KABAR DAKWAH

TEGUH dalam Tujuan dan FLEKSIBEL dalam sarana berdakwah sesuai yang diperbolehkan syari'at

Jumat, 31 Oktober 2014

Ucapan Alhamdulillāh ‘Ala Kulli Hāl

Pertanyaan:
Ustadz, kalimat Alhamdulillah 'ala kulli hal digunakan pada kondisi yang seperti apa?!
Jawaban:
Ucapan Alhamdulillah ‘ala kulli hal Nabi tuntunkan untuk dibaca dalam beberapa kondisi.
Pertama, setelah bersin
عَنْ نَافِعٍ أَنَّ رَجُلاً عَطَسَ إِلَى جَنْبِ ابْنِ عُمَرَ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ. قَالَ ابْنُ عُمَرَ وَأَنَا أَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَلَيْسَ هَكَذَا عَلَّمَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَّمَنَا أَنْ نَقُولَ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ.
Dari Nafi, ada seorang yang bersin di dekat Ibnu Umar lalu dia berucap, “Alhamdulillah wassalam ‘ala rasulillah”. Mendengar ucapan orang tersebut, Ibnu Umar mengatakan, “Saya juga mengucapkan kalimatAlhamdulillah was salam ‘ala rasulillah namun tidak seperti itu yang diajarkan oleh Rasulullah kepada kami. Beliau mengajari kami untuk mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal” ketika bersin” [HR Tirmidzi no 2738, dinilai hasan oleh al Albani].
عَنْ أَبِى أَيُّوبَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَلْيَقُلِ الَّذِى يَرُدُّ عَلَيْهِ يَرْحَمُكَ اللَّهُ وَلْيَقُلْ هُوَ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ ».
Dari Abu Ayub, Rasulullah bersabda, “Jika salah satu diantara kalian bersin hendaknya dia mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal“. Orang yang mendengarnya merespon dengan mengucapkan, “Yarhamukallahu“. Kemudian orang yang bersin mengucapkan, “Yahdikumullahu wa yushlih baalakum“”[HR Tirmidzi no dinilai sahih oleh al Albani].
Kedua, ketika melihat hal-hal yang tidak menyenangkan
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ ». وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ ».
Dari Aisyah, kebiasaan Rasulullah jika menyaksikan hal-hal yang beliau sukai adalah mengucapkan“Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat”. Sedangkan jika beliau menyaksikan hal-hal yang tidak menyenangkan beliau mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal“” [HR Ibnu Majah no 3803 dinilai hasan oleh al Albani].
✍ Artikel www.ustadzaris.com
Pin It
18.36 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Selasa, 28 Oktober 2014

Info Dauroh


Bismillah,
UNDANGAN dari Majlis Ta'lim Muslimah Baiturrahman : Hadirillah TABLIGH AKBAR khusus AKHAWAAT bersama Ust. Zainal Abidin, Lc yg insyā Allāh diselenggarakan pada:

Hari : Sabtu 01 Nop 2014
Pkl : 08:30 -11:30 wita di GOR PKT
Tema: Memurnikan Tauhid Hidupkan Sunnah.
   
Jadwal Utk UMUM (Ihwan&Ahwat):
1.Kamis, 30 Okt 14: Bada Maghrib di Masjid Baiturrahman ; Bada Isya': Live di PKTV.
2.Jumat 31 Okt 14: jam 08:00-09:30 Ceramah Umum di Radio ESKA.
Bada Isya': Tabligh Akbar di Masjid Baiturrahman PKT Bontang.

Bārakallāhu fiikum..
Pin It
16.06 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Jumat, 24 Oktober 2014

Ngobrol Dengan Seorang Nasrani

Ustadz DR Muhammad Arifin Badri, MA
Suatu hari di pejalanan pulang dari SOLO ke SURABAYA dengan kereta SANCAKA SORE, saya duduk di sebelah seorang nasrani.
Setelah duduk, saya segera menyapa bapak tersebut. Betapa terkejutnya dia, disapa oleh seorang laki laki berjenggot celana cingkrang.
Saya berusaha terus ngobrol dengannya, hingga akhirnya suasana pembicaraan benar benar cair dan ia mengaku bahwa ia beragama nasrani.
Pembicaraan kami berdua berlangsung sejak dari stasiun balapan solo dan baru berakhir di stasiun Gubeng surabaya.
Banyak hal yang kami bicarakan dan tentunya masalah agama dan idiologi.
Diantara yang ia sampaikan kepada saya adalah keterkejutan dirinya disapa oleh lelaki berjenggot dan celana cingkrang.
Dan sayapun menjelaskan bahwa agama islam mengajarkan ummatnya untuk berbuat baik kepada siapapun bahkan kepada hewan. Islam merestui ummatnya berbuat baik kepada orang kafir asalkan orang kafir itu tidak meremehkan atau melecehkan agama Islam, apalagi sampai memusuhinya.
Saya ramah dengan bapak semacam ini asalkan bapak tidak menyinggung keyakinan saya.
Diantara hal yang ia sampaikan kepada saya; adalah kekecewaannya kepada masyarakat Bali yang menyembah patung bahkan benda atau makhluk hina semisal ular dan lainnya. Menurutnya perilaku itu tidak masuk akal dan bertentangan dengan kodrat atau akal sehat manusia.
Mendengar ucapan tersebut, saya merasa mendapat kesempatan untuk mendakwahinya. Segera saya menimpali ucapan bapak itu dengan berkata: benar pak, karena itulah saya enggan untuk pergi ke Bali, walaupun sudah beberapa kali diundang untuk menyampaikan dakwah di sana.
Perilaku mereka benar benar tidak masuk di akal, masak tuhan berupa benda mati, makhluk yang hina seperti sapi, ular dan yang serupa. Bukankah hewan hewan seperti sapi bisa mati dan DIBUNUH?
Masukkah di akal tuhan bisa DIBUNUH oleh manusia? Lah bila tuhannya bisa dibunuh dan mati lalu siapa yang LEBIH PANTAS MENJADI TUHAN yang membunuh atau yang dibunuh?
Ucapan saya ini bertujuan MENYISIPKAN pesan kepada bapak tersebut, bahwa tuhan kok bisa mati bahkan dibunuh?
Pesan ini kembali saya tekankan ketika pembicaraan melebar hingga sampai pada tema teroris. Saya katakan kepada bapak tersebut: pak, Islam tidak mengajarkan tindak anarkis atau sembarangan membunuh orang hanya karena berbeda agama atau keyakinan.
Dahulu nabi kami Nabi Muhammad ﷺ di Madinah juga bermasyarakat dengan orang orang Yahudi.
Namun demikian saya sadar bahwa tuduhan islam mengajarkan terorisme adalah persepsi dan pendapat orang yang benci dan tidak kenal Islam, sehingga siapapun tidak mungkin bisa memaksakan mereka untuk berhenti membuat opini atau tuduhan tuduhan semacam itu.
Sejatinya bila kita pikirkan dengan baik, Kita semua harus sadar bahwa perilaku ekstrim dan anarkis seperti yang dituduhkan kepada Islam sejatinya telah terjadi sepanjang sejarah ummat manusia.
Kisah Habil dan Qabil menjadi salah satu buktinya. Bahkan tuhan yang bapak yakini yaitu Yesus, juga MENJADI KORBAN tindak anarkis. Tuhan bapak dimusuhi bahkan DIBUNUH dengan cara keji, disalib. Hingga saat ini ummat nasrani meratapi PEMBANTAIAN tuhan mereka yang dilakukan oleh ummat Yahudi.
Bila Yesus yang menurut bapak adalah TUHAN sedangkan menurut kami adalah seorang NABI saja tidak selamat dari tindak ekstrim dan anarkis, apalagi manusia biasa seperti kita ini.
Semoga pesan yang saya sisipkan dalam ingatan bapak di atas dapat membuka pintu hidayah dalam hatinya. Amiin.

Ngobrol Dengan Seorang Nasrani II
Diantara pembicaraan yang berlangsung antara saya dengan lelaki nasrani di kereta SANCAKA SORE adalah masalah Syi'ah.
Karena saya secara terencana berusaha menyusupkan pesan pesan dakwah dalam pembicaraan saya, maka nampaknya bapak tersebut ingin melakukan hal yang sama kepada saya. Karena itu dia menanyakan perihal PERPECAHAN yang terjadi di tengah tengah ummat Islam. Ada sekte AHMADIYAH dan juga ada sekte SYI'AH yang terus menimbulkan keributan di tengah tengah ummat Islam.
Mendapat pertanyaan semacam ini saya merasa dibukakan kesempatan lain untuk menitipkan pesan pada diri bapak tersebut.
Saya memulai jawaban dengan berkata: Ohh, masalah ini adalah masalah yang biasa terjadi di setiap ummat. Dan kondisi serupa terjadi pula pada ummat nasrani, ada ortodok, ada protestan dan ada pula sekte YEHUWA.
Sebagaimana ummat nasrani meyakini kesesatan sekte YEHUWA, maka demikian pula ummat islam meyakini kesesatan sekte AHMADIYAH DAN SYI'AH.
Sekte YEHUWA meyakini bahwa YESUS adalah manusia biasa, ia adalah seorang nabi bedanya menurut YEHUWA nabi isa adalah nabi terakhir, sedangkan kami UMMAT ISLAM meyakini bahwa nabi terakhir adalah NABI MUHAMMAD . YEHUWA juga meyakini bahwa Isa bukan tuhan, dan bukan pula anak tuhan. Mereka juga meyakini bahwa babi adalah haram, NYANYIAN GEREJA bukan ajaran nabi Isa, dan idiologi salib sesat karena nabi Isa 'alaihissalam tidak pernah dibunuh namun diangkat ke langit.
Sekte AHMADIYAH juga demikian halnya, mereka sesat karena meyakini bahwa mirza ghulam ahmad adalah nabi setelah nabi MUHAMMAD . Karena itu di negara asalnya, yaitu INDIA, PAKISTAN dan sekitarnya AHMADIYAH dianggap sebagai agama sendiri.
Sedangkan di negara kita ahmadiyah masih digolongkan sebagai bagian dari ummat ISLAM. inilah sejatinya yang menjadikan ummat Islam resah dan akhirnya timbul kerusuhan, karena idiologi ahmadiyah nyata nyata menyimpang dan menodai ajaran agama Islam.
Adapun SYI'AH, maka mereka juga sekte menyimpang, karena meyakini bahwa sejatinya yang berhak menjadi nabi adalah ALI BIN ABI THOLIB. Menurut mereka malaikat Jibril salah menyampaikan wahyu sehingga akhirnya nabi Muhammad  yang menjadi nabi.
Sebagaimana sekte syi'ah juga meyakini bahwa keluarga nabi dan sahabat sahabatnya telah berkhianat dan keluar dari agama Islam. Karena terlalu jauh penyimpangan idiologi Syi'ah, maka wajar bila keberadaan mereka di tengah tengah ummat Islam selalu menimbulkan keresahan.
Kalau ummat nasrani termasuk bapak meyakini bahwa sekte YEHUWA sesat karena alasan perbedaan yang sangat jauh dalam urusan idiologi maka alasan itu pula yang mendasari kami "ummat Islam" meyakini bahwa ahmadiyah dan syi'ah sesat.
Mendengar jawaban saya ini, bapak tadi segera berusaha mengalihkan pembicaraan ke tema lain. Bagi saya berganti tema pembicaraan tidak ada masalah karena menurut hemat saya, berbagai pesan telah berhasil saya sisipkan ke pikirannya. 
Semoga Allah membuka pintu hatinya untuka menerima hidayah.

Ngobrol Dengan Lelaki Nasrani III
Diantara hal yang diutarakan oleh lelaki nasrani tersebut kepada saya ialah perihal pilihannya beragama nasrani. Menurut penuturannya, ia telah berpindah pindah dari satu agama ke agama lain, dari hindu ke islam,lalu ke nasrani,ndan katanya ia hanya mendapatkan hatinya di agama nasrani.
Akunya, Selama mencoba beragama hindu dan islam ia sama tidak merasakan adanya ketenangan dalam dirinya alias jiwanya tetap merasa hampa, sehingga ia merasa mantap beragama nasrani.
Saya mendengarkan penuturannya hingga ia selesai bercerita dengan sesekali menimpalinya dengan berkata: ohhh, demikian ya pak?
Setelah ia selesai menceritakan pengalamannya berpindah pindah agama, giliran saya berkomentar.
Hal pertama yang saya ucapkan kepadanya adalah: pak, untuk urusan agama dan keyakinan bukan sekedar mantap, atau ketenangan, namun lebih pada urusan HIDAYAH alias PETUNJUK.
Karena itu sebaliknya juga banyak, betapa banyak orang nasrani yang berpindah agama ke islam dan mengaku bahwa selama pengalamannya menganut nasrani ia sama sekali tidak merasakan kedamaian dan selalu dalam kegersangan, hingga akhirnya Allah membuka pintu hatinya untuk memeluk Islam, dan akhirnya ia merasakan kedamaian.
Jadi kalau selama "mencoba" beragama islam bapak merasa tetap hampa, maka itu sejatinya Allah belum memberi hidayah atau belum membuka pintu hati bapak.
Karena bapak pasti menyadari bahwa agama kita sama sama disebut dengan agama samawi, alias berasalkan dari langit, alias bersumber dari Allah. Dengan demikian yang kuasa memberi hidayah atau membuka pintu hati adalah Allah. Berbeda dengan agama lainnya, yang berasalkan dari logika dan pengalaman pendirinya.
Diantara buktinya, dalam agama saya Islam, dan saya yakin dalam agama bapak juga sama, kita diajarkan untuk selalu berdoa memohon petunjuk alias hidayah kepada Allah. Andai urusan agama bergantung pada kenyamanan atau ketenangan semata, maka apalah artinya kita diajarkan untuk selalu berdoa memohon petunjuk kepada Allah?
Ditambah lagi, tidak merasakan ketenangan banyak faktornya, diantaranya karena bapak belum memahami seutuhnya agama yang bapak anut dengan sebenarnya. Betapa banyak orang yang beragama hanya mengenal lahirnya alias kulitnya namun belum memahaminya secara utuh, apalagi mengamalkannya secara sempurna.
Karena itu dalam Al Qur'an, kitab suci kami, ada perintah agar kita masuk alias menjalankan agama Islam secara menyeluruh.

(ادخلوا في السلم كافة)

Masuklah engkau semua ke dalam islam secara menyeluruh.
Agama saya, yaitu Islam bukan hanya mengatur urusan ibadah, namun seluruh aspek kehidupan kita juga diatur. Bahkan ayat terpanjang dalam kitab suci kami bukan yang mengatur urusan ibadah praktis, namun ayat yang berkaitan dengan aturan hutang piutang dan bagaimana tata cara membuat alat bukti.
Selanjutnya untuk menyisipkan pesan pada diri bapak itu, saya bertanya kepada bapak itu, dengan berkata: oh iya pak, bagaimana dengan agama nasrani, adakah aturan tentang perniagaan, rumah tangga, hukum pidana atau perdata?
Saya bertanya demikian, karena saya tahu bahwa dalam agama nasrani tidak ada aturan tentang aspek aspek kehidupan di atas.
Nampaknya bapak itu tidak menduga akan saya tanya demikian, sehingga ia agak terkejut' sehingga kikuk menjawab pertanyaan saya. Ia hanya menjawab: oh ya tentu saja ada. Padahal nyatanya -sebatas yang saya pelajari- tidak ada satu ayatpun dalam kitab Injil atau Taurat ( perjanjian baru atau lama) yang mengatur urusan urusan tersebut.

Ngobrol Dengan Lelaki Nasrani IV
Diantara yang saya bicarakan dengan bapak tua nasrani di kereta SANCAKA SORE selama perjalanan dari Solo menuju ke Surabaya ialah berbagai masalah tentang ekonomi.
Bapak itu memperkenalkan dirinya sebagai seorang pengusaha elevator, karena itu tema seputar perdagangan tidak luput dari pembicaraan kami berdua. Ia menyatakan bahwa pemerintah kita gagal dalam membangun perekonomian, sehingga produk dalam negri banyak yang gulung tikar hingga akhirnya kebanyak produsen kita beralih status sebagai pedagang atau agen produk luar negri alias importir saja.
Pasar kita dibanjiri oleh produk produk murahan dari negri tirai bambu dan lainnya, menggantikan produk produk bermutu yang dihasilkan oleh anak bangsa.
Mendengar penuturan bapak tadi, saya menimpalinya dengan berkata, benar pak, perekonomian kita maju pesat, padahal negara negara maju saat ini sedang limbung perekonomiannya. Akibatnya banyak perusahaan dan investor mereka yang berbondong bondong ke negri kita.
Kehadiran investor asing dan produk asing benar benar menjadi ancaman bagi kita, karena fundamental perekonomian kita rapuh. Dan menurut hemat saya ada beberapa faktor yang menjadikan kita mengalami hal ini:
1) idiologi kita rapuh, yang mengakibatkan masyarakat kita tidak loyal kepada produk negara sendiri. Alih alih loyal, masyarakat kita masih bermental bangsa terjajah, merasa bangga bila menggunakan produk luar negri dan sebaliknya risih alias kurang pede atau rendah diri bila menggunakan produk dalam negri.
2) Banyak pengusaha kita yang tergiur untuk ekspor luar negri, sedangkan pasar dalam negri belum ia optimalkan. Karena itu ketika pasar luar negri mengalami kelesuan, maka pengusaha kita banyak yang tumbang, karena di dalam belum kuat dan di luar lesu. Sedangkan pengusaha luar negri telah mencapai titik jenuh di dalam negrinya sana, baru menggarap pasar luar negri. Akibatnya mereka berpesta dengan pasar kita sedangkan kita harus tersingkir di negri sendiri.
3) Negara kita terus berupaya menstabilkan nilai tukar dolar, sedangkan negara barat tidak terlalu terbebani dengan masalah kurs nilai tukar dolar. Padahal sektor keuangan inilah sejatinya yang selama ini menjadi beban bagi perekonomian kita. Krisis ekonomi 1997-1998 menjadi buktinya. Produksi bagus, dan konsumsi masyarakat bagus namun perekonomian negara kita hancur, akibat dari rapuhnya dunia perbankan kita.
Karena itu dalam sistem ekonomi Islam, sektor keuangan, jual beli mata uang diwaspadai dan harus mengikuti persyaratan yang sangat ketat, karena berlaku padanya hukum hukum riba.
Pertukaran valuta asing dalam islam harus dilakukan secara tunai dan benar benar terjadi serah terima fisik, bukan sekedar simbolik. Dengan demikian mata uang tetap berada pada perannya yang sejati yaitu sebagai alat transaksi dan bukan sebagai obyek transasksi. Mata uang dalam sistem ekonomi islam berperan sebagai pelicin perekonomian agar dapat berputar dengan mudah, sedangkan obyek ekonomi yang sebenarnya ialah barang dan jasa.
Namun kini masyarakat kita telah menjadikan sarana ekonomi yaitu mata uang sebagai obyek ekonomi yang diperdagangkan dengan bebas. Sehingga perputaran uang melebihi kebutuhan dan melebihi perputaran barang dan jasa. Akibatnya terjadilah kekacauan ekonomi, yang kaya semakin kaya sedangkan yang kecil terus bertambah kecil.
Karena itu banyak pengusaha besar yang berlomba lomba mendirikan atau memiliki bank, guna mengumpulkan dana masyarakat. Dan bila dana masyarakat telah terkumpul di banknya, para pengusaha tersebut dapat menggunakannya untuk membeli kekayaan/aset masyarakat, yang kemudian dijual ulang kepada masyarakat, dan demikian seterusnya.
Para pengusaha kelas "paus" tersebut melalui bank-nya dapat mengumpulkan dana segar bermilyar milyar bahkan bertrilyun trilyun rupiah yang tentunya dapat mereka gunakan untuk membiayai usaha mereka. Sedangkan masyarakat yang banting tulang dan peras keringat harus merasa puas hanya dengan mendapatkan buku tabungan dan kartu ATM.
Inilah sekelumit kejamnya sistem ekonomi kapitalis yang kita jalani saat ini. Dan sistem semacam inilah yang dimaksudkan dan diperangi pada ayat berikut :

كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنكُمْ

Agar harta kekayaan itu tidak hanya berputar diantara orang orang kaya dari kalian saja. ( QS Al Hasyr: 7)
Mendengar jawaban saya ini, bapak tersebut sedikit terkejut, dan segera mengalihkan pembicaraan ke tema lainnya.

Ngobrol Dengan Seorang Nasrani V
Diantara tema pembicaraan yang saya bicarakan dengan teman duduk seorang nasrani di kereta SANCAKA SORE ialah tentang pendidikan anak.
Bapak tersebut menceritakan perihal pengalaman hidupnya yang hanya lulusan sekolah dasar, namun untuk urusan kemampuan inteligensi dan pengetahuannya tidak kalah dengan lulusan perguruan tinggi. Bahkan pada prakteknya, ketika mengerjakan proyek pengerjaan elevator, sering kali ia mampu mengerjakan dan menyelesaikan masalah masalah yang tidak dapat dilakukan oleh seorang sarjana.
Ia menuturkan bahwa dirinya memiliki keuletan, dan semangat bekerja yang tetap berkobar walau telah berkepala enam alias berumur lebih dari enam puluh tahun. Ia memulai bisnisnya dari nol, diawali dari seorang kuli yang haus akan pengalaman dan penuh dengan rasa ingin tahu.
Ia mengeluhkan pendidikan kondisi anak muda zaman sekarang yang cengeng, lemah mental namun banyak bertingkah ( sok hebat ).
Setelah sekian banyak tentang perjalanan hidupnya mencari pengalaman dan pengetahuan, dan saya hanya mendengarkan dan sesekali menimpalinya, maka tiba saatnya saya berkomentar.
Saya memulai komentar saya dengan berkata : pendidikan yang ada saat ini lebih menekankan pada pengembangan pengetahuan semata. Adapun pendidikan perilaku apalagi moral ( akhlaq ) maka benar benar jauh dari dunia pendidikan kita saat ini.
Bahkan kebanyakan orang tua saat ini tanpa sadar menjadikan anak anaknya menjadi seperti yang bapak sampaikan, malas, lemah mental dan hidup foya foya.
Banyak orang tua yang berkata kepada anaknya; nak, kamu fokus belajar saja, ndak usah ikut bekerja bersama ayah atau ibu. Ayah atau ibu lebih bangga bila engkau mendapat nilai 100 dibanding bisa masak atau menanam atau ikut menjaga toko atau mengerjakan pekerjaan ini dan itu.
Banyak orang tua beranggapan bahwa masa depan anaknya akan moncer bila anaknya selalu mendapatkan nilai 100 di sekolahnya.
Pemikiran semacam ini menurut hemat saya menyelisihi fakta, karena untuk urusan masa depan alias pekerjaan apalagi penghasilan tidak identik dengan pendidikan. Betapa banyak orang yang rendah pendidikannya atau lemah ketika sekolah, namun berkat keuletan dan semangat kerjanya yang bak baja "sukses" menjadi orang kaya raya.
Fakta membuktikan bahwa urusan rejeki adalah urusan karunia Allah, bukan urusan pendidikan. Karena itu makhluk makhluk lain seperti burung misalnya, tidak pernah menempuh pendidikan namun hidup bahagia. Bahkan burung sering kali dijadikan simbol sukses manusia; betapa banyak manusia yang merasa bahwa di antara indikator orang sukses ialah bila telah mampu memiliki beraneka ragam burung yang mampu berkicau bagus. Mungkinkah manusia kalah dengan burung?
Burung di pagi hari riang gembira, karena itu biasanya burung burung berkicau di pagi hari, dan ketika matahari telah mulai terik semua burung diam dan sibuk bekerja mencari makan. Dan bila sore hari telah tiba, maka kembali burung berkicau riang sebagai gambaran akan rasa syukur dan kepuasan dengan apa yang telah mereka dapatkan.
Setahu saya juga tidak ada burung yang membuat lumbung atau menimbun. Sebagaimana tidak ada burung yang memakan makanan burung lainnya. Yang makanannya biji bijian, maka tidak akan makan pisang, dan yang makanannya pisang tidak akan memakan madu bunga dan demikian seterusnya.
Dan bila malam hari tiba semua burung beristirahat , tidak bekerja dan tidak pula berkicau. Setahu saya hanya burung "HANTU" yang bekerja di malam hari.
Kondisi ini sangat berbeda dengan manusia, betapa banyak manusia yang bekeja lembur, siang berlanjut malam. Walau demikian tetap saja merasa belum cukup, pesimis terhadap masa depan, sehingga perlu mengikuti berbagai program asuransi, dan banyak yang menghalalkan segala macam cara untuk mengeruk penghasilan lalu menimbunnya.
Betapa banyak manusia yang menghalalkan segala macam cara untuk mengeruk pendapatan, termasuk merebut hak orang lain. Walau demikian kita masih merasa kekurangan dan dirundung kekhawatiran akan hari esok. Karena itu, nabi Muhammad ﷺ memotifasi ummat Islam dengan bersabda:

لو أنكم تتوكلون على الله حق توكله، لرزقكم كما يرزق الطير، تغدو خماصا وتروح بطانا
Jikalau kalian benar benar bertawakkal (berserah diri) kepada Allah, niscaya Allah melimpahkan rejeki kepadamu sebagaimana Allah memberikan rejeki kepada burung, yang di pagi hari keluar dari sangkarnya dalam kondisi lapar dan di sore hari pulang lagi ke sangkarnya dalam kondisi kenyang. ( Ahmad dll )
Karena itu, untuk urusan pendidikan, sepatutnya kita meluaskan arti pendidikan kita, sehingga mencakup pendidikan mental, kecerdasan pikiran alias ilmu pengetahuan dan juga kecakapan perilaku, dan tidak kalah penting mencakup pendidikan idiologi atau iman.
Dikisahkan bahwa suatu hari ada seorang wanita di depan Nabi Muhammad ﷺ memanggil putranya, dengan berkata: nak, kemarilah, aku akan memberimu sesuatu.
Mendengar panggilan wanita itu, Nabi ﷺ bertanya kepada wanita itu: apa yang hendak engkau berikan kepadanya? Wanita itu menjawab: aku hendak memberinya sebiji kurma. Rasulullah ﷺ menimpali jawaban wanita itu dengan bersabda:

أما إنك لو لم تفعلي كتبت عليك كذبة
Ketahuilah bahwa: jika engkau tidak memberinya apapun, maka ucapanmu ini telah dicatat sebagai satu kedustaan. (HR Ahmad dan lainnya)
Di negri kita, bahkan di keluarga kita, pendidikan hanya dikaitkan dengan ilmu pengetahuan semata. Adapaun moral, akhlaq, apalagi keimanan benar benar telah di abaikan. Maka itu lahirlah generasi seperti yang bapak keluhkan.
Berkaitan dengan pekerjaan, islam mengajarkan bahwa kita harus bersikap mulia dan produktif, sehingga mampu memenuhi kebutuhan sendiri dan bahkan mampu menyantuni orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ، فَيَحْطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ، فَيَتَصَدَّقَ بِهِ وَيَسْتَغْنِيَ بِهِ مِنَ النَّاسِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلًا، أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَهُ ذَلِكَ، فَإِنَّ الْيَدَ الْعُلْيَا أَفْضَلُ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

Bila Engkau pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar lalu engkau memikulnya, dan dari hasil penjualannya engkau bersedekah dan tentunya mencukupi kebutuhanmu sendiri sehingga tidak butuh kepada uluran tangan orang lain, maka itu lebih baik dari pada engkau meminta minta kepada orang lain, baik orang itu memberimu atau menolak permintaanmu. Sejatinya tangan yang berada di atas lebih baik dibanding tangan yang di bawah. Dan untuk urusan nafkah, maka mulailah dari orang yang menjadi tanggung jawabmu. ( Muttafaqun alaih)

Ngobrol Dengan Seorang Nasrani VI
Diantara yang saya obrolkan dengan lelaki nasrani di kereta SANCAKA SORE seputar banyaknya tokoh muslim yang korupsi. Banyak pejabat muslim yang nota bene adalah ahli agama, namun akhir dari karirnya mendekam di penjara karena korupsi. Demikian lelaki nasrani itu mengeluhkan sebagian dari bobroknya negri ini, akibat dari merajalelanya praktek korupsi.
Nampaknya, lelaki itu tidak lagi mampu menguasai emosinya, sehingga ia lebih lugas mengutarakan pandangannya yang negatif tehadap Islam dan ummatnya.
Mendengar serangan yang sangat menohok ini, saya berusaha untuk tetap tenang dan menguasai emosi saya, hingga lelaki itu benar-benar meluapkan isi hatinya dan selesai dari ucapannya.
Menanggapi serangan balik dari lelaki itu, saya mulai menyusun jawaban dari yang paling ringan dan simpel. Saya berkata kepadanya: pak, apa yang bapak utarakan benar adanya, saya tidak memungkiri apalagi membela diri. Namun bapak perlu menyadari bahwa apa yang bapak utarakan di atas adalah bagian dari konsekwensi bapak tinggal di negri dengan mayoritas penduduknya yang beragama Islam.
Bila bapak ingin mengetahui dan merasakan bagaimana hidup di negri yang koruptor dan penjahatnya dari ummat nasrani, maka silahkan tinggal di negri yang penduduknya didominasi oleh ummat Nasrani. Di sana bapak pasti mendapatkan bahwa kebanyakan koruptor dan penjahatnya dari ummat nasrani dan bukan dari ummat Islam.
Dari sisi lain, bapak juga harus sadar bahwa kebanyakan pejuang atau pahlawan dan orang-orang baik di negri ini juga dari umat Islam, bukan dari ummat Nasrani.
Fakta ini mengharuskan kita berpikir bijak dan adil serta jauh dari emosi pribadi yang menyebabkan kita berpikir sempit. Karena itu, menurut saya agama kita tidaklah mengajarkan ummatnya untuk berbuat jahat, hanya saja dari ummat islam sebagaimana juga ummat nasrani ada oknum oknum yang berbuat jahat.
Perilaku oknum ummat Islam bukanlah cermin apalagi mewakili agama Islam. Sebagaimana perilaku ummat nasrani belum tentu mencerminkan atau mewakili ajaran nasrani. Sebagai contohnya: sebatas yang saya ketahui, tuhan yang bapak sembah yaitu Yesus atau menurut kami adalah nabi Isa 'alaihissalam berjenggot lebat. Paling kurang demikianlah yang tergambar pada berbagai patung atau poster Yesus.
Namun demikian, saya heran mengapa ummat nasrani di berbagai belahan dunia tidak berjenggot. Kondisi ini menjadikan saya bertanya tanya: ada apa, mungkinkah ummat nasrani tidak meneladani tuhannya ataukah tuhannya yang salah dalam berpenampilan.
Dari sisi lain, bapak juga harus memahami bahwa Islam diturunkan agar menjadi pedoman hidup ummat manusia yang harus diamalkan secara sadar bukan dengan paksaan. Karena itu manusia dibekali dengan akal sehat agar dapat memahami, memikirkan dan membandingkan.
Dengan demikian ummat manusia dapat membedakan antara yang baik dari yang buruk, dan selajutnya memilih yang baik dan menjauhi yang buruk. Adapun bila masih tetap ada orang yang memilih perilaku buruk maka islam juga telah memiliki berbagai solusinya. Pencuri di potong tangannya, pembunuh dibalas dengan dibunuh, dan demikian seterusnya. Dan kelak di akhirat Allah menyiapkan siksa di neraka sebagai balasan atas amalan buruknya.
Apa yang bapak utarakan sejatinya adalah bagian dari keindahan Islam yang tidak mengenal kultus atau fanatik buta. Siapapun yang berbuat jahat maka ia harus menanggung akibat dari ulahnya. Karena itu dahulu nabi Muhammad ﷺ bersabda:

( إنما أهلك الذين قبلكم أنهم كانوا إذا سرق فيهم الشريف تركوه وإذا سرق فيهم الضعيف أقاموا عليه الحد وايم الله لو أن فاطمة بنت محمد سرقت لقطعت يدها )

Sejatinya yang menyebabkan ummat-ummat sebelum kalian mengalami kehancuran ialah sikap mereka yang pilih kasih. Bila yang mencuri adalah orang terhormat alias bangsawan maka mereka membiarkannya. Namun bila yang mencuri adalah rakyat jelata, maka menerak menegakkan hukum pidana kepadanya. Sungguh demi Allah, andai Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya. (Muttafaqun ‘alaih)
Mendengar jawaban saya ini lelaki itu berkata: benar, saat ini yang ada adalah pilih kasih dan perilaku yang berstandar ganda. Akibatnya terjadi kekacauan dan hilangnya kepastian hukum di negri ini.
Sobatku! Sejatinya masih banyak tema yang saya bicarakan dengan lelaki nasrani itu. Kami berdiskusi sejak dari stasiun Solo Balapan Hingga tiba di stasiun Gubeng, sekitar 4,5 jam lamanya. Namun karena berbagai hal, maka saya cukupkan sampai di sini saja yang perlu saya ceritakan, semoga pengalaman saya ini bermanfaat bagi antum sekalian, dan semoga Allah Ta’ala melimpahkan istiqamah dan husnul khatimah kepada kita semua, amiin.
Pin It
15.26 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Rabu, 22 Oktober 2014

Mutiara Sayyidul Istighfar

Nabi ﷺ mengajarkan sayyidul istighfar..
Allahumma anta Rabbi.. Laa ilaaha illa anta kholaqtani..
Sampai: abuu laka bini'matika 'alayya wa abuu bidzanbii..

Aku kembali kepadaMu dengan kenikmatanMu kepadaku..
Dan aku kembali dengan membawa dosaku..

Renungkanlah..
Menyaksikan Nikmat..
Pengakuan Dosa..

Sebuah mutiara yang amat berharga..
Syaikhul Islam ibnu Taimiyah berkata..
Seorang hamba berjalan kepada Allah antara menyaksikan ni'mat dan melihat aib diri..

Menyaksikan ni'mat menimbulkan cinta, pujian dan rasa syukur..
Dan melihat aib diri menimbulkan penghinaan diri, ketundukan dan taubat..

(Shahih Al Wabil Ash Shayyib hal 16-17).

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى
Sumber: Grup BBM
Pin It
17.39 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Panduan Istikharah Sesuai Sunnah

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي قَالَ وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari kami istikharah dalam setiap urusan yan kami hadapi sebagaimana beliau mengajarkan kami suatu surah dari Al-Qur’an. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seorang dari kalian menghadapi masalah maka ruku’lah (shalat) dua raka’at yang bukan shalat wajib kemudian berdo’alah: 
Allahumma inniy astakhiiruka bi ‘ilmika wa astaqdiruka biqudratika wa as-aluka min fadhlikal ‘azhim, fainnaka taqdiru wa laa aqdiru wa ta’lamu wa laa ‘Abdullah’lamu wa anta ‘allaamul ghuyuub. Allahumma in kunta ta’lamu anna haadzal amru khairul liy fiy diiniy wa ma’aasyiy wa ‘aaqibati amriy” atau; ‘Aajili amriy wa aajilihi faqdurhu liy wa yassirhu liy tsumma baarik liy fiihi. Wa in kunta ta’lamu anna haadzal amru syarrul liy fiy diiniy wa ma’aasyiy wa ‘aaqibati amriy” aw qaola; fiy ‘aajili amriy wa aajilihi fashrifhu ‘anniy washrifniy ‘anhu waqdurliyl khaira haitsu kaana tsummar dhiniy.”
(Ya Allah aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmuMu dan memohon kemampuan dengan kekuasaan-Mu dan aku memohon karunia-Mu yang Agung. Karena Engkau Maha Mampu sedang aku tidak mampu, Engkau Maha Mengetahui sedang aku tidak mengetahui, Engkaulah yang Maha Mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini baik untukku, bagi agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku ini -atau beliau bersabda: di waktu dekat atau di masa nanti- maka takdirkanlah buatku dan mudahkanlah kemudian berikanlah berkah padanya. Namun sebaliknya ya Allah, bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk untukku, bagi agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku ini -atau beliau bersabda: di waktu dekat atau di masa nanti- maka jauhkanlah urusan dariku dan jauhkanlah aku darinya. Dan tetapkanlah buatku urusan yang baik saja dimanapun adanya kemudian jadikanlah aku ridha dengan ketetapan-Mu itu”. Beliau bersabda: “Dia sebutkan urusan yang sedang diminta pilihannya itu”. (HR. Al-Bukhari no. 1162)
Cara menyebutkan urusannya misalnya: Ya Allah, jika engkau mengetahui bahwa safar ini atau pernikahan ini atau usaha ini atau mobil ini baik bagiku …, dan seterusnya.
Penjelasan ringkas:
Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang sangat lemah, mereka sangat membutuhkan bantuan dari Allah Ta’ala dalam semua urusan mereka. Hal itu karena dia tidak mengetahui hal yang ghaib sehingga dia tidak bisa mengetahui mana amalan yang akan mendatangkan kebaikan dan mana yang akan mendatangkan kejelekan bagi dirinya. Karenanya, terkadang seseorang hendak mengerjakan suatu perkara dalam keadaan dia tidak mengetahui akibat yang akan lahir dari perkara tersebut atau hasilnya mungkin akan meleset dari perkiraannya.
Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mensyariatkan adanya istikharah, yaitu permintaan kepada Allah agar Dia berkenan memberikan hidayah kepadanya menuju kepada kebaikan. Yang mana doa istikharah ini dipanjatkan kepada Allah setelah dia mengerjakan shalat sunnah dua rakaat.
Allah Ta’ala berfirman:
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ. وَرَبُّكَ يَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ.  وَهُوَ اللَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَى وَالْآخِرَةِ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan. Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kalian dikembalikan.” (QS. Al-Qashash: 68-70)
Imam Muhammad bin Ahmad Al-Qurthuby rahimahullah berkata, “Sebagian ulama mengatakan: Tidak sepantasnya bagi seseorang untuk mengerjakan suatu urusan dari urusan-urusan dunia kecuali setelah dia meminta pilihan kepada Allah dalam urusan tersebut. Yaitu dengan dia shalat dua rakaat shalat istikharah.” (Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur`an: 13/202)
Shalat istikharah termasuk dari shalat-shalat sunnah berdasarkan kesepakatan para ulama. Al-Hafizh Al-Iraqi berkata -sebagaimana dalam Fath Al-Bari (11/221-222), “Saya tidak mengetahui ada ulama yang berpendapat wajibnya shalat istikharah.”
Faidah:
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Al-Fath (11/220), “Ibnu Abi Hamzah berkata: Amalan yang wajib dan yang sunnah tidak perlu melakukan istikharah dalam melakukannya, sebagaimana yang haram dan makruh tidak perlu melakukan istikharah dalam meninggalkannya.
Maka urusan yang butuh istikharah hanya terbatas pada perkara yang mubah dan dalam urusan yang sunnah jika di depannya ada dua amalan sunnah yang hanya bisa dikerjakan salah satunya, mana yang dia kerjakan lebih dahulu dan yang dia mencukupkan diri dengannya.” Maka janganlah sekali-kali kamu meremehkan suatu urusan, akan tetapi hendaknya kamu beristikharah kepada Allah dalam urusan yang kecil dan yang besar, yang mulia atau yang rendah, dan pada semua amalan yang disyariatkan istikharah padanya. Karena terkadang ada amalan yang dianggap remeh akan tetapi lahir darinya perkara yang mulia.”
Berikut beberapa permasalahan yang sering ditanyakan berkenaan dengan istikharah:
1.    Apakah boleh istikharah dengan doa selain doa di atas atau dengan bahasa Indonesia?
Jawab: Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu berkata dalam hadits di atas, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari kami istikharah dalam setiap urusan yang kami hadapi sebagaimana beliau mengajarkan kami suatu surah dari Al-Qur’an.”
Ucapan ini menunjukkan bahwa dalam istikharah seseorang hanya boleh membaca doa di atas sesuai dengan konteks aslinya, tidak boleh ada penambahan dan tidak boleh juga ada pengurangan. Hal itu karena Nabi shallallahu alaihi wasallam menyerupakan pengajaran istikharah seperti pengajaran surah Al-Qur`an. Maka sebagaimana suatu ayat dalam Al-Qur`an tidak boleh ditambah atau dikurangi atau dirubah maka demikian halnya dengan doa istikharah. Karenanya tidak boleh berdoa dengan membaca terjemahannya semata, tapi dia harus membacanya sebagaimana Nabi mengajarkannya.
Barangsiapa yang berdoa dengan terjemahannya maka dia tidak teranggap melakukan istikharah, akan tetapi dia hanya dianggap sedang berdoa kepada Allah. Hal ini telah diisyaratkan oleh Muhammad bin Abdillah bin Al-Haaj Al-Maliki rahimahullah dalam Al-Madkhal (4/37-38)
2.    Apakah boleh langsung berdoa dengan doa di atas tanpa melakukan shalat sebelumnya?
Jawab: Wallahu a’lam, yang nampak bahwa 2 rakaat dengan doa ini merupakan satu kesatuan dalam istikharah. Karenanya barangsiapa yang hanya berdoa tanpa mengerjakan shalat maka dia tidak dianggap mengerjakan istikharah yang tersebut dalam hadits ini. Walaupun dia tetap dianggap sebagai orang yang berdoa kepada Allah.
Akan tetapi jika dia ada uzur dalam mengerjakan shalat -misalnya wanita yang tengah haid atau nifas-, maka dia boleh langsung berdoa dan itu sudah dianggap sebagai istikharah karenanya adanya uzur untuk tidak mengerjakan shalat. Ini merupakan mazhab Al-Hanafiah, Al-Malikiah, dan Asy-Syafi’iyah.
Imam An-Nawawi berkata dalam Al-Adzkar hal. 112,“Jika dia tidak bisa mengerjakan shalat karena ada uzur, maka hendaknya dia cukup beristikharah dengan doa.”
3.    Apakah dua rakaat ini merupakan shalat khusus, ataukah berlaku untuk semua shalat sunnah dua rakaat?
Jawab: Lahiriah hadits menunjukkan ini merupakan shalat dua rakaat khusus dengan niat untuk istikharah. Hanya saja jika seseorang shalat sunnah rawatib dengan niat rawatib sekaligus niat istikharah (menggabungkan niat), maka itu sudah cukup baginya dan dia sudah boleh langsung berdoa setelahnya.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Jika dia meniatkan shalat itu dengan niatnya dan dengan niat shalat istikharah secara bersamaan (menggabungkan niatnya, pent.) maka shalatnya itu sudah syah dianggap sebagai istikharah, berbeda halnya jika dia tidak meniatkannya (sebagai shalat istikharah).” (Fath Al-Bari: 11/221)
Sekedar menguatkan isi hadits, bahwa dua rakaat yang dimaksud haruslah merupakan shalat sunnah. Karenanya shalat subuh tidak bisa diniatkan sebagai shalat istikharah karena dia merupakan shalat wajib.
4.    Adakah surah khusus yang disunnahkan untuk dibaca dalam shalat istikharah?
Jawab: Al-Hafizh Al-Iraqi rahimahullah berkata, “Saya tidak menemukan sedikitpun dalam jalan-jalan hadits istikharah adanya penentuan surah tertentu yang dibaca di dalamnya.” (Umdah Al-Qari`: 7/235)
Inilah pendapat yang benar karena tidak ada satupun dalil yang menunjukkan adanya surah tertentu yang lebih utama dibaca dalam shalat istikharah. Sementara tidak boleh menentukan lebih utamanya suatu surah dibandingkan yang lainnya dari sisi bacaan kecuali dengan dalil yang shahih.
5.    Bagi yang tidak menghafal doanya, apakah dia bisa membacanya dari sebuah buku?
Jawab: Yang jelas, yang pertama kita katakan:Hendaknya dia berusaha semaksimal mungkin untuk menghafalnya.
Jika dia tidak sanggup, maka Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan kemampuannya. Dalam keadaan seperti ini dia diperbolehkan membaca doa ini dengan melihat kepada kitab atau catatannya. Al-Lajnah Ad-Da`imah menjawab ketika diajukan pertanyaan yang senada dengan di atas, “Jika engkau menghafal doa istikharah atau engkau membacanya dari kitab, maka tidak ada masalah. Hanya saja kamu wajib bersungguh-sungguh dalam berkonsentrasi dan khusyu’ kepada Allah serta jujur dalam berdoa.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah: 8/161)
6.    Bolehkah shalat istikharah pada waktu yang terlarang shalat?
Jawab: Jika shalat istikharahnya masih bisa ditunda hingga keluar dari waktu yang terlarang maka inilah yang lebih utama dia kerjakan. Akan tetapi shalat istikharah ini jika tidak bisa diundur atau dia butuhkan saat itu juga, maka dia boleh mengerjakannya saat itu juga walaupun pada waktu yang terlarang. Karena jika shalat istikharah itu dibutuhkan secepatnya, maka jadilah dia shalat sunnah yang disyariatkan karena adanya sebab, sementara sudah dimaklumi bahwa waktu-waktu terlarang shalat ini tidak berlaku pada shalat-shalat sunnah yang mempunyai sebab, seperti tahiyatul masjid, shalat sunnah wudhu, dan semacamnya.
Bolehnya shalat sunnah yang mempunyai sebab dikerjakan pada waktu-waktu terlarang merupakan mazhab Imam Asy-Syafi’i dan sebuah riwayat dari Imam Ahmad, serta pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah. (Lihat Majmu’ Al-Fatawa: 23/210-215)
7.    Apa yang dia lakukan setelah istikharah?
Jawab: Sebelumnya butuh diingatkan bahwa sebelum melakukan istikharah hendaknya dia mengosongkan hatinya dari kecondongan kepada salah satu urusan dari dua urusan yang dia akan mintai pilihan (tidak berpihak kepada satu pilihan). Akan tetapi hendaknya dia melepaskan diri dari semua pilihan tersebut dan betul-betul pasrah menyerahkan nasibnya dan pilihannya kepada Allah Ta’ala.
Imam Al-Qurthuby berkata, “Para ulama menyatakan: Hendaknya dia mengosongkan hatinya dari semua pikiran (berkenaan dengan urusan yang akan dia hadapi) agar hatinya tidak condong kepada salah satu urusan (sebelum dia istikharah).” (Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur`an: 13/206)
Kemudian, setelah dia melakukan istikharah, maka hendaknya dia memilih untuk mengerjakan apa yang hendak dia lakukan dari urusan yang tadinya dia minta pilihan padanya. Jika urusan itu merupakan kebaikan maka insya Allah Allah akan memudahkannya dan jika itu merupakan kejelekan maka insya Allah Allah akan memalingkannya dari urusan tersebut.
Muhammad bin Ali Az-Zamlakani rahimahullah berkata,
“Jika seseorang sudah shalat istikharah dua rakaat untuk suatu urusan, maka setelah itu hendaknya dia mengerjakan urusan yang dia ingin kerjakan, baik hatinya lapang/tenang dalam mengerjakan urusan itu ataukah tidak, karena pada urusan tersebut terdapat kebaikan walaupun mungkin hatinya tidak tenang dalam mengerjakannya.” Dan beliau juga berkata, “Karena dalam hadits (Jabir) tersebut tidak disebutkan adanya kelapangan/ketenangan jiwa.” (Thabaqat Asy-Syafi’iah Al-Kubra: 9/206) Maksudnya: Dalam hadits Jabir di atas tidak disebutkan bahwa hendaknya dia mengerjakan apa yang hatinya tenang dalam mengerjakannya, wallahu a’lam.
Karenanya, termasuk khurafat adalah apa yang diyakini oleh sebagian orang bahwa: Siapa yang sudah melakukan istikharah maka dia tidak melakukan apa-apa hingga mendapatkan mimpi yang baik atau mimpi yang akan mengarahkannya dan seterusnya. Ini sungguh merupakan perbuatan orang yang jahil tatkala dia menyandarkan urusannya pada sebuah mimpi, wallahul musta’an.
8.    Jika hatinya masih ragu-ragu atau hatinya belum mantap dalam mengerjakan urusan yang tadinya dia sudah beristikharah untuknya. Apakah dia boleh mengulangi shalat istikharahnya?
Jawab: Boleh berdasarkan beberapa dalil di antaranya:
1.    Istikharah merupakan doa, dan di antara kebiasaan Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam berdoa adalah mengulanginya sebanyak tiga kali.
Hadits ini kami bawakan bukan untuk menunjukkan shalat istikharah diulang sebanyak tiga kali, akan tetapi hanya untuk menunjukkan bolehnya mengulangi doa.
2.    Shalat istikharah adalah shalat yang disyariatkan karena adanya sebab. Karenanya, selama sebab itu masih ada dan belum hilang maka tetap disyariatkan mengerjakan shalat ini.
Inilah yang dipilih oleh sejumlah ulama di antanya: Imam Badruddin Al-Aini dalam Umdah Al-Qari` (7/235), Ali Al-Qari dalam Mirqah Al-Mafatih (3/406), dan Imam Asy-Syaukani dalam Nailul Authar (3/89).
9.    Haruskah shalat istikharah dikerjakan di malam hari?
Jawab: Dalam hadits di atas tidak ada keterangan waktu pengerjaannya. Karena shalat ini bisa dikerjakan kapan saja baik siang maupun malam hari. Barangsiapa yang meyakini shalat ini hanya bisa dikerjakan di malam hari maka keyakinannya ini keliru. Walaupun tentunya jika dia mengerjakannya pada waktu-waktu dimana doa mustajabah -seperti antara azan dan iqamah, sepertiga malam terakhir, dan seterusnya-, maka itu lebih utama.
Demikian beberapa pertanyaan yang sempat hadir dalam ingatan kami, jika ada pertanyaan lain silakan dituliskan pada kolom komentar.
Pin It
00.04 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Minggu, 19 Oktober 2014

KETIKA PEMIMPINKU DILANTIK

*KETIKA PEMIMPINKU DILANTIK*

عن محمد بن المنكدر، قال : لما بويع يزيد بن معاوية ذكر ذلك لابن عمر, و فقال : (( إن كان خيراً رضينا وإن كان شراً صبرنا

Dari Muhammad bin Munkadir, ia berkata : Ketika Yazid bin Mu’awiyah dibaiat, maka diceritakan  berita tersebut kepada Ibnu Umar radhyallahu ‘anhuma. Maka beliau berkata :

“Jika ia (Yazid bin Mu’awiyah) baik  (dalam kepemimpinan) kita ridha, dan jika ia buruk (dalam kepemimpinan) kita bersabar”. (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf Juz 11 Hal. 100 Cet. Idaaratul Qur’an  dengan sanad Shahih)

Al-Imam Fudhail bin Iyadh rahimahullah :

لو أن لي دعوة مستجابة, ما جعلتها إلا في السلطان. قيل له : يا أبا علي فسر لنا هذا ! قال : إذا جعلتها في نفسي لم تعدني, و إذا جعلتها في السلطان صلح فصلح بصلاحه العباد و البلاد

““Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpin.” Maka ditanyakan kepada beliau sebab hal tersebut, “jelaskan kepada kami wahai Abu ‘Ali (Fudhail bin Iyadh) tentang hal ini !” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka ia akan baik, maka rakyat dan negara akan menjadi baik dengan sebab kebaikannya. (Syarhus Sunnah hal. 113-114 Cet. Maktabah Dar Al-Minhaj)

20 Oktober 2014
Hari Pelantikan Bapak Presiden Jokowi
(Semoga Allah membimbingnya, menjaganya dari segala macam keburukan, dan memudahkannya dalam setiap urusan kebaikan)

 Abu Hanifah Ibnu Yasin
Pin It
23.38 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Jumat, 17 Oktober 2014

Kamu Layak Mendapat Nyawaku

❝Anti tastahiqqiina ruuhi❞ 

Dikota Jeddah ada seorang wanita yang menghadapi masalah dalam rumah tangganya. Iapun terlibat percekcokan dengan suaminya. Keributan memuncak hingga sang suami angkat tangan dan memukul sang istri. Menangislah wanita ini

Tiba-tiba terdengar bunyi seseorang yang mengetuk pintu.

“Tok..tok..tok..”

Segeralah sang suami melihat siapa yang datang lewat lubang intip pintu. Tak di duga, Mertua alias orang tua si wanita ada di depan pintu datang bertamu.

Dalam keadaan berderai air mata, wanita inipun masuk ke dalam kamar. Ia sapu air matanya dan ia bersihkan wajahnya. Sang suami pun membukakan pintu dan mempersilahkan mertua masuk kedalam rumah.

Tak lama, keluarlah wanita ini menemui ibu dan bapaknya dengan sisa air mata yang tak mampu ia tahan. Diciuminya ibu dan bapaknya sedang air mata terus mengalir di pipinya. Betapa terkejut ibu bapaknya melihat anaknya keluar dalam keadaan menangis

“Kenapa kamu menangis nak ?” Tanya ibu kepada anaknya.

Wanita inipun menjawab,

“Umii..ana kaaangen sama umii. Kok Allah kirim umi sama abi ke sini..”

Subhanallah.

Mendengar jawaban istrinya, hancurlah amarah dan keangkuhan sang suami. Hatinya luluh melihat kecerdasan istrinya dalam menyelamatkan nama baik suaminya di hadapan mertua.

Segera sang suami keluar rumah. Ia carikan hidangan bagi mertuanya karena memang hari itu tidak ada masakan di rumahnya. Sebelum pulang, ia mampir ke toko emas. Dia beli sabuk emas seharga 10 ribu real.

Di rumah, semua berjalan normal. Seolah tak pernah ada masalah di rumah tangga.

Sepulang mertua, sang suami segera menemuni wanita sang istri. Sang suami minta maaf atas amarah dan khilafnya. Sabuk emas yang tadi ia beli, dia serahkan kepada sang istri sambil berkata,” Anti tastahiqqiina ruuhi”…ENGKAU BERHAK MENDAPATKAN NYAWAKU…

Simak kisahnya bersama Ust DR Syafiq Bin Reza Basalamah hafidzohullah

Klik ☞http://salamdakwah.com/videos-detail/buruk-namun-indah.html
Pin It
22.46 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0