Minggu, 12 Juni 2016

BERAPAKAH JARAK YANG TIDAK BOLEH KITA LALUI DI DEPAN ORANG YANG SEDANG SHALAT..?

“Jarak yang tidak boleh dilalui di depan orang yang sedang shalat, apabila orang yang shalat itu memiliki sutroh (pembatas di depannya), maka diharamkan bagi siapapun untuk berjalan di antara orang yang shalat itu dengan sutrohnya.
Apabila dia tidak ada sutrohnya, tapi ada alas tempat shalatnya, seperti sajadah yang dia pakai untuk shalat di atasnya, maka sajadah tersebut harus dihormati, dan tidak boleh bagi siapapun untuk melewati alas tempat shalatnya itu.
Apabila tidak ada alas tempat shalatnya, maka jarak yang diharamkan adalah antara kaki dan tempat sujudnya, maka tidak ada yang boleh berjalan antara dia dan tempat sujudnya itu”.
[Oleh: Sy Al-Utsaimin -rohimahulloh- dalam Majmu’ Fatawa 13/241].
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى
---🍃🌼🍃---

TIGA HAL PENYEBAB MURKA ALLAH 

قال سفيان الثوري رحمه الله
: احذر سخط الله في ثلاث: » احذر أن تقصر فيما أمرك، » احذر أن يراك وأنت لا ترضى بما قسم لك، » احذر أن تطلب شيئاً من الدنيا فلا تجده ان تسخط على ربك. . »
Sufyan Ats-Tsauri (seorang ulama tabi’in) rahimahullah berkata: “Waspadalah engkau terhadap (datangnya) kemurkaan Allah dalam tiga perkara (yaitu):
1. Waspadalah engkau dari melalaikan perintah-perintah-Nya kepadamu.
2. Waspadalah engkau dari merasa tidak ridho (dan tidak puas) dengan rezeki yang Dia berikan kepadamu, sedangkan Dia selalu melihatmu.
3. Waspadalah engkau dari (sikap ambisi) mengejar harta benda dunia, lalu tatkala engkau tidak mendapatkannya, engkau merasa benci dan marah terhadap Robbmu (Allah Ta’ala).”
(Sumber: Siyar A’laam An-Nubala’, karya imam Adz-Dzahabi VII/244) .
Ustadz Muhammad Wasitho, MA حفظه الله تعالى .
•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•

Via Path Muslimah Shalihaat
Walaupun para ulama belum mewajibkan pada anak-anak yang belum mukallaf (balig) untuk menunaikan puasa. 
Namun, hal ini tidaklah menutup upaya dari para pendidik dan orang tua untuk melatih anak berpuasa. Ini sebagaimana telah dilakukan oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membiasakan melatih anak-anak mereka berpuasa. Itu tergambar dari hadits Rubayyi’ bintu al-Mu’awwidz radhiyallahu ‘anha sebagaimana telah disampaikan pada artikel terdahulu.
Perhatian Islam terhadap anak-anak, dalam hal berpuasa ini, ditunjukkan pula melalui pembahasan khusus dalam Kitab Shahih Al-Bukhari. Al-Bukhari menyebutkan secara khusus terkait puasa anak-anak dengan menyebutkan dalam salah satu bab-nya dengan judul ‘Shiyamu Ash-Shibyan’ (Puasa Anak-anak). Kepedulian ini semestinya bisa memberi dorongan tersendiri bagi para orang tua atau pendidik untuk menghasung anak-anaknya berpuasa.
Ada beberapa faidah yang bisa dipetik melalui upaya melatih anak berpuasa. Diantaranya :
Pertama, menanamkan pada anak keikhlasan dan merasa diawasi oleh Allah Ta’ala. Puasa akan melatih diri anak untuk jujur terhadap dirinya sendiri.
Kedua, menanamkan sikap sabar dengan keadaan yang menimpanya. Saat berpuasa, sang anak tentu merasakan lapar dan dahaga. Saat seperti itulah dirinya dilatih untuk menahan diri (bersabar) agar tidak berbuka. Puasa mengkondisikan dirinya untuk bersikap sabar.
Ketiga, menanamkan nilai-nilai kebaikan. Seseorang yang tengah berpuasa dituntut untuk banyak beramal salih. Mulai dari menjaga lisan untuk tak berucap yang tidak baik hingga menyempurnakan ibadah lainnya, seperti shalat, membaca Alquran, sedekah dan sebagainya. Keadaan bulan Ramadhan sangat membuka peluang bagi anak-anak untuk bisa beramal salih.
Keempat, menumbuhkan jiwa kesetiakawanan (solidaritas) dan kesetaraan.
Kelima, menanamkan jiwa untuk bermurah hati, suka berderma. Sebagaimana dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat Ramadhan, beliau begitu sangat pemurah. Demikian diantara faidah melatih anak berpuasa. 
Wallahu a’lam.
Sumber: http://salafy.or.id/blog/2013/07/08/melatih-anak-berpuasa/

Senin, 06 Juni 2016

Sebagian mubaligh atau penceramah menjelaskan bahwa diantara hikmah berpuasa ialah melatih diri menjadi orang miskin. Ada pula yang mengatakan bahwa dengan berpuasa anda sedikit mencicipi rasa derita yang di alami oleh orang miskin.
Sekilas ucapan di atas sungguh rasional, namun tatkala anda renungkan lebih mendalam ucapan di atas kurang sejalan dengan ayat berikut:
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ)
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al Baqarah 183)
Dengan jelas alasan berpuasa ialah agar anda menjadi orang yang bertaqwa, bukan agar anda menjadi orang miskin atau minimal memiliki kesiapan mental menjadi orang miskin.
Tentu dua hal ini sangatlah berbeda jauh, karena anda pasti tahu bahwa untuk menjadi orang yang bertaqwa tidaklah harus menjadi miskin terlebih dahulu. Kalaupun anda adalah orang kaya paling kaya, anda memiliki peluang besar menjadi orang yang bertakwa, sama besarnya dengan orang yang miskin.
Faktanya, betapa banyak orang miskin kafir, fasik dan sesat, sebaliknya betapa banyak orang kaya raya yang bertakwa, salah satunya ialah anda wahai saudaraku yang sedang membaca tulisan ini, bukankah demikian?
Saudaraku, sadarilah sejatinya taqwa ialah kemampuan anda mengendalikan hawa nafsu anda, sehingga hawa nafsu anda senantiasa tunduk dan patuh kepada aturan syari’at agama. Bukan hanya tunduk dan patuh, bahkan anda berhasil menjadikan hawa nafsu anda bagian dari ibadah anda. Sebagaimana ketika berpuasa, anda menuruti nafsu makan dan minum karena menjalankan perintah dan mengharapkan pahala, bukan hanya sekedar melampiaskan selera belaka.
ANda menyantap hidangan buka puasa dan makan sahur, karena menjalankan perintah dan keteladanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:
لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْإِفْطَارَ وَأَخَّرُوا السُّحُورَ
“Ummatku akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan makan sahurnya.” (Ahmad dan lainnya)
Sebagaimana pula anda menghentikan nafsu anda dalam rangka menjalankan perintah, sebagaimana tergambar pada firman Allah berikut ini:
)أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ اللّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ
الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ(
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam” (Al Baqarah 187)
Kemampuan untuk senantiasa menundukkan hawa nafsu alias mengendalikan hawa nafsu semacam inilah hakikat dari ketakwaan.
Orang yang bertaqwa adalah orang yang benar-benar berhasil menundukkan hawa nafsunya, sehingga tiada yang ia inginkan atau cintai kecuali yang Allah dan Rasul-Nya cintai. Dan tiada yang ia benci kecuali sesuatu yang Allah Ta’ala dan Rasul-Nya benci. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من نفسه وولده وأهله والناس أجمعين
“Tidaklah engkau dianggap beriman hingga diriku lebih ia cintai dibanding dirinya, anak keturunannya, keluarganya dan seluruh manusia.” (Muttafaqun ‘alaih)
Jadi ndak perlu berlatih kelaparan atau mencicipi hidup dalam kemiskinan. Silahkan anda menjadi orang kaya, namun berlatihlah mengendalikan hawa nafsu anda, agar tiada mendorong anda untuk berbuat maksiat, bahkan sebaliknya terus mengobarkan semangat dalam diri anda untuk terus mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala Sang Penciptanya.
Karena itu sangat ironis bila selama bulan puasa; di siang hari anda berjuang mengendalikan hawa nafsu, namun ketika malam telah tiba anda kembali mengumbar hawa nafsu anda seakan anda kehilangan kekang atau kendali. Bila demikian ini sikap anda, maka dapat dipastikan anda gagal mengilhami nilai-nilai taqwa yang bertujuan menghantarkan anda menjadi orang yang benar-benar bertaqwa.
Selamat berpuasa, semoga Allah memudahkan anda untuk mengendalikan hawa nafsu anda. 
Diambil dari tulisan Ustādz DR. Muhammad Arifin Badri, MA حفظه الله تعالى

Sabtu, 21 Mei 2016

Benarkah ada doa jibril menjelang ramadhan yg banyak disebarkan melalui sms ramadhan?
Mohon penjelsannya.
Saya pernah menerima sms semacam ini dari salah seorang jamaah:
Doa malaikat jibril menjelang nisfu sya’ban:
“Ya Allah, abaikan puasa umat nabi Muhammad SAW, apabila sebelum ramadhan dia belum:
Memohon maaf kepada kedua orang tua jika keduanya masih hidup.
Bermaafan antara suami istri
Bermaafan dengan keluarga kerabat serta orang sekitar.”
dst.
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Terkait doa semacam ini, ada beberapa catatan yang perlu kita perhatikan.
Pertama, kita tidak boleh berbicara atas nama jibril atau atas nama Rasulullah Muhammad ‘alaihimas shalatu was salam, kecuali berdasarkan dalil. Karena yang mereka sampaikan adalah wahyu dari Allah.
Allah berfirman tentang Jibril,
وَمَا نَتَنَزَّلُ إِلَّا بِأَمْرِ رَبِّكَ لَهُ مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَمَا خَلْفَنَا وَمَا بَيْنَ ذَلِكَ وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا
Tidaklah Kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa. (QS. Maryam: 64)
Artinya apapun yang dilakukan Jibril, semua karena perintah Allah, dan bukan inisiatif pribadi. Termasuk doa yang beliau ucapkan.
Allah berfirman tentang Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى ( ) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
Tidaklah dia berbicara karena hawa nafsunya ( ) Ucapannya itu tiada lain adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. An-Najm: 3 – 4)
Sehingga apapun yang beliau sabdakan terkait syariat adalah wahyu dari Allah.
Karena itu, berbicara atas nama jibril atau Nabi Muhammad ‘alaihimas shalatu was salam tanpa dalil, sama halnya dengan berbicara atas nama Allah tanpa ilmu dan itu dosa besar. Allah mensejajarkan dosa berbicara atas nama Allah tanpa ilmu dengan sederet dosa besar, seperti syirik.
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’raf: 33).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan ancaman keras, untuk orang yang menyebarkan hadis yang lemah,
مَنْ حَدَّثَ بِحَدِيثٍ وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ
“Siapa yang menyampaikan satu hadis, dan dia merasa itu dusta, maka dia termasuk salah satu pendusta.” (HR. Muslim dalam Mukaddimah, 1/8).
Kedua, riwayat yang benar tentang doa Malaikat jibril adalah sebagai berikut,
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,
أن رسول الله صلى الله عليه و سلم رقي المنبر فقال : آمين آمين آمين فقيل له يارسول الله ما كنت تصنع هذا ؟ ! فقال : قال لي جبريل : أرغم الله أنف عبد أو بعد دخل رمضان فلم يغفر له فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد أدرك و الديه أو أحدهما لم يدخله الجنة فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد ذكرت عنده فلم يصل عليك فقلت : آمين
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam naik mimbar lalu beliau mengucapkan, ‘Amin … amin … amin.’ Para sahabat bertanya, ‘Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?’ Kemudian, beliau bersabda, ‘Baru saja Jibril berkata kepadaku, ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadan tanpa mendapatkan ampunan,’ maka kukatakan, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun itu tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua),’ maka aku berkata, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang tidak bersalawat ketika disebut namamu,’ maka kukatakan, ‘Amin.””
Hadis ini dinilai sahih oleh Al-Mundziri dalam At-Targhib wa At-Tarhib, 2:114, 2:406, 2:407, dan 3:295; juga oleh Adz-Dzahabi dalam Al-Madzhab, 4:1682. Dinilai hasan oleh Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 8:142; juga oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Al-Qaulul Badi‘, no. 212; juga oleh Al-Albani di Shahih At-Targhib, no. 1679.
Jika kita perhatikan hadis shahih di atas, kita akan mendapatkan sekian banyak perbedaan antara teks hadis dengan sms ramadhan yang banyak tersebar di masyarakat.
Hadis di atas tidak menyebutkan waktu kapan kejadian itu berlangsung. Jibril berdoa 3 kali dan diaminkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada keterangan waktunya. Karena itu, siapa yang mengklaim bahwa itu terjadi menjelang ramadhan atau setelah nisfu sya’ban, maka dia harus membawakan dalil.
Doa jibril: ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan’ sedikitpun beliau menyinggung agar minta maaf kepada orang tua atau suami-istri, atau kepada sesama, dst.
Memperhatikan hal ini, sejatinya apa yang disebarkan melalui sms bukan doa jibril. Malaikat jibril, sama sekali tidak pernah berdoa demikian. Beliau hanya mendoakan keburukan untuk orang yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan. Bisa jadi karena selama ramadhan, dia masih rajin bermaksiat, sehingga puasa yang dia jalankan tidak membuahkan ampunan dosa. Sebagaimana yang pernah dijelaspan pada artikel yang diterbitkan dalam bentuk buletin berikut: Puasa Tanpa Pahala – Edisi Buletin Ramadhan
Ketiga, selanjutnya kami menghimbau kepada kaum muslimin untuk berhati-hati dalam menyebarkan informasi agama, sebelum dia tidak memiliki sumber otentik, yang bisa dipertanggung jawabkan.
Karena berdusta atas nama Allah atau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam statusnya jauh berbeda dengan berdusta atas nama makhluk. Allah ta’ala memberikan ancaman sangat keras untuk setiap komentara tentang islam, tentang agama Allah, tanpa bukti dan tanpa dalil yang kuat. Karena berbicara tentang syariat tanpa dalil adalah sumber terjadinya kesesatan dalam agama.
Sms di atas adalah sms dusta atas nama jibril. Siapapun yang mendapatkannya, segera dihapus dan tidak disebarkan.
Semoga Allah memudahkan kita untuk mendapatkan taufiq meniti jalan kebenaran. Amin
Dijawab oleh Ustādz Ammi Nur Baits hafizahullāh
Dalam sebuah permasalahan hukum, terkadang terjadi perbedaan cara pandang antara seorang muslim dg saudaranya. Atau terkadang seorang akan merajihkan (menguatkan) sebuah pendapat yg berseberangan dg tarjih saudaranya.
Dalam kondisi seperti ini, terkadang seorang akan memandang bahwa pendapat dirinyalah yg lbh kuat, berdasarkan dalil yg dia pakai daripada pendapat saudaranya. Padahal, barang kali manakala dia mau menyempatkan diri melihat dalil yg dipakai oleh saudaranya dlm perkara yg diperselisihkan tersebut, bisa jadi pendapatnya-lah yg salah, sedangkan pendapat saudaranya yg lbh mendekati kebenaran. Maka seorang yg jantan dan inshof tatkala nampak pdnya kebenaran, dia akan mengakui kesalahannya dan mengambil pendapat saudaranya yg lbh mendekati kebenaran. Bukan malah ngeyel-ngeyelan kayak bocah cilik!!!
Alangkah mulianya praktek imam syafi'i dlm permasalahan seperti ini, beliau mengatakan:
ما ناظرت أحدا إلا قلت اللهم أجر الحق على قلبه ولسانه ، فإن كان الحق معي اتبعني وإن كان الحق معه اتبعته .
"Tidaklah aku berdiskusi dg seorang-pun, kecuali aku katakan 'Ya Allah tampakkanlah kebenaran dari hati dan lisannya, jika memang kebenaran ada padaku, maka jadikanlah ia mau mengikutiku, namun jika memang kebenaran ada padanya, maka jadikanlah aku mau mengikutinya." (Qawa'iid Al Ahkam: 2/136)
Imam Al Ghazali menyatakan, "Hendaknya manakala seorang mencari kebenaran, jadikanlah pencariannya tersebut ibarat mencari barangnya yg hilang. Dia tdk peduli apakah barangnya tersebut ditemukan oleh dirinya ataukah oleh saudaranya -demikianlah dlm mencari al haq-. Jadikanlah kawan diskusi sebagai org yg sedang membantunya bukan musuhnya. Hendaklah ia berterima kasih kepd saudaranya tatkala ia mengarahkannya kpd kebenaran dan mengoreksinya dari kesalahan. (Ihya' Ulumuddin: 1/64).
Inilah ruh keimanan yg akan semakin memperkokoh persaudaraan dan tertutupnya pintu fitnah.
~~~~~~~~~~~~
-wallaahul muwaffiq-

Diambil dari laman FB UstādAbu Ya'la Hizbul Majid hafizahullāh

Kamis, 10 Maret 2016

1. Ada seseorang menemukan bangkai di jalan, kemudian dia makan sampai kenyang dan sisanya dia bawa pulang. Padahal dia tidak gila, tidak kelaparan, juga tidak terpaksa. Mengapa bisa demikian?
2. Pada dasarnya, tanah bisa menggantikan air. Orang yang hadats kecil dan dia tidak memiliki air, bisa tayammum dengan tanah. Orang yang junub dan tidak mendapatkan air, bisa tayammum dengan tanah juga. Tapi ada satu keadaan, dimana air justru menggantikan tanah. Keadaan seperti apakah itu?
3. Pada dasarnya, semua benda yang boleh diperjual belikan, boleh juga disedekahkan, atau dihadiahkan. Tapi ada benda yang boleh dihadiahkan, tapi tidak boleh diperjual belikan. Benda apakah itu?
4. Ada sesuatu yang tersusun lebih dari 100 bagian, tetapi jika dibagi dua hasilnya kurang dari dua puluh? Apakah sesuatu itu?
5. Ada orang yang shalat tanpa rukuk dan tanpa sujud, padahal dia sehat dan anggota badannya lengkap dan status shalatnya sah. Bagaimana bisa terjadi?
6. Ada orang yg shalat tapi tahiyat nya 4 kali.. Shalat apa ya?
7. Shalat jahar adalah yang rakaat pertama dan keduanya dikeraskan bacaannya. Dan shalat sirr kebalikannya. Nah shalat sirr berjamaah apa yang terletak antara dua shalat jahar berjamaah?
8. Sebutkan ibadah sunat yang jika seseorang melakukannya, maka pada waktu yang sama, seluruh manusia di muka bumi tidak ada yang melakukannya?
9. Suatu ketika seorang istri lagi makan di depan suaminya. Di dalam mulutnya ada makanan. Suaminya berkata “jika kamu telan, atau kamu keluarkan, atau kamu biarkan, maka kamu saya talak”. Nah si istri melakukan sesuatu, sehingga tidak jadi di talak. Apa yang di lakukan si istri?
10. Dalam islam ada suatu kondisi dimana si anak bisa menyaksikan pernikahan ayah dan ibu kandungnya untuk pertama kalinya. Pernikahannya sah, dan anaknya sah juga.
(Sumber grup WA)
11. Ibadah wajib pria yang dilakukan sekali dan tidak akan pernah mengulangi untuk kedua kalinya. Ibadah apa itu?

Jawaban: 

1. Bangkai yang dihalalkan, yaitu bangkai laut (ikan) atau belalang, didasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

أُحِلَّتْ لَكُمْ مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ

“Dihalalkan bagi kalian dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati (lever) dan limpa. [HR Ibnu Majah no. 3314 dan dishohihkan Syeikh Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Al Shohihah no.1118]

2. Keadaan orang yag tinggal di atas kapal/laut dan sedang menyelenggarakan jenazah. Maka mayit dibuang di Laut dapat menggantikan dikuburkan di tanah.

3. Hewan kurban. Sebelum statusnya jadi kurban boleh diperjualbelikan. Setelah jadi kurban, tidak boleh diperjualbelikan apapun bagiannya, kecuali apabila dihadiahkan.

4. Al-Qur’an al-Karim terdiri dari 114 surat, tapi jika kita buka pertengahan mushaf, maka kita temukan tengah al-qur’an ada di surat ke-18. Kurang dari 20.

5. Sholat jenazah.

6. Orang yg masbuq ketika sholat maghrib dan mendapati imam telah lewat ruku’ pada rakaat kedua dan belum bangun ke rakaat ketiga. Sehingga tahiyat nya menjadi 4x.

7. Sholat ashar pada hari Jum’at, karena itu menjadi sholat siir ditengah2 sholat jum’at yang jahar dan maghrib yang jahar.

8. Mencium hajar aswad adalah sunnah, ‘Umar berkata, “Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu” (HR. Bukhari no. 1597, 1605 dan Muslim no. 1270) Kalau seseorang sedang mencium nya, maka yg lain harus menunggu, tidak bisa bareng2 menciumnya

9. Istri mengeluarkan sebagian dan menelan sebagian, hal ini sebagaimana jawaban Imam Asy syafi’i : http://kisahmuslim.com/kecerdasan-imam-asy-syafii/

10. Anak yg lahir dari budak, kemudian setelah lahir ibunya (ummu walad) tersebut dinikahkan.

11. Khitan

Via Grup Whatsapp

Radio Kajian Kaltim


Get the Flash Player to hear this stream.

Video Pilihan

Popular Posts