Senin, 17 Juli 2017


Shalat yang satu ini punya keutamaan yang besar, sampai-sampai ketika safar pun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus menjaganya.
‘Aisyah berkata,
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَسْرَعَ مِنْهُ إِلَى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ
“Aku tidaklah pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat sunnah yang lebih semangat dibanding dengan shalat sunnah dua raka’at sebelum Fajar” (HR. Muslim no. 724)
Adapun dalil yang menunjukkan keutamaan shalat sunnah qobliyah Shubuh adalah hadits dari ‘Aisyah di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Dua raka’at fajar (shalat sunnah qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim no. 725). Jika keutamaan shalat sunnah fajar saja demikian adanya, bagaimana lagi dengan keutamaan shalat Shubuh itu sendiri?!
Dalam lafazh lain, ‘Aisyah berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara mengenai dua raka’at ketika telah terbih fajar shubuh,
لَهُمَا أَحَبُّ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا
“Dua raka’at shalat sunnah fajar lebih kucintai daripada dunia seluruhnya” (HR. Muslim no. 725)
Sumber : https://rumaysho.com/3301-keutamaan-shalat-sunnah-sebelum-shubuh.html

Ibnul Qayyim -rohimahulloh- mengatakan:

"Hati yang kacau tidak menentu, tidak ada yang bisa memperbaikinya kecuali menghadapkan hati itu kepada Allah." [Zadul Ma’ad 2/82].

Sufyan bin Uyainah -rohimahulloh- sebelumnya telah mengatakan:

"Para ulama dahulu biasa saling menasehati satu sama lain dengan kata-kata ini:

Barangsiapa memperbaiki keadaan batinnya, niscaya Allah perbaiki keadaan lahirnya.

Barangsiapa memperbaiki hubungan dia dengan Allah, niscaya Allah akan perbaiki hubungan dia dengan manusia.

Barangsiapa beramal untuk akhiratnya, niscaya Allah akan cukupkan kehidupan dunianya."

[Kitab Ikhlash, karya Ibnu Abid Dunya].

-----

Seringkali kita merasa keadaan kita tidak terarah, tidak menentu, tidak teratur, hampa, gersang, dan seterusnya..

Jika keadaan ini menimpa kita, ingatlah bahwa itu pertanda kita sudah jauh dari Allah.. Solusinya sangat sederhana sebenarnya, hanya saja semua kembali kepada kita, mau atau tidak untuk move on.

Segeralah kembali kepada Allah, dan fokuslah dengan ibadah.. Jika ibadah kita beres, Allah akan membereskan kehidupan kita dan memberkahi waktu kita.. Karena sangat tidak mungkin Allah menelantarkan orang yang mendekat kepada-Nya dengan ikhlas dan sesuai tuntunan.

Sumber: Ad Dariny (dengan sedikit pengubahan tanpa mengubah isinya)


Hendaknya kita berhati-hati men-share foto atau video kita, keluarga kita atau anak kita di sosial media, karena penyakit 'Ain bisa terjadi melalui foto ataupun video. Meskipun tidak pasti setiap foto yang di-share terkena 'ain tetapi lebih baik kita berhati-hati, karena sosial media akan dilihat oleh banyak orang
Penyakit ‘ ain (bukan penyakit medis) adalah penyakit baik pada badan maupun jiwa yang disebabkan oleh pandangan mata orang yang dengki ataupun takjub/kagum, sehingga dimanfaatkan oleh setan dan bisa menimbulkan bahaya bagi orang yang terkena.
Ibnul Atsir rahimahullah berkata,
ﻳﻘﺎﻝ: ﺃﺻَﺎﺑَﺖ ﻓُﻼﻧﺎً ﻋﻴْﻦٌ ﺇﺫﺍ ﻧَﻈﺮ ﺇﻟﻴﻪ ﻋَﺪُﻭّ ﺃﻭ ﺣَﺴُﻮﺩ ﻓﺄﺛَّﺮﺕْ ﻓﻴﻪ ﻓﻤَﺮِﺽ ﺑِﺴَﺒﺒﻬﺎ
“Dikatakan  bahwa Fulan terkena ‘ Ain , yaitu apa bila
musuh atau orang-orang dengki memandangnya lalu
pandangan itu mempengaruhinya hingga menyebabkannya jatuh sakit” [1]
Sekilas ini terkesan mengada-ada atau sulit diterima oleh akal, akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa ‘ ain adalah nyata dan ada.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺍﻟﻌﻴﻦ ﺣﻖُُّ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺷﻲﺀ ﺳﺎﺑﻖ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﻟﺴﺒﻘﺘﻪ ﺍﻟﻌﻴﻦ
“Pengaruh ‘ain itu benar-benar ada, seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, ‘ainlah yang dapat melakukannya.” [2]
Contoh kasus:
-Foto anak yang lucu dan imut diposting di sosial media, kemudian bisa saja terkena 'ain. Anak tersebut tiba-tiba sakit, nangis terus dan tidak berhenti, padahal sudah diperiksakan ke dokter dan tidak ada penyakit
-Bisa juga gejalanya tiba-tiba tidak mau menyusui sehingga kurus kering tanpa ada sebab penyakit
Hal ini terjadi karena ada pandangan hasad kepada gambar itu atau pandangan takjub dan PENTING diketahui bahwa penyakit 'ain bisa muncul meskipun mata pelakunya tidak berniat membahayakannya (ia takjub dan kagum)
Penyakit 'ain bisa melalui gambar atau video
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,
ﻭﻧﻔﺲ ﺍﻟﻌﺎﺋﻦ ﻻ ﻳﺘﻮﻗﻒ ﺗﺄﺛﻴﺮﻫﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﺅﻳﺔ ، ﺑﻞ ﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ ﺃﻋﻤﻰ ﻓﻴﻮﺻﻒ ﻟﻪ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﻓﺘﺆﺛﺮ ﻧﻔﺴﻪ ﻓﻴﻪ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺮﻩ ، ﻭﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺎﺋﻨﻴﻦ ﻳﺆﺛﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﻴﻦ ﺑﺎﻟﻮﺻﻒ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺭﺅﻳﺔ
”Jiwa orang yang menjadi penyebab 'ain bisa saja menimbulkan penyakit 'ain tanpa harus dengan melihat. Bahkan terkadang ada orang buta, kemudian diceritakan tentang sesuatu kepadanya,  jiwanya bisa menimbulkan penyakit 'ain, meskipun dia tidak melihatnya. Ada banyak penyebab 'ain yang bisa menjadi sebab terjadinya 'ain, hanya dengan cerita saja tanpa melihat langsung.”[3]
Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan,
ﻭﺑﻬﺬﺍ ﻳﺘﺒﻴﻦ ﺃﻥ ﺍﻟﻌﺎﺋﻦ ﻗﺪ ﻳﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﺻﻮﺭﺓ ﺍﻟﺸﺨﺺ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﻘﻴﻘﺔ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻠﻔﺎﺯ ، ﻭﻗﺪ ﻳﺴﻤﻊ ﺃﻭﺻﺎﻓﻪ ﻓﻴﺼﻴﺒﻪ ﺑﻌﻴﻨﻪ ، ﻧﺴﺄﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺴﻼﻣﺔ ﻭﺍﻟﻌﺎﻓﻴﺔ
“Oleh karena itu, jelaslah bahwa penyebab 'ain bisa jadi ketika melihat gambar seseorang atau melalui televisi, atau terkadang hanya mendengar ciri-cirinya, kemudian orang itu terkena 'ain. Kita memohon keselamatan dan kesehatan kepada Allah.” [4]
Demikian semoga bermanfaat
@Di antara langit dan bumi Allah, Pesawat Citilink Jakarta-Yogyakarta
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel muslim.or.id
Catatan kaki:
[1] An-Nihayah 3/332
[2] HR. Muslim
[3] Zadul Ma’ad  4/149
[4] Fatwa Al Islam Sual wal Jawab no. 122272
muslim.or.id/28858-penyakit-ain-melalui-foto-dan-video.html
Telegram (klik): bit.ly/muslimafiyah

Saya mau bertanya mengenai hukum islam tentang suami istri bermesraan didepan umum, awal mulanya saya mengomentari suatu foto di Facebook yang memposting seorang ustadzah muda yang sering kita lihat di televisi yang bergandengan tangan dan berpelukan dengan suaminya
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Bermesraan setelah menikah memang sesuatu yang dihalalkan. Tapi kita perlu ingat, tidak semua yang halal boleh ditampakkan dan dipamerkan di depan banyak orang.
Ada beberapa pertimbangan yang akan membuat anda tidak lagi menyebarkan foto kemesraan di Medsos,
Pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan agar umatnya memiliki sifat malu. Bahkan beliau sebut, itu bagian dari konsekuensi iman.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ
Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang. Dan rasa malu salah satu cabang dari iman. (HR. Ahmad 9361, Muslim 161, dan yang lainnya).
Dan bagian dari rasa malu adalah tidak menampakkan perbuatan yang tidak selayaknya dilakukan di depan umum.
Kedua, islam juga mengajarkan agar seorang muslim menghindari khawarim al-muru’ah. Apa itu khawarim al-muru’ah? Itu adalah semua perbuatan yang bisa menjatuhkan martabat dan wibawa seseorang. Dia menjaga adab dan akhlak yang mulia.
Ibnu Sholah mengatakan,
أجمع جماهير أئمة الحديث والفقه على أنه يشترط فيمن يحتج بروايته أن يكون عدلاً ضابطاً لما يرويه .وتفصيله أن يكون : مسلماً بالغاً عاقلاً، سالماً من أسباب الفسق وخوارم المروءة
Jumhur ulama hadis dan fiqh sepakat, orang yang riwayatnya boleh dijadikan hujjah disyaratkan harus orang yang adil dan kuat hafalan (penjagaan)-nya terhadap apa yang dia riwayatkan. Dan rinciannya, dia harus muslim, baligh, berakal sehat, dan bersih dari sebab-sebab karakter fasik dan yang menjatuhkan wibawanya.
(Muqadimah Ibnu Sholah, hlm. 61).
Dan bagian dari menjaga wibawa adalah tidak menampakkan foto kemesraan di depan umum.
Syaikh Muhammad bin Ibrahim – Mufti resmi Saudi pertama – menyatakan tentang hukum mencium istri di depan umum,
بعض الناس -والعياذ بالله- من سوء المعاشرة أنه قد يباشرها بالقبلة أمام الناس ونحو ذلك ، وهذا شيء لا يجوز
Sebagian orang, bagian bentuk kurang baik dalam bergaul dengan istri, terkadang dia mencium istrinya di depan banyak orang atau semacamny. Dan ini tidak boleh. – kita berlindung kepada Allah dari dampak buruknya –.
(Fatawa wa Rasail Muhammad bin Ibrahim, 10/209).
An-Nawawi dalam kitab al-Minhaj menyebutkan beberapa perbuatan yang bisa menurunkan kehormatan dan wibawa manusia,
وقبلة زوجة وأمة بحضرة الناس، وإكثار حكايات مضحكة
Mencium istri atau budaknya di depan umum, atau banyak menyampaikan cerita yang memicu tawa pendengar. (al-Minhaj, hlm. 497).
Ketiga, gambar semacam ini bisa memicu syahwat orang lain yang melihatnya. Terutama ketika terlihat bagian badan wanita, tangannya atau wajahnya.. lelaki jahat bisa memanfaatkannya untuk tindakan yang tidak benar.
Dan memicu orang untuk berbuat maksiat, termasuk perbuatan maksiat.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
Barangsiapa yang mengajak kepada sebuah kesesatan maka dia mendapatkan dosa  seperti dosa setiap orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun. (HR. Ahmad 9160, Muslim 6980, dan yang lainnya).
Bisa jadi anda menganggap itu hal biasa, tapi orang lain menjadikannya sebagai sumber dosa.
Mencegah lebih baik dari pada mengobati…
Allahu a’lam.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits
Sumber: https://konsultasisyariah.com/28247-hukum-pamer-kemesraan-di-medsos.html
Via Fb Mini Al Baithy
[Copas&Posted By Fp Ittiba'Rasulullah ].

Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr hafizahullah menjelaskan bahwa kalau ada mushaf Al-Quran tetap lebih utama membaca Al-Qur’an lewat mushaf dibanding lewat aplikasi dalam handphone.
Beliau membawakan dalil berikut.
من سره أن يحب الله و رسوله ، فليقرأ في المصحف
“Siapa yang ingin dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka bacalah mushaf.” (Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2342. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan).
Jadi silakan pertimbangkan membaca Al-Quran lewat mushaf ataukah lewat handphone. Pahalanya bisa jadi sama, namun lebih utama menggunakan mushaf sebagaimana diperintahkan dalam hadits di atas.
Semoga bermanfaat.
_____
Sumber : https://rumaysho.com/16127-lebih-besar-pahala-baca-al-quran-lewat-mushaf-dibanding-handphone.html

Tempat Shalat Terbaik bagi Perempuan
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صَلَاةُ الْمَرْأَةِ فِي بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلَاتِهَا فِي حُجْرَتِهَا، وَصَلَاتُهَا فِي مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلَاتِهَا فِي بَيْتِهَا
“Shalat seorang perempuan di (tengah) rumahnya lebih utama baginya daripada shalatnya di ruangan (dekat tembok rumahnya), dan shalat seorang perempuan di ruang kecil khusus (di ujung rumah) lebih utama baginya daripada di (tengah) di rumahnya.”
[Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang shahih di atas syarat Muslim, sebagaimana yang dikatakan oleh An-Nawawy, Al-Albany dan Al-Wadi’iy]
_______________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms

Minggu, 16 Juli 2017

Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali rahmatullah 'alaihi (wafat 505 H) berkata :

و يعزى المسلم بقريبه الكافر

"Dan boleh seorang muslim berta'ziyah kerabatnya yang kafir". (Al-Wasith fil Madzhab hal. 362 jilid 1 cet DKI Beirut 1422H)

Al-Imam Ali bin Muhammad Al-Mawardi rahmatullah 'alaihi (wafat 450 H) berkata :
"Jika seorang muslim berta'ziyah kepada orang kafir, maka ia mengucapkan :

أخلف الله عبيك و لا نقص عددك

"Semoga Allah menggantikannya untukmu, dan semoga Allah tidak mengurangi jumlahmu".
(Al-Hawi Al-Kabir hal 66 jilid 3 cet DKI Beirut 2009 M)

Maksud dari doa seorang muslim ketika berta'ziyah ke orang kafir dengan doa "semoga Allah tidak mengurangi jumlahmu" adalah apabila kaum kafir dzimmi bertambah, maka akan banyak Jizyah (upeti) untuk kaum muslimin. Hal ini dijelaskan oleh para ulama diantaranya, Al-Imamhammad Husain bin Mas'ud Al-Baghawi rahmatullah 'alaihi (wafat 516 H) :

و إن كان الميت كافرا يقول : أخلف الله عليك و لا نقص عددك. هذا لأن في زيادة عددهم كثرة الجزية للمسلمين

"Jika yang meninggal itu adalah seorang kafir, maka yang berta'ziyah mengucapkan : {Semoga Allah menggantikannya untukmu, dan semoga Allah tidak mengurangi jumlahmu}. Hal ini dikarenakan dengan bertambahnya jumlah mereka (orang kafir), maka akan banyak Jizyah (upeti) yang akan dibayar kepada kaum muslimin."
(At-Tahdzib hal 452 jilid 2 cet DKI Beirut 1418 H)

Yahya bin Abi Khair Al-'Imrani rahmatullah 'alaihi (wafat 558 H) berkata :
و إن عزى كافرا قال:
أخلف الله عليك و لا نقص عددك. حتى تكثر الجزية

"Dan jika bertazi'yah kepada orang kafir, maka mengucapkan : Semoga Allah menggantikannya untukmu, dan semoga Allah tidak mengurangi jumlahmu. Supaya jizyah (upeti) menjadi banyak". (Al-Bayan hal 116 jilid 3 cet DKI Beirut 1423 H)

Akan tetapi semua ulama diatas tidak memperkenankan mendoakan ampunan untuk orang kafir, sebagaimana dijelaskan oleh Ad-Dimyati Al-Bakri rahimahullah :

و أما تعزية المسلم بالكافر فلا يقال : غفر لميتك، لأن الله لا يغفر الكفر

"Adapun ta'ziyahnya seorang muslim kepada orang kafir, maka tidak diperbolehkan mengucapkan : {semoga Allah mengampuni jenazah anda}, karena Allah tidak mengampuni kekafiran."
(Hasyiyah I'anatut Thalibin hal 239 jilid 2 cet Darul Hadits 1433 H)
Namun hukum ini semua menurut mereka adalah boleh BUKAN SUNNAH. Hal ini dipertegas oleh Muhammad Al-Khatib Asy-Syirbini rahimahullah (wafat 977 H) yang menuturkan :

تعزية الذمي فإنها جائزة لا مندوبة

"Menta'ziyahi kafir dzimmi (orang kafir yang berada ditengah-tengah muslimin dan mendapatkan jaminan keamanan, dan membayar jizyah kepada pemerintah muslimin) hukumnya adalah boleh, TIDAK SUNNAH". (Mughnil Muhtaj hal 55 jilid 2 cet Darul Hadits 1427 H)

Orang-orang kafir yang boleh didatangi oleh seorang muslim dalam rangka ta'ziyah ialah kafir Dzimmi saja, bukan orang kafir yang murtad atau kafir Harbi (orang kafir yang memerangi kaum muslimin).  Ar-Ramliy (wafat 1004 H) berkata :

و أما الكافر من مرتد و حربي فلا يعزى

"Adapun orang kafir dari kalangan orang kafir yang murtad dan harbi maka tidak boleh dita'ziyahi". (Nihayatul Muhtaj hal 260 jilid 2 cet DKI Beirut 1430 H)

Akan tetapi pendapat ini semua dibantah oleh Al-Imam An-Nawawi rahmatullah 'alaihi (wafat 676 H), setelah beliau menyebutkan pendapat para ulama yang membolehkan, beliau membantahnya dan beliau tegaskan :

و هو مشكل لأنه دعاء ببقاء الكافر و دوام الكفر فالمختار تركه، و الله أعلم

"Dan hal ini (pendapat bolehnya berta'ziyah ke orang kafir) adalah pendapat yang  rancu/bermasalah, sebab hal ini mengandung kandungan berdoa agar orang kafir tetap eksis dan kekafiran tetap eksis. Maka pendapat yang dipilih ialah meninggalkannya (tidak berta'ziyah kepada orang kafir. Wallahu A'lam"
(Al-Majmu' Syarhul Muhadzdzab hal 389 jilid 6 cet Darul Hadits 1431 H) Mungkin ada yang heran dengan pendapat An-Nawawi ini, karena pendapat beliau diatas menyelisihi pendapat beliau sendiri di Ar-Raudhah Ath-Thalibin. Beliau berkata :

و يجوز للمسلم أن يعزي الذمي بقريبه فيقول أخلف الله عليك و لا نقص عددك

"Dan boleh bagi seorang muslim berta'ziyah kepada kerabatnya yang kafir dzimmi, dan ia mengucpakan : Semoga Allah menggantikannya untukmu dan semoga tidak mengurangi jumlahmu".
(Ar-Raudhah Ath-Tahlibin hal 701 jilid 1 cet Maktabah Tafiqiyah-tidak disebutkan tahun cetaknya)

Maka yang benar ialah perkataan An-Nawawi rahimahullah di Al-Majmu', karena Al-Majmu' adalah kitab terakhir beliau, bahkan beliau hanya sempat menulis kitab itu sampai kitabul Buyu' bab Riba. Maka perkataan beliau di Raudhah adalah manshukh (terhapus/batal)

Inilah pendapat yang tepat dan lebih dekat kepada kebenaran karena tatkala Abu Thalib mati, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam selaku keponakannya tidak mengurus atau melayat jenazahnya. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, bahwa ketika ayah beliau meninggal, dia datang melapor kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

إِنَّ عَمَّكَ الشَّيْخَ الضَّالَّ قَدْ مَاتَ

"Sesungguhnya pamanmu, si tua yang sesat telah mati".

Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menasihatkan,

اذْهَبْ فَوَارِ أَبَاكَ

"Segera kuburkan bapakmu".
(HR. Abu Daud 3212  melalui kitab 'Aunul Ma'bud cetakan Darul Hadits)

Namun jika dipandang bahwa jika kita datang berta'ziyah kepada orang kafir, maka hal ini diharapkan akan menjadi sebab keislaman mereka (kerabat mayit kafir), maka hukumnya adalah sunnah. Syaikhul Islam Syihabuddin Abul 'Abbas Ahmad bin Hajar Al-Haitami rahmatullah 'alaihi (wafat 973 H) berkata mengenai hal ini :

قد تسن تعزية إن رجي إسلامه

"Terkadang disunnahkan berta'ziyah kepada orang kafir jika yang demikian diharapkan keislaman mereka (keluarga si mayyit)".
(Tuhfatul Muhtaj hal 324 jild 2 cet DKI Beirut 1430 H)

Wallahu A'lam

SBS Bekasi

Sumber: Abu Hanifah Jandriadi Yasin

Arsip

Radio Dakwah

Kunjungan

Radio Kajian Kaltim


Get the Flash Player to hear this stream.

Video Pilihan

Popular Posts