KABAR DAKWAH

TEGUH dalam Tujuan dan FLEKSIBEL dalam sarana berdakwah sesuai yang diperbolehkan syari'at

Selasa, 30 September 2014

Kejujuran Seorang Yang Menemukan Barang Bukan Miliknya

Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi’ bin Muhammad al-Bazar berkata, “Ketika itu aku tinggal di samping kota Makkah- sebuah kota yang semoga selalu dalam penjagaan Allah subhanahu wata’ala-. Suatu hari aku sangat lapar, sementara aku tidak mendapatkan makanan yang dapat mengganjal rasa laparku.

Tanpa aku duga aku menemukan sebuah bungkusan berbalut kain sutra diikat kaos kaki dari kain sutra pula. Maka tanpa pikir panjang bungkusan itu aku pungut lalu aku bawa ke rumah dan kubuka. Ternyata berisi seuntai kalung mutiara yang seumur hidup aku belum pernah melihatnya.

Setelah itu, aku keluar rumah. Aku mendengar seorang kakek sedang mencari sebuah bungkusan yang hilang. Dia menjajikan hadiah sebesar 500 dinar. Kakek itu berkata, ‘Barangsiapa menemukan bungkusan berisi kalung mutiara, maka uang 500 dinar ini akan aku berikan sebagai imbalan kepada penemunya.’

Aku berkata pada diriku sendiri, ‘Aku sangat butuh, aku sangat lapar, aku bisa mengambil kalung ini dan memanfaatkannya.’ Tapi aku akan mengembalikannya.

Aku berkata pada kakek itu, ‘Marilah kita ke rumah.’ Akupun membawanya ke rumahku. Setibanya di rumah, sang kakek menyebutkan ciri-ciri bungkusan yang hilang, diikat kaos kaki, jenis mutiara, jumlah dan benang yang digunakan untuk mengikat mutiara tersebut.

Kemudian aku serahkan bungkusan tadi kepada kakek tersebut. Diapun memberikan kepadaku 500 dinar sebagai imbalan. Namun aku menolak, aku berkata, ‘Sudah menjadi kewajibanku untuk mengembalikan temuan ini kepada pemiliknya dengan tanpa mengambil upah.’

Sang kakek berkata, ‘Kamu harus menerima uang ini.’ Dia terus menerus memaksaku untuk mengambil upah tersebut. Aku tidak mau menerimanya lalu dia pergi meninggalkan aku.

Adapun cerita mengenai diriku selanjutnya bahwasanya aku lalu meninggalkan Makkah dengan menumpang sebuah perahu. Tanpa aku duga perahu tersebut oleng. Orang-orang pun bercerai-berai berikut seluruh hartanya. Namun aku selamat dari musibah ini berpegangan salah satu papan perahu tersebut.

Beberapa hari aku berada di tengah lautan tanpa arah. Tiba-tiba aku terdampar di sebuah pulau yang berpenduduk. Aku menuju masjid untuk membaca al-Qur’an. Di kampung itu tidak ada seorangpun yang bisa membaca al-Qur’an. Kemudian mereka mendatangiku untuk meminta mengajari mereka membaca al-Qur’an. Dari taklimku ini aku bisa mengumpulkan sejumlah uang.

Suatu hari, aku menemukan beberapa lembar al-Qur’an di dalam masjid. Lembaran itu aku pungut. Orang-orangpun bertanya, ‘Apakah kamu bisa menulis?’ Aku jawab, ‘Ya’. Kemudian mereka memintaku untuk mengajari tulis menulis termasuk pada anak-anak dan remaja mereka.

Sejak itu aku mengajari mereka, akupun bisa mengumpulkan sejumlah uang. Suatu hari masyarakat kampung ini berkata kepadaku, ‘Kami mempunyai seorang gadis yatim sangat kaya, bagaimana jika kamu menyuntingnya?’ Aku menolak tawaran mereka. Mereka tetap memaksaku untuk menikahi gadis tersebut. Akhirnya aku terima tawaran mereka.

Setelah diadakan walimah dan isteriku ada di hadapanku, aku mendapati kalung yang dulu pernah kulihat, melingkar di lehernya. Mataku tak berkedip melihat kalung tersebut.

Orang-orang yang melihatku mengajukan protes, ‘Wahai ustadz, engkau telah menghancurkan hati gadis yatim ini, sebab engkau hanya menatap kalungnya bukan wajahnya!.’

Lalu aku ceritakan kisah kalung tersebut, orang-orang pun meneriakkan tahlil dan takbir hingga terdengar oleh seluruh penduduk pulau tersebut.

Aku menanyakan kepada mereka, ‘Ada apa?’

Mereka menjawab, ‘Kakek yang mengambil kalung darimu itu adalah ayah gadis ini. Kala itu kakek tersebut berkata, ‘Seumur hidupku, aku tidak pernah bertemu dengan seorang pemuda muslim yang baik seperti dia!’ Sang kakek hanya mampu memanjatkan do’a, ‘Ya Allah, pertemukanlah aku dengan pemuda itu agar aku dapat menikahkannya dengan anak gadisku.’ Sekarang do’a itu telah dikabulkan Allah.

Selanjutnya, aku tinggal bersama isteriku beberapa tahun, aku dikaruniai dua anak laki-laki. Kemudian isteriku meninggal dunia dia mewariskan kalung tersebut untukku dan untuk kedua anakku. Tanpa aku duga, dua anak laki-lakiku pun meninggal dunia. Maka tinggalah aku sebatang kara dan menjadi pemilik kalung isteriku. Kemudian kalung tersebut aku jual dengan harga 100 ribu dinar. Hartaku yang bisa kalian lihat sekarang ini adalah sisa-sisa harta itu.”

(Dzail Thabaqatul Hanafiah, 1-196)

[Dari buku “99 Kisah Orang Shalih” karya Muhammad bin Hamid Abdul Wahab. Penerbit Darul Haq, Jakarta. Cetakan VII, Dzulqa’dah 1432 H / Oktober 2011 M
Via >> http://hikmahsalaf.blogspot.com/2014/01/kejujuran-seorang-yang-menemukan-barang.html]
Pin It
17.13 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Sabtu, 27 September 2014

Amal Rahasia Pengantar Husnul Khatimah

Seorang lelaki di Saudi memiliki tetangga yang tak pernah sholat dan berpuasa. Suatu hari, dia bermimpi kedatangan lelaki.
Dalam mimpinya itu, lelaki tadi memintanya agar mengajak tetangganya yang tak pernah shalat untuk umrah.
Ia dikejutkan oleh mimpinya namun ia tak hiraukan.
Anehnya mimpi yang sama terulang.
Akhirnya ia mendatangi seorang syaikh untuk bertanya tentang mimpi tsb.
Syaikh berujar bahwa jika mimpi terulang lagi, ia mesti merealisasikan mimpinya itu.
Dan benar saja, ia bermimpi lagi.
Lantas ia mengunjungi tetangganya untuk menawarkannya umrah
bersama.
"Ayo umrah bersamaku."
"Bagaimana aku akan umrah sementara aku tak pernah sholat."
"Tenang saja. Aku akan mengajarkanmu sholat."
Ia pun mengajarkannya kemudian lelaki itu mengerjakan sholat.
"Baik, aku sudah siap.
Mari berangkat.
Tapi, bagaimana aku umrah sementara aku tak tahu caranya."
"Nanti di mobil kuajari."
Keduanya dgn senang hati berangkat untuk umrah dengan
menggunakan mobil. Setelah tiba, mereka melakukan tuntunan yang disyariatkan.
Selesailah prosesi.
Keduanya akan kembali pulang.
"Sebelum balik, adakah engkau ingin melakukan sebuah amal yang engkau anggap penting?"
Tanyanya kepada tetangganya.
"Iya. Aku ingin shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim."
Sang tetangga pun sholat dan terjadilah hal yang menakjubkan.
Ia meninggal dalam keadaan bersujud.
Lelaki yang membawanya kaget dan tersentak.
Bagaimana mungkin lelaki yang hadir dalam mimpinya dan diajak umrah meninggal seolah-olah dia adalah wasilah kematiannya.
Akhirnya, jenazah dibawa pulang ke rumah istrinya.
Ia bertanya dalam hati, bagaimana mungkin lelaki yang tak pernah shalat dan puasa meninggal saat umrah dalam keadaan sujud husnul khatimah?
Ia berpikir pastilah ada amal spesial dan rahasia yang dilakukannya.
Kepada istri lelaki tadi, ia bertanya tentang ini.
"Kami memiliki tetangga seorang wanita tua renta.
Suamiku begitu menyayanginya.
Suamiku selalu membuat sendiri sarapan, makan siang dan makan malam lalu mengantarkannya kepada wanita tua itu.
Wanita itu kerapkali mendoakan husnul khatimah untuk suamiku."
Ujar sang istri

❖❖

❝Kisah di atas kami terjemahkan dari akun seorang ikhwah (Mesir).❞

Kami teringat nasehat syaikh Rajihi di kelas:
"Usahakan ya ikhwan," kata syaikh, "kalian mesti memiliki amal rahasia yang hanya Allah dan engkau saja yang tahu.
Ini akan membantu kalian mengarungi dunia dan negeri akherat."
Pemuda dalam kisah di atas memiliki amal rahasia yaitu memberi makan wanita tua yang merupakan tetangganya.
Ia pun berteman dengan orang shalih yang merupakan wasilah menuju husnul khatimahnya.
"Sungguh," tutur syaikh Sami di hadapan kami,
"banyaklah berteman dengan orang-orang sholeh, penghafal alquran, dan lainnya."

☞ Shared by akh @abuhasan di grup WA Annashihah Bontang
Pin It
17.58 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Sabtu, 20 September 2014

Diam Itu Emas Dan Mutiara

Bismillāh.
Alhamdullillāh.
Wash shalātu was salāmu 'alā rasûlilāh..

❦ ❖ Kaidah ushuulul fiqh menyebutkan,

ليس كل حق ينبغى ان يقال

❝Laisa kullu haqqin yanbaghi an yuqoola❞

[tidak setiap yang benar layak untuk disampaikan].

Kaidah lain menyebutkan,

لكل مقال مقام ولكل مقام مقال

❝ likulli maqaalin maqaamun wa likulli maqaamin maqaal. ❞

[Setiap ucapan ada konteks kapan bisa disampaikan dan setiap konteks membutuhkan ucapan yg sesuai dengannya].

❧ ❖ Sebagian ulama as salaf menegaskan, "

من كثر كلامه كثر كذبه ومن كثر كذبه كثرت ذنوبه فالنار اولى به

❝ man katsuro kalaamuhu katsuro kadzibuhu, wa man katsuro kadzibuhu katsurot dzunuubuhu wa man katsurot dzunuubuhu fan naar awlaa bihi. ❞

[orang yg banyak bicara akan banyak kebohongannya.
Orang yg banyak bohong akan banyak dosanya. Dan orang yg banyak dosanya lebih pantas di Neraka].

➢➣ Maka yg bisa diucapkan dengan sedikit kata, tak perlu diungkapkan dg banyak kata. Yg bisa dipahami tanpa dijelaskan dibiarkan tanpa penjelasan.
Yg cukup dijelaskan sedikit tak perlu dipanjanglebarkan.

➤➤ Kalau tidak yakin bicara lebih baik dari diam, maka diam adalah emas dan mutiara...

Bārakallāhu fîkum ajma'īn...

➬Ustadz Abu Umar Basyier حفظه الله تعالى
Pin It
03.12 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Jumat, 29 Agustus 2014

Hukum Utang Untuk Kurban

Arisan Kurban

Mengadakan arisan dalam rangka berkurban masuk dalam pembahasan berhutang untuk kurban. Karena hakikat arisan adalah hutang. Sekelompok orang mengumpulkan sejumlah uang, kemudian diserahkan kepada yang berhak dengan cara diundi. Orang yang mendapatkan jatah giliran uang ini, hakikatnya dia telah berhutang kepada seluruh teman-temannya yang ikut arisan.
Mengenai hukum berkurban dengan berhutang, sebagian ulama ada yang menganjurkannya meskipun harus berhutang. Di antaranya adalah Imam Abu Hatim sebagaimana dinukil oleh Ibn Katsir dari Sufyan At Tsauri (Tafsir Ibn Katsir, surat Al Hajj:36). Sufyan al-Tsauri rahimahullahmengatakan: “Dulu Abu Hatim pernah berhutang untuk membeli unta kurban. Beliau ditanya: “Apakah kamu berhutang untuk membeli unta kurban?” beliau jawab: “Saya mendengar Allah berfirman:
“Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya (unta-unta kurban tersebut).” 
( Lihat Q.s. Al Hajj: 36 ).
(Tafsir Ibn Katsir, surat Al Hajj: 36)
Demikian pula Imam Ahmad dalam masalah akikah. Beliau menyarankan agar berhutang demi menghidupkan sunnah aqiqah di hari ketujuh setelah kelahiran. Salah satu putra Imam Ahmad, yang bernama Salih, pernah bertanya kepada beliau, “Ada seseorang yang anaknya baru lahir, namun dia tidak memiliki dana untuk aqiqah. Manakah yang lebih baik menurut Ayah: berhutang untuk aqiqah, atau mengakhirkan aqiqahnya sampai dia memiliki kemudahan untuk melaksanakannya?”
Imam Ahmad menjawab, "Hadits yang paling jelas yang pernah kami dengar mengenai permasalahan aqiqah adalah hadits yang berkaitan dengan al-Hasan dari Samurah radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya.’ Aku berharap, jika dia berhutang (untuk aqiqah), agar Allah segera menggantinya, karena dia menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti ajaran yang beliau bawa.” (Tuhfatu-l Maudud, hlm. 64)
Sebagian ulama lain menyarankan untuk mendahulukan pelunasan hutang dari pada berkurban. Di antaranya adalah Syaikh Ibn Utsaimin dan ulama-ulama tim fatwa islamweb.net dibawah bimbingan Dr. Abdullah Al Faqih (Fatwa Syabakah Islamiyah no. 7198 dan 28826). Syaikh Ibn Utsaimin mengatakan,  “Jika orang punya hutang maka selayaknya mendahulukan pelunasan hutangnya daripada berkurban.”(Syarhu-l Mumti’, 7/455).
Bahkan Beliau pernah ditanya tentang hukum orang yang tidak jadi kurban karena uangnya diserahkan kepada temannya yang sedang terlilit hutang, dan beliau jawab,  “Jika dihadapkan dua permasalahan antara berkurban atau melunasi hutang orang yang faqir maka lebih utama melunasi hutang tersebut, lebih-lebih jika orang yang sedang terlilit hutang tersebut adalah kerabat dekat.” (Majmu’ fatawa & Risalah Ibn Utsaimin, 18/144).
Sejatinya, pernyataan-pernyataan ulama di atas tidaklah saling bertentangan. Karena perbedaan ini didasari oleh perbedaan dalam memandang keadaan orang yang berhutang. Sikap ulama yang menyarankan untuk berhutang ketika kurban adalah untuk orang yang keadaanya mudah dalam melunasi hutang atau untuk hutang yang jatuh temponya masih panjang.
Sedangkan anjuran sebagian ulama untuk mendahulukan pelunasan hutang daripada kurban adalah untuk orang yang kesulitan melunasi hutang atau pemiliknya meminta agar segera dilunasi.
Dengan demikian, jika arisan kurban kita golongkan sebagai hutang yang jatuh temponya panjang atau hutang yang mudah dilunasi maka berkurban dengan arisan adalah satu hal yang baik. Wallahu a’lam..
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits 
(Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

Pin It
20.29 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Minggu, 24 Agustus 2014

Haruskah suami dan istri Masing-Masing berqurban 1 Kambing?

Sedikit keanehan yang kami temui pada sebagian orang. Setiap tahun ada yang 
bergiliran qurban, yang pertama untuk bapaknya, tahun berikut untuk ibunya, 
lalu tahun berikut dapat giliran anaknya. Padahal sebenarnya satu qurban 
semisal satu kambing atau 1/7 dari urunan sapi bisa diniatkan untuk satu 
keluarga. Namun kalau mau berqurban lebih karena jumlah anggota keluarga 
banyak, maka itu boleh bahkan lebih afdhol. Simak bahasan berikut.
Dalil yang mendukung pernyataan di atas, dari ‘Atho’ bin Yasar, ia berkata,

سَأَلْتُ أَبَا أَيُّوبَ الأَنْصَارِيَّ كَيْفَ كَانَتْ الضَّحَايَا عَلَى عَهْدِ 
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فَقَالَ : كَانَ الرَّجُلُ 
يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ ، فَيَأْكُلُونَ وَيُطْعِمُونَ

“Aku pernah bertanya pada Ayyub Al Anshori, bagaimana qurban di masa Rasulullah 
shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Beliau menjawab, “Seseorang biasa berqurban 
dengan seekor kambing (diniatkan) untuk dirinya dan satu keluarganya. Lalu 
mereka memakan qurban tersebut dan memberikan makan untuk yang lainnya.” (HR. 
Tirmidzi no. 1505, shahih)

Dalam Tuhfatul Ahwadzi disebutkan, “Hadits ini adalah dalil tegas bahwa satu 
kambing bisa digunakan untuk berqurban satu orang beserta keluarganya, walau 
jumlah anggota keluarga tersebut banyak. Inilah yang benar.”

Al Hafizh Ibnul Qoyyim dalam Zaadul Ma’ad berkata, “Di antara petunjuk Nabi 
shallallahu ‘alaihi wa sallam, satu kambing sah untuk qurban satu orang beserta 
keluarganya walau jumlah mereka banyak.”

Asy Syaukani mengatakan, “Yang benar, qurban kambing boleh diniatkan untuk satu 
keluarga walaupun dalam keluarga tersebut ada 100 jiwa atau lebih.” Beliau 
sebutkan hal ini dalam Nailul Author.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin dalam Syarhul Mumthi’ berkata, 
“Kolektif dalam pahala qurban tidaklah terbatas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa 
sallam pernah berqurban untuk seluruh umatnya. Ada juga seseorang (di masa Nabi 
shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang berqurban dengan satu kambing untuk dirinya 
beserta keluarganya walau jumlahnya 100.”

Al Lajnah Ad Daimah ditanya, “Ada keluarga terdiri dari 22 anggota. Mereka 
tinggal di satu rumah dan yang beri nafkah pun satu orang. Di hari Idul Adha 
yang penuh berkah, mereka berencana berqurban dengan satu qurban. Apakah 
seperti ini sah atau mesti dengan dua qurban?”

Jawaban para ulama yang duduk di Lajnah, “Jika anggota keluarga banyak dan 
berada dalam satu rumah, maka boleh saja berqurban dengan satu qurban. Akan 
tetapi jika bisa berqurban lebih dari satu, itu lebih afdhol.” (Fatawa Al 
Lajnah Ad Daimah, 11: 408).

Wallahu waliyyut taufiq.


Referensi: Fatawa Al Islam Sual wal Jawab no. 45916

Artikel www.rumaysho.com
Pin It
02.47 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Sabtu, 23 Agustus 2014

HUKUM MEMAKAI CINCIN

(Larangan bagi lelaki untuk memakai cincin di jari tengah dan telunjuk, cincin/jam tangan dari polesan emas, dan cincin dari besi)

Berikut ini beberapa permasalahan seputar hukum memakai cincin :

PERTAMA : Hukum memakai cincin.

Ibnu Umar radhiallahu 'anhu berkata :

اتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ وَجَعَلَ فُصَّهُ مِمَّا يَلِي كَفَّهُ فَاتَّخَذَهُ النَّاسُ فَرَمَى بِهِ وَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ وَرِقٍ أَوْ فِضَّةٍ

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memakai cincin dari emas, beliau menjadikan mata cincinnya bagian dalam ke arah telapak tangan, maka orang-orangpun memakai cincin. Lalu Nabi membuang cincin tersebut dan memakai cincin dari perak" (HR Al-Bukhari no 5865)
Ibnu Umar juga berkata :
اتخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم خاتما من ورق وكان في يده ثم كان بعد في يد أبي بكر ثم كان بعد في يد عمر ثم كان بعد في يد عثمان حتى وقع بعد في بئر أريس نقشه محمد رسول الله

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memakai cincin dari perak, cincin tersebut berada di tangan Nabi, lalu setelah itu berpindah ke tangan Abu Bakar, setelah itu berpindah ke tangan Umar, setelah itu berpindah ke tangan Utsman, hingga akhirnya cincin tersebut jatuh di sumur Ariis. Cincin tersebut terpahatkan Muhammad Rasulullah" (HR Al-Bukhari no 5873)

Anas bin Maalik radhiallahu 'anhu berkata :
لما أراد النبي صلى الله عليه وسلم أن يكتب إلى الروم قيل له إنهم لن يقرءوا كتابك إذا لم يكن مختوما فاتخذ خاتما من فضة ونقشه محمد رسول الله

"Tatkala Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hendak menulis surat kepada Romawi, maka dikatakan kepada beliau : "Sesungguhnya mereka (kaum Romawi) tidak akan membaca tulisanmu jika tidak distempel". Maka Nabipun memakai cincin dari perak yang terpahat "Muhammad Rasulullah" (HR Al-Bukhari no 5875)

Para ulama telah berselisih pendapat, apakah memakai cincin hukumnya sunnah ataukah hanya sekedar mubah (diperbolehkan)?. Sebagian ulama berpendapat bahwa memakai cincin hukumnya sunnah secara mutlak. Sebagian lagi berpendapat hukumnya sunnah bagi para raja dan sultan yang membutuhkan stempel cincin sebagaimana kondisi Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, adapun selain para raja dan sultan maka hukumnya hanyalah mubah, karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah menggunakan cincin tersebut untuk berhias, akan tetapi karena ada keperluan. Dan sebagian ulama lagi memandang hukumnya makruh bagi selain raja dan sulton, terlebih lagi jika diniatkan untuk berhias.

Ibnu Abdil Barr (wafat 463 H) berkata :

"Yang merupakan pendapat mayoritas ulama dari kalangan ulama terdahulu dan yang sekarang yaitu bolehnya memakai cincin perak bagi sultan dan juga yang selainnya. Dan tatkala Imam Malik mengetahui sebagian orang memandang makruh hal ini maka beliaupun menyebutkan dalam kitab Muwattho' beliau…dari Sodaqoh bin Yasaar ia berkata, "Aku bertanya kepada Sa'id ibn Al-Musayyib tentang memakai cincin, maka beliau berkata : Pakailah dan kabarkan kepada orang-orang bahwasanya aku telah berfatwa kepadamu akan hal ini"…

Tatkala sampai kepada Imam Ahmad tentang hal ini (yaitu bahwasanya memakai cincin bagi selain sultan hukumnya makruh, maka Imam Ahmad pun terheran" (At-Tamhiid 17/101)

Pendapat yang hati lebih condong kepadanya adalah sunnahnya memakai cincin secara mutlak. Dalilnya adalah meskipun sebab Nabi memakai cincin adalah karena untuk menstempeli surat-surat yang akan beliau kirim kepada para pemimpin Romawi, Persia, dan lain-lain, akan tetapi dzohir dari hadits Ibnu Umar di atas bahwasanya para sahabat juga ikut memakai cincin karena mengikuti Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Padahal para sahabat bukanlah para sulton, dan mereka tidak membutuhkan cincin untuk stempel. Wallahu a'lam bis showab.

KEDUA : Ditangan yang mana dan jari yang mana memakai cincin?

Sebagian ulama berpendapat akan disunnahkan memakai cincin di tangan kiri, dan sebagian yang lain berpendapat di tangan kanan. Dan pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang menyatakan dibolehkan di kanan atau di kiri.

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, "Semua hadits-hadits tersebut  (yang menyebutkan Nabi menggunakan cincin di tangan kiri dan juga hadits-hadits yang menyebutkan Nabi menggunakan cincin di tangan kanan-pen) sanadnya shahih" (Zaadul Ma'aad 1/139).

Syaikh Al-'Utsaimin berkata, "Yang benar adalah sunnah menggunakan cincin di tangan kanan dan juga di tangan kiri" (Asy-Syarh Al-Mumti' 6/110).

Diantara hadits-hadits tersebut adalah :

Anas bin Malik berkata :

كَانَ خَاتَمُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي هَذِهِ وَأَشَارَ إِلىَ الْخِنْصِرِ مِنْ يَدِهِ الْيُسْرَى

"Cincin Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di sini –Anas mengisyaratkan ke jari kelingking dari tangan kirinya" (HR Muslim no 2095)

Anas juga berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِسَ خَاتَمَ فِضَّةٍ فِي يَمِينِهِ فِيهِ فَصٌّ حَبَشِيٌّ كَانَ يَجْعَلُ فَصَّهُ مِمَّا يَلِي كَفَّهُ

"Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memakai cincin perak di tangan kanan beliau, ada mata cincinnya terbuat dari batu habasyah (Etiopia), beliau menjadikan mata cincinnya di bagian telapak tangannya" (HR Muslim no 2094)

(lihat pembahasan tentang permasalahan ini di http://islamqa.info/ar/ref/139540)

Hadits Anas di atas juga menunjukkan bahwa disunnahkan untuk memakai cincin pada jari kelingking.

KETIGA : Bolehkah memakai cincin di jari tengah dan telunjuk?

Telah lalu bahwasanya sunnah bagi lelaki untuk memakai cincin pada jari kelingking, demikian pula ia dibolehkan memakai cincin pada jari manis, karena tidak ada dalil yang melarangnya. Adapun memakai cincin pada jari telunjuk dan jari tengah maka ada larangan yang datang. Ali bin Abi Tholib radiallahu 'anhu berkata :

نَهَانِي رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ أَتَخَتَّمَ فِي أُصْبُعَيَّ هَذِهِ أَوْ هَذِهِ قَال : فأومأ إلى الوسطى والتي تليها

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarangku untuk memakai cincin di kedua jariku ini atau ini". Ali mengisyaratkan kepada jari tengah dan yang selanjutnya (yaitu jari telunjuk)." (HR Muslim no 2078)

Para ulama berselisih pendapat tentang larangan pada hadits ini apakah larangan tahrim (haram) ataukah hanyalah larangan makruh??. Para ulama juga sepakat bahwa larangan ini hanya berlaku bagi kaum lelaki, adapun para wanita bebas untuk memakai cincin di jari mana saja, karena para wanita dibolehkan untuk berhias.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

وأجمع المسلمون على أن السنة جعل خاتم الرجل فى الخنصر وأما المرأة فانها تتخذ خواتيم فى أصابع قالوا والحكمة فى كونه فى الخنصر أنه أبعد من الامتهان فيما يتعاطى باليد لكونه طرفا ولأنه لايشغل اليد عما تتناوله من أشغالها بخلاف غير الخنصر ويكره للرجل جعله فى الوسطى والتى تليها لهذا الحديث وهى كراهة تنزيه وأما التختم فى اليد اليمنى أو اليسرى فقد جاء فيه هذان الحديثان وهما صحيحان

"Kaum muslimin telah berijmak akan sunnahnya lelaki memakai cincin di jari kelingking, adapun wanita maka boleh memakai cincin-cincin di jari-jari mereka. Mereka berkata hikmahnya memakai cincin di jari kelingking karena lebih jauh dari pengotoran cincin karena penggunaan tangan, karena jari kelingking letaknya di ujung, dan juga jari kelingking tidak mengganggu aktivitas tangan. Hal ini berbeda dengan jari-jari yang lainnya.

Dan dimakruhkan bagi seorang lelaki untuk memakai cincin di jari tengah dan juga jari yang setelahnya (jari telunjuk), dan hukumnya adalah makruh tanzih. Adapun memakai cincin di tangan kanan atau tangan kiri maka telah datang dua hadits ini, dan keduanya shahih" (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 14/71)

KEEMPAT : Diharamkan bagi lelaki memakai segala bentuk perhiasan yang terbuat dari emas

Telah jelas dalam hadist Ibnu Umar di atas bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membuang cincin emasnya, karena cincin emas haram dipakai oleh lelaki. Bahkan bukan hanya cincin, segala perhiasan yang terbuat dari emas dilarang dipakai oleh lelaki.

عن عَلِي بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أنَّ النَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ حَرِيرًا فَجَعَلَهُ فِي يَمِينِهِ ، وَأَخَذَ ذَهَبًا فَجَعَلَهُ فِي شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ : ( إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي)

"Dari Ali bin Abi Tholib radhiallahu 'anhu, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengambil kain sutra lalu meletakkannya di tangan kanan beliau, dan mengambil emas lalu beliau letakan di tangan kiri beliau, lalu beliau berkata : "Kedua perkara ini haram bagi kaum lelaki dari umatku" (HR Abu Dawud no 4057, An-Nasaai no 5144, dan Ibnu Maajah no 3595, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Bahkan para ulama menyebutkan bahwa cincin yang ada polesan emasnya pun tidak boleh digunakan oleh lelaki.

An-Nawawi rahimahullah berkata :

وأما خاتم الذهب فهو حرام على الرجل بالاجماع وكذا لو كان بعضه ذهبا وبعضه فضة حتى قال أصحابنا لو كانت سن الخاتم ذهبا أو كان مموها بذهب يسير فهو حرام لعموم الحديث ... ان هذين حرام على ذكور أمتى حل لإناثها

"Adapun cincin emas maka hukumnya haram bagi lelaki menurut kesepakatan (ijmak para ulama), demikian pula jika sebagian cincin tersebut emas dan sebagiannya perak. Bahkan para ashaab (para ulama syafi'iyah) berkata jika seandainya mata cincinnya terbuat dari emas atau dipoles dengan sedikit emas maka hukumnya juga haram, berdasarkan keumuman hadits…."Sesungguhnya kedua perkara ini (kain sutra dan emas) haram bagi kaum lelaki dari umatku dan halal bagi kaum wanitanya" (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 14/32)

Karenanya para ulama memfatwakan bahwa jam tangan yang terdapat padanya  emas maka tidak boleh digunakan oleh lelaki.

Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah berkata :

الساعة المطلية بالذهب للنساء لا بأس بها، وأما للرجال فحرام

"Jam yang dipoles dengan emas boleh bagi wanita, adapun bagi para lelaki maka haram" (Majmuu' Al-Fataawa Syaikh Utsaimin 11/62)

(Lihat juga Fatwa Al-Lajnah Ad-Daaimah di http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&BookID=3&PageID=9372&back=true)

KELIMA : Bolehkah memakai cincin dari besi dan tembaga?

Dalam hadits Abdullah bin 'Amr bin al-'Aash bahwasanya

رَأَى عَلَى بَعْضِ أَصْحَابِهِ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ فَأَعْرَضَ عَنْهُ فَأَلْقَاهُ وَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ فَقَالَ هَذَا شَرٌّ هَذَا حِلْيَةُ أَهْلِ النَّارِ فَأَلْقَاهُ فَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ وَرِقٍ فَسَكَتَ عَنْهُ

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melihat salah seorang sahabat memakai cincin dari emas, maka Nabipun berpaling darinya, lalu sahabat tersebut pun membuang cincin tersebut, lalu memakai cincin dari besi. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Ini lebih buruk, ini adalah perhiasan penduduk neraka". Maka sahabat tersebut pun membuang cincin besi dan memakai cincin perak. Dan Nabi mendiamkannya" (HR Ahmad 6518, Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrod no 1021,  dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dan para pentahqiq Musnad Ahmad)

Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa cincin besi merupakan perhiasan penduduk neraka, ini merupakan 'illah (sebab) pengharaman penggunaan cincin besi. Dan kita ketahui bahwasanya para penghuni neraka diikat dengan rantai dan belenggu, dan yang kita ketahui biasanya rantai dan belenggu terbuat dari besi (lihat 'Aunul Ma'buud 11/190). Allah juga berfirman :

وَلَهُمْ مَقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍ

"Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi" (QS Al-Haaj : 21)

Dan dari sini juga bisa kita pahami bahwasanya larangan memakai cincin besi mencakup laki-laki dan perempuan, karena keduanya dituntut untuk tidak menyerupai penduduk neraka.

Dari sini juga kita pahami bahwasanya jika cincin tersebut tidak terbuat dari besi murni maka tidaklah mengapa (lihat Fathul Baari 10/323).

Sebagian ulama juga mengharamkan cincin yang terbuat dari tembaga karena tembaga juga merupakan perhiasan penduduk neraka. Allah berfirman :

فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ

"Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka" (QS Al-Haaj : 19)

Sa'id bin Jubair menafsirkan pakaian dari api tersebut dengan نُحَاس"tembaga yang dipanaskan" (Lihat Tafsir At-Thobari 18/591 dan Tafsir Ibnu Katsir 5/406)

Demikian juga firman Allah

سَرَابِيلُهُمْ مِنْ قَطِرَانٍ وَتَغْشَى

"Pakaian mereka adalah dari qothiroon" (QS Ibrahim : 50)

Ibnu Abbas radhiallahu 'anhumaa menafsirkan qothiroon dengan nuhaas "tembaga yang panas" (lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/522 dan Ad-Dur Al-Mantsuur 8/581)

Catatan : Adapun kisah seorang sahabat yang hendak menikahi seorang wanita lantas ia tidak memiliki harta yang bisa dijadikan mahar, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadanya : اِلْتَمِسْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيْدٍ "Carilah (untuk bayar mahar-pen) meskipun sebuah cincin dari besi" (HR Al-Bukhari no 5135), maka kisah ini tidak bisa ditentangkan dengan hadits di atas, karena beberapa sisi :

- Hadits tentang mahar ini bukanlah nash yang tegas akan bolehnya memakai cincin besi, karena bisa jadi yang dimaksud oleh Nabi adalah agar sang wanita memanfaatkan harga cincin besi tersebut (lihat Fathul Baari 10/323)

- Dan jika kita menempuh metode tarjiih maka kita mendahulukan hadits larangan memakai cincin besi karena adanya kaidah bahwa "Larangan didahulukan dari pada pembolehan", karena hukum bolehnya memakai cincin besi bersandar kepada hukum asal yaitu bolehnya. Dan hukum haramnya pengharaman cincin besi adalah hukumnya yang menunjukkan adanya perubahan, maka dalam tarjiih, perubahan hukum didahulukan daripada hukum asal.

KESIMPULAN :

 Memakai cincin hukumnya sunnah (minimal hukumnya mubah dan tidak makruh)

☞ Para lelaki tidak boleh menggunakan cincin dari emas atau yang ada campuran emasnya atau polesan emas, dan boleh menggunakan cincin dari perak dan juga batu-batu mulia dan permata. (Lihat fatwa Al-Lajnah Ad-Daaimah dihttp://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&BookID=3&PageID=9376)

 Bagi wanita boleh memakai cincin dari emas dan perak di jari mana saja, karena para wanita dituntut untuk berhias

☞ Tidak boleh menggunakan cincin dari besi baik lelaki maupun wanita, karena itu merupakan perhiasan penduduk neraka.

 Disunnahkan bagi lelaki memakai cincin di jari kelingking baik di tangan kanan atau di tangan kiri.

☞ Dibolehkan juga bagi lelaki untuk memakai cincin di jari manis, karena tidak ada dalil yang melarangnya. Hanya diharamkan (atau dimakruhkan menurut sebagian ulama) jika menggunakan cincin di jari telunjuk dan jari tengah

Masih banyak hukum-hukum dan perkara-perkara yang berkaitan dengan cincin, silahkan baca di (http://www.saaid.net/Doat/yahia/59.htm)

Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 17-04-1434 H / 27 Februari 2013 M
Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja, MA hafidzahullaah.
>> http://www.firanda.com/index.php/artikel/fiqh/393-seputar-hukum-memakai-cincin
Pin It
14.44 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Kamis, 07 Agustus 2014

Tak Hanya Merokok, Cinta pun Bisa Membunuhmu

Tiada aku meninggalkan suatu fitnah sesudahku lebih berbahaya terhadap kaum pria daripada godaan wanita." (HR. Bukhari dan Muslim)
Cinta. Tak ada akhir untuk membahas masalah satu ini. Kata penyair cinta adalah satu kata berjuta makna. Tapi kali ini penulis ingin membahas cinta yang cacat yaitu cinta buta. Begitu bahayanya cinta buta ini sehingga sebelum wafat Rasulullah ﷺ telah berwasiat bahwa kaum muslimin wajib berhati-hati terhadap godaan setan terutama kecintaan terhadap wanita. Setan mempunyai banyak perangkap untuk membinasakan manusia diantara adalah harta, jabatan ,wanita, anak dsb. Semua itu akan melalaikan manusia dari akhirat jika manusia mencintai mereka melebihi cintanya kepada Allah dan Rasulnya, sehingga manusia akan dibudak oleh syahwatnya untuk memperturutkan hawa nafsunya sehingga lalai akan kematian. Oleh karena itu pantaslah penyakit “cinta buta” itu adalah penyakit yang berbahaya dan sebagian daripada syirik tersembunyi, jika didhohirkan maka pelakunya akan menemui kebinasaan, naudzubillah.
Diantara fitnah-fitnah dan perangkap setan laknat yang paling besar untuk menyesatkan manusia kata nabi ﷺ adalah fitnah wanita. Memang benar apa yang disampaikan nabi Muhammad ﷺ. Banyak kisah-kisah terdahulu yang dapat dijadikan pelajaran bagi kita semua yaitu banyaknya kisah-kisah tentang kecintaan manusia terhadap kecantikan semu wanita mengalahkan cintanya kepada ALLAH sehingga dia lalai akan agamanya padahal dia adalah seorang ahli ibadah yang khusyuk akan tetapi kelemahannya dia tidak dapat menahan godaan dunia berupa wanita sehingga dia menyia-nyiakan akhirat yang kekal , Naudzubillah. Berikut salah satu kisahnya yang dinukil dari kitab ulama terdahulu ;
Kisah pertama ;
Dikisahkan bahwa di Mesir ada seorang lelaki yang senantiasa selalu ke masjid untuk mengumandangkan adzan dan shalat di dalamnya, terlihat pancaran ketaatan dan cahaya ibadah dari wajahnya, suatu hari seperti kebiasaannya dia naik ke atas menara untuk mengumandangkan adzan, di bawah menara ada sebuah ruman milik seorang yang beragama Nashrani, dia melirik ke dalam rumah tersebut ternyata dia mendapati anak perempuan sang pemilik rumah yang beragama Nashrani tadi, akhirnya dia terpedaya dengan wanita tersebut, dia tinggalkan adzan dan turun menemuinya, ia masuk ke dalam rumahnya. Wanita ini bertanya: “Apa denganmu?, apa yang kamu inginkan?”, lelaki ini menjawab: “Saya menginginkanmu”, wanita ini bertanya: “Kenapa?”, lelaki ini menjawab: “Karena kamu ssudah mencuri jiwaku dan mengambil seluruh hatiku”, wanita berkata: “Aku tidak akan menurutimu kepada sebuah keraguan selamanya”, lelaki ini berkata: “Aku akan menikahimu”, wanita berkata: “Kamu seorang muslim, saya seorang wanita yang beragama Nashrani, bapak saya tidak akan menikahkanku kepadamu”, lelaki ini menjawab: “Saya akan masuk ke dalam agama Nashrani”, wanita ini menjawab: “Jika kamu mengerjakannya maka aku akan mengerjakannya (yaitu menuruti permintaanmu)”, maka akhirnya lelaki ini masuk ke dalam agama Nashrani untuk menikahi wanita tersebuit, dan dia tinggal bersama mereka di dalam rumah tersebut. Dan ketika pada hari itu dia naik ke atas loteng yang ada di atas rumah, lalu dia jatuh darinya, maka akhirnya dia tidak mendapatkan wanita tersebut dan telah kehilangan agamanya.
[Lihat kitab Al Jawab Al Kafy, karya Ibnul Qayyim rahimahullah]
Saudaraku, beginilah bahayanya memandang wanita yang bukan mahram apalagi dia perempuan kafir dia sampai hati meninggalkan imannya malah akibatnya dia terkena azab Allah langsung (mati dalam keadaan kafir) akhirnya tidak mendapatkan keduanya (memiliki wanita itu dan kebahagiaan kekal diakhirat), yah, memang meskipun wanita itu  cantik tapi hanyalah kecantikan semu yang merupakan perangkap iblis laknat untuk menyesatkan manusia dari jalan yang lurus. Ingatlah saudaraku, maka dari itu Allah telah mengharamkan pandangan liar. Karena pandangan mata adalah anak panah beracun dari pada iblis untuk melumpuhkan hati manusia, bila manusia dapat menahan pandangan maka dia telah urung dari sasaran iblis.
Kisah kedua :
“Pada tahun (278H), telah wafat Abdah bin Abdurrahim –semoga Allah memburukkannya-, telah disebutkan oleh Ibnul Jauzy bahwa orang malang ini dulunya termasuk dari seorang lelaki yang sering berjihad di negeri Romawi, ketika dalam beberapa peperangan dan pada waktu itu kaum muslim mengepung sebuah daerah dari kekuasan Romawi, lelaki sang mujahid yang terkena godaan ini memandang kepada seorang wanita dari bangsa Romawi di benteng tersebut, maka akhirnya lelaki ini menginginkan wanita tersebut, lalu ia menyurati wanita tersebut; “Bagaimana agar aku bisa sampai kepadamu?”, wanita ini menjawab: “Kamu masuk ke dalam agama Nashrani lalu kamu naik menemuiku”, lalu lelaki ini menerima ajakan tersebut”, maka ketika kaum muslim mengepung malah dia berada bersama wanita tersebut, kejadian itu sangat menyakitkan dan memberatkan kaum muslim, setelah beberapa waktu berlalu, kaum muslim melewati benteng tersebut dan si lelaki ini sedang bersama wanita tersebut di benteng itu, mereka (kaum muslim) bertanya kepada lelaki tersebut: “Wahai Fulan, Apa yang telah Al Quranmu terhadapmu?, apa yang telah dikerjakan oleh ilmumu terhadapmu? Apa yang telah dikerjakan puasamu terhadapmu? Apa yang telah dikerjakan oleh jihadmu terhadapmu? Apa yang telah diperbuat shalatmu terhadapmu?”, lelaki ini menjawab: “Ketahuilah kalian semuanya, sesungguhnya aku telah lupa Al Quran kecuali Firman-Nya:

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ (2) ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (3) [الحجر: 2، 3] 
 
Artinya: “Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)”. QS. Al Hijr: 2-3.
[Lihat kitab Al Bidayah wa An Nihayah, karya Ibnu Katsir rahimahullah]
Lihatlah dan renungkan saudaraku, dari cerita diatas dapat kita ambil pelajaran yang amat berharga yaitu bahayanya memandang wanita yang bukan mahram apalagi dia kafir, kisah ini dapat kita ambil pelajaran bahwa dulu ada seorang lelaki yang tidak bisa menahan syahwatnya dari kecantikan semu (kecantikan sementara nanti kalau ssudah tua paling jadi peyot) wanita sehingga dia sampai hati menghianati kawan-kawannya dalam peperangan bahkan dia telah murtad tidaklah beguna semua amal dan ibadahnya selama ini kelak dia akan menemui siksa neraka yang kekal karena telah berani meninggalkan agamanya , Naudzubillah min dzalik.
Lalu teman-temannya menanyakan tentang membaca Qur’an, ilmunya, puasanya, jihadnya, shalatnya yang selama ini dia kerjakan apakah tidak membekas sama sekali di hatinya sehingga dia rela mengorbankan agamanya demi kesenangan yang semu dan pasti segera binasa. Lalu jawab lelaki dia tidak ingat lagi semua itu, Naudzubillah malah yang diingat hanyan al-Qur’an surat al-Hijr ayat 2-3 yang isinya justru menyindir lelaki itu yaitu berupa peringatan bahwa nanti diakhirat orang kafir hanya bisa berangan-angan dulunya didunia sekiranya menjadi muslim. Hal ini adalah azab dari Allah, orang ini mati dalam keadaan munafiq, Naudzubillah.
Begitulah saudaraku, begitu dahsyatnya fitnah wanita itu sampai-sampai bisa membuat seorang lelaki yang tadinya rajin beribadah menjadi hilang ingatan karena ketidak mampuannya menahan syahwatnya kepada “topeng” perempuan. Padahal kecantikan wanita sebenarnya itu adalah hatinya tepatnya pada kebaikan agama dan akhlaqnya seperti yang disarankan rasulullah yaitu wanita dinikahi karena kacantikan, harta, nasab dan agamanya maka yang ingin bahagia jangan lihat dulu kecantikannya, kekayaannya , atau kemuliaan nasabnya tapi kita disuruh melihat kebaikan agamanya jika kita ingi bahagia dunia akhirat.
Dewasa ini jarang kita menemukan orang memilih wanita daripada agamanya orang banyak tertipu oleh topeng kecantikan wanita (wajah) atau kekayaannya padahal hal itu bukanlah tolok ukur kebahagian tapi justru merupakan jebakan yang berbahaya bagi kelangsungan hidup berumah tangga. Maka dari itulah jika kita semua ingin bahagia pastilah seorang muslim tahu memilih mana perangkap setan dan mana jalan yang benar.
BAHAYA CINTA BUTA
Cinta buta adalah cinta yang tak mengikuti aturan Islam dan merupakan cinta yang dikendalikan hawa nafsu. Ia bebas berbuat apa saja. Termasuk saat orang yang model begitu tuh jatuh cinta, maka ia akan buta dan gelap mata. Berbuat sesukanya dan mencampakkan norma agama misalnya berbuat pacaran sampai akhirnya terjerumus zina dan yang lebih parah mencintai wanita cantik tapi non muslim sehingga agamanya dibuang, Naudzubillah min dzalik.

Ibnul Qayyim mengatakan, “Cinta buta pada ilusi adalah cobaan hati yang kosong dari kecintaan terhadap Alloh. Ada beberapa kerusakan akibat cinta buta ini. Kami menukil dari kitab ulama berbagai keburukan cinta buta :

Pertama, lupa mengingat Allah. Lebih sibuk mengingat makhlukNya, yakni orang yang dicintainya, misalnya. Jika dia lebih kuat mengingat Allah, insya Allah mengingat makhlukNya jadi terkendali. Tapi jika lebih kuat mengingat makhlukNya, maka mengingat Allah akan dikalahkan. Akibatnya Allah tidak mau mengingatnya juga sehingga orang macam ini akan mengalami kesempitan hidup, Naudzubillah

Kedua, menyiksa hati. Cinta buta, meski adakalanya dinikmati oleh pelakunya, namun sebenarnya ia merasakan ketersiksaan hati yang paling berat. Seakan akan dunia ini sempit sekali karena dia terkena ilusi cinta buta sehingga seolah-olah yang ada dalam pikirannya hanyalah wanita yang dicintainya.

Ketiga, hatinya tertawan dan terhina.  Yang pasti hatinya telah ditawan oleh setan dan hawa nafsunya. Yaitu, hatinya akan tertawan dengan orang yang dicintainya. Namun, karena ia mabuk cinta, maka ia tidak merasakan musibah yang menimpaJadi kita memang patut berhati-hati dengan cinta model begini. Kepada Allah-lah kita berlindung dan memohon pertolongan.

Keempat, melupakan agama. Tak ada orang yang paling menyia-nyiakan agama dan dunia melebihi orang yang sedang dirundung cinta buta. Ia menyia-nyiakan maslahat agamanya karena hatinya lalai untuk beribadah kepada Allah. Kalau ada orang ketika jatuh cinta tuh sampai tidak sholat, tidak sekolah, dan tidak belajar, karena hanya mikirin sesuatu yang dicintainya, maka itu sudah dibilang cinta buta. Jadi, kita harus ingatkan dia supaya jangan keterusan begitu. Ingatkan dia tentang kehidupan sesudah mati agar dia sadar terhadap apa yang dia lakukan.

Kelima, mengundang bahaya zina. Bahaya-bahaya dunia dan akhirat lebih cepat menimpa kepada orang yang dirundung cinta buta melebihi kecepatan api membakar kayu kering. Ketika hati berdekatan dengan orang yang dicintainya secara buta itu, ia akan menjauh dari Allah. Jika hati jauh dari Allah, semua jenis marabahaya akan mengancamnya dari segala sisi karena setan menguasainya. Jika setan telah menguasainya, maka mana ada musuh yang senang lawannya senang? Semua musuh ingin musuhnya dalam bahaya. Kita berlindung kepada Allah dari hal ini. Karena cinta buta merupakan awal dari mendekati kepada zina. Cukup fakta-fakta soal meraja lela perzinahan dan penularan penyakit seksual itu menjadi perhatian bagi kita untuk tidak melakukan hal yang sama.

Keenam, setan akan menguasai. Jika kekuatan setan menguasai seseorang, ia akan merusak akalnya dan memberikan rasa waswas. Bahkan, mungkin tak ada bedanya dengan orgil alias orang gila. Mereka tidak menggunakan akalnya secara layak. Padahal yang paling berharga bagi manusia adalah akalnya yang membedakan ia dengan binatang. Tidak heran bila banyak yang kejerumus berbuat maksiat karena pemikiranya instan sekali. Hanya kepikiran enak saja menurut hawa nafsunya. Tidak mikir jauh ke depan: soal dosa dan akibat dosa tersebut. Jika kita melihat orang gila dijalan-jalan maka telusurilah sebagian kisah hidupnya pasti sebagian kisahnya mengalami cinta buta lalu patah hati ahirnya gila karena cinta buta sudah menguasai hatinya. Dan lebih parah fenomena bunuh diri terjadi karena cinta buta yang menggila ini. Dia telah lupa bahwa hal itu tidak menyelesaikan masalah tapi justru diakhirat dia mendapatkan masalah yang amat besar. Naudzubillah min dzalik

Ketujuh, mengurangi kepekaan. Cinta buta akan merusak indera atau mengurangi kepekaannya, baik indera suriya (konkret) maupun indera maknawi (abstrak). Kerusakan indera maknawi mengikuti rusaknya hati, sebab jika hati telah rusak, maka organ pengindera lain, seperti mata, lisan, telinga, juga turut rusak. Artinya, ia akan melihat yang buruk pada diri orang yang dicintainya secara buta itu sebagai sebuah kebaikan dan juga sebaliknya. 
Disebutkan oleh Imam Ahmad, “Cintamu kepada sesuatu membutakanmu dan membuatmu tuli.” Ibnu Abbas pernah mendengar berita ada seorang laki-laki yang sangat kurus sehingga yang tersisa hanya kulit dan tulang. Ibnu Abbas berkata, “Kenapa ia?” “Ia terkena jatuh cinta, isyq(cinta buta)”, jawab seseorang. Kemudian Ibnu Abbas berdoa dan berlindung kepada Allah sepanjang hari dari penyakit isyq.

Kedelapan, Cinta buta adalah perbuatan Syirik. Fenomena syirik dalam cinta telah dijelaskan Allah Ta’ala dalam al-Qur’an:


“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya, sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat kuat cintanya kepada Allah.” (lihat Al-Baqarah: 165)
Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Cinta kepada Allah Ta’ala ada empat tingkatan:
Pertama: Seorang mencintai Allah melebihi selain-Nya. Inilah tauhid
Kedua: Seorang mencintai Allah seperti mencintai selain-Nya. Ini adalah syirik
Ketiga: Seorang mencintai selain Allah melebihi cintanya kepada Allah. Ini lebih besar dosa kesyirikannya dari yang sebelumnya
Keempat: Seorang mencintai selain Allah Ta’ala dan tidak ada sedikit pun kecintaan kepada Allah dalam hatinya. Ini lebih besar lagi dosa kesyirikannya dan lebih jelek lagi.” (Al-Qaulul Mufid, 1/200-201)
Oleh karena itu beginilah bahaya cinta buta sehingga jika orang yang mengalami hal ini tidak segera bertobat maka sungguh bila ajal menjemputnya dia mati su’ul khotimah seperti kisah-kisah diatas, Naudzubillah. Ya Allah kami berlindung dari cinta yang demikian dan gantilah dengan cinta yang murni yaitu cinta sejati kepada Engkau.
SOLUSI MENGHINDARI PERANGKAP CINTA BUTA
Cinta buta adalah cinta yang dikendalikan hawa nafsu. Namanya saja “buta” pastilah cinta semacam ini tidak tentu arah dan sembarangan mencintai sesuatu tanpa memperhitungkan akibatnya. Cinta buta adalah perasaan liar yang menyukai hal-hal yang dhohir saja yang belum tentu membuat bahagia, cinta yang tidak memandang etika dan peraturan agama. Berbeda dengan cinta sejati, cinta sejati adalah cinta yang didasari kemampuan akal berfikir jernih sehingga apa yang Allah dan Rasulnya cintai dia mencintainya pula.
Diantara cara kita menghindari cinta buta adalah sebagai berikut ;
Pertama, Berdoa: Merendahkan diri di hadapan Alloh, tulus dan ikhlas dalam kembali kepada-Nya.  Alloh akan menyembuhkannya dari penyakit ini. Misalnya dengan membaca do’a “Allahumma inni a'udzubika min fitnatinnisa, wa min fitnatin dunia, wa min adzabil qobri, wa min adzabin nar
(artinya : Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah wanita, dan fitnah dunia, dan dari azab kubur serta azab api neraka).

Kedua,  Menjauhi yang dicintainya ( dirindukannya ): Hendaknya menjauhi yang dicintainya, tidak mendengar ucapannya dan tidak melihat apa-apa yang dapat mengigatkan kepadanya.
Menikah: Walaupun dengan orang yang bukan dicintainya. Karena didalam pernikahan terkandung kecukupan, berkah dan kesenangan.

Ketiga, Menjaga amal-amal shalih dan banyak berdzikir. Alloh SAW berfirman:
"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munjkar.” (al-ankabut: 45).

Keempat, Berpikir dan selalu ingat kematian dan kedahsyatannya, mengingat alam kubur dan kegelapannya, serta senantiasa menghadapkan diri kepada Alloh SAW. Dengan begitu kita akan takut terkena akibat dari cinta buta ini dan Insya Allah kita bisa meninggalkan.

Kelima, Menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat: misalnya dengan menyikbukkan diri dengan kegiatan masjid atau sosial. karena di antara penyebab cinta buta itu adalah kekosongan. Cinta buta adalah kesibukan orang yang kosong (menganggur) khususnya khosong dari mengingat Allah. Bila ia disibukkan dengan seuatu yang menyibukkan hati selain  tentang yang dirindukannya, maka ia telah mengendalikan cinta dan bisa melupakannya. Wallahu ‘Alam

Semoga bermanfaat,
Wallaahul Muwaffiq

http://dulrohman.blogspot.com/2012/02/bahaya-cinta-buta-i-love-you-full.html



Pin It
15.26 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0