Selasa, 17 Desember 2013

Setiap selesai sholat jum'at tiap pekannya, seorang imam (masjid) dan anaknya (yang berumur 11 tahun) mempunyai jadwal membagikan buku – buku islam, diantaranya buku at-thoriq ilal jannah (jalan menuju surga).

Mereka membagikannya di daerah mereka di pinggiran kota Amsterdam.
Namun tibalah suatu hari, ketika kota tersebut diguyuri hujan yang sangat lebat dengan suhu yang sangat dingin. Sang anakpun mempersiapkan dirinya dengan memakai beberapa lapis pakaian demi mengurangi rasa dingin. Setelah selesai mempersiapkan diri, ia berkata kepada ayahnya: "wahai ayahku, aku telah siap" ayahnya menjawab : "siap untuk apa?" , ia berkata: "untuk membagikan buku (seperti biasanya)", sang ayahpun berucap: "suhu sangat dingin diluar sana, belum lagi hujan lebat yang mengguyur", sang anak menimpali dengan jawaban yang menakjubkan : "akan tetapi, sungguh banyak orang yang berjalan menuju Neraka diluar sana dibawah guyuran hujan". Sang ayah terhenyak dengan jawaban anaknya seraya berkata: "namun ayah tidak akan keluar dengan cuaca seperti ini", akhirnya anak tersebut meminta izin untuk keluar sendiri. Sang ayah berpikir sejenak dan akhirnya memberikan izin. Ia pun mengambil beberapa buku dari ayahnya untuk dibagikan, dan berkata: "terimakasih wahai ayahku".

Di bawah guyuran hujan yang cukup deras, ditemani rasa dingin yang menggigit, anak itu membagikan buku kepada setiap orang yang ditemui. Tidak hanya itu, beberapa rumahpun ia hampiri demi tersebarnya buku tersebut.

 Dua jam berlalu, tersisalah 1 buku ditangannya. Namun sudah tidak ada orang yang lewat di lorong tersebut. Akhirnya ia memilih untuk menghampiri sebuah rumah disebrang jalan untuk menyerahkan buku terakhir tersebut. Sesampainya di depat rumah, iapun memencet bel, tapi tidak ada respon. Ia ulangi beberapa kali, hasilnya tetap sama. Ketika hendak beranjak seperti ada yang menahan langkahnya, dan ia coba sekali lagi ditambah ketukan tangan kecilnya. Sebenarnya ia juga tidak mengerti kenapa ia begitu penasaran dengan rumah tersebut. Pintu pun terbuka perlahan, disertai munculnya sesosok nenek yang tampak sangat sedih. Nenek berkata: "ada yang bisa saya bantu nak?". Si anak berkata (dengan mata yang berkilau dan senyuman yang menerangi dunia): "Saya minta maaf jika mengganggu, akan tetapi saya ingin menyampaikan bahwa Allah sangat mencintai dan memperhatikan nyonya. Kemudian saya ingin menghadiahkan buku ini kepada nyonya, di dalamnya dijelaskan tentang Allah Ta'ala, kewajiban seorang hamba, dan tips-tips memperoleh keridhoan-Nya.

Satu pekan berlalu, seperti biasa sang imam memberikan ceramah di masjid. Seusai ceramah ia mempersilahkan jama'ah untuk berkonsultasi. Terdengar sayup – sayup dari shaf perempuan seorang perempuan tua berkata:"Tidak ada seorangpun yang mengenal saya disini, dan belum ada yang mengunjungiku sebelumnya. Satu pekan yang lalu saya bukanlah seorang muslim, bahkan tidak pernah terbetik dalam pikiranku hal tersebut sedikitpun. Suamiku telah wafat dan dia meninggalkanku sebatang kara di bumi ini".

 Dan ia pun memulai ceritanya bertemu anak itu. Ketika itu cuaca sangat dingin disertai hujan lebat, aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Kesedihanku sangat mendalam, dan tidak ada seorangpun yang peduli padaku. Maka tidak ada alasan bagiku untuk hidup. Akupun naik ke atas kursi dan mengalungkan leherku dengan seutas tali yang sudah kutambatkan sebelumnya. Ketika hendak melompat, terdengar olehku suara bel. Aku terdiam sejenak dan berpikir :"paling sebentar lagi juga pergi". Namun suara bel dan ketukan pintu semakin kuat. Aku berkata dalam hati: "siapa gerangan yang sudi mengunjungiku,… tidak akan ada yang mengetuk pintu rumahku". Kulepaskan tali yang sudah siap membantuku mengakhiri nyawaku, dan bergegas ke pintu. ketika pintu kubuka, aku melihat sesosok anak kecil dengan pandangan dan senyuman yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku tidak mampu menggambarkan sosoknya kepada kalian. Perkataan lembutnya telah mengetuk hatiku yang mati hingga bangkit kembali. Ia berkata: "Nyonya, saya datang untuk menyampaikan bahwa Allah Ta'ala sangat menyayangi dan memperhatikan nyonya", lalu dia memberikan buku ini (buku jalan menuju surga) kepadaku. Malaikat kecil itu datang kepadaku secara tiba-tiba, dan menghilang dibalik guyuran hujan hari itu juga secara tiba-tiba. Setelah menutup pintu aku langsung membaca buku dari malaikat kecilku itu sampai selesai. Seketika kusingkirkan tali dan kursi yang telah menungguku, karena aku tidak akan membutuhkannya lagi. Sekarang lihatlah aku, diriku sangat bahagia karena aku telah mengenal Tuhanku yang sesungguhnya. Akupun sengaja mendatangi kalian berdasarkan alamat yang tertera di buku tersebut untuk berterimakasih kepada kalian yang telah mengirimkan malaikat kecilku pada waktu yang tepat. Hingga aku terbebas dari kekalnya api Neraka.

Air mata semua orang mengalir tanpa terbendung, masjid bergemuruh dengan isak tangis dan pekikan takbir… 

Allahu akbar…!!!

Sang imam (ayah dari anak itu) beranjak menuju tempat dimana malaikat kecil itu duduk dan memeluknya erat, dan tangisnyapun pecah tak terbendung dihadapan para jamaah. Sungguh mengharukan, mungkin tidak ada seorang ayahpun yang tidak bangga terhadap anaknya seperti yang dirasakan imam tersebut.

***
Judul asli : قصة رائعة جدا ومعبرة ومؤثرة
Penerjemah : Shiddiq Al-Bonjowiy

**
note : Mari terus sebarkan kebaikan. Kita tidak pernah tahu berapa banyak orang yang mendapatkan hidayah dengan sedikit langkah yang kita lakukan..

Semoga bermanfaat

*Shared by
@kajianislam, Via BBM

Rabu, 11 Desember 2013

Jika pilihan pasangan hidup hanya dilandaskan perasaan, cinta, dan syahwat…,
maka bisa jadi kondisi seseorang sebagaimana perkataan seorang penyair :

فَمَا فِي الأَرْضِ أَشْقَى مِنْ مُحِبٍّ وَإِنْ وَجَدَ الْهَوَى حُلْوَ الْمَذَاقِ

Tidak di dunia ini yang lebih sengsara daripada seorang yang mencintai…
Meskipun nafsu jiwanya telah mendapatkan manisnya rasa cinta…

تَرَاهُ باَكِيًا فِي كُلِّ حِيْنٍ مَخَافَةَ فُرْقَةٍ أَوْ اشْتِيَاقٍ
 

Engkau melihatnya menangis setiap saat…
Karena takut akan perpisahan atau karena kerinduan… 


فَيَبْكِي إِنْ نَأَوْا شَوْقًا إِلَيْهِم وَيَبْكِي إِنْ دَنَوْا خَوْفَ الْفِرَاقِ
 

Ia menangis jika jauh darinya karena kerinduan…
Dan ia juga menangis jika dekat karena takut perpisahan… 


فَتْسْخَنُ عَيْنَيْهِ عِنْدَ الْفِرَاقِ وَتَسْخَنُ عَيْنَهُ عِنْدَ الطَّلاَقِ
 

Matanya berlinang air mata tatkala perpisahan….
dan matanya juga berlinang air mata tatkala perceraian…

Akan tetapi jika pilihan pasangan hidup dibangun atas kecintaan dan agama serta tujuan akhirat, maka insya Allah keberkahan akan meliputi kebahagiaan rumah tangga. 


Wallaahu A'lam
*Facebook Ust Firanda Andirja, MA

Senin, 09 Desember 2013

Kematian tak bisa dihindari, tidak mungkin ada yang bisa lari darinya. Namun seribu sayang, sedikit yang mau mempersiapkan diri menghadapinya.
Kata ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, “Aku tidaklah pernah melihat suatu yang yakin kecuali keyakinan akan kematian. Namun sangat disayangkan, sedikit yang mau mempersiapkan diri menghadapinya.” (Tafsir Al Qurthubi)
Ingatlah …

Tak mungkin seorang pun lari dari kematian …

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Jumu’ah: 8).

Harus diyakini …

Kematian tak bisa dihindari …

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78).
Semua pun tahu …

Tidak ada manusia yang kekal abadi …

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad).” (QS. Al Anbiya’: 34).

Yang pasti …

Allah yang kekal abadi …

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (26) وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ (27)

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar Rahman: 26-27).
Lalu …

Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian …

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185).

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan ayat-ayat di atas adalah setiap orang pasti akan merasakan kematian. Tidak ada seseorang yang bisa selamat dari kematian, baik ia berusaha lari darinya ataukah tidak. Karena setiap orang sudah punya ajal yang pasti.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3: 163).

Jadilah mukmin yang cerdas …

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).

Hanya Allah yang memberi taufik.


Sumber :
http://rumaysho.com/qolbu/kematian-yang-tidak-bisa-dihindari-4773

Jumat, 06 Desember 2013

Assalamu’alaikum,

Segala puji Ibu panjatkan kehadirat
Allah ta’ala yang telah memudahkan
Ibu untuk beribadah kepada-Nya.
Shalawat serta salam Ibu sampaikan
kepada Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallam, keluarga dan para
sahabatnya. Amin…

Wahai anakku,

Surat ini datang dari Ibumu yang
selalu dirundung sengsara… Setelah
berpikir panjang Ibu mencoba untuk
menulis dan menggoreskan pena,
sekalipun keraguan dan rasa malu
menyelimuti diri. Setiap kali menulis,
setiap kali itu pula gores tulisan
terhalang oleh tangis, dan setiap kali
menitikkan air mata setiap itu pula hati
terluka…

Wahai anakku...!

Sepanjang masa yang telah engkau
lewati, kulihat engkau telah menjadi
laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas
dan bijak! Karenanya engkau pantas
membaca tulisan ini, sekalipun
nantinya engkau remas kertas ini lalu
engkau merobeknya, sebagaimana
sebelumnya engkau telah remas hati
dan telah engkau robek pula
perasaanku.

Wahai anakku...!

25 tahun telah berlalu,
dan tahun-tahun itu merupakan tahun
kebahagiaan dalam kehidupanku.
Suatu ketika dokter datang
menyampaikan kabar tentang
kehamilanku dan semua ibu sangat
mengetahui arti kalimat tersebut.
Bercampur rasa gembira dan bahagia
dalam diri ini sebagaimana ia adalah
awal mula dari perubahan fisik dan
emosi…
Semenjak kabar gembira tersebut aku
membawamu 9 bulan. Tidur, berdiri,
makan dan bernafas dalam kesulitan.
Akan tetapi itu semua tidak
mengurangi cinta dan kasih sayangku
kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama
berjalannya waktu.
Aku mengandungmu, wahai anakku!
Pada kondisi lemah di atas lemah,
bersamaan dengan itu aku begitu
gembira tatkala merasakan melihat
terjangan kakimu dan balikan
badanmu di perutku. Aku merasa puas
setiap aku menimbang diriku, karena
semakin hari semakin bertambah berat
perutku, berarti engkau sehat wal afiat
dalam rahimku.
Penderitaan yang berkepanjangan
menderaku, sampailah saat itu, ketika
fajar pada malam itu, yang aku tidak
dapat tidur dan memejamkan mataku
barang sekejap pun. Aku merasakan
sakit yang tidak tertahankan dan rasa
takut yang tidak bisa dilukiskan.
Sakit itu terus berlanjut sehingga
membuatku tidak dapat lagi menangis.
Sebanyak itu pula aku melihat
kematian menari-nari di pelupuk
mataku, hingga tibalah waktunya
engkau keluar ke dunia. Engkau pun
lahir… Tangisku bercampur dengan
tangismu, air mata kebahagiaan.
Dengan semua itu, sirna semua
keletihan dan kesedihan, hilang semua
sakit dan penderitaan, bahkan kasihku
padamu semakin bertambah dengan
bertambah kuatnya sakit. Aku raih
dirimu sebelum aku meraih minuman,
aku peluk cium dirimu sebelum
meneguk satu tetes air ke
kerongkonganku.

Wahai anakku...!

telah berlalu tahun
dari usiamu, aku membawamu dengan
hatiku dan memandikanmu dengan
kedua tangan kasih sayangku. Saripati
hidupku kuberikan kepadamu. Aku
tidak tidur demi tidurmu, berletih demi
kebahagiaanmu.
Harapanku pada setiap harinya, agar
aku melihat senyumanmu.
Kebahagiaanku setiap saat adalah
celotehmu dalam meminta sesuatu,
agar aku berbuat sesuatu
untukmu…itulah kebahagiaanku!
Kemudian, berlalulah waktu. Hari
berganti hari, bulan berganti bulan dan
tahun berganti tahun. Selama itu pula
aku setia menjadi pelayanmu yang
tidak pernah lalai, menjadi dayangmu
yang tidak pernah berhenti, dan
menjadi pekerjamu yang tidak pernah
mengenal lelah serta mendo’akan
selalu kebaikan dan taufiq untukmu.
Aku selalu memperhatikan dirimu hari
demi hari hingga engkau menjadi
dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu
yang kekar, kumis dan jambang tipis
yang telah menghiasi wajahmu, telah
menambah ketampananmu. Tatkala itu
aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan
demi mencari pasangan hidupmu.
Semakin dekat hari perkawinanmu,
semakin dekat pula hari kepergianmu.
saat itu pula hatiku mulai serasa
teriris-iris, air mataku mengalir, entah
apa rasanya hati ini. Bahagia telah
bercampur dengan duka, tangis telah
bercampur pula dengan tawa. Bahagia
karena engkau mendapatkan pasangan
dan sedih karena engkau pelipur hatiku
akan berpisah denganku.
Waktu berlalu seakan-akan aku
menyeretnya dengan berat. Kiranya
setelah perkawinan itu aku tidak lagi
mengenal dirimu, senyummu yang
selama ini menjadi pelipur duka dan
kesedihan, sekarang telah sirna
bagaikan matahari yang ditutupi oleh
kegelapan malam. Tawamu yang
selama ini kujadikan buluh perindu,
sekarang telah tenggelam seperti batu
yang dijatuhkan ke dalam kolam yang
hening, dengan dedaunan yang
berguguran. Aku benar-benar tidak
mengenalmu lagi karena engkau telah
melupakanku dan melupakan hakku.
Terasa lama hari-hari yang kulewati
hanya untuk ingin melihat rupamu.
Detik demi detik kuhitung demi
mendengarkan suaramu. Akan tetapi
penantian kurasakan sangat panjang.
Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk
melihat dan menanti kedatanganmu.
Setiap kali berderit pintu aku
manyangka bahwa engkaulah orang
yang datang itu. Setiap kali telepon
berdering aku merasa bahwa
engkaulah yang menelepon. Setiap
suara kendaraan yang lewat aku
merasa bahwa engkaulah yang datang.
Akan tetapi, semua itu tidak ada.
Penantianku sia-sia dan harapanku
hancur berkeping, yang ada hanya
keputusasaan. Yang tersisa hanyalah
kesedihan dari semua keletihan yang
selama ini kurasakan. Sambil
menangisi diri dan nasib yang memang
telah ditakdirkan oleh-Nya.
Anakku… ibumu ini tidaklah meminta
banyak, dan tidaklah menagih
kepadamu yang bukan-bukan. Yang
Ibu pinta, jadikan ibumu sebagai
sahabat dalam kehidupanmu.
Jadikanlah ibumu yang malang ini
sebagai pembantu di rumahmu, agar
bisa juga aku menatap wajahmu, agar
Ibu teringat pula dengan hari-hari
bahagia masa kecilmu.
Dan Ibu memohon kepadamu, Nak!
Janganlah engkau memasang jerat
permusuhan denganku, jangan engkau
buang wajahmu ketika Ibu hendak
memandang wajahmu!!
Yang Ibu tagih kepadamu, jadikanlah
rumah ibumu, salah satu tempat
persinggahanmu, agar engkau dapat
sekali-kali singgah ke sana sekalipun
hanya satu detik. Jangan jadikan ia
sebagai tempat sampah yang tidak
pernah engkau kunjungi, atau
sekiranya terpaksa engkau datangi
sambil engkau tutup hidungmu dan
engkaupun berlalu pergi.

Anakku,

telah bungkuk pula
punggungku. Bergemetar tanganku,
karena badanku telah dimakan oleh
usia dan digerogoti oleh penyakit…
Berdiri seharusnya dipapah, dudukpun
seharusnya dibopong, sekalipun begitu
cintaku kepadamu masih seperti dulu…
Masih seperti lautan yang tidak pernah
kering. Masih seperti angin yang tidak
pernah berhenti.
Sekiranya engakau dimuliakan satu
hari saja oleh seseorang, niscaya
engkau akan balas kebaikannya
dengan kebaikan setimpal. Sedangkan
kepada ibumu… Mana balas budimu,
nak!?
Mana balasan baikmu! Bukankah air
susu seharusnya dibalas dengan air
susu serupa?! Akan tetapi kenapa nak!
Susu yang Ibu berikan engkau balas
dengan tuba. Bukankah Allah ta’ala
telah berfirman, “Bukankah balasan
kebaikan kecuali dengan kebaikan
pula?!” (QS. Ar Rahman: 60) Sampai
begitu keraskah hatimu, dan sudah
begitu jauhkah dirimu?! Setelah
berlalunya hari dan berselangnya
waktu?!

Wahai anakku...!

setiap kali aku mendengar
bahwa engkau bahagia
dengan hidupmu, setiap itu pula
bertambah kebahagiaanku. Bagaimana
tidak, engkau adalah buah dari kedua
tanganku, engkaulah hasil dari
keletihanku. Engkaulah laba dari
semua usahaku! Kiranya dosa apa
yang telah kuperbuat sehingga engkau
jadikan diriku musuh bebuyutanmu?!
Pernahkah aku berbuat khilaf dalam
salah satu waktu selama bergaul
denganmu, atau pernahkah aku
berbuat lalai dalam melayanimu?
Terus, jika tidak demikian, sulitkah
bagimu menjadikan statusku sebagai
budak dan pembantu yang paling hina
dari sekian banyak pembantumu .
Semua mereka telah mendapatkan
upahnya!? Mana upah yang layak
untukku wahai anakku!
Dapatkah engkau berikan sedikit
perlindungan kepadaku di bawah
naungan kebesaranmu? Dapatkah
engkau menganugerahkan sedikit
kasih sayangmu demi mengobati derita
orang tua yang malang ini? Sedangkan
Allah ta’ala mencintai orang yang
berbuat baik.

Wahai anakku...!

Aku hanya ingin
melihat wajahmu, dan aku tidak
menginginkan yang lain.
Wahai anakku! Hatiku teriris, air
mataku mengalir, sedangkan engkau
sehat wal afiat. Orang-orang sering
mengatakan bahwa engkau seorang
laki-laki supel, dermawan, dan
berbudi.

Anakku…  

Tidak tersentuhkah hatimu
terhadap seorang wanita tua yang
lemah, tidak terenyuhkah jiwamu
melihat orang tua yang telah renta ini,
ia binasa dimakan oleh rindu,
berselimutkan kesedihan dan
berpakaian kedukaan!? Bukan karena
apa-apa?! Akan tetapi hanya karena
engkau telah berhasil mengalirkan air
matanya… Hanya karena engkau telah
membalasnya dengan luka di hatinya…
hanya karena engkau telah pandai
menikam dirinya dengan belati
durhakamu tepat menghujam
jantungnya… hanya karena engkau
telah berhasil pula memutuskan tali
silaturrahim?!

Wahai anakku...!

ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka
titilah jembatan itu menujunya,
lewatilah jalannya dengan senyuman
yang manis, pemaafan dan balas budi
yang baik. Semoga aku bertemu
denganmu di sana dengan kasih
sayang Allah ta’ala, sebagaimana
dalam hadits:  Orang tua adalah pintu
surga yang di tengah. Sekiranya
engkau mau, maka sia-siakanlah pintu
itu atau jagalah!!” (HR. Ahmad)

Anakku..

Aku sangat mengenalmu, tahu
sifat dan akhlakmu. Semenjak engkau
telah beranjak dewasa saat itu pula
tamak dan labamu kepada pahala dan
surga begitu tinggi. Engkau selalu
bercerita tentang keutamaan shalat
berjamaah dan shaf pertama. Engkau
selalu berniat untuk berinfak dan
bersedekah.

Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu
hadits yang terlupakan olehmu! Satu
keutamaan besar yang terlalaikan
olehmu yaitu bahwa Nabi yang mulia
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu
berkata: Aku bertanya kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Wahai Rasulullah, amal apa yang
paling mulia? Beliau bersabda: “Shalat
pada waktunya”, aku berkata:
“Kemudian apa, wahai Rasulullah?”
Beliau bersabda: “Berbakti kepada
kedua orang tua”, dan aku berkata:
“Kemudian, wahai Rasulullah!” Beliau
menjawab, “Jihad di jalan Allah”, lalu
beliau diam. Sekiranya aku bertanya
lagi, niscaya beliau akan
menjawabnya. (Muttafaqun ‘alaih)

Wahai anakku...!

Ini aku, pahalamu,
tanpa engkau bersusah payah untuk
memerdekakan budak atau berletih
dalam berinfak. Pernahkah engkau
mendengar cerita seorang ayah yang
telah meninggalkan keluarga dan
anak-anaknya dan berangkat jauh dari
negerinya untuk mencari tambang
emas?! Setelah tiga puluh tahun dalam
perantauan, kiranya yang ia bawa
pulang hanya tangan hampa dan
kegagalan. Dia telah gagal dalam
usahanya. Setibanya di rumah, orang
tersebut tidak lagi melihat gubuk
reotnya, tetapi yang dilihatnya adalah
sebuah perusahaan tambang emas
yang besar. Berletih mencari emas di
negeri orang kiranya, di sebelah gubuk
reotnya orang mendirikan tambang
emas.Begitulah perumpamaanmu dengan
kebaikan. Engkau berletih mencari
pahala, engkau telah beramal banyak,
tapi engkau telah lupa bahwa di
dekatmu ada pahala yang maha besar.
Di sampingmu ada orang yang dapat
menghalangi atau mempercepat
amalmu. Bukankah ridhoku adalah
keridhoan Allah ta’ala, dan murkaku
adalah kemurkaan-Nya?

Anakku,

yang aku cemaskan
terhadapmu, yang aku takutkan bahwa
jangan-jangan engkaulah yang
dimaksudkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam dalam sabdanya: “Merugilah
seseorang, merugilah seseorang,
merugilah seseorang”, dikatakan,
“Siapa dia,wahai Rasulullah?,
Rasulullah menjawab, “Orang yang
mendapatkan kedua ayah ibunya
ketika tua, dan tidak memasukkannya
ke surga”. (HR. Muslim)

Anakku…  

Aku tidak akan angkat
keluhan ini ke langit dan aku tidak
adukan duka ini kepada Allah, karena
sekiranya keluhan ini telah
membumbung menembus awan,
melewati pintu-pintu langit, maka akan
menimpamu kebinasaan dan
kesengsaraan yang tidak ada obatnya
dan tidak ada dokter yang dapat
menyembuhkannya. Aku tidak akan
melakukannya, Nak! Bagaimana aku
akan melakukannya sedangkan engkau
adalah jantung hatiku…  
Bagaimana
ibumu ini kuat menengadahkan
tangannya ke langit sedangkan engkau
adalah pelipur laraku. Bagaimana Ibu
tega melihatmu merana terkena do’a
mustajab, padahal engkau bagiku
adalah kebahagiaan hidupku.
Bangunlah Nak!
Uban sudah mulai merambat di
kepalamu. Akan berlalu masa hingga
engkau akan menjadi tua pula, dan
aljaza’ min jinsil amal“Engkau akan
memetik sesuai dengan apa yang
engkau tanam…” Aku tidak ingin
engkau nantinya menulis surat yang
sama kepada anak-anakmu, engkau
tulis dengan air matamu sebagaimana
aku menulisnya dengan air mata itu
pula kepadamu.

Wahai anakku...!

bertaqwalah kepada
Allah pada ibumu, peganglah kakinya!!
Sesungguhnya surga di kakinya.
Basuhlah air matanya, balurlah
kesedihannya, kencangkan tulang
ringkihnya, dan kokohkan badannya
yang telah lapuk. Anakku… Setelah
engkau membaca surat ini,terserah
padamu! Apakah engkau sadar dan
akan kembali atau engkau ingin
merobeknya.
Wassalam,

Ibumu
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Kutitipkan Ceramah
Al-Fadhil Al-Ustadz Armen Halim Naro, Lc.

Selasa, 03 Desember 2013

Sobat! Bayangkan, di saat anda sibuk mengusap peluh karena kepanasan oleh teriknya sinar mentari, tiba tiba ada seseorang yang bertanya: benarkah saat ini adalah siang hari?

Kira kira apa sikap atau jawaban anda? Dan menurut hemat anda, orang model apakah dia yang menanyakan bukti siang padahal mentari terik menyengat ?

Mungkin anda akan berkata: orang ini adalah buta, atau sakit ingatan atau orang linglung yang tidak menyadari apa yang ia ucapkan.

Walau demikian ketahuilah bahwa di dunia ini banyak orang yang bersikap semacam ini. Betapa banyak ummat islam yang sampai saat ini masih disibukkan dengan kegiatan mencari bukti akan kebencian kaum Yahudi dan nasrani kepada islam dan ummatnya. Seakan mereka tidak pernah mendengar atau bahkan sengaja tidak mau peduli dengan firman Allah berikut ini:


وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
 

Dan kaum Yahudi tidaklah akan pernah rela kepadamu dan tidak pula kaum nasrani hingga engkau mengikuti jalan/ajaran mereka. (QS Al Baqarah : 120)

Kondisi semacam ini juga berlaku pada orang yang hingga saat ini masih disibukkan dengan pekerjaan mencari bukti akan kebencian kaum syiah kepada ummat Islam. Seakan banjir darah ummat Islam di berbagai negri belum cukup sebagai bukti kekejaman dan permusuhan kaum syiah kepada ummat Islam.


Status FB : Ust DR Muhammad Arifin Badri, MA

Selasa, 12 November 2013

Penamaan Syi'ah dengan Rafidhah disebutkan oleh salah satu pembesar mereka yaitu al-Majlisi dalam kitabnya Biharul Anwar. Dia mengatakan," Bab tentang keutamaan orang-orang Rafidhah dan terpujinya menamakan diri dengannya." Kemudian dia menyebutkan  riwayat Sulaiman al-A'masy, dia mengatakan: "Aku memasuki tempat Abu Abdullah Ja'far bin Muhammad. Aku berkata," Aku menjadi penebusmu, sesungguhnya manusia menamai kita dengan nama Rawafidh (bentuk jama' dari Rafidhah- pent), sebenarnya apa makna Rawafidh? Maka dia berkata," Demi Allah, sebenarnya bukan mereka yang menamai, tetapi Allah-lah yang menamai kalian dengan nama itu dalam kitab Taurat dan Injil melalui perkataan Musa dan 'Isa."[1]

Dikatakan juga, mereka diberi nama Rafidhah dikarenakan mereka mendatangi Zaid bin Ali bin Husain seraya berkata,"Berlepas dirilah kamu dari Abu Bakar dan Umar, dengan demikian kami akan bergabung bersamamu," kemudian Zaid menjawab, "Mereka berdua adalah shahabat kakek saya (Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam), justru aku setia dan cinta kepada mereka berdua." Maka mereka berkata: "Jika demikian kami menolakmu." Dengan demikian mereka diberi nama "Rafidhah" artinya golongan penolak. Adapun orang-orang yang berbai'at dan setuju dengan Zaid diberi nama Zaidiyyah.[2]

Dalam suatu pendapat dikatakan mereka diberi nama Rafidhah dikarenakan menolak kepemimpinan Abu Bakar dan Umar.[3]
Dalam pendapat yang lain, diberi nama Rafidhah dikarenakan penolakan mereka terhadap agama.[4]

Berbagai Macam Sekte Rafidhah

Dijelaskan dalam kitab Daairatul Maarif bahwa Syi'ah ini bercabang-cabang menjadi lebih dari tujuh puluh tiga golongan yang terkenal.[5]

Bahkan disinyalir sendiri oleh seorang Rafidhah bernama Mir Baqir ad-Damad[6]bahwa hadits yang menjelaskan tentang terbaginya umat menjadi 73 golongan adalah Syi'ah, dan yang selamat dari golongan-golongan ini adalah Syi'ah Imamiyyah.

Dikatakan oleh al-Maqrizi bahwa golongan mereka berjumlah sampai tiga ratus golongan.[7]

Disebutkan oleh asy-Syahrastani bahwa Rafidhah terbagi menjadi lima bagian: al-Kisaaniyyah, az-Zaidiyyah, al-Imamiyyah, al-Ghaliyyah dan al-Isma'iliyyah.[8]

Al-Baghdadi berkata, "Rafidhah setelah masa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu terbagi menjadi empat golongan, Zaidiyyah, Imamiyyah, Kisaaniyyah, dan Ghulaat."[9]dengan satu catatan bahwa Zaidiyyah tidak termasuk dalam golongan Rafidhah, namun ada kelompok al-Jarudiyyah sempalan dari Zaidiyyah yang masuk ke dalam Rafidhah.

Kota Zamrud Khatustiwa,
Bontang, 08 Muharram 1435 H

***
[1] Kitab Baiharul Anwar karangan al-Majlisi (65/97) 
[2] At-Ta'liqaat 'ala Matni Lum'atil I'tiqaad oleh Syaikh Abdullah al-Jibrin, 108.
[3] Maqaalaatul Islamiyyin (1/89), catatan kaki oleh Muhyiddin Abdul Hamid.
[5] Daairatul Maarif, 4/67
[6] Dia adalah Baqir bin Muhammad al-Istirabadi, lebih dikenal dengan nama Mir ad-Dammad, meninggal tahun 1041. Lihat biografinya dalam buku al-Kuna wal Al-Qaab, karya Abbas al-Qummi: 2/226.
[7] Al-Maqrizi, al-Khutat, 2/351
[8] Asy-Syahrastani, al-Milal wan Nihal, 147
[9] Al-Baghdadi dalam al-Farqu bainal Firaq, 41

---
Disalin dari : MIN 'AQAAIDISY SYI'AH,
Syaikh Abdullah bin Muhammad as-Salafi
Edisi Indonesia : Inilah Kesesatan Aqidah Syi'ah.
Penerbit : Jaringan Pembelaan Sunnah


Minggu, 10 November 2013

Rafidhah lahir ke permukaan ketika seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba' hadir dengan mengaku sebagai Muslim, mencintai Ahlul Bait (Keluarga Nabi), berlebih-lebihan di dalam menyanjung Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, dan mendakwahkan adanya wasiat baginya tentang kekhalifahannya, yang pada akhirnya ia mengangkatnya sampai ke tingkat ketuhanan.
Hal ini diakui oleh buku-buku Syi'ah itu sendiri.

Al-Qummi pengarang buku al-Maqalaat wal firaq[1] mengaku dan menetapkan akan adanya Abdullah bin Saba' ini dan menganggapnya orang yang pertama kali menobatkan keimaman (kepemimpinan) Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dan dia akan kembali hidup di akhir zaman.
Disamping ia juga termasuk orang yang pertama mencela Abu Bakar, Umar, Utsman dan para shahabat yang lainnya. Ini diakui juga oleh an-Nubakhti dalam bukunya Firaqus Syi'ah [2] dan al-Kasyi dalam bukunya yang terkenal Rijalul Kasyi.[3]

Adapun penganut Syi'ah kontemporer yang mengakui adanya sosok Abdullah bin Saba' ini adalah Muhammad Ali al-Mu'allim dalam bukunya : Abdullah bin Saba', al-Haqiqatul Majhulah (Abdullah bin Saba', sebuah hakikat yang terlupakan).[4] Pengakuan merupakan argumen yang paling kuat, dan itu semua muncul dari para tokoh senior Syi'ah sendiri.

Al-Baghdadi rahimahullah berkata,"As-Sabaiyyah adalah pengikut Abdullah bin Saba', yang berlebih-lebihan di dalam mengagungkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, sehingga ia mendakwakannya sebagai nabi, sampai kepada pengakuan bahwa dia adalah Allah."

Al-baghdadi menambahkan: "Ibnu Sauda' (nama lain Abdullah bin Saba') adalah seorang Yahudi dari penduduk Hirah, berpura-pura menampakkan dirinya beragama Islam sebagai senjata agar bisa memiliki pengaruh dan kepemimpinan pada penduduk Kufah. Dia berkata kepada penduduk Kufah bahwa ia mendapati dalam kitab Taurat bahwa setiap nabi memiliki washi (seorang yang diwasiati untuk menjadi khalifah atau imam). dan Ali adalah washi-nya Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam.

Asy-Syahrastani menyebutkan bahwa Abdullah bin Saba' adalah orang pertama kali memunculkan pernyataan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu diangkat sebagai imam berdasarkan nash.

Demikian juga dikatakan bahwa as-Sabaiyyah adalah sekte yang pertama kali menyatakan tentang hilangnya imam mereka dan akan muncul kembali di kemudian hari.

Pada masa berikutnya orang-orang Syi'ah-meskipun mereka ini(Syi'ah) terbagi menjadi bermacam sekte dan saling berselisih-mewarisi keyakinan akan keimaman dan hak Ali sebagai khalifah berdasarkan nash maupun wasiat.[5]

Ini semua merupakan warisan Abdullah bin Saba', selanjutnya mereka pun berkembang biak menjadi berpuluh-puluh sekte dengan aneka ragam perbedaan pendapat yang banyak sekali.

Dengan demikian jelaslah, bahwa Syi'ah membuat ideologi-ideologi baru seperti adanya wasiat kekhilafahan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, munculnya kembali imam mereka di kemudian hari, menghilangnya imam dan bahkan penuhanan para imam mereka sebagai bukti mereka hanya mengekor kepada Abdullah bin Saba' seorang Yahudi.[6]

Disadur dari buku : Min 'Aqaaidisy Syi'ah,
Syaikh Abdullah bin Muhammad as-Salafi,
Edisi Indonesia : Inilah Kesesatan Aqidah Syi'ah

***
[1] Al-Qummi, al-Maqalaat wal firaq, 10-21
[2] An-Nubakhti, Firaqus Syi'ah, 19-20
[3] Lihat beberapa riwayat yang ditulis oleh al-Kasyi tentang Ibnu Saba' dan 'aqidahnya, riwayat no. 170-174, pada halaman 106-108
[4] Buku ini merupakan bantahan terhadap sebuah buku yang ditulis oleh seorang penganut Syi'ah bernama Murtadha al-'Askari berjudul Abdullah ibnu Saba' wa Asatiir Ukhra (Abdullah bin Saba', sebuah Ilusi dan Ilusi-ilusi lain). Penulis mengingkari adanya sosok bernama Abdullah bin Saba'.
[5] Yang dimaksud dengan nash adalah penentuan 'Ali radhiyallahu 'anhu sebagai khalifah berdasarkan dalil al-Qur'an dan as-Sunnah. Sedang yang dimaksud wasiat adalah penentuan Ali sebagai khalifah dengan wasiat dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam sebelum beliau meninggal dunia (penj)
[6] Al-Lalikai : Ushulu I'tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama'ah, hal. 1/22-23.

Kamis, 07 November 2013

Sahabatku,
Mari merenung sejenak..
Ibumu.. Ibumu.. Wahai sahabatku..

Ibumu tentu sangat senang
Jika melihat putra-putrinya sekarang telah dewasa dan bermanfaat bagi keluarga barunya
Namun, ibumu pasti lebih bahagia jika beliau merasakan kemanfaatan dirimu untuknya di hari-hari tuanya

Ibumu tak cemburu melihat perhatianmu begitu banyak tercurah kepada istri dan anak-anakmu,
Namun, ibumu tentu sangat merindu menerima telepon walau sebentar dari putra kesayangannya dan hanya menanyakan : "assalamu 'alaikum, sehat Bu? "

Ibumu sangat menganjurkan dirimu sering memberi hadiah kepada istri, anak-anakmu, atau sahabat-sahabatmu sebagaimana anjuran Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam: “saling
memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai…” HR. Bukhori di Adab Almufrad dari Abi Hurairah.
Namun, apakah engkau tiada sempat sisihkan harta untuk membeli hadiah bermanfaat kemudian menghadiahkan kepada ibunda tercinta agar semakin erat rasa cintamu padanya? Seseorang yang telah korbankan rasa sakit, susah payah dan lelah hanya untuk mengukir senyum dan bahagiamu tentu lebih berhak engkau dahulukan hadiahnya

Saat Ibumu telah tiada, apakah semuanya terlambat sahabatku ??

Tentu tidak , alhamdulillah masih ada peluang emas bagimu untuk sedikit memberikan yang terbaik untuk "nya" disana, kerana engkau adalah karya terbaik(anak shalih) yang pernah diukirnya, maka doakan kebaikannya untuk"nya".

Sebagaimana sabda Nabi:
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang shalih” (HR. Muslim no. 1631)

Sahabatku, tidak harus kaubelanjakan semua hartamu untuk membalas kasih"nya", tapi cukup dimulai dari sesuatu yg kecil namun bermanfaat dan mulailah sekarang.. Seandainya pun waktu begitu sempit bagimu, luangkan dalam sholatmu doa kebaikan untuk"nya"

Ibumu.. Ibumu.. Ibumu..
Sumber : 
MuslimJogja.com | PinBB: 2A3DCAF5
Shiddiq Hasan Khan mengatakan bahwa su’ul khatimah memiliki sebab-sebab yang harus diwaspadai oleh seorang mukmin. Pertama, kerusakan dalam aqidah, walau disertai zuhud dan kesholehan. Jika ia memiliki kerusakan dalam aqidah dan ia meyakininya sambil tidak menganggap itu salah, terkadang kekeliruan aqidahnya itu tersingkap pada saat sakratul maut. Bila ia wafat dalam keadaan ini sebelum ia menyadari dan kembali ke iman yang benar, maka ia mendapatkan su’ul khatimah dan wafat dalam keadaan tidak beriman. Setiap orang yang beraqidah secara keliru berada dalam bahaya besar dan zuhud serta kesholehannya akan sia-sia. Yang berguna adalah aqidah yang benar yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul. Mereka terancam oleh ayat Allah berikut:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ

فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

”Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS Al-Kahfi ayat 103-104)

Kedua, banyak melakukan maksiat.

Orang yang sering bermaksiat akan didominasi oleh memori tersebut saat kematian menjelang. Sebaliknya bila seseorang seumur hidupnya banyak melakukan ketaatan, maka memori tersebutlah yang menemaninya saat sakratul maut. Orang yang banyak dosanya sehingga melebihi ketatannya maka ini sangat berbahaya baginya. Dominasi maksiat akan terpateri di dalam hatinya dan membuatnya cenderung dan terikat pada maksiat, dan pada gilirannya menyebabkan su’ul khatimah. Adz-Dzahabi dalam kitabnya al-Kaba’ir mengutip Mujahid: Tidaklah seseorang mati kecuali ditampilkan kepadanya orang-orang yang biasa ia gauli. Seorang lelaki yang suka main catur sekarat, lalu dikatakan kepadanya: ”Ucapkanlah La ilaha illa Allah.” Ia menjawab: ”Skak!” kemudian ia mati. Jadi, yang mendominasi lidahnya adalah kebiasaan permainan dalam hidupnya. Sebagai ganti kalimat Tauhid, ia mengatakan skak.

Ketiga, tidak istiqomah

Sungguh, seorang yang istiqomah pada awalnya, lalu berubah dan menyimpang dari awalnya bisa menjadi penyebab ia mendapat su’ul khatimah, seperti iblis yang pada mulanya merupakan pemimpin dan guru malaikat serta malaikat yang paling gigih beribadah, tapi kemudian tatakala ia diperintah untuk sujud kepada Adam, ia membangkang dan menyombongkan diri, sehingga ia masuk golongan kafir. Demikian pula dengan ulama Bani Israil Bal’am yang digambarkan dalam ayat berikut:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آَتَيْنَاهُ آَيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ

فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ

وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ

ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ

”Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.” (QS Al-A’raaf ayat 175-177)

Keempat, iman yang lemah.

Hal ini dapat melemahkan cinta kepada Allah dan menguatkan cinta dunia dalam hatinya. Bahkan lemahnya iman dapat mendominasi dirinya sehingga tidak tersisa dalam hatinya tempat untuk cinta kepada Allah kecuali sedikit bisikan jiwa, sehingga pengaruhnya tidak tampak dalam melawan jiwa dan menahan maksiat serta menganjurkan berbuat baik. Akibatnya ia terperosok ke dalam lembah nafsu syahwat dan perbuatan maksiat, sehingga noda hitam dosa menumpukdi dalam hati dan akhirnya memadamkan cahaya iman yang lemah dalam hati. Dan ketika sakratul maut tiba, cinta Allah semakin melemah manakala ia melihat ia akan berpisah dengan dunia yang dicintainya. Kecintaannya pada dunia sangat kuat, sehingga ia tidak rela meninggalkannya dan tak kuasa berpisah dengannya. Pada saat yang sama timbul rasa khawatir dalam dirinya bahwa Allah murka dan tidak mencintainya. Cinta Allah yang sudah lemah itu berbalik menjadi benci. Akhirnya bila ia mati dalam kondisi iman seperti ini, maka ia mendapat su’ul khatimah dan sengsara selamanya.

Sumber : Note Facebook
 http://www.facebook.com/notes/majelis-tausiah-para-kyai-ustadz-indonesia/penyebab-suul-khatimah-

Minggu, 03 November 2013

Al Kisah, dahulu ada seorang syaikh yang selalu mengajarkan murid-muridnya perkara akidah. Dia mengajari mereka tentang kalimat "laa ilaaha illallah", dia berusaha menjelaskan dan menanamkannya pada mereka, dalam rangka meneladani Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Tatkala dia sedang mengajari mereka tentang "laa ilaaha illallah" dan menanamkannya di dalam jiwa mereka, salah satu muridnya menghadiahkannya seekor burung beo, karena dahulu syaikh ini suka memelihara burung dan kucing.
Dengan perjalanan waktu, dia menyukai burung beo itu dan selalu membawanya bersamanya di setiap pelajarannya. Sampai burung beo itu bisa mengucapkan Kalimat "laa ilaaha illallah". Dan sang burung selalu mengucapkannya siang dan malam.

Suatu ketika para murid mendapati syaikh mereka sedang menangis terisak-isak. Maka mereka pun bertanya kepadanya mengenai apa yang telah membuatnya menangis?!.

Dia menjawab bahwa kucingnya telah memangsa beo tersebut. Mereka berkata kepadanya: "apakah karena burung ini, engkau menangis? Kalau engkau mau, kami bisa memberimu burung beo yang lain dan lebih baik dari burung beo itu."

Syaikh pun menolaknya, dan mengatakan kepada mereka: " bukan ini yang membuatku menangis, yang membuatku menangis adalah ketika si beo diserang oleh si kucing, si beo hanya berteriak-teriak sampai mati.

Padahal si beo sebelumnya banyak mengucapkan "laa ilaaha illallah". Tetapi ketika si beo diserang oleh si kucing, dia lupa mengucapkan "laa ilaaha illallah", dia hanya berteriak-teriak. Karena dahulu si beo cuma mengucapkannya dengan lisannya, sementara hatinya tidak mengilmuinya dan tidak pula menghayatinya."

Selanjutnya syaikh mereka berkata: "Aku takut kalau keadaan kita seperti burung beo ini. Sepanjang hidup, kita selalu mengulang-ulang "laa ilaaha illallah", tetapi ketika kematian mendekati kita, kita lupa terhadapnya dan tidak ingat, karena hati kita tidak meresapinya (dan tidak pula memahaminya)."

Maka para muridnya pun ikut menangis terisak-isak karena takut tidak mempunyai keikhlasan dan kejujuran hati dalam mengucapkan "laa ilaaha illallah".

Demikian pula dengan kita -wahai para pembaca- apakah hati kita sudah memahami, meresapi, dan menghayati "laa ilaaha illallah"?!.

Tak ada sesuatu yang naik ke langit lebih agung daripada keikhlasan hati, dan tak ada sesuatu yang turun dari langit lebih agung daripada taufiq Allah. Maka sesuai dengan kadar keikhlasan hati kita akan datang taufiq dari Allah.


Sumber : Sebuah Status FB shahabat,
Via : Ustadz Abdul Mu'thi Al-Maidani
Ada orang-orang yang pulas tertidur, namun kalkulasi dosa terus bergulir..

Bahkan ketika jasad telah kaku terbujur, namun catatan dosa belum berakhir..

Hingga pun ia masuk ke dalam liang kubur kiriman dosa terus datang bergilir..

Begitulah resiko trendsetter dosa, pioner maksiat dan siapapun yang ikut andil menyebarkan kesesatan dan kamaksiatan. Mereka turut menanggung dosa orang-orang yg mengikutinya

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu Rasulullah Shallallahu 'alahi wassalam bersabda :

وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنِ اتَّبَعَهُ إِلَى يَوْمِ
الْقِيَامَةِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

"Barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan, maka baginya dosa orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat, tanpa mengurangi dosa pengikutnya sama sekali." (HR Muslim no. 2674)
 
Copas,
Sebuah Status FB

Jumat, 01 November 2013

Dunia, terlebih dunia islam terus menerus diusik dengan isu emansipasi wanita. Para penggerak emansipasi wanita sering kali menyuarakan kesamaan gender, lelaki menyamai wanitaan sebaliknya juga demikian. Sebagaimana lelaki boleh menjadi pemimpin maka mereka juga menuntut agar wanita juga boleh menjadi pemimpin.

Saya tidak ingin berdebat dalam urusan ini, saya hanya ingin bertanya: bila kaum lelaki di perumahan atau kampung bertugas ronda malam, apa para penggerak emansipasi juga akan mengusulkan agar wanita juga bertugas ronda malam?

Bila di tempat-tempat umum kaum lelaki disediakan tempat untuk buang air kecil ( kencil) dengan berdiri, maka apakah para penggerak emansipasi juga akan memperjuangkan agar kaum wanita disiapkan tempat untuk buang air kecil dengan berdiri?

Bila kaum wanita melahirkan anak, apa mereka juga akan mengusulkan agar lelaki juga hamil lalu melahirkan anak?

Bila wanita setiap bulan datang bulan, apa mereka juga akan memperjuangkan agar lelaki setiap bulan juga mengalami pendarahan dengan cara apapun?

Bila kaum wanita menggunakan make up, lip stik, pemerah pipi dll, apakah para pejuang emansipasi juga akan menuntut agar kaum lelaki melakukan hal yang sama?

Fitrah, kodrat dan akal sehat setiap insan pasti mengakui adanya perbedaan lelaki dan wanita. Dan sudah barang tentu perbedaan ini menyebabkan adanya perilaku, hak dan tanggung jawab masing masing. Ada amalan yang cocok dan hanya bisa dilakukan oleh kaum lelaki, semisal kencing berdiri, demikian juga, ada amalan yang hanya pantas dilakukan oleh wanita, semisal memakai merah bibir dan pipi.

Dan diantara hal yang hanya patut dilakukan oleh lelaki selaras dengan kodrat mereka, ialah menjadi pemimpin ummat, baik dalam skup yang sempit yaitu dalam rumah tangga sebagaimana ditegaskan pada ayat berikut: 


الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
 

Lelaki adalah pemimpin kaum wanita karena kelebihan yang Allah berikan kepada kaum lelaki diatas kaum wanita dan karena harta yang mereka belanjakan. ( an Nisa 34)
Demikian pula dalam kepemimpinan yang berskala luas yaitu sebagai kepala negara atau khalifah. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً»
 

Tidak akan sukses kaum yang menyerahkan kepemimpinan mereka kepada wanita. ( Al Bukhary)

Sumber : Facebook Ust DR Muhammad Arifin Badri, MA

Jumat, 25 Oktober 2013


Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya :

Apakah para wali yang shalih mendengar panggilan orang-orang yang memanggilnya ?? Apa makna sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Demi Allah sesungguhnya orang yang telah meninggal dari kalian (di dalam kuburnya) mendengar bunyi langkah terompah kalian”

Mohon penjelasan..

Jawaban :

Pada dasarnya bahwa orang yang telah meninggal dunia baik yang shalih atau yang tidak shalih, mereka tidak mendengar perkataan manusia, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu ; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang maha Mengetahui”. [QS. Fathir : 14]

Begitu juga firmanNya Subhanahu wa Ta’ala :

Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar” [Fathir : 22]

Akan tetapi terkadang Allah memperdengarkan kepada mayit suara dari salah satu RasulNya untuk suatu hikmah tertentu, seperti Allah memperdengarkan suara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang-orang kafir yang terbunuh di perang Badar, sebagai penghinaan dan penistaan untuk mereka, dan kemuliaan untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sampai-sampai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada para sahabatnya ketika sebagian mereka mengingkari hal tersebut.

Tidaklah kalian lebih mendengar apa yang aku katakan daripada mereka, akan tetapi mereka tidak mampu menjawab”.[Hadits Riwayat Ahmad dan ini lafalnya- (I/27 : III/104, 182, 263 dan 287), Bukhari II/101 dan Nasa-i IV/110]

Lihat pembahasan ini di kitab An-Nubuwat, kitab At-Tawassul Wa-al-Wasilah dan kitab Al-Furqan, seluruhnya karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Maka kitab-kitab tersebut cukup memadai dalam mengupas pembahasan ini.

Adapun mayat yang mendengar suara langkah orang yang mengantarnya (ketika berjalan meninggalkan kuburnya) setelah dia dikubur, maka itu adalah pendengaran khusus yang ditetapkan oleh nash (dalil), dan tidak lebih dari itu (tidak lebih dari sekedar mendengar suara terompah mereka), karena hal itu diperkecualikan dari dalil-dalil yang umum yang menunjukkan bahwa orang yang meninggal tidak bisa mendengar (suara orang yang masih hidup), sebagaimana yang telah lalu..

Shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan sahabat-shabatnya.

[Fatawa Li Al- Lajnah Ad-Da’imah I/151-152 dari Fatwa no. 7366 Di susun oleh Syaikh Ahmad Abdurrazzak Ad-Duwaisy, Darul Asimah Riyadh. Di salin ulang dari Majalah Fatawa edisi 7/I/ 1424H]

Jadi.. Jelaslah sudah bahwa mayit tak bisa mendengar para penyerunya..

Lantas.. Bagaimana mereka yang bertawassul pada penghuni kuburan ??? Darimana keyakinan bahwa permintaan mereka akan sampai, sedangkan mayit yang dijadikan PERANTARA saja tak bisa mendengar permintaan mereka ??? Andaikan bisa mendengar pun, mereka tak bisa berbuat apa apa..

- Seandainya orang yang telah mati dapat dipanggil (diseru), maka panggillah arwah para Nabi dan semua para syuhada serta panglima-panglima perang Islam yang telah wafat untuk datang membantu menumpas orang-orang Yahudi dan Nasrani atau kaum kafirin yang lain, dan buatlah angkatan perang 'Ghaib'.

- Seandainya orang yang sudah wafat bisa membantu, maka pastilah arwah orang tua kita yang sudah meninggal akan membantu kita dalam kesulitan mereka pasti akan berusaha sekuat tenaga keluar dari alam barzakh, dan tidaklah mungkin mereka tega melihat anak cucunya menderita..

Apakah bisa ??????

Maka benarlah jika dikatakan bahwa amalan tanpa tuntunan dari Rasulullah adalah hal yang sia sia.. Sudah berletih dan susah payah namun tak ada manfaatnya, jangankan pahala, bahkan justru menyebabkan siksa dan celaka..

Ibnul Qoyyim rahimahullah (dalam al Fawaid) berkata :

Amalan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaikan seorang musafir yang membawa bekal berisi pasir. Bekal tersebut hanya MEMBERATKAN, namun tidak membawa manfaat apa-apa..

Bagi yang masih gemar menyeru mayit/kuburan dan menjadikannya sebagai peratara permintaan, maka camkan baik-baik peringatan dari Allaah subhanahu wa ta'ala :

In tad'uuhum laayasma'uu du'aa-akum walaw sami'uu maaistajaabuu lakum wayawma lqiyaamati yakfuruuna bisyirkikum walaayunabbi-uka mitslu khabiir

" Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu ; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui " [QS. Fathir : 14]

Semoga Allah memberikan petunjuk pada kita semua..
Aamiin..
 
Sumber :
Sebuah note fb,
FP : Membedah Bid'ah

Selasa, 22 Oktober 2013

1. DZIKRULLAH.

Tidak diragukan bahwa dzikrullah (mengingat Allah) merupakan salah satu ibadah yang agung. Dengan dzikrullah seorang hamba mendekatkan diri kepada Rabb-nya, mengisi waktunya dan memanfaatkan nafas-nafasnya.
Dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki keutamaan-keutamaan yang agung dan keberkahan-keberkahan yang melimpah, baik di dunia maupun di akhirat, antara lain:

Keberkahan Duniawi, yaitu;

1. Ketenangan hati dan hilangnya rasa takut, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“...Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. [Ar-Ra’d: 28]

2. Dzikir menguatkan ingatan, sehingga ia mampu melakukan sesuatu yang tidak mampu ia lakukan tanpa dengan berdzikir.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajari anaknya Fathimah Radhiyallahu anhuma dan (menantunya) ‘Ali Radhiyallahu anhu agar bertasbih setiap malam ketika akan tidur sebanyak 33 kali, dan bertahmid sebanyak 33 kali dan bertakbir sebanyak 34 kali. Ketika ia (Fathimah Radhiyallahu anhuma) meminta pembantu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengadu kepadanya tentang apa yang ia hadapi dalam berumah tangga, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari hal tersebut di atas, kemudian bersabda:

"فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ."

“Itu lebih baik dari kalian berdua dari seorang pembantu.” [1]

Dikatakan bahwa, “Barangsiapa yang terus menerus secara kontinu melakukan hal tersebut, maka akan mendapatkan kekuatan pada raganya sehingga ia tidak lagi memerlukan pembantu. [2]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwasanya kalimat “لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ”, memiliki pengaruh yang luar biasa dalam membantu kegiatan-kegiatan yang sulit dan meringankan kususahan dan kesulitan, selanjutnya beliau memberikan dalil-dalil dan ar-gumentasinya dalam hal tersebut.[3]

 Keutamaan dan faidah dzikir sangatlah banyak, hingga Imam Ibnul Qayyim menyatakan dalam kitabnya Al Wabil Ash Shayyib [5], bahwa dzikir memiliki lebih dari seratus faidah, dan menyebutkan tujuh puluh tiga faidah di dalam kitab tersebut. Diantara keutamaan dan faidah dzikir ialah:

Dzikir dapat mengusir syetan dan melindungi orang yang berdzikir darinya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

وَآمُرُكُمْ أَنْ تَذْكُرُوا اللَّهَ فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ خَرَجَ الْعَدُوُّ فِي أَثَرِهِ سِرَاعًا حَتَّى إِذَا أَتَى عَلَى حِصْنٍ حَصِينٍ فَأَحْرَزَ نَفْسَهُ مِنْهُمْ كَذَلِكَ الْعَبْدُ لَا يُحْرِزُ نَفْسَهُ مِنْ الشَّيْطَانِ إِلَّا بِذِكْرِ اللَّهِ

Dan Aku (Yahya bin Zakaria) memerintahkan kalian untuk banyak berdzikir kepada Allah. Permisalannya itu, seperti seseorang yang dikejar-kejar musuh, lalu ia mendatangi benteng yang kokoh dan berlindung di dalamnya. Demikianlah seorang hamba, tidak dapat melindungi dirinya dari syetan, kecuali dengan dzikir kepada Allah.[5]

Ibnul Qayim memberikan komentarnya terhadap hadits ini: “Seandainya dzikir hanya memiliki satu keutamaan ini saja, maka sudah cukup bagi seorang hamba untuk tidak lepas lisannya dari dzikir kepada Allah, dan senantiasa gerak berdzikir; karena ia tidak dapat melindungi dirinya dari musuhnya, kecuali dengan dzikir kepada Allah. Para musuh hanya akan masuk melalui pintu kelalaian dalam keadaan terus mengintainya. Jika ia lengah, maka musuh langsung menerkam dan memangsanya. Dan jika berdzikir kepada Allah, maka musuh Allah itu meringkuk dan merasa kecil serta melemah sehingga seperti al wash’ (sejenis burung kecil) dan seperti lalat”.[6]

Manusia, ketika lalai dari dzikir, maka syetan langsung menempel dan menggodanya serta menjadikannya sebagai teman yang selalu menyertainya, sebagaimana firman Allah.

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

Barangsiapa yang berpaling dari dzikir (Rabb) Yang Maha Pemurah (Al Qur'an), Kami adakan baginya syetan (yang menyesatkan), maka syetan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. [Az Zukhruf/43 :36].

 Dzikir dapat menghidupkan hati. Bahkan, dzikir itu sendiri pada hakikatnya adalah kehidupan bagi hati tersebut. Apabila hati kehilangan dzikir, maka seakan-akan kehilangan kehidupannya; sehingga tidaklah hidup sebuah hati tanpa dzikir kepada Allah.

Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,”Dzikir bagi hati, seperti air bagi ikan. Lalu bagaimana keadaan ikan jika kehilangan air?”[7]

Keempat : Dzikir menghapus dosa dan menyelamatkannya dari adzab Allah; karena dzikir merupakan satu kebaikan yang besar, dan kebaikan adalah untuk menghapus dosa dan menghilangkannya. Tentunya, hal ini dapat menyelamatkan orang yang berdzikir dari adzab Allah, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ عَمَلًا قَطُّ أَنْجَى لَهُ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ

Tidaklah seorang manusia mengamalkan satu amalan yang lebih menyelamatkan dirinya dari adzab Allah dari dzikrullah.[8]

Kelima : Dzikir menghasilkan pahala, keutamaan dan karunia Allah yang tidak dihasilkan oleh selainnya, padahal sangat mudah mengamalkannya; karena gerakan lisan lebih mudah daripada gerakan anggota tubuh lainnya. Diantara pahala dzikir yang disebutkan Rasulullah adalah:

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنْ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ

Barangsiapa mengucapkan (dzikir):

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dalam sehari seratus kali, maka itu sama dengan pahala sepuluh budak; ditulis seratus kebaikan untuknya, dan dihapus seratus dosanya. Juga menjadi pelindungnya dari syetan pada hari itu sampai sore, dan tidak ada satupun yang lebih utama dari amalannya, kecuali seorang yang beramal dengan amalan yang lebih banyak dari hal itu. [9]

Ibnul Qayim berkata,”Dzikir adalah ibadah yang paling mudah, namun paling agung dan utama; karena gerakan lisan adalah gerakan anggota tubuh yang paling ringan dan mudah. Seandainya satu anggota tubuh manusia sehari semalam bergerak seukuran gerakan lisannya, tentulah hal itu sangat menyusahkannya, bahkan tidak mampu.” [10]

Keenam : Dzikir adalah tanaman syurga [11]. Ini berlandaskan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits Abdillah bin Mas’ud yang berbunyi.

لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّي السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ الْمَاءِ وَأَنَّهَا قِيعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Aku berjumpa dengan Ibrahim pada malam isra’ dan mi’raj, lalu ia berkata,”Wahai, Muhammad. Sampaikan salamku kepada umatmu dan beritahulah mereka bahwa syurga memiliki tanah yang terbaik dan air yang paling menyejukkan. Syurga itu dataran kosong (Qai’aan) dan tumbuhannya adalah (dzikir) Subhanallahi wa la ilaha illallah wallahu Akbar.” [12]

2. DUDUK DALAM MAJLIS ILMU

Demikian juga majlis Ilmu, merupakan majlis yang sangat mulia di sisi Allah Ta’ala dan memiliki berbagai keutamaan yang agung.

Majlis Ilmu adalah taman surga di dunia ini.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,”Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya,”Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab,”Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir.”[HR Tirmidzi, no. 3510 dan lainnya. Lihat Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 2562.]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Barangsiapa ingin menempati taman-taman surga di dunia, hendaklah dia menempati majlis-majlis dzikir; karena ia adalah taman-taman surga.”

Duduk Bersama-Sama Untuk Membaca Dan Mempelajari Al Qur’an.
Yaitu dengan cara salah seorang membaca dan yang lainnya mendengarkan. Sebagaimana hadits di bawah ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ …وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda,”Dan tidaklah sekelompok orang berkumpul di dalam satu rumah di antara rumah-rumah Allah; mereka membaca Kitab Allah dan saling belajar diantara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan (para malaikat) di hadapanNya.” [HR Muslim, no. 2699; Abu Dawud, no. 3643; Tirmidzi, no. 2646; Ibnu Majah, no. 225; dan lainnya].


3. MENAHAN AMARAH

Marah ialah bergejolaknya darah dalam hati untuk menolak gangguan yang dikhawatirkan terjadi atau karena ingin balas dendam kepada orang yang menimpakan gangguan yang terjadi padanya.

Marah banyak sekali menimbulkan perbuatan yang diharamkan seperti memukul, melempar barang pecah belah, menyiksa, menyakiti orang, dan mengeluarkan perkataan-perkataan yang diharamkan seperti menuduh, mencaci maki, berkata kotor, dan berbagai bentuk kezhaliman dan permusuhan, bahkan sampai membunuh, serta bisa jadi naik kepada tingkat kekufuran sebagaimana yang terjadi pada Jabalah bin Aiham, dan seperti sumpah-sumpah yang tidak boleh dipertahankan menurut syar’i, atau mencerai istri yang disusul dengan penyesalan.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqâlani rahimahullah berkata, “Adapun hakikat marah tidaklah dilarang karena merupakan perkara tabi’at yang tidak bisa hilang dari perilaku kebiasaan manusia.” [Fat-hul Bâri, X/520].

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوْصِنِيْ ، قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). فَرَدَّدَ مِرَارًا ؛ قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR al-Bukhâri].

Sifat marah merupakan bara api yang dikobarkan oleh setan dalam hati manusia untuk merusak agama dan diri mereka. Karena dengan kemarahan, seseorang bisa menjadi gelap mata sehingga melakukan tindakan atau mengucapkan perkataan yang berakibat buruk bagi diri dan agamanya.

Oleh karena itu, hamba-hamba Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang bertakwa, meskipun mereka tidak luput dari sifat marah, akan tetapi kerena mereka selalu berusaha melawan keinginan nafsu. Sehingga mereka mampu meredam kemarahan mereka karena Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Allâh Azza wa Jalla memuji mereka dalam firman-Nya:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan (harta mereka) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allâh Azza wa Jalla menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan [Ali 'Imrân/3:134]

Maksudnya, jika mereka disakiti orang lain yang memancing kemarahan, mereka tidak memperturutkan hawa nafsu mereka (demi melampiaskan kemarahan), akan tetapi sebaliknya, mereka (justru berusaha) menahan kemarahan dalam hati mereka dan bersabar untuk tidak membalas perlakuan orang yang menyakiti mereka.

Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), akan tetapi orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.[HR al-Bukhâri, no. 5763 dan Muslim, no. 2609].



4. MEMBELA KEHORMATAN SAUDARA

Bertakwalah kita kepada Allah. Sungguh beruntung orang yang bisa menahan diri, tidak berlebihan dalam berbicara. Sungguh beruntung orang yang bisa menguasai lisannya. Sungguh beruntung orang yang terhindar dari menggunjing orang lain, karena ia mengetahui yang ada pada dirinya. Sungguh beruntung orang yang berpegang dengan petunjuk al Qur`an, kemudian menghadap Allah dengan hati yang khusyu’, lisan yang jujur, dan ikhlas mencintai saudaranya.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang. [al Hasyr/59 : 10].

Kami mengingatkan kembali, hendaklah kita jauhi perbuatan ghibah atau menggunjing orang lain. Ketahuilah, orang yang mendengarkan ghibah, ia mendapatkan dosa yang sama seperti pelakunya. Sehingga orang yang mendengarkan ghibah tidak selamat dari dosa, kecuali jika ia mengingkari dengan lisannya, atau dengan hatinya. Apabila bisa, hendaklah ia tinggalkan majelis atau tempat tersebut, atau memutusnya dengan mengalihkan kepada pembicaraan yang lain. Karena, orang yang diam ketika mendengar ghibah, maka ia termasuk bergabung dengan pelakunya. Sehingga Ibnu Mubarak mengingatkan: “Pergilah dari orang yang menggunjing, sebagaimana engkau lari dari kejaran singa”.

Setiap orang memiliki cacat dan aib, kesalahan dan kekeliruan. Oleh karena itu, kita jangan merasa mengetahui apa yang tidak diketahui orang lain. Daripada mengurusi aib orang lain, mengapa kita tidak menyibukkan diri dengan aib sendiri? Jagalah hak dan kehormatan saudaramu! Dalam sebuah hadits dinyatakan :

مَنْ ذَبَّ عَنْ لَحْمِ أَخِيهِ بِالْغِيبَةِ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُعْتِقَهُ مِنَ النَّارِ

Barangsiapa yang membela daging (kehormatan) saudaranya dari ghibah, maka menjadi hak Allah untuk membebaskannya dari api Neraka. [HR Ahmad dengan sanad hasan]

وَمَنْ قَالَ فِي مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ أَسْكَنَهُ اللَّهُ رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ

Barangsiapa yang berkata tentang seorang mu`min yang tidak ada padanya, (maka) Allah akan menempatkannya pada lumpur ahli Neraka, sampai dia keluar dari apa yang dia ucapkan.[HR Abu Dawud, dan dinilai shahih oleh Syaikh al Albani di dalam Shahih at Targhib wa at Tarhib, no. 2845].
مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ

Barangsiapa berbuat kezhaliman terhadap saudaranya (orang lain), hendaklah dia meminta maaf atas kezhalimannya. Karena (pada hari Kiamat), di sana tidak ada dinar (dan) tidak pula dirham sebagai penebusnya, sebelum diambil kebaikan dari dirinya untuk saudaranya tersebut. Apabila dia tidak memiliki kebaikan, maka diambillah kejelekan saudaranya tersebut dan dilimpahkan kepadanya.

(Diangkat dari Khuthbah Jum’at Syaikh Shalih bin ‘Abdullah bin Humaid, di Masjid al Haram, Makkah al Mukarramah)


5. BERJALAN MENUJU MASJID UNTUK SHALAT BERJAMA'AH

Termasuk perkara yang menghiasi shalat adalah perintah untuk melakukan shalat berjama’ah. Bahkan begitu pentingnya shalat berjama’ah sampai-sampai mulai zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sampai pada zaman para imam madzhab, mereka semua sangat memperhatikannya. Bukahkah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sampai pernah mengucapkan keinginannya untuk menyuruh seseorang mengimami orang-orang, dan yang lainnya mencari kayu bakar yang kemudian akan digunakan untuk membakar rumah-rumah orang yang tidak menghadiri shalat berjama’ah?.
Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam juga pernah bersabda:
14.jpg
Barangsiapa yang mendengar adzan, lalu ia tidak mendatanginya (ke masjid), maka tidak ada shalat baginya.” (HR. Ibnu Majah, hadits ini shahih)
Berkata Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu:
Barangsiapa yang suka bertemu Allah kelak sebagai seorang muslim, maka hendaknya ia menjaga shalat-shalatnya, dengan shalat-shalat itu ia dipanggil. sesungguhnya Allah Ta’ala menggariskan kepada Nabi kalian jalan-jalan petunjuk (sunnah-sunnah). Seandainya kalian shalat dirumah, seperti orang yang terlambat ini shalat dirumahnya, niscaya kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian. Jika kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian tersesat. Dan tidaklah seorang laki-laki bersuci dengan sempurna lalu sengaja ke masjid di antara masjid-masjid (yang ada) kecuali Allah menuliskan baginya satu kebaikan untuk setiap langkah yang ia ayunkan dan mengangkat pula dengannya satu derajat dan dengannya pula dihapus satu dosa. Sebagaimana yang kalian ketahui, tak seorangpun meninggalkannya (shalat berjama’ah) kecuali orang munafik yang nyata kemunafikannya. Dan sungguh orang (yang berhalangan) pada masa itu, dibawa datang (ke masjid) dengan dipapah oleh dua orang lalu diberdirikan di dalam shaf.” (HR. Muslim)
Melaksanakan shalat berjama’ah juga merupakan ibadah yang paling ditekankan, ketaatan terbesar dan juga syi’ar Islam yang paling agung, tetapi banyak kalangan yang menisbatkan diri kepada Islam meremehkan hal ini. Sikap meremehkan ini bisa karena beberapa faktor, antara lain:
a. Mereka tidak mengetahui apa yang disiapkan oleh Allah Ta’ala berupa ganjaran yang besar dan pahala yang melimpah bagi orang yang shalat berjama’ah atau mereka tidak menghayati dan tidak mengingatnya.
b. Mereka tidak mengetahui hukum shalat berjama’ah atau pura-pura tidak mengetahuinya.
Oleh karena itulah, dibawah ini akan saya sampaikan keutamaan-keutamaan shalat berjama’ah dimasjid.
KEUTAMAAN SHALAT BERJAMAH
A. Hati yang Bergantung di Masjid akan Berada di Bawah Naungan (‘Arsy) Allah Ta’ala Pada Hari Kiamat.
Di antara apa yang menunjukkan keutamaan shalat berjama’ah ialah bahwa siapa yang sangat mencintai masjid untuk menunaikan shalat berjama’ah di dalamnya, maka Allah Ta’ala akan menaunginya di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Dari sahabat Abu Hurairah radhiallah anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda:
pic21.jpg
Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Rabb-nya, seseorang yang hatinya bergantung di masjid-masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah berkumpul dan berpisah karena-Nya, seseorang yang dinginkan (berzina) oleh wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, maka ia mengatakan,’ Sesungguhnya aku takut kepada Allah’,seseorang yang bersadaqah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang di nafkahkan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang mengingat Allah dalam keadaan sepi (sendiri) lalu kedua matanya berlinang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan saat menjelaskan sabdanya, “Dan seseorang yang hatinya bergantung di masjid-masjid.”
artinya, sangat mencintainya dan senantiasa melaksanakan shalat berjamaah di dalamnya. Maknanya bukan terus-menerus duduk di masjid.” (Syarh an Nawawi VII/121)
Al ‘Allamah al ‘Aini rahimahullah menjelaska apa yang dapat dipetik dari sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ini, “Didalamnya berisi keutamaan orang yang senantiasa berada di masjid untuk melaksanakan shalat berjama’ah, karena masjid adalah rumah Allah dan rumah setiap orang yang bertakwa. Sudah sepatutnya siapa yang dikunjungi memuliakan orang yang berkunjung; maka bagaimana halnya dengan Rabb Yang Maha Pemurah?”.
B. Keutamaan Berjalan ke Masjid untuk Melaksanakan Shalat Berjama’ah
1. Dicatatnya langkah-langkah kaki menuju masjid.
(Rasul) yang berbicara dengan wahyu, kekasih yang mulia Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menjelaskan bahwa langkah kaki seorang muslim menuju masjid akan dicatat. Imam Muslim meriwayatkan dai Jabir bin Abdillah radhiallahu anhuma, ia mengatakan,”Bani Salimah ingin pindah ke dekat masjid, sedangkan tempat tersebut kosong. Ketika hal itu sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, maka beliau bersabda:
16.jpg
Wahai Bani Salimah! Tetaplah di pemukiman kalian, karena langkah-langkah kalian akan dicatat.”
Mereka mengatakan:
pic12.jpg
Tidak ada yang mengembirakan kami bila kami berpindah.” (HR. Muslim)
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan dalam menjelaskan sabdanya: “Wahai Bani Salimah! Tetaplah di pemukiman kalian, karena langkah-langkah kalian akan di catat.”
Artinya, tetaplah dipemukiman kalian! Sebab, jika kalian tetap di pemukiamn kalian, maka jejak-jejak dan langkah-langkah kalian yang banyak menuju ke masjid akan dicatat.” (Syarh an NawawiV/169)
‘Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma mengatakan, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam sunannya, “Pemukiman kaum Anshar sangat jauh dari masjid, lalu mereka ingin agar dekat dengannya, maka turunlah ayat ini,
18.jpg
Dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.”(QS. Yasin:12)
Akhirnya, mereka tetap tinggal di pemukiman mereka.” (HR.Ibnu Majah)
Pencatatan langkah-langkah orang yang menuju masjid bukan hanya ketika ia pergi ke masjid, tetapi juga dicatat ketika pulang darinya. Imam Muslim meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab radhiallahu anhu tentang kisah seorang Anshar yang tidak pernah tertinggal dari shalat berjama’ah, dan tidak pula ia menginginkan rumahnya berdekatan dengan masjid, bahwa ia berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam:
pic31.jpg
Aku tidak bergembira jika rumahku (terletak) didekat masjid. Aku ingin agar langkahku ke masjid dan kepulanganku ketika aku kembali kepada keluargaku dicatat.”
Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
20.jpg
Allah telah menghimpun semua itu untukmu.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat Ibnu Hibban:
21.jpg
Allah telah memberikan itu semua kepadamu. Allah telah memberikan kepadamu apa yang engkau cari, semuanya.” (HR.Ibnu Majah)
2. Para Malaikat yang mulia saling berebut untuk mencatatnya.
Diantara dalil yang menunjukkan keutamaan berjalan ke masjid untuk menunaikan shalat berjama’ah bahwa Allah meninggikan kedudukan langkah-langkah orang yang (berjalan) menuju ke masjid, bahkan para Malaikat yang didekatkan (kepada Allah) berebut untuk mencatatnya dan membawanya naik ke langit.
Imam at Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu anhuma, ia mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
pic41.jpg
Tadi malan Rabb-ku tabaarakta wata’aala, mendatangiku dalam rupa yang paling indah.”(Perawi mengatakan,’Aku menduganya mengatakan,’Dalam mimpi.’). Lalu Dia berfirman, “Wahai Muhammad! Tahukah engkau, untuk apa para Malaikat yang mulia saling berebut?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam berkata:”Aku menjawab,’Tidak’. Lalu Dia meletakkan Tangan-Nya di antara kedua pundakku sehingga aku merasakan kesejukannya di dadaku (atau beliau mengatakan,’Di leherku’). Lalu aku mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.”Dia berfirman,”Wahai Muhammad!Tahukah engkau untuk apa para Malaikat yang mulia saling berebut?” Aku menjawab,”Ya, tentang kaffarat (perkara-perkara yang menghapuskan dosa). Kaffarat itu adalah diam di masjid setelah melaksanakan shalat, berjalan kaki untuk melaksanakan shalat berjama’ah, dan menyempurnakan wudhu pada saat yang tidak disukai.” (HR. Tirmidzi, hadits ini shahih).
Seandainya berjalan kaki untuk shalat berjama’ah tidak termasuk amal yang mulia, niscaya para Malaikat muqarrabun tidak akan berebut untuk mencatat dan membawanya naik ke langit.
3. Berjalan menuju shalat berjama’ah termasuk salah satu sebab mendapatkan jaminan berupa kehidupan yang baik dan kematian yang baik pula.
Tidak hanya para Malaikat saling berebut untuk mencatat amalan berjalan kaki menuju shalat berjama’ah, bahkan Allah menjadikan jaminan kehidupan yang baik dan kematian yang baik pula. Disebutkan dalam hadist terdahulu:
Barangsiapa yang melakukan hal itu – yakni tiga amalan yang disebutkan dalam hadits, di antaranya berjalan kaki menuju shalat berjama’ah – maka ia hidup dengan baik dan mati dengan baik pula.”
Betapa besar jaminan ini! Kehidupan yang baikdan kematian yang baik. siapakah yang menjanjikan hal itu? Dia-lah Allah Yang Maha Esa, yang tidak ada seorangpun yang lebih menepati janji selain Dia.
4. Berjalan menuju shalar berjama’ah termasuk salah satu sebab dihapuskannya kesalahan-kesalahan dan ditinggikannya derajat.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
23.jpg
Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang perkara yang akan menghapuskan kesalahan-kesalahan dan juga mengangkat beberapa derajat?” Para sahabat menjawab,”Tentu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda,”Menyempurnakan wudhu’ pada saat yang tidak disukai, banyak melangkah ke masjid-masjid, dan menunggu shalat setelah melaksanakan shalat. Maka, itulah ar-tibath (berjuang di jalan Allah).” (HR. Muslim).
Ar-ribath pada asalnya -sebagaimana dikatakan oleh al Imam Ibnul Atsir–adalah berdiri untuk berjihad untuk memerangi musuh, mengikat kuda dan menyiapkannya. Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menyerupakan dengannya apa yang telah disebutkan berupa amal-amal shalih dan peribadahan dengannya. Penyerupaan ini juga menegaskan besarnya kedudukan tiga amalan yang tersebut didalam hadits, di antaranya banyak melangkah ke masjid.
Keutaman ini juga berlaku untuk seseorang yang melangkah keluar dari masjid, Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma, ia mengatakan,”Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
24.jpg
Barangsiapa yang pergi menuju masjid untuk shalat berjama’ah, maka satu langkah akan menghapuskan satu kesalahan dan satu langkah lainnya akan ditulis sebagai satu kebajikan untuknya, baik ketika pergi maupun pulangnya.” (HR. Ahmad, hadits ini shahih).
5. Pahala orang yang keluar dalam keadaan suci (telah berwudhu) untuk melaksanakan shalat berjama’ah seperti pahala orang yang melaksanakan haji dan umrah.
Imam Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan , dari sahabat Abu Umamah radhiallahu anhu. Ia mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
25.jpg
Barangsiapa yang keluar dari rumahnya menuju masjid dalam keadaan bersuci (telah berwudhu’) untuk melaksanakan shalat fardhu (berjama’ah), maka pahalanya seperti pahala orang yang melaksanakan haji dan ihram.” (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al Albani).
Zainul ‘Arab mengatakan dalam menjelaskan sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam: “Seperti pahala orang yang melaksanakan haji dan ihram,” “Yakni, pahalanya sempurna.” (‘Aunul Ma’buud II/357)
Allaahu Akbar, jika sedemikian besarnya pahala orang yang keluar untuk menunaikan shalat berjama’ah , maka bagaimana halnya pahala melakukan shalat berjama’ah?
6. Orang yang keluar (menuju masjid) untuk melaksanakan shalat berjama’ah berada dalam jaminan Allah Ta’ala.
Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menjelaskan bahwa orang yang keluar menuju shalat berjama’ah berada dalam jaminan Allah Ta’ala. Imam bu Dawud rahimahullah meriwayatkan dari Abu Umamah radhiallahu anhu, dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda:
26.jpg
Ada tiga golongan yang semuanya dijamin oleh Allah Ta’ala, yaitu orang yang keluar untuk berperang di jalan Allah, maka ia dijamin oleh Allah hingga Dia mewafatkannya lalu memasukkannya ke dalam Surga atau mengembalikannya dengan membawa pahala dan ghanimah, kemudian orang yang pergi ke masjid, maka ia dijamin oleh Allah hingga Dia mewafatkannya lalau memasukkannya ke dalam Surga atau mengembalikannya dengan membawa pahala, dan orang yang masuk rumahnya dengan mengucapkan salam, maka ia dijamin oleh Allah.” (HR. Abu Dawud, di shahihkan oleh syaikh al Albani)
7. Orang yang keluar untuk melaksanakan shalat berjama’ah berada dalam shalat hingga kembali ke rumah.
Imam Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dalam shahihnya dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, ia mengatakan,”Abul Qasim Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
27.jpg
Jika salah seorang dari kalian berwudhu’ di rumahnya, kemudian datang ke masjid, maka ia berada dalam shalat hingga ia kembali. Oleh karenanya, jangan mengatakan demikian-seraya menjaringkann diantara jari-jemarinya-.” (HR. Ibnu Khuzaimah, di shahihkan oleh Syaikh al Albani)
8. Kabar gembira bagi orang-orang yang berjalan di kegelapan (untuk melaksanakan shalat berjama’ah) dengan memperoleh cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.
Imam Ibnu Majah meriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad as Sa’di radhiallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
28.jpg
Hendaklah orang-orang yang berjalan di kegelapan menuju masjid bergembira dengan (mendapatkan) cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.” (HR.Ibnu Majah, syaikh al Albani menilainya shahih)
Ath Thayyibi rahimahullah mengatakan,” Tentang disifatinya cahaya dengan kesempurnaan dan pembatasannya dengan (terjadinya di) hari Kiamat, mengisyaratkan kepada wajah kaum mukminin pada hari Kiamat, sebagaimana dalam firman Allah:
29.jpg
Sedang cahaya mereka memancar dihadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan,’Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami.’” (QS. At Tahriim:8) (dinukil dari ‘Aunul Ma’buud II/268)
Disampaing itu Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan kepada semua pihak agar memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan di kegelapan menuju masjid dengan kabar gembira yang besar ini. Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Buraidah radhiallahu anhu, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
30.jpg
Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan di kegelapan menuju masjid dengan cahay (yang akan diperolehnya) pada hari Kiamat.” (HR. Abu Dawud, di shahihkan oleh Syaikh al Albani)
Al-‘Allamah ‘Abdur Ra-uf al Munawi rahimahullah menjelaskan hadits ini, “Ketika mereka berjalan dalam kesulitan karena senantiasa berjalan dalam kegelapan malam menuju ketaatan, maka mereka diberi balasan berupa cahay yang menerangi mereka pada hari Kiamat.” (Faidhul Qadiir III/201).
9. Allah menyiapkan persinggahan di Surga bagi siapa yang pergi menuju masjid atau pulang (darinya).
Di riwayatkan dari asy Syaikhan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda:
31.jpg
Barangsiapa yang pergi ke masjid dan pulang (darinya), maka Allah menyiapkan untuknya persinggahan di Surga setiap kali pergi dan pulang.” (Muttafaq ‘alaih, lafazh ini milik Bukhari).
Jika persinggahan orang yang pergi menuju masjid atau pulang darinya disiapkan oleh Allah, Rabb langit dan bumi serta Pencipta alam semesta seluruhnya, maka bagaimana persingahan itu??
C. Orang Yang Datang ke Masjid adalah Tamu Allah Ta’ala
Di antara apa yang menunjukkan keutamaan shalat berjama’ah di masjid adalah apa yang dijelaskan oleh Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa orang yang datang ke masjid adalah tamu Allah Ta’ala, dan yang dikunjungi wajib memuliakan tamunya. Imam ath Thabrani meriwayatkan dari Salman radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
Barangsiapa yang berwudhu’ di rumahnya dengan sempurna kemudian mendatangi masjid, maka ia adalah tamu Allah, dan siapa yang di kunjunginya wajib memuliakan tamunya.” (HR. ath Thabrani)
Bagaimana cara Allah memuliakan tamu-Nya, sedangkan Dia adalah Rabb yang paling Pemurah, Penguasa langit dan bumi? Para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam juga menegaskan hal ini. Imam Ibnul Mubarak rahimahullah meriwayatkan dari ‘Amr bin Maimun, ia mengatakan, “Para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mengatakan,’Rumah Allah di bumi adalah masjid, dan Allah wajib memuliakan siapa yang mengunjungi-Nya di dalamnya.’” (Kiitab az Zuhd)
D. Allah Ta’ala Bergembira dengan Kedatangan Hamba-Nya ke Masjid untuk Melaksanakan Shalat Berjama’ah
Imam Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dari Abu Hurairah radiallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
32.jpg
Tidaklah salah seorang dari kalian berwudhu’ dengan baik dan sempurna kemudian mendatangi masjid, ia tidak menginginkan kecuali shalat di dalamnya, melainkan Allah bergembira kepadanya sebagaimana keluarga orang yang pergi jauh bergembira dengan kedatangannya.” (HR.Ibnu Khuzaimah, dishahihkan oleh Syaikh al Albani)
Imam Ibnul Atsir rahimahullah mengatakan,”Al Bassyu adalah kegembiraan kawan dengan kawannya, lemah lembut dalam persoalan dan penyambutannya. Ini adalah permisalan yang dibuat tentang penyambutan Allah kepadanya dengan karunia-Nya, mendekatkannya (kepadanya) dan memuliakannya.” (An-Nihaayah fii Ghariibil Hadits wal Atsar I/130).
E. Keutamaan Menunggu Shalat
Orang yang duduk menunggu shalat, maka ia berada dalam shalat dan Malaikat memohonkan ampunan serta memohonkan rahmat untuknya. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
33.jpg
Salah seorang dari kalian duduk untuk menunggu shalat, maka ia berada dalam shalat selagi belum berhadats, dan para Malaikat berdo’a untuknya:’Ya Allah! Berikanlah ampunan kepadanya, ya Allah! Rahmatilah ia’.” (HR. Muslim).

***

[1]. Lihat dalam Shahih al-Bukhari (IV/208) Kitab Fadhaa-ilush Shahaabatin Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bab Manaaqibu ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu dan Shahih Muslim (IV/2091) Kitaa-budz Dzikri wad Du’aa-i wat Taubati wal Istighfaari bab at-Tasbiihu Awwalan Nahaari wa ‘inda Naumi, dari ‘Ali Radhiyallahu anhu.[2]. Al-Waabilush Shayyib (hal. 164-165) oleh Ibnul Qayyim, dengan diringkas.
[3]. Ibid, hal. 165-167.
[4]. Lihat Al Wabil Ash Shayyib Wa Rafi’ Al Kalimi Ath Thayyib, karya Ibnul Qayyim, tahqiq Hasan Ahmad Isbir, Cetakan pertama, Tahun 1997-1418 H, Dar Ibnu Hazm, Bairut, Libanon, hlm. 69-141.
[5]. Hadits riwayat Imam Ahmad dalam Musnad-nya (4/202), At Tirmidzi dalam Sunan-nya, kitab Al Amtsal ‘An Rasulullih, Bab Ma Ja’a Fi Matsal Ash Shalat Wal Shiyaam Wal Shadaqah, no. 2863 dan dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’, no. 1724.
[6]. Al Wabil Ash Shayyib, hlm. 61.
[7]. Dinukil murid beliau Ibnul Qayim dalam Al Wabil Ash Shayyib, hlm. 70.
[8]. Hadits riwayat Ahmad dalam Musnad-nya 5/239 dan dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’, no. 5644.
[9]. Hadits riwayat Al Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Badi’ Al Khalq, Bab Sifat Iblis Wa Junuduhu, no. 3293; Muslim dalam Shahih-nya, kitab Ad Du’a Wa Dzikir Wa Taubah Wal Istighfar, Bab Fadhlu At Tahlil Wa Takbir Wa Tahmid, no. 2691; At Tirmidzi dalam Sunan-nya, kitab Al Da’awat ‘An Ar Rasul, Bab Ma Ja’a Fi Fadhl Tasbiih Wa Tahlil Wa Takbir Ta Tahmid, no.3390.
[10]. Al Wabil Ash Shayyib, hlm. 73.
[11]. Lihat Al Wabil Ash Shayyib, hlm. 73-74; Fiqh Al Ad’iyah Wal Adzkar, hlm. 19-20 dan Dzikru Wa Tadzkiir, karya Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Ghanim As Sadlan, Cetakan kedua, tahun 1415 H, Dar Al Balansiyah, Riyadh, KSA, hlm.8.
12]. Hadits riwayat At Tirmidzi dalam Sunan-nya, kitab Ad Da’awat ‘An Ar Rasul, Bab Ma Ja’a Fi Fadhl Tasbih Wa Tahlil Wa Takbir Wa Tahmid, no.3462, dan dihasankan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, no. 105.
Sumber : Almanhaj.or.id & Web Al-Ustadz Abu Zubair Hafidzahullah

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts