KABAR DAKWAH

TEGUH dalam Tujuan dan FLEKSIBEL dalam sarana berdakwah sesuai yang diperbolehkan syari'at

Rabu, 28 Januari 2015

Jika CINTA itu...

Jika cinta itu Pesantren, maka, akanku penuhi fikiranku dengan ilmu-ilmu cinta, agar aku bisa memahami luasnya cinta sebagaimana luasnya ilmu dalam kitab-kitab kuning pesantren
Jika cinta itu Nahwu, maka, cintaku padamu akan jazm [mantab], sehingga aku akan sukun [tenang] di sampingmu selamanya, seperti halnya i'rob jazm yang salah satu alamatnya adalah sukun
Jika cinta itu Shorof, maka, kita berdua adalah wazan tafaa'ala yang berfaidah musyarokah, yang kapanpun dan di mana pun akan mengarungi dan menjalani apapun berdua
Jika cinta itu Fiqh, maka, aku akan memfatwakan pada diriku sendiri bahwa mencintai keindahan ciptaan Tuhan sepertimu, hukumnya adalah wajib
Jika cinta itu I'lal, maka, aku akan menyembunyikan dan menutup mata terhadap semua kekurangan-kekurangan mu, seperti halnya binak Naqish yang meletakkan huruf 'Illat nya di belakang [Lam Fi'il]
Jika cinta itu Ilmu al-Qur’an, maka, keabadian cinta kita tak kan lekang oleh waktu dan tak kan berubah sedikitpun oleh perubahan zaman, layaknya keontektikan dan keabadian isi al-Qur’an
Jika cinta itu Ilmu Hadith, maka, kualitas dan kekuatan cinta kita adalah hadith shohih yang sudah teruji dan terverifikasi oleh berbagai tempaan dan ujian
Jika cinta itu Ushul Fiqh, maka, kita berdua adalah pasangan paling ideal dan serasi, seperti halnya syarat dan rukun yang saling membutuhkan dan melengkapi untuk sahnya suatu ibadah
Jika cinta itu Ilmu Falak,
maka, aku akan selalu menunggu dan merindukan hadirmu, mata ini belum terhapus dahaganya sebelum melihat sosok indahmu, seperti halnya seorang peru-yah yang selalu menunggu untuk melihat kemunculan hilal 1 Syawal
Jika cinta itu Ilmu 'Arudl, maka, kisah cinta kita berdua adalah simfoni terindah yang menghasilkan harmoni tak tertandingi di muka bumi ini, seindah dan semerdu harmoni syair berbahar Rojaz
Jika cinta itu Ilmu Faroidl, maka, kita berdua adalah dua sejoli yang akan selalu berbagi atas apa yang kita miliki, seperti halnya 'Ashôbah ma'a al-ghoyr
Jika cinta itu Ilmu Tauhid, maka, value cintaku padamu adalah kemurnian emas 24 karat, semurni i’tiqodnya ahli tauhid
Jika cinta itu Ilmu Tarikh, maka, romantisme kisah cinta kita berdua adalah kenangan terindah tak terlupakan yang terukir oleh tinta emas sejarah, seperti halnya masa keemasan dan kejayaan peradaban islam tempo dulu
*Copas Status Ust Aris Munandar
Pin It
18.25 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Badai Kematian

Kematian ibarat badai yang menyerang daratan sedikit demi sedikit, lalu besar-besaran. Orang berakal ialah orang yang tidak hidup dalam ilusi ala anak nabi Nuh 'alaihissalam. Ia kira dirinya selamat dari badai dengan berlindung di puncak gunung. Kematian juga seperti itu. Siapa tidak siap menghadapinya, ia ditelan dan ditenggelamkan kematian sebelum sempat berpikir untuk bersiap-siap.

Ibnu Al-Jauzi rahimahullāh berkata, "Badai kematian telah datang. Karena itu, naiklah ke perahu ketaqwaan." [Al-Luthfu Al-Wa'dzi, hal 21]

Perahu tersebut bukan perahu hiasan dan wisata. Namun perahu penyelamat dari badai yang akan membanjiri bumi. Itulah badai yang membuat orang zuhud, Said bin  As-Saib, ketakutan. Dikisahkan, air matanya tidak pernah kering, Air matanya senantiasa mengucur sepanjang tahun, Jika shalat, ia menangis. Jika thawaf, ia menangis. Jika duduk membaca Al-Qur'an, ia menangis. Dan, jika anda temui di jalan, ia menangis.

Kendati demikian, jika ditanya, "Bagaimanakah kabar anda pagi ini?" Ia menjawab, "Pagi ini, aku sedang menunggu kematian tanpa persiapan maksimal." [Shifatu Ash-Shafwah, ll/273]

[Waahatu Al-Iman, Pesan-Pesan Spiritual Penjernih Hati]
Pin It
14.42 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Minggu, 18 Januari 2015

Sepotong Cinta Dalam Sepatu

Tersebutlah, di suatu masa, seorang murid dengan gurunya sedang berjalan-jalan di suatu tanah yang lapang. Tidak lama kemudian, lekatlah pandangan murid itu pada sebuah sepatu yang tergeletak di lapangan itu. Keduanya pun tahu jika itu adalah sepatu milik seorang petani faqir yang bekerja tidak jauh dari sana.
Murid itu pun berkata pada gurunya,”Wahai guru, marilah kita bermain-main sejenak. Kita sembunyikan sepatu si faqir ini, agar nanti dia kebingungan mencari sepatunya”
Gurunya pun menjawab,”Wahai anakku, hendaknya kita tidak bermain-main dengan perasaan si faqir ini. Akan tetapi aku memiliki ide lebih bagus agar kita bisa sama sama terhibur. Bagaimana jika engkau meletakkan sedikit uang ke dalam sepatunya, lantas kita bersembunyi di balik pohon sambil melihat reaksinya? Toh engkau orang yang kaya.”
Murid itu pun setuju, lantas dia segera meletakkan sebagian uangnya ke dalam sepatu faqir itu, dan dia segera bersembunyi di balik pohon bersama sang guru. Tak lama kemudian, si faqir ini pulang dari pekerjaannya dan segera saja memakai sepatu.
Ketika memakai sepatu, si faqir ini merasakan keanehan di sepatunya. Setelah dilihat, dia terkejut karena menemukan beberapa uang di dalam sepatunya. Dia tercengang dan berkali-kali mengecek dan memastikan bahwa dia tidak sedang bermimpi.
Setelah dia yakin bahwa itu nyata, dia pun mencari-cari apakah di sekelilingnya ada orang. Ternyata dia pun tidak menemui siapapun. Kemudian dia memasukkan uangnya ke dalam kantong. Bertekuk lututlah dia, memandang ke langit, menangis, seraya berucap, “Yaa Rabbiy, sungguh engkau telah mengetahui bahwa istriku sakit, dan anakku kelaparan karena tidak ada makanan di rumah. Sungguh engkau telah menyelamatkanku dan anakku dari kehancuran” Dia berkata sambil terus memandang ke langit dan menangis.
Sang murid yang melihat dari balik pohon itu terhenyak melihat apa yang terjadi pada si faqir itu. Tak terasa matanya telah dipenuhi oleh air mata. Lantas gurunya pun berkata, “Tidakkah engkau merasa terhibur sekarang? Daripada engkau melaksanakan idemu yang pertama (yakni menyembunyikan sepatu si fakir).
Sang murid pun menjawab,”Sungguh, sekarang barulah terasa olehku makna dari bersedekah, dan aku ingat akan firmanNya
وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا
Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya” (Al Muzammil : 20)
“Ya Allah, jadikanlah kami menjadi golongan yang suka memberi, dan janganlah engkau haramkan atas kami kenikmatan bersedekah..”
Semoga bermanfaat.
Barakallaahu fiikum
Dikutip dari fanspage syaikh mahir al-Mu’aiqily
Via Akh Zuhroni Ali Fikri
Pin It
14.21 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Kamis, 15 Januari 2015

Meninggalkan Sesuatu Karena Allāh

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا للهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

"Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah 'Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik bagimu" (HR Ahmad no 23074)


Fiqh Hadits :

PERTAMA : Lafal ( شَيْئًاsesuatu), adalah kalimat nakiroh dalam konteks kalimat nafyi (negatif) memberikan faedah keumuman. Artinya "sesuatu" apa saja yang engkau tinggalkan karena Allah…

Bisa jadi sesuatu yang ditinggalkan adalah :
(1) Perkara yang haram yang sangat mungkin ia lakukan, akan tetapi ia meninggalkannya karena Allah, seperti
  • Seseorang yang kaya raya karena bekerja sebagai pegawai instansi yang berpenghasilan riba, lalu ia meninggalkan pekerjaan yang menggiurkan tersebut.
  • Seseorang yang hatinya tergerak untuk bermaksiat, sangat berkesempatan untuk berzina, atau untuk menyaksikan tayangan-tayangan yang haram dan vulgar, lalu ia meninggalkannya karena Allah
  • Seseorang yang diajak untuk bermaksiat…akan tetapi ia meninggalkannya karena Allah.

(2) Perkara yang halal, akan tetapi ditinggalkan karena ada kemaslahatan yang besar. Contohnya :
  • Seseorang memiliki harta untuk membeli sesuatu yang ia sukai, akan tetapi ada panggilan untuk melaksanakan ibadah umroh yang juga membutuhkan dana yang besar, maka iapun meninggalkan perkara yang ia sukai karena Allah demi menjalankan ibadah umroh
  • Seseorang yang memiliki harta untuk membeli kebutuhannya, akan tetapi ternyata ada kerabatnya atau saudaranya sesama muslim yang membutuhkan bantuannya, maka iapun meninggalkan untuk membeli kebutuhannya tersebut demi untuk membantu saudaranya tersebut.
  • Seseorang yang dipanggil untuk bertamsya gratisan, dan ia sangat senang untuk melakukan tamasya tersebut, akan tetapi ternyata jadwal tamasya tersebut bertepatan dengan jadwal pengajian. Lalu iapun meninggalkan tamasya tersebut agar bisa mengikuti pengajian.

(3) Perkara yang telah digariskan oleh Allah, terpaksa ia tinggalkan, akan tetapi ia meninggalkannya dengan niat karena Allah. Contohnya : seseorang yang terpaksa meninggalkan harta dan tanah kelahirannya karena ditekan oleh orang-orang kafir. Meskipun bentuknya ia meninggalkan harta dan tanah kelahirannya secara terpaksa karena intimidasi kaum kuffar, akan tetapi jika ia meninggalkannya karena Allah maka ia telah masuk dalam keumuman hadits di atas.

KEDUA : Lafal (  لِلَّهِ= "Karena Allah"), mengingatkan bahwa motivasi untuk meninggalkan "sesuatu" tersebut harus semata-mata karena Allah. Karenanya tidaklah termasuk dalam kategori "Karena Allah" :
  • Seseorang yang meninggalkan kemaksiatan akan tetapi semata-mata karena takut cibiran dan celaan masyarakat
  • Seseorang yang meninggalkan kemaksiatan karena takut kesehatannya terganggu. Seperti seseorang yang meninggalkan rokok dan bir, karena khawatir akan terkena penyakit paru-paru atau penyakit yang lainnya.
  • Seseorang yang meninggalkan kemaksiatan karena ingin dipuji oleh masyarakat.
  • Seseorang yang meninggalkan pekerjaan yang haram karena tidak enak sama teman-temannya.

Karenanya permasalahan "Karena Allah" merupakan perkara yang sangat urgen, karena ini adalah penentu tentang terwujudkannya janji Allah untuk menggantikan dengan yang lebih baik dari perkara-perkara yang ditinggalkan.



KETIGA : Lafal (بَدَّلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ منه =Allah akan menggantikan yang lebih baik bagimu daripada yang kau tinggalkan)

Lafal (ما = yang lebih baik) adalah ما al-maushuulah, yang dalam kaidah juga memberikan faedah keumuman. Karenanya bisa jadi:
  • Allah menggantikan sesuatu yang ditinggalkan karena Allah dengan perkara yang sejenis dengan perkara yang ditinggalkan, hanya saja lebih baik
  • Allah mengganti dengan perkara yang lebih baik akan tetapi tidak sejenis dengan perkara yang ditinggalkan
  • Allah menggantikan baginya dengan menghilangkan atau memalingkan darinya musibah atau bencana atau kesulitan yang tadinya akan menghadangnya.



KEEMPAT : Contoh-contoh kisah akan bukti hadits ini

Realita banyak mencontohkan akan bukti hadits ini, diantaranya

(1) Para sahabat kaum muhajirin yang harus meninggalkan tanah air mereka, rumah, serta harta mereka demi untuk berhijrah ke Madinah sehingga bisa beribadah kepada Allah dengan baik tanpa diintimidasi oleh kaum musyrikin Arab. Akhirnya Allah menggantikan bagi mereka harta yang lebih banyak dan kekuasaan serta kemenangan atas kaum musyrikin. Bahkan Allah menjadikan mereka menguasai kembali tanah air mereka Mekah. (lihat Tafsiir Ibnu Katsiir 4/572)

(2) Kisah Nabi Sulaiman 'alaihis salaam yang meninggalkan kuda-kuda kesenangannnya dengan menyembelih kuda-kuda tersebut karena kuda-kuda tersebut telah melalaikan beliau hingga tidak sempat sholat di petang hari hingga matahari tenggelam. Ia pun menyembelih kuda-kuda tersebut dan disumbangkan karena Allah.

Akhirnya Allah pun menggantikan kuda-kuda tersebut dengan angin yang mengalir dengan cepat dan mengalir ke arah yang dikehendaki oleh nabi Sulaiman 'alaihis salaam. (Lihat Taisiir Al-Kariim Ar-Rahmaan hal 712)

(3) Kisah Nabi Ibrahim 'alaihis salaam yang harus meninggalkan kaumnya, meninggalkan kerabat dan keluarganya yang menyembah patung, lalu berhijrah menuju Palestina, maka Allah pun menggantikan baginya anak-anak yang sholeh. Diantaranya Ishaq 'alaihis salaam yang akhirnya dilahirkan oleh Sarah yang telah mencapai masa monopouse.

Allah berfirman :

فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَكُلا جَعَلْنَا نَبِيًّا (٤٩)

"Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya'qub. dan masing-masingnya Kami angkat menjadi Nabi" (QS Maryam : 49) (lihat kitab Tafsiir As-Sirooj Al-Muniir karya Asy-Syirbini 2/340)

Tentunya meninggalkan kerabat dan kampung halaman merupakan perkara yang berat, akan tetapi Ibrahim 'alaihis salam meninggalkannya karena Allah. (Taisiir Al-Kariim Ar-Rahmaan hal 494)

(4) Barang siapa yang menjaga pandangannya dengan meninggalkan memandang perkara-perkara yang haram, maka Allah akan memberikan cahaya pada pandangannya dan menambah manis imannya. (lihat Taisiir Al-Kariim Ar-Rahmaan hal 566)

(5) Kisah tentang Aisyah radhiallahu 'anhaa yang sedang berpuasa, lalu ada seorang miskin yang meminta makanan kepada Aisyah, sementara Aisyah tidak memiliki kecuali hanya sepotong roti. Lalu Aisyah memerintahkan budak wanitanya untuk memberikan sepotong roti tersebut kepada sang miskin, maka sang budak berkata, "Engkau bakalan tidak memiliki makanan untuk berbuka puasa". Akan tetapi Aisyah tetap memerintahkannya untuk memberikan roti tersebut kepada sang miskin. Maka ternyata tatakala sore hari ada seseorang yang memberikan hadiah seekor kambing yang sudah dimasak untuk Aisyah. (Lihat Tafsiir Al-Qurthubi 18/26)

(6) Kisah tentang Ummu Sulaim yang anaknya meninggal lalu tatkala datang sang suami maka iapun menghias dirinya untuk merayu sang suami –Abdullah bin Abi Tholhah- yang baru datang dari safar agar terlalaikan berita kematian anaknya. Ummu Sulaim telah sabar tatkala harus meninggalkan anaknya yang meninggal tersebut. Akhirnya ternyata hubungan antara ia dan sang suami tatkala itu dan seterusnya membuahkan sembilan orang anak semuanya adalah qori' al-Qur'an (lihat Syarah Shahih Al-Bukhari karya Ibnu Bathhool 3/285)

(7) Sebuah kisah yang disebutkan dalam kitab Tafsir Al-Bahr Al-Madid karya Ibnu 'Ajiibah Abul 'Abbaas Al-Faasi tentang seorang pemuda penuntut ilmu yang tinggal di daerah Faas. Suatu hari ada seorang ibu keluar bersama putrinya yang cantik jelita. Maka ternyata sang putri ketinggalan dari ibunya sehingga akhirnya tertahan hingga malam hari. Maka ia pun melihat dari kejauhan sebuah pintu yang nampak ada lampu nyala dibalik lampu tersebut. Lalu ia mengintip di balik pintu tersebut ternyata ada seorang penuntut ilmu yang sedang membaca buku. Maka dalam hati putri cantik ini ia berkata, "Jika tidak ada kebaikan pada pemuda ini maka tidak ada kebaikan pada seorangpun". Maka iapun memberanikan diri untuk mengetuk pintu, lalu dijawab oleh sang pemuda. Lalu sang putri pun menceritakan tentang kondisinya yang ketinggalan ibunya, dan ia khawatir jika ia berjalan di malam hari akan ada orang yang mengganggunya. Maka akhirnya sang pemuda merasa wajib baginya untuk menjaga putri tersebut. Lalu iapun memasukan putri tersebut dalam rumahnya, lalu ia menjadikan penghalang berupa tikar antara ia dan sang putri, lalu iapun melanjutkan membaca buku. Lalu datanglah syaitan menggodanya. Akan tetapi karena keberkahan ilmu maka Allah pun menjaga pemuda ini. Iapun segera mengambil api lampu lalu iapun menggerakan jarinya ke lampu tersebut, satu demi satu jari-jarinya ia letakkan di api lampu tersebut hingga membakar jari-jarinya. Sang wanita mengintip sikap pemuda tersebut dan ia takjub dengan sikap tersebut. Sementara sang pemuda terus memanasi jarinya. Lalu sang pemuda memanaskan jari-jarinya dari tangannya yang satunya lagi, hingga akhirnya tiba pagi hari dan nampak cahaya terang, maka iapun mempersilahkan sang putri untuk keluar dari rumahnya dan segera pulang. Akhirnya sang putripun pulang ke rumahnya dan menceritakan tentang kisah sang pemuda. Maka segeralah ayah sang putri mendatangi majelis ilmu dan mengabarkan tentang kisah sang pemuda kepada syaikh/guru di majelis tersebut. Maka sang guru  meminta agar seluruh para penuntut ilmu mengeluarkan kedua tangan mereka. Seluruh muridpun mengeluarkan kedua tangan mereka kecuali sang pemuda. Maka syaikh pun tahu siapa pemuda tersebut, lalu akhirnya sang ayah menikahkan sang pemuda dengan putrinya tersebut" (Al-Bahr Al-Madiid 3/375)
Karenanya yakinlah jika anda meninggalkan sesuatu benar-benar tulus semata-mata karena Allah maka pasti Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik. Sungguh hati ini sangat terharu tatkala mengetahui ada seorang pegawai bank yang akhirnya meninggalkan pekerjaan ribanya lalu kemudian dengan sabarnya menjadi seorang penjual bakso. Allah pasti akan menggantikan baginya yang lebih baik, apakah di dunia maupun di akhirat, cepat atau lambat.

Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 11-02-1434 H / 24 Desember2012 M

✍ Ust Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja, MA ‏حفظه الله تعالى

www.firanda.com
Pin It
17.42 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Selasa, 13 Januari 2015

Sikap terhadap Kartunis Kafir Penghina Nabi

Apa Hukum Membunuh Kartunis Kafir yang Membuat Kartun untuk Menghina Nabi?
*Sumber klik di sini 
السائل: هل يجوز اغتيال الرسام الكافر الذي عرف بوضع الرسوم المسيئة للنبي صلى الله عليه وسلم؟
الشيخ: هذا ليس طريقة سليمة الاغتيالات وهذه تزيدهم شرا وغيظا على المسلمين لكن الذي يدحرهم هو رد شبهاتهم وبيان مخازيهم وأما النصرة باليد والسلاح هذه للولي أمر المسلمين وبالجهاد في سبيل الله عز وجل نعم
Penanya: “Bolehkah membunuh kartunis kafir yang terkenal dengan membuat kartun yang menghina Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam?”
Syaikh Shaalih Fauzaan ibn ‘Abdillaah al-Fauzaan hafizhahullaah menjawab:
“Ini bukanlah metode yang tepat. Ini akan menambah keburukan dan kemarahan mereka kepada kaum muslimin. Akan tetapi, cara menolak mereka adalah dengan membantah syubhatnya dan menjelaskan perbuatan mereka yang sangat memalukan tersebut. Adapun membela (Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam) dengan tangan dan senjata, maka ini hanyalah untuk para pemerintah kaum muslimin dan hanya melalui jihaad* di jalan Allah ‘Azza wa Jalla.” [Akhir kutipan]
* Andy ibn ‘Abdil-Lathiif berkata,
“Akan datang penjelasan yang jelas dan terperinci mengenai pemahaman yang benar tentang jihaad dalam Islam, segera insyaAllah. Tindakan terorisme di Paris bukanlah jihaad, dan pelakunya pada hakikatnya sedang berperang di jalan syaithan walaupun dia merasa sedang membela agama Allah.
Bencilah perbuatan mereka yang telah menghina Nabi dan juga bencilah perbuatan para teroris yang telah membunuh orang tanpa hak sehingga merusak nama Islam. Jangan membenci perbuatan pertama sehingga menyetujui perbuatan kedua. Atau jangan pula membenci perbuatan kedua namun tidak benci pada perbuatan pertama.
Cara kita untuk menjawab mereka yang telah menghina Nabi bukanlah dengan tangan ataupun senjata, akan tetapi dengan mendakwahkan agama ini dan memberikan pemahaman yang benar tentang sifat dan kemuliaan Nabi kita shallallaahu ‘alaihi wa sallam.”
Pin It
15.44 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Senin, 12 Januari 2015

Hidup Itu Laksana Ladang

Inspirasi Fajar

Semoga dapat menginspirasi kita..

Di suatu negeri terdapat petani yg menanam jagung unggulan & seringkali memenangkan penghargaan petani dengan jagung terbaik sepanjang musim.

Suatu hari, seorang wartawan dari koran lokal melakukan wawancara & menggali rahasia kesuksesan petani tersebut.

Wartawan itu menemukan bahwa petani itu membagikan benih jagungnya kepada para tetangganya.

"Bagaimana Anda bisa berbagi benih jagung dengan tetangga Anda, lalu bersaing dengannya dalam kompetisi yg sama setiap tahunnya?" tanya wartawan, dengan penuh rasa heran & takjub.

"Tidakkah Anda mengetahui bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari jagung yg akan berbuah & membawanya dari satu ladang ke ladang yg lain.

Jika tetangga saya menanam jagung yg jelek, maka kualitas jagung saya akan menurun ketika terjadi serbuk silang.

Jika saya ingin menghasilkan jagung kualitas unggul, maka saya harus membantu tetangga saya untuk menanam jagung yg bagus pula", jawab si Petani itu.

Petani ini sangat menyadari hukum "keterhubungan" dalam kehidupan. Dia tidak dapat meningkatkan kualitas jagungnya, jika dia tidak membantu tetangganya untuk melakukan hal yg sama.

Dalam kehidupan ini, jika kita ingin menikmati kebaikan, kita harus memulai dengan menabur kebaikan kepada orang-orang di sekitar kita. Jika kita ingin bahagia, maka kita harus menabur kebahagiaan untuk orang lain.

Jika kita ingin hidup dengan kemakmuran, maka kita harus berupaya pula untuk meningkatkan taraf hidup orang-orang di sekitar kita.

Anda tidak akan mungkin menjadi ketua tim yg hebat, jika Anda tidak berhasil mengupgrade anggota tim Anda.

Kualitas Anda Ditentukan Oleh Orang-Orang di Sekitar Anda.

Orang yg cerdas itu sejatinya adalah orang yg mencerdaskan orang lain, begitu pula orang yg baik adalah orang yg mau membaikkan orang lain.

Dan akhirnya, jika kita ikhlas berbuat kebaikan, berharaplah agar Allah melipatgandakan kebaikan di dunia & akhirat

����������������

#CopasGrupWhatsapp
Pin It
14.04 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0

Ketika Duka Selimuti Kita

DI ANTARA HIKMAH DI BALIK MUSIBAH

Sebagian generasi salaf menuturkan:

لَوْلاَ مَصَائِبُ الدُّنْيَا لَوَرَدْنَا اْلآخِرَةَ مِنَ الْمَفَالِيْسِ.

“Sekiranya tidak ada berbagai macam musibah di dunia, niscaya di akhirat kita termasuk orang yang bangkrut. [Tazkiyah an-Nufuus, Ahmad Farid]

Sungguh benar apa yang mereka sampaikan. Musibah itu, meski sekilas tampak menyesakkan hati, namun di balik itu terdapat ribuan hikmah yang telah rapi menanti, apabila memang kita tulus dan sabar ketika menghadapi. Sekiranya tidak ada musibah yang menimpa, bisa jadi seorang hamba datang ke akhirat dengan bergelimang dosa, tanpa ada pengampunan dari Allah ta’ala. Sekiranya tidak ada musibah yang datang menyapa, bisa jadi seorang hamba akan begitu hina dan menderita di akhirat sana.

Di antara hikmah musibah, merupakan cara Allah subhanahu wa ta’ala untuk menghapuskan dosa-dosa hamba-Nya. Berikut beberapa hadis yang menjelaskan tentang hal tersebut. Semoga menjadi hiburan bagi setiap jiwa yang dirudung duka karena musibah yang sedang menyapanya.

◆ HADIS PERTAMA:

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ.

“Tidaklah seorang muslim tertimpa rasa letih, penyakit, kesedihan, gundah gulana, gangguan, sesuatu yang menyesakkan hati, hingga duri yang menusuknya, melainkan dengan semua itu Allah akan menghapuskan sebagian dari dosa-dosanya.” (HR. al-Bukhari)

◆ HADIS KEDUA:

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيْبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ، إِلاَّ حَطَّ اللَّهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا.

Tidaklah seorang muslim mendapatkan gangguan seperti suatu penyakit atau selainnya, melainkan dengan sebab itu Allah akan menggugurkan dosa-dosanya, seperti pohon yang menggugurkan dedaunannya. (HR. al-Bukhari & Muslim)

◆ HADIS KETIGA:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ حَتَّى الشَّوْكَةِ تُصِيْبُهُ إِلاَّ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً أَوْ حُطَّتْ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةٌ.

Tidaklah ada sesuatu yang menimpa seorang mukmin, meskipun sekadar duri yang menusuknya, melainkan Allah akan tuliskan baginya satu kebaikan atau dihapuskan darinya satu kesalahan. (HR. Muslim)

◆ HADIS KEEMPAT:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ، فَإِنْ كَانَ دِيْنُهُ صُلْباً اِشْتَدَّ بَلاَؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِيْنِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِيْ عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ.

Orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang yang semisalnya lalu orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar agamanya. Bila agamanya kuat maka ujiannya semakin berat. Namun bila agamanya lemah maka ia akan diuji sesuai dengan kadar agamanya tersebut. Dan ujian itu akan terus menimpa hamba hingga membiarkannya berjalan di atas muka bumi tanpa memiliki dosa sedikitpun. (Hadis hasan sahih riwayat at-Tirmidzi)

Maka itu, hendaknya seorang muslim -minimal- bersabar atas musibah yang menimpanya, sehingga semoga di akhirat kelak ia termasuk orang yang banyak terhapus dosa-dosanya.

Semoga Allah ta'ala menghindarkan kita dari musibah. Jika memang harus terjadi, semoga kita dimudahkan untuk senantiasa bersabar dan tegar dalam menghadapi.
Aamiin.


Grup Whatsapp
MAJLIS ILMU ICC DAMMAM KSA


Pin It
13.40 Diposkan oleh muhammad asdi nawawi rianthoby 0