Senin, 22 Mei 2017

Pahala kebaikan yang luar biasa…

Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:
من استغفر للمؤمنين والمؤمنات كتب الله له بكل مؤمن ومؤمنة حسنة
Barangsiapa memintakan maghfirah (ampunan dosa) untuk kaum mukminin dan kaum mukminat; niscaya Allah catat baginya satu kebaikan untuk setiap mukmin dan mukminatnya”. [HR. At-Thabaroni dalam Musnadusy Syamiyyin: 2155, dihasankan oleh Sy Albani].
—–
Renungkanlah hadits ini, betapa banyaknya pahala yang akan kita raih bila kita mengamalkan hadits ini. Jika kita mengatakan:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَات وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات
Ya Allah, ampunilah seluruh kaum muslimin dan kaum muslimat, kaum mukminin dan kaum mukminat, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal”.
Maka kita akan mendapatkan pahala kebaikan sebanyak jumlah mereka, tentunya ini kebaikan yang tidak terhitung banyaknya.. bisakah kita menghitung jumlah kaum mukminin dan mukminat dari zaman Nabi Adam hingga sekarang?! Sebanyak itulah pahalanya.
Kemudian bila kita menyebarkan pesan ini, sehingga ada yang mengamalkan isinya, kita juga akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala dia.. sungguh pahala yang luar biasa!
Silahkan dishare… semoga bermanfaat.
Ustadz Musyaffa ad-Dariny hafidzahullah

Rabu, 03 Mei 2017

Dalam masalah takfir (menghukumi kafir) ada 2 kelompok yang keliru:
Kelompok pertama, orang-orang yang ketika menemukan perkataan para ulama semisal: “barangsiapa berkata A atau B maka ia kafir”, atau “barangsiapa melakukan A atau B maka ia kafir”, dan semisalnya, orang-orang tersebut menerapkannya kepada individu tertentu. Sehingga ia mengkafirkan individu tertentu hanya dari perkataan ulama tersebut yang sifatnya mutlaq (umum).
Kelompok kedua, orang-orang yang ketika menemukan perkataan para ulama semisal: “barangsiapa berkata A atau B maka ia kafir”, atau “barangsiapa melakukan A atau B maka ia kafir”, dan semisalnya, langsung melabeli para ulama tersebut dengan mengatakan, “mereka itu takfiriyun (tukang mengkafirkan)”.
Kedua kelompok ini keliru karena jahil terhadap metode para ulama dalam masalah takfir.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “takfir mutlaq itu semisal dengan wa’id (ancaman hukuman terhadap dosa) yang mutlaq. tidak bisa diterapkan untuk mengkafirkan individu tertentu hingga tegak hujjah yang membuatnya layak untuk dikafirkan”.
Faedah dari Syaikh Sulaiman Ar Ruhaili dalam kajian berjudul “Ushul wa Dhawabith fit Takfir”
https://www.youtube.com/watch?v=cfgzEJBiaag
(menit ke 08:08 – 10:00)
***
Kelompok pertama ghuluw (ekstrem) dalam takfir dan yang kedua taqshir (meremehkan) perkara takfir atau anti-takfir.

Yang tepat adalah orang-orang yang pertengahan, tidak mudah mengkafirkan individu namun juga tidak anti dalam takfir dengan meyakini bahwa seseorang bisa keluar dari Islam atau disebut non Muslim jika ia melakukan suatu kekafiran.

Ustadz Yulian Purnama hafidzahullah
*Dikutip dari laman facebook-nya

Senin, 01 Mei 2017

Orang yang suka mencari-cari pendapat ulama yang enak, mudah dan sesuai selera akan mengumpulkan semua keburukan.

Orang yang hatinya berpenyakit akan mencari-cari pendapat salah dan aneh dari para ulama demi mengikuti selera dan nafsunya, menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.
Sulaiman At Taimi berkata,
لَوْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ ، أَوْ زَلَّةِ كُلِّ عَالِمٍ ، اجْتَمَعَ فِيكَ الشَّرُّ كُلُّهُ
“Andai engkau mengambil pendapat yang mudah-mudah saja dari para ulama, atau mengambil setiap ketergelinciran dari pendapat para ulama, pasti akan terkumpul padamu seluruh keburukan” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya, 3172).
Ustadz Yulian Purnama hafidzahullah.
Source : laman facebooknya.

Sibukkan diri menghadapi Ramadhan. 

Jangan sampai malah sibuk menghadapi Lebaran, tapi lupa mempersiapkan diri untuk menyambut Ramadhan
Karena orang yang menjumpai Ramadhan namun tidak sukses mendapatkan ampunan Allah itu sangat keterlaluan lalainya dan akan Allah tambah adzabnya. 
 Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: 
 إِنَّ جِبْرِيلَ آتَانِي فَقَالَ : مَنْ أَدْرَكَ شَهْرَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغَفَرْ لَهُ فَدَخَلَ النَّارَ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ ، قُلْ آمِينَ فَقُلْتُ : آمِينَ 
"Sesungguhnya Jibril menemuiku lalu berkata: barangsiapa berjumpa dengan bulan Ramadhan namun tidak diampuni dosa-dosanya, sehingga ia masuk neraka, maka Allah akan jauhkan lagi ia (ditambah adzabnya), katakanlah 'Amiin'. Maka akupun berkata: Amiin" (HR. Ibnu Hibban no. 907, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al Jami' no. 75) 
Channel TG @fawaid_kangaswad

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua hal, kalian tidak akan sesat jika berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan Sunnah (Hadits).” (HR. Al Hakim. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Dari hadits ini jelaslah bahwa cara agar terhindar dari kesesatan adalah berpegang teguh terhadap Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Yaitu dengan mempelajarinya, lalu mengamalkannya.
Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tidaklah aku biarkan satupun yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam amalkan kecuali aku mengamalkannya karena aku takut jika meninggalkannya sedikit saja, aku akan menyimpang.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Pada hadits tersebut terdapat isyarat pentingnya mempelajari ilmu agama, yaitu Al Qur’an dan Hadits. Karena pada hakekatnya, orang yang terjerumus dalam kesesatan adalah orang yang tidak paham dan tidak mengerti ilmu agama dengan baik dan benar. Sebagaimana Allah Ta’ala mensifati orang-orang musyrikin yang sesat sebagai orang-orang yang tidak paham: (yang artinya) “Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar dan memahami? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat jalannya dari binatang ternak itu” (QS.Al Furqan: 44).
Karena ilmu agama akan menjaga seseorang dari kemaksiatan dan kesesatan. Semakin tinggi ilmunya, semakin tebal perisainya terhadap kemaksiatan dan kesesatan. Sebagaimana perkataan para ulama kita terdahulu ketika membandingkan ilmu dan harta: “Ilmu akan menjaga pemiliknya di dunia dan di akhirat. Sementara harta tidak dapat menjagamu. Bahkan dirimulah yang menjaga harta-hartamu di dalam kotak dan lemari”. (Dinukil dari terjemah Kayfa Tatahammas fi Thalabil ‘Ilmi Asy Syar’i, Abul Qa’qa Alu Abdillah)
Secara ringkas, ada beberapa tips yang dapat dilakukan agar seseorang terhindar dari pengaruh aliran sesat, antara lain:
Mempelajari ilmu agama. Selain karena hukumnya wajib, dengan mempelajari agama seseorang akan mampu mengetahui ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan Islam namun disamarkan seolah merupakan ajaran Islam. Hadirilah majelis-majelis ta’lim yang dibimbing oleh ustadz yang terpercaya. Belilah buku, majalah, VCD atau MP3 yang berisi kajian Islam ilmiah yang membahas Al Qur’an dan hadits di dalamnya. Namun berhati-hatilah terhadap majelis-majelis ta’lim, buku, majalah atau VCD yang di dalamnya jarang atau bahkan tidak membahas Al Qur’an dan Hadits, walaupun isinya kelihatan baik
Kenali dan pahami ciri-ciri aliran sesat
Sering bergaul dengan ahlul ‘ilmi, yaitu orang-orang yang memiliki kapasitas ilmu agama yang baik, atau orang-orang yang semangat menuntut ilmu agama
Jadilah insan yang ilmiah, yang senantiasa melakukan sesuatu atas dasar yang kokoh
Taruhlah rasa curiga bila menemukan sekelompok orang yang berdakwah Islam namun dengan cara sembunyi-sembunyi dan takut diketahui orang banyak
Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan ulama atau ustadz yang terpercaya ketika menemukan sebuah keganjilan dalam praktek beragama
Berdoa memohon pertolongan Allah agar dihindarkan dari kesesatan dan dimantapkan dalam kebenaran. Sebagaimana dicontohkan pula oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, beliau berdoa: Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbii ‘alaa diinik . Artinya: “Ya Allah, Dzat Yang Membolak-balikan Hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu”. (HR. Muslim)
Terakhir, penulis menasehati diri sendiri dan kaum muslimin sekalian agar membudayakan sikap saling menasehati dalam kebaikan. Karena Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasehat” (HR.Bukhari dan Muslim).
Maka tulisan ini adalah bentuk nasehat di balik sebuah harapan besar agar kaum muslimin sekalian terhindar dari jalan-jalan kesesatan dan bersatu di jalan kebenaran. Sehingga jika pembaca menemukan ciri-ciri aliran sesat sebagaimana telah disebutkan, kewajiban pertama adalah menasehati. Bukan menyesat-nyesatkan, mencaci-maki, melakukan aksi anarkis apalagi memvonis kafir. Sebab, terjerumus dalam jalan kesesatan belum tentu kafir. Wabillahittaufiq.
Ustadz Yulian Purnama hafidzahullah.
*Dikutip dari laman facebooknya.

Minggu, 16 April 2017

MIMBAR DAKWAH DAHULU DAN KINI…

✏ Ustadz Aan Chandra Thalib, حفظه الله تعالى
Dahulu…Mimbar dakwah adalah tempat yang sangat terhormat. Ia hanya boleh diisi oleh orang-orang yang berilmu.
Diatasnya curahan ilmu dan hikmah mengucur deras ke hati para pendengar.
Adab yang terpancar dari seorang ulama/da’i menjadi daya tarik tersendiri bagi para jamaah.
Sehingga mereka yang datang tidak hanya pulang membawa ilmu, tapi juga membawa pancaran adab sang guru.
Contoh kongkritnya adalah majelis Imam Ahmad bin Hambal -rahimahullah-.
Diantara puluhan ribu jamaah yang hadir, hanya 500 orang yang menulis, sisanya memperhatikan bagaimana adab seorang Imam Ahmad.
Adapun saat ini….?
Sebagian mimbar dakwah berubah menjadi panggung hiburan yang lebih sering diisi oleh para pelawak berbaju Ustadz. Sedikit ilmu, kering adab.
Hasilnya adalah banjir idola dan miskin teladan.
Jamaah yang semestinya pulang membawa ilmu, justru kembali dengan kejahilan dan hati yang keras.
Kami tidak mengatakan bahwa canda dan gurauan itu haram bagi seorang da’i.
Tapi ia ibarat garam bagi makanan, bila berlebihan maka akan merusaknya.
Kecuali canda dan gurauan yang bercampur dusta. Hukumnya haram secara mutlak.
Imam Ibnu Sirin pernah berpesan: “Ilmu adalah agama, maka perhatikan dari siapa engkau mengambil agamamu”
________________
Madinah 25-01-1437 H
ACT El-Gharantaly 
[ 📖 ] BBG  al-ilmu

Rabu, 05 April 2017

Ibnu 'Aqil ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ berkata :
‏( ﺃﻧﺎ ﺃﻗﺼﺮ ﺑﻐﺎﻳﺔ ﺟﻬﺪﻱ ﺃﻭﻗﺎﺕ ﺃﻛﻠﻲ ، ﺣﺘﻰ ﺃﺧﺘﺎﺭ ﺳﻒ ﺍﻟﻜﻌﻚ ﻭﺗﺤﺴﻴﺔ ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﺒﺰ ، ﻷﺟﻞ ﻣﺎﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﻣﻦ ﺗﻔﺎﻭﺕ ﺍﻟﻤﻀﻎ ، ﺗﻮﻓﺮﺍ ﻋﻠﻰ ﻣﻄﺎﻟﻌﺔ ، ﺃﻭ ﺗﺴﻄﻴﺮ ﻓﺎﺋﺪﺓ ﻟﻢ ﺃﺩﺭﻛﻬﺎ ﻓﻴﻪ ‏) ‏( ﺫﻳﻞ ﻃﺒﻘﺎﺕ ﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ ‏) ‏( 1 / 145 ‏)
"Saya sampai menyingkat waktu makanku, sampai saya memilih kue yang bisa dicelup air agar mempercepat kunyahan hingga lumayan untuk mempelajari pelajaran atau menulis faidah yang aku tidak bisa lakukan pada saat makan"
Dari generasi tabi'in Amir bin Qois ada yang menawari ngobrlol -ngobrol yang tidak jelas dia menjawab ;
ﺃﻣﺴﻚ ﺍﻟﺸﻤﺲ
"Hentikan dulu matahari"
Gambaran pentingnya memperhatikan waktu seperti ini :
ﻓﻠﻮ ﺿَﻴَّﻌﺖَ ﺃﻟﻒ ﺳﻨﺔ ﻓﻴﻤﺎ ﻻ ﻳﻌﻨﻲ ، ﺛﻢ ﺗﺒﺖ ﻭﺛﺒﺘﺖ ﻟﻚ ﺍﻟﺴﻌﺎﺩﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻤﺤﺔ ﺍﻷﺧﻴﺮﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻤﺮ ، ﺑﻘﻴﺖ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﺃﺑﺪ ﺍﻵﺑﺎﺩ ، ﻓﻌﻠﻤﺖ ﺃﻥ ﺃﺷﺮﻑ ﺍﻷﺷﻴﺎﺀ ﺣﻴﺎﺗﻚ ﻓﻲ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﻠﻤﺤﺔ ،
"Andaikan kau sia-siakan waktumu 1.000 tahun dengan sesuatu yang tidak berguna lalu setelah itu kamu bertaubat maka sungguh kamu memperoleh ketetapan kebahagiaan dalam hitungan waktu sekejab di akhir usia, hingga engkau dikekalkan saat masuk surga. Dan engkau baru tahu bahwa sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu adalah waktu yang sekilas kamu manfaatkan tersebut.
Sebagaimana di antara para penyihir Fir'aun. Selama ratusan tahun hidup dalam kekafiran dan kemusyrikan. Namun setelah kalah beradu kehebatan dengan Musa mereka sadar dan sujud tersungkur bertaubat penuh keikhlasan. Maka Allah mengampuni mereka. Maka perhatikanlah betapa bermanfaatnya waktu yang digunakan oleh para tukang sihir Fir'aun itu. Dan itulah waktu terbaik bagi mereka dibandingkan dengan ratusan tahun dari usia mereka.
ﻓﻜﺎﻥ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﻣﻦ ﺟﻤﻠﺔ ﺃﺻﻮﻝ ﺍﻟﻨﻌﻢ ، ﻓﻠﺬﻟﻚ ﺃﻗﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻪ ، ﻭﻧﺒﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻭﺍﻟﻨﻬﺎﺭ ﻓﺮﺻﺔ ﻳﻀﻴﻌﻬﺎ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ !
"Zaman (waktu) merupakan bagian dari pokok2 kenikmatan. Oleh karena itu Allah bersumpah dengannya. Dan Allah memperingatkan bahwa malam dan siang adalah kesempatan yang selalu disia²kan oleh manusia"
Imam Syafi'i ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ berkata :
" ﺻﺤﺒﺖُ ﺍﻟﺼﻮﻓﻴﺔ ﻓﻤﺎ ﺍﻧﺘﻔﻌﺖُ ﻣﻨﻬﻢ ﺇﻻَّ ﺑﻜﻠﻤﺘﻴﻦ ، ﺳﻤﻌﺘﻬﻢ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ : ﺍﻟﻮﻗﺖُ ﺳﻴﻒٌ ، ﻓﺈﻥ ﻗﻄﻌﺘﻪ ﻭﺇﻻَّ ﻗﻄﻌﻚ ، ﻭﻧﻔﺴُﻚ ﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﺸﻐﻠﻬﺎ ﺑﺎﻟﺤﻖِّ ﺷﻐﻠﺘﻚ ﺑﺎﻟﺒﺎﻃﻞ " .
(ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ ﺍﻟﻜﺎﻓﻲ ﻟﻤﻦ ﺳﺄﻝ ﻋﻦ ﺍﻟﺪﻭﺍﺀ ﺍﻟﺸﺎﻓﻲ ص. ٩٨)
"Aku bergaul dengan orang sufi dan tidak ada yang kuperoleh manfaat darinya seln hanya dua kata : 'waktu itu bagaikan pedang. Jika kamu tidak menggunakannya untuk memotong niscaya dia akan memotongmu. Dan dirimu jika tidak kau sibukkan dengan kebenaran niscaya akan sibuk denga kebatilan"
Mu'adz bin Jabal ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ berkata :
ﻟﻴﺲ ﺗﺤﺴّﺮ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﻨّﺔ ﺇﻟّﺎ ﻋﻠﻰ ﺳﺎﻋﺔ ﻣﺮّﺕ ﺑﻬﻢ ﻟﻢ ﻳﺬﻛﺮﻭﺍ ﺍﻟﻠﻪ - ﻋﺰّ ﻭﺟﻞّ - ﻓﻴﻬﺎ (.ﺍﻟﻮﺍﺑﻞ ﺍﻟﺼﻴﺐ 59 ‏) .
"Tidaklah penduduk surga menyesali sebuah penyesalan melainkan penyesalan lewatnya waktu atas mereka, namun dia tidak berdzikir kepada Allah pada waktu itu"
Mu'adz bin Jabal ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ berkata :
ﺇﻥّ ﻛﻞّ ﻣﺠﻠﺲ ﻻ ﻳﺬﻛﺮ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﻓﻴﻪ ﺭﺑّﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﺣﺴﺮﺓ ﻭﺗﺮﺓ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ‏) ‏« ﺍﻟﻮﺍﺑﻞ ﺍﻟﺼﻴﺐ ‏» ‏( 59 ‏) .
"Sesungguhnya suatu majlis yang seseorang tidak dzikir kepada Allah di dalamnya maka dia termasuk pada kerugian dan penyesalan kelak di hari kiyamat"
Imam Fakhrurozi ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ berkata :
‏( ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺇﻧﻨﻲ ﺃﺗﺄﺳﻒ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﻮﺍﺕ ﻋﻦ ﺍﻻﺷﺘﻐﺎﻝ ﺑﺎﻟﻌﻠﻢ ﻓﻲ ﻭﻗﺖ ﺍﻷﻛﻞ ، ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻭﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﻋﺰﻳﺰ ‏) (ﻋﻴﻮﻥ ﺍﻷﻧﺒﺎﺀ ﻓﻲ ﻃﺒﻘﺎﺕ ﺍﻷﻃﺒﺎﺀ ‏ 1 / 462 ‏)
"Demi Allah, sungguh aku sangat menyayangkan akan tersia2kannya waktu ketika waktu makan karena terluput dari sibuk dalam mencari ilmu. Sungguh zaman/waktu itu berharga"
AdDhohak ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ berkata tentang firman Allah ta'ala :
ﺇﻧﻤﺎ ﻧﻌﺪ ﻟﻬﻢ ﻋﺪﺍ { ‏[ ﻣﺮﻳﻢ : 84 ‏] ؛ ﻗﺎﻝ : ﺍﻷﻧﻔﺎﺱ . (ﺍﻟﻤﺠﺎﻟﺴﺔ ﻭﺟﻮﺍﻫﺮ ﺍﻟﻌﻠﻢ 3 / 445 ‏)
"Dan Kami kelak memperhitungkan bagi mereka dengan sebenar-benarnya, yaitu : nafas-nafas."
Para ulama' zaman dahulu, detik pun diperhitungkan :
ﻛَﺎﻥَ ﺩَﺍﻭُﺩُ ﺍﻟﻄَّﺎﺋِﻲُّ ﻳَﺸْﺮَﺏُ ﺍﻟْﻔَﺘِﻴﺖَ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺄْﻛُﻞُ ﺍﻟْﺨُﺒْﺰَ ، ﻓَﻘِﻴﻞَ ﻟَﻪُ ﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚَ ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺑَﻴْﻦَ ﻣَﻀْﻎِ ﺍﻟْﺨُﺒْﺰِ ﻭَﺷُﺮْﺏِ ﺍﻟْﻔَﺘِﻴﺖِ ﻗِﺮَﺍﺀَﺓُ ﺧَﻤْﺴِﻴﻦَ ﺁﻳَﺔً (ﺍﻟﻤﺠﺎﻟﺴﺔ ﻭﺟﻮﺍﻫﺮ ﺍﻟﻌﻠﻢ 1 / 346 ‏)
"Dawud at-Thoi meminum bubur dan tidak memakan kue. Ketika ditanya kenapa demikian, beliau menjawab : Karena di antara mengunyah kue dan meminum campuran bisa (dimanfaatkan) membaca 50 ayat"
Ibnul Qayyim ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ berkata :
ﺇﺿﺎﻋﺔ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﺃﺷﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻮﺕ. ﻷﻥ ﺇﺿﺎﻋﺔ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﺗﻘﻄﻌﻚ ﻋﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﺪﺍﺭ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﻭﺍﻟﻤﻮﺕ ﻳﻘﻄﻌﻚ ﻋﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﺃﻫﻠﻬﺎ
(ﺍﻟﻔﻮﺍﺋﺪ / ﺹ 44)
"Menyia-nyiakan waktu lebih parah daripada kematian. Sebab menelantarkan waktu memutusmu dari Allah dan negeri akhirat sementara kematian memisahkanmudari dunia dan penduduknya"
Imam Hasan al-Bashri ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ sampai belum sempat mencuci baju, karena tersibukkan dengan ilmu.
ﻟﻢ ﻻ ﺗﻐﺴﻞ ﻗﻤﻴﺼﻚ؟
ﻗﺎﻝ : ﺍﻷﻣﺮ ﺃﺳﺮﻉ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ! (ﺍﻟﻤﺠﺎﻟﺴﺔ ﻭﺟﻮﺍﻫﺮ ﺍﻟﻌﻠﻢ 2 / 310)
"Imam Hasan al-Bashri pernah ditanya : mengapa kok belum anda cuci bajumu? Beliau menjawab : perkara lebih cepat dari itu"
ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻌﻼّﻣﺔ ﺍﻟﻨّﺤﻮﻱ ﻣﺤﻤّﺪ ﺑﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮٍ ﺍﻟﺨﻴّﺎﻁ ﺍﻟﺒﻐﺪﺍﺩﻱ ، ﻳﺪﺭﺱُ ﺟﻤﻴﻊ ﺃﻭﻗﺎﺗﻪ ، ﺣﺘّﻰ ﻓﻲ ﺍﻟﻄّﺮﻳﻖ ، ﻭﻛﺎﻥ ﺭُﺑَّﻤﺎ ﺳَﻘَﻂَ ﻓﻲ ﺟُﺮﻑٍ ﺃﻭ ﺧَﺒَﻄَﺘْﻪُ ﺩَﺍﺑّﺔٌ ! (ﺍﻟﻤﺸﻮﻕ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﻃﻠﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ ‏( ﺹ 62 ‏)
"Ahli Nahwu al-'allamah Muhammad bin Ahmad Abu Bakr al-Baghdadi belajar hampir di seluruh waktunya, hingga di jalan-jalan. Bahkan karena terus belajar sampai terjatuh ke dalam lobang atau ketabrak kuda"
*Sibuk dengan kebaikan*
Jika seseorang tidak tersibukkan dengan kebaikan, pasti akan terjatuh pada perkara yang sia-sia
Imam Asy Syafi’i juga berkata ;
“Kemudian orang sufi menyebutkan perkataan lain:
ﻭﻧﻔﺴﻚ ﺇﻥ ﺃﺷﻐﻠﺘﻬﺎ ﺑﺎﻟﺤﻖ ﻭﺇﻻ ﺍﺷﺘﻐﻠﺘﻚ ﺑﺎﻟﺒﺎﻃﻞ
"Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik (haq), pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil) .” [Jawabul Kafi, 109, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)
Waktu Berlalu Begitu Cepatnya
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Waktu manusia adalah umurnya yang sebenarnya. Waktu tersebut adalah waktu yang dimanfaatkan untuk mendapatkan kehidupan yang abadi, penuh kenikmatan dan terbebas dari kesempitan dan adzab yang pedih. Ketahuilah bahwa berlalunya waktu lebih cepat dari berjalannya awan (mendung). Barangsiapa yang waktunya hanya untuk ketaatan dan beribadah pada Allah, maka itulah waktu dan umurnya yang sebenarnya. Selain itu tidak dinilai sebagai kehidupannya, namun hanya teranggap seperti kehidupan binatang ternak.”
Kematian Lebih Layak Bagi Orang yang Menyia-nyiakan Waktu
Ibnul Qayyim ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ mengatakan :
“Jika waktu hanya dihabiskan untuk hal-hal yang membuat lalai, untuk sekedar menghamburkan syahwat (hawa nafsu), berangan-angan yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan (baca: kesia-siaan), maka sungguh kematian lebih layak bagi dirinya.” [ Al Jawabul Kafi, 109]
Janganlah Sia-siakan Waktumu
Dari Abdullah bin Abdil Malik, beliau berkata,
“Kami suatu saat berjalan bersama ayah kami di atas tandunya. Lalu dia berkata pada kami, ‘Bertasbihlah sampai di pohon itu.’ Lalu kami pun bertasbih sampai di pohon yang dia tunjuk. Kemudian nampak lagi pohon lain, lalu dia berkata pada kami, ‘Bertakbirlah sampai di pohon itu.’ Lalu kami pun bertakbir. Inilah yang biasa diajarkan oleh ayah kami.” [Az Zuhud li Ahmad bin Hambal, 3/321, Asy Syamilah]
Semoga bermanfaat. Amiin
Fawaaid Ustadz Abul-Hasan Bontang
Murajaah : abul-mundzir rianthoby 

Radio Kajian Kaltim


Get the Flash Player to hear this stream.

Video Pilihan

Popular Posts