Rabu, 29 Maret 2017

Menebar Kajian Sunnah:
📝 APAKAH ADA ANJURAN PUASA 7 HARI DI AWAL RAJAB?
Coba perhatikan hadits berikut adalah hadits yang lemah, sehingga tidak bisa dijadikan sandaran dalam mengamalkan puasa Rajab.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إن في الجنة نهرا يقال له رجب أشد بياضا من اللبن و أحلى من العسل من صام من رجب يوما سقاه الله من ذلك النهر
“Sesungguhnya di surga ada sebuah sungai, namanya sungai Rajab. Airnya lebih putih dari pada salju, lebih manis dari pada madu. Siapa yang puasa sehari di bulan Rajab, maka Allah akan memberinya minum dengan air sungai tersebut.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, no. 3800, 3: 367. Ibnul Jauzi dalam Al-‘Ilal Al-Muntanahiyah, no. 912 menyatakan bahwa hadits ini TIDAK SHAHIH, di dalamnya ada perawi majhul yang tidak jelas siapa mereka)
Sebagaimana dinukil oleh Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah (1: 401), Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Tidak ada dalil yang menunjukkan keutamaan puasa di bulan Rajab atau menjelaskan puasa tertentu di bulan tersebut. Begitu pula tidak ada dalil yang menganjurkan shalat malam secara khusus pada bulan Rajab. Artinya, tidak ada dalil shahih yang bisa jadi pendukung.”
Syaikh Shalih Al-Munajjid hafizhahullah berkata, “Adapun mengkhususkan puasa pada bulan Rajab, maka tidak ada hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya atau menunjukkan anjuran puasa saat bulan Rajab. Yang dikerjakan oleh sebagian orang dengan mengkhususkan sebagian hari di bulan Rajab untuk puasa dengan keyakinan bahwa puasa saat itu memiliki keutamaan dari yang lainnya, maka tidak ada dalil yang mendukung hal tersebut.” (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 75394)
Marilah merujuk pada dalil yang shahih dalam beramal.
---
Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafidzahullah
#Rajab #Puasa #Bidah #Sunnah

Selasa, 28 Maret 2017

KENAPA MEMBENCI PEMBERI NASEHAT?
وَلَٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّٰصِحِينَ 
“Tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat”. (QS. Al A'raaf: 79)
Kenapa kita tidak suka pada orang yang memberi nasehat..?
Berikut ini beberapa contoh pandangan negatif yang dibisikkan setan kepada kita saat mendengarkan nasehat atau mendapat kritikan dan masukan dari orang lain:
1. Menilai orang tersebut ingin menyaingi kita pada jabatan dan kedudukan yang kita miliki.
2. Berprasangka bahwa orang tersebut ingin mencari-cari kekurangan dan kelemahan kiata untuk menjatuhkan kehormatan kita di hadapan orang banyak.
3. Menuduh orang tersebut sedang mencari simpatisan untuk merebut kekuasaan dan kedudukan yang sedang kita dapatkan.
4. Menilai orang tersebut merasa iri, hasad dan dengki terhadap prestasi yang kita capai.
5. Menganggap orang tersebut suka menyalahkan untuk menjatuhkan popularitas yang kita raih.
6. Menuduh orang tersebut sok pintar, sombong, cari pamor, dan ingin memperlihatkan kepintarannya kepada orang lain untuk menyaingi kehebatan kita.
7. Merasa diri lebih senior, merasa lebih berilmu, ada perasaan ‘ujub dalam diri, merasa lebih baik, lebih tinggi dan lebih sempurna dari orang lain.
Hal inilah yang membuat Iblis enggan sujud kepada Adam ketika diperintahkan Allah:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَٰٓئِكَةِ ٱسْجُدُوا۟ لِءَادَمَ فَسَجَدُوٓا۟ إِلَّآ إِبْلِيسَ قَالَ ءَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِينًا
“Dan (ingatlah tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu semua kepada Adam”, lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: “Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?” (Al Israa: 61)
Marilah fokus pada diri….
Sadarilah bahwa diri kita punya sejuta kelemahan…
Janganlah berkata ketika kita mendapat nasehat atau kritikkan dan masukkan dari orang lain kita berprasangka yang bukan-bukan, hal ini akan membuat kita tetap berada dalam jurang kesalahan..!
Kenapa nasehat kita sulit untuk didengar orang lain..?
Mungkin nasehat itu dilatar belakangi oleh hal-hal berikut:
1. Karena diawali ada rasa dengki dan hasad.
2. Karena ada rasa lebih tahu dan kesombongan dalam hati.
3. Karena ada tujuan ingin menjadi terkenal.
4. Karena ingin menjatuhkan kehormatan orang lain.
5. Karena merasa kalah saingan.
6. Karena ingin mencari-cari kekurangan dan kesalahan orang lain.
7. Karena tidak sesuai dengan tuntunan sunnah.
Sebagaimana setan bersumpah dalam godaannya, bahwa ia ingin memberi nasehat, akan tetapi nasehat itu menyesatkan
وَقَاسَمَهُمَآ إِنِّى لَكُمَا لَمِنَ ٱلنَّٰصِحِينَ
Dan syaitan itu bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua”,
فَدَلَّىٰهُمَا بِغُرُورٍ ۚ
Maka syaitan membujuk keduanya dengan tipu daya. (Al A'raaf: 21-22)
Kenapa takut menyampaikan nasehat:
Takut kehilangan kedudukan, kehilangan pekerjaan, kehilangan popularitas, kehilangan jamaah, kehilangan penghasilan, kehilangan posisi, kehilangan teman atau pelanggan, kehilangan jaringan bisnis, atau tidak ingin orang lain lebih baik dari kita seandainya ia diberi masukkan, karena ia teman sendiri ngak enak takut ia tersinggung dengan nasehat kita.
Ustādz DR. Ali Musri Semjan Putra, MA hafidzahullāh

Senin, 27 Maret 2017

TAAMMULAAT 
Demi Allah, engkau bisa mencapai puncak kebahagiaan sekalipun engkau sendiri. Ketenangan, kebahagiaan dan kedekatan dengan Allah dirasakan Ibrahim tatkala ia dilempar ke dalam kobaran api. Ketenangan dan kebahagiaan dirasakan oleh Ashabul Kahfi tatkala mereka mengasingkan diri ke dalam gua. Ketenangan dan kebahagiaan dirasakan ‎Rasulullāh ﷺ tatkala bersembunyi di Gua Tsur. Saat itu Abu Bakar radhiyallāhu 'anhu berkata padanya, "Wahai Rasulullah, mereka telah melihat kita." Rasulpun menjawab, "Bagaimana menurutmu dengan dua orang, dimana Allah yang ketiganya? Lalu ketenangan pun turun pada mereka. 
Begitulah.. 
Ketenangan dan kebahagiaan akan kau rasakan saat engkau bersama ‎Allāh ﷻ. 
 Barakallahu fiykum
Ustadz Aan Chandra Thalib hafidzahullah

Selasa, 07 Maret 2017

Ahlul Kitab (Nashrani Dan Yahudi) Adalah Orang Yang Beruntung, Jika......
------
Ahlul Kitab ( kaum Nashrani atau Yahudi) itu beruntung loh.
Kok bisa ?
Ya, mereka akan beruntung apabila mereka mendengar Islam kemudian memeluk islam.
Mereka beruntung karena ketika mereka memeluk Islam, mereka akan diberikan dua pahala.
Sebagaimana disebutkan pada sebuah hadits, dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ: رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَأَدْرَكَ النَّبِيَّ, فَآمَنَ بِهِ وَاتَّبَعَهُ وَصَدَّقَهُ فَلَهُ أَجْرَانِ
“Tiga orang yang mereka diberi pahala dua kali: (yang pertama) Seorang ahli kitab yang beriman kepada nabinya dan mendapati Nabi (Muhammad) Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beriman kepada beliau, mengikutinya, dan memercayainya, maka dia mendapatkan dua pahala...” (HR. al-Bukhari no. 3011 dan Muslim dalam “Kitabul Iman”, dan hadits ini lafadz Muslim)
Subhanallah, dapat dua pahala.
Eh, Tapi bukan hanya itu saja, adalagi keberuntungan lainnya, yakni Allah akan mencatat seluruh kebaikannya sebelum ia berislam dan menghapuskan seluruh kejelekannya juga.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya),
“Apabila seorang hamba masuk Islam kemudian baik keislamannya, Allah Subhanahu wata’ala mencatat segala kebaikan yang telah dilakukannya dan menghapus segala kejelekan yang pernah dikerjakannya.” (HR. Malik dan an-Nasai, lihat Shahih al-Jami’ no. 336)
Wow, beruntung banget ya...
Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada saudara, kerabat dan teman agar mereka memperoleh keberuntungan ini.

Ustadz Boris Tanesia
Strategi Musyrikin Membubarkan Pengajian Rasulullah Shalallahu alaihi wassallam
✍ Amir As-Soronji, Lc, M.Pd.l
Kaum musyrikin benar-benar berupaya membuat kekacauan dan kegaduhan di tengah-tengah masyarakat, bahkan mereka mengusir manusia setiap kali melihat Nabi Shalallahu alaihi wassallam bersiap-siap menyampaikan dakwah kepada Allah. Mereka tidak memberikan kesempatan sedikitpun kepada beliau untuk menjelaskan apa yang beliau dakwahkan. Sungguh mereka bahu-membahu untuk melakukan itu semua. Allah berfirman:
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ
"Dan orang-orang yang kafir berkata: "Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah gaduh padanya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka". (Q.S Fushshilat: 26)
An-Nadhar bin al-Harits (salah seorang musyrikin) pergi ke Hirah dan Syam untuk mempelajari cerita-cerita rakyat. Mereka bercerita tentang para raja dan pemimpin mereka, seperti Rustam dan Isfandiar. Tatkala ia (An-Nadhar bin al-Harits) kembali, mulailah ia mengadakan berbagai pertemuan dan majelis. Ia menceritakan kisah-kisah untuk memalingkan manusia dari dakwah Nabi Shalallahu alaihi wassallam Jika ia mendengar Nabi membuat majelis untuk mengingatkan tentang Allah, maka ia langsung mengeser Nabi dari majelis tersebut dan menyampaikan kisah-kisah kepada orang-orang yang hadir ketika itu.
Bahkan ia menempuh cara yang lain yaitu membeli seorang budak wanita yang pandai menyanyi, lalu ia bawa budak itu kepada orang-orang yang tertarik masuk Islam. Kemudian ia mengatakan: "(Wahai budak wanita) berilah ia hidangan, berilah ia minuman dan hiburlah ia dengan nyanyian. Ini semua lebih baik dari apa yang didakwahkan oleh Muhamad. Lalu turunlah ayat:
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ
"Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan." (Q.S Luqman: 6)
(Lihat: Raudhah al-Anwar fi Sirah an-Nabi al-Mukhtar, hal. 29-30, karya As-Syaikh Shafiyyur-Rahman al-Mubarakfury)
Berhati-hatilah dalam memilih guru…
Ustadz Risytiyan Putradianto حفظه الله تعالىٰ berkata,
“Kalau da'i sudah menyesatkan, maka ia lebih berbahaya daripada penguasa zhalim.
Diriwayatkan dari Sallam bin Abi Muthi’ رحمه الله تعالىٰ berkata,
“لأن ألقى الله بصحيفة الحجاج أحب إلي أن ألقاه بصحيفة عمرو بن عبيد”
“Sekiranya aku bertemu Allah سبحانه و تعالىٰ dengan catatan amalnya Al Hajjaj (pemimpin muslim yang sangat zhalim) maka itu lebih aku sukai daripada bertemu dengan-Nya dengan membawa catatan amal ‘Amr bin ‘Ubaid ('ulamaa sesat dengan bid'ahnya).”
(As Siyar A'lam an-Nubala’, VII/428)
Syaikh 'Abdul Malik Al Jazairi حفظه الله تعالىٰ dalam daurah di Turki kemarin membawakan perkataan Sallam bin Abi Muthi’ رحمه الله تعالىٰ untuk membantah perkataan Khariji (Khawarij) yang mengatakan :
“Engkau Khawarij terhadap para da'i dan Murji'ah terhadap penguasa.”
Hanya saja redaksi riwayatnya sedikit berbeda, dan ada tambahan :
لأنَّ الحجاج قتل الناس على الدنيا، وعمرو بن عبيد أحدث بدعة شنعاء قتل الناس بعضهم بعضاً
“Karena Al Hajjaj membunuh manusia untuk kepentingan dunia, sedangkan 'Amr bin 'Ubaid menciptakan bid'ah yang amat buruk yang menyebabkan manusia saling membunuh satu sama lain.”
Yaitu bid'ah sekte Mu'tazilah.
Ternyata Al Hajjaj yang kejam dan bengis itu masih mending daripada 'Amr bin 'Ubaid yang bagus adabnya dan cerdas otaknya, sampai-sampai al-Hasan Al-Bashri رحمه الله تعالىٰ mengatakan tentangnya :
هذا سيد شباب أهل البصرة إن لم يحدِث
“Orang ini adalah sayyid para pemuda di Bashrah, seandainya ia tidak membuat-buat bid'ah.”
Maka, setelah membaca ini, ada yang masih meremehkan pentingnya belajar 'aqidah yang benar dari 'ulamaa yang lurus?
Masih menggampangkan berguru pada siapa saja yang penting terlihat berilmu dan santun, tanpa peduli apakah 'aqidahnya lurus atau tidak?
______________________________________
Komentar saya (Abu 'Aisyah Aziz Arief) :
Dari kisah para 'ulamaa Salaf dahulu hendaknya kita mengambil pelajaran khususnya dalam masalah ini bahwasanya kita tidak bermudah-mudahan mengambil 'ilmu yang tidak atau belum jelas 'aqidah dan manhajnya karena dapat membahayakan diri dan agama kita.
Maka, sangat wajar jika Rasulullah ﷺ sangat mewanti-wanti dari sosok 'ulamaa su'u (sesat) yang mengajak kepada syirik dan bid'ah yang itu akan membawa pelakunya kepada Neraka Jahannam.
Dari Hudzaifah bin al-Yamaan رضي الله تعالىٰ عنه berkata,
“Orang-orang (para Shahabat) bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang (perkara) kebaikan, dan aku bertanya kepada beliau tentang (perkara) kejelekan (keburukan), khawatir kejelekan tersebut menghampiri (menimpaku).”
Aku berkata,
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya dahulu kami berada dalam kejahiliyahan dan kejelekan (keburukan), kemudian Allah mendatangkan kebaikan kepada kami, lalu apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?”
Rasulullah ﷺ menjawab,
“Ya.”
Aku bertanya,
“Apakah setelah keburukan tersebut ada kebaikan?”
Beliau ﷺ menjawab,
“Ya, tapi di dalamnya ada asap (kekeruhan).”
Aku bertanya,
“Apa kekeruhan itu?”
Beliau ﷺ menjawab,
“Suatu kaum yang membuat ajaran bukan dari ajaranku (berbuat bid'ah), dan memberi petunjuk bukan dengan petunjukku. Engkau mengetahui mereka dan engkau mengingkarinya.”
Lalu aku bertanya,
“Apakah setelah kebaikan tersebut ada keburukan?”
Beliau ﷺ menjawab,
“Ya, akan muncul para da'i-da'i ('ulamaa penyeru) yang menyeru ke Neraka Jahannam, siapa yang menjawab (mengikuti) seruan (ajakannya) maka mereka akan melemparkan orang itu ke dalamnya.”
Aku bertanya,
“Wahai Rasulullah, terangkan ciri-ciri (sifat-sifat) mereka kepada kami.”
Beliau ﷺ menjawab,
“Ya (mereka adalah) suatu kaum yang kulit mereka sama dengan kulit (kaum kita) dan mereka berbicara dengan bahasa kita.”
Aku bertanya,
“Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menjumpai hal itu?”
Beliau ﷺ menjawab,
“Engkau harus tetap komitmen (istiqomah) terhadap jama'ah kaum muslimin dan imam mereka.”
Lalu aku berkata lagi,
“Bagaimana jika tidak ada jama'ah kaum muslimin dan imam?”
Beliau ﷺ bersabda,
“Maka jauhilah (berlepaslah) dari semua golongan-golongan tersebut, walaupun engkau harus menggigit akar pohon sampai ajal kematian menjemputmu, dan tetap dalam keadaan seperti itu.”
(Shahiih, HR. Al-Bukhari, VI/615 - 616, no. 3606, 3607, dan XIII/35, no. 7084, Fat-hul Baari, Muslim, XII/235 - 236, no. 1847 [51], Ahmad, V/391, 399, al-Baghowi dalam Syarhus Sunnah, XIV/14, dan Ibnu Majah, no. 2979, Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah, no. 2739)
Dari Tsauban رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata,
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan dari ummatku adalah para 'ulamaa yang menyesatkan.”
(Shahiih, HR. At-Tirmidzi, no. 2229, dan Ahmad, no. 22447)
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah para 'ulamaa yang menyesatkan.”
(Shahiih, HR. Ahmad, no. 27525, Shahiih al-Jaami’, no. 1551)
Semoga kita dihindarkan dari 'ulamaa su'u yang mengajak kepada Neraka Jahannam dengan syirik dan bid'ahnya.
Semoga Allah تبارك و‏تعالىٰ memberikan hidayah dan taufiq.
#Sunnah #Bidah #Manhaj #Ilmu

Senin, 20 Februari 2017

Jika engkau jumpai malam semakin gelap menghitam itu pertanda tak lama lagi fajar akan datang...
Jika engkau dapati kesulitan dan kesedihan semakin mendalam, itu pertanda pertolongan Allah akan datang menjelang
sabar dan yakinlah...
Malam tak berkepanjangan...
Mendung pun akan hilang....
إنَّ أَفْضَلَ الْعِبَادَةِ انْتِظَارُ الْفَرَجِ".
“sesungguhnya ibadah yang paling mulia adalah menunggu datangnya jalan keluar (pertolongan Allah)" (HR. Tirmidzi)
Ustādz Fadlan Fahamsyah hafidzahullāh 

Radio Kajian Kaltim


Get the Flash Player to hear this stream.

Video Pilihan

Popular Posts