Rabu, 21 November 2012

Jika ahli bid’ah tersebut belum dihukumi kafir dan tidak memungkinkan sholat kecuali di belakangnya seperti sholat ‘ied, Sholat Jum’at , dan sholat berjama’ah lima waktu di suatu kampung yang tidak memiliki imam selain dia, maka dalam keadaan seperti ini dibolehkan. Adapun jika masih memungkinkan sholat sholat di belakang selainnya dari para imam yang baik, maka tidak diragukan lagi bahwa melakukan sholat di belakang imam yang baik lebih afdhol dibanding sholat di belakang imam yang fasik. ( Baca selengkapnya di Mauqif Ahli Sunnah min Ahlil Ahwa’ wal Bida’ hal 364 – 365 oleh Syaikh Ibrahim bin Amir Ar – Ruhaili)

Sikap Para Ulama

Al – Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “ Adapun sholat Jum’at dan ‘Id maka dilakukan di belakang imam yang baik dan fajir. Sungguh Imam Ahmad menghadirinya bersama orang – orang Mu’tazilah, demikian juga para ulama di zamannya.” (Al Mughni 3/22)
Ada seorang yang bertanya kepada Hasan Al- Bashri,” Ada seorang khawarij mengimami kami apakah kami shalat di belakangnya? Hasan Al – Bashri rahimahullah menjawab,” Ya, telah mengimami orang – orang, siapa yang lebih jelek darinya.” ( Ushulus Sunnah 3/1005 oleh Ibnu Abi Zamanain)
Dari Al- Khallal bahwasannya dikatakan kepada Imam Ahmad,” Shalat Jum’at dan ‘Idain dibolehkan di belakang para imam yang baik dan fajir selama mereka masih menegakkannya? Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata,” Ya.” ( As Sunnah 1/77 oleh Al-Khallal)

Meninggalkan Sholat berjama’ah dengan alasan Imamnya ahli bid’ah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,” …Barangsiapa meninggalkan shalat Jum’at dan Jama’ah di belakang Imam yang fajir maka dia Mubtadi’ menurut Imam Ahmad dan lainnya dari para imam Ahli Sunnah…” (Lihat Majmu’ Fatawa 23/353)

Kesimpulan

Adapun jika masih memungkinkan shalat di belakang selain ahli bid’ah tersebut, maka para ulama sepakat tentang makruhnya shalat di belakang ahli bid’ah.
Hikmah larangan para ulama salaf dari shalat di belakang ahli bid’ah adalah menghajr (memboikot) ahli bid’ah dan memberikan pelajaran agar dia berhenti dari kebid’ahannya.”
Wallahu Ta’ala A’lam

0 komentar:

Posting Komentar

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts