kekafirannya. Demikian juga selain keduanya dari para imam kaum muslimin.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hlm. 23)
Adapun bagi al-Qadariyyah yang masih menetapkan ilmu Allah Ta'ala, namun mengingkari keumuman penciptaan dan kehendak (bagi Allah Ta'ala), maka masih diperselisihkan para ulama. Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Tentang pengafiran mereka, terdapat perselisihan yang masyhur di antara para ulama.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hlm. 23)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Mereka adalah ahlul bid’ah yang sesat, dan tidak setingkat dengan mereka-mereka (yang mengingkari ilmu Allah Ta'ala).” (al-Iman, hlm. 331)
Sikap Para Ulama dan Umara Terhadap Mereka
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Di zaman al-Khulafa ar-Rasyidin tidak ada seorang pun yang mengingkari takdir. Ketika muncul orang-orang yang mengingkarinya (di akhir-akhir masa sahabat, pen.), maka bangkitlah para sahabat yang tersisa untuk membantah mereka, seperti Abdullah bin ‘Umar, Abdullah bin ‘Abbas, dan Watsilah bin Asqa’ radhiyallahu 'anhum. Paham sesat ini merebak di Bashrah, Syam, dan sedikit sekali di Hijaz. Maka as-Salafush Shalih demikian gencar membantah dan membongkar kedok mereka.” (al-Iman, hlm. 331)
Al-Imam al-Lalika-i rahimahullah meriwayatkan dari jalan Abu az-Zubair, ia berkata, (Suatu hari) kami thawaf bersama Thawus t (salah seorang tabi’in, murid Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma, pen.) dan kami pun melewati Ma’bad al-Juhani. Maka disampaikanlah kepada Thawus bahwa ini adalah Ma’bad yang mengatakan tidak ada takdir. Thawus pun kemudian berkata kepada Ma’bad, “Engkaukah orang yang berdusta atas nama Allah dengan apa yang kamu tidak tahu?!” Ma’bad berkata, “Itu tuduhan kepadaku belaka.” Abu az-Zubair berkata, “Akhirnya kami mengunjungi Ibnu ‘Abbas, kemudian Thawus berkata kepadanya, “Wahai Abu ‘Abbas (yakni Ibnu Abbas, pen.), ada orang-orang yang mengatakan tidak ada takdir.” Ibnu Abbas berkata, “Tunjukkan kepadaku sebagian dari mereka.” Thawus pun bertanya, “Apa yang akan engkau lakukan?” Beliau menjawab, “Aku akan masukkan tanganku pada kepalanya, lalu aku patahkan lehernya.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnati wal Jama’ah, 4/787)
Al-Imam Abu Bakr Muhammad bin al-Husain al-Ajurri rahimahullah meriwayatkan dari jalan ‘Amr bin Muhajir, ia berkata, “Telah sampai informasi kepada Khalifah ‘Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah bahwa Ghailan bin Muslim mengatakan, ‘Takdir itu tidak ada’. Maka beliau mengutus seseorang untuk memanggil Ghailan. (Setelah datang), ia dibiarkan (tidak ditemui) selama beberapa hari. Kemudian setelah itu dibawa menghadap beliau. ‘Umar bin Abdul ‘Aziz berkata, ‘Ghailan, apa ini yang aku dengar tentang dirimu?!’ ‘Amr bin Muhajir memberikan isyarat agar ia tidak menjawab, namun Ghailan tetap menjawabnya, ‘Ya, wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah 'Azza Wa Jalla berfirman (yang artinya):

“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum berupa sesuatu yang dapat disebut. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), oleh karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (al-Insan: 1—3)2
‘Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata, ‘Bacalah akhir dari surat tersebut!’

“Dan kalian tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Dan bagi orang-orang yang zalim, Ia sediakan azab yang pedih.” (al-Insan: 30—31)
Kemudian beliau berkata, ‘Bagaimana pendapatmu, wahai Ghailan?’ Ghailan berkata, ‘Sungguh sebelumnya aku buta lalu engkau menerangiku, aku tuli lalu engkau membuka pendengaranku, dan aku sesat lalu engkau menunjukiku.’ Maka ‘Umar bin Abdul ‘Aziz berkata, ‘Ya Allah, semoga hamba-Mu Ghailan jujur. Kalau tidak, maka saliblah ia!’ Maka Ghailan pun tidak lagi berkata tentang takdir, sehingga ia diangkat oleh ‘Umar bin Abdul ‘Aziz sebagai penanggung jawab kantor pembayaran kas khilafah di Damaskus. Ketika ‘Umar bin Abdul ‘Aziz wafat dan khilafah dipegang Hisyam bin Abdul Malik, ia kembali berbicara tentang tidak adanya takdir. Maka akhirnya Hisyam mengirim utusan untuk memotong tangannya. Ketika tangannya (setelah dipotong, pen.) sedang dikerumuni lalat, lewatlah seorang laki-laki seraya berkata kepadanya, ‘Wahai Ghailan, ini adalah qadha dan qadar.’ Maka ia menjawab, ‘Engkau berdusta, demi Allah ini bukan qadha dan bukan pula qadar.’ Maka Hisyam mengirim utusan kembali untuk menyalib Ghailan.” (asy-Syari’ah, hlm. 208—209)
Demikianlah sikap tegas ‘Umar bin Abdul ‘Aziz dan Hisyam bin Abdul Malik rahimahumallah di dalam menindak penyeru bid’ah dari kalangan al-Qadariyyah. Sikap keduanya ini didukung oleh para ulama sebagaimana diriwayatkan al-Lalika-i dari jalan Ibrahim bin Abu Ablah. Ia berkata, “Suatu saat aku berada di sisi ‘Ubadah bin Nusai, lalu datanglah seseorang seraya berkata, ‘Sesungguhnya Amirul Mukminin (Hisyam) telah memotong tangan dan kaki Ghailan serta menyalibnya. Bagaimana pendapatmu?’ ‘Ubadah berkata, ‘Boleh-boleh saja. Demi Allah, tindakannya tepat dan mencocoki sunnah. Sungguh aku akan menulis surat kepadanya dan aku nyatakan bahwa pendapatnya benar-benar baik’.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnati wal Jama’ah, 4/793)
Al-Imam Muhammad bin al-Husain al-Ajurri rahimahullah berkata, “Demikianlah seyogianya bagi para pemimpin kaum muslimin, jika terbukti bahwa seseorang berbicara tentang masalah takdir tidak seperti apa yang telah lalu (dari pemahaman as-Salafush Shalih), hendaknya menghukumnya seperti hukuman ini dan tidak memedulikan celaan orang yang mencela di dalam menjalankannya.” (asy-Syari’ah, hlm. 212)
Kata-Kata Mutiara
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Inti permasalahan ini, hendaknya seseorang mengetahui bahwa prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam hal ini dan yang lainnya adalah mengikuti apa yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta apa yang diyakini oleh generasi pertama dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Yaitu bahwa Allah l adalah pencipta, pengatur, dan pemilik segala sesuatu, di mana zat segala sesuatu dan sifat-sifat yang menyertainya dari perbuatan hamba dan selainnya masuk dalam ciptaan, aturan, dan kepemilikan ini. Juga bahwa segala yang dikehendaki Allah Ta'ala pasti terjadi dan segala yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Maka tidaklah terjadi sesuatu di alam semesta ini melainkan dengan kehendak dan kekuasaan-Nya, tidak akan terhalangi (gagal) sesuatu pun yang dikehendaki-Nya. Bahkan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidaklah Dia menghendaki sesuatu melainkan Dia mampu untuk mewujudkannya. Dia  Maha Mengetahui apa yang (telah, red.) terjadi, apa yang akan terjadi, dan apa yang tidak terjadi, serta bagaimana jika terjadi. Termasuk dalam hal ini (adalah) segala perbuatan hamba dan selainnya. Allah Ta'ala telah menetapkan untuk seluruh makhluk suatu takdir sebelum Dia ciptakan mereka. Dia telah takdirkan umur, rezeki, dan perbuatan-perbuatan mereka. Dia juga menulisnya serta menulis kesudahan dari mereka semua, apakah bahagia ataukah sengsara.
Maka (Ahlus Sunnah wal Jamaah) adalah orang-orang yang beriman tentang penciptaan Allah Ta'ala terhadap segala sesuatu, kekuasaan-Nya atas segala sesuatu, Maha Berkehendak-Nya atas segala apa yang terjadi, pengetahuan-Nya terhadap segala sesuatu sebelum terjadi, penakdiran-Nya untuk segala sesuatu, dan penulisan takdir tersebut sebelum terjadinya.” (Majmu’ Fatawa, 8/449—450)
Nasihat dan Peringatan
Para pembaca yang dirahmati Allah Ta'ala, dari apa yang telah lalu jelaslah bagi kita bahwa betapa indahnya manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah dan betapa buruk lagi jahat manhaj ahlul bid’ah (al-Qadariyyah). Oleh karena itu, sudah seharusnya bagi kita untuk istiqamah di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah dan meninggalkan semua manhaj ahlul bid’ah, di antaranya adalah manhaj al-Qadariyyah. Terlebih lagi di saat manhaj al-Qadariyyah ini telah diadopsi dan disebarkan oleh kelompok Syi’ah Rafidhah dan kelompok Mu’tazilah, baik yang hidup di masa lalu maupun yang masih ada saat ini. Wallahul musta’an.

1 Yakni mereka beranggapan bahwa perbuatan hamba di luar kehendak Allah Ta'ala dan bukan ciptaan-Nya. Para hambalah yang berkehendak secara bebas menentukan perbuatannya dan merekalah yang menciptakan amal perbuatan tersebut, tanpa ada campur tangan dari Allah Ta'ala. (pen.)
2 Ayat ini oleh Ghailan dijadikan sebagai dalil bahwa manusialah yang berkehendak untuk menempuh suatu jalan tanpa ada campur tangan (takdir) dari Allah Ta'ala.

Sumber : Majalah Asy Syariah

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts