Senin, 29 Oktober 2012

Nikmat yang bercampur kebusukan adalah nikmat yang dilarang. Kenikmatan ini akan membuahkan kesengsaraan setelah berlalunya. Maka apabila dorongan dalam dirimu sangat kuat untuk mendapatkannya, cobalah pikirkan setelah kenikmatan semu itu berlalu. Kenikmatan tersebut akan menyisakan dan meninggalkan kejelekan serta penderitaan. Kemudian timbanglah antara dua perkara tersebut dan lihatlah segala perbedaan yang ada.

Di sisi lain, keletihan dalam ketaatan adalah keletihan yang bercampur dengan kebaikan. Keletihan ini akan membuahkan kelezatan dan kedamaian. Ketika ketaatan ini berat bagi jiwa, maka renungkanlah ketika hilang keletihan tersebut. Pikirkanlah kebaikan, kenikmatan, kebahagiaan yang engkau dapatkan di akhir keletihan ini. Timbanglah antara dua hal ini dan utamakan yang lebih bagus dan baik.
Akal yang cerdas mengutamakan manfaat yang paling besar dengan mengorbankan yang lebih kecil, menanggung beban penderitaan yang lebih ringan untuk menghindari yang lebih besar.
Tentu hal ini membutuhkan pengetahuan tentang hakikat hal-hal yang paling utama dan bermanfaat di antara dua pertimbangan. Siapa yang sempurna bagian akal dan keilmuannya, ia akan memilih dan mengutamakan yang afdhal. Sebaliknya, ketika kurang bagiannya dari dua hal tersebut atau salah satunya, maka ia akan memilih yang lebih rendah. Siapa yang memikirkan kehidupan dunia dan akhirat, ia mengetahui bahwa keduanya tidak bisa didapat kecuali dengan kesusahan. Maka hendaknya ia menanggung kesusahan demi yang paling baik dan lebih kekal.


Referensi: Al Fawaid, Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abu Bakar Ayyub, yang dikenal dengan Ibnul Qayyim rahimahullah
(Sumber: Majalah Tashfiyah Edisi 8 Vol. 01 1432 H-2011 M “Tiada Kata Seindah Doa”, Beranda Ummu Aisyah)

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip

Radio Dakwah

Kunjungan

Artikel Terbaru

Popular Posts