Minggu, 17 Mei 2015

Pertanyaan:  Apa hukumya mengqadha Ramadhan yang telah lewat dan kapankah itu dilakukan?
Jawab:
Bersegera mengqadha puasa Ramadhan tentu lebih bagus daripada menunda-nundanya, karena manusia tidak tahu apa yang akan menimpanya esok (seperti kematian atau sakit, red.). Segera mengqadha tanggungan utang puasanya tentu lebih mantap dan menunjukkan semangatnya terhadap kebaikan. Kalaulah bukan karena hadits Aisyah:
كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلاَّ فِي شَعْبَانَ
“Dahulu saya menanggung utang (puasa) Ramadhan maka aku tidak bisa menggantinya kecuali di bulan Sya’ban.” (HR. al-Bukhari), tentu akan kita katakan wajib bersegera mengqadha.
Hadits ini menunjukkan bahwa barang siapa memiliki tanggungan dari puasa Ramadhan hendaknya tidak menundanya sampai Ramadhan kedua. Seharusnya seperti itu.
Maka dari itu, seseorang yang punya kewajiban mengqadha puasa Ramadhan tidak boleh menundanya sampai Ramadhan berikutnya kecuali karena uzur (alasan syar’i, red.). Misalnya dia sakit dan tidak mampu, atau seorang wanita yang menyusui dan tidak mampu berpuasa, tidak mengapa baginya untuk menunda qadha yang lalu hingga tiba Ramadhan kedua.
[Fatwa asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, Fatawa Ramadhan, 2/552]
—————————————————————————————————-

Sabtu, 16 Mei 2015

Terkadang seorang dari kita berandai-andai, “Jika aku punya harta, maka aku akan … “. Sebelum melanjutkan, mari kita simak hadis Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berikut ini.

Beliau  ﷺ  bersabda:

إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِيْ فِيْهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيْهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيْهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ. وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ، يَقُوْلُ: لَوْ أَنَّ لِيْ مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ، فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ. وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِيْ مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ، لَا يَتَّقِيْ فِيْهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِيْهِ رَحِمَهُ، وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيْهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ. وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُوْلُ: لَوْ أَنَّ لِيْ مَالًا لَعَمِلْتُ فِيْهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ، فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ.

Dunia ini hanya milik empat golongan manusia: (Pertama) hamba yang Allah berikan rezeki kepadanya berupa harta dan ilmu, dengannya ia bertakwa kepada Rabb-nya, menyambung silaturahmi dan mengetahui hak Allah yang ada padanya. Ini kedudukan yang paling utama. (Kedua) hamba yang Allah berikan rezeki berupa ilmu dan tidak diberikan harta, namun ia tulus niatnya. Ia berkata: sekiranya aku punya harta, niscaya aku akan melakukan seperti yang dilakukan fulan (pertama), maka ia mendapatkan apa yang diniatkan, pahala kedua orang tersebut sama. (Ketiga) hamba yang Allah berikan rezeki berupa harta dan tidak diberikan ilmu, ia membelanjakan harta tanpa ilmu, ia tidak bertakwa kepada Rabb-nya pada harta itu, tidak menyambung silaturahmi dan tidak mengetahui hak Allah padanya. Ini kedudukan yang paling buruk. (Keempat) hamba yang Allah tidak berikan rezeki berupa harta atau ilmu, ia berkata: sekiranya aku memiliki harta, niscaya aku akan mengerjakan apa yang dilakukan fulan (ketiga), maka ia mendapatkan apa yang diniatkan, dosa kedua orang tersebut sama. (Hadis sahih riwayat at-Tirmidzi)

Oleh karena itu ….
Jika engkau punya harta, niatkanlah melakukan hal yang bermanfaat bagi agama sebagaimana yang dilakukan fulan ini.

Sekiranya engkau punya harta, niatkanlah melakukan hal yang bermanfaat bagi umat seperti yang dikerjakan fulan itu.

Silakan berandai-andai, namun berandai-andailah yang bermanfaat, dan tuluskanlah niat padanya, yakni jika Allah benar-benar memberikan harta kepada anda, anda akan benar-benar mengerjakan apa yang diniatkan tersebut. Dengan niat tersebut, semoga Allah memberikan pahala yang sama seperti yang dikerjakan oleh fulan ini atau fulan itu.

Semoga Allah memberkahi umur, keluarga dan harta anda. Aamiin.

-----

✅ Bagian Indonesia
�� ICC DAMMAM KSA
�� +966556288679
==================
�� [ 27/07/1436 H ]

Senin, 20 April 2015



Sahabat fillah....
Tak terasa kita telah memasuki bulan Rajab, satu diantara bulan-bulan yang diharamkan Allah azza wa jalla. Dinamakan bulan haram kerana Allah azza wa jalla mengharamkan peperangan dan kedzaliman di dalamnya. Ini tidak berarti bahwa boleh melakukan kedzaliman diluar bulan tersebut. Akan tetapi larangan berbuat dzalim di bulan-bulan haram lebih ditekankan lagi

Walaupun bulan ini secara khusus dimuliakan Allah azza wa jalla, tidak serta merta bisa dijadikan alasan untuk mengkhususkan amalan-amalan tertentu di dalamnya. Karena amal ibadah sifatnya tauqifiyah, hukum asalnya haram untuk dilakukan sampai ada dalil yang menunjukkan landasan ibadah tersebut.

Syariat kita juga telah menetapkan bahwa tidak boleh mengkhususkan ibadah tertentu pada waktu tertentu tanpa adanya dalil yang sohih baik dari Al Qur'an maupun As Sunnah. Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda: " Barangsiapa yang melakukan satu amalan yang tidak kami perintahkan, maka amalan tersebut tertolak" (HR. Muslim)

Berikut ini kami paparkan secara ringkas beberapa amalan yang populer di bulan Rajab

1. Sholat Raghaib

Ibadah sholat ini tidak dikenal dikalangan salafusshalih, ia baru muncul pada abad ke 5 hijriah. Tidak ada hadits sohih yang bisa dijadikan hujjah atas disyariatkannya amalan ini. Adapun riwayat yang mengatakan: " Bulan Rajab adalah bulan Allah, Sya'ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku, dan tidaklah seseorang melakukan puasa pada kamis pertama bulan Rajab, kemudian melakukan sholat antara magib dan isya (malam jumat), dan membaca surat al fatihah sekali, inna anzalnahu fii lailatil qadr" tiga kali, Qul huwallahu ahad 12 kali dan melakuan salam pada setiap dua rakaatnya, bila telah selesai melaksanakan shalat dia bershalawat kepadaku 70 kali kemudian berdoa meminta apa saja niscaya akan dikabulkan untuknya dst..." Riwayat ini adalah riwayat palsu.

Imam At Tharthusi menyebutkan: " Hadits ini pertama kali dibuat di Baitul maqdis pada tahun 448 H, saat itu ada seorang laki-laki nablus yang bernama Ibnu Abi Al Hamraa' datang ke Baitul Maqdis. Orang ini sangat bagus bacaannya, dialah yang pertama kali melakukan shola ragahib dimasjid Al-Aqsha, setelah itu ritual ini menyebar dan tak seorangpun dari pakar hadits yang menyatakan kesohihan riwayat yang berkenaan dangan sholat ini.

Di dalam Asna Al-Mathaalib (1/206) Al-Allamah Zakaria Al-Anshori As Syafi'i -rahimahullah- meyatakan bahwa "diantara bid'ah yang tercela adalah sholat raghaib yang jumlahnya 12 rakaat dilaksanakan antara maghrib dan isya pada malam jum'at pertama bulan Rajab. Begitu juga dengan shalat malam nishfu sya'ban sebanyak 100 rakaat? dan jangan terbedaya dengan orang yang menyebutkan (adanya) kedua amalan tersebut"

Syaikhul Islam Ahmad Ibnu Abdil Halim Al-Harrany saat ditanya tentang shalat raghaib apakah disunnahkan atau tidak.? Beliau menjawab : " Shalat ini tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tidak juga oleh para sahabat, tabiin, maupun imam-imam kaum muslimin. Rasulullah tidak pernah menganjurkannya, tidak juga salaf dan para imam. Mereka juga tidak menyebutkan bahwa malam ini memiliki keutamaan khusus. Adapun hadits-hadist yang diriwayatkan dari nabi shallallahu alaihi wasallam seputar hal itu semuanya dusta dan palsu berdasarkan kesepakatan para ahli yang kompeten dibidangnya (muhaddits).

Imam Nawawi -rahimahullah- berkata: " “Shalat yang dikenal dengan sebutan shalat Ragha’ib yaitu shalat 12 rakaat yang dilakukan antara Maghrib dan Isya’, yakni malam awal hari Jumat pada bulan Rajab, dan shalat malam pada nishfu sya’ban seratus rakaat, maka dua shalat ini adalah bid’ah munkar yang buruk, janganlah terkecoh karena keduanya disebutkan dalam kitab Quut al Qulub dan Ihya Ulumuddin, tidak ada satu pun hadits yang menyebutkan dua shalat ini, maka semuanya adalah batil.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab; 2/379.)

Ad Dzahabi mengatakan: "Hadits sholat Raghaaib batil tanpa keraguan sedikitpun."

Kesimpulannya tidak ada nash yang valid berkaitan dengan keutamaan beribadah dibulan rajab baik itu puasa maupun amalan-amalan lainnya. Kesimpulan Ini merupakan kesepakatan para ulama hadits diantaranya Al Hafidz Ibnul Qayyim, Al Hafidz Al Khattabi, Al Hafidz Ibnu Rajab dan Al Hafidz Ibnu Hajar -Rahimahumullah-

2. Shalat pada Pertengahan Bulan Rajab dan Malam Isra' dan Mi' raj.

Kedua amalan diatas tidak disyariatkan karena dalil yang dijadikan dasar untuk kedua amalan tersebut tidak valid

3. Puasa Rajab.

Amalan ini juga tidak disyariatkan, adapun riwayat yang mengatakan bahwa, "Di dalam surga ada sungai yang bernama Rajab, airnya lebih putih dari salju, lebih manis dari madu, barangsiapa yang berpuasa sehari di bulan rajab maka dia akan minum dari sungai itu''. Ibnul Jauzy mengatakan hadits ini tidak shahih, sementara Adz Dzahaby menyebut hadits ini batil. Namun bila seseorang melakukan puasa senin kamis atau ayyam al bidh yang lebih dikenal dengan puasa putih tanpa bermaksud mengkhususkannya dengan bulan rajab maka hal itu tidak mengapa.

4. Umroh di bulan Rajab

Sebagian kaum muslimin meyakini bahwa umroh di bulan Rajab disunnahkan. Mereka berhujjah dengan peristiwa umroh Rasullah shallah shalllallahu alaihi wasallam yang dilakukan bertepatan dengan bulan Rajab. Pendapat ini tentunya keliru. Sebab Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- tidak mengkhususkan bulan tersebut dengan umroh, hanya saja umroh beliau -shallahu alaihi wasallam- bertepatan dengan bulan Rajab. Namun bila seseorang melakukan umroh di bulan Rajab tanpa mengaitkannya dengan kekhususan bulan Rajab, maka hal tersebut tidak mengapa.

5. Merayakan Malam Isra' Dan Mi'raj.

Untuk ritual yang terakhir ini tidak ditemukan hadits yang palsu sekalipun apalagi shahih sebagai landasannya. Bila memang baik tentunya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para shabat telah melakukannya. Lagipula terjadi silang pendapat dikalang ulama mengenai kapan pastinya peristiwa besar itu terjadi.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, ''Tidak ada dalil yang tegas yang menyatakan bahwa peristiwa Isro’ Mi’roj terjadi pada bulan tertentu atau sepuluh hari tertentu atau ditegaskan pada tanggal tertentu. Bahkan sebenarnya para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, tidak ada yang bisa menyeputkan waktunya dengan pasti.''(Zaadul Ma’ad; 1/54)
Ibnul Haaj mengatakan, ''Di antara praktik yang tidak memiliki tuntunan yang dilakukan pada bulan Rajab adalah perayaan malam Isro’ Mi’roj pada tanggal 27 Rajab.'' (AL Madkhol; 1/294)

Jadi....

"ikutilah dan jangan berbuat bid'ah, karena kalian telah dicukupi"
(Ibnu Mas'ud -radhiallahu anhu-)

Semoga bermanfaat

--------------------------------
Madinah 1 Rajab 1435 H

✍ Ust Aan Chandra Thalib حفظه الله تعالى

Jumat, 03 April 2015

Kami meriwayatkan dalam Kitab at-Tirmidzi, dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu, dari NabiShallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda,

مَنْ رَأَى مُبْتَلًى، فَقَالَ: اَلْحَمْدُ لله الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ وَفَضَّلَنِيْ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً، لَمْ يُصِبْهُ ذلِكَ الْبَلاَءُ. 
"Barangsiapa yang melihat orang yang tertimpa musibah, kemudian mengucapkan, 'Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari segala musibah yang Dia ujikan kepadamu dan mengutamakanku di atas sebagian besar makhluk yang Dia ciptakan dengan keutamaan,' niscaya musibah tersebut tidak akan menimpanya." 
Shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Kitab ad-Da'awat, Bab Ma Yaqul Idza Ra`a Mubtala, 5/493, no. 3432; al-Bazzar no. 2133-Mukhtashar az-Zawa`id; ath-Thabrani dalamal-Mu'jam al-Ausath, no. 4721, al-Mu'jam ash-Shaghir, no. 676, dan ad-Du'a` no. 799; Ibnu Adi 4/1461, 6/2374: dari berbagai jalur, dari Muththraf bin Abdillah al-Madani, dari Abdullah bin Umar al-Umari, dari Suhail bin Abi Shalih, dari bapaknya, dari Abu Hurairah.
Hadits ini dhaif karena mempunyai dua illat
Pertama, Perselisihan mereka tentangmatannya, at-Tirmidzi dan Ibnu Adi meriwayatkannya dari berbagai jalur dengan lafazh yang disebutkan oleh an-Nawawi di sini. Sedangkan yang lainnya meriwayatkannya dengan lafazh فَإِذَا قَالَ لِذلِكَ فَقَدْ شَكَرَ تِلْكَ النِّعْمَةَ pada posisi lafazh لَمْ يُصِبْهُ ذلِكَ الْبَلاَءُ.
Kedua, Abdullah bin al-Umari memiliki kelemahan. Singkat kata, dia adalah seorang yang shalih dalam syawahid. Akan tetapi dia tidak bersendirian -berbeda dengan yang dilontarkan oleh al-Bazzar dan ath-Thabrani- bahkan dia di-mutaba'ah. Ath-Thabrani meriwayatkannya dalam ad-Du'a` no. 800: dari jalur Abdullah bin Ja'far al-Madani, dari Suhail dengan hadits tersebut dengan lafazh yang lain. Dan hadits ini dhaif karena al-Madani, karena sesungguhnya dia adalah perawi dhaif atau di bawahnya. Dan dia adalah ayah Ali bin al-Madini. Dan hadits ini mempunyai jalur sanad yang lain -berbeda dengan yang dilontarkan al-Bazzar- pada ath-Thabrani dalam ad-Du'a`, no. 801, Muththalib bin Syu'aib al-Azdi menceritakan kepada kami, Abdullah bin Shalih menceritakan kepada kami, al-Laits menceritakan kepadaku, dari Isa bin Musa bin Iyas, dari Shofwan bin Sulaim, dari seorang laki-laki, dari Abu Hurairah dengan hadits tersebut dengan lafazh lain. Hadits ini dhaif, karena Abdullah bin Shalih dan Isa bin Musa memiliki kelemahan. Di sana juga ada perawi yang tidak diketahui. Namun ia memiliki syahid dari hadits Ibnu Umar. Perincian pembahasannya akan datang dalam catatan kaki berikutnya. 
Secara global hadits tersebut shahih dengan kesempurnaannya. Adapun doa tersebut maka shahih dengan berkumpulnya jalur-jalur ini dan syahidnya. Sedangkan lafazh, لَمْ يُصِبْهُ ذلِكَ الْبَلاَءُ, maka ia shahih berdasarkan hadits Umar yang akan datang. Sedangkan lafazh selainnya, maka ia hasan berdasarkan tiga jalurnya. At-Tirmidzi telah menghasankannya sebagaimana kamu lihat. Demikian pula al-Mundziri dengan dua lafazh, dan al-Haitsami. Al-Albani menshahihkannya dengan lafazh terjamah. 
At-Tirmidzi berkata, "Hadits hasan". 
Kami meriwayatkan dalam Kitab at-Tirmidzi, dari Umar bin al-Khaththab radiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallambersabda,

مَنْ رَأَى صَاحِبَ بَلاَءٍ، فَقَالَ: اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ عَافَانِيْ مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ، وَفَضَّلَنِيْ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً، إِلاَّ عُوْفِيَ مِنْ ذلِكَ الْبَلاَءِ، كَائِنًا مَا كَانَ، مَا عَاشَ. 
"Barangsiapa saja yang melihat orang yang tertimpa musibah, kemudian mengucapkan, 'Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari segala musibah yang Dia ujikan kepadamu dan mengutamakanku di atas sebagian besar makhluk yang Dia ciptakan dengan keutamaan', niscaya dia akan diselamatkan dari musibah tersebut, musibah apa pun juga selama dia hidup" 
Shahih: Dari hadits Ibnu Umar, dan penyebutan Umar pada hadits ini adalah salah, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah no. 29727, Abd bin Humaid 38-Muntakhab; Ibnu Majah, Kitab ad-Du'a`, Bab Ma Yad'u Idza Nazhara Ahl al-Bala, 2/1281, no. 3892; at-Tirmidzi, Ibid., no. 3431; ath-Thabrani dalamad-Du'a` no. 797; Ibn as-Sunni no. 308, Ibnu Adi 5/1786; Abu Nu'aim dalam al-Hilyah6/265; al-Baihaqi dalam asy-Syu'ab, no. 4445; al-Baghawi no.1337: dari beberapa jalur, dari Amr bin Dinar Qahramani, Alu az-Zubair, dari Salim, dari Ibnu Umar, dari Umar dengan hadits tersebut. 
Ini adalah sanad saqith karena memiliki duaillat
Pertama, Qahraman Alu az-Zubair adalah perawi yang sangat dhaif dan hampir mendekati matruk
Kedua, bahwa di dalamnya terdapatidhthirab (kegoncangan), terkadang menyatakannya mauquf, dan terkadang menjadikannya marfu' dari Musnad Ibnu Umar sesekali, dan dari Musnad Umar dalam kesempatan yang lain. Akan tetapi hadits ini datang dari sanad yang lain, diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam ad-Du'a` no. 798; Abu Nu'aim dalam al-Hilyah 5/13; Ibnu Asakir dalam at-Tarikh 53/329: dari beberapa jalur, dari Marwan bin Muhammad ath-Thathari, al-Walid bin Utbah telah menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Suqah, dari Nafi', dari Ibnu Umar, (dalam salah salah satu jalur ditambahkan: dari Umar) dengan hadits tersebut secara marfu'. Dan mereka semua ini berderajat tsiqah kecuali al-Walid bin Utbah. 
Apabila Abu al-Abbas ad-Dimasyqi sebagaimana yang dinampakkan oleh al-Albani, maka dia seorang yang tsiqah. Namun apabila dia seorang Dimasyqi lainnya sebagaimana dinampakkan oleh al-Asqalani, maka minimal dia kapabel dalam kapasitas sebagai syahid
Dan ia mempunyai jalur lain pada ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath no. 5320, Muhammad bin Ahmad bin Abi Khaitsamah menceritakan kepada kami, Zakariya bin Yahya adh-Dharir menceritakan kepada kami, Syababah bin Syawwar menceritakan kepada kami, al-Mughirah bin Muslim menceritakan kepada kami, dari Ayyub, dari Nafi', dari Ibnu Umar dengan hadits tersebut secara marfu'. Al-Haitsami berkata, 10/141, "Di dalamnya terdapat Zakariya bin Yahya bin Ayyub adh-Dharir, namun saya tidak mengetahuinya, dan sisa perawinya adalah perawi tsiqah." Al-Albani mengomentarinya dalam ash-Shahihah no. 2737 bahwa dia tertulis biografinya dalam Tarikh Baghdad, 8/457 dengan periwayatan sekelompok perawitsiqah. Maka orang sepertinya adalah termasuk perawi yang haditsnya dianggap walaupun dalam kapasitas syawahid
Kesimpulannya bahwa hadits tersebut apabila tidak shahih dengan berkumpulnya dua jalurnya yang terakhir, maka dia shahih berdasarkan syahidnya yang terdahulu. 
Kemudian di antara perkara yang penting pula, kita mencermati bahwa yang benar dalam hadits ini adalah dari Musnad Ibnu Umar, sebagaimana jelas disebutkan pada jalur ketiga yang merupakan jalur paling kuat. Sedangkan jalur kedua kuat, adapun jalur yang pertama maka sama sekali tidak bisa dianggap, apalagi ada perawi yangidhthirab padanya. 
At-Tirmidzi mendhaifkan sanadnya. 
Saya berkata, Para ulama dari para sahabat kami dan selain mereka berkata, 'Sebaiknya doa ini diucapkan dengan pelan, yang hanya dapat didengar olehnya sendiri, dan tidak didengar oleh orang yang tertimpa musibah tersebut, agar hatinya tidak sakit dengan hal tersebut, kecuali apabila musibah itu berupa maksiat, maka tidak mengapa memperdengarkannya, apabila tidak dikhawatirkan terjadinya keburukan. Wallahu a'lam.

Sumber : Ensiklopedia Dzikir Dan Do’a, Imam Nawawi, Pustaka Sahifa Jakarta. Disadur oleh Yusuf Al-Lomboky 
Artikel : www.alsofwah.or.id

Senin, 30 Maret 2015

Penyair berkata;

عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللهِ إِنْ كُنْتَ غَافِلاً ***يَأْتِيْكَ بِالأَرْزَاقِ مِنْ حَيْثُ لاَ تَدْرِي

Bertakwalah jika engkau sedang lalai...
Allah akan memberikan engkau rizki dari arah yang tidak kau sangka...

فَكَيْفَ تَخَافُ الْفَقْرَ وَاللهُ رَازِقَا **** فَقَدْ رَزَقَ الطَّيْرَ وَالْحُوْتَ فِي الْبَحْرِ

Bagaimana engkau takut kemiskinan sementara Allah maha pemberi rizki...

Allah telah memberi rizki kepada burung dan ikan di lautan....



وَمَنْ ظَنَّ أَنَّ الرِّزْقَ يَأْتِي بِقُوَّةٍ **** مَا أَكَلَ الْعُصْفُوْرُ شَيْئًا مَعَ النَّسْرِ

Barangsiapa yang menyangka bahwa rizki datang harus dengan kekuatan, 
maka tentu burung pipit (yang lemah) tidak akan makan sesuatupun jika ada burung nasar (yang kuat)

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Minggu, 29 Maret 2015

Seputar celana Panjang buat wanita


السؤال

فضيلة الشيخ  : ما الحكم في لبس البنطال للمرأة ، وهل هناك فرق في كونه واسعًا أو ضيقًا ؟

Soal:

Wahai Fadhilatusy-Syaikh, apa hukumnya celana panjang bagi seorang wanita, adakah perbedaan kebolehannya pada celana panjang yang longgar dan yang sempit?

الجواب

في بلادنا ، ليس من عادة نسائنا لبس البنطال ، والنساء يلبسن ما اعتاده نساء البلد ، فلا يجوز في هذا البلد خاصة أن تلبس المرأة البنطال ، وحتى في البلاد الأخرى ؛ لأن البنطال يُبيِّن أحجام المرأة ومفاتنها ، ولا يسترها سترًا كاملاً ؛ بل ربما يكون فتنة البنطال أشد ؛ لأنه يصورها صورة فاتنة .

فالمرأة تتجنب لبس البنطال خصوصًا في هذا البلد ؛ فإن هذا ليس من عادة بلادنا ، ومن لبس لباس شهرة هذا عليه وعيد شديد ، فمن لبست البنطال في هذا البلد فإنها لبست لباس شهرة ؛ لأن هذا خلاف ما اعتاده نساء هذا البلد . نعم .

Jawab:

Di negeri kami, bukanlah kebiasaan para wanita untuk mengenakan celana panjang.

Wanita itu mengenakan pakaian yang memang menjadi kebiasaan bagi wanita di tempatnya, maka tidak boleh bagi wanita khususnya di negeri ini untuk mengenakan celana panjang, dan juga di negeri lainnya, sebab celana panjang akan membentuk lekuk tubuh seorang wanita, sehingga tidak teranggap mentutup auratnya dengan sempurna, bahkan dengan mengenakan celana panjang itu lebih besar fitnahnya karena membentuk tubuh yang menarik perhatian.

Maka,

bagi wanita hendaknya menjauhi pakaian seperti ini, khususnya bagi wanita negeri ini, karena hal tersebut bukanlah kebiasan wanita negeri kita ini.

Barangsiapa yang mengenakan pakaian tenar seperti ini, maka baginya ancaman yang sangat keras.

Sebab bagi yang mengenakan celana panjang di negeri ini teranggap mengenakan pakaian syuhrah karena bukan pakaian yang biasa dikenakan oleh wanita di negeri ini.


السائل : ولو في البيت ؟

ولو  في البيت ؛ لأنه إذا لبسته في البيت شوي شوي وبعدين تطلع في الشارع توري الناس . نعم

Penanya:
Walaupun di rumah?


Syaikh:

Walaupun di rumah, karena jika ia kenakan di rumah maka sedikit demi sedikit akan mendorongnya untuk memperlihatkannya di jalanan (hingga) dilihat oleh manusia.


وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين


Sumber:
http://www.alfawzan.af.org.sa/node/3196

Tentang www.Alfawzan.net

Web ini adalah website resmi Syaikh Dr. Shalih bin Abdillah Al-Fawzan yang berbahasa Indonesia. Diharapkan melalui website ini kita bisa mengambil faedah dari materi beliau yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia.

Semoga bisa bermanfaat bagi kaum muslimin dimanapun mereka berada.

Grup WA
Al Fatawa Al Fauzaniyyah

Sabtu, 28 Maret 2015

Dari Sahabat Umar ibnul Khaththab Radliyallahu 'Anhu berkata:
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam bersabda:
“Islam itu ialah hendaknya engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan berhaji ke Baitullah jika engkau mendapatkan jalan kepadanya.”
(HR. Muslim).

Penjelasan dan Kandungan Hadits:

1. Rukun Islam ada lima.

2. Islam dari segi bahasa maknanya adalah patuh dan berserah diri kepada Allah.

3. Islam menurut syari’at adalah agama yang tegak diatas lima rukun sebagaimana tersebut dalam hadits dan masuk dalam Islam pula seluruh amalan lahir (yang tampak) dan meninggalkan segala yang diharamkan.

4. Agama Islam adalah agama yang Allah mengutus dengannya Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam dan Allah menutup dengannya semua agama dan menyempurnakannya untuk hamba-hambaNya dan Allah tidak menerima agama apapun selain Islam.

5. Rukun Islam yang pertama adalah mengucapkan dua kalimat syahadat.

6. Makna “La Ilaha Illallah” adalah tidak ada tuhan (sembahan) yang berhak di ibadahi selain Allah.

7. Makna “Muhammad adalah Rasulullah” yaitu: Mentaati perintahnya, membenarkan apa yang dikabarkannya dan meninggalkan segala yang dilarangnya serta tidak beribadah kepada Allah melainkan dengan cara yang telah disyariatkan.

8. Syahadat “La Ilaha Illallah” berarti ikhlas dalam beribadah dan syahadat “Muhammad adalah Rasulullah” berarti mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam. Kedua hal tersebut adalah merupakan syarat dikabulkannya amal kita oleh Allah.

9. Buah yang kita dapatkan dari dua kalimat syahadat tersebut adalah: Kita terbebas dari penghambaan kepada sesama makhluk dan kita hanya menghambakan diri kepada Allah saja, juga kita hanya mengikuti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam dan para Rasul saja.

10. Rukun Islam yang kedua adalah mendirikan shalat.

11. Yang dimaksud mendirikan shalat adalah beribadah kepada Allah dengan mengerjakan shalat yang benar dan sempurna serta tepat waktu dan cara mengerjakannya sebagaimana yang telah dicontohkan oleh RasulullahShallallahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam.

12. Buah yang kita dapatkan dari mendirikan shalat adalah: Kelapangan dada, kedamaian, ketentraman, kebahagiaan dan terhindar dari perbuatan keji dan mungkar.

13. Rukun Islam yang ketiga adalah membayar zakat.

14. Yang dimaksud membayar zakat adalah beribadah kepada Allah dengan mengeluarkan harta yang wajib dizakati sebagaimana yang telah ditentukan oleh Allah untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya.

15. Buah yang kita dapatkan dari menunaikan zakat adalah: Membersihkan jiwa kita dari akhlak tercela yaitu bakhil atau kikir dan untuk menutupi keperluan Islam dan kaum muslimin.

16. Rukun Islam yang keempat adalah puasa Ramadhan.

17. Yang dimaksud puasa Ramadhan adalah beribadah kepada Allah dengan menahan diri dari segala yang membatalkan puasa mulai terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.

18. Buah yang kita dapatkan dari puasa Ramadhan adalah: Melatih diri untuk mengendalikan hawa nafsu dengan meninggalkan segala yang disenanginya demi mencari keridlaan Allah.

19. Rukun Islam yang kelima adalah menunaikan haji ke Baitullah Al-Haram.

20. Yang dimaksud menunaikan haji adalah beribadah kepada Allah dengan pergi ke Baitullah Al-Haram Makkah untuk melaksanakan amalan-amalan manasik haji.

21. Buah yang kita dapatkan dari menunaikan haji adalah: Melatih jiwa untuk mengorbankan harta, waktu dan tenaga demi ketaatan kepada Allah. Oleh sebab itu haji adalah bagian dari jihad fi sabilillah.

[Disarikan dari kitab "Nubdzah Fil 'Aqidah Al-Islamiyyah" karya Syaikhuna Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-'Utsaimin rahimahullah dan rujukan lainnya]

Akhukum Fillah
@AbdullahHadrami

���� WA MTDHK (Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah) kota Malang ����

✍ Ust. Abdullaah Shaleh Hadrami حفظه الله تعالى

Radio Kajian Kaltim


Get the Flash Player to hear this stream.

Video Pilihan

Popular Posts