KABAR DAKWAH

TEGUH dalam Tujuan dan FLEKSIBEL dalam sarana berdakwah sesuai yang diperbolehkan syari'at

Rabu, 30 Juli 2014

Dakwah Salaf Bukan Istana

Ustadz Aan Chandra Thalib hafidzahullaah.
REFLEKSI
Guru kami Syaikh Prof. DR. Anis Thahir Al Andunisy pernah berkata:
"Penisbatan kita terhadap salafussholeh tidak akan berarti apa-apa jika mereka para salafussholeh berada di satu lembah, sementara kit yang mengaku pengikut salaf berada di lebah yang lain."
"Dakwah salaf itu bukan istana yang memiliki benteng dan penjaga. Sehingga siapa saja yang mau masuk harus laporan dulu kepada pengawal dan boleh dikeluarkan dengan seenaknya saja".
Pada kesempatan yang lain beliau berkata:
"Innalillah.... Seakan-akan dakwah salafiyah ini seperti perusahaan dimana direkturnya memliki otoritas penuh dalam memasukkan atau mengeluarkan seseorang dari perusahaannya"
"Sebagian orang menganggap bahwa kewibawaan itu dengan bermuka masam.. Ketahuilah... manusia yang paling mulia dan paling berwibawa selalu menyebarkan senyum dan salam pada siapa saja"
(Syaikh Prof. Dr. Anis Thahir Al Andunisy adalah pengajar tetap di Masjid Nabawi As Syarief dan Dosen Fakultas Hadits di Universitas Islam Madiinah. Beliau mengajar mata kuliah Al Jarh Watta'dill)
Pin It
02.47 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Tertundanya Suatu Kemenangan

Terkadang Allah menunda suatu kemenangan karena ummat ini belum mencapai kematangannya atau karena lingkungan belum siap menyambut kemenangan itu sendiri.

Dan tertundanya suatu kemenangan adalah agar supaya ummat ini semakin bertambah kuat hubungannya dengan Allah, mereka mengeluh, merasa sakit, bersusah payah dan mereka tidak mendapatkan sandaran lain selain Allah Ta’ala. Mereka tidak mengharap kecuali kepada-Nya semata dalam setiap kesempitannya.

Dan terkadang Allah menunda kemenangan agar ummat ini memurnikan jerih payah dan upayanya serta pengorbanannya, mereka murnikan itu semua hanya karena Allah Ta’ala semata dan semata-mata karena dakwah kepada-Nya.

Via Ust Ja'far Shaleh


Sila disimak video berikut,
Wallaahul Muwaffiq

>> http://www.youtube.com/watch?v=e1cA2o0_6D4
Pin It
02.42 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Meratapi Nasib Nenek Tua Tukang Tenun

Saudaraku! Ketika hari raya telah tiba, saya yakin saudara mengenakan baju baru, sehingga saudara tampil lebih cakap nan rupawan. Akan tetapi pernahkan saudara mengamati pakaian yang anda kenakan?

Tahukah anda, bagaimana pakaian anda ini dibuat, dimaulai dari kapas, kemudian dipintal dan proses lain selanjutnya, hingga akhirnya sampai ke tangan anda dan anda kenakan? Semuanya dilakukan dan diproses dengan tekhnologi canggih. Sehingga sekarang ini, anda tidak perlu pusing-pusing mengetahui proses pembuatannya.

Akan tetapi tidakkah saudara pernah dibawa oleh lamunan saudara, kepada suatu pemandangan yang menakjubkan. Pemandangan disaat nenek moyang saudara sedang memintal benang, lalu menenunnya, dan kemudian mewarnainya dan akhirnya dengan kedua tangannya, mereka menjahitnya menjadi pakaian lebaran untuk anak-anaknya. Semua proses dari tahap ke tahap selanjutnya dilakukan dengan peralatan yang serba sederhana dan dikerjakan dengan kedua tangan sendiri.

Saudara bisa bayangkan, betapa besar rasa bahagia putra-putri mereka tatkala mendapatkan pakaian tersebut. Bagai mereka, hari raya Iedul Fitri terasa begitu bahagia, senyuman lebar senantiasa menghiasi bibir mereka.

Demikianlah kira-kira gambaran nenek moyang saudara tatkala mempersiapkan pakaian Iedul Fitri untuk anak-anaknya.

Akan tetapi coba saudara sedikit menambahkan gambaran baru pada lamunan saudara. Tatkala salah saorang dari nenek saudara yang telah berjuang siang dan malam. Ia dengan sabar memintal kapas menjadi benang, lalu melanjutkan perjuangannya dengan merajutnya menjadi selembar kain sehingga siap untuk dijahit menjadi pakaian. Rasa gembira telah menghampiri raut wajah anak-anaknya, karena merasa tak lama lagi pakaian Ied mereka segera jadi.

Diluar dugaan, sang nenek bukannya melanjutkan perjuangan dengan menjahit kain hasil tenunannya, ia malah kembali mengurai hasil tenunannya menjadi benang. Dan ia terus mengurai benang itu kembali menjadi onggokan kapas.

Saudara bisa bayangkan, bagaimana perasaan dan sikap putra-putri sang nenek tersebut? Kebahagiaan yang telah menghampiri mereka sekejap sirna, dan tawa ria berubah menjadi jerit tangis duka.

Saudaraku! Menurut hemat saudara, perbuatan nenek itu baik atau tercela? Dan andai saudara adalah salah seorang putra atau putri nenek tersebut, bagaimana perasaan saudara menyaksikan perbuatan ibunda tersebut?

Ini adalah gambaran sederhana bagi keadaan yang semoga tidak sedang saudara alami. Setelah saudara dengan segala daya dan upaya merajut kebahagiaan dan keberhasilan di bulan Ramadhan. Setelah saudara mulai merasakan indahnya sholat berjamaah di masjid. Setelah saudara merasakan betapa damainya batin saudara yang jauh dari bisikan setan. Setelah saudara merasakan betapa bahagianya menikmati hidangan buka puasa.

Setelah saudara mulai merasakan betapa manisnya keimanan. Akankah semuanya itu kembali saudara uraikan satu demi satu? Akankah saudara dengan kedua tangan dan kaki saudara meruntuhkan tumpukan pahala yang telah tersusun rapi di lembar catatan amal saudara? Hanya saudaralah yang mampu membuktikan berbagai pertanyaan di atas.


وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِن بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَاثًا 


"Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali." [ lihat QS An Nahl 92]

Saudaraku! Walau demikian, ada satu indikasi yang dapat saudara jadikan pedoman dalam mengenali apakah sekarang ini saudara sedang memupuk subur pahala yang telah saudara kumpulkan atau sedang meruntuhkannya kembali.

Anda penasaran ingin mengetahui apakah indikasi tersebut? Indikasi tersebut ialah amalan saudara sendiri. 


وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ 


"Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya." [Lihat QS Al Mukminun 60-61]

Pada suatu hari 'Aisyah radhiallahu 'anha bertanya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang maksud ayat ini: Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud oleh ayat ini ialah orang-orang yang biasa mabok-mabok minum khomer, dan mencuri? Menanggapi pertanyaan istri tercintanya ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


(لاَ يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لاَ يُقْبَلَ مِنْهُمْ، أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِى الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ رواه أحمد والترمذي وابن ماجة

"Bukan, wahai Putri As Shiddiq! Akan tetappi mereka itu adalah orang-orang yang rajin berpuasa, mendirikan sholat, dan bersedekah, walau demikian mereka senantiasa kawatir bila amalan mereka tidak diterima Allah, karenanya mereka selalu bersegera dalam mengamalkan kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya." Riwayat Ahmad, At Tirmizy dan Ibnu Majah

Tidak heran saudaraku bila dahulu para ulama' dan orang-orang sholeh senantiasa berjuang untuk beramal sholeh setiap waktu. Mereka senantiasa mengingat dan menyadari bahwa pada suatu saat nanti mereka pasti menghadap kepada Pencipta mereka yaitu Allah Yang Maha Keras Siksa-Nya. Mereka hanya memiliki satu batas waktu untuk berhenti dari perjuangan beramal sholeh:


وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ 


"dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai datang kepadamu yang kepastian (ajal)." 
 
[Lihat QS Al Hijr 99]

Karena perjalanan ibadah saudara demikian panjang, tidak heran bila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya agar mereka bersikap yang proporsional dalam beramal. Tidak telalu memaksakan diri dengan mengamalkan amalan yang terlalu berat baginya dan tidak lemah semangat sehingga malas beramal.


(يَا أَيُّهَا النَّاسُ خُذُوا مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا، وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ) متفق عليه

"Wahai para manusia! Amalkanlah amalan yang kalian kuasa untuk menjalankan dengan terus menerus, karena Allah tidak akan pernah merasa bosan, walaupun kalian telah dihinggapi rasa bosan untuk beribadah. Dan sesungguhnya amalan yang paling Allah cintai ialah amalan yang diamalkan dengan kontinyu walaupun hanya sedikit." Muttafaqun 'alaih.

Saudaraku! Bila pada bulan Ramadhan, anda telah mengenal ibadah puasa, sholat malam, sedekah kepada fakir-miskin, membaca Al Qur'an, dan ibadah lainnya, akankah semua itu tenggelam bersama tenggelamnya bulan Ramadhan?
Tidakkah saudara merasa terpanggil untuk meneruskan amal ibadah itu walau hanya sedikit, sehingga hari-hari saudara senantiasa dihiasi dengan aliran pahala dan kedamaian karena berada dekat dengan Allah?

Semoga Allah Ta'ala senantiasa melimpahkan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat istiqamah dalam beribadah kepada-Nya. Hanya dengan demikian kita dapat menjaga rangkaian pahala yang telah tersusun rapi pada lembaran amal kita dan tidak kembali meruntuhkannya satu demi satu. 


Wallahu a'lam bisshowaab.

Kutip FB Ustadz DR Muhammad Arifin Badri, MA hafidzahullaah.
Pin It
02.38 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Sabtu, 26 Juli 2014

Makmum Masbuq Dalam Shalat Ied

KALAU TERTINGGAL SATU RAKAAT DALAM SHALAT ID ATAU SHALA ISTISQA BAGAIMANA CARA (MENYEMPURNAKAN) SHALATNYA?
Apa yang seharusnya dilakukan bagi orang yang ketinggalan sebagian dari shalat Istisqo atau Id. Seperti orang yang mendapatkannya pada rakaat kedua. Atau tertinggal ruku atau sujud pada shalat-shalat ini?


Alhamdulillah
Yang kuat di antara pendapat ahli ilmu bahwa orang yang masbuk (ketinggalan shalat) mendapatkan bersama imam, termasuk permulaan shalatnya. Dan apa yang dilanjutkan sendirian, adalah akhir shalatnya. Dan ini adalah madzhab Syafii rahimahullah, riwayat dari Ahmad rahimahullah. Silahkan lihat Al-Majmu karangan Imam Nanawi, 4/420.
Alasan hal itu adalah sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam:

إِذَا سَمِعْتُمْ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ ، وَلَا تُسْرِعُوا ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا ، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا (رواه البخاري، رقم  636  ومسلم، رقم 602)

"Jika kalian mendengarkan iqomah, maka berangkatlah untuk melaksanakan shalat. Hendaknya kalian dalam kondisi tenang dan khusyu,  jangan  tergesa-gesa. Apa yang kalian dapatkan, maka shalatlah. Dan apa yang terlewat, maka sempurnakanlah." (HR. Bukhari, no. 636 dan Muslim, no. 602)
Makna kata ‘Sempurnakanlah’ sebagaimana dalam kitab ‘Fathul Bari. 2/118, artinya bahwa shalat makmu masbuk bersama imam, terhitung permulaan shalatnya.

Tidak ada perbedaan antara shalat-shalat wajib, shalat id, istisqo atau selain dari itu. kalau seorang makmum mendapatkan satu rakaat shalat Id, maka itu termasuk rakaat pertama baginya. Kemudian dia berdiri setelah imam salam kemudian melakukan rakaat kedua, dengan bertakbir di permulaannya lima kali takbir. Karena termasuk rakaat kedua untuknya. Kalau dia mendapatkan satu rakaat pada shalat istisqo, berdiri juga lalu melakukan rakaat kedua dengan takbir lima kali di awalnya karena termasuk rakaat kedua baginya. Kalau dia mendapatkan sujud di rakaat kedua atau mendapatkan tasyahud akhir, dia berdiri dan mendatangkan dua rakaat, pada rakaat pertama bertakbir tujuh atau enam kali setelah takbiratul ihrom dan para rakaat kedua takbir lima kali selain dari takbir berdiri dari (sujud). 

Wallahu’alam .

>> http://islamqa.info/id/138046
Pin It
01.42 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Kamis, 17 Juli 2014

You Dont Have to be a Muslim to a Care About Palestine

"Untuk apa sibuk2 mikirin masalah negara orang lain.?? negara sendiri masih banyak masalah?? gitu katanya...
Tanggapan:
Saya setuju banget dan sependapat ama pendapat yang seperti ini, sangkin setujunya saya ogah repot ngikutin n ngliatin negara orang lain main bola di brazil sono, toh negara orang yg tanding kok.. ngapain saya repot nonton sampe teriak2 kasih dukungan? kan bukan negara saya, gak logis bgt kan yak. Apalagi klo sampe bangun malam bahkan begadang hanya buat nonton negara orang main bola, konyol gak tuh kerjaan?
nah loh kok..?? Ooo.. maksudnya ngurusin palestina..??
Klo itu mah bukan negara orang lain.., orang palestina itu saudara saya dan palestina itu tanah suci saya. Ibaratnya gini nih .. saya org sumatra n tinggal disumatra tp klo seandainya pulau jawa diserang bangsa asing maka saya gak akan tinggal diam, karena saya dan orang2 di pulau jawa masih saudara satu ras yaitu bangsa indonesia n jawa itu masih bagian dari negara kelahiran saya. Apalagi hubungan persaudaraan saya dan orang2 palestina itu lansung di hubungkan oleh Allah melalui islam
"you dont have to be a muslim to a care about palestine, you just have to be a human" Klo orang2 barat yg bukan saudaraan ama org2 palestine aja bisa berpendapat kayak gini ya... apalg saya..
So.. klo anda mmg tidak ingin dipusingkan oleh masalah negara ORANG LAIN maka yg anda cukup lakukan adalah berhenti repot menoton piala dunia dan pertandingan2 olah raga lainnya yg org indonesia tidak ada menjadi peserta. klo soal palestine itu bukan masalah orang lain.. itu adalah masalah anda jika anda masih merasa seorang muslim..!!

Catatan FB Bang F. Wahyudi -hafidzahullah-
Via Ust Aan Chandra Thalib hafidzahullaah..

SIla dibaca link berikut semoga bermanfaat >>
Pin It
15.07 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Selasa, 15 Juli 2014

ALLAH SUDAH MENJAMIN SURGA UNTUK NABI MUHAMMAD ﷺ

Sumber: http://sofyanruray.info/menakar-cara-berdalil-sang-ahli-tafsir-tanggapan-kepada-prof-quraish-shihab
TANGGAPAN TERHADAP PERNYATAAN SANG PROF QURAISH SHIHAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bapak Quraish Shihab berkata,

Tidak benar, saya ulangi, Tidak benar bahwa Nabi Muhammad sudah dapat jaminan surga. Surga itu hak prerogatif Allah.

Tanggapan:

Diantara kenikmatan surga yang telah Allah ta’ala janjikan untuk Nabi kita Muhammad ﷺ adalah Al-Kautsar, yaitu sebuah sungai yang sangat indah di surga.

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar.” [QS. Al-Kautsar: 1]

Sahabat yang mulia Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata,

لَمَّا عُرِجَ بِالنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم إِلَى السَّمَاءِ قَالَ أَتَيْتُ عَلَى نَهَرٍ حَافَتَاهُ قِبَابُ اللُّؤْلُؤِ مُجَوَّفًا فَقُلْتُ مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ قَالَ هَذَا الْكَوْثَر

“Tatkala Nabi Muhammad ﷺ dimi’rojkan ke langit beliau bersabda: Aku mendatangi sebuah sungai yang terdapat pada dua tepinya kemah-kemah yang terbuat dari mutiara yang memiliki rongga, maka aku berkata: Apa ini wahai Jibril? Jibril berkata: Inilah Al-Kautsar.” [HR. Al-Bukhari]

Dalam hadits riwayat At-Tirmidzi:

عَنْ أَنَسٍ ( إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ) أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ هُوَ نَهْرٌ فِى الْجَنَّةِ قَالَ فَقَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم رَأَيْتُ نَهْرًا فِى الْجَنَّةِ حَافَتَاهُ قِبَابُ اللُّؤْلُؤِ قُلْتُ مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ قَالَ هَذَا الْكَوْثَرُ الَّذِى قَدْ أَعْطَاكَهُ اللَّهُ

“Dari Anas radhiyallahu’anhu (tentang firman Allah):

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar.” Bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: Al-Kautsar adalah sungai di surga.

Anas berkata: Lalu Nabi ﷺ bersabda: Aku melihat sebuah sungai di surga di dua tepinya terdapat kemah-kemah mutiara, maka aku berkata: Apa ini wahai Jibril? Jibril berkata: Inilah Al-Kautsar yang telah Allah berikan kepadamu.” [HR. At-Tirmidzi, Shahih At-Tirmidzi: 2675]

Ayat dan hadits yang kami sebutkan di atas hanyalah sebagian kecil dari dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menerangkan tentang kenikmatan yang telah dijanjikan oleh Allah ta’ala kepada beliau, maka apabila Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam belum mendapat jaminan masuk surga, apakah berarti janji Allah itu belum dijamin kebenarannya?!

Sungguh, seorang mukmin pasti meyakini, Allah ta’ala tidak mungkin menyalahi janjinya, oleh karena itu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pasti masuk surga untuk menikmati segala kenikmatan yang telah Allah ta’ala janjikan, bahkan beliau lah orang pertama yang akan masuk surga, bagaimana bisa dikatakan bahwa tidak ada jaminan untuk beliau masuk surga?!

Rasulullah ﷺ bersabda,

آتِى بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتَفْتِحُ فَيَقُولُ الْخَازِنُ مَنْ أَنْتَ فَأَقُولُ مُحَمَّدٌ. فَيَقُولُ بِكَ أُمِرْتُ لاَ أَفْتَحُ لأَحَدٍ قَبْلَكَ

Aku akan mendatangi pintu surga di hari kiamat, maka aku meminta untuk dibukakan, lalu penjaga surga berkata: Siapa engkau? Aku berkata: Aku adalah Muhammad. Maka ia berkata: Untuk engkaulah aku diperintahkan agar tidak membuka pintu surga bagi siapapun sebelum engkau.” [HR. Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu'anhu]

Dan saya sangat yakin, seorang muslim yang paling awam sekalipun pasti meyakini bahwa Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam sudah pasti dan sudah dijamin masuk surga, sebagaimana kaum muslimin seluruhnya sepakat bahwa beliau adalah manusia terbaik dan paling dicintai Allah ta’ala, maka sangat aneh jika seorang yang dianggap ahli tafsir namun berani menafikkan jaminan surga untuk Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam.

Sebagaimana kaum muslimin seluruhnya sepakat bahwa Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam dengan izin Allah akan memberikan syafa’at untuk sebagian umatnya agar masuk surga, maka bagaimana mungkin apabila beliau sendiri belum dijamin masuk surga?!

Demikian pula kaum muslimin bersepakat bahwa ada 10 orang sahabat yang sudah dijamin masuk surga, bagaimana bisa Nabi mereka justru tidak mendapat jaminan masuk surga?!


MENGOREKSI CARA BERDALIL PROF. QURAISH SHIHAB (TANGGAPAN THD PROF. QURAISH SHIHAB)

Bapak Quraish Shihab berkata,

“Kenapa saya katakan begitu, pernah ada seorang sahabat nabi dikenal orang baik, trus teman-temanya di sekitarnya berkata: Bahagialah engkau akan mendapatkan surga. Nabi dengar: Siapa yang bilang begitu tadi?

Nabi berkata: “Tidak seorang pun yang masuk surga karena amal” Kamu berkata dia baik amalannya, dia dijamin surga. Surga hak prerogatif Tuhan. Trus ditanya: Kamu pun tidak wahai Nabi Muhammad: Saya pun tidak, kecuali kalau Allah menganugerahkan rahmat kepada saya. Jadi kita berkata, dalam konteks surga dan neraka tidak ada yang dijamin Tuhan.”

Tanggapan:

Diantara kelemahan Prof. Quraish Shihab yang sangat mendasar dalam menyampaikan hadits adalah menyampaikannya hanya dengan maknanya saja, dan bisa jadi dua hadits yang berbeda digabungkannya menjadi satu dan bercampur baur dengan ucapannya, dan tanpa menyebutkan referensi kitab-kitab hadits, tidak pula sahabat yang meriwayatkan.

Dan kami mengira hadits yang dimaksudkan di atas adalah dua hadits yang berbeda, yaitu:

Pertama: Hadits Ummul ‘Alaa Al-Anshoriyah radhiyallahu’anha, beliau berkata ketika meninggalnya sahabat yang mulia Abus Saaib ‘Utsman bin Maz’un radhiyallahu’anhu:

رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْكَ أَبَا السَّائِبِ فَشَهَادَتِي عَلَيْكَ لَقَدْ أَكْرَمَكَ اللَّهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَمَا يُدْرِيكِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَكْرَمَهُ فَقُلْتُ بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ فَمَنْ يُكْرِمُهُ اللَّهُ فَقَالَ أَمَّا هُوَ فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِينُ وَاللَّهِ إِنِّي لأَرْجُو لَهُ الْخَيْرَ وَاللَّهِ مَا أَدْرِي – وَأَنَا رَسُولُ اللهِ – مَا يُفْعَلُ بِي قَالَتْ فَوَاللَّهِ لاَ أُزَكِّي أَحَدًا بَعْدَهُ أَبَدًا.

“Rahmat Allah atasmu wahai Abus Saaib (‘Utsman bin Mazh’un). Aku bersaksi bahwa Allah sungguh telah memuliakanmu.” Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ”Apa yang telah membuat engkau mengetahui bahwa Allah telah memuliakannya?” Aku mengatakan, ”Demi bapakmu (ini bukan untuk bersumpah, Pen), lalu siapa yang dimuliakan Allah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Adapun Abus Saaib maka telah datang kematiannya, demi Allah sungguh aku mengharapkan kebaikan baginya. Dan demi Allah aku tidak tahu –padahal aku adalah Rasulullah- apa yang akan Allah lakukan pada diriku.” Kemudian Ummul ‘Alaa’ mengatakan, “Maka demi Allah, setelah itu aku tidak pernah lagi memastikan seseorang (telah dimuliakan oleh Allah).” [HR Bukhari]

Perhatian: Tentang ucapan Rasulullah ﷺ dalam hadits di atas,

وَاللَّهِ مَا أَدْرِي وَأَنَا رَسُولُ اللَّهِ مَا يُفْعَلُ بِي

“Dan demi Allah aku tidak tahu –padahal aku adalah Rasulullah- apa yang akan Allah lakukan pada diriku.”

Maka ucapan beliau tersebut sebelum turun firman Allah ta’ala yang mengabarkan bahwa dosa-dosa beliau semuanya telah diampuni. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا لِّيَغْفِرَ لَكَ اللهُ مَاتَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَاتَأَخَّرَ

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada kamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang.” [Al-Fath:1-2]

Apakah mungkin setelah dosa seseorang diampuni semuanya oleh Allah ta’ala lalu kemudian ia belum dijamin masuk surga?!

Dan terdapat beberapa hadits yang semakna dengan hadits Ummul ‘Alaa’ Al-Anshoriyah di atas, diantaranya adalah yang disebutkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih beliau pada bab, Tidak Boleh Mengatakan Fulan Syahid:

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِهِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُكْلَمُ فِي سَبِيلِه

“Abu Hurairah berkata, dari Nabi ﷺ: Allah yang lebih mengetahui siapa yang berjihad di jalan-Nya, Allah yang lebih tahu siapa yang terluka di jalan-Nya.” [HR. Al-Bukhari]

Hadits di atas menunjukkan bahwa tidak boleh memastikan seseorang itu mati syahid walau ia meninggal di medan jihad, karena kita tidak mengetahui keadaannya yang sesungguhnya di sisi Allah. Maka demikian pula, lebih tidak boleh lagi memastikan seseorang masuk surga walau kita melihat amalannya baik, karena belum tentu diterima di sisi Allah, sebab kita tidak tahu niat orang tersebut ketika beramal.

Namun larangan memastikan seseorang mati syahid dan masuk surga ini hanya berlaku bagi mereka yang belum dipastikan syahid atau masuk surga, adapun yang sudah dipastikan dan sudah dijamin masuk surga maka wajib bagi kita untuk meyakini bahwa ia pasti dan terjamin masuk surga.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَيَشْهَدُونَ بِالْجَنَّةِ لِمَنْ شَهِدَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْجَنَّةِ كَالْعَشَرَةِ وَكَثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ وَغَيْرِهِمْ مِنْ الصَّحَابَةِ

“Dan mereka (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) mempersaksikan (memastikan) akan masuk surga, orang orang yang dipersaksikan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam akan masuk surga, seperti 10 sahabat, Tsabit bin Qois bin Syammas, dan selain mereka dari kalangan para sahabat.” [Matan Al-Aqidah Al-Washitiyah]

Hal itu karena wajib membenarkan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, sebagaimana dalam hadits Sa’id bin Zaid radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda,

عَشْرَةٌ فِى الْجَنَّةِ النَّبِىُّ فِى الْجَنَّةِ وَأَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدُ بْنُ مَالِكٍ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى الْجَنَّةِ وَلَوْ شِئْتَ لَسَمَّيْتُ الْعَاشِرَ. قَالَ فَقَالُوا مَنْ هُوَ فَسَكَتَ قَالَ فَقَالُوا مَنْ هُوَ فَقَالَ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ

“Sepuluh orang di surga, Nabi (Muhammad) di surga, Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair bin Al-‘Awwam di surga, Sa’ad bin Malik di surga, Abdur Rahman bin ‘Auf di surga.” (Sa’id bin Zaid) berkata, “Kalau engkau mau aku akan sebutkan yang kesepuluh.” Mereka berkata, “Siapakah dia?” Maka beliau diam. Mereka berkata lagi, “Siapakah dia?” Beliau berkata, “Dia adalah Sa’id bin Zaid.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dan ini adalah lafaz Abu Daud, Lihat Ash-Shahihah: 1435]

Dalam lafaz At-Tirmidzi:

وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ

“… Abu Ubaidah (di surga) dan Sa’ad bin Abi Waqqash di surga.” [HR. At-Tirmidzi dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu’anhu, Shahih At-Tirmidzi: 2947]

Perhatian: Dalam lafaz Abu Daud di atas sangat jelas disebutkan, “Nabi (Muhammad) di surga.” Semoga kita termasuk orang-orang yang membenarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam dan tidak mendustakannya.

Adapun tentang sahabat yang mulia Tsabin bin Qois bin Syammas, Rasulullah ﷺ telah bersabda tentang beliau,

بَلْ هُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Bahkan ia termasuk penghuni surga.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan inimlafaz Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu]

Jadi, pendalilan Prof. Quraish Shihab dengan hadits yang disebutkannya untuk menafikan jaminan surga bagi Rasulullah ﷺ dan seluruh sahabat adalah tidak tepat, karena terdapat banyak sekali dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad dan sebagian sahabat telah dijamin masuk surga.

Dan telah dimaklumi bahwa untuk mengambil satu kesimpulan dari dalil hendaklah mengumpulkan terlebih dahulu seluruh dalil yang terkait, bukan mengambil sebagian dalil dan membuang yang lainnya. Oleh karena itu dalam ilmu tafsir juga dikenal adanya nash-nash yang umum dan khusus, yang muthlaq dan muqoyyad, yang naasikh dan mansukh.


Kedua: Hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda,

لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ قَالُوا ، وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ : لاَ ، وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ

“Tidak seorang pun yang amalannya dapat memasukkannya ke surga.” Para sahabat bertanya, “Apakah tidak juga engkau wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Tidak pula aku kecuali aku senantiasa dicurahkan oleh Allah keutamaan dan rahmat.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Dalam lafaz hadits Aisyah radhiyallahu’anha:

وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِمَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ

“Tidak pula aku kecuali aku senantiasa dicurahkan oleh Allah ampunan dan rahmat.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan ini lafaz Al-Bukhari]

Inilah hadits kedua yang dijadikan dalil oleh Prof. Quraish Shihab untuk mendukung pendapatnya bahwa Nabi Muhammad ﷺ belum dijamin surga.

Tanggapan:

Pertama: Hadits yang mulia ini tidak sedikitpun menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam belum dijamin masuk surga, tetapi menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pun masuk surga bukan karena amalan beliau, namun karena keutamaan, ampunan dan rahmat Allah ta’ala. Mari kita lihat penjelasan para ulama pensyarah hadits ini dan hadits lain yang menafsirkan hadits ini.

Al-Kirmani rahimahullah berkata,

إذا كان كل الناس لا يدخلون الجنة الا برحمة الله فوجه تخصيص رسول الله صلى الله عليه و سلم بالذكر أنه إذا كان مقطوعا له بأنه يدخل الجنة ثم لا يدخلها الا برحمة الله فغيره يكون في ذلك بطريق

“Apabila semua manusia tidak dapat masuk surga kecuali dengan rahmat Allah maka sisi pengkhususan disebutkannya “Rasulullah ﷺ dalam hadits ini adalah, apabila beliau sendiri telah dipastikan masuk surga, namun tidaklah beliau memasukinya kecuali dengan rahmat Allah, maka selain beliau dalam hal ini tentunya yang lebih pantas (untuk masuk surga dengan rahmat Allah, bukan dengan amalannya, karena sedikitnya amalan siapa pun selain beliau, Pen).” [Fathul Bari, 11/297]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

قلت وسبق إلى تقرير هذا المعنى الرافعي في أماليه فقال لما كان أجر النبي صلى الله عليه و سلم في الطاعة أعظم وعمله في العبادة أقوم قيل له ولا أنت أي لا ينجيك عملك مع عظم قدره فقال لا الا برحمة الله وقد ورد جواب هذا السؤال بعينه من لفظ النبي صلى الله عليه و سلم عند مسلم من حديث جابر بلفظ لا يدخل أحدا منكم عمله الجنة ولا يجيره من النار ولا انا الا برحمة من الله تعالى

“Aku katakan: Ar-Rafi’i dalam kitab Al-Amaali-nya telah mendahului untuk menegaskan makna seperti yang dikatakan oleh Al-Kirmani di atas. Ar-Rafi’i berkata,

“Ketika pahala Nabi ﷺ dalam melakukan ketaatan itu lebih besar dan amalan beliau dalam ibadah lebih lurus, maka dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah tidak juga engkau yang tidak dapat diselamatkan oleh amalanmu padahal ia sangat besar?” Maka beliau menjawab, “Tidak juga aku, kecuali dengan rahmat dari Allah.” Dan terdapat dalam hadits dengan lafaz lain dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sebagai jawaban terhadap pertanyaan tersebut, yang disebutkan dalam riwayat Muslim dari hadits Jabir radhiyallahu’anhu dengan lafaz:

لاَ يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَلاَ يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ وَلاَ أَنَا إِلاَّ بِرَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ تعالى

“Tidaklah seorang pun yang amalannya dapat memasukkannya ke dalam surga dan melindunginya dari neraka, tidak pula aku, kecuali dengan rahmat dari Allah ta’ala.” (HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma)” [Fathul Bari, 11/297]

Maka jelaslah, yang dimaksud oleh Rasulullah ﷺ adalah penjelasan bahwa amalan seseorang tidak akan memasukkannya ke dalam surga, tapi rahmat Allah kepadanya itulah yang memasukkannya ke surga, termasuk penjelasan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pun masuk surga karena rahmat Allah, dan bukan untuk menjelaskan bahwa beliau belum dirahmati dan diampuni.

Kedua: Kalaulah betul hadits ini menunjukkan bahwa ketika Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam bersabda demikian, beliau belum diampuni dan dirahmati, maka terdapat banyak dalil lain yang menunjukkan setelah itu beliau sudah diampuni dan dirahmati.

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا لِّيَغْفِرَ لَكَ اللهُ مَاتَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَاتَأَخَّرَ

"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada kamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang." [Al-Fath: 1-2]

Dalam hadits syafa’at yang panjang, manusia pada akhirnya mendatangi Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam seraya mengatakan,

يَا مُحَمَّدُ أَنْتَ رَسُولُ اللهِ وَخَاتَمُ الأَنْبِيَاءِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلاَ تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ

“Wahai Nabi Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan penutup para Nabi, dan sungguh Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang, mintakanlah syafa’at untuk kami kepada Rabbmu, tidakkah engkau melihat keadaan kami.” [HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu’anhu berkata,

قَامَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم حَتَّى تَوَرَّمَتْ قَدَمَاهُ فَقِيلَ لَهُ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

“Rasulullah ﷺ melakukan sholat (tahajjud) sampai pecah-pecah kedua kakinya, maka dikatakan kepada beliau: Bukankah Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang? Beliau bersabda: Tidakkah aku menjadi seorang hamba yang selalu bersyukur?” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Maka seorang Nabi yang sudah diampuni dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang, sudah pasti telah dirahmati oleh Allah ta’ala. 


Allah ta’ala berfirman,

وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا

Sekiranya tidaklah karena keutamaan Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu dapat bersih selama-lamanya.” [An-Nur: 21]

Al-‘Allamah Al-Mufassir As-Sa’di rahimahullah berkata,

ما زكى أحد بالتطهر من الذنوب والسيئات والنماء بفعل الحسنات، فإن الزكاء يتضمن الطهارة والنماء، ولكن فضله ورحمته أوجبا أن يتزكى منكم من تزكى

“Tidak seorang pun dapat membersihkan diri dari dosa-dosa dan kejelekan-kejelekan, serta meningkat dengan melakukan kebaikan-kebaikan, karena sesungguhnya membersihkan diri itu mencakup mensucikan dan meningkatkan, akan tetapi dengan keutamaan Allah dan rahmat-Nya mengharuskan diantara kalian ada yang mensucikan diri.” [Taisirul Kariimir Rahman fi Tafsiri Kalaamil Mannan, hal. 563]

Bahkan rahmat tersebut senantiasa tergambarkan dalam kehidupan beliau. Allah ta’ala berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” [Ali Imron: 159]

Al-‘Allamah Al-Mufassir As-Sa’di rahimahullah berkata,

أي: برحمة الله لك ولأصحابك، منَّ الله عليك أن ألنت لهم جانبك، وخفضت لهم جناحك، وترققت عليهم، وحسنت لهم خلقك، فاجتمعوا عليك وأحبوك، وامتثلوا أمرك

“Maknanya, dengan rahmat Allah untukmu dan untuk sahabat-sahabatmu, Allah menganugerahkan untukmu kelembutan dalam bergaul dengan mereka, engkau merendahkan sayapmu (tidak sombong) bagi mereka, engkau bersikap halus terhadap mereka dan engkau berakhlak baik kepada mereka, maka mereka bersatu denganmu, mencintaimu dan mentaati perintahmu.” [Taisirul Kariimir Rahman fi Tafsiri Kalaamil Mannan, hal. 154]

Ketiga: Apabila pendapat batil bahwa Rasulullah ﷺ belum dijamin surga tersebut diterima maka konsekuensinya akan bertentangan antara hadits tersebut dengan hadits-hadits bahkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang sangat banyak sekali yang telah mengabarkan jaminan surga dari Allah untuk Nabi Muhammad ﷺ, dan tidak mungkin terjadi selamanya pertentangan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, tapi pemahaman kitalah yang salah.

Allah ta’ala berfirman,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” [An-Nisa: 82]

Dan Allah ta’ala berfirman,

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” [An-Najm: 3-4]

Bersambung insya Allah ta’ala…

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

>> https://www.facebook.com/sofyanruray.info
Pin It
10.18 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Senin, 14 Juli 2014

Qunut witir Dan Laknat Atas Kafirin

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc

Umar bin Khathab berkata, "Apabila telah pertengahan ramadlan disunnahkan melaknat kaum kafirin di rakaat terakhir witir."
ibnu hajar berkata, "Sanadnya hasan."
talkhis alhabiir 2/52.

pertengahan ramadlan sebentar lagi..
mari kita laknat kaum yahudi..
dan semua orang orang kafir yang menghalang halangi manusia dari jalan Allah..

dari ibnu syihab berkata, "Dahulu mereka melaknat kaum kafir di pertengahan ramadlan. mereka berdoa:

اللهم قاتل الكفرة الذين يصدّون عن سبيلك، ويكذبون رسلك ولا يؤمنون بوعدك، وخالِفْ بين كلمتهم، وألق في قلوبهم الرعب، وألقِ عليهم رجزك وعذابك، إلهَ الحقّ".

Ya Allah perangilah orang orang kafir yang menghalang halangi manusia dari jalanMu, yang mendustakan para rosulMu, dan tidak beriman dengan janjiMu. Cerai beraikan kalimat mereka, dan berikan kepada mereka rasa takut, dan berikan laknat dan adzabMu kepada mereka. wahai ilaah yang haq."

(Riwayat Muhammad bin Nashr Al Marwazi).
Pin It
12.50 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0