KABAR DAKWAH

TEGUH dalam Tujuan dan FLEKSIBEL dalam sarana berdakwah sesuai yang diperbolehkan syari'at

Minggu, 24 Agustus 2014

Haruskah suami dan istri Masing-Masing berqurban 1 Kambing?

Sedikit keanehan yang kami temui pada sebagian orang. Setiap tahun ada yang 
bergiliran qurban, yang pertama untuk bapaknya, tahun berikut untuk ibunya, 
lalu tahun berikut dapat giliran anaknya. Padahal sebenarnya satu qurban 
semisal satu kambing atau 1/7 dari urunan sapi bisa diniatkan untuk satu 
keluarga. Namun kalau mau berqurban lebih karena jumlah anggota keluarga 
banyak, maka itu boleh bahkan lebih afdhol. Simak bahasan berikut.
Dalil yang mendukung pernyataan di atas, dari ‘Atho’ bin Yasar, ia berkata,

سَأَلْتُ أَبَا أَيُّوبَ الأَنْصَارِيَّ كَيْفَ كَانَتْ الضَّحَايَا عَلَى عَهْدِ 
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فَقَالَ : كَانَ الرَّجُلُ 
يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ ، فَيَأْكُلُونَ وَيُطْعِمُونَ

“Aku pernah bertanya pada Ayyub Al Anshori, bagaimana qurban di masa Rasulullah 
shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Beliau menjawab, “Seseorang biasa berqurban 
dengan seekor kambing (diniatkan) untuk dirinya dan satu keluarganya. Lalu 
mereka memakan qurban tersebut dan memberikan makan untuk yang lainnya.” (HR. 
Tirmidzi no. 1505, shahih)

Dalam Tuhfatul Ahwadzi disebutkan, “Hadits ini adalah dalil tegas bahwa satu 
kambing bisa digunakan untuk berqurban satu orang beserta keluarganya, walau 
jumlah anggota keluarga tersebut banyak. Inilah yang benar.”

Al Hafizh Ibnul Qoyyim dalam Zaadul Ma’ad berkata, “Di antara petunjuk Nabi 
shallallahu ‘alaihi wa sallam, satu kambing sah untuk qurban satu orang beserta 
keluarganya walau jumlah mereka banyak.”

Asy Syaukani mengatakan, “Yang benar, qurban kambing boleh diniatkan untuk satu 
keluarga walaupun dalam keluarga tersebut ada 100 jiwa atau lebih.” Beliau 
sebutkan hal ini dalam Nailul Author.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin dalam Syarhul Mumthi’ berkata, 
“Kolektif dalam pahala qurban tidaklah terbatas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa 
sallam pernah berqurban untuk seluruh umatnya. Ada juga seseorang (di masa Nabi 
shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang berqurban dengan satu kambing untuk dirinya 
beserta keluarganya walau jumlahnya 100.”

Al Lajnah Ad Daimah ditanya, “Ada keluarga terdiri dari 22 anggota. Mereka 
tinggal di satu rumah dan yang beri nafkah pun satu orang. Di hari Idul Adha 
yang penuh berkah, mereka berencana berqurban dengan satu qurban. Apakah 
seperti ini sah atau mesti dengan dua qurban?”

Jawaban para ulama yang duduk di Lajnah, “Jika anggota keluarga banyak dan 
berada dalam satu rumah, maka boleh saja berqurban dengan satu qurban. Akan 
tetapi jika bisa berqurban lebih dari satu, itu lebih afdhol.” (Fatawa Al 
Lajnah Ad Daimah, 11: 408).

Wallahu waliyyut taufiq.


Referensi: Fatawa Al Islam Sual wal Jawab no. 45916

Artikel www.rumaysho.com
Pin It
02.47 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Sabtu, 23 Agustus 2014

HUKUM MEMAKAI CINCIN

(Larangan bagi lelaki untuk memakai cincin di jari tengah dan telunjuk, cincin/jam tangan dari polesan emas, dan cincin dari besi)

Berikut ini beberapa permasalahan seputar hukum memakai cincin :

PERTAMA : Hukum memakai cincin.

Ibnu Umar radhiallahu 'anhu berkata :

اتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ وَجَعَلَ فُصَّهُ مِمَّا يَلِي كَفَّهُ فَاتَّخَذَهُ النَّاسُ فَرَمَى بِهِ وَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ وَرِقٍ أَوْ فِضَّةٍ

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memakai cincin dari emas, beliau menjadikan mata cincinnya bagian dalam ke arah telapak tangan, maka orang-orangpun memakai cincin. Lalu Nabi membuang cincin tersebut dan memakai cincin dari perak" (HR Al-Bukhari no 5865)
Ibnu Umar juga berkata :
اتخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم خاتما من ورق وكان في يده ثم كان بعد في يد أبي بكر ثم كان بعد في يد عمر ثم كان بعد في يد عثمان حتى وقع بعد في بئر أريس نقشه محمد رسول الله

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memakai cincin dari perak, cincin tersebut berada di tangan Nabi, lalu setelah itu berpindah ke tangan Abu Bakar, setelah itu berpindah ke tangan Umar, setelah itu berpindah ke tangan Utsman, hingga akhirnya cincin tersebut jatuh di sumur Ariis. Cincin tersebut terpahatkan Muhammad Rasulullah" (HR Al-Bukhari no 5873)

Anas bin Maalik radhiallahu 'anhu berkata :
لما أراد النبي صلى الله عليه وسلم أن يكتب إلى الروم قيل له إنهم لن يقرءوا كتابك إذا لم يكن مختوما فاتخذ خاتما من فضة ونقشه محمد رسول الله

"Tatkala Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hendak menulis surat kepada Romawi, maka dikatakan kepada beliau : "Sesungguhnya mereka (kaum Romawi) tidak akan membaca tulisanmu jika tidak distempel". Maka Nabipun memakai cincin dari perak yang terpahat "Muhammad Rasulullah" (HR Al-Bukhari no 5875)

Para ulama telah berselisih pendapat, apakah memakai cincin hukumnya sunnah ataukah hanya sekedar mubah (diperbolehkan)?. Sebagian ulama berpendapat bahwa memakai cincin hukumnya sunnah secara mutlak. Sebagian lagi berpendapat hukumnya sunnah bagi para raja dan sultan yang membutuhkan stempel cincin sebagaimana kondisi Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, adapun selain para raja dan sultan maka hukumnya hanyalah mubah, karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah menggunakan cincin tersebut untuk berhias, akan tetapi karena ada keperluan. Dan sebagian ulama lagi memandang hukumnya makruh bagi selain raja dan sulton, terlebih lagi jika diniatkan untuk berhias.

Ibnu Abdil Barr (wafat 463 H) berkata :

"Yang merupakan pendapat mayoritas ulama dari kalangan ulama terdahulu dan yang sekarang yaitu bolehnya memakai cincin perak bagi sultan dan juga yang selainnya. Dan tatkala Imam Malik mengetahui sebagian orang memandang makruh hal ini maka beliaupun menyebutkan dalam kitab Muwattho' beliau…dari Sodaqoh bin Yasaar ia berkata, "Aku bertanya kepada Sa'id ibn Al-Musayyib tentang memakai cincin, maka beliau berkata : Pakailah dan kabarkan kepada orang-orang bahwasanya aku telah berfatwa kepadamu akan hal ini"…

Tatkala sampai kepada Imam Ahmad tentang hal ini (yaitu bahwasanya memakai cincin bagi selain sultan hukumnya makruh, maka Imam Ahmad pun terheran" (At-Tamhiid 17/101)

Pendapat yang hati lebih condong kepadanya adalah sunnahnya memakai cincin secara mutlak. Dalilnya adalah meskipun sebab Nabi memakai cincin adalah karena untuk menstempeli surat-surat yang akan beliau kirim kepada para pemimpin Romawi, Persia, dan lain-lain, akan tetapi dzohir dari hadits Ibnu Umar di atas bahwasanya para sahabat juga ikut memakai cincin karena mengikuti Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Padahal para sahabat bukanlah para sulton, dan mereka tidak membutuhkan cincin untuk stempel. Wallahu a'lam bis showab.

KEDUA : Ditangan yang mana dan jari yang mana memakai cincin?

Sebagian ulama berpendapat akan disunnahkan memakai cincin di tangan kiri, dan sebagian yang lain berpendapat di tangan kanan. Dan pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang menyatakan dibolehkan di kanan atau di kiri.

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, "Semua hadits-hadits tersebut  (yang menyebutkan Nabi menggunakan cincin di tangan kiri dan juga hadits-hadits yang menyebutkan Nabi menggunakan cincin di tangan kanan-pen) sanadnya shahih" (Zaadul Ma'aad 1/139).

Syaikh Al-'Utsaimin berkata, "Yang benar adalah sunnah menggunakan cincin di tangan kanan dan juga di tangan kiri" (Asy-Syarh Al-Mumti' 6/110).

Diantara hadits-hadits tersebut adalah :

Anas bin Malik berkata :

كَانَ خَاتَمُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي هَذِهِ وَأَشَارَ إِلىَ الْخِنْصِرِ مِنْ يَدِهِ الْيُسْرَى

"Cincin Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di sini –Anas mengisyaratkan ke jari kelingking dari tangan kirinya" (HR Muslim no 2095)

Anas juga berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِسَ خَاتَمَ فِضَّةٍ فِي يَمِينِهِ فِيهِ فَصٌّ حَبَشِيٌّ كَانَ يَجْعَلُ فَصَّهُ مِمَّا يَلِي كَفَّهُ

"Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memakai cincin perak di tangan kanan beliau, ada mata cincinnya terbuat dari batu habasyah (Etiopia), beliau menjadikan mata cincinnya di bagian telapak tangannya" (HR Muslim no 2094)

(lihat pembahasan tentang permasalahan ini di http://islamqa.info/ar/ref/139540)

Hadits Anas di atas juga menunjukkan bahwa disunnahkan untuk memakai cincin pada jari kelingking.

KETIGA : Bolehkah memakai cincin di jari tengah dan telunjuk?

Telah lalu bahwasanya sunnah bagi lelaki untuk memakai cincin pada jari kelingking, demikian pula ia dibolehkan memakai cincin pada jari manis, karena tidak ada dalil yang melarangnya. Adapun memakai cincin pada jari telunjuk dan jari tengah maka ada larangan yang datang. Ali bin Abi Tholib radiallahu 'anhu berkata :

نَهَانِي رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ أَتَخَتَّمَ فِي أُصْبُعَيَّ هَذِهِ أَوْ هَذِهِ قَال : فأومأ إلى الوسطى والتي تليها

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarangku untuk memakai cincin di kedua jariku ini atau ini". Ali mengisyaratkan kepada jari tengah dan yang selanjutnya (yaitu jari telunjuk)." (HR Muslim no 2078)

Para ulama berselisih pendapat tentang larangan pada hadits ini apakah larangan tahrim (haram) ataukah hanyalah larangan makruh??. Para ulama juga sepakat bahwa larangan ini hanya berlaku bagi kaum lelaki, adapun para wanita bebas untuk memakai cincin di jari mana saja, karena para wanita dibolehkan untuk berhias.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

وأجمع المسلمون على أن السنة جعل خاتم الرجل فى الخنصر وأما المرأة فانها تتخذ خواتيم فى أصابع قالوا والحكمة فى كونه فى الخنصر أنه أبعد من الامتهان فيما يتعاطى باليد لكونه طرفا ولأنه لايشغل اليد عما تتناوله من أشغالها بخلاف غير الخنصر ويكره للرجل جعله فى الوسطى والتى تليها لهذا الحديث وهى كراهة تنزيه وأما التختم فى اليد اليمنى أو اليسرى فقد جاء فيه هذان الحديثان وهما صحيحان

"Kaum muslimin telah berijmak akan sunnahnya lelaki memakai cincin di jari kelingking, adapun wanita maka boleh memakai cincin-cincin di jari-jari mereka. Mereka berkata hikmahnya memakai cincin di jari kelingking karena lebih jauh dari pengotoran cincin karena penggunaan tangan, karena jari kelingking letaknya di ujung, dan juga jari kelingking tidak mengganggu aktivitas tangan. Hal ini berbeda dengan jari-jari yang lainnya.

Dan dimakruhkan bagi seorang lelaki untuk memakai cincin di jari tengah dan juga jari yang setelahnya (jari telunjuk), dan hukumnya adalah makruh tanzih. Adapun memakai cincin di tangan kanan atau tangan kiri maka telah datang dua hadits ini, dan keduanya shahih" (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 14/71)

KEEMPAT : Diharamkan bagi lelaki memakai segala bentuk perhiasan yang terbuat dari emas

Telah jelas dalam hadist Ibnu Umar di atas bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membuang cincin emasnya, karena cincin emas haram dipakai oleh lelaki. Bahkan bukan hanya cincin, segala perhiasan yang terbuat dari emas dilarang dipakai oleh lelaki.

عن عَلِي بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أنَّ النَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ حَرِيرًا فَجَعَلَهُ فِي يَمِينِهِ ، وَأَخَذَ ذَهَبًا فَجَعَلَهُ فِي شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ : ( إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي)

"Dari Ali bin Abi Tholib radhiallahu 'anhu, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengambil kain sutra lalu meletakkannya di tangan kanan beliau, dan mengambil emas lalu beliau letakan di tangan kiri beliau, lalu beliau berkata : "Kedua perkara ini haram bagi kaum lelaki dari umatku" (HR Abu Dawud no 4057, An-Nasaai no 5144, dan Ibnu Maajah no 3595, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Bahkan para ulama menyebutkan bahwa cincin yang ada polesan emasnya pun tidak boleh digunakan oleh lelaki.

An-Nawawi rahimahullah berkata :

وأما خاتم الذهب فهو حرام على الرجل بالاجماع وكذا لو كان بعضه ذهبا وبعضه فضة حتى قال أصحابنا لو كانت سن الخاتم ذهبا أو كان مموها بذهب يسير فهو حرام لعموم الحديث ... ان هذين حرام على ذكور أمتى حل لإناثها

"Adapun cincin emas maka hukumnya haram bagi lelaki menurut kesepakatan (ijmak para ulama), demikian pula jika sebagian cincin tersebut emas dan sebagiannya perak. Bahkan para ashaab (para ulama syafi'iyah) berkata jika seandainya mata cincinnya terbuat dari emas atau dipoles dengan sedikit emas maka hukumnya juga haram, berdasarkan keumuman hadits…."Sesungguhnya kedua perkara ini (kain sutra dan emas) haram bagi kaum lelaki dari umatku dan halal bagi kaum wanitanya" (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 14/32)

Karenanya para ulama memfatwakan bahwa jam tangan yang terdapat padanya  emas maka tidak boleh digunakan oleh lelaki.

Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah berkata :

الساعة المطلية بالذهب للنساء لا بأس بها، وأما للرجال فحرام

"Jam yang dipoles dengan emas boleh bagi wanita, adapun bagi para lelaki maka haram" (Majmuu' Al-Fataawa Syaikh Utsaimin 11/62)

(Lihat juga Fatwa Al-Lajnah Ad-Daaimah di http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&BookID=3&PageID=9372&back=true)

KELIMA : Bolehkah memakai cincin dari besi dan tembaga?

Dalam hadits Abdullah bin 'Amr bin al-'Aash bahwasanya

رَأَى عَلَى بَعْضِ أَصْحَابِهِ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ فَأَعْرَضَ عَنْهُ فَأَلْقَاهُ وَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ فَقَالَ هَذَا شَرٌّ هَذَا حِلْيَةُ أَهْلِ النَّارِ فَأَلْقَاهُ فَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ وَرِقٍ فَسَكَتَ عَنْهُ

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melihat salah seorang sahabat memakai cincin dari emas, maka Nabipun berpaling darinya, lalu sahabat tersebut pun membuang cincin tersebut, lalu memakai cincin dari besi. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Ini lebih buruk, ini adalah perhiasan penduduk neraka". Maka sahabat tersebut pun membuang cincin besi dan memakai cincin perak. Dan Nabi mendiamkannya" (HR Ahmad 6518, Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrod no 1021,  dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dan para pentahqiq Musnad Ahmad)

Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa cincin besi merupakan perhiasan penduduk neraka, ini merupakan 'illah (sebab) pengharaman penggunaan cincin besi. Dan kita ketahui bahwasanya para penghuni neraka diikat dengan rantai dan belenggu, dan yang kita ketahui biasanya rantai dan belenggu terbuat dari besi (lihat 'Aunul Ma'buud 11/190). Allah juga berfirman :

وَلَهُمْ مَقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍ

"Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi" (QS Al-Haaj : 21)

Dan dari sini juga bisa kita pahami bahwasanya larangan memakai cincin besi mencakup laki-laki dan perempuan, karena keduanya dituntut untuk tidak menyerupai penduduk neraka.

Dari sini juga kita pahami bahwasanya jika cincin tersebut tidak terbuat dari besi murni maka tidaklah mengapa (lihat Fathul Baari 10/323).

Sebagian ulama juga mengharamkan cincin yang terbuat dari tembaga karena tembaga juga merupakan perhiasan penduduk neraka. Allah berfirman :

فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ

"Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka" (QS Al-Haaj : 19)

Sa'id bin Jubair menafsirkan pakaian dari api tersebut dengan نُحَاس"tembaga yang dipanaskan" (Lihat Tafsir At-Thobari 18/591 dan Tafsir Ibnu Katsir 5/406)

Demikian juga firman Allah

سَرَابِيلُهُمْ مِنْ قَطِرَانٍ وَتَغْشَى

"Pakaian mereka adalah dari qothiroon" (QS Ibrahim : 50)

Ibnu Abbas radhiallahu 'anhumaa menafsirkan qothiroon dengan nuhaas "tembaga yang panas" (lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/522 dan Ad-Dur Al-Mantsuur 8/581)

Catatan : Adapun kisah seorang sahabat yang hendak menikahi seorang wanita lantas ia tidak memiliki harta yang bisa dijadikan mahar, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadanya : اِلْتَمِسْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيْدٍ "Carilah (untuk bayar mahar-pen) meskipun sebuah cincin dari besi" (HR Al-Bukhari no 5135), maka kisah ini tidak bisa ditentangkan dengan hadits di atas, karena beberapa sisi :

- Hadits tentang mahar ini bukanlah nash yang tegas akan bolehnya memakai cincin besi, karena bisa jadi yang dimaksud oleh Nabi adalah agar sang wanita memanfaatkan harga cincin besi tersebut (lihat Fathul Baari 10/323)

- Dan jika kita menempuh metode tarjiih maka kita mendahulukan hadits larangan memakai cincin besi karena adanya kaidah bahwa "Larangan didahulukan dari pada pembolehan", karena hukum bolehnya memakai cincin besi bersandar kepada hukum asal yaitu bolehnya. Dan hukum haramnya pengharaman cincin besi adalah hukumnya yang menunjukkan adanya perubahan, maka dalam tarjiih, perubahan hukum didahulukan daripada hukum asal.

KESIMPULAN :

 Memakai cincin hukumnya sunnah (minimal hukumnya mubah dan tidak makruh)

☞ Para lelaki tidak boleh menggunakan cincin dari emas atau yang ada campuran emasnya atau polesan emas, dan boleh menggunakan cincin dari perak dan juga batu-batu mulia dan permata. (Lihat fatwa Al-Lajnah Ad-Daaimah dihttp://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&BookID=3&PageID=9376)

 Bagi wanita boleh memakai cincin dari emas dan perak di jari mana saja, karena para wanita dituntut untuk berhias

☞ Tidak boleh menggunakan cincin dari besi baik lelaki maupun wanita, karena itu merupakan perhiasan penduduk neraka.

 Disunnahkan bagi lelaki memakai cincin di jari kelingking baik di tangan kanan atau di tangan kiri.

☞ Dibolehkan juga bagi lelaki untuk memakai cincin di jari manis, karena tidak ada dalil yang melarangnya. Hanya diharamkan (atau dimakruhkan menurut sebagian ulama) jika menggunakan cincin di jari telunjuk dan jari tengah

Masih banyak hukum-hukum dan perkara-perkara yang berkaitan dengan cincin, silahkan baca di (http://www.saaid.net/Doat/yahia/59.htm)

Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 17-04-1434 H / 27 Februari 2013 M
Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja, MA hafidzahullaah.
>> http://www.firanda.com/index.php/artikel/fiqh/393-seputar-hukum-memakai-cincin
Pin It
14.44 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Kamis, 07 Agustus 2014

Tak Hanya Merokok, Cinta pun Bisa Membunuhmu

Tiada aku meninggalkan suatu fitnah sesudahku lebih berbahaya terhadap kaum pria daripada godaan wanita." (HR. Bukhari dan Muslim)
Cinta. Tak ada akhir untuk membahas masalah satu ini. Kata penyair cinta adalah satu kata berjuta makna. Tapi kali ini penulis ingin membahas cinta yang cacat yaitu cinta buta. Begitu bahayanya cinta buta ini sehingga sebelum wafat Rasulullah ﷺ telah berwasiat bahwa kaum muslimin wajib berhati-hati terhadap godaan setan terutama kecintaan terhadap wanita. Setan mempunyai banyak perangkap untuk membinasakan manusia diantara adalah harta, jabatan ,wanita, anak dsb. Semua itu akan melalaikan manusia dari akhirat jika manusia mencintai mereka melebihi cintanya kepada Allah dan Rasulnya, sehingga manusia akan dibudak oleh syahwatnya untuk memperturutkan hawa nafsunya sehingga lalai akan kematian. Oleh karena itu pantaslah penyakit “cinta buta” itu adalah penyakit yang berbahaya dan sebagian daripada syirik tersembunyi, jika didhohirkan maka pelakunya akan menemui kebinasaan, naudzubillah.
Diantara fitnah-fitnah dan perangkap setan laknat yang paling besar untuk menyesatkan manusia kata nabi ﷺ adalah fitnah wanita. Memang benar apa yang disampaikan nabi Muhammad ﷺ. Banyak kisah-kisah terdahulu yang dapat dijadikan pelajaran bagi kita semua yaitu banyaknya kisah-kisah tentang kecintaan manusia terhadap kecantikan semu wanita mengalahkan cintanya kepada ALLAH sehingga dia lalai akan agamanya padahal dia adalah seorang ahli ibadah yang khusyuk akan tetapi kelemahannya dia tidak dapat menahan godaan dunia berupa wanita sehingga dia menyia-nyiakan akhirat yang kekal , Naudzubillah. Berikut salah satu kisahnya yang dinukil dari kitab ulama terdahulu ;
Kisah pertama ;
Dikisahkan bahwa di Mesir ada seorang lelaki yang senantiasa selalu ke masjid untuk mengumandangkan adzan dan shalat di dalamnya, terlihat pancaran ketaatan dan cahaya ibadah dari wajahnya, suatu hari seperti kebiasaannya dia naik ke atas menara untuk mengumandangkan adzan, di bawah menara ada sebuah ruman milik seorang yang beragama Nashrani, dia melirik ke dalam rumah tersebut ternyata dia mendapati anak perempuan sang pemilik rumah yang beragama Nashrani tadi, akhirnya dia terpedaya dengan wanita tersebut, dia tinggalkan adzan dan turun menemuinya, ia masuk ke dalam rumahnya. Wanita ini bertanya: “Apa denganmu?, apa yang kamu inginkan?”, lelaki ini menjawab: “Saya menginginkanmu”, wanita ini bertanya: “Kenapa?”, lelaki ini menjawab: “Karena kamu ssudah mencuri jiwaku dan mengambil seluruh hatiku”, wanita berkata: “Aku tidak akan menurutimu kepada sebuah keraguan selamanya”, lelaki ini berkata: “Aku akan menikahimu”, wanita berkata: “Kamu seorang muslim, saya seorang wanita yang beragama Nashrani, bapak saya tidak akan menikahkanku kepadamu”, lelaki ini menjawab: “Saya akan masuk ke dalam agama Nashrani”, wanita ini menjawab: “Jika kamu mengerjakannya maka aku akan mengerjakannya (yaitu menuruti permintaanmu)”, maka akhirnya lelaki ini masuk ke dalam agama Nashrani untuk menikahi wanita tersebuit, dan dia tinggal bersama mereka di dalam rumah tersebut. Dan ketika pada hari itu dia naik ke atas loteng yang ada di atas rumah, lalu dia jatuh darinya, maka akhirnya dia tidak mendapatkan wanita tersebut dan telah kehilangan agamanya.
[Lihat kitab Al Jawab Al Kafy, karya Ibnul Qayyim rahimahullah]
Saudaraku, beginilah bahayanya memandang wanita yang bukan mahram apalagi dia perempuan kafir dia sampai hati meninggalkan imannya malah akibatnya dia terkena azab Allah langsung (mati dalam keadaan kafir) akhirnya tidak mendapatkan keduanya (memiliki wanita itu dan kebahagiaan kekal diakhirat), yah, memang meskipun wanita itu  cantik tapi hanyalah kecantikan semu yang merupakan perangkap iblis laknat untuk menyesatkan manusia dari jalan yang lurus. Ingatlah saudaraku, maka dari itu Allah telah mengharamkan pandangan liar. Karena pandangan mata adalah anak panah beracun dari pada iblis untuk melumpuhkan hati manusia, bila manusia dapat menahan pandangan maka dia telah urung dari sasaran iblis.
Kisah kedua :
“Pada tahun (278H), telah wafat Abdah bin Abdurrahim –semoga Allah memburukkannya-, telah disebutkan oleh Ibnul Jauzy bahwa orang malang ini dulunya termasuk dari seorang lelaki yang sering berjihad di negeri Romawi, ketika dalam beberapa peperangan dan pada waktu itu kaum muslim mengepung sebuah daerah dari kekuasan Romawi, lelaki sang mujahid yang terkena godaan ini memandang kepada seorang wanita dari bangsa Romawi di benteng tersebut, maka akhirnya lelaki ini menginginkan wanita tersebut, lalu ia menyurati wanita tersebut; “Bagaimana agar aku bisa sampai kepadamu?”, wanita ini menjawab: “Kamu masuk ke dalam agama Nashrani lalu kamu naik menemuiku”, lalu lelaki ini menerima ajakan tersebut”, maka ketika kaum muslim mengepung malah dia berada bersama wanita tersebut, kejadian itu sangat menyakitkan dan memberatkan kaum muslim, setelah beberapa waktu berlalu, kaum muslim melewati benteng tersebut dan si lelaki ini sedang bersama wanita tersebut di benteng itu, mereka (kaum muslim) bertanya kepada lelaki tersebut: “Wahai Fulan, Apa yang telah Al Quranmu terhadapmu?, apa yang telah dikerjakan oleh ilmumu terhadapmu? Apa yang telah dikerjakan puasamu terhadapmu? Apa yang telah dikerjakan oleh jihadmu terhadapmu? Apa yang telah diperbuat shalatmu terhadapmu?”, lelaki ini menjawab: “Ketahuilah kalian semuanya, sesungguhnya aku telah lupa Al Quran kecuali Firman-Nya:

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ (2) ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (3) [الحجر: 2، 3] 
 
Artinya: “Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)”. QS. Al Hijr: 2-3.
[Lihat kitab Al Bidayah wa An Nihayah, karya Ibnu Katsir rahimahullah]
Lihatlah dan renungkan saudaraku, dari cerita diatas dapat kita ambil pelajaran yang amat berharga yaitu bahayanya memandang wanita yang bukan mahram apalagi dia kafir, kisah ini dapat kita ambil pelajaran bahwa dulu ada seorang lelaki yang tidak bisa menahan syahwatnya dari kecantikan semu (kecantikan sementara nanti kalau ssudah tua paling jadi peyot) wanita sehingga dia sampai hati menghianati kawan-kawannya dalam peperangan bahkan dia telah murtad tidaklah beguna semua amal dan ibadahnya selama ini kelak dia akan menemui siksa neraka yang kekal karena telah berani meninggalkan agamanya , Naudzubillah min dzalik.
Lalu teman-temannya menanyakan tentang membaca Qur’an, ilmunya, puasanya, jihadnya, shalatnya yang selama ini dia kerjakan apakah tidak membekas sama sekali di hatinya sehingga dia rela mengorbankan agamanya demi kesenangan yang semu dan pasti segera binasa. Lalu jawab lelaki dia tidak ingat lagi semua itu, Naudzubillah malah yang diingat hanyan al-Qur’an surat al-Hijr ayat 2-3 yang isinya justru menyindir lelaki itu yaitu berupa peringatan bahwa nanti diakhirat orang kafir hanya bisa berangan-angan dulunya didunia sekiranya menjadi muslim. Hal ini adalah azab dari Allah, orang ini mati dalam keadaan munafiq, Naudzubillah.
Begitulah saudaraku, begitu dahsyatnya fitnah wanita itu sampai-sampai bisa membuat seorang lelaki yang tadinya rajin beribadah menjadi hilang ingatan karena ketidak mampuannya menahan syahwatnya kepada “topeng” perempuan. Padahal kecantikan wanita sebenarnya itu adalah hatinya tepatnya pada kebaikan agama dan akhlaqnya seperti yang disarankan rasulullah yaitu wanita dinikahi karena kacantikan, harta, nasab dan agamanya maka yang ingin bahagia jangan lihat dulu kecantikannya, kekayaannya , atau kemuliaan nasabnya tapi kita disuruh melihat kebaikan agamanya jika kita ingi bahagia dunia akhirat.
Dewasa ini jarang kita menemukan orang memilih wanita daripada agamanya orang banyak tertipu oleh topeng kecantikan wanita (wajah) atau kekayaannya padahal hal itu bukanlah tolok ukur kebahagian tapi justru merupakan jebakan yang berbahaya bagi kelangsungan hidup berumah tangga. Maka dari itulah jika kita semua ingin bahagia pastilah seorang muslim tahu memilih mana perangkap setan dan mana jalan yang benar.
BAHAYA CINTA BUTA
Cinta buta adalah cinta yang tak mengikuti aturan Islam dan merupakan cinta yang dikendalikan hawa nafsu. Ia bebas berbuat apa saja. Termasuk saat orang yang model begitu tuh jatuh cinta, maka ia akan buta dan gelap mata. Berbuat sesukanya dan mencampakkan norma agama misalnya berbuat pacaran sampai akhirnya terjerumus zina dan yang lebih parah mencintai wanita cantik tapi non muslim sehingga agamanya dibuang, Naudzubillah min dzalik.

Ibnul Qayyim mengatakan, “Cinta buta pada ilusi adalah cobaan hati yang kosong dari kecintaan terhadap Alloh. Ada beberapa kerusakan akibat cinta buta ini. Kami menukil dari kitab ulama berbagai keburukan cinta buta :

Pertama, lupa mengingat Allah. Lebih sibuk mengingat makhlukNya, yakni orang yang dicintainya, misalnya. Jika dia lebih kuat mengingat Allah, insya Allah mengingat makhlukNya jadi terkendali. Tapi jika lebih kuat mengingat makhlukNya, maka mengingat Allah akan dikalahkan. Akibatnya Allah tidak mau mengingatnya juga sehingga orang macam ini akan mengalami kesempitan hidup, Naudzubillah

Kedua, menyiksa hati. Cinta buta, meski adakalanya dinikmati oleh pelakunya, namun sebenarnya ia merasakan ketersiksaan hati yang paling berat. Seakan akan dunia ini sempit sekali karena dia terkena ilusi cinta buta sehingga seolah-olah yang ada dalam pikirannya hanyalah wanita yang dicintainya.

Ketiga, hatinya tertawan dan terhina.  Yang pasti hatinya telah ditawan oleh setan dan hawa nafsunya. Yaitu, hatinya akan tertawan dengan orang yang dicintainya. Namun, karena ia mabuk cinta, maka ia tidak merasakan musibah yang menimpaJadi kita memang patut berhati-hati dengan cinta model begini. Kepada Allah-lah kita berlindung dan memohon pertolongan.

Keempat, melupakan agama. Tak ada orang yang paling menyia-nyiakan agama dan dunia melebihi orang yang sedang dirundung cinta buta. Ia menyia-nyiakan maslahat agamanya karena hatinya lalai untuk beribadah kepada Allah. Kalau ada orang ketika jatuh cinta tuh sampai tidak sholat, tidak sekolah, dan tidak belajar, karena hanya mikirin sesuatu yang dicintainya, maka itu sudah dibilang cinta buta. Jadi, kita harus ingatkan dia supaya jangan keterusan begitu. Ingatkan dia tentang kehidupan sesudah mati agar dia sadar terhadap apa yang dia lakukan.

Kelima, mengundang bahaya zina. Bahaya-bahaya dunia dan akhirat lebih cepat menimpa kepada orang yang dirundung cinta buta melebihi kecepatan api membakar kayu kering. Ketika hati berdekatan dengan orang yang dicintainya secara buta itu, ia akan menjauh dari Allah. Jika hati jauh dari Allah, semua jenis marabahaya akan mengancamnya dari segala sisi karena setan menguasainya. Jika setan telah menguasainya, maka mana ada musuh yang senang lawannya senang? Semua musuh ingin musuhnya dalam bahaya. Kita berlindung kepada Allah dari hal ini. Karena cinta buta merupakan awal dari mendekati kepada zina. Cukup fakta-fakta soal meraja lela perzinahan dan penularan penyakit seksual itu menjadi perhatian bagi kita untuk tidak melakukan hal yang sama.

Keenam, setan akan menguasai. Jika kekuatan setan menguasai seseorang, ia akan merusak akalnya dan memberikan rasa waswas. Bahkan, mungkin tak ada bedanya dengan orgil alias orang gila. Mereka tidak menggunakan akalnya secara layak. Padahal yang paling berharga bagi manusia adalah akalnya yang membedakan ia dengan binatang. Tidak heran bila banyak yang kejerumus berbuat maksiat karena pemikiranya instan sekali. Hanya kepikiran enak saja menurut hawa nafsunya. Tidak mikir jauh ke depan: soal dosa dan akibat dosa tersebut. Jika kita melihat orang gila dijalan-jalan maka telusurilah sebagian kisah hidupnya pasti sebagian kisahnya mengalami cinta buta lalu patah hati ahirnya gila karena cinta buta sudah menguasai hatinya. Dan lebih parah fenomena bunuh diri terjadi karena cinta buta yang menggila ini. Dia telah lupa bahwa hal itu tidak menyelesaikan masalah tapi justru diakhirat dia mendapatkan masalah yang amat besar. Naudzubillah min dzalik

Ketujuh, mengurangi kepekaan. Cinta buta akan merusak indera atau mengurangi kepekaannya, baik indera suriya (konkret) maupun indera maknawi (abstrak). Kerusakan indera maknawi mengikuti rusaknya hati, sebab jika hati telah rusak, maka organ pengindera lain, seperti mata, lisan, telinga, juga turut rusak. Artinya, ia akan melihat yang buruk pada diri orang yang dicintainya secara buta itu sebagai sebuah kebaikan dan juga sebaliknya. 
Disebutkan oleh Imam Ahmad, “Cintamu kepada sesuatu membutakanmu dan membuatmu tuli.” Ibnu Abbas pernah mendengar berita ada seorang laki-laki yang sangat kurus sehingga yang tersisa hanya kulit dan tulang. Ibnu Abbas berkata, “Kenapa ia?” “Ia terkena jatuh cinta, isyq(cinta buta)”, jawab seseorang. Kemudian Ibnu Abbas berdoa dan berlindung kepada Allah sepanjang hari dari penyakit isyq.

Kedelapan, Cinta buta adalah perbuatan Syirik. Fenomena syirik dalam cinta telah dijelaskan Allah Ta’ala dalam al-Qur’an:


“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya, sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat kuat cintanya kepada Allah.” (lihat Al-Baqarah: 165)
Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Cinta kepada Allah Ta’ala ada empat tingkatan:
Pertama: Seorang mencintai Allah melebihi selain-Nya. Inilah tauhid
Kedua: Seorang mencintai Allah seperti mencintai selain-Nya. Ini adalah syirik
Ketiga: Seorang mencintai selain Allah melebihi cintanya kepada Allah. Ini lebih besar dosa kesyirikannya dari yang sebelumnya
Keempat: Seorang mencintai selain Allah Ta’ala dan tidak ada sedikit pun kecintaan kepada Allah dalam hatinya. Ini lebih besar lagi dosa kesyirikannya dan lebih jelek lagi.” (Al-Qaulul Mufid, 1/200-201)
Oleh karena itu beginilah bahaya cinta buta sehingga jika orang yang mengalami hal ini tidak segera bertobat maka sungguh bila ajal menjemputnya dia mati su’ul khotimah seperti kisah-kisah diatas, Naudzubillah. Ya Allah kami berlindung dari cinta yang demikian dan gantilah dengan cinta yang murni yaitu cinta sejati kepada Engkau.
SOLUSI MENGHINDARI PERANGKAP CINTA BUTA
Cinta buta adalah cinta yang dikendalikan hawa nafsu. Namanya saja “buta” pastilah cinta semacam ini tidak tentu arah dan sembarangan mencintai sesuatu tanpa memperhitungkan akibatnya. Cinta buta adalah perasaan liar yang menyukai hal-hal yang dhohir saja yang belum tentu membuat bahagia, cinta yang tidak memandang etika dan peraturan agama. Berbeda dengan cinta sejati, cinta sejati adalah cinta yang didasari kemampuan akal berfikir jernih sehingga apa yang Allah dan Rasulnya cintai dia mencintainya pula.
Diantara cara kita menghindari cinta buta adalah sebagai berikut ;
Pertama, Berdoa: Merendahkan diri di hadapan Alloh, tulus dan ikhlas dalam kembali kepada-Nya.  Alloh akan menyembuhkannya dari penyakit ini. Misalnya dengan membaca do’a “Allahumma inni a'udzubika min fitnatinnisa, wa min fitnatin dunia, wa min adzabil qobri, wa min adzabin nar
(artinya : Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah wanita, dan fitnah dunia, dan dari azab kubur serta azab api neraka).

Kedua,  Menjauhi yang dicintainya ( dirindukannya ): Hendaknya menjauhi yang dicintainya, tidak mendengar ucapannya dan tidak melihat apa-apa yang dapat mengigatkan kepadanya.
Menikah: Walaupun dengan orang yang bukan dicintainya. Karena didalam pernikahan terkandung kecukupan, berkah dan kesenangan.

Ketiga, Menjaga amal-amal shalih dan banyak berdzikir. Alloh SAW berfirman:
"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munjkar.” (al-ankabut: 45).

Keempat, Berpikir dan selalu ingat kematian dan kedahsyatannya, mengingat alam kubur dan kegelapannya, serta senantiasa menghadapkan diri kepada Alloh SAW. Dengan begitu kita akan takut terkena akibat dari cinta buta ini dan Insya Allah kita bisa meninggalkan.

Kelima, Menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat: misalnya dengan menyikbukkan diri dengan kegiatan masjid atau sosial. karena di antara penyebab cinta buta itu adalah kekosongan. Cinta buta adalah kesibukan orang yang kosong (menganggur) khususnya khosong dari mengingat Allah. Bila ia disibukkan dengan seuatu yang menyibukkan hati selain  tentang yang dirindukannya, maka ia telah mengendalikan cinta dan bisa melupakannya. Wallahu ‘Alam

Semoga bermanfaat,
Wallaahul Muwaffiq

http://dulrohman.blogspot.com/2012/02/bahaya-cinta-buta-i-love-you-full.html



Pin It
15.26 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Kamis, 31 Juli 2014

Mbah Sarlan Dalam Kenangan

Kisah dan hikmah

Masjid Sabilun Najah

Masjid itu bukanlah masjid besar di kota kami, bukan juga masjid yang megah seperti masjid Raya ataupun masjid Agung. Berdiri tegar tanpa menara. Dahulu berdampingan dengan rumah warung liar tempat menjual tuak dan makanan khas non Muslim B1 dan B2. Tapi kini-dengan karunia Allah- setelah warung-warung tersebut digusur, berganti dengan pelataran parkir yang luas dan indah.

Kami menyebut masjid tersebut degan nama “Masjid Sabilun Najati” yang artinya Masjid jalan keselamatan,tetapi dalam lidah indonesia kami mengenalnya dengan sebutan “Masjid Sabilun Najah” yang kalaupun diartikan juga bermakna positif, yaitu Masjid jalan kejayaan.

Penamaan masjid tersebut dengan harapan bahwa masjid yang kami-masyarakat Batam membangunnya dengan keringat, jerih payah dan air mata- dapat menjadi “oase” di tengah” gurun kejahilan” dan minimnya informasi tentang sunnah. Menjadi tempat singgah para pencari kebenaran dan dapat mereguk nikmatnya tetesan-tetesan bening air sunnah yang selalu dipancarkan tiap malam maupun pagi dari para asatidzah-semoga Allah menjaga keikhlasan mereka- yang setia menyampaikan ilmu dari kitab-kitab para ulama sunnah.

Sejak keberadaan masjid tersebut, kami- yang dahulu kesulitan untuk dapat memberikan pencerahan ke masyarakat di masjid-masjid mereka karena selalu digusur- kini dapat dengan istiqomah berdakwah tanpa gusuran lagi.

Bahkan kini kajian-kajian di masjid tersebut begitu diminanti masyarkat dan begitu antusiasnya mereka mendatanginya tiap-tiap hari ba’da maghrib dan ba’da subuh. Sering masjid penuh sesak dengan jamaah hingga sebagian harus rela sholat di teras luar masjid.

Setiap sholat jumat, para masyarakat datang membludak dari seluruh penjuru kota Batam, bahkan sebagaian besar mereka adalah para pekerja yang memilih sholat di Sabilun Najah(SN) dari sholat di masjid-masjid PT mereka.

Begitu kuatnya “maghnet” masjid ini untuk menarik kedatang jamaah, terlebih lagi ketika Ramadhan. Boleh dikatakan bahwa jamaah masjid SN lah yang paling istiqomah dari awal hingga akhir Ramadhan tetap memenuhi masjid.

Belum lagi suasana berbuka puasanya yang ramai diminati masyarakat dengan aneka hidangan dari para muhsinin, sungguh menambah kuatnya pondasi taqwa masjid ini. Terlebih di sepuluh malam terakhir Ramadhan, masjid SN dipenuhi para ikhwan yang beritikaf dan mengikuti sholat qiyam yang kedua hingga menjelang sahur.

Aku berfikir...kalaulah ada puluhan masjid seperti ini di kota Batam, sungguh Islam akan bersinar dan dapat merubah imej jelek tentang Kota Batam yang dahulu dikenal dengan kota maksiat menjadi kota sunnah.
SN dengan segala kontribusinya terhadap dakwah menjadi masjid yang disegani dan diperhitungkan di kota Batam, menjadi sorotan dan acuan sebagian orang sebagai qudwah dalam memakmurkan masjid dan mengembalikan fungsi utamanya sebagai markaz ilmu, tempat berkumpul dan bersilaturrahmi, tempat sharing segala bentuk kebaikan.

Tetapi tahukah anda siapa orang yang paling berjasa dalam mewujudkan kebaikan ini???siapa sosok yang telah rela mewakafkan tanahnya demi berdirinya masjid ini?? Mari kita kenal bersama profile lelaki tawadhu ini-rahimahullah.

Mbah Sarlan dan keikhlasan

Sekitar tahun 2004, datang dua lelaki ke rumah saya di perumnas Sagulung Blok A Batuaji dengan mengendari motor. Setelah masuk saya melihat salah seorang ikhwan dan seorang bapak yang telah berumur yang diperkenalkan ikhwan tersebut sebagai mertuanya, kami menyebutya Mbah Sarlan.

Singkat cerita, beliau datang dengan keinginan untuk mewakafkan tanahnya agar dibangunkan di atasnya masjid yang mengajarkan sunnah. Kala itu jumlah ikhwan masih sangat minim, dan kita belum memiliki banyak relasi, sehingga saya hanya bisa mengatakan insyaallah kita dengan Yayasan Alkahfi akan mendiskusikannya.

Setelah beberapa masa,dengan bantuan Allah..kami bergotong royong mendirikan masjid tersebut dengan infaq patungan dari para ikhwan ketika itu. Alhamdulillah Ramadhan 2005 kita telah dapat memulai tarawih perdana di masjid tersebut yang kala itu hanya satu lantai saja.

Dari sinilah bermula segala bentuk kebaikan. Setelah proyek masjid berjalan, beliau kembali datang menghibahkan yayasan beliau Fajar Ilahi, kepada Yayasan Alkahfi untuk dikelola dan dibesarkan. Berkat keihklasan beliau setelah pertolongan Allah, kini telah berdiri TKIT dan SDIT Fajar Ilahi 1.2.3 yang menampung ribuan siswa.

Mbah Sarlan orang yang kukenal Ikhlas tanpa pamrih dalam memperjuangkan dakwah ini, dia tidak butuh pujian maupun sanjungan dari manusia. Tidak banyak orang tau beliaulah sosok di balik” layar “diantara orang-orang yang paling berjasa-setelah Allah-sebab tersebarnya dakwah di kota ini.

Pada tahun 2012, di musim haji di Mina, aku bertemu beliau di tenda bersama para ikhwan yang haji tahun itu,ku ingat dia membekaliku sambah pecal tatkala mau pulang ke markaz. Kulihat betap gembiranya dia dapat mewujudkan impiannya pergi berhaji tahun itu yang telah beliau rancang beberapa tahun sebelumnya.

Salah seorang ikhwan yang haji bersamanya pernah menyampaikan dialog antara beliau dengan Mbah Sarlan sebelum berangkat haji. Beliau bertanya dengan bergurau: Apa yang Mbah inginkan dan mimpikan dalam hidup ini –setelah berdirinya SN dan Fajar Ilahi-? beliau menjawab: melaksanakan Ibadah haji. Ikhwan itu kembali melanjutkan: setelah haji apa lagi Mbah ? beliau menjawab: setelah haji... ya tidak ada lagi kecuali mati.”

Husnul khatimah

Satu hari setelah pulang haji aku masih melihat beliau duduk-duduk dikantin rumahnya di pagi hari sedang beramah tamah dengan sebagian ikhwan. Ketika sore hari aku dikejutkan dengan berita kematiannya yang tidak disangka-sangka. Wafat dalam shaf tatkala sholat ashar berjamaah. Sebagian ikhwan menuturkan beliau wafat pada rakaat kedua ketika berdiri sholat , tiba-tiba beliau jatuh dan sakarat diangkat para ikhwan, tak berapa lama beliaupun menghembuskan nafas terakhirnya, meninggalkan dunia fana yang penuh tipu daya ini, menuju Allah –ta ala-.

Begitu cepat proses penyelenggaraan jenazah beliau dan betapa banyak yang hadir melayat dan menguburkan beliau lepas sholat maghrib. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Telah berpulang orang tua yang menjadi kebanggaan kita, semoga segala jerih payah beliau dalam dakwah diganjari Allah dengan ganjaran yang berlipat.

Sungguh indahnya kematian beliau yang membuat kita iri,meninggal selepas melaksanakan ibadah haji, meninggal setelah mendirikan masjid dan sekolah, dan meninggal dalam keaadaan sholat dan di masjid yang beliau wakafkan untuk kaum muslimin, belum lagi banyaknya jumlah jamaah yang mensholatkan dan menghantarkan beliau.

Setiap kali dilaksanakan sholat di SN, setiap kali dilaksnakan kajian di SN, tiap kali diajarkan agama kepada anak didik di Fajar lahi, segala bentuk kemajuan dkwah dan tersebarnya dakwah di kota ini, wallahi....beliau akan mendapatkan ganjaran abadi sekalipun telah terkubur berkalang tanah.

Semoga Allah memberikan kepada beliau ganjaran yang tidak terhingga di alam Barzakh sana,semoga Allah memberikan bagnya ganti rumah di surga Firdausil A’la, semoga Allah menjaga anak keturunan beliau dan kita semua hingga akhir hayat kita. Amiin

Semoga selawat dan salam selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad-shallallahu alaihi wa sallam.

Batam, 4 Syawwal 1435 H
31 juli 2014

Abu Fairuz
Kutip Grup Whatsapp
Pin It
01.52 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Rabu, 30 Juli 2014

Dakwah Salaf Bukan Istana

Ustadz Aan Chandra Thalib hafidzahullaah.
REFLEKSI
Guru kami Syaikh Prof. DR. Anis Thahir Al Andunisy pernah berkata:
"Penisbatan kita terhadap salafussholeh tidak akan berarti apa-apa jika mereka para salafussholeh berada di satu lembah, sementara kit yang mengaku pengikut salaf berada di lebah yang lain."
"Dakwah salaf itu bukan istana yang memiliki benteng dan penjaga. Sehingga siapa saja yang mau masuk harus laporan dulu kepada pengawal dan boleh dikeluarkan dengan seenaknya saja".
Pada kesempatan yang lain beliau berkata:
"Innalillah.... Seakan-akan dakwah salafiyah ini seperti perusahaan dimana direkturnya memliki otoritas penuh dalam memasukkan atau mengeluarkan seseorang dari perusahaannya"
"Sebagian orang menganggap bahwa kewibawaan itu dengan bermuka masam.. Ketahuilah... manusia yang paling mulia dan paling berwibawa selalu menyebarkan senyum dan salam pada siapa saja"
(Syaikh Prof. Dr. Anis Thahir Al Andunisy adalah pengajar tetap di Masjid Nabawi As Syarief dan Dosen Fakultas Hadits di Universitas Islam Madiinah. Beliau mengajar mata kuliah Al Jarh Watta'dill)
Pin It
02.47 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Tertundanya Suatu Kemenangan

Terkadang Allah menunda suatu kemenangan karena ummat ini belum mencapai kematangannya atau karena lingkungan belum siap menyambut kemenangan itu sendiri.

Dan tertundanya suatu kemenangan adalah agar supaya ummat ini semakin bertambah kuat hubungannya dengan Allah, mereka mengeluh, merasa sakit, bersusah payah dan mereka tidak mendapatkan sandaran lain selain Allah Ta’ala. Mereka tidak mengharap kecuali kepada-Nya semata dalam setiap kesempitannya.

Dan terkadang Allah menunda kemenangan agar ummat ini memurnikan jerih payah dan upayanya serta pengorbanannya, mereka murnikan itu semua hanya karena Allah Ta’ala semata dan semata-mata karena dakwah kepada-Nya.

Via Ust Ja'far Shaleh


Sila disimak video berikut,
Wallaahul Muwaffiq

>> http://www.youtube.com/watch?v=e1cA2o0_6D4
Pin It
02.42 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Meratapi Nasib Nenek Tua Tukang Tenun

Saudaraku! Ketika hari raya telah tiba, saya yakin saudara mengenakan baju baru, sehingga saudara tampil lebih cakap nan rupawan. Akan tetapi pernahkan saudara mengamati pakaian yang anda kenakan?

Tahukah anda, bagaimana pakaian anda ini dibuat, dimaulai dari kapas, kemudian dipintal dan proses lain selanjutnya, hingga akhirnya sampai ke tangan anda dan anda kenakan? Semuanya dilakukan dan diproses dengan tekhnologi canggih. Sehingga sekarang ini, anda tidak perlu pusing-pusing mengetahui proses pembuatannya.

Akan tetapi tidakkah saudara pernah dibawa oleh lamunan saudara, kepada suatu pemandangan yang menakjubkan. Pemandangan disaat nenek moyang saudara sedang memintal benang, lalu menenunnya, dan kemudian mewarnainya dan akhirnya dengan kedua tangannya, mereka menjahitnya menjadi pakaian lebaran untuk anak-anaknya. Semua proses dari tahap ke tahap selanjutnya dilakukan dengan peralatan yang serba sederhana dan dikerjakan dengan kedua tangan sendiri.

Saudara bisa bayangkan, betapa besar rasa bahagia putra-putri mereka tatkala mendapatkan pakaian tersebut. Bagai mereka, hari raya Iedul Fitri terasa begitu bahagia, senyuman lebar senantiasa menghiasi bibir mereka.

Demikianlah kira-kira gambaran nenek moyang saudara tatkala mempersiapkan pakaian Iedul Fitri untuk anak-anaknya.

Akan tetapi coba saudara sedikit menambahkan gambaran baru pada lamunan saudara. Tatkala salah saorang dari nenek saudara yang telah berjuang siang dan malam. Ia dengan sabar memintal kapas menjadi benang, lalu melanjutkan perjuangannya dengan merajutnya menjadi selembar kain sehingga siap untuk dijahit menjadi pakaian. Rasa gembira telah menghampiri raut wajah anak-anaknya, karena merasa tak lama lagi pakaian Ied mereka segera jadi.

Diluar dugaan, sang nenek bukannya melanjutkan perjuangan dengan menjahit kain hasil tenunannya, ia malah kembali mengurai hasil tenunannya menjadi benang. Dan ia terus mengurai benang itu kembali menjadi onggokan kapas.

Saudara bisa bayangkan, bagaimana perasaan dan sikap putra-putri sang nenek tersebut? Kebahagiaan yang telah menghampiri mereka sekejap sirna, dan tawa ria berubah menjadi jerit tangis duka.

Saudaraku! Menurut hemat saudara, perbuatan nenek itu baik atau tercela? Dan andai saudara adalah salah seorang putra atau putri nenek tersebut, bagaimana perasaan saudara menyaksikan perbuatan ibunda tersebut?

Ini adalah gambaran sederhana bagi keadaan yang semoga tidak sedang saudara alami. Setelah saudara dengan segala daya dan upaya merajut kebahagiaan dan keberhasilan di bulan Ramadhan. Setelah saudara mulai merasakan indahnya sholat berjamaah di masjid. Setelah saudara merasakan betapa damainya batin saudara yang jauh dari bisikan setan. Setelah saudara merasakan betapa bahagianya menikmati hidangan buka puasa.

Setelah saudara mulai merasakan betapa manisnya keimanan. Akankah semuanya itu kembali saudara uraikan satu demi satu? Akankah saudara dengan kedua tangan dan kaki saudara meruntuhkan tumpukan pahala yang telah tersusun rapi di lembar catatan amal saudara? Hanya saudaralah yang mampu membuktikan berbagai pertanyaan di atas.


وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِن بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَاثًا 


"Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali." [ lihat QS An Nahl 92]

Saudaraku! Walau demikian, ada satu indikasi yang dapat saudara jadikan pedoman dalam mengenali apakah sekarang ini saudara sedang memupuk subur pahala yang telah saudara kumpulkan atau sedang meruntuhkannya kembali.

Anda penasaran ingin mengetahui apakah indikasi tersebut? Indikasi tersebut ialah amalan saudara sendiri. 


وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ 


"Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya." [Lihat QS Al Mukminun 60-61]

Pada suatu hari 'Aisyah radhiallahu 'anha bertanya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang maksud ayat ini: Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud oleh ayat ini ialah orang-orang yang biasa mabok-mabok minum khomer, dan mencuri? Menanggapi pertanyaan istri tercintanya ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


(لاَ يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لاَ يُقْبَلَ مِنْهُمْ، أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِى الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ رواه أحمد والترمذي وابن ماجة

"Bukan, wahai Putri As Shiddiq! Akan tetappi mereka itu adalah orang-orang yang rajin berpuasa, mendirikan sholat, dan bersedekah, walau demikian mereka senantiasa kawatir bila amalan mereka tidak diterima Allah, karenanya mereka selalu bersegera dalam mengamalkan kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya." Riwayat Ahmad, At Tirmizy dan Ibnu Majah

Tidak heran saudaraku bila dahulu para ulama' dan orang-orang sholeh senantiasa berjuang untuk beramal sholeh setiap waktu. Mereka senantiasa mengingat dan menyadari bahwa pada suatu saat nanti mereka pasti menghadap kepada Pencipta mereka yaitu Allah Yang Maha Keras Siksa-Nya. Mereka hanya memiliki satu batas waktu untuk berhenti dari perjuangan beramal sholeh:


وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ 


"dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai datang kepadamu yang kepastian (ajal)." 
 
[Lihat QS Al Hijr 99]

Karena perjalanan ibadah saudara demikian panjang, tidak heran bila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya agar mereka bersikap yang proporsional dalam beramal. Tidak telalu memaksakan diri dengan mengamalkan amalan yang terlalu berat baginya dan tidak lemah semangat sehingga malas beramal.


(يَا أَيُّهَا النَّاسُ خُذُوا مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا، وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ) متفق عليه

"Wahai para manusia! Amalkanlah amalan yang kalian kuasa untuk menjalankan dengan terus menerus, karena Allah tidak akan pernah merasa bosan, walaupun kalian telah dihinggapi rasa bosan untuk beribadah. Dan sesungguhnya amalan yang paling Allah cintai ialah amalan yang diamalkan dengan kontinyu walaupun hanya sedikit." Muttafaqun 'alaih.

Saudaraku! Bila pada bulan Ramadhan, anda telah mengenal ibadah puasa, sholat malam, sedekah kepada fakir-miskin, membaca Al Qur'an, dan ibadah lainnya, akankah semua itu tenggelam bersama tenggelamnya bulan Ramadhan?
Tidakkah saudara merasa terpanggil untuk meneruskan amal ibadah itu walau hanya sedikit, sehingga hari-hari saudara senantiasa dihiasi dengan aliran pahala dan kedamaian karena berada dekat dengan Allah?

Semoga Allah Ta'ala senantiasa melimpahkan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat istiqamah dalam beribadah kepada-Nya. Hanya dengan demikian kita dapat menjaga rangkaian pahala yang telah tersusun rapi pada lembaran amal kita dan tidak kembali meruntuhkannya satu demi satu. 


Wallahu a'lam bisshowaab.

Kutip FB Ustadz DR Muhammad Arifin Badri, MA hafidzahullaah.
Pin It
02.38 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0