KABAR DAKWAH

TEGUH dalam Tujuan dan FLEKSIBEL dalam sarana berdakwah sesuai yang diperbolehkan syari'at

Kamis, 17 Juli 2014

You Dont Have to be a Muslim to a Care About Palestine

"Untuk apa sibuk2 mikirin masalah negara orang lain.?? negara sendiri masih banyak masalah?? gitu katanya...
Tanggapan:
Saya setuju banget dan sependapat ama pendapat yang seperti ini, sangkin setujunya saya ogah repot ngikutin n ngliatin negara orang lain main bola di brazil sono, toh negara orang yg tanding kok.. ngapain saya repot nonton sampe teriak2 kasih dukungan? kan bukan negara saya, gak logis bgt kan yak. Apalagi klo sampe bangun malam bahkan begadang hanya buat nonton negara orang main bola, konyol gak tuh kerjaan?
nah loh kok..?? Ooo.. maksudnya ngurusin palestina..??
Klo itu mah bukan negara orang lain.., orang palestina itu saudara saya dan palestina itu tanah suci saya. Ibaratnya gini nih .. saya org sumatra n tinggal disumatra tp klo seandainya pulau jawa diserang bangsa asing maka saya gak akan tinggal diam, karena saya dan orang2 di pulau jawa masih saudara satu ras yaitu bangsa indonesia n jawa itu masih bagian dari negara kelahiran saya. Apalagi hubungan persaudaraan saya dan orang2 palestina itu lansung di hubungkan oleh Allah melalui islam
"you dont have to be a muslim to a care about palestine, you just have to be a human" Klo orang2 barat yg bukan saudaraan ama org2 palestine aja bisa berpendapat kayak gini ya... apalg saya..
So.. klo anda mmg tidak ingin dipusingkan oleh masalah negara ORANG LAIN maka yg anda cukup lakukan adalah berhenti repot menoton piala dunia dan pertandingan2 olah raga lainnya yg org indonesia tidak ada menjadi peserta. klo soal palestine itu bukan masalah orang lain.. itu adalah masalah anda jika anda masih merasa seorang muslim..!!

Catatan FB Bang F. Wahyudi -hafidzahullah-
Via Ust Aan Chandra Thalib hafidzahullaah..

SIla dibaca link berikut semoga bermanfaat >>
Pin It
15.07 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Selasa, 15 Juli 2014

ALLAH SUDAH MENJAMIN SURGA UNTUK NABI MUHAMMAD ﷺ

Sumber: http://sofyanruray.info/menakar-cara-berdalil-sang-ahli-tafsir-tanggapan-kepada-prof-quraish-shihab
TANGGAPAN TERHADAP PERNYATAAN SANG PROF QURAISH SHIHAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bapak Quraish Shihab berkata,

Tidak benar, saya ulangi, Tidak benar bahwa Nabi Muhammad sudah dapat jaminan surga. Surga itu hak prerogatif Allah.

Tanggapan:

Diantara kenikmatan surga yang telah Allah ta’ala janjikan untuk Nabi kita Muhammad ﷺ adalah Al-Kautsar, yaitu sebuah sungai yang sangat indah di surga.

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar.” [QS. Al-Kautsar: 1]

Sahabat yang mulia Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata,

لَمَّا عُرِجَ بِالنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم إِلَى السَّمَاءِ قَالَ أَتَيْتُ عَلَى نَهَرٍ حَافَتَاهُ قِبَابُ اللُّؤْلُؤِ مُجَوَّفًا فَقُلْتُ مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ قَالَ هَذَا الْكَوْثَر

“Tatkala Nabi Muhammad ﷺ dimi’rojkan ke langit beliau bersabda: Aku mendatangi sebuah sungai yang terdapat pada dua tepinya kemah-kemah yang terbuat dari mutiara yang memiliki rongga, maka aku berkata: Apa ini wahai Jibril? Jibril berkata: Inilah Al-Kautsar.” [HR. Al-Bukhari]

Dalam hadits riwayat At-Tirmidzi:

عَنْ أَنَسٍ ( إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ) أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ هُوَ نَهْرٌ فِى الْجَنَّةِ قَالَ فَقَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم رَأَيْتُ نَهْرًا فِى الْجَنَّةِ حَافَتَاهُ قِبَابُ اللُّؤْلُؤِ قُلْتُ مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ قَالَ هَذَا الْكَوْثَرُ الَّذِى قَدْ أَعْطَاكَهُ اللَّهُ

“Dari Anas radhiyallahu’anhu (tentang firman Allah):

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar.” Bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: Al-Kautsar adalah sungai di surga.

Anas berkata: Lalu Nabi ﷺ bersabda: Aku melihat sebuah sungai di surga di dua tepinya terdapat kemah-kemah mutiara, maka aku berkata: Apa ini wahai Jibril? Jibril berkata: Inilah Al-Kautsar yang telah Allah berikan kepadamu.” [HR. At-Tirmidzi, Shahih At-Tirmidzi: 2675]

Ayat dan hadits yang kami sebutkan di atas hanyalah sebagian kecil dari dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menerangkan tentang kenikmatan yang telah dijanjikan oleh Allah ta’ala kepada beliau, maka apabila Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam belum mendapat jaminan masuk surga, apakah berarti janji Allah itu belum dijamin kebenarannya?!

Sungguh, seorang mukmin pasti meyakini, Allah ta’ala tidak mungkin menyalahi janjinya, oleh karena itu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pasti masuk surga untuk menikmati segala kenikmatan yang telah Allah ta’ala janjikan, bahkan beliau lah orang pertama yang akan masuk surga, bagaimana bisa dikatakan bahwa tidak ada jaminan untuk beliau masuk surga?!

Rasulullah ﷺ bersabda,

آتِى بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتَفْتِحُ فَيَقُولُ الْخَازِنُ مَنْ أَنْتَ فَأَقُولُ مُحَمَّدٌ. فَيَقُولُ بِكَ أُمِرْتُ لاَ أَفْتَحُ لأَحَدٍ قَبْلَكَ

Aku akan mendatangi pintu surga di hari kiamat, maka aku meminta untuk dibukakan, lalu penjaga surga berkata: Siapa engkau? Aku berkata: Aku adalah Muhammad. Maka ia berkata: Untuk engkaulah aku diperintahkan agar tidak membuka pintu surga bagi siapapun sebelum engkau.” [HR. Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu'anhu]

Dan saya sangat yakin, seorang muslim yang paling awam sekalipun pasti meyakini bahwa Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam sudah pasti dan sudah dijamin masuk surga, sebagaimana kaum muslimin seluruhnya sepakat bahwa beliau adalah manusia terbaik dan paling dicintai Allah ta’ala, maka sangat aneh jika seorang yang dianggap ahli tafsir namun berani menafikkan jaminan surga untuk Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam.

Sebagaimana kaum muslimin seluruhnya sepakat bahwa Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam dengan izin Allah akan memberikan syafa’at untuk sebagian umatnya agar masuk surga, maka bagaimana mungkin apabila beliau sendiri belum dijamin masuk surga?!

Demikian pula kaum muslimin bersepakat bahwa ada 10 orang sahabat yang sudah dijamin masuk surga, bagaimana bisa Nabi mereka justru tidak mendapat jaminan masuk surga?!


MENGOREKSI CARA BERDALIL PROF. QURAISH SHIHAB (TANGGAPAN THD PROF. QURAISH SHIHAB)

Bapak Quraish Shihab berkata,

“Kenapa saya katakan begitu, pernah ada seorang sahabat nabi dikenal orang baik, trus teman-temanya di sekitarnya berkata: Bahagialah engkau akan mendapatkan surga. Nabi dengar: Siapa yang bilang begitu tadi?

Nabi berkata: “Tidak seorang pun yang masuk surga karena amal” Kamu berkata dia baik amalannya, dia dijamin surga. Surga hak prerogatif Tuhan. Trus ditanya: Kamu pun tidak wahai Nabi Muhammad: Saya pun tidak, kecuali kalau Allah menganugerahkan rahmat kepada saya. Jadi kita berkata, dalam konteks surga dan neraka tidak ada yang dijamin Tuhan.”

Tanggapan:

Diantara kelemahan Prof. Quraish Shihab yang sangat mendasar dalam menyampaikan hadits adalah menyampaikannya hanya dengan maknanya saja, dan bisa jadi dua hadits yang berbeda digabungkannya menjadi satu dan bercampur baur dengan ucapannya, dan tanpa menyebutkan referensi kitab-kitab hadits, tidak pula sahabat yang meriwayatkan.

Dan kami mengira hadits yang dimaksudkan di atas adalah dua hadits yang berbeda, yaitu:

Pertama: Hadits Ummul ‘Alaa Al-Anshoriyah radhiyallahu’anha, beliau berkata ketika meninggalnya sahabat yang mulia Abus Saaib ‘Utsman bin Maz’un radhiyallahu’anhu:

رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْكَ أَبَا السَّائِبِ فَشَهَادَتِي عَلَيْكَ لَقَدْ أَكْرَمَكَ اللَّهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَمَا يُدْرِيكِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَكْرَمَهُ فَقُلْتُ بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ فَمَنْ يُكْرِمُهُ اللَّهُ فَقَالَ أَمَّا هُوَ فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِينُ وَاللَّهِ إِنِّي لأَرْجُو لَهُ الْخَيْرَ وَاللَّهِ مَا أَدْرِي – وَأَنَا رَسُولُ اللهِ – مَا يُفْعَلُ بِي قَالَتْ فَوَاللَّهِ لاَ أُزَكِّي أَحَدًا بَعْدَهُ أَبَدًا.

“Rahmat Allah atasmu wahai Abus Saaib (‘Utsman bin Mazh’un). Aku bersaksi bahwa Allah sungguh telah memuliakanmu.” Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ”Apa yang telah membuat engkau mengetahui bahwa Allah telah memuliakannya?” Aku mengatakan, ”Demi bapakmu (ini bukan untuk bersumpah, Pen), lalu siapa yang dimuliakan Allah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Adapun Abus Saaib maka telah datang kematiannya, demi Allah sungguh aku mengharapkan kebaikan baginya. Dan demi Allah aku tidak tahu –padahal aku adalah Rasulullah- apa yang akan Allah lakukan pada diriku.” Kemudian Ummul ‘Alaa’ mengatakan, “Maka demi Allah, setelah itu aku tidak pernah lagi memastikan seseorang (telah dimuliakan oleh Allah).” [HR Bukhari]

Perhatian: Tentang ucapan Rasulullah ﷺ dalam hadits di atas,

وَاللَّهِ مَا أَدْرِي وَأَنَا رَسُولُ اللَّهِ مَا يُفْعَلُ بِي

“Dan demi Allah aku tidak tahu –padahal aku adalah Rasulullah- apa yang akan Allah lakukan pada diriku.”

Maka ucapan beliau tersebut sebelum turun firman Allah ta’ala yang mengabarkan bahwa dosa-dosa beliau semuanya telah diampuni. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا لِّيَغْفِرَ لَكَ اللهُ مَاتَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَاتَأَخَّرَ

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada kamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang.” [Al-Fath:1-2]

Apakah mungkin setelah dosa seseorang diampuni semuanya oleh Allah ta’ala lalu kemudian ia belum dijamin masuk surga?!

Dan terdapat beberapa hadits yang semakna dengan hadits Ummul ‘Alaa’ Al-Anshoriyah di atas, diantaranya adalah yang disebutkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih beliau pada bab, Tidak Boleh Mengatakan Fulan Syahid:

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِهِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُكْلَمُ فِي سَبِيلِه

“Abu Hurairah berkata, dari Nabi ﷺ: Allah yang lebih mengetahui siapa yang berjihad di jalan-Nya, Allah yang lebih tahu siapa yang terluka di jalan-Nya.” [HR. Al-Bukhari]

Hadits di atas menunjukkan bahwa tidak boleh memastikan seseorang itu mati syahid walau ia meninggal di medan jihad, karena kita tidak mengetahui keadaannya yang sesungguhnya di sisi Allah. Maka demikian pula, lebih tidak boleh lagi memastikan seseorang masuk surga walau kita melihat amalannya baik, karena belum tentu diterima di sisi Allah, sebab kita tidak tahu niat orang tersebut ketika beramal.

Namun larangan memastikan seseorang mati syahid dan masuk surga ini hanya berlaku bagi mereka yang belum dipastikan syahid atau masuk surga, adapun yang sudah dipastikan dan sudah dijamin masuk surga maka wajib bagi kita untuk meyakini bahwa ia pasti dan terjamin masuk surga.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَيَشْهَدُونَ بِالْجَنَّةِ لِمَنْ شَهِدَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْجَنَّةِ كَالْعَشَرَةِ وَكَثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ وَغَيْرِهِمْ مِنْ الصَّحَابَةِ

“Dan mereka (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) mempersaksikan (memastikan) akan masuk surga, orang orang yang dipersaksikan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam akan masuk surga, seperti 10 sahabat, Tsabit bin Qois bin Syammas, dan selain mereka dari kalangan para sahabat.” [Matan Al-Aqidah Al-Washitiyah]

Hal itu karena wajib membenarkan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, sebagaimana dalam hadits Sa’id bin Zaid radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda,

عَشْرَةٌ فِى الْجَنَّةِ النَّبِىُّ فِى الْجَنَّةِ وَأَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدُ بْنُ مَالِكٍ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى الْجَنَّةِ وَلَوْ شِئْتَ لَسَمَّيْتُ الْعَاشِرَ. قَالَ فَقَالُوا مَنْ هُوَ فَسَكَتَ قَالَ فَقَالُوا مَنْ هُوَ فَقَالَ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ

“Sepuluh orang di surga, Nabi (Muhammad) di surga, Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair bin Al-‘Awwam di surga, Sa’ad bin Malik di surga, Abdur Rahman bin ‘Auf di surga.” (Sa’id bin Zaid) berkata, “Kalau engkau mau aku akan sebutkan yang kesepuluh.” Mereka berkata, “Siapakah dia?” Maka beliau diam. Mereka berkata lagi, “Siapakah dia?” Beliau berkata, “Dia adalah Sa’id bin Zaid.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dan ini adalah lafaz Abu Daud, Lihat Ash-Shahihah: 1435]

Dalam lafaz At-Tirmidzi:

وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ

“… Abu Ubaidah (di surga) dan Sa’ad bin Abi Waqqash di surga.” [HR. At-Tirmidzi dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu’anhu, Shahih At-Tirmidzi: 2947]

Perhatian: Dalam lafaz Abu Daud di atas sangat jelas disebutkan, “Nabi (Muhammad) di surga.” Semoga kita termasuk orang-orang yang membenarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam dan tidak mendustakannya.

Adapun tentang sahabat yang mulia Tsabin bin Qois bin Syammas, Rasulullah ﷺ telah bersabda tentang beliau,

بَلْ هُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Bahkan ia termasuk penghuni surga.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan inimlafaz Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu]

Jadi, pendalilan Prof. Quraish Shihab dengan hadits yang disebutkannya untuk menafikan jaminan surga bagi Rasulullah ﷺ dan seluruh sahabat adalah tidak tepat, karena terdapat banyak sekali dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad dan sebagian sahabat telah dijamin masuk surga.

Dan telah dimaklumi bahwa untuk mengambil satu kesimpulan dari dalil hendaklah mengumpulkan terlebih dahulu seluruh dalil yang terkait, bukan mengambil sebagian dalil dan membuang yang lainnya. Oleh karena itu dalam ilmu tafsir juga dikenal adanya nash-nash yang umum dan khusus, yang muthlaq dan muqoyyad, yang naasikh dan mansukh.


Kedua: Hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda,

لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ قَالُوا ، وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ : لاَ ، وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ

“Tidak seorang pun yang amalannya dapat memasukkannya ke surga.” Para sahabat bertanya, “Apakah tidak juga engkau wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Tidak pula aku kecuali aku senantiasa dicurahkan oleh Allah keutamaan dan rahmat.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Dalam lafaz hadits Aisyah radhiyallahu’anha:

وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِمَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ

“Tidak pula aku kecuali aku senantiasa dicurahkan oleh Allah ampunan dan rahmat.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan ini lafaz Al-Bukhari]

Inilah hadits kedua yang dijadikan dalil oleh Prof. Quraish Shihab untuk mendukung pendapatnya bahwa Nabi Muhammad ﷺ belum dijamin surga.

Tanggapan:

Pertama: Hadits yang mulia ini tidak sedikitpun menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam belum dijamin masuk surga, tetapi menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pun masuk surga bukan karena amalan beliau, namun karena keutamaan, ampunan dan rahmat Allah ta’ala. Mari kita lihat penjelasan para ulama pensyarah hadits ini dan hadits lain yang menafsirkan hadits ini.

Al-Kirmani rahimahullah berkata,

إذا كان كل الناس لا يدخلون الجنة الا برحمة الله فوجه تخصيص رسول الله صلى الله عليه و سلم بالذكر أنه إذا كان مقطوعا له بأنه يدخل الجنة ثم لا يدخلها الا برحمة الله فغيره يكون في ذلك بطريق

“Apabila semua manusia tidak dapat masuk surga kecuali dengan rahmat Allah maka sisi pengkhususan disebutkannya “Rasulullah ﷺ dalam hadits ini adalah, apabila beliau sendiri telah dipastikan masuk surga, namun tidaklah beliau memasukinya kecuali dengan rahmat Allah, maka selain beliau dalam hal ini tentunya yang lebih pantas (untuk masuk surga dengan rahmat Allah, bukan dengan amalannya, karena sedikitnya amalan siapa pun selain beliau, Pen).” [Fathul Bari, 11/297]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

قلت وسبق إلى تقرير هذا المعنى الرافعي في أماليه فقال لما كان أجر النبي صلى الله عليه و سلم في الطاعة أعظم وعمله في العبادة أقوم قيل له ولا أنت أي لا ينجيك عملك مع عظم قدره فقال لا الا برحمة الله وقد ورد جواب هذا السؤال بعينه من لفظ النبي صلى الله عليه و سلم عند مسلم من حديث جابر بلفظ لا يدخل أحدا منكم عمله الجنة ولا يجيره من النار ولا انا الا برحمة من الله تعالى

“Aku katakan: Ar-Rafi’i dalam kitab Al-Amaali-nya telah mendahului untuk menegaskan makna seperti yang dikatakan oleh Al-Kirmani di atas. Ar-Rafi’i berkata,

“Ketika pahala Nabi ﷺ dalam melakukan ketaatan itu lebih besar dan amalan beliau dalam ibadah lebih lurus, maka dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah tidak juga engkau yang tidak dapat diselamatkan oleh amalanmu padahal ia sangat besar?” Maka beliau menjawab, “Tidak juga aku, kecuali dengan rahmat dari Allah.” Dan terdapat dalam hadits dengan lafaz lain dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sebagai jawaban terhadap pertanyaan tersebut, yang disebutkan dalam riwayat Muslim dari hadits Jabir radhiyallahu’anhu dengan lafaz:

لاَ يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَلاَ يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ وَلاَ أَنَا إِلاَّ بِرَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ تعالى

“Tidaklah seorang pun yang amalannya dapat memasukkannya ke dalam surga dan melindunginya dari neraka, tidak pula aku, kecuali dengan rahmat dari Allah ta’ala.” (HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma)” [Fathul Bari, 11/297]

Maka jelaslah, yang dimaksud oleh Rasulullah ﷺ adalah penjelasan bahwa amalan seseorang tidak akan memasukkannya ke dalam surga, tapi rahmat Allah kepadanya itulah yang memasukkannya ke surga, termasuk penjelasan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pun masuk surga karena rahmat Allah, dan bukan untuk menjelaskan bahwa beliau belum dirahmati dan diampuni.

Kedua: Kalaulah betul hadits ini menunjukkan bahwa ketika Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam bersabda demikian, beliau belum diampuni dan dirahmati, maka terdapat banyak dalil lain yang menunjukkan setelah itu beliau sudah diampuni dan dirahmati.

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا لِّيَغْفِرَ لَكَ اللهُ مَاتَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَاتَأَخَّرَ

"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada kamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang." [Al-Fath: 1-2]

Dalam hadits syafa’at yang panjang, manusia pada akhirnya mendatangi Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam seraya mengatakan,

يَا مُحَمَّدُ أَنْتَ رَسُولُ اللهِ وَخَاتَمُ الأَنْبِيَاءِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلاَ تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ

“Wahai Nabi Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan penutup para Nabi, dan sungguh Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang, mintakanlah syafa’at untuk kami kepada Rabbmu, tidakkah engkau melihat keadaan kami.” [HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu’anhu berkata,

قَامَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم حَتَّى تَوَرَّمَتْ قَدَمَاهُ فَقِيلَ لَهُ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

“Rasulullah ﷺ melakukan sholat (tahajjud) sampai pecah-pecah kedua kakinya, maka dikatakan kepada beliau: Bukankah Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang? Beliau bersabda: Tidakkah aku menjadi seorang hamba yang selalu bersyukur?” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Maka seorang Nabi yang sudah diampuni dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang, sudah pasti telah dirahmati oleh Allah ta’ala. 


Allah ta’ala berfirman,

وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا

Sekiranya tidaklah karena keutamaan Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu dapat bersih selama-lamanya.” [An-Nur: 21]

Al-‘Allamah Al-Mufassir As-Sa’di rahimahullah berkata,

ما زكى أحد بالتطهر من الذنوب والسيئات والنماء بفعل الحسنات، فإن الزكاء يتضمن الطهارة والنماء، ولكن فضله ورحمته أوجبا أن يتزكى منكم من تزكى

“Tidak seorang pun dapat membersihkan diri dari dosa-dosa dan kejelekan-kejelekan, serta meningkat dengan melakukan kebaikan-kebaikan, karena sesungguhnya membersihkan diri itu mencakup mensucikan dan meningkatkan, akan tetapi dengan keutamaan Allah dan rahmat-Nya mengharuskan diantara kalian ada yang mensucikan diri.” [Taisirul Kariimir Rahman fi Tafsiri Kalaamil Mannan, hal. 563]

Bahkan rahmat tersebut senantiasa tergambarkan dalam kehidupan beliau. Allah ta’ala berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” [Ali Imron: 159]

Al-‘Allamah Al-Mufassir As-Sa’di rahimahullah berkata,

أي: برحمة الله لك ولأصحابك، منَّ الله عليك أن ألنت لهم جانبك، وخفضت لهم جناحك، وترققت عليهم، وحسنت لهم خلقك، فاجتمعوا عليك وأحبوك، وامتثلوا أمرك

“Maknanya, dengan rahmat Allah untukmu dan untuk sahabat-sahabatmu, Allah menganugerahkan untukmu kelembutan dalam bergaul dengan mereka, engkau merendahkan sayapmu (tidak sombong) bagi mereka, engkau bersikap halus terhadap mereka dan engkau berakhlak baik kepada mereka, maka mereka bersatu denganmu, mencintaimu dan mentaati perintahmu.” [Taisirul Kariimir Rahman fi Tafsiri Kalaamil Mannan, hal. 154]

Ketiga: Apabila pendapat batil bahwa Rasulullah ﷺ belum dijamin surga tersebut diterima maka konsekuensinya akan bertentangan antara hadits tersebut dengan hadits-hadits bahkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang sangat banyak sekali yang telah mengabarkan jaminan surga dari Allah untuk Nabi Muhammad ﷺ, dan tidak mungkin terjadi selamanya pertentangan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, tapi pemahaman kitalah yang salah.

Allah ta’ala berfirman,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” [An-Nisa: 82]

Dan Allah ta’ala berfirman,

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” [An-Najm: 3-4]

Bersambung insya Allah ta’ala…

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

>> https://www.facebook.com/sofyanruray.info
Pin It
10.18 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Senin, 14 Juli 2014

Qunut witir Dan Laknat Atas Kafirin

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc

Umar bin Khathab berkata, "Apabila telah pertengahan ramadlan disunnahkan melaknat kaum kafirin di rakaat terakhir witir."
ibnu hajar berkata, "Sanadnya hasan."
talkhis alhabiir 2/52.

pertengahan ramadlan sebentar lagi..
mari kita laknat kaum yahudi..
dan semua orang orang kafir yang menghalang halangi manusia dari jalan Allah..

dari ibnu syihab berkata, "Dahulu mereka melaknat kaum kafir di pertengahan ramadlan. mereka berdoa:

اللهم قاتل الكفرة الذين يصدّون عن سبيلك، ويكذبون رسلك ولا يؤمنون بوعدك، وخالِفْ بين كلمتهم، وألق في قلوبهم الرعب، وألقِ عليهم رجزك وعذابك، إلهَ الحقّ".

Ya Allah perangilah orang orang kafir yang menghalang halangi manusia dari jalanMu, yang mendustakan para rosulMu, dan tidak beriman dengan janjiMu. Cerai beraikan kalimat mereka, dan berikan kepada mereka rasa takut, dan berikan laknat dan adzabMu kepada mereka. wahai ilaah yang haq."

(Riwayat Muhammad bin Nashr Al Marwazi).
Pin It
12.50 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Kamis, 10 Juli 2014

Sikapilah Dengan Bijak

Tidak Mungkin!
Oh tidak mungkin ini terjadi! Mustahil itu terjadi!
He he he , santai saja lagi, memangnya anda tuhan kok menyatakan mungkin atau tidak mungkin?
Ada lagi yang berkata: Tidak mungkin fulan demikian atau demikian.
Waduh, nampaknya fulan tersebut telah "dinobatkan" sebagai "nabi baru" atau bahkan tuhan moderen.
Sobat! Ungkapan di atas adalah jeritan batin saya, menanggapi ucapan sebagian orang yang berkata dan mencemooh saya karena beberapa waktu lalu secara proaktif mendukung salah satu capres.
Ada yang berkata: mustahil akun facebook ini dikelola langsung oleh seorang yang bergelar doktor, adalagi yang berkata mustahil seorang salafy melakukan tindakan semacam ini, dan ada lagi yang mengatakan: mustahil seorang yang berilmu berpendapat seperti ini. Dan masih banyak komentar serupa lainnya.
Sobat! Ketahuilah bahwa komentar komentar di atas, semakin menjadikan saya mantap dengan sikap saya. Saya ingin menunjukkan bahwa tiada hal yang mustahil bagi Allah Azza wa Jalla, siapapun bisa berbuat salah dan bisa benar, termasuk saya. Saya tidak ingin menambah dosa dengan membiarkan apalagi menikmati anggapan sebagian orang bahwa saya pasti benar dan selalu benar.
Namun saya sebagai manusia biasa telah berusaha untuk mengucapkan dan menulis apa yang menurut saya benar walaupun belum tentu benar menurut Allah.
Seorang muslim -siapapun dia- bisa berbuat salah dan bisa berbuat khilaf, tanpa terkecuali anda yang berkomentar seperti di atas, apalagi saya yang membuat status seperti yang anda keluhkan.
Kalaupun saudara telah belajar agama, bahkan menjadi ustadz ataupun ulama', bukan berarti anda selalu benar. Demikian pula dengan diri saya, bukan berarti kalau saya punya akun di facebook, pasti selalu benar.
Sobat! Benar atau salah adalah satu hal yang melekat dengan setiap insan. Bisa jadi hari ini anda benar namun bisa jadi pula besok anda salah. Dan uniknya, kadang kala anda salah namun demikian tetap ngotot dan merasa benar bahkan paling benar.
Merasa diri selalu benar atau meyakini bahwa ustadz panutan anda pasti selalu benar adalah bentuk "keterbelakangan dalam berpikir", atau "pola pikir yang sempit" dan tentu itu bukan dari ajaran Islam walaupun dibela mati matian oleh seorang yang berbaju jubah apalagi berbaju metal.
Sobat! Berjiwa besar memang mudah diucapkan, namun susah diterapkan, kecuali oleh orang orang yang memang benar benar berjiwa besar. Adapun "katak dalam tempurung" maka jiwa besar hanyalah menjadi slogan dan ucapan kosong tanpa pembuktian.
Sobat! Sadarilah bahwa masalah menggunakan hak suara atau tidak adalah ranah ijtihad, yang masing masing bisa benar dan bisa salah. Karena itu sikapilah dengan bijak, suatu saat akan terbukti anda yang benar dan saya yang salah atau sebaliknya saya yang benar sedangkan anda yang salah.
Camkan baik baik sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ، فَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ،
Setiap anak keturunan nabi Adam pastilah banyak berbuat kesalahan, dan sebaik baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang pandai/banyak bertaubat ( mengakui kesalahannya). Riwayat Ahmad dan lainnya.
Sobat! Sadarilah bahwa orang yang bertakwa bukanlah orang yang terbebas dari kesalahan, namun orang yang bertakwa adalah orang yang ringan tangan berbuat kebaikan dan menyesali kesalahan.
Adapun orang yang merasa bahwa dirinya atau ustadznya pasti terbebas dari kesalahan maka sejatinya itu adalah bentuk dari kesesatan.

By Ustadz DR Muhammad Arifin Badri, Lc, MA
Pin It
15.16 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

GENERASI YANG DI TAKUTI YAHUDI

Kisah nyata ini diceritakan oleh Dokter Abu Anas dari Palestina, dia berkata:
Sejak sembilan tahun aku bekerja pada salah satu bagian Unit Gawat Darurat disebuah rumah sakit. Setiap hari aku menemui berbagai macam keadaan dari para pasien yang berbeda. Aku memberi untuk pasien resep dan aku juga menasehati yang lain agar beristirahat.
Aku letakkan pasien ketiga sebagai perhatian dan aku pindah ke pasien lain untuk perawatan intensif. Aku sering meminta kepada para pasien untuk melakukan test darah, air seni, dan tinja. Hal ini merupakan test rutin. Lalu kami memberikan kepada pasien sebuah botol kecil dari plastik yang sudah disterilkan untuk meletakkan sampel dari hasil tes yang akan kami lakukan, setelah kami menulis nama pasien pada kertas yang ditempelkan pada botol ini.
Pada suatu hari, ada seorang bocah berusia 9 tahun datang ke bagian Unit Gawat Darurat, ia mengeluhkan rasa perih dalam perutnya. Setelah kami memeriksanya, kami meminta bocah tersebut untuk melakukan pemeriksaan air seni pada laboratorium. Kami memberikan sebuah botol dan kami tanya namanya untuk kami tuliskan pada botol, dia bernama Muhammad.
Kami tulis nama dan kami minta dia supaya memberikan sampel, bocah itu mengambil botol dan setelah beberapa saat bocah itu kembali, tetapi ia kembali dengan botol kosong. Lalu kami ingatkan dia mengenai pentingnya memberikan sampel air seninya dalam botol untuk pemeriksaan, akan tetapi ia dengan sangat keras hati menolak untuk meletakkan sampel dalam botol. Apakah kalian tahu kenapa?
Karena dia melihat pada botol itu tulisan nama Muhammad, maka dia menolak sebagai bentuk pengagungan terhadap nama Nabi Muhammad.
Lalu aku menangis tersedu-sedu dan aku merasa terkesima dengan kekerasan sang bocah hingga batasan ini.
Akupun mendoakan kebaikan baginya, sungguh dia telah mengingatkan aku mengenai sebuah masalah yang aku tidak pernah memperhatikannya selama bertahun-tahun. Ini adalah kedudukan Nabi kita di mata anak-anak kita wahai orang-orang yang kalian tidak mengetahui kedudukan beliau dan kalian berbuat buruk kepadanya!

Sumber : FP @MajalahQiblati
Pin It
13.42 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Sabtu, 05 Juli 2014

Pelitnya, Amit-amit!

Ustadz DR Muhammad Arifin Badri, MA hafidzahullaah.

Saudaraku! Apakah anda rajin membaca Al Qur'an, terutama di bulan suci ini? Atau mungkin juga anda telah rajin menghadiri pengajian, sehingga telah banyak menguasai ilmu agama? 
Mungkin jawaban anda: Wah kurang tahu ya, apakah saya telah tergolong yang banyak membaca Al Qur'an, atau bukan?!. Dan saya juga bingung, apakah saya telah berhasil mendapatkan ilmu agama yang cukup banyak dari pengajian-pengajian yang saya hadiri atau belum?
Anda ingin mengetahui posisi diri anda dalam dua hal tersebut?


Tenang saudaraku tidak usah bingung, tidak sulit kok mengetahui posisi anda. Anda penasaran ingin mengetahuinya? Mudah saudaraku, renungkan hadits berikut dengan baik, niscaya anda dapat mengetahui posisi anda dalam dua hal tersebut di atas.


عَنِ ابْنِ عَبَّاس قَالَ: كَانَ النَّبِىُّ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ - عَلَيْهِ السَّلاَمُ - يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِىُّ الْقُرْآنَ ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ - عَلَيْهِ السَّلاَمُ - كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ. متفق عليه

"Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas , ia mengisahkan: "Dahulu Nabi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah manusia paling dermawan masalah kebaikan (harta benda), dan kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadhan di saat berjumpa dengan Malaikat Jibril. Dan dahulu Malaikat Jibril 'alaihissalam biasanya senantiasa menjumpai Nabi pada setiap malam di bulan Ramadhan hingga akhir bulan. Nabi membaca Al Qur'an di hadapannya. Bila beliau telah berjumpa dengan Malaikat Jibril 'alaihissalam beliau terasa begitu dermawan dalam masalah kebaikan (harta benda) dibanding angin sepoi-sepoi yang berhembus." Muttafaqun 'alaih


Ibnu Hajar Al Asqalaani menjelaskan bahwa kedermawanan dalam syari'at adalah memberi sesuatu yang pantas/layak kepada yang pantas/layak menerimanya. Dengan demikian, kedermawanan lebih luas cakupannya dibanding sedekah. (Fathul Bari 1/31)

Saudaraku! Kedermawanan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di bulan Ramadhan terutama setelah bertadarus Al Qur'an bersama Malaikat Jibril 'alaihissalam mencapai puncaknya. Tahukah anda, apa sebabnya kedermawanan beliau berubah mencapai puncaknya pada bulan Ramadhan?

Bukankah pada bulan ini produktifitas seseorang berkurang, sehingga kemungkinan besar penghasilannyapun berkurang?

Bukankah pada bulan ini kita berpuasa sehingga lapar dan haus, akibatnya kitapun semakin berambisi untuk menguasai dan menikmati seluruh makanan dan minuman yang kita miliki? Coba antum ingat-ingat kembali apa yang anda lakukan ketika persiapan berbuka? Rasanya, seluruh hidangan yang tersedia di meja makan hendak disantap seorang diri. Bukankah demikian?

Para ulama' menjelaskan hikmah perubahan kedermawanan Nabi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada bulan ramadhan, terlebih-lebih seusai bertadarus Al Qur'an bersama malaikat Jibril 'alaihissalam. Dijelaskan bahwa membaca Al Qur'an dan memahami kandungannya mendorong beliau untuk semakin merasa kecukupan, dan terbebas dari sifat tamak. Dan perasaan kecukupan semacam inilah yang mendasari setiap kedermawanan. Ditambah lagi pada bulan Ramadhan karunia Allah kepada umat manusia berlipat ganda, karenanya beliau Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam senang untuk meneladani sunnatullah dengan melipat gandakan kedermawanan beliau.

Dengan bersatunya beberapa hal di atas, keutamaan waktu ditambah perjumpaan dengan Malaikat Jibril bersatu padu dalam diri beliau sehingga kedermawanan beliau berlipat ganda. (Fathul Bari 1/31)
Anda ingin mengetahui sejauh mana kedermawanan beliau? Berikut adalah salah satu contohnya:

عن أنس قال: جَاءَهُ رَجُلٌ فَأَعْطَاهُ غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَرَجَعَ إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ أَسْلِمُوا فَإِنَّ مُحَمَّدًا يُعْطِى عَطَاءً لاَ يَخْشَى الْفَاقَةَ.

"Sahabat Anas mengisahkan: "Pada suatu hari ada seseorang yang datang menemui Rasulullah , lalu beliau memberinya hadiah berupa kambing sebanyak satu lembah. Spontan lelaki itu berlari menemui kaumnya dan berkata kepada mereka: "Wahai kaumku, hendaknya kalian semua segera masuk Islam, karena sesungguhnya Muhammad memberi pemberian yang sangat besar, seakan ia tidak pernah takut kemiskinan." Riwayat Muslim

Saduaraku! Coba saudara kembali membaca hadits di atas.
Pada hadits itu kedermawanan beliau digambarkan lebih baik dibanding angin sepoi-sepoi yang berhembus. Ini adalah pertanda bahwa kedermawanan beliau tidak hanya dirasakan oleh sebagian orang saja, akan tetapi dapat dirasakan oleh seluruh orang, tanpa ada perbedaan, walaupun diantara mereka ada perbedaan martabat, kekerabatan atau lainnya. Sebagaimana ini sebagai isyarat bahwa kedermawanan beliau terus mengalir dan tidak pernah terhenti.

Nah, sekarang anda sudah mengetahui apakah anda telah banyak membaca Al Qur'an dan telah banyak mendapatkan ilmu agama?

Ketahuilah saudaraku! bila bacaan Al Qur'an dan pengajian yang anda hadiri memotivasi anda untuk semakin bersikap dermawan, berarti anda termasuk orang yang benar-benar rajin membaca Al Qur'an dan telah berhasil menguasai ilmu agama . Sebaliknya, bila bacaan Al Qur'an anda dan juga pengajian anda di hadapan para ustad dan juru ceramah tidak menjadikan anda bersikap dermawan, maka bacaan Al Qur'an anda dan pengajian anda perlu dikoreksi ulang.
Al Qur'an dan ilmu agama senantiasa menuntun anda untuk bertambah iman kepada Allah Ta'ala dan janji-janji-Nya kepada orang yang berlaku dermawan. Ilmu anda membimbing anda untuk semakin beriman bahwa setiap uluran tangan anda kepada orang lain pasti mendapatkan gantinya dari Allah.


(مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.)

"Tiada pagi hari, melainkan ada dua malaikat yang turun padanya, kemudian salah satunya berucap (berdoa): Ya Allah, berilah orang yang berinfaq pengganti, sedangkan yang lain berdoa : Ya Allah timpakanlah kepada orang yang kikir (tidak berinfaq) kehancuran."Muttafaqun 'alaih.

Saudaraku! Bagaimanakah dengan diri anda di bulan suci ini, apakah anda semakin bertambah dermawan atau sebaliknya? Hanya anda yang mengetahui jawaban pertanyaan ini, karenanya buktikan pada diri anda bahwa anda pada bulan suci ini juga bertambah dermawan.
Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita pada bulan suci ini termasuk orang-orang terbukti bersifat dermawan. Amiin.
Pin It
23.22 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Rabu, 02 Juli 2014

14 Abad Yang Lalu Dia Pernah Merindukanmu

Ust Aan Chandra Thalib hafidzahullaah.

Tepat sembilan hari menjelang wafatnya Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- turunlah firman Allah yang berbunyi:

(وَاتّقُواْ يَوْماً تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللّهِ ثُمّ تُوَفّىَ كُلّ نَفْسٍ مّا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ)

Artinya:

“ Dan peliharalah diri kalian dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak didzalimi.” (Al Baqarah : 281)

Semenjak itu raut kesedihan mulai tampak pada wajah beliau yang suci. "Aku ingin mengunjungi syuhada Uhud ujar beliau." Beliaupun pergi menuju makam syuhada Uhud, sesampainya disana beliau mendekati makam sahabat-sahabatnya dan berkata, “Assalamu'alaikum wahai syuhada Uhud, kalian adalah orang-orang yang mendahului, kami, insya Allah, akan menyusul kalian dan aku pun insya Allah akan menyusul kalian."

Ditengah perjalanan pulang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menangis. Para sahabat bertanya, "Apa yang membuatmu menangis wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Aku rindu kepada saudara-saudaraku." Mereka berkata, "Bukankah kami adalah saudara-saudaramu ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Bukan, kalian adalah sahabat-sahabatku. Adapun saudara-saudaraku mereka adalah kaum yang datang sesudahku, mereka beriman kepadaku padahal mereka tak pernah melihatku."

(HR. Ahmad)

Dan kini tersisa beragam tanya:

Apakah kita yang dirindukan itu...?
Bila iya, Sudahkah kita merindukannya...?
Sudahkah kita beriman sehingga pantas dirinduinya...?
Sudahkan kita mengamalkan sunnahnya sebagai bukti cinta...?
Pantaskah diri yang lalai ini dirindukan Rasul yang mulia...?
Duhai.. alangkah malangnya bila yang dirindukan itu terusir dari telaga haudhnya.
Alangkah malangnya bila nanti terdengar kata darinya, "menjauhlah dari telagaku..."
Kau tau kenapa...? Karena mereka merubah-rubah Agama yang dibawanya.

Wahai insan yang dirindu.... Ikutilah manhaj hidup insan mulia yang merindumu, jauhi segala bentuk bid'ah dalam beragama, agar cintamu tak bertepuk sebelah tangan. Ingat selalu firman Allah azza wa jalla:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 3:31)

Ingat sobat.... Ditelaga haudh dia menanti kita..

إنِّي فَرَطٌ لَكُمْ وَأَنَا شَهِيدٌ عَلَيْكُمْ، وَإِنِّي وَاللهِ لَأَنْظُرُ إِلَى حَوْضِي الْآنَ

“Aku akan mendahului kalian di telaga. Aku sebagai saksi atas kalian" dan sesungguhnya—demi Allah— saat ini aku sedang memandang telagaku itu ” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Madinah 06-06-1435 H
Dikutip dari Grup WA

Pin It
03.09 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0