Kamis, 10 Maret 2016

1. Ada seseorang menemukan bangkai di jalan, kemudian dia makan sampai kenyang dan sisanya dia bawa pulang. Padahal dia tidak gila, tidak kelaparan, juga tidak terpaksa. Mengapa bisa demikian?
2. Pada dasarnya, tanah bisa menggantikan air. Orang yang hadats kecil dan dia tidak memiliki air, bisa tayammum dengan tanah. Orang yang junub dan tidak mendapatkan air, bisa tayammum dengan tanah juga. Tapi ada satu keadaan, dimana air justru menggantikan tanah. Keadaan seperti apakah itu?
3. Pada dasarnya, semua benda yang boleh diperjual belikan, boleh juga disedekahkan, atau dihadiahkan. Tapi ada benda yang boleh dihadiahkan, tapi tidak boleh diperjual belikan. Benda apakah itu?
4. Ada sesuatu yang tersusun lebih dari 100 bagian, tetapi jika dibagi dua hasilnya kurang dari dua puluh? Apakah sesuatu itu?
5. Ada orang yang shalat tanpa rukuk dan tanpa sujud, padahal dia sehat dan anggota badannya lengkap dan status shalatnya sah. Bagaimana bisa terjadi?
6. Ada orang yg shalat tapi tahiyat nya 4 kali.. Shalat apa ya?
7. Shalat jahar adalah yang rakaat pertama dan keduanya dikeraskan bacaannya. Dan shalat sirr kebalikannya. Nah shalat sirr berjamaah apa yang terletak antara dua shalat jahar berjamaah?
8. Sebutkan ibadah sunat yang jika seseorang melakukannya, maka pada waktu yang sama, seluruh manusia di muka bumi tidak ada yang melakukannya?
9. Suatu ketika seorang istri lagi makan di depan suaminya. Di dalam mulutnya ada makanan. Suaminya berkata “jika kamu telan, atau kamu keluarkan, atau kamu biarkan, maka kamu saya talak”. Nah si istri melakukan sesuatu, sehingga tidak jadi di talak. Apa yang di lakukan si istri?
10. Dalam islam ada suatu kondisi dimana si anak bisa menyaksikan pernikahan ayah dan ibu kandungnya untuk pertama kalinya. Pernikahannya sah, dan anaknya sah juga.
(Sumber grup WA)
11. Ibadah wajib pria yang dilakukan sekali dan tidak akan pernah mengulangi untuk kedua kalinya. Ibadah apa itu?

Jawaban: 

1. Bangkai yang dihalalkan, yaitu bangkai laut (ikan) atau belalang, didasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

أُحِلَّتْ لَكُمْ مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ

“Dihalalkan bagi kalian dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati (lever) dan limpa. [HR Ibnu Majah no. 3314 dan dishohihkan Syeikh Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Al Shohihah no.1118]

2. Keadaan orang yag tinggal di atas kapal/laut dan sedang menyelenggarakan jenazah. Maka mayit dibuang di Laut dapat menggantikan dikuburkan di tanah.

3. Hewan kurban. Sebelum statusnya jadi kurban boleh diperjualbelikan. Setelah jadi kurban, tidak boleh diperjualbelikan apapun bagiannya, kecuali apabila dihadiahkan.

4. Al-Qur’an al-Karim terdiri dari 114 surat, tapi jika kita buka pertengahan mushaf, maka kita temukan tengah al-qur’an ada di surat ke-18. Kurang dari 20.

5. Sholat jenazah.

6. Orang yg masbuq ketika sholat maghrib dan mendapati imam telah lewat ruku’ pada rakaat kedua dan belum bangun ke rakaat ketiga. Sehingga tahiyat nya menjadi 4x.

7. Sholat ashar pada hari Jum’at, karena itu menjadi sholat siir ditengah2 sholat jum’at yang jahar dan maghrib yang jahar.

8. Mencium hajar aswad adalah sunnah, ‘Umar berkata, “Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu” (HR. Bukhari no. 1597, 1605 dan Muslim no. 1270) Kalau seseorang sedang mencium nya, maka yg lain harus menunggu, tidak bisa bareng2 menciumnya

9. Istri mengeluarkan sebagian dan menelan sebagian, hal ini sebagaimana jawaban Imam Asy syafi’i : http://kisahmuslim.com/kecerdasan-imam-asy-syafii/

10. Anak yg lahir dari budak, kemudian setelah lahir ibunya (ummu walad) tersebut dinikahkan.

11. Khitan

Via Grup Whatsapp

Jumat, 19 Februari 2016

IBROH

Ada Ganti Yang Indah Untuk Setiap Yang Kau Tinggalkan Karena Allāh ﷻ

Syaikh Muhammad bin Muhammad Al-Mukhtar As-Syinqity mengisahkan, "Dahulu ada seorang penuntut ilmu yang memiliki wajah yang sangat tampan. Banyak wanita yang tergila-gila padanya.

Pemuda itu tinggal sendiri. Hingga disuatu malam yang sangat dingin, tiba-tiba masuklah seorang gadis cantik yang tak lain adalah anak tetangganya.
Dengan wajah memelas ia mengatakan kalau ayahnya tidak membukakan pintu untuknya, sehingga ia terpaksa masuk menemui pemuda tersebut.
Melihat kondisi sang gadis, pemuda tadi seolah tak punya pulihan lain kecuali mengizinkannya masuk.
��Lampu untuk murajaah (mengulang pelajaran) baru saja dinyalakan.
��Tiba-tiba syaitan membisikinya untuk melakukan zina dengan wanita tersebut, syahwatnya seolah tak terbendung lagi.
Tahukah anda apa yang dilakukan pemuda tadi.?
Dia meletakkan jari telunjuknya tepat diatas nyala lampu, sambil menangis ia berkata,
��"Wahai diriku, apakah engkau sanggup menahan panasnya api neraka..?
Sambil menangis ia terus mengulang-ngulang kalimat tersebut.
Melihat peristiwa itu, sang gadis ikut menangis dan bergegas lari menemui ayahnya. Dia menceritakan apa yang dilihatnya kepada sang ayah.
Ayahnya lalu bersumpah bahwa tidak ada yang boleh menikahi anak gadisnya kecuali pemuda tersebut."
�� Akhirnya pemuda itu dinikahkan dengan sang gadis, padahal ia hanya seorang penuntut ilmu yang fakir lagi anak perantauan.
Begitulah..
Dia meninggalkan hal yang diharamkan Allah, lalu Allah pun menggantinya dengan apa yang dihalalkan-Nya"
�� Catatan:
Seorang penyair berkata:
وإذا خلوت بريبة في ظلمة والنفس داعية إلى الطغيان
فاستحي من نظر الإله وقل لها إن الذي خلق الظلام يراني
Jika engkau menyendiri dalam kegelapan, sedangkan hawa nafsu mengajak pada pada kedurhakaan.
�� Maka malulah dengan penglihatan Tuhan dan katakan pada jiwa, sesungguhnya Pencipta kegelapan melihat aku.
_____________
Madinah 10-05-1437 H
Ustādz Aan Chandra Thalib حفظه الله تعالى
〰〰〰〰〰〰
Copas WA Forum Ukhuwwah KMH

Selasa, 12 Januari 2016

Engkau sudah gila, kapan..???

jika engkau ingin selamat dari seluruh cercaan manusia. 
Ibnu Hazm rahimahullāh berkata, "Barangsiapa yang ingin selamat dari cercaan manusia dan celaan mereka maka dia adalah orang gila. Kenapa? karena dia berharap suatu kemustahilan…"
Sesungguhnya mencari keridhoan manusia, merupakan tujuan yang tidak akan pernah tercapai. Betapapun baik dirimu dan betapa dermawan dan mulia, tetap engkau tidak mungkin selamat dari celaan manusia…
✍ Ustādz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Rabu, 30 Desember 2015


Yang ada dari merayakan tahun baru adalah meniru gaya dan perayaan orang kafir. Karena perayaan semisal itu bukanlah perayaan Islam dan tidak kita temukan di masa wahyu itu turun. Para sahabat tak pernah merayakannya. Para tabi’in tak pernah merayakannnya. Para ulama madzhab pun tak pernah menganjurkannya. Perayaan tersebut yang ada hanyalah meniru perayaan orang kafir.

Sejarah Perayaan Tahun Baru

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh pada tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus. (Sumber: Wikipedia)

Larangan Meniru Perayaan Orang Kafir

Kalau sudah dibuktikan kalau perayaan itu hanyalah tradisi orang kafir, lalu kita dilarang tasyabbuh (meniru) tradisi mereka, maka merayakannya pun tak perlu.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ » . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ « وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ »

“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?” (HR. Bukhari no. 7319)

Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ ». قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ « فَمَنْ ».

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669)

An Nawawi -rahimahullah- ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziro’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal kekufuran. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.”(Syarh Shahih Muslim, 16: 220)

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

“Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Ibnu Taimiyah dalam kitab lainnya berkata, “Sesungguhnya tasyabbuh (meniru gaya) orang kafir secara lahiriyah mewariskan kecintaan dan kesetiaan dalam batin. Begitu pula kecintaan dalam batin mewariskan tasyabbuh secara lahiriyah. Hal ini sudah terbukti secara inderawi atau eksperimen. Sampai-sampai jika ada dua orang yang dulunya berasal dari kampung yang sama, kemudian bertemu lagi di negeri asing, pasti ada kecintaan, kesetiaan dan saling berkasih sayang. Walau dulu di negerinya sendiri tidak saling kenal atau saling terpisah.” (Iqtidha’ Ash Shirothil Mustaqim, 1: 549).

Apakah masih mau terus tasyabbuh atau meniru-niru gaya orang kafir? Kapan umat Islam punya jati diri? Kapan umat Islam mau menyatakan dirinya berbeda.

Semoga bisa berpikir, hanyalah Allah yang memberi taufik dan hidayah.


Selesai disusun di Hotel Ilyas Center di kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 

6 Rabi’ul Awwal 1436 H

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel: www.Rumaysho.com
“Mengapa kita tidak boleh merayakan tahun baru Masehi ?! Seluruh dunia pun serempak merayakan, 
Kenapa kita tidak...! Inikan hari kebahagiaan seluruh umat manusia dengan bergantinya tahun yang baru, kenapa kita sia-siakan momen tersebut?!”. 

Ungkapan di atas tidak jarang kita dengar dari saudara saudari kita pra/di malam tahun baru. Seolah-olah mengisyaratkan bentuk ke-tidak setujuan mereka ketika dilarang dari merayakan malam tahun baru.

Sebagai seorang muslim sepatutnya memahami terlebih dahulu perkara yang sangat dasar terkait dengan perayaan malam tahun baru, sehingga agar tidak terbawa perasaan untuk menentangnya. 

Dalam hal ini hendaknya kita melihat dua sisi penting terkait perayaan malam tahun baru:

1. Dari sisi asal-muasal perayaan malam tahun baru Masehi

Saudaraku kaum Muslimin, ketika kita melihat sejarah umat Islam silam ternyata kita tidak mendapati nukilan sejarah ataupun riwayat tentang adanya perayaan malam tahun baru Masehi. Bahkan bangsa-bangsa selain Islamlah yang mengawali diadakannya perayaan tersebut. 

Bangsa Romawi kuno, merayakan pesta tahun baru dengan memberikan potongan dahan pohon suci, dimaksudkan adalah untuk menghormati Dewa Janus yang mereka anggap sebagai Dewa pintu dan semua permulaan hidup.

Kemudian Bangsa Yunani, mereka merayakan tahun baru dengan menebarkan buah delima (yang diyakini sebagai lambang kesuburan dan kesuksesan) di pintu-pintu rumah, kantor dan yang lainnya sebagai simbol doa untuk mendapatkan kemakmuran sepanjang tahun.

Dari sinilah kita mengetahui bahwa merayakan malam tahun baru Masehi bukan berasal dari Islam sedikit pun.

2. Dari sisi bentuk perayaan malam tahun baru

Tidak elak bagi kita dari fakta kaum Muslimin yang memeriahkan malam tahun baru dengan berbagai macam bentuk dan model dari mulai meniupkan terompet, membunyikan petasan atau kembang api sampai kepada kemaksiatan yang sangat parah hanya untuk melambangkan kesenangan sesaat di malam tahun baru.

Belum lagi ditambah dengan adanya keyakinan-keyakinan tertentu yang tidak benar, dan rahasia di balik perayaan malam tahun baru, bagi bangsa-bangsa lain yang erat kaitannya dengan agama dan kepercayaan mereka. 

- Bangsa Romawi kuno, sebagaimana yang telah kita sebutkan di atas bahwa pesta tahun baru yang mereka rayakan dengan memberikan potongan dahan pohon suci, dimaksudkan adalah untuk menghormati Dewa Janus yang mereka anggap sebagai Dewa pintu dan semua permulaan hidup (yang digambarkan bermuka dua, satu menghadap ke depan dan satu menghadap ke belakang).  
- Bangsa Yunani, mereka merayakan tahun baru dengan menebarkan buah delima -yang di yakini sebagai lambang kesuburan dan kesuksesan- di pintu-pintu rumah, kantor dan yang lainnya sebagai simbol doa untuk mendapatkan kemakmuran sepanjang tahun.

- Orang-orang Brazil, merayakan tahun baru dengan menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai, sebagai tanda penghormatan terhadap Dewa Lemanja yang mereka yakini sebagai dewa laut dalam legenda mereka.

- Adapun umat Kristen, mereka menjadikan perayaan ini sebagai perayaan suci dari agama mereka dan menjadikannya satu paket yang tidak bisa di pisahkan dengan hari Natal. Karena tahun baru Masehi di kaitkan dengan lahirnya Yesus kristus menurut versi mereka.

Sikap Seorang Muslim di Malam Tahun Baru Masehi  

Setelah kita mengetahui perkara di atas, maka sikap apa yang harus diambil oleh setiap muslim ketika ada perayaan malam tahun baru...??

Sikap yang benar adalah menjauh dari berbagai macam bentuk perayaan tersebut, tidak ikut serta memeriahkannya baik secara fisik maupun secara materi, karena perayaan ini hukumnya adalah haram di lakukan oleh umat Islam, dengan dalil sebagai berikut:

(1) Perayaan malam tahun baru adalah ibadah orang kafir dan bukan berasal dari Islam.

(2) Memeriahkan pesta malam tahun baru merupakan bentuk penyerupaan terhadap orang kafir. 
Nabi ﷺ bersabda:

“Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” [HR. Ahmad dan Abu Dawud]

(3) Perayaan malam tahun baru penuh dengan kemaksiatan, sebagaimana yang telah dipaparkan.

(4) Perayaan malam tahun baru adalah perkara baru yang tidak di contohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam dan para generasi terbaik umatnya.

(5) Mengikuti hari raya mereka termasuk bentuk loyalitas dan menampakkan rasa cinta kepada mereka. Padahal Allah melarang kita untuk menjadikan mereka sebagai kekasih (memberikan loyalitas) dan menampakkan cinta kasih kepada mereka. Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (rahasia), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu..” [lihat QS. al-Mumtahanah: 1]

(6) Hari raya merupakan bagian dari agama dan doktrin keyakinan, bukan semata perkara dunia dan hiburan. 

Ketika Nabi ﷺ datang di kota Madinah, penduduk kota tersebut merayakan dua hari raya, Nairuz dan Mihrajan. Beliau pernah bersabda di hadapan penduduk Madinah:

“Saya mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari raya, yang kalian jadikan sebagai waktu untuk bermain. Padahal Allah telah menggantikan dua hari raya terbaik untuk kalian; idul fitri dan idul adha.” [HR. Abu Dawud]

Perayaan Nairuz dan Mihrajan yang dirayakan oleh penduduk Madinah, isinya hanya bermain-main dan makan-makan. Sama sekali tidak ada unsur ritual sebagaimana yang dilakukan oleh orang Majusi. Namun mengingat dua hari tersebut adalah perayaan orang kafir, Nabi shallallahu ‘alahi wasallam melarangnya. Sebagai gantinya, Allah memberikan dua hari raya terbaik: Idul Fitri dan Idul Adha.

Oleh karenanya, turut bergembira dengan perayaan orang kafir, meskipun hanya bermain-main, tanpa mengikuti ritual keagamaannya, termasuk perbuatan yang terlarang, karena termasuk turut menyukseskan acara mereka. 

Allahu a’lam bis showab..

Oleh: ✍ Ustādz Hermawan, Lc  حفظه الله تعالى

 Group WA Suara Al-Iman 

Sumber Berita: atturots.or.id


Simak pula pembahasan seputar Tahun Baru  http://www.annashihah.org/2015/12/tahun-baru-perayaan-orang-kafir-yang.html


Selasa, 29 Desember 2015

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan tentang Islam, termasuk di dalamnya masalah adab. Seorang penuntut ilmu harus menghiasi dirinya dengan adab dan akhlak mulia. Dia harus mengamalkan ilmunya dengan menerapkan akhlak yang mulia, baik terhadap dirinya maupun kepada orang lain. 

📝 Berikut diantara adab-adab yang selayaknya diperhatikan ketika seseorang menuntut ilmu syar’i,
1. Mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu
Seseorang tidak akan mendapat ilmu yang bermanfaat jika ia tidak ikhlas karena Allah. 
Orang yang menuntut ilmu bukan karena mengharap wajah Allah termasuk orang yang pertama kali dipanaskan api neraka untuknya. Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang menuntut ilmu syar’i yang semestinya ia lakukan untuk mencari wajah Allah dengan ikhlas, namun ia tidak melakukannya melainkan untuk mencari keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mendapat harumnya aroma surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)

2. Rajin berdoa kepada Allah Ta’ala, memohon ilmu yang bermanfaat
Hendaknya setiap penuntut ilmu senantiasa memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah Ta’ala dan memohon pertolongan kepadaNya dalam mencari ilmu serta selalu merasa butuh kepadaNya.
Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kita untuk selalu memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah Ta’ala dan berlindung kepadaNya dari ilmu yang tidak bermanfaat.

3. Bersungguh-sungguh dalam belajar dan selalu merasa haus ilmu
Dalam menuntut ilmu syar’i diperlukan kesungguhan. Tidak layak para penuntut ilmu bermalas-malasan dalam mencarinya. Kita akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dengan izin Allah apabila kita bersungguh-sungguh dalam menuntutnya. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam barsabda, “ Dua orang yang rakus yang tidak pernah kenyang: yaitu (1) orang yang rakus terhdap ilmu dan tidak pernah kenyang dengannya dan (2) orang yang rakus terhadap dunia dan tidak pernah kenyang dengannya.” (HR. Al-Baihaqi)

4. Menjauhkan diri dari dosa dan maksiat dengan bertaqwa kepada Allah Ta’ala
Seseorang terhalang dari ilmu yang bermanfaat disebabkan banyak melakukan dosa dan maksiat. Sesungguhnya dosa dan maksiat dapat menghalangi ilmu yang bermanfaat, bahkan dapat mematikan hati, merusak kehidupan dan mendatangkan siksa Allah Ta’ala. 

5. Tidak boleh sombong dan tidak boleh malu dalam menuntut ilmu
Sombong dan malu menyebabkan pelakunya tidak akan mendapatkan ilmu selama kedua sifat itu masih ada dalam dirinya. 

Imam Mujahid mengatakan,
 لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْىٍ وَلاَ مُسْتَكْبِرٌ 
 “Dua orang yang tidak belajar ilmu: orang pemalu dan orang yang sombong” (HR. Bukhari secara muallaq) 

6. Mendengarkan baik-baik pelajaran yang disampaikan ustadz, syaikh atau guru 
Allah Ta’ala berfirman, “… sebab itu sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-hambaKu, (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan merekalah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Az-Zumar: 17-18)

7. Diam ketika pelajaran disampaikan 
Ketika belajar dan mengkaji ilmu syar’i tidak boleh berbicara yang tidak bermanfaat, tanpa ada keperluan, dan tidak ada hubungannya dengan ilmu syar’i yang disampaikan, tidak boleh ngobrol. Allah Ta’ala berfirman, “dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raaf: 204)

8. Berusaha memahami ilmu syar’i yang disampaikan 
Kiat memahami pelajaran yang disampaikan: mencari tempat duduk yang tepat di hadapan guru, memperhatikan penjelasan guru dan bacaan murid yang berpengalaman. Bersungguh-sungguh untuk mengikat (mencatat) faedah-faedah pelajaran, tidak banyak bertanya saat pelajaran disampaikan, mengulang pelajaran setelah kajian selesai dan bersungguh-sungguh mengamalkan ilmu yang telah dipelajari. 

9. Menghafalkan ilmu syar’i yang disampaikan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah memberikan cahaya kepada wajah orang yang mendengar perkataanku, kemudian ia memahaminya, menghafalkannya, dan menyampaikannya. Banyak orang yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faham daripadanya…” (HR. At-Tirmidzi). 

Dalam hadits tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Allah Ta’ala agar Dia memberikan cahaya pada wajah orang-orang yang mendengar, memahami, menghafal, dan mengamalkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka kita pun diperintahkan untuk menghafal pelajaran-pelajaran yang bersumber dari Al-Quran dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

10. Mengikat ilmu atau pelajaran dengan tulisan
Ketika belajar, seorang penuntut ilmu harus mencatat pelajaran dan poin-poin penting agar ilmu yang disampaikannya tidak hilang dan terus tertancap dalam ingatannya setiap kali ia mengulangi pelajarannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ikatlah ilmu dengan tulisan” (HR. Ibnu ‘Abdil Barr)

11. Mengamalkan ilmu syar’i yang telah dipelajari
Menuntut ilmu syar’i bukanlah tujuan akhir, tetapi sebagai pengantar kepada tujuan yang agung, yaitu adanya rasa takut kepada Allah, merasa diawasi oleh-Nya, taqwa kepada-Nya, dan mengamalkan tuntutan dari ilmu tersebut. Dengan demikian, barang siapa saja yang menuntut ilmu bukan untuk diamalkan, niscaya ia diharamkan dari keberkahan ilmu, kemuliaan, dan ganjaran pahalanya yang besar. 
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, kemudian ia melupakan dirinya (tidak mengamalkan ilmunya) adalah seperti lampu (lilin) yang menerangi manusia, namun membakar dirinya sendiri.” (HR Ath-Thabrani) 

🔋 Tematik BISA 
Referensi: Disarikan dari berbagai sumber..

Kamis, 10 Desember 2015

Meskipun secara umum para lelaki memiliki kelebihan dalam memandang dan cara berfikir dengan melihat lebih jauh ke depan, akan tetapi harus diakui bahwasanya para wanita dalam beberapa hal –terutama yang berkaitan dengan urusan rumah tangga dan anak-anak-, maka para wanita lebih tajam dan lebih detail pandangan dan pengamatannya.
Dalam hal urusan pengaturan perabot rumah tangga, persiapan sekolah anak-anak, dan hal-hal lain dalam rumah, maka wanita lebih jeli dan detail. Berbeda dengan para lelaki yang hanya bisa menilai secara global dan tidak detail. Karenanya para lelaki kurang bisa mengamati perubahan-perubahan detail yang terjadi di rumah, akan tetapi para lelaki bisa menilai dengan penilaian global bahwa kondisi rumah baik atau tidak. Adapun perubahan posisi pot bunga misalnya, atau pergantian taplak meja atau seprai kasur, atau perapian rambut anak-anak, atau tas baru milik anak-anak, sering kali para lelaki (para suami) tidak tanggap.
Demikian pula jika sang istri baru saja merapikan rambutnya, atau baru saja memakai perhiasan yang baru, atau bedak yang baru lalu ia bertanya kepada sang suami, “Sayangku adakah sesuatu yang baru yang kau lihat hari ini??”. Sesungguhnya pertanyaan ini adalah pertanyaan yang mudah dan sepele akan tetapi ternyata sangat berat untuk dijawab oleh seorang suami yang pandangannya tidak detail dan jeli dalam urusan seperti ini.
Bahkan bisa jadi sang istri memakai kembali kalung yang dulu pernah dibelikan oleh sang suami sebagai hadiah karena ada kondisi istimewa tertentu, lalu tatkala sang istri bertanya, “Sayang lihat sesuatu yang baru atau yang aneh nggak pada diriku?”. Terkadang suami menjadi bingung untuk menjawab pertanyaan ini??, apa yang aneh..??, apa yang baru…??.
Pertanyaan-pertanyaan beruntun yang terkadang sangat menyedihkan sang istri karena menunjukkan suami yang tidak tanggap dan tidak nyambung-nyambung…
Terkadang sang istri bertanya, “Suamiku, apakah ada perubahan pada wajahku?”.
Maksud sang istri –setelah memakai pembersih muka atau pembersih kulit selama sebulan- tentunya ada perubahan ke arah lebih cantik, akan tetapi sang suami tatkala ditanya demikian menjadi sangat bingung. Karena suami merasakan sama sekali tidak ada perubahan, karena setiap hari ia melihat wajah sang istri…, terlebih lagi sebagaimana telah lalu pandangan suami dalam hal-hal rumah tangga hanyalah pandangan global dan tidak detail.
Demikian juga tatkala sang istri melakukan program diet selama sebulan lantas setelah sebulan ia bertanya kepada suaminya, “Wahai cintaku, tidakkah engkau melihat perubahan pada tubuhku?”
Sang suamipun bingung, dalam hatinya berkata, “Memang ada perubahan apa…?”
Karenanya wahai para istri, ingatlah firman Allah
وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأنْثَى
“Laki-laki tidaklah seperti perempuan” (QS Ali Imroon : 3)
Jikalau Allah memberikan pandangan tajam bagi lelaki dalam hal pekerjaan dan rencana masa depan akan tetapi ternyata pandangan lelaki tidaklah tajam dan detail dalam pengurusan dan pengaturan dalam rumah. Allah menjadikan wanita lebih jeli dan detail dalam hal-hal rumah tangga.
Bayangkan jika seandainya Allah menjadikan seorang suami pandangannya detail dan jeli dalam perubahan kondisi dalam rumah, tentu sang suami akan menjadi seorang wanita yang cerewet, bahkan bisa jadi lebih cerewet dari pada seorang wanita !!!
Karenanya …MAAFKANLAH SUAMIMU…wahai para istri…, maafkanlah dia yang terkadang tidak bisa romantis kepadamu tatkala engkau sedang ingin beromantis dengannya…
Ustādz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Sumber: BBG Al Ilmu

Radio Kajian Kaltim


Get the Flash Player to hear this stream.

Video Pilihan

Popular Posts